- Beranda
- Stories from the Heart
Roda Kehidupan
...
TS
fthhnf
Roda Kehidupan

"Roda itu bernama kehidupan. Saat kita berada diatas kadang berputar sangat cepat, namun ketika kita berada dibawah roda itu terlalu lambat berputar kembali. Kamu tau kenapa? Karena kehidupan tak semudah mengayuh sepeda untuk tetap berjalan diatas aspal yang halus."
Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.
Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.
Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.
Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...
Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.
Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.
Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.
Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...
© Uhuk.. Wis keren? Sip mas! Oke.
Index Cerita:
Part 1 Aku dan Kalian
Part 2 Kaliurang Sore Itu
Part 3 Bella Namanya
Part 4 PHK Massal
Part 5 Warung Baru Ibu
Part 6 Bapak Semangatku
Ketahuan Bini
Part 7 Kak Siska Kenapa?
Part 8 Hape Baru
Part 9 Pelukan Hangat Kak Siska
Part 10 Pelangi Di Sekar Langit
Part 11 Cemburu, Bell?
Part 12 Kasihan Bapak
Part 13 Minuman Cinta
Part 14 Pekerjaan Pertama
Part 15 Pulau Dewata
Part 16 Tersenyum Kembali
Part 17 Mumi Sekolah
Part 18 Desember Terbaik
Part 19 Happy New Year
Part 20 Gosip Fara
Part 21 Konser Jikustik
Part 22 Maaf, Nov
Part 23 Si Gundul
Part 24 Sebuah Takdir
Part 25 Must On
Part 26 Kejutan
Part 27 Thanks, Nov!
Part 28 Ujian Nasional
Part 29 Janji Bella
Part 30 Babak Baru Kehidupan
Part 31 Vita!
Part 32 Pacar Cadangan
Part 33 Suroboyo Rek!
Part 34 Semalam Bersama Bella
Diubah oleh fthhnf 01-04-2023 20:40
junti27 dan 33 lainnya memberi reputasi
32
23K
434
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fthhnf
#145
Part 32 Pacar Cadangan
"Oke, aku jemput jam 9 ya..."
"Iya Vit..."
Toh juga cuma nonton bola doang. Apa salahnya. Ya kan?
Usai Vita menutup teleponnya, aku pergi kerumah Gatot buat tanya pemain yg akan bermain nanti malam sekaligus baca-baca koran olahrahga miliknya. Kebetulan si kunyuk satu itu langganan salah satu tabloid olahrahga. Katanya biar bisa akurat buat nebak hasil pertandingan atau dengan kata lain judi, hahahaha.
Didalam kamar Gatot aku sibuk bolak-balik koran buat baca analisa pertandingan final nanti antara tuan rumah Portugal melawan Yunani. "Woi tumben banget kowe!" Kata Gatot heran karena dia tau aku gk terlalu tertarik dengan bola.
"Wis gk usah cerewet!"
Jarum panjang jam di dinding pun cepat berputar. Aku udah mulai hafal beberapa pemain Portugal yg menjadi unggulan macam Cristiano Ronaldo, Luis Figo, Rui Costa, dan Lain sebagainya. Karena merasa cukup, aku putuskan buat pulang dan tidur bentar biar nanti gk ngantuk buat begadang.
Sekitar jam 9 malam aku udah siap buat jalan. Beberapa saat nunggu di teras rumah, Vita akhirnya keliatan juga. Aku sengaja nyuruh dia tetap di halaman, karena gk enak kalo dilihat Ibu malem-malem keluar sama cewek.
"Wuih... Udah keren aja!" Sapa Vita.
"Iya dong, ayok.." Jawabku.
"Oke yok jalan..." Ucap Vita lalu ia duduk di boncengan belakang.
Sebelum kita menuju cafe buat nobar, aku ngajakin Vita makan dulu. Selain karena lapar, seenggaknya aku bisa ngulur waktu karena pertandingan masih lama.
"Jam segini yg buka cuma angkringan aja kali Dit.." Keluh Vita diboncengan belakang.
"Emm... Yaudah angkringan juga boleh Vit..."
"Oke..."
Jam segini tempat makan di Magelang memang rata-rata sudah tutup. Karena memang tak ada pilihan lain, kita akhirnya makan sekaligus nongkrong di angkringan angkringan Alun-alun Magelang. Kali ini aku memilih lokasi depan polres kota. Disini suasananya enak banget.
"Kamu gk bawa jaket Vit?" Tanyaku sambil menikmati nasi kucing.
"Enggak... Sini pinjemin aku jaket!" Jawab Vita ceplas-ceplos.
Kemudian seketika itu aku menyopot jaket yg aku pakai lalu meletakkannya di badan Vita. Terlihat Vita rada kikuk diperlakukan seperti itu.
"Eh... Gak usah Dit..." Cegah Vita.
"Udah pakai aja!" Jawabku santai. Dan Vita pun tersipu.
Lalu untuk beberapa saat keadaan hening. Aku dan Vita sama-sama menikmati nasi kucing tanpa sepatah kata apapun. Aku juga bingung kenapa jadi canggung gini. Aku tak tau harus gimana untuk memulai kembali percakapan, hingga kemudian Vita lah yg memecah keheningan itu,
"Eh Dit, kamu kok mau sih nemenin aku nobar?" Tanya Vita.
"Lha kamu kok ngajak aku sih?"
"Hahahha... ditanyain malah balik nanya!" Kata Vita tertawa.
"Hmm..."
"...."
"Eh Vit aku malu sebenernya sama temen-temen kamu nanti..." Ucapku jujur.
"Tenang aja... Mereka asik-asik kok!"
"Siapa aja sih?" Tanyaku penasaran.
"Cuma temen-temen pas ospek kemarin..."
"Oh..."
"...."
"Eh Vit... Kamu gak malu ngajakin aku gini?"
"Malu? Kenapa emang?"
"Gak-gak, gapapa. Lupain..."
"Aneh kamu ah!" Ucap Vita singkat.
Akupun tidak melanjutkan pertanyaan karena nampaknya Vita enjoy-enjoy aja jalan bersamaku. Jujur, agak minder juga sebenernya jika masuk kedalam circleanak kuliahan. Kemudian usai menikmati hidangan angkringan dan ngobrolin pertandingan nanti malam, kamipun bergegas untuk pergi.
"Yaudah yok jalan!" Ajak Vita beranjak dari duduknya.
"Oke..."
Setelah membayar, kami langsung menuju sebuah cafe yg ngadain nobar. Sekitar duapuluh menit kemudian sampailah kita di tempat parkir yg cukup luas. Ada beberapa motor dan mobil yg terparkir disana.
"Masuk yuk..." Ucap Vita.
"Iya..." Jawabku tersenyum.
Sesampainya di dalam, Vita menuju meja dimana teman-temannya berkumpul. Akupun lalu mengikutinya.
"Ciee... Siapa tuh Vit?" Sapa temen Vita yg kami jumpai di dalam cafe.
"Emmm... Kenalin ini Adit..." Ucap Vita mengenalkanku kepada teman-temannya.
"Adit, Adit...." Kataku lalu menyalami teman-teman Vita satu persatu.
"Udah berapa lama Mas jalan sama Vita?" Tanya seorang cowok yg aku lupa siapa namanya.
"Dua tahun!" Seru Vita cepat menjawab peryanyaan orang itu.
"Ohh..."
"Wah lama juga ya..." Kata cewek satunya lagi yg aku juga lupa siapa namanya.
"Hehehe..." Aku hanya tersenyum gk tau harus gimana.
Sialan memang Vita, dengan santainya ia ngenalin aku sebagai pacarnya. Aku hanya bisa diam aja saat Vita memperkenalkan aku. "Duduk sini beb..." Ucap Vita makin jadi dalam sandiwaranya.
"Iya hehe..."
Lalu akupun duduk dan bareng Vita dan mulai berbaur dengan yg lain. Sebenernya seru juga teman-teman Vita ini, orangnya enak diajak ngobrol semua. Ada satu orang yg kayaknya paling heboh dalam tongkrongan ini. Beberapa kali ia ngejokes yg membuat kami tertawa bersama.
"Woi Den, diem aja!" Kata Rani salah seorang temen Vita.
"Sakit gigi?" Imbuh salah satu temennya lagi.
"Patah hati? Hahahaha." Sindir Fahmi lalu mereka pun tertawa lagi.
Entah apa yg mereka tertawakan namun terlihat ekspresi Vita yg cuma senyum doang kali ini.
"Apaan sih, biasa aja kali..." Sanggah Deni yg membuat mereka makin ketawa.
Beberapa saat kemudian suasana cafe mulai ramai. Orang-orang mulai berdatangan untuk nobar partai Final ini. Bahkan ada yg dicorat coret bendera Portugal juga mukanya. Wah gila tuh orang.
Tak lama kemudian pihak cafe membuka acara nobar tersebut dengan membagikan beberapa doorprize. Para pengunjung pun antusias menyambutnya. Ada beberapa yg maju ke depan untuk melakukan challenge agar bisa dapat doorprize. Acara pun makin seru dengan life music yg membuat pengunjung makin betah berada di tempat ini.
"Beb mau makan?" Ucap Vita kepadaku dengan kepala yg udah nyender di lenganku.
"Enggak deh, kamu makan aja kalo laper." Kataku merespon Vita yg membuat tongkrongan jadi rada awkward karena tingkah Vita.
Beberapa saat kemudian layar raksasa telah menyala pertanda kick off akan segera berlangsung. Kami dan para pengunjung lain pun nampak semakin bergairah menyambut partai final ini.
"Deal ya, kalo Yunani juara kamu ngerjain tugas-tugasku selama sebulan!"
"Oke siapa takut!"
Wah seru nih ada yg taruhan tugas segala. Ah tapi kurang menantang, beda sama Gatot yg malam itu aku yakin dia juga taruhan di bandar judinya langsung.
Akhirnya beberapa saat kemudian kick off pun dimulai. Para pengunjung nampak serius menonton pertandingan ini.
"Owalah guoblok!"
"Matane asu!"
Terdengar umpatan-umpatan dari pengunjung yg membuat suasana semakin meriah. Sebenernya pertandingan final ini biasa-biasa saja menurutku. Cuma yg jadi heboh adalah Yunani sebagai tim kuda hitam mampu melaju hingga partai puncak. Kulihat Vita masih serius menonton pertandingan sambil beberapa kali heboh saat tim portugal melakukan serangan.
"Gollll... Golll... Gollll..."
Suasana kambali riuh saat Yunani tiba-tiba mencetak gol melalui sebuah tendangan sudut.
"Yaahh... Kalah deh!" Ucap Vita lesu.
"Hahahaha..." Aku hanya ketawa melihat Vita kecewa karena jagoannya kebobolan. "Sabar Vit, dibalas habis ini..." Ucapku menghiburnya.
Akhirnya pertandingan pun usai dengan Yunani yg keluar sebagai juara dalam ajang Piala Eropa 2004 ini. Para pengunjung pun ada yg puas karena tim yg dibela juara, ada juga yg murung karena kalah. Beberapa saat kemudian suasana mulai sepi karena pertandingan telah usai. Kamipun beranjak untuk pulang.
"Gais aku balik duluan ya..." Ucap Vita kepada teman-temannya.
"Cie mau kemana Vit jam segini hayo?"
"Cie ciee..."
"Ih apaan sih!" Seru Vita kepada teman-temannya.
Setelah menyerahkan uang untuk membayar pesanan kami kepada salah satu anak, Vita lalu menggandeng tanganku keluar meninggalkan cafe tersebut. "Duluan ya mas, mbak..." Ucapku pamit ke teman-teman Vita.
"Yoi hati-hati bro!"
Sesampainya di parkiran, Vita masih menggandeng tanganku. "Gila kowe Vit!"
"Apanya yg gila?"
"Kenapa coba bilang kalo aku pacarmu?"
"Hahaha... Marah?" Ucap Vita lalu melepaskan gandengan.
"Enggak sih, cuma kaget aja..."
"Males aku Dit ada anak yg ngejar-ngejar aku..."
"Hah siapa? Tadi ada anaknya?"
"Ada hahahhaa..."
"Wah gila kowe, gk enak aku sumpah!"
"Alah gk papa Dit, biar dia tau aku udah punya pacar! Risih aku sama anaknya!"
"Gk boleh gitu Vit...."
"Alah udah deh, ayok pulang!" Ajak Vita lalu ia memakai helm dan siap buat bonceng.
"Hmm..."
Lantas kamipun pergi meninggalkan cafe tersebut. Vita lebih mendekatkan badannya di dekatku kali ini dari boncengan belakang. Terasa tangannya mulai memegang pinggang dan pelan-pelan mulai melingkarkannya di badanku. Aku hanya diam saat Vita memelukku dari boncengan belakang seperti ini.
"Dit..."
"Paan Vit?"
"Thanks ya.."
"Buat?"
"Malam ini... Maaf juga udah ngomong kalo kamu pacarku tadi, hehe..."
"Halah santai aja Vit..." Ucapku jujur karena memang gk masalah buatku dengan sandiwara Vita di depan teman-temannya tadi.
"Dit... Satu lagi..."
"Apaan Vit?"
"Aku tidur mana ini? Hahahaha..." Kata Vita lalu tertawa.
"Walah tak kirain kamu mau pulang Vit!"
"Yg bener aja jam berapa ini!"
"Waduh iya ya..." Jawabku usai melihat jam ditanganku yg menunjukkan pukul 03.30.
"...."
"Terus gimana Vit?"
"Gk tau..." Ucap Vita santai.
Lalu kuberhentikan motor dan mengajaknya untuk diskusi mau kemana dulu menunggu pagi hari. Otak mesumku tiba-tiba muncul ingin mengajaknya ke tidur di hotel. Namun entah kenapa nyaliku menciut saat teringat Bella yg ada jauh disana. Takut aja rasanya kalo sampe mengkhianati Bella. Bisa-bisa malah kena karma, Bella diginiin juga sama cowok. Waduh jangan sampe deh.
"Gimana kalo ke warnet aja Vit!" Ajakku
"Emang ada yg buka?"
"Ada di deket taman kota!" Kataku teringat warnet yg cukup nyaman dan buka 24 jam.
"Yaudah ayok!"
Akhirnya kamipun pergi menuju warnet untuk menunggu datangya pagi hari. Selang beberapa saat kemudian sampailah kami di depan warnet tersebut. Kemudian kami pun masuk dan memilih bilik VIP lesehan karena cukup luas jika dipake berdua.
"Hahahaha... Slonjoran dulu deh..." Ucap Vita dengan renyah tawanya.
"Ini ada bantal Vit kalo mau tiduran dulu!" Ucapku lalu memberikan bantal kecil yg disediakan pengelola warnet entah untuk apa tujuannya.
Setelah ngeklik paket 3 jam, aku iseng membuka beberapa situs berita karena gk tau mau ngapain juga. Terlihat Vita malah rebahan disampingku. Kepalanya bersandar di bantal yg aku beri. Sejenak aku menatapnya, terlihat kayaknya udah mulai ngantuk ni bocah. Makin manis juga ternyata kalo diem.
"Woi ngapain ngliatin?!?!" Seru Vita tiba-tiba membuka matanya.
"..."
Kemudian Vita bangun dari tidurnya lalu ikut menatap monitor. "Buka apaan sih Dit?" Tanya Vita.
"Berita-berita aja..."
"Hadeeh..."
"...."
"Eh Dit, kamu punya Friendster?" Tanya Vita.
"Enggak..."
"Yah..."
"Kenapa emang?"
"Ya gk papa, aku mau buat tapi gk bisa caranya... Hahahaha" Kata Vita jujur.
"Sini aku buatin!" Ucapku.
"Wah kamu bisa?" Tanya Vita antusias.
"Bisa dong!" Jawabku santai. Berkat dulu suka bantuin tugas Mbak Laras di warnet, jadi aku gk terlalu gaptek kalo masalah internet. Apalagi kalo ketik mengetik, dulu pas sekolah aku aja selalu menjadi juru ketik kelompok jika ada tugas-tugas sekolah.
"Buatin Dit..." Rengek Vita manja.
"Iya... Mana sini email kamu?"
"Hah? Aku gk punya email Dit..."
"Astaga, anak kuliahan lho kamu. Masa gk punya email..." Ejekku.
"Hehehe..."
"Dasar, sini mana datadiri kamu, aku buatin email dulu!" Ucapku lalu membuka yahoo untuk membuat email.
"Pakai datadiri asli atau gimana Dit?" Tanya Vita polos.
"Suka-suka kamu aja deh Vit..."
"Yaudah, itu yg nama diisi Vitacantik aja Dit..." Ucap Vita. "Terus itu lokasinya Indonesia, terus itu diiisi makan aja buat hobi, terus..." Ucap Vita mengarahkanku untuk mengisi biodata yg diberikan yahoo untuk membuat email.
Akhirnya setelah beberapa saat kemudian jadilah email Vita. Tanpa pikir panjang aku menuju friendster untuk membuat akunnya.
"Wah kamu kok pinter sih Dit!"
"Iyalah!"
Setelah mengisi beberapa informasi data, sebuah akun Friendster telah siap digunakan. Kali ini Vita mengambil alih mouse untuk belajar menggunakan media sosial yg cukup terkenal di kalangan anak muda itu. Aku sedikit menggeser dudukku sembari menuntun Vita buat ngotak-atik profile miliknya. Tak terasa hampir 3 jam kami berada di dalam bilik ini hanya untuk menghiasi layout dan menambahkan lagu di profil friendster Vita. "Wah keren sekarang Dit!"
"Balik yok Vit, udah pagi tuh!" Ucapku rada lemes karena semalaman gk tidur.
"Hehehe bentar-bentar dihabisin sekalian jamnya nanggung tinggal setengah jam lagi!"
"Iyadeh..."
"Kamu gk buat juga Dit?" Tanya Vita.
"Enggak deh buat apa juga kalo aku!"
"Ah gk gaul kowe!"
"Lhah..."
Vita nampak gembira karena akhirnya ia mempunyai akun friendster. Sebenernya pengen bikin juga, tapi setelah dipikir-pikir gk ada temen yg main friendster akupun urung membuatnya. Bahkan kayaknya Novi pun juga gk punya akun friendster. Setelah puas dan memang paket jam telah habis, kami berdua pun meninggalkan bilik ini dan membayarnya di operator.
"Yuk Dit balik!"
"Oke..."
----
Jumat sore di akhir Agustus...
"Dit..."
"Nggih Buk, pripun? (Ya Buk, gimana?)"
Hari terus berganti. Usai nobar dan nemenin di warnet, sebulan ini entah kenapa aku makin dekat dengan Vita. Ada-ada saja kayaknya yg membuat kami untuk sekedar sms atau bahkan ketemu. Contohnya hari rabu lalu, entah bagaimana Vita tiba-tiba ke pasar buat ngajakin aku makan bakso sore hari. Atau kemarin, entah sengaja atau tidak kami bertemu di kantor pos usai aku mengirim paket buat pakde yg berada diluar kota. Dan gk tau bagaimana Vita lagi ngirim paket juga di kantor pos dan ujung-ujungnya kami makan bakso lagi. Sementara itu, hubungan LDR aku dan Bella masih terjaga. Saat ini Bella disibukkan dengan jadwal kuliahnya yg padat. Namun setiap hari kami selalu menyempatkan telepon atau sms-an untuk tanya kabar dan ngobrol hal-hal ringan lainnya. Kabar Siska yg katanya mau ke Magelang pun cuma isapan jempol doang. Bahkan nomornya malah gk aktiv setelah beberapa kali aku mencoba menghubunginya.
Diteras rumah sederhana ini aku sedang mengobrol santai dengan Ibu. Ditemani segelas kopi, dengan seksama aku mendengarkan Ibu yg tengah berbicara.
"Jadi gitu Dit..."
"Ya gk papa Buk, yg penting ada tambahan penghasilan!" Kataku setuju dengan inovasi yg Ibu katakan.
Ibu mempunyai sebuah ide untuk menjual gas dan galon di warungnya karena permintaan kedua barang tersebut banyak sedangkan warung sekitar juga belum memiliki barang tersebut.
"Tapi modalnya lumayan kayaknya Dit..."
"Iyasih Buk..."
Meski ide Ibu cukup kreatif, namun modal yg diperlukan juga lumayan.
"Tak tanya-tanya Kipli dulu ya Buk ya, siapa tau dia punya kenalan orang pasar yg punya chanel ke distributor gas elpiji sama galon!" Ucapku ke Ibu.
"Iya Dit, eh iya kamu masih bantuin di toko Pak Ahmad yg di pasar?" Tanya Ibu kepadaku, karena setahu Ibu aku kerja hanya bantuin jaga toko milik juragan yg terkenal itu. Gk enak aja rasanya kalo jujur ke Ibu bagaimana anaknya ini di pasar, hehe.
"Masih Buk..."
"Yg jujur Dit kalo kerja sama orang itu!" Pesan Ibu kepadaku.
"Siap Buk!"
Usai ngobrol dengan Ibu, malam hari selepas sholat isya aku kerumah Kipli untuk menanyakan konsep jualan gas dan galon dan tanya dimana distributor barang-barang kayak begitu. Secara Kipli pasti sedikit banyak paham karena ia lebih pengalaman di bidang jual-beli pasar.
"Woi Pli, kebetulan disini!" Ucapku ke Kipli yg aku temui di pos kamling.
"Iya ini nungguin Gatot, mau daftar lomba voli tujubelasan!"
"Wah jadi ikut?" Tanyaku karena beberapa hari yg lalu anak-anak pada bahas lomba voli antar desa di kelurahanku.
"Jadi dong, kowe harus ikut lho cuk!" Ucap Kipli.
"Iya cuk! Tenang... Gini Pli," kataku melanjutkan tujuanku mencarinya.
"Ngopo cuk? Mau pinjem motor? Isiin bensin ya!" Ucap Kipli udah soudzon aja.
"Ora cuk, mau tanya dikit!"
"Wah ngapain kalian?" Celoteh Angga teman sekampungku yg nyamperin kami di pos kamling.
"Bisnis iki!" Ucapku menjawab pertanyaan Angga yg penasaran.
"Bisnis apa sih cuk?" Tanya Kipli kepadaku.
"Hahahaha... Engga cuk, cuma mau tanya aja gimana sih caranya kalo mau jualan gas sama galon Pli? Orang pasar ada yg jualan gitu kan? Itu ngambil darimana?"
"Owalah tak kirain apa... Siapa yg mau jualan?" Tanya Kipli.
"Ya Ibukku to cuk!"
"Oh yayaya... Jadi gini cuk. Kowe besok langsung ke Mas Bambang aja, dia bisa bantu nyariin distributor gasnya. Kalo galon, alah kamu tinggal ke toko Pak Kelik, dia kenal dekat sama salesnya!" Ucap Kipli menjelaskan. Nah kan bener, emang pengalaman si Kipli ini.
"Oh gitu ya cuk, modalnya banyak gk?" Tanyaku.
"Halah cuma modal tanya doang, biar salesnya yg nyetokin di warung Ibumu!" Terang Kipli.
"Serius Pli?"
"Lhaiya, tapi kalo pengen untung gede ya beli galon sendiri terus tu galon diisi air keran aja cuk! Hahahahaha..."
"Wah ide bagus Pli!" Celetuk Angga yg nimbrung aja.
"Matamu su!" Seruku ke mereka karena ada aja ide licik anak-anak kampungku. "Yowis cuk aku balik sik!" Sambungku pamit pulang karena mau telponan sama Bella.
"Jancuk kayak bencong jam segini pulang!"
"Bodoamat!" Ucapku santai lalu berjalan kembali ke rumah.
----
Sesampainya dirumah aku langsung menemui Ibu untuk memberi tahu informasi terkait gas dan galon. Ibu nurut aja nunggu aku ketemu sama salesnya dulu. Setelah itu aku berjalan ke teras untuk menelepon pacar tersayang.
"Tuutt... Tuutt... Tuutt..."
"Halo Assalamualaikum sayang..." Ucap seorang cewek dalam telepon.
"Walaikumsalam cintaku..." Balasku.
"Hahahaha apaan sih Dit, geli dengernya..." Protes Bella di dalam telepon.
"Yee orang dipanggil cinta kok gk mau..."
"Yamau, tapi aneh aja dengernya Dit..."
"Hehe iyadeh... Lagi apa Bell?"
"Ini tidur-tiduran aja... Kamu?"
"Sama nih.. Udah makan Bell?"
"Belum..." Jawab Bella singkat.
"Lhah kok belum?" Tanyaku.
"Makan sana Bell..."
"Gk ada makanan disini tuh. Sini kek bawain makanan!" Ucap Bella.
Njiir dikira Magelang-Surabaya lima menit sampe kali ya. "Besok deh aku kesitu..."
"Hmmm... Besok-besok keburu aku wisuda!" Seru Bella yg kayaknya moodnya berubah tiba-tiba.
"Bulan depan deh..." Rayuku asal.
"Janji?" Tanya Bella mulai sumringah.
"Iya sayaaang..."
"Asiikk... Bener ya Ditt..." Pinta Bella keluar manjanya. Sial, kenapa malah ngomong gitu aku.
"Iya Bell..." Kataku halus, walau bingung juga gimana caranya ke Surabaya.
"Yaudah aku makan dulu ya sayang.." Kata Bella mesra. Buset giliran dijanjiin gitu, baru keluar mesranya.
"Iya Bella..."
"Oke, muuuaaach Adit muuuaachh..."
"Ttttuuut... Tuuuut..." Njir dimatiin gitu aja, dasar Bella, gk pernah berubah daridulu.
Usai telpon-telponan yg singkat padat dan jelas sama Bella, lalu akupun masuk ke kamar untuk tidur-tiduran sambil mikirin gimana caranya ke Surabaya. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 21.15 namun mata ini terasa berat. Apa karena bau bantal ya. Alih-alih memikirkan ketemu Bella disana, yg ada aku malah terlelap di malam yg indah ini.
---
Hari minggu dan pertandingan Bola Volli antar kampung pun dimulai.
Aku dipilih menjadi stoper untuk menjaga pertahanan dan melakukan inisiasi serangan. Untuk lomba kali ini semua desa di kelurahanku bertanding. Kemarin kami telah memenangkan pertandingan melawan Desa Leyahleyeh. Dan jika hari ini berhasil menang lagi maka desa kami akan langsung melaju ke semifinal. Sore tadi pertandingan pertama hari ini telah dimulai, dan kini giliran desaku yg akan unjuk gigi.
"Prok prok prok...." Suara dukungan dari desaku tak henti-hentinya kudengar.
"Bro... Fokus yo..." Ucap Gilang anak RT sebelah yg memang atlet. Buset kayaknya pemain proliga tu anak, keras bener smashnya.
"Yo Bro oke..." Ucapku seraya mengikat tali sepatuku.
Sementara dalam posisi penonton yg melingkari lapangan ini, mataku tak berkedip ketika melihat satu wajah yg berada di samping meja panitia. Nampaknya ia sedang fokus mengamati secarik kertas yg berada di atas meja. Apa kabar ya dia, lama tak jumpa dengannya. Ia pun menatap balik ke arahku. Dan akupun tersenyum.
"Iya Vit..."
Toh juga cuma nonton bola doang. Apa salahnya. Ya kan?
Usai Vita menutup teleponnya, aku pergi kerumah Gatot buat tanya pemain yg akan bermain nanti malam sekaligus baca-baca koran olahrahga miliknya. Kebetulan si kunyuk satu itu langganan salah satu tabloid olahrahga. Katanya biar bisa akurat buat nebak hasil pertandingan atau dengan kata lain judi, hahahaha.
Didalam kamar Gatot aku sibuk bolak-balik koran buat baca analisa pertandingan final nanti antara tuan rumah Portugal melawan Yunani. "Woi tumben banget kowe!" Kata Gatot heran karena dia tau aku gk terlalu tertarik dengan bola.
"Wis gk usah cerewet!"
Jarum panjang jam di dinding pun cepat berputar. Aku udah mulai hafal beberapa pemain Portugal yg menjadi unggulan macam Cristiano Ronaldo, Luis Figo, Rui Costa, dan Lain sebagainya. Karena merasa cukup, aku putuskan buat pulang dan tidur bentar biar nanti gk ngantuk buat begadang.
Sekitar jam 9 malam aku udah siap buat jalan. Beberapa saat nunggu di teras rumah, Vita akhirnya keliatan juga. Aku sengaja nyuruh dia tetap di halaman, karena gk enak kalo dilihat Ibu malem-malem keluar sama cewek.
"Wuih... Udah keren aja!" Sapa Vita.
"Iya dong, ayok.." Jawabku.
"Oke yok jalan..." Ucap Vita lalu ia duduk di boncengan belakang.
Sebelum kita menuju cafe buat nobar, aku ngajakin Vita makan dulu. Selain karena lapar, seenggaknya aku bisa ngulur waktu karena pertandingan masih lama.
"Jam segini yg buka cuma angkringan aja kali Dit.." Keluh Vita diboncengan belakang.
"Emm... Yaudah angkringan juga boleh Vit..."
"Oke..."
Jam segini tempat makan di Magelang memang rata-rata sudah tutup. Karena memang tak ada pilihan lain, kita akhirnya makan sekaligus nongkrong di angkringan angkringan Alun-alun Magelang. Kali ini aku memilih lokasi depan polres kota. Disini suasananya enak banget.
"Kamu gk bawa jaket Vit?" Tanyaku sambil menikmati nasi kucing.
"Enggak... Sini pinjemin aku jaket!" Jawab Vita ceplas-ceplos.
Kemudian seketika itu aku menyopot jaket yg aku pakai lalu meletakkannya di badan Vita. Terlihat Vita rada kikuk diperlakukan seperti itu.
"Eh... Gak usah Dit..." Cegah Vita.
"Udah pakai aja!" Jawabku santai. Dan Vita pun tersipu.
Lalu untuk beberapa saat keadaan hening. Aku dan Vita sama-sama menikmati nasi kucing tanpa sepatah kata apapun. Aku juga bingung kenapa jadi canggung gini. Aku tak tau harus gimana untuk memulai kembali percakapan, hingga kemudian Vita lah yg memecah keheningan itu,
"Eh Dit, kamu kok mau sih nemenin aku nobar?" Tanya Vita.
"Lha kamu kok ngajak aku sih?"
"Hahahha... ditanyain malah balik nanya!" Kata Vita tertawa.
"Hmm..."
"...."
"Eh Vit aku malu sebenernya sama temen-temen kamu nanti..." Ucapku jujur.
"Tenang aja... Mereka asik-asik kok!"
"Siapa aja sih?" Tanyaku penasaran.
"Cuma temen-temen pas ospek kemarin..."
"Oh..."
"...."
"Eh Vit... Kamu gak malu ngajakin aku gini?"
"Malu? Kenapa emang?"
"Gak-gak, gapapa. Lupain..."
"Aneh kamu ah!" Ucap Vita singkat.
Akupun tidak melanjutkan pertanyaan karena nampaknya Vita enjoy-enjoy aja jalan bersamaku. Jujur, agak minder juga sebenernya jika masuk kedalam circleanak kuliahan. Kemudian usai menikmati hidangan angkringan dan ngobrolin pertandingan nanti malam, kamipun bergegas untuk pergi.
"Yaudah yok jalan!" Ajak Vita beranjak dari duduknya.
"Oke..."
Setelah membayar, kami langsung menuju sebuah cafe yg ngadain nobar. Sekitar duapuluh menit kemudian sampailah kita di tempat parkir yg cukup luas. Ada beberapa motor dan mobil yg terparkir disana.
"Masuk yuk..." Ucap Vita.
"Iya..." Jawabku tersenyum.
Sesampainya di dalam, Vita menuju meja dimana teman-temannya berkumpul. Akupun lalu mengikutinya.
"Ciee... Siapa tuh Vit?" Sapa temen Vita yg kami jumpai di dalam cafe.
"Emmm... Kenalin ini Adit..." Ucap Vita mengenalkanku kepada teman-temannya.
"Adit, Adit...." Kataku lalu menyalami teman-teman Vita satu persatu.
"Udah berapa lama Mas jalan sama Vita?" Tanya seorang cowok yg aku lupa siapa namanya.
"Dua tahun!" Seru Vita cepat menjawab peryanyaan orang itu.
"Ohh..."
"Wah lama juga ya..." Kata cewek satunya lagi yg aku juga lupa siapa namanya.
"Hehehe..." Aku hanya tersenyum gk tau harus gimana.
Sialan memang Vita, dengan santainya ia ngenalin aku sebagai pacarnya. Aku hanya bisa diam aja saat Vita memperkenalkan aku. "Duduk sini beb..." Ucap Vita makin jadi dalam sandiwaranya.
"Iya hehe..."
Lalu akupun duduk dan bareng Vita dan mulai berbaur dengan yg lain. Sebenernya seru juga teman-teman Vita ini, orangnya enak diajak ngobrol semua. Ada satu orang yg kayaknya paling heboh dalam tongkrongan ini. Beberapa kali ia ngejokes yg membuat kami tertawa bersama.
"Woi Den, diem aja!" Kata Rani salah seorang temen Vita.
"Sakit gigi?" Imbuh salah satu temennya lagi.
"Patah hati? Hahahaha." Sindir Fahmi lalu mereka pun tertawa lagi.
Entah apa yg mereka tertawakan namun terlihat ekspresi Vita yg cuma senyum doang kali ini.
"Apaan sih, biasa aja kali..." Sanggah Deni yg membuat mereka makin ketawa.
Beberapa saat kemudian suasana cafe mulai ramai. Orang-orang mulai berdatangan untuk nobar partai Final ini. Bahkan ada yg dicorat coret bendera Portugal juga mukanya. Wah gila tuh orang.
Tak lama kemudian pihak cafe membuka acara nobar tersebut dengan membagikan beberapa doorprize. Para pengunjung pun antusias menyambutnya. Ada beberapa yg maju ke depan untuk melakukan challenge agar bisa dapat doorprize. Acara pun makin seru dengan life music yg membuat pengunjung makin betah berada di tempat ini.
"Beb mau makan?" Ucap Vita kepadaku dengan kepala yg udah nyender di lenganku.
"Enggak deh, kamu makan aja kalo laper." Kataku merespon Vita yg membuat tongkrongan jadi rada awkward karena tingkah Vita.
Beberapa saat kemudian layar raksasa telah menyala pertanda kick off akan segera berlangsung. Kami dan para pengunjung lain pun nampak semakin bergairah menyambut partai final ini.
"Deal ya, kalo Yunani juara kamu ngerjain tugas-tugasku selama sebulan!"
"Oke siapa takut!"
Wah seru nih ada yg taruhan tugas segala. Ah tapi kurang menantang, beda sama Gatot yg malam itu aku yakin dia juga taruhan di bandar judinya langsung.
Akhirnya beberapa saat kemudian kick off pun dimulai. Para pengunjung nampak serius menonton pertandingan ini.
"Owalah guoblok!"
"Matane asu!"
Terdengar umpatan-umpatan dari pengunjung yg membuat suasana semakin meriah. Sebenernya pertandingan final ini biasa-biasa saja menurutku. Cuma yg jadi heboh adalah Yunani sebagai tim kuda hitam mampu melaju hingga partai puncak. Kulihat Vita masih serius menonton pertandingan sambil beberapa kali heboh saat tim portugal melakukan serangan.
"Gollll... Golll... Gollll..."
Suasana kambali riuh saat Yunani tiba-tiba mencetak gol melalui sebuah tendangan sudut.
"Yaahh... Kalah deh!" Ucap Vita lesu.
"Hahahaha..." Aku hanya ketawa melihat Vita kecewa karena jagoannya kebobolan. "Sabar Vit, dibalas habis ini..." Ucapku menghiburnya.
Akhirnya pertandingan pun usai dengan Yunani yg keluar sebagai juara dalam ajang Piala Eropa 2004 ini. Para pengunjung pun ada yg puas karena tim yg dibela juara, ada juga yg murung karena kalah. Beberapa saat kemudian suasana mulai sepi karena pertandingan telah usai. Kamipun beranjak untuk pulang.
"Gais aku balik duluan ya..." Ucap Vita kepada teman-temannya.
"Cie mau kemana Vit jam segini hayo?"
"Cie ciee..."
"Ih apaan sih!" Seru Vita kepada teman-temannya.
Setelah menyerahkan uang untuk membayar pesanan kami kepada salah satu anak, Vita lalu menggandeng tanganku keluar meninggalkan cafe tersebut. "Duluan ya mas, mbak..." Ucapku pamit ke teman-teman Vita.
"Yoi hati-hati bro!"
Sesampainya di parkiran, Vita masih menggandeng tanganku. "Gila kowe Vit!"
"Apanya yg gila?"
"Kenapa coba bilang kalo aku pacarmu?"
"Hahaha... Marah?" Ucap Vita lalu melepaskan gandengan.
"Enggak sih, cuma kaget aja..."
"Males aku Dit ada anak yg ngejar-ngejar aku..."
"Hah siapa? Tadi ada anaknya?"
"Ada hahahhaa..."
"Wah gila kowe, gk enak aku sumpah!"
"Alah gk papa Dit, biar dia tau aku udah punya pacar! Risih aku sama anaknya!"
"Gk boleh gitu Vit...."
"Alah udah deh, ayok pulang!" Ajak Vita lalu ia memakai helm dan siap buat bonceng.
"Hmm..."
Lantas kamipun pergi meninggalkan cafe tersebut. Vita lebih mendekatkan badannya di dekatku kali ini dari boncengan belakang. Terasa tangannya mulai memegang pinggang dan pelan-pelan mulai melingkarkannya di badanku. Aku hanya diam saat Vita memelukku dari boncengan belakang seperti ini.
"Dit..."
"Paan Vit?"
"Thanks ya.."
"Buat?"
"Malam ini... Maaf juga udah ngomong kalo kamu pacarku tadi, hehe..."
"Halah santai aja Vit..." Ucapku jujur karena memang gk masalah buatku dengan sandiwara Vita di depan teman-temannya tadi.
"Dit... Satu lagi..."
"Apaan Vit?"
"Aku tidur mana ini? Hahahaha..." Kata Vita lalu tertawa.
"Walah tak kirain kamu mau pulang Vit!"
"Yg bener aja jam berapa ini!"
"Waduh iya ya..." Jawabku usai melihat jam ditanganku yg menunjukkan pukul 03.30.
"...."
"Terus gimana Vit?"
"Gk tau..." Ucap Vita santai.
Lalu kuberhentikan motor dan mengajaknya untuk diskusi mau kemana dulu menunggu pagi hari. Otak mesumku tiba-tiba muncul ingin mengajaknya ke tidur di hotel. Namun entah kenapa nyaliku menciut saat teringat Bella yg ada jauh disana. Takut aja rasanya kalo sampe mengkhianati Bella. Bisa-bisa malah kena karma, Bella diginiin juga sama cowok. Waduh jangan sampe deh.
"Gimana kalo ke warnet aja Vit!" Ajakku
"Emang ada yg buka?"
"Ada di deket taman kota!" Kataku teringat warnet yg cukup nyaman dan buka 24 jam.
"Yaudah ayok!"
Akhirnya kamipun pergi menuju warnet untuk menunggu datangya pagi hari. Selang beberapa saat kemudian sampailah kami di depan warnet tersebut. Kemudian kami pun masuk dan memilih bilik VIP lesehan karena cukup luas jika dipake berdua.
"Hahahaha... Slonjoran dulu deh..." Ucap Vita dengan renyah tawanya.
"Ini ada bantal Vit kalo mau tiduran dulu!" Ucapku lalu memberikan bantal kecil yg disediakan pengelola warnet entah untuk apa tujuannya.
Setelah ngeklik paket 3 jam, aku iseng membuka beberapa situs berita karena gk tau mau ngapain juga. Terlihat Vita malah rebahan disampingku. Kepalanya bersandar di bantal yg aku beri. Sejenak aku menatapnya, terlihat kayaknya udah mulai ngantuk ni bocah. Makin manis juga ternyata kalo diem.
"Woi ngapain ngliatin?!?!" Seru Vita tiba-tiba membuka matanya.
"..."
Kemudian Vita bangun dari tidurnya lalu ikut menatap monitor. "Buka apaan sih Dit?" Tanya Vita.
"Berita-berita aja..."
"Hadeeh..."
"...."
"Eh Dit, kamu punya Friendster?" Tanya Vita.
"Enggak..."
"Yah..."
"Kenapa emang?"
"Ya gk papa, aku mau buat tapi gk bisa caranya... Hahahaha" Kata Vita jujur.
"Sini aku buatin!" Ucapku.
"Wah kamu bisa?" Tanya Vita antusias.
"Bisa dong!" Jawabku santai. Berkat dulu suka bantuin tugas Mbak Laras di warnet, jadi aku gk terlalu gaptek kalo masalah internet. Apalagi kalo ketik mengetik, dulu pas sekolah aku aja selalu menjadi juru ketik kelompok jika ada tugas-tugas sekolah.
"Buatin Dit..." Rengek Vita manja.
"Iya... Mana sini email kamu?"
"Hah? Aku gk punya email Dit..."
"Astaga, anak kuliahan lho kamu. Masa gk punya email..." Ejekku.
"Hehehe..."
"Dasar, sini mana datadiri kamu, aku buatin email dulu!" Ucapku lalu membuka yahoo untuk membuat email.
"Pakai datadiri asli atau gimana Dit?" Tanya Vita polos.
"Suka-suka kamu aja deh Vit..."
"Yaudah, itu yg nama diisi Vitacantik aja Dit..." Ucap Vita. "Terus itu lokasinya Indonesia, terus itu diiisi makan aja buat hobi, terus..." Ucap Vita mengarahkanku untuk mengisi biodata yg diberikan yahoo untuk membuat email.
Akhirnya setelah beberapa saat kemudian jadilah email Vita. Tanpa pikir panjang aku menuju friendster untuk membuat akunnya.
"Wah kamu kok pinter sih Dit!"
"Iyalah!"
Setelah mengisi beberapa informasi data, sebuah akun Friendster telah siap digunakan. Kali ini Vita mengambil alih mouse untuk belajar menggunakan media sosial yg cukup terkenal di kalangan anak muda itu. Aku sedikit menggeser dudukku sembari menuntun Vita buat ngotak-atik profile miliknya. Tak terasa hampir 3 jam kami berada di dalam bilik ini hanya untuk menghiasi layout dan menambahkan lagu di profil friendster Vita. "Wah keren sekarang Dit!"
"Balik yok Vit, udah pagi tuh!" Ucapku rada lemes karena semalaman gk tidur.
"Hehehe bentar-bentar dihabisin sekalian jamnya nanggung tinggal setengah jam lagi!"
"Iyadeh..."
"Kamu gk buat juga Dit?" Tanya Vita.
"Enggak deh buat apa juga kalo aku!"
"Ah gk gaul kowe!"
"Lhah..."
Vita nampak gembira karena akhirnya ia mempunyai akun friendster. Sebenernya pengen bikin juga, tapi setelah dipikir-pikir gk ada temen yg main friendster akupun urung membuatnya. Bahkan kayaknya Novi pun juga gk punya akun friendster. Setelah puas dan memang paket jam telah habis, kami berdua pun meninggalkan bilik ini dan membayarnya di operator.
"Yuk Dit balik!"
"Oke..."
----
Jumat sore di akhir Agustus...
"Dit..."
"Nggih Buk, pripun? (Ya Buk, gimana?)"
Hari terus berganti. Usai nobar dan nemenin di warnet, sebulan ini entah kenapa aku makin dekat dengan Vita. Ada-ada saja kayaknya yg membuat kami untuk sekedar sms atau bahkan ketemu. Contohnya hari rabu lalu, entah bagaimana Vita tiba-tiba ke pasar buat ngajakin aku makan bakso sore hari. Atau kemarin, entah sengaja atau tidak kami bertemu di kantor pos usai aku mengirim paket buat pakde yg berada diluar kota. Dan gk tau bagaimana Vita lagi ngirim paket juga di kantor pos dan ujung-ujungnya kami makan bakso lagi. Sementara itu, hubungan LDR aku dan Bella masih terjaga. Saat ini Bella disibukkan dengan jadwal kuliahnya yg padat. Namun setiap hari kami selalu menyempatkan telepon atau sms-an untuk tanya kabar dan ngobrol hal-hal ringan lainnya. Kabar Siska yg katanya mau ke Magelang pun cuma isapan jempol doang. Bahkan nomornya malah gk aktiv setelah beberapa kali aku mencoba menghubunginya.
Diteras rumah sederhana ini aku sedang mengobrol santai dengan Ibu. Ditemani segelas kopi, dengan seksama aku mendengarkan Ibu yg tengah berbicara.
"Jadi gitu Dit..."
"Ya gk papa Buk, yg penting ada tambahan penghasilan!" Kataku setuju dengan inovasi yg Ibu katakan.
Ibu mempunyai sebuah ide untuk menjual gas dan galon di warungnya karena permintaan kedua barang tersebut banyak sedangkan warung sekitar juga belum memiliki barang tersebut.
"Tapi modalnya lumayan kayaknya Dit..."
"Iyasih Buk..."
Meski ide Ibu cukup kreatif, namun modal yg diperlukan juga lumayan.
"Tak tanya-tanya Kipli dulu ya Buk ya, siapa tau dia punya kenalan orang pasar yg punya chanel ke distributor gas elpiji sama galon!" Ucapku ke Ibu.
"Iya Dit, eh iya kamu masih bantuin di toko Pak Ahmad yg di pasar?" Tanya Ibu kepadaku, karena setahu Ibu aku kerja hanya bantuin jaga toko milik juragan yg terkenal itu. Gk enak aja rasanya kalo jujur ke Ibu bagaimana anaknya ini di pasar, hehe.
"Masih Buk..."
"Yg jujur Dit kalo kerja sama orang itu!" Pesan Ibu kepadaku.
"Siap Buk!"
Usai ngobrol dengan Ibu, malam hari selepas sholat isya aku kerumah Kipli untuk menanyakan konsep jualan gas dan galon dan tanya dimana distributor barang-barang kayak begitu. Secara Kipli pasti sedikit banyak paham karena ia lebih pengalaman di bidang jual-beli pasar.
"Woi Pli, kebetulan disini!" Ucapku ke Kipli yg aku temui di pos kamling.
"Iya ini nungguin Gatot, mau daftar lomba voli tujubelasan!"
"Wah jadi ikut?" Tanyaku karena beberapa hari yg lalu anak-anak pada bahas lomba voli antar desa di kelurahanku.
"Jadi dong, kowe harus ikut lho cuk!" Ucap Kipli.
"Iya cuk! Tenang... Gini Pli," kataku melanjutkan tujuanku mencarinya.
"Ngopo cuk? Mau pinjem motor? Isiin bensin ya!" Ucap Kipli udah soudzon aja.
"Ora cuk, mau tanya dikit!"
"Wah ngapain kalian?" Celoteh Angga teman sekampungku yg nyamperin kami di pos kamling.
"Bisnis iki!" Ucapku menjawab pertanyaan Angga yg penasaran.
"Bisnis apa sih cuk?" Tanya Kipli kepadaku.
"Hahahaha... Engga cuk, cuma mau tanya aja gimana sih caranya kalo mau jualan gas sama galon Pli? Orang pasar ada yg jualan gitu kan? Itu ngambil darimana?"
"Owalah tak kirain apa... Siapa yg mau jualan?" Tanya Kipli.
"Ya Ibukku to cuk!"
"Oh yayaya... Jadi gini cuk. Kowe besok langsung ke Mas Bambang aja, dia bisa bantu nyariin distributor gasnya. Kalo galon, alah kamu tinggal ke toko Pak Kelik, dia kenal dekat sama salesnya!" Ucap Kipli menjelaskan. Nah kan bener, emang pengalaman si Kipli ini.
"Oh gitu ya cuk, modalnya banyak gk?" Tanyaku.
"Halah cuma modal tanya doang, biar salesnya yg nyetokin di warung Ibumu!" Terang Kipli.
"Serius Pli?"
"Lhaiya, tapi kalo pengen untung gede ya beli galon sendiri terus tu galon diisi air keran aja cuk! Hahahahaha..."
"Wah ide bagus Pli!" Celetuk Angga yg nimbrung aja.
"Matamu su!" Seruku ke mereka karena ada aja ide licik anak-anak kampungku. "Yowis cuk aku balik sik!" Sambungku pamit pulang karena mau telponan sama Bella.
"Jancuk kayak bencong jam segini pulang!"
"Bodoamat!" Ucapku santai lalu berjalan kembali ke rumah.
----
Sesampainya dirumah aku langsung menemui Ibu untuk memberi tahu informasi terkait gas dan galon. Ibu nurut aja nunggu aku ketemu sama salesnya dulu. Setelah itu aku berjalan ke teras untuk menelepon pacar tersayang.
"Tuutt... Tuutt... Tuutt..."
"Halo Assalamualaikum sayang..." Ucap seorang cewek dalam telepon.
"Walaikumsalam cintaku..." Balasku.
"Hahahaha apaan sih Dit, geli dengernya..." Protes Bella di dalam telepon.
"Yee orang dipanggil cinta kok gk mau..."
"Yamau, tapi aneh aja dengernya Dit..."
"Hehe iyadeh... Lagi apa Bell?"
"Ini tidur-tiduran aja... Kamu?"
"Sama nih.. Udah makan Bell?"
"Belum..." Jawab Bella singkat.
"Lhah kok belum?" Tanyaku.
"Makan sana Bell..."
"Gk ada makanan disini tuh. Sini kek bawain makanan!" Ucap Bella.
Njiir dikira Magelang-Surabaya lima menit sampe kali ya. "Besok deh aku kesitu..."
"Hmmm... Besok-besok keburu aku wisuda!" Seru Bella yg kayaknya moodnya berubah tiba-tiba.
"Bulan depan deh..." Rayuku asal.
"Janji?" Tanya Bella mulai sumringah.
"Iya sayaaang..."
"Asiikk... Bener ya Ditt..." Pinta Bella keluar manjanya. Sial, kenapa malah ngomong gitu aku.
"Iya Bell..." Kataku halus, walau bingung juga gimana caranya ke Surabaya.
"Yaudah aku makan dulu ya sayang.." Kata Bella mesra. Buset giliran dijanjiin gitu, baru keluar mesranya.
"Iya Bella..."
"Oke, muuuaaach Adit muuuaachh..."
"Ttttuuut... Tuuuut..." Njir dimatiin gitu aja, dasar Bella, gk pernah berubah daridulu.
Usai telpon-telponan yg singkat padat dan jelas sama Bella, lalu akupun masuk ke kamar untuk tidur-tiduran sambil mikirin gimana caranya ke Surabaya. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 21.15 namun mata ini terasa berat. Apa karena bau bantal ya. Alih-alih memikirkan ketemu Bella disana, yg ada aku malah terlelap di malam yg indah ini.
---
Hari minggu dan pertandingan Bola Volli antar kampung pun dimulai.
Aku dipilih menjadi stoper untuk menjaga pertahanan dan melakukan inisiasi serangan. Untuk lomba kali ini semua desa di kelurahanku bertanding. Kemarin kami telah memenangkan pertandingan melawan Desa Leyahleyeh. Dan jika hari ini berhasil menang lagi maka desa kami akan langsung melaju ke semifinal. Sore tadi pertandingan pertama hari ini telah dimulai, dan kini giliran desaku yg akan unjuk gigi.
"Prok prok prok...." Suara dukungan dari desaku tak henti-hentinya kudengar.
"Bro... Fokus yo..." Ucap Gilang anak RT sebelah yg memang atlet. Buset kayaknya pemain proliga tu anak, keras bener smashnya.
"Yo Bro oke..." Ucapku seraya mengikat tali sepatuku.
Sementara dalam posisi penonton yg melingkari lapangan ini, mataku tak berkedip ketika melihat satu wajah yg berada di samping meja panitia. Nampaknya ia sedang fokus mengamati secarik kertas yg berada di atas meja. Apa kabar ya dia, lama tak jumpa dengannya. Ia pun menatap balik ke arahku. Dan akupun tersenyum.
delia.adel dan 8 lainnya memberi reputasi
9