- Beranda
- Stories from the Heart
Roda Kehidupan
...
TS
fthhnf
Roda Kehidupan

"Roda itu bernama kehidupan. Saat kita berada diatas kadang berputar sangat cepat, namun ketika kita berada dibawah roda itu terlalu lambat berputar kembali. Kamu tau kenapa? Karena kehidupan tak semudah mengayuh sepeda untuk tetap berjalan diatas aspal yang halus."
Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.
Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.
Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.
Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...
Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.
Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.
Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.
Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...
© Uhuk.. Wis keren? Sip mas! Oke.
Index Cerita:
Part 1 Aku dan Kalian
Part 2 Kaliurang Sore Itu
Part 3 Bella Namanya
Part 4 PHK Massal
Part 5 Warung Baru Ibu
Part 6 Bapak Semangatku
Ketahuan Bini
Part 7 Kak Siska Kenapa?
Part 8 Hape Baru
Part 9 Pelukan Hangat Kak Siska
Part 10 Pelangi Di Sekar Langit
Part 11 Cemburu, Bell?
Part 12 Kasihan Bapak
Part 13 Minuman Cinta
Part 14 Pekerjaan Pertama
Part 15 Pulau Dewata
Part 16 Tersenyum Kembali
Part 17 Mumi Sekolah
Part 18 Desember Terbaik
Part 19 Happy New Year
Part 20 Gosip Fara
Part 21 Konser Jikustik
Part 22 Maaf, Nov
Part 23 Si Gundul
Part 24 Sebuah Takdir
Part 25 Must On
Part 26 Kejutan
Part 27 Thanks, Nov!
Part 28 Ujian Nasional
Part 29 Janji Bella
Part 30 Babak Baru Kehidupan
Part 31 Vita!
Part 32 Pacar Cadangan
Part 33 Suroboyo Rek!
Part 34 Semalam Bersama Bella
Diubah oleh fthhnf 01-04-2023 20:40
junti27 dan 33 lainnya memberi reputasi
32
22.9K
434
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fthhnf
#135
Part 31 Vita!
Suatu sore di penghujung Juni 2004...
"Woi Vit..."
Hari ini selepas pulang dari bekerja di pasar. Tak sengaja aku bertemu dengan Vita di sebuah toko kacamata. Hari itu aku ingin membelikan Ibu sebuah kacamata karena beberapa hari yg lalu Ibu selalu mengeluh pandangannya mulai rabun. Setelah kukira-kira minus berapa dan setelah melihat tabungan di bawah kasur kamarku, akhirnya dengan hanya modal feeling berapa minus mata Ibu, aku nekat buat ke toko kacamata. "Ah palingan juga -1," kataku meyakinkan diri sendiri. Keren ya aku beli kacamata minus cuma modal feeling. Hahaha. Selepas membayar kacamata itu, di tempat parkir kulihat Vita tengah turun dari motornya.
"Beli kacamata buat siapa?" Tanya Vita.
"Buat Ibuku Vit, lha kamu ngapain disini?"
"Mau ganti frame aku..."
"Lhah emang kamu pakai kacamata?" Tanyaku heran karena belum pernah lihat ia pakai kacamata.
"Kadang-kadang sih Dit, kalo lagi pake motor malem aja..."
"Oh..."
"Kamu sendirian?" Tanya Vita.
"Iya ini habis balik kerja terus kesini!"
"Wah kerja dimana?"
"Walah cuma dipasar Vit..." Jawabku ke Vita karena memang dia gk tau kehidupanku bagaimana sebelumnya.
"Wah keren dong!"
"Hehe... Yaudah aku balik dulu ya Vit!"
"Naik angkot kamu?"
"Iya..."
"Bareng aku aja habis ini!" Tawarnya.
"Walah gk usah Vit..."
"Gk papa, bareng aja..."
"Hehe iyadeh..."
"Nah bentar ya, aku masuk dulu!" Ucap Vita lalu masuk ketoko kacamata tersebut.
Vita ini orangnya cukup asik. Aku mulai kenal agak dekat dengannya saat study tour di Bali beberapa waktu yg lalu. Namun karena kita beda kelas dan hari-hariku selalu bareng si kunyuk Prapto dan Novi, membuat kami tak begitu dalam mengenal satu sama lain. Beberapa saat menunggu akhirnya Vita keluar juga dari toko tersebut. Terlihat ia juga memakai kacamata. Wuih manis nih bocah, sial.
"Yok Dit..." Kata Vita lalu memberikan kunci motornya kepadaku.
"Oke yok!" Balasku lalu menyalakan motor milik Vita.
Kemudian kupacu kuda besi ini dengan santai. Diperjalanan kami ngobrol tentang kesibukan kami masing-masing. Vita nampak antusias ketika mendengarkan pekerjaanku selama ini. Hingga akhirnya, "ngopi dulu yok Dit..." Ajaknya.
"Boleh, dimana?"
"Dimana ya..." Kata Vita yg malah balik tanya.
"Ngikut deh aku Vit!"
"Emm... Di jagoan kopi aja!"
"Oh belakang Hero?"
"Iya, yok..."
"Okesiap!" Ucapku lalu mengarahkan motor ke jalan menuju ke tempat ngopi tersebut.
Beberapa saat kemudian sampailah kami di tempat yg Vita maksud. Terlihat beberapa anak muda juga yg sedang nongkrong ataupun sekedar ngopi disana.
"Pesen apaan Dit?"
"Apa ya... Kopi hitam aja deh!"
"Yaudah bentar kamu duduk aja dulu..."
Akupun duduk disalah satu meja yg masih kosong. Kulihat dekorasinya lumayan menarik dengan dominan warna hitam dengan beberapa mural rock n roll yg membuat tempat ini makin kekinian. Kemudian kusulut rokok andalanku sembari menunggu Vita memesan pesanan. "Fiuuhhh..."Asap harum mengepul di depanku.
"Keren kan tempatnya?" Ucap Vita lalu duduk di depanku.
"Iyo Vit keren loh..."
"Oh jadi kamu tuh udah kerja pas sekolah kemarin?" Tanya Vita masih penasaran.
"Hehe iya Vit..."
"Kok aku gk tau ya..."
"Hehe..."
"Jadi dulu pas aku mampir rumahmu pas ban motorku bocor itu, kamu balik kerja?"
"Nah iya Vit, mana lagi capek. Eh disuruh ambil motor... Hahaha." Candaku.
"Yeee... Orang kamu sendiri yg mau ngambilin waktu itu!" Sanggah Vita.
"Hahahaha..."
Beberapa saat kemudian sampailah pesanan kami. Kopi hitam yg kayaknya enak ini telah tersaji di depanku. Sedangkan Vita memesan jus jambu.
"Katanya ngopi? Kok malah pesen jus?"
"Ngopi di cafe kek gini itu gk harus minum kopi Dit!"
"Hah namanya juga ngopi, ya harus kopi lah!"
"Ya harusnya sih gitu, tapi gimana ya, ah susah ngejelasin!"
"Ada-ada aja..." Kataku baru tau ternyata kalo nongkrong dan bilang mau ngopi itu gk melulu minum kopi, ah aneh. " Oh iya Vit, kamu kenapa gk kuliah di Jogja?" Tanyaku karena tau kalo Vita mau kuliah di Magelang.
"Gk boleh sama orang tua Dit! Hahhahaa..."
"Hahahaha.. Kok bisa?"
"Ya gk tau, khawatir kayaknya kalo anaknya di Jogja!"
"Hahaha.. Nakal banget sih kamu!"
"Hahaha kayaknya gk begitu nakal deh perasaan!"
"Apaan! Huh!"
"Hahahaha..." Balas Vita cuma ketawa ngakak doang.
Emang syarap ni anak. Aku jadi ingat dulu waktu study tour pernah minum bareng sama Vita juga.
"Masih suka mabuk Vit?" Tanyaku to the point.
"Hah?"
"...."
"Emm... Ya gk suka-suka banget sih Dit..."
"Aku tuh dulu heran pas di Bali tiba-tiba kamu udah ada bareng anak-anak..."
"Hahaha ya gimana waktu itu aku diajakin, ya aku mau-mau aja orang rame-rame juga!"
"Wah kalo kuajak mau dong!"
"Ayok hahahaha..." Tantang Vita.
"Hahahaha..."
Kemudian kamipun melanjutkan ngobrol ngalor ngidul gk jelas. Aku pun larut dalam obrolan ini. "Jagoan kamu di piala eropa siapa Dit?" Tanya Vita yg sekarang ganti topik bola. Saat itu memang lagi heboh Piala Eropa.
"Wah suka bola Vit?"
"Suka sih, gara-gara bapakku daridulu nontonin bola di tv, aku jadi ikut-ikutan!"
"Walah ngikutin perkembangannya juga kamu?"
"Iya hahaha, lha gimana dari SD tiap pagi bapakku nontonin berita bola di tv, ya mau gk mau jadi ngikutin, hehehe..."
"Wah seru dong!" Kataku singkat karena aku cuma ngikutin bola lewat game winning eleven di PS, itupun juga karena anak-anak suka main.
"Kamu gk suka bola Dit?" Tanya Vita
"Suka sih, tapi males aja kalo nonton tengah malem!" Kataku beralasan.
"Aku juga males dulu nonton tengah malem gitu, lebih enak paginya nonton dari berita, tapi lama-lama penasaran juga gimana rasanya bangun tengah malem buat nonton bola doang..." Jelas Vita.
"Wah keren Vit, jarang cewek paham bola kayak begitu!"
"Hehehe, aneh malah kalo kata Ibuku, tapi kalo kata bapakku malah bagus. Malahan aku suka dibangunin bapakku kalo ada pertandingan seru tengah malem!"
"Hahahaha..."
"Kapan-kapan nobar yok Dit!"Ajak Vita.
"Boleh, kapan ayo?"
"Final aja kali ya, penasaran aku belum pernah ngerasain nobar gitu!"
"Boleh, tapi emang boleh keluar tengah malem?"
"Alah gampang, alasan apalah gampang itu!"
"Owalah dasar!"
"Hahahahaha..."
Seru nih anak, sayang aja dulu pas sekolah gk dekat-dekat banget.
"Eh Dit, aku tuh ngira kamu sama Novi pacaran loh dulu..." Tanya Vita, kali ini udah beda topik lagi.
"Walah!"
"Ya gimana dimana ada kamu, disitu ada Novi. Dimana ada Novi pasti ada kamu!"
"Hahahaha kita sahabatan Vit, udah aku anggep saudara tuh anak!"
"Masa sih, tapi semua anak mikirnya kalian pacaran tau!"
"Hahahahaha gk nafsu Vit sama tu anak! Ya gimana udah kadung deket banget kayak saudara bener deh!"
"Emm... Kalo sama aku nafsu gk?" Goda Vita. Fix stres ni bocah.
"Emm... Bentar-bentar..." Kataku lalu memandang tubuh Vita. Ia pun membalas dengan gaya sok seksi. "Kayaknya enggak deh, hahahaha..." Kataku bohong. Sebenernya nafsuin amat ni cewek, dengan gaya ceplas ceplosnya dan bentuk tubuh yg proporsional serta kulit putih membuat cowok manapun pasti tergoda. Apalagi dia suka pakai baju yg rada menggoda mata.
"Yeee sialan! Hahahaha..." Balas Vita.
Beberapa saat kemudian jam menunjukkan telah pukul 19.00, lalu kami memutuskan untuk pulang. Setelah membayar dua gelas kopi dan jus, kamipun bergegas pulang.
"Makasih ya Dit traktirannya!" Ucap Vita saat sampai di depan rumahku.
"Halah cuma jus doang, aku yg makasih udah dianterin..."
"Hehehe... Sama-sama Dit, yaudah aku balik duluan ya..."
"Yoi hati-hati Vit!"
"Wah kirain disuruh mampir dulu!" Goda Vita lagi.
"Hahaha yaudah ayok masuk dulu!" Ajakku.
"Hehehe gk usah Dit, bercanda..."
"Dasar!" Ucapku, lalu Vita pun kembali memacu motornya untuk pulang.
Setelah Vita pulang, aku masuk kedalam rumah. Terlihat Ibu masih menata barang-barang dagannya di depan tv.
"Lagi ngapain Buk?"
"Lagi milah-milah barang Dit, kamu darimana?" Tanya Ibu.
"Hehe, dari toko kacamata Bu..."
"Ngapain?"
"Tumbas niki kagem Ibu! (Beli ini untuk Ibu)" Jawabku seraya memberikan kantong plastik berisi kacamata.
"Wah kok pengertian kowe le! (wah kok perhatian kamu nak!)" Ucap Ibuku. Kemudian membuka isi plastik tersebut. "Emang kamu tau berapa minus mata Ibu?"
"Ya kayaknya masih rendah sih Buk..."
"Wah pas ini Dit, jadi terang pandangan Ibu..." Ucap Ibu.
"Syukurlah kalo pas Buk..."
"Tapi kamu punya uang darimana?" Tanya Ibu.
"Ada Buk pokoknya..." Jawabku.
"Gk neko-neko kan kamu?" Cerca Ibu.
"Mboten Bu... (Enggak Bu...)" Jawabku meyakinkan Ibu.
"Yowis sana makan dulu, itu ada ayam goreng di meja makan!" Kata Ibu sembari mencoba memandang sekitar dengan kacamatanya.
"Siap!"
Ada perasaan bangga kepada diri sendiri karena membelikan Ibu sebuah kacamata. Namun jika dibandingkan dengan kasih sayang yg telah Ibu berikan kepadaku, rasanya tak akan ada yg bisa menggantikannya walau aku beri sebuah pulau sekalipun. Kemudian akupun berjalan ke dapur untuk makan. Setelah mengambil lauk dan nasi akupun makan dengan lahapnya. Lalu terasa getaran di saku celanaku, wah sms nih.
From: Bella
Sayang lagi apa? Aku baru
aja balik ospek nih
capek banget
To: Bella
Lagi makan sayang,
wuih kok sampe
jam segini?
Buat istirahat Bell
Ah Bella... Sangat rindu sebenarnya dengan Bella. Namun karena kami saling menjaga komunikasi membuat hubungan jarak jauh ini mudah untuk kami lewati.
"Iya Dit ini lagi tiduran juga!" Balas Bella.
"Sipdeh, udah disiapin yg buat besok?" Balasku mengingatkan.
"Udah sayang, kamu gimana? Jadi bantu-bantu di toko saudaramu?" Tanya Bella.
"Jadi Bell tadi, besok langsung disuruh berangkat!" Jawabku bohong.
Aku memang bohong kepada Bella soal pekerjaanku di pasar. Bahkan Bella tidak mengetahui jika daridulu aku telah bekerja. Ada perasaan minder, malu, dan takut jika aku jujur kepada Bella bagaimana pekerjaanku selama ini. Maaf ya Bell telah bohong selama ini.
"Wah bagus deh, kerja yg bener Dit! Buat batu loncatan kamu!" Jawab Bella di smsnya.
Usai makan dan sms-an sama Bella, akupun beranjak ke kamar untuk istirahat. Sejenak aku berfikir bagaimana aku selanjutnya. Tidak mungkin selamanya akan bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Namun untuk sementara, ini adalah pekerjaan yg aku jalani. Dan yg aku syukuri adalah penghasilanku dari pekerjaan itu bisa dibilang lumayan walau capeknya gk ketulungan. Ntahlah sementara aku jalani aja dulu, yg terpenting aku kerja dengan rezeki yg halal dan tidak merugikan orang lain.
----
Hari terus berganti, tak ada kejadian menarik beberapa hari ini. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Seperti biasa hari senin-jumat aku berangkat ke pasar jam 09.00 hingga sore hari pukul 16.00 namun untuk hari sabtu dan minggu aku lebih milih untuk istirahat. Setiap hari ada saja barang-barang yg siap aku angkat dari parkiran hingga beberapa toko di pasar. Kipli sekarang menjadi semacam kordinator para pekerja kasar ini untuk menentukan jatah masing-masing orang. Keren ya dia, karena sepak terjang dia dan kakaknya ia dipercaya menjadi orang penting di dunia pasar tradisional.
Sabtu, hari ini aku terbangun cukup pagi. Ntah dorongan darimana yg bisa membangunkanku sepagi ini. Kulihat jam dihapeku masih pukul 06.05.
"Ngapain ya pagi-pagi gini..." Gumamku masih diatas kasur.
Kemudian karena bingung mau ngapain akhirnya aku membantu Ibu untuk membuka warung dipagi hari. Ibu heran karena melihatku beraktivitas pagi ini. "Tumben kowe bangun jam segini?" Ucap Ibu ketika melihatku keluar dari kamar.
"Hmm..."
Pagi ini aku memutuskan untuk bersih-bersih rumah karena sudah lama juga tidak membersihkannya. Kuambil sapu dan kain pel dan peralatan lainnya untuk membersihkan lantai. Dengan sigap aku mulai menyapu lantai dan mengepelnya agar terlihat mengkilap. Ibu makin heran anaknya tiba-tiba serajin ini. "Kamu kenapa to Dit? Gk biasanya!" Ucap Ibu lagi makin heran.
"Hmm..."
Usai mengepel lantai dan membersihkan beberapa sudut rumah, akupun membuat secangkir kopi untuk menemani pagiku ini. Sambil ngopi di teras, kuambil hape milikku dan mengutak-atik menu didalamnya. Ngapain ya, bosen banget rasanya. Apa aku ajak si jancuk Gatot main aja ya. Ah tapi dia kayaknya lagi sibuk di kampusnya. Ah bodoamat deh, gk mungkin seorang Gatot disibukkan dengan kuliah. Aku yakin dia kuliah kayaknya hanya nurutin orang tuanya aja. Bakat dia tu ada di main judi. Hahahaha. Tapi untunglah dia kuliah di kota ini, jadi tetap ada kawan buat gila bersama.
To: Gatot Asu
Cuk wis bangun blm?
Kemana yok. Bosen!
Tak lama setelah itu Gatot pun membalas sms dariku.
From: Gatot Asu
Uwis cuk, aku juga bosen.
Yok gas kemana.
Emang dasar Gatot, mau aja aku ajakin pergi. Beberapa saat setelah sms Gatot, akupun bergegas mandi agar rasa lelah akibat bersih-bersih rumah hilang. Usai mandi aku langsung pergi kerumah Gatot buat ngilangin rasa bosan di hari sabtu yg cerah ini.
"Libur kowe cuk?" Tanyaku ke Gatot ketika sampai kamarnya.
"Hooh, ngombe wae yo cuk (minum aja yok cuk!)" Ajaknya.
"Ah bosen cuk, pergi aja kemana gitu!"
"Kemana yaa..."
"Gimana kalo ke jogja wae cuk!" Ajakku.
"Ngapain?"
"Maen aja, ke tempat kos temenku SMA, si Novi itu lho! Siapa tau temennya cakep2 cuk!" Ajakku, gk tau aja tiba-tiba kepikiran pengen nengokin Novi.
"Wah boleh tuh!"
"Iyo cuk!"
"Boleh deh yok, tak mandi dulu!"
Setelah itu Gatot pun mandi dengan kecepatan maksimal. Kayak mandi bebek. Buset deh 3 menit doang. "Ayo cuk!" Ajaknya lalu kami turun dari kamar Gatot menuju motornya yg ia parkirkan di depan halaman rumah.
"Nih pake helm Mbak Laras aja!" Ucap Gatot karena males ngambil helm dulu dirumahku.
Usai memakai helm dan manasin motor bentar, kamipun ngebut menuju Jogja. Selama perjalanan Gatot bergaya kayak pembalap moto gp. Salip kanan salip kiri, gas digembor-gemborin. Akupun hanya menyemangati dia biar tambah kenceng jalannya, hahahaha. Beberapa saat kemudian sampailah kami di perempatan Jombor (perbatasan antara Sleman-Jogja). Aku menyuruh Gatot buat berhenti dulu karena mau nelpon Novi buat tanya patokan alamat kos yg ia beri.
"Jadi habis ini lampu merah ketiga langsung ambil kanan cuk!"
"Oke gas!"
Tak lama kemudian, sampailah kami di kawasan Seturan. Dengan udara yg cukup panas dan bangunan gedung yg padat, sedikit susah juga nyari alamat kos Novi ini. Pikirku selama perjalanan kos Novi ya kos-kosan seperti pada umumnya. Namun aku kaget ternyata kos yg di maksud Novi adalah semacam apartemen yg daritadi kami muter-muter melewatinya.
"Asu! Iki kos opo hotel cuk!" Seru Gatot saat memarkirkan motornya di tempat parkir yg telah disediakan.
Tak lama kemudian, terlihat Novi berjalan menghampiri kami dari gedung kos-kosan aneh ini. "Woi, disuruh langsung masuk aja ngeyel!" Ucapnya lalu menyuruh kami masuk, "ayo!" Lantas kamipun mengikuti Novi berjalan dibelakangnya. Nampak Gatot hanya bengong melihat sekitar. Ia belum tau kalo Novi ini emang anak kolongmerat atau sultan kalo bahasa zaman sekarang. "Gila cuk temenmu itu!" Kata Gatot kagum.
"Wis gk usah ndeso!" Seruku.
Usai naik lift, kamipun sampai di sebuah kamar yg buset deh, lengkap banget. Ada ruang tamu, dapur, kasur, ac, tv, kulkas, ah pokoknya komplit.
"Nov kowe tinggal disini?" Tanyaku.
"Iya, kenapa emang?"
"Wong edan!" Kataku heran sendiri.
Kemudian kamipun dipersilahkan duduk oleh Novi. Lalu ia terlihat akan mengambil minuman buat kami.
"Nih diminum dulu!" Ucap Novi membawa dua gelas minuman berwarna orange.
"Wah repot-repot Mbak Nov..."
"Walah gk usah pake Mbak lah, Novi aja!" Kata Novi ke Gatot.
"Iyadeh oke Nov..."
Kamipun kemudian ngobrol santai tentang kuliah Novi dan seputar musik. Untung aja Gatot paham masalah musik jadi mereka nyambung aja ngobrolnya, aku yg hanya tau dikit-dikit cuma haha-hehe aja dengerinnya.
"Eh Nov, kamu kok tiba-tiba ngambil teknik mesin kenapa sih?" Tanyaku heran dengan jurusan yg Novi ambil.
"Bukan teknik mesin Dit, tapi teknik industri!" Sanggah Novi.
"Ah ya pokoknya itu! Kenapa gitu?"
"Ya gimana ya, di keluargaku gk ada orang teknik Dit, kebanyakan orang ekonomi semua! Ya aku pengen aja mampu di bidang lain..." Jelas Novi.
"Oh itu terus belajar apa aja sih Mbak, eh sori Nov?" Tanya Gatot mulai penasaran dengan perkuliahan di kampus orang.
"Ya banyak. Ada sains, terus informatika, terus kayak buat percobaan-percobaan alam gitu, ah banyak..."
"Oh yayaya..." Kata Gatot hanya manggut-manggut karena dia kuliah cuma di kantin doang.
"Terus gimana kerjaanmu Dit?" Tanya Novi kepadaku.
"Lancar sih Nov..."
"Oh syukurlah..."
"Hehe, iya..."
"Dulu tu aku tau kamu udah kerja ya dikasih tau Gatot ini!" Kata Novi.
"Iya cuk dulu gk sengaja ketemu di warung makan alun-alun!" Sambung Gatot.
"...."
"Jadi inget Dit dulu kita pernah marahan gara-gara kamu kerja gk bilang-bilang, hehe..." Ucap Novi mengingatkan kejadian yg pernah kami alami dulu.
"Ya tapi gk pake nampar juga kali Nov!"
"Hehe.. reflek Dit! Abis ngeselin kamu dulu!"
"Hmm..."
Kemudian kamipun larut dalam obrolan berbagai topik. Gatot beberapa kali menanyakan beberapa hal bagaimana kami saat masih SMA. Dia masih penasaran sedekat apa aku sama Novi dan setajir apa si Novi ini. Tak terasa waktupun telah menunjukkan sore hari. "Gk makan dulu kalian?" Tanya Novi ketika kami mau pamit pulang.
"Gk deh Nov, lain kali aja lah..."
"Yaudah, padahal mau aku traktir pizza!"
"Oh oke ayok Nov!" Kataku dan Gatot serentak. Hahahaha.
Akhirnya kamipun jalan bertiga menggunakan mobil milik Novi ke sebuah restaurant pizza yg berada di sekitar kampus UGM. Terlihat keramain masyarakat kota Jogja dengan segala aktivitasnya nampak kali ini. Sore hari di Jogja memang sangat indah. Banyak cewek cakep berseliweran menyalip kami. Aku sama Gatot pun hanya bengong aja ngeliatin suasana Jogja di sabtu sore ini. Beberapa saat kemudian sampailah kami di sebuah restaurant pizza hot yg terkenal panas itu, hahaha. Usai memilih dan membayar pesanan, kamipun duduk santai di salah satu kursi smoking area. Buset asem juga daritadi gk merokok.
"Sssttt... Fiuuuhhh...."
"Eh cuk, itu mbaknya cakep cuk!" Kata Gatot pelan.
"Mana cuk?"
"Itu loh, kanan-kanan..."
"Oh iya suasu ayu tenan! (Oh iya anjing cakep banget!)" Kataku.
"Gk berubah ya kowe Dit! Hahaha... Masih jelalatan!" Ejek Novi mengetahui tingkah kami.
"Hahahaha emang boyo Nov Adit ini!" Imbuh Gatot.
"Hahaha..."
Setelah puas cuci mata, hidangan pun telah tersaji. Dengan mantap kami melahap pizza yg enak itu sambil bergurau bersama hingga hari mulai gelap. "Cuk ayo balik!" Ajakku karena waktu juga sudah mulai malam. "Oke cuk bentar tak abisin dulu ini!" Kata Gatot lalu menghabiskan potongan terakhir dari pizza yg kenyal itu.
Kamudian kamipun kembali ke kos Novi yg mewah buat ngambil motor lalu pamit pulang. "Makasih ya Nov!" Ucapku dan Gatot.
"Walah sama-sama... Hati-hati pulangnya ya..."
"Yoi!" Kataku singkat lalu naik di boncengan belakang motor Gatot.
Kamipun pulang menuju Magelang dengan perut kenyang karena makan beberapa potongan pizza yg baru pertama kali juga aku makan, hehe.
----
Awal Juli 2004, Final Piala Eropa...
"Dit, awas ya nanti kalo gak jadi nobar!" Celetuk seorang cewek dalam telepon.
"Iyaaa..."
"Sip deh, aku jemput aja ya, soalnya aku alasan ada makrab di kampus sama oramg rumah!" Ucap Vita.
"Heem..."
"Oke, aku jemput jam 9 ya..."
"Iya Vit..."
Hari ini aku janji sama Vita buat nemenin dia nobar final piala eropa di salah satu cafe bareng temen-temen kampusnya juga. Sebenarnya malas banget aku begadang nonton bola meskipun itu partai final. Aku sih suka-suka aja sama bola. Tapi kalau disuruh begadang mantengin layar kaca sampai dini hari mending buat tidur deh. Aku lebih suka maen PS bola bareng anak-anak daripada nonton bola. Aku juga gak ngerti kenapa aku iyain aja ajakan Vita. Susah buat bilang enggak sama dia, gk tau kenapa. Yaudahlah gk papa, lumayan bisa jalan sama cewek, daripada ngenes LDR mending aku iyain aja ajakan Vita. Toh juga cuma nonton bola doang. Apa salahnya. Ya kan?
"Woi Vit..."
Hari ini selepas pulang dari bekerja di pasar. Tak sengaja aku bertemu dengan Vita di sebuah toko kacamata. Hari itu aku ingin membelikan Ibu sebuah kacamata karena beberapa hari yg lalu Ibu selalu mengeluh pandangannya mulai rabun. Setelah kukira-kira minus berapa dan setelah melihat tabungan di bawah kasur kamarku, akhirnya dengan hanya modal feeling berapa minus mata Ibu, aku nekat buat ke toko kacamata. "Ah palingan juga -1," kataku meyakinkan diri sendiri. Keren ya aku beli kacamata minus cuma modal feeling. Hahaha. Selepas membayar kacamata itu, di tempat parkir kulihat Vita tengah turun dari motornya.
"Beli kacamata buat siapa?" Tanya Vita.
"Buat Ibuku Vit, lha kamu ngapain disini?"
"Mau ganti frame aku..."
"Lhah emang kamu pakai kacamata?" Tanyaku heran karena belum pernah lihat ia pakai kacamata.
"Kadang-kadang sih Dit, kalo lagi pake motor malem aja..."
"Oh..."
"Kamu sendirian?" Tanya Vita.
"Iya ini habis balik kerja terus kesini!"
"Wah kerja dimana?"
"Walah cuma dipasar Vit..." Jawabku ke Vita karena memang dia gk tau kehidupanku bagaimana sebelumnya.
"Wah keren dong!"
"Hehe... Yaudah aku balik dulu ya Vit!"
"Naik angkot kamu?"
"Iya..."
"Bareng aku aja habis ini!" Tawarnya.
"Walah gk usah Vit..."
"Gk papa, bareng aja..."
"Hehe iyadeh..."
"Nah bentar ya, aku masuk dulu!" Ucap Vita lalu masuk ketoko kacamata tersebut.
Vita ini orangnya cukup asik. Aku mulai kenal agak dekat dengannya saat study tour di Bali beberapa waktu yg lalu. Namun karena kita beda kelas dan hari-hariku selalu bareng si kunyuk Prapto dan Novi, membuat kami tak begitu dalam mengenal satu sama lain. Beberapa saat menunggu akhirnya Vita keluar juga dari toko tersebut. Terlihat ia juga memakai kacamata. Wuih manis nih bocah, sial.
"Yok Dit..." Kata Vita lalu memberikan kunci motornya kepadaku.
"Oke yok!" Balasku lalu menyalakan motor milik Vita.
Kemudian kupacu kuda besi ini dengan santai. Diperjalanan kami ngobrol tentang kesibukan kami masing-masing. Vita nampak antusias ketika mendengarkan pekerjaanku selama ini. Hingga akhirnya, "ngopi dulu yok Dit..." Ajaknya.
"Boleh, dimana?"
"Dimana ya..." Kata Vita yg malah balik tanya.
"Ngikut deh aku Vit!"
"Emm... Di jagoan kopi aja!"
"Oh belakang Hero?"
"Iya, yok..."
"Okesiap!" Ucapku lalu mengarahkan motor ke jalan menuju ke tempat ngopi tersebut.
Beberapa saat kemudian sampailah kami di tempat yg Vita maksud. Terlihat beberapa anak muda juga yg sedang nongkrong ataupun sekedar ngopi disana.
"Pesen apaan Dit?"
"Apa ya... Kopi hitam aja deh!"
"Yaudah bentar kamu duduk aja dulu..."
Akupun duduk disalah satu meja yg masih kosong. Kulihat dekorasinya lumayan menarik dengan dominan warna hitam dengan beberapa mural rock n roll yg membuat tempat ini makin kekinian. Kemudian kusulut rokok andalanku sembari menunggu Vita memesan pesanan. "Fiuuhhh..."Asap harum mengepul di depanku.
"Keren kan tempatnya?" Ucap Vita lalu duduk di depanku.
"Iyo Vit keren loh..."
"Oh jadi kamu tuh udah kerja pas sekolah kemarin?" Tanya Vita masih penasaran.
"Hehe iya Vit..."
"Kok aku gk tau ya..."
"Hehe..."
"Jadi dulu pas aku mampir rumahmu pas ban motorku bocor itu, kamu balik kerja?"
"Nah iya Vit, mana lagi capek. Eh disuruh ambil motor... Hahaha." Candaku.
"Yeee... Orang kamu sendiri yg mau ngambilin waktu itu!" Sanggah Vita.
"Hahahaha..."
Beberapa saat kemudian sampailah pesanan kami. Kopi hitam yg kayaknya enak ini telah tersaji di depanku. Sedangkan Vita memesan jus jambu.
"Katanya ngopi? Kok malah pesen jus?"
"Ngopi di cafe kek gini itu gk harus minum kopi Dit!"
"Hah namanya juga ngopi, ya harus kopi lah!"
"Ya harusnya sih gitu, tapi gimana ya, ah susah ngejelasin!"
"Ada-ada aja..." Kataku baru tau ternyata kalo nongkrong dan bilang mau ngopi itu gk melulu minum kopi, ah aneh. " Oh iya Vit, kamu kenapa gk kuliah di Jogja?" Tanyaku karena tau kalo Vita mau kuliah di Magelang.
"Gk boleh sama orang tua Dit! Hahhahaa..."
"Hahahaha.. Kok bisa?"
"Ya gk tau, khawatir kayaknya kalo anaknya di Jogja!"
"Hahaha.. Nakal banget sih kamu!"
"Hahaha kayaknya gk begitu nakal deh perasaan!"
"Apaan! Huh!"
"Hahahaha..." Balas Vita cuma ketawa ngakak doang.
Emang syarap ni anak. Aku jadi ingat dulu waktu study tour pernah minum bareng sama Vita juga.
"Masih suka mabuk Vit?" Tanyaku to the point.
"Hah?"
"...."
"Emm... Ya gk suka-suka banget sih Dit..."
"Aku tuh dulu heran pas di Bali tiba-tiba kamu udah ada bareng anak-anak..."
"Hahaha ya gimana waktu itu aku diajakin, ya aku mau-mau aja orang rame-rame juga!"
"Wah kalo kuajak mau dong!"
"Ayok hahahaha..." Tantang Vita.
"Hahahaha..."
Kemudian kamipun melanjutkan ngobrol ngalor ngidul gk jelas. Aku pun larut dalam obrolan ini. "Jagoan kamu di piala eropa siapa Dit?" Tanya Vita yg sekarang ganti topik bola. Saat itu memang lagi heboh Piala Eropa.
"Wah suka bola Vit?"
"Suka sih, gara-gara bapakku daridulu nontonin bola di tv, aku jadi ikut-ikutan!"
"Walah ngikutin perkembangannya juga kamu?"
"Iya hahaha, lha gimana dari SD tiap pagi bapakku nontonin berita bola di tv, ya mau gk mau jadi ngikutin, hehehe..."
"Wah seru dong!" Kataku singkat karena aku cuma ngikutin bola lewat game winning eleven di PS, itupun juga karena anak-anak suka main.
"Kamu gk suka bola Dit?" Tanya Vita
"Suka sih, tapi males aja kalo nonton tengah malem!" Kataku beralasan.
"Aku juga males dulu nonton tengah malem gitu, lebih enak paginya nonton dari berita, tapi lama-lama penasaran juga gimana rasanya bangun tengah malem buat nonton bola doang..." Jelas Vita.
"Wah keren Vit, jarang cewek paham bola kayak begitu!"
"Hehehe, aneh malah kalo kata Ibuku, tapi kalo kata bapakku malah bagus. Malahan aku suka dibangunin bapakku kalo ada pertandingan seru tengah malem!"
"Hahahaha..."
"Kapan-kapan nobar yok Dit!"Ajak Vita.
"Boleh, kapan ayo?"
"Final aja kali ya, penasaran aku belum pernah ngerasain nobar gitu!"
"Boleh, tapi emang boleh keluar tengah malem?"
"Alah gampang, alasan apalah gampang itu!"
"Owalah dasar!"
"Hahahahaha..."
Seru nih anak, sayang aja dulu pas sekolah gk dekat-dekat banget.
"Eh Dit, aku tuh ngira kamu sama Novi pacaran loh dulu..." Tanya Vita, kali ini udah beda topik lagi.
"Walah!"
"Ya gimana dimana ada kamu, disitu ada Novi. Dimana ada Novi pasti ada kamu!"
"Hahahaha kita sahabatan Vit, udah aku anggep saudara tuh anak!"
"Masa sih, tapi semua anak mikirnya kalian pacaran tau!"
"Hahahahaha gk nafsu Vit sama tu anak! Ya gimana udah kadung deket banget kayak saudara bener deh!"
"Emm... Kalo sama aku nafsu gk?" Goda Vita. Fix stres ni bocah.
"Emm... Bentar-bentar..." Kataku lalu memandang tubuh Vita. Ia pun membalas dengan gaya sok seksi. "Kayaknya enggak deh, hahahaha..." Kataku bohong. Sebenernya nafsuin amat ni cewek, dengan gaya ceplas ceplosnya dan bentuk tubuh yg proporsional serta kulit putih membuat cowok manapun pasti tergoda. Apalagi dia suka pakai baju yg rada menggoda mata.
"Yeee sialan! Hahahaha..." Balas Vita.
Beberapa saat kemudian jam menunjukkan telah pukul 19.00, lalu kami memutuskan untuk pulang. Setelah membayar dua gelas kopi dan jus, kamipun bergegas pulang.
"Makasih ya Dit traktirannya!" Ucap Vita saat sampai di depan rumahku.
"Halah cuma jus doang, aku yg makasih udah dianterin..."
"Hehehe... Sama-sama Dit, yaudah aku balik duluan ya..."
"Yoi hati-hati Vit!"
"Wah kirain disuruh mampir dulu!" Goda Vita lagi.
"Hahaha yaudah ayok masuk dulu!" Ajakku.
"Hehehe gk usah Dit, bercanda..."
"Dasar!" Ucapku, lalu Vita pun kembali memacu motornya untuk pulang.
Setelah Vita pulang, aku masuk kedalam rumah. Terlihat Ibu masih menata barang-barang dagannya di depan tv.
"Lagi ngapain Buk?"
"Lagi milah-milah barang Dit, kamu darimana?" Tanya Ibu.
"Hehe, dari toko kacamata Bu..."
"Ngapain?"
"Tumbas niki kagem Ibu! (Beli ini untuk Ibu)" Jawabku seraya memberikan kantong plastik berisi kacamata.
"Wah kok pengertian kowe le! (wah kok perhatian kamu nak!)" Ucap Ibuku. Kemudian membuka isi plastik tersebut. "Emang kamu tau berapa minus mata Ibu?"
"Ya kayaknya masih rendah sih Buk..."
"Wah pas ini Dit, jadi terang pandangan Ibu..." Ucap Ibu.
"Syukurlah kalo pas Buk..."
"Tapi kamu punya uang darimana?" Tanya Ibu.
"Ada Buk pokoknya..." Jawabku.
"Gk neko-neko kan kamu?" Cerca Ibu.
"Mboten Bu... (Enggak Bu...)" Jawabku meyakinkan Ibu.
"Yowis sana makan dulu, itu ada ayam goreng di meja makan!" Kata Ibu sembari mencoba memandang sekitar dengan kacamatanya.
"Siap!"
Ada perasaan bangga kepada diri sendiri karena membelikan Ibu sebuah kacamata. Namun jika dibandingkan dengan kasih sayang yg telah Ibu berikan kepadaku, rasanya tak akan ada yg bisa menggantikannya walau aku beri sebuah pulau sekalipun. Kemudian akupun berjalan ke dapur untuk makan. Setelah mengambil lauk dan nasi akupun makan dengan lahapnya. Lalu terasa getaran di saku celanaku, wah sms nih.
From: Bella
Sayang lagi apa? Aku baru
aja balik ospek nih
capek banget
To: Bella
Lagi makan sayang,
wuih kok sampe
jam segini?
Buat istirahat Bell
Ah Bella... Sangat rindu sebenarnya dengan Bella. Namun karena kami saling menjaga komunikasi membuat hubungan jarak jauh ini mudah untuk kami lewati.
"Iya Dit ini lagi tiduran juga!" Balas Bella.
"Sipdeh, udah disiapin yg buat besok?" Balasku mengingatkan.
"Udah sayang, kamu gimana? Jadi bantu-bantu di toko saudaramu?" Tanya Bella.
"Jadi Bell tadi, besok langsung disuruh berangkat!" Jawabku bohong.
Aku memang bohong kepada Bella soal pekerjaanku di pasar. Bahkan Bella tidak mengetahui jika daridulu aku telah bekerja. Ada perasaan minder, malu, dan takut jika aku jujur kepada Bella bagaimana pekerjaanku selama ini. Maaf ya Bell telah bohong selama ini.
"Wah bagus deh, kerja yg bener Dit! Buat batu loncatan kamu!" Jawab Bella di smsnya.
Usai makan dan sms-an sama Bella, akupun beranjak ke kamar untuk istirahat. Sejenak aku berfikir bagaimana aku selanjutnya. Tidak mungkin selamanya akan bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Namun untuk sementara, ini adalah pekerjaan yg aku jalani. Dan yg aku syukuri adalah penghasilanku dari pekerjaan itu bisa dibilang lumayan walau capeknya gk ketulungan. Ntahlah sementara aku jalani aja dulu, yg terpenting aku kerja dengan rezeki yg halal dan tidak merugikan orang lain.
----
Hari terus berganti, tak ada kejadian menarik beberapa hari ini. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Seperti biasa hari senin-jumat aku berangkat ke pasar jam 09.00 hingga sore hari pukul 16.00 namun untuk hari sabtu dan minggu aku lebih milih untuk istirahat. Setiap hari ada saja barang-barang yg siap aku angkat dari parkiran hingga beberapa toko di pasar. Kipli sekarang menjadi semacam kordinator para pekerja kasar ini untuk menentukan jatah masing-masing orang. Keren ya dia, karena sepak terjang dia dan kakaknya ia dipercaya menjadi orang penting di dunia pasar tradisional.
Sabtu, hari ini aku terbangun cukup pagi. Ntah dorongan darimana yg bisa membangunkanku sepagi ini. Kulihat jam dihapeku masih pukul 06.05.
"Ngapain ya pagi-pagi gini..." Gumamku masih diatas kasur.
Kemudian karena bingung mau ngapain akhirnya aku membantu Ibu untuk membuka warung dipagi hari. Ibu heran karena melihatku beraktivitas pagi ini. "Tumben kowe bangun jam segini?" Ucap Ibu ketika melihatku keluar dari kamar.
"Hmm..."
Pagi ini aku memutuskan untuk bersih-bersih rumah karena sudah lama juga tidak membersihkannya. Kuambil sapu dan kain pel dan peralatan lainnya untuk membersihkan lantai. Dengan sigap aku mulai menyapu lantai dan mengepelnya agar terlihat mengkilap. Ibu makin heran anaknya tiba-tiba serajin ini. "Kamu kenapa to Dit? Gk biasanya!" Ucap Ibu lagi makin heran.
"Hmm..."
Usai mengepel lantai dan membersihkan beberapa sudut rumah, akupun membuat secangkir kopi untuk menemani pagiku ini. Sambil ngopi di teras, kuambil hape milikku dan mengutak-atik menu didalamnya. Ngapain ya, bosen banget rasanya. Apa aku ajak si jancuk Gatot main aja ya. Ah tapi dia kayaknya lagi sibuk di kampusnya. Ah bodoamat deh, gk mungkin seorang Gatot disibukkan dengan kuliah. Aku yakin dia kuliah kayaknya hanya nurutin orang tuanya aja. Bakat dia tu ada di main judi. Hahahaha. Tapi untunglah dia kuliah di kota ini, jadi tetap ada kawan buat gila bersama.
To: Gatot Asu
Cuk wis bangun blm?
Kemana yok. Bosen!
Tak lama setelah itu Gatot pun membalas sms dariku.
From: Gatot Asu
Uwis cuk, aku juga bosen.
Yok gas kemana.
Emang dasar Gatot, mau aja aku ajakin pergi. Beberapa saat setelah sms Gatot, akupun bergegas mandi agar rasa lelah akibat bersih-bersih rumah hilang. Usai mandi aku langsung pergi kerumah Gatot buat ngilangin rasa bosan di hari sabtu yg cerah ini.
"Libur kowe cuk?" Tanyaku ke Gatot ketika sampai kamarnya.
"Hooh, ngombe wae yo cuk (minum aja yok cuk!)" Ajaknya.
"Ah bosen cuk, pergi aja kemana gitu!"
"Kemana yaa..."
"Gimana kalo ke jogja wae cuk!" Ajakku.
"Ngapain?"
"Maen aja, ke tempat kos temenku SMA, si Novi itu lho! Siapa tau temennya cakep2 cuk!" Ajakku, gk tau aja tiba-tiba kepikiran pengen nengokin Novi.
"Wah boleh tuh!"
"Iyo cuk!"
"Boleh deh yok, tak mandi dulu!"
Setelah itu Gatot pun mandi dengan kecepatan maksimal. Kayak mandi bebek. Buset deh 3 menit doang. "Ayo cuk!" Ajaknya lalu kami turun dari kamar Gatot menuju motornya yg ia parkirkan di depan halaman rumah.
"Nih pake helm Mbak Laras aja!" Ucap Gatot karena males ngambil helm dulu dirumahku.
Usai memakai helm dan manasin motor bentar, kamipun ngebut menuju Jogja. Selama perjalanan Gatot bergaya kayak pembalap moto gp. Salip kanan salip kiri, gas digembor-gemborin. Akupun hanya menyemangati dia biar tambah kenceng jalannya, hahahaha. Beberapa saat kemudian sampailah kami di perempatan Jombor (perbatasan antara Sleman-Jogja). Aku menyuruh Gatot buat berhenti dulu karena mau nelpon Novi buat tanya patokan alamat kos yg ia beri.
"Jadi habis ini lampu merah ketiga langsung ambil kanan cuk!"
"Oke gas!"
Tak lama kemudian, sampailah kami di kawasan Seturan. Dengan udara yg cukup panas dan bangunan gedung yg padat, sedikit susah juga nyari alamat kos Novi ini. Pikirku selama perjalanan kos Novi ya kos-kosan seperti pada umumnya. Namun aku kaget ternyata kos yg di maksud Novi adalah semacam apartemen yg daritadi kami muter-muter melewatinya.
"Asu! Iki kos opo hotel cuk!" Seru Gatot saat memarkirkan motornya di tempat parkir yg telah disediakan.
Tak lama kemudian, terlihat Novi berjalan menghampiri kami dari gedung kos-kosan aneh ini. "Woi, disuruh langsung masuk aja ngeyel!" Ucapnya lalu menyuruh kami masuk, "ayo!" Lantas kamipun mengikuti Novi berjalan dibelakangnya. Nampak Gatot hanya bengong melihat sekitar. Ia belum tau kalo Novi ini emang anak kolongmerat atau sultan kalo bahasa zaman sekarang. "Gila cuk temenmu itu!" Kata Gatot kagum.
"Wis gk usah ndeso!" Seruku.
Usai naik lift, kamipun sampai di sebuah kamar yg buset deh, lengkap banget. Ada ruang tamu, dapur, kasur, ac, tv, kulkas, ah pokoknya komplit.
"Nov kowe tinggal disini?" Tanyaku.
"Iya, kenapa emang?"
"Wong edan!" Kataku heran sendiri.
Kemudian kamipun dipersilahkan duduk oleh Novi. Lalu ia terlihat akan mengambil minuman buat kami.
"Nih diminum dulu!" Ucap Novi membawa dua gelas minuman berwarna orange.
"Wah repot-repot Mbak Nov..."
"Walah gk usah pake Mbak lah, Novi aja!" Kata Novi ke Gatot.
"Iyadeh oke Nov..."
Kamipun kemudian ngobrol santai tentang kuliah Novi dan seputar musik. Untung aja Gatot paham masalah musik jadi mereka nyambung aja ngobrolnya, aku yg hanya tau dikit-dikit cuma haha-hehe aja dengerinnya.
"Eh Nov, kamu kok tiba-tiba ngambil teknik mesin kenapa sih?" Tanyaku heran dengan jurusan yg Novi ambil.
"Bukan teknik mesin Dit, tapi teknik industri!" Sanggah Novi.
"Ah ya pokoknya itu! Kenapa gitu?"
"Ya gimana ya, di keluargaku gk ada orang teknik Dit, kebanyakan orang ekonomi semua! Ya aku pengen aja mampu di bidang lain..." Jelas Novi.
"Oh itu terus belajar apa aja sih Mbak, eh sori Nov?" Tanya Gatot mulai penasaran dengan perkuliahan di kampus orang.
"Ya banyak. Ada sains, terus informatika, terus kayak buat percobaan-percobaan alam gitu, ah banyak..."
"Oh yayaya..." Kata Gatot hanya manggut-manggut karena dia kuliah cuma di kantin doang.
"Terus gimana kerjaanmu Dit?" Tanya Novi kepadaku.
"Lancar sih Nov..."
"Oh syukurlah..."
"Hehe, iya..."
"Dulu tu aku tau kamu udah kerja ya dikasih tau Gatot ini!" Kata Novi.
"Iya cuk dulu gk sengaja ketemu di warung makan alun-alun!" Sambung Gatot.
"...."
"Jadi inget Dit dulu kita pernah marahan gara-gara kamu kerja gk bilang-bilang, hehe..." Ucap Novi mengingatkan kejadian yg pernah kami alami dulu.
"Ya tapi gk pake nampar juga kali Nov!"
"Hehe.. reflek Dit! Abis ngeselin kamu dulu!"
"Hmm..."
Kemudian kamipun larut dalam obrolan berbagai topik. Gatot beberapa kali menanyakan beberapa hal bagaimana kami saat masih SMA. Dia masih penasaran sedekat apa aku sama Novi dan setajir apa si Novi ini. Tak terasa waktupun telah menunjukkan sore hari. "Gk makan dulu kalian?" Tanya Novi ketika kami mau pamit pulang.
"Gk deh Nov, lain kali aja lah..."
"Yaudah, padahal mau aku traktir pizza!"
"Oh oke ayok Nov!" Kataku dan Gatot serentak. Hahahaha.
Akhirnya kamipun jalan bertiga menggunakan mobil milik Novi ke sebuah restaurant pizza yg berada di sekitar kampus UGM. Terlihat keramain masyarakat kota Jogja dengan segala aktivitasnya nampak kali ini. Sore hari di Jogja memang sangat indah. Banyak cewek cakep berseliweran menyalip kami. Aku sama Gatot pun hanya bengong aja ngeliatin suasana Jogja di sabtu sore ini. Beberapa saat kemudian sampailah kami di sebuah restaurant pizza hot yg terkenal panas itu, hahaha. Usai memilih dan membayar pesanan, kamipun duduk santai di salah satu kursi smoking area. Buset asem juga daritadi gk merokok.
"Sssttt... Fiuuuhhh...."
"Eh cuk, itu mbaknya cakep cuk!" Kata Gatot pelan.
"Mana cuk?"
"Itu loh, kanan-kanan..."
"Oh iya suasu ayu tenan! (Oh iya anjing cakep banget!)" Kataku.
"Gk berubah ya kowe Dit! Hahaha... Masih jelalatan!" Ejek Novi mengetahui tingkah kami.
"Hahahaha emang boyo Nov Adit ini!" Imbuh Gatot.
"Hahaha..."
Setelah puas cuci mata, hidangan pun telah tersaji. Dengan mantap kami melahap pizza yg enak itu sambil bergurau bersama hingga hari mulai gelap. "Cuk ayo balik!" Ajakku karena waktu juga sudah mulai malam. "Oke cuk bentar tak abisin dulu ini!" Kata Gatot lalu menghabiskan potongan terakhir dari pizza yg kenyal itu.
Kamudian kamipun kembali ke kos Novi yg mewah buat ngambil motor lalu pamit pulang. "Makasih ya Nov!" Ucapku dan Gatot.
"Walah sama-sama... Hati-hati pulangnya ya..."
"Yoi!" Kataku singkat lalu naik di boncengan belakang motor Gatot.
Kamipun pulang menuju Magelang dengan perut kenyang karena makan beberapa potongan pizza yg baru pertama kali juga aku makan, hehe.
----
Awal Juli 2004, Final Piala Eropa...
"Dit, awas ya nanti kalo gak jadi nobar!" Celetuk seorang cewek dalam telepon.
"Iyaaa..."
"Sip deh, aku jemput aja ya, soalnya aku alasan ada makrab di kampus sama oramg rumah!" Ucap Vita.
"Heem..."
"Oke, aku jemput jam 9 ya..."
"Iya Vit..."
Hari ini aku janji sama Vita buat nemenin dia nobar final piala eropa di salah satu cafe bareng temen-temen kampusnya juga. Sebenarnya malas banget aku begadang nonton bola meskipun itu partai final. Aku sih suka-suka aja sama bola. Tapi kalau disuruh begadang mantengin layar kaca sampai dini hari mending buat tidur deh. Aku lebih suka maen PS bola bareng anak-anak daripada nonton bola. Aku juga gak ngerti kenapa aku iyain aja ajakan Vita. Susah buat bilang enggak sama dia, gk tau kenapa. Yaudahlah gk papa, lumayan bisa jalan sama cewek, daripada ngenes LDR mending aku iyain aja ajakan Vita. Toh juga cuma nonton bola doang. Apa salahnya. Ya kan?
Spoiler for Next episodeeee:
delia.adel dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup