Kaskus

Story

fthhnfAvatar border
TS
fthhnf
Roda Kehidupan
Roda Kehidupan


"Roda itu bernama kehidupan. Saat kita berada diatas kadang berputar sangat cepat, namun ketika kita berada dibawah roda itu terlalu lambat berputar kembali. Kamu tau kenapa? Karena kehidupan tak semudah mengayuh sepeda untuk tetap berjalan diatas aspal yang halus.​"

Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.

Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.

Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.

Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...


© Uhuk.. Wis keren? Sip mas! Oke.


Index Cerita:

Part 1 Aku dan Kalian

Part 2 Kaliurang Sore Itu

Part 3 Bella Namanya

Part 4 PHK Massal

Part 5 Warung Baru Ibu

Part 6 Bapak Semangatku

Ketahuan Bini

Part 7 Kak Siska Kenapa?

Part 8 Hape Baru

Part 9 Pelukan Hangat Kak Siska

Part 10 Pelangi Di Sekar Langit

Part 11 Cemburu, Bell?

Part 12 Kasihan Bapak

Part 13 Minuman Cinta

Part 14 Pekerjaan Pertama

Part 15 Pulau Dewata

Part 16 Tersenyum Kembali

Part 17 Mumi Sekolah

Part 18 Desember Terbaik

Part 19 Happy New Year

Part 20 Gosip Fara

Part 21 Konser Jikustik

Part 22 Maaf, Nov

Part 23 Si Gundul

Part 24 Sebuah Takdir

Part 25 Must On

Part 26 Kejutan

Part 27 Thanks, Nov!

Part 28 Ujian Nasional

Part 29 Janji Bella

Part 30 Babak Baru Kehidupan

Part 31 Vita!

Part 32 Pacar Cadangan

Part 33 Suroboyo Rek!

Part 34 Semalam Bersama Bella
Diubah oleh fthhnf 01-04-2023 20:40
custinayulia645Avatar border
fhy544Avatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 33 lainnya memberi reputasi
32
22.9K
434
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
fthhnfAvatar border
TS
fthhnf
#124
Part 30 Babak Baru Kehidupan
Di meja yg bundar ini terhidang dua gelas coklat hangat yg masih mengepul dan sepiring brownies yg nampak lezat. Didepanku terlihat Bella sangat cantik mengenakan kaos lengan panjang berwarna ungu dan celana pendek selutut dengan rambutnya yg masih basah dibiarkan mengurai.

Hari rabu. Selepas maghrib aku berkunjung ke rumah Bella. Aku sengaja kerumahnya karena malam nanti Bella dan keluarganya akan berangkat ke Surabaya. Sebenernya Bella pengen tinggal dulu sampai hari pengumuman, namun orangtuanya tidak mengijinkan karena rumah sudah kosong.

Saat ini di depanku ada kue brownies. Iya, brownies yg nampak lezat itu adalah kue kedua yg Bella buat sendiri setelah kue ulang tahun yg ia beri beberapa waktu yg lalu.

"Emmm... Enak Bell browniesnya." Kataku usai mencicipinya.

"Siapa dulu dong, Bellaaaa..."

"..."

"Jadi gimana Dit udah siap?"

"Apanya?"

"Jauh sama aku, hehe..." Goda Bella.

"...." Aku hanya terdiam mendengar candaan Bella yg aneh.

"Diem aja lho..."

"Hmm... Siap gk siap Bell." Ucapku lalu menenggak cokelat panas.

"....."

"Harus siap dong!" Kata Bella dengan senyuman.

"Iya Bella..."

"Maaf ya Dit..." Balas Bella paham apa maksudku.

"Iya Bell gk papa kok... Ini konsekuensi hubungan kita kan?"

"Maaf banget ya..." Ucap Bella dengan mata yg berkaca-kaca.

"Iya sayang... Aku janji tiap ada libur pasti aku ke tempat kamu deh..."

"Hiks... Hiks..." Hanya anggukan kepala dan sedikit tangisan yg ia tahan menanggapi ucapanku.

"Kamu baik-baik ya Bell disana..."

"Iya... Hiks..."

"Udah jangan nangis ah... Semangat dong, aku yakin kita bisa ngejalani ini kok..." Kataku yg gantian nyemangatin Bella.

"Iya Dit..."

Sumpah berat banget sebenernya yg aku rasain. Berpisah dengan Bella adalah mimpi buruk yg harus dihadapi.

Banyak kenangan yg kita ciptakan di kota ini, aku juga gk bisa membayangkan bagaimana jadinya tanpa Bella besok. Aku cuma bisa berharap hubungan ini akan tetap baik-baik saja walau jarak memisahkan.

Sore itu kuhabiskan waktu bersama Bella buat ngobrolin momen-momen indah yg kita ciptakan berdua. Mulai dari kenalan, jogging bareng, hingga kepalaku digundulin hipster cantik. Dasar Bella, tawa renyah yg sangat aku suka itu besok sudah jarang aku lihat lagi.

Detik terus berdetak dengan cepat seakan tak rela melihatku dan Bella menikmati saat-saat terakhir di Kota ini. Semua perabotan telah diangkut menggunakan truk hari sebelumnya. Dan yg tersisa hanya beberapa koper besar yg siap untuk dimasukkan kedalam mobil milik keluarga Bella. Kuarahkan pandanganku ke Bella yg tiba-tiba meneteskan air matanya lagi.

"Dit, makasih ya..."

"Buat?"

"Semuanya... Khusus buat pelangi di sekar langit itu, aku seneng banget." Ucap Bella.

"Love you Bell..." Ucapku lalu kuberanikan diri untuk mencium keningnya.

"Cupp..."

"Love you too, Dit..." Kata Bella pelan saat aku mencium keningnya.

Lalu terlihat Bella menghela napasnya, kemudian hening sampai akhirnya ia mengusap air mata dan memberikan senyuman manisnya.

"Nak Adit sukses selalu ya..." Ucap Ayah Bella yg menghampiri kami di teras dengan koper yg akan dimasukkan ke dalam mobil.

"Iya Pak.. Makasih Pak..." Ucapku lalu bergegas membantunya untuk memasukkan koper. "Saya aja Pak yg angkat..."

"Walah makasih..." Balasnya kemudian.

Usai mengangkat semua koper kedalam mobil, Ibunda Bella pun keluar dengan beberapa tas juga. "Kalo ada waktu main ke Surabaya Nak..." Kata Ibu Bella ramah.

"Iya Bu maturnuwun..."

"Ayo Bella..." Kata Ayah Bella yg telah siap di dalam mobil.

Bella hanya terdiam sambil manatapku dengan pandangan yg nanar. "Aku pamit ya Dit..." Ucap Bella pelan. Terlihat sang Ibu mengusap rambut Bella paham lalu tersenyum manis kepada anaknya itu, seakan bilang, seng kuat cah ayu. (Yg kuat anak cantik).

"Hati-hati Bell..." Ucapku lalu bersalaman dengan Bella dan Ibunya.

Kemudian kami berjalan bersama menuju mobil, aku berhenti tepat di samping pintu belakang yg akan Bella naiki. Setelah membuka pintu mobil, sejenak Bella menghentikan langkahnya. Lalu kemudian ia memelukku dengan erat tak peduli dilihat orang tuanya. Pelukan kali ini lebih erat dengan air mata yg deras keluar dari bola matanya yg indah.

"Baik-baik disini Dit..." Ucapnya lalu melepas pelukannya.

"..." Aku hanya tersenyum lalu menganggukan kepala. "Assalamu'alaikum..." Ucap Bella lalu menutup pintu mobilnya.

Kemudian terlihat mobil kijang itu perlahan menjauh. Kemudian kuambil rokok dan duduk sejenak di sebuah teras rumah yg pernah ditinggali oleh seseorang yg sangat aku cinta ini.

"Baik-baik disana, Bell..." Batinku seraya membayangkan semua moment yg pernah aku lalui bersama Bella di Kota kecil ini.

---

Beberapa hari setelah Bella pindah, entah kenapa hari-hariku menjadi biasa saja dan tak ada semangat untuk menjalaninya, tiap hari bawaanya tidur-tiduran aja. Hingga disuatu pagi,

"Masih sedih?" Ucap seseorang cewek yg pagi ini kerumahku.

"Enggak Nov..."

"Alah ditinggal pindah gitu aja galau, lemah ah!" Ledek Novi.

"Hmm..."

"Buruan mandi sana, udah siang ini!"

"Bentaran deh Nov..."

Hari ini aku janji sama Novi untuk menemaninya ke Jogja. Entah tujuannya untuk apa belum tau juga, yg jelas kami akan ke salah satu kampus swasta yg rencananya Novi akan kuliah disitu.

"Buruuann!!" Seru Novi.

Kemudian aku pun bergegas untuk mandi. Ya daripada galau terus dirumah mending ikut Novi ke Jogja, itung-itung jalan-jalan gratis.

Usai mandi akupun keluar menghampiri Novi di warung Ibu. Nampak ia sedang asyik ngobrol sama Beliau. Entah apa yg mereka obrolkan namun terlihat seru. "Woi Nov! Ayo!"

"Wuih keren, tumben?" Ucap Novi ketika melihatku memakai baju yg ia belikan tempo hari.

"Emang dasarnya keren aku!"

"Hadeeh..."

"Yaudah Buk Adit berangkat dulu ya..." Kataku pamit ke Ibu untuk nemenin Novi.

"Novi juga pamit Bu..."

"Iya hati-hati..." Balas Ibu halus lalu membalas uluran tangan kami.

Kemudian kamipun masuk mobil dan perlahan namun pasti Novi memacu mobilnya berjalan meninggalkan rumah. Ia terlihat ceria hari ini entah apa sebabnya.

"Nov lagu-lagu sedih dong!" Ucapku sibuk mencari kaset cd di mobil.

"Ih apaan sih!" Protes Novi. "Aku tuh ngajak kamu biar kamu gk sedih mulu! Ini malah mau denger lagu sedih!" Lanjut Novi kemudian.

"Hahaha..." Aku hanya tertawa mendengar Novi ngomong begitu. Benar juga, ngapain juga aku sedih? Toh kami juga masih bisa ketemu. Cuma LDR doang apa masalahnya. "Iya ya Nov, ngapain juga ya aku sedih terus," imbuhku.

"Nah tu tau!" Kata Novi lalu memacu mobilnya dengan cepat.

Perjalanan dari Magelang ke Jogja tak begitu ramai. Di dalam mobil kami hanya ngobrol seputar kampus pilihan Novi ataupun rencana Novi untuk tinggal di Jogja.

"Belum tau juga sih, palingan kost Dit. Kalo gk ya ngontrak rumah aja..." Ucap Novi ketika aku tanya besok pas kuliah mau tinggal dimana.

Beberapa saat kemudian sampailah kami di daerah Condong Catur. Tau dong mau ke kampus mana tujuannya.

"Gila Nov, gede banget tu kampus..." Ucapku kagum melihat calon kampus Novi.

"Iya ya, ah tapi itu aula kayaknya Dit..."

Lalu Novi mengarahkan mobilnya masuk ke area kampus tersebut. Kulihat ada beberapa mahasiswa yg sedang berjalan dan ada juga yg sedang duduk santai di bawah pohon yg rindang.

"Nov, parkir dimana? Kamu tau?"

"Itu di depan kayaknya..." Ucap Novi seraya berjalan pelan mengarahkan mobilnya ke tempat parkir yg ia maksud.

"..."

"Kamu mau ikut masuk atau nungguin sini Dit?" Tanya Novi.

"Tak tunggu sini aja deh Nov, kamu gk lama kan?"

"Enggak mungkin, cuma ngumpulin berkas sama bayar uang gedung aja kok..." Jawab Novi sambil merapikan rambutnya.

"Oh oke!"

Kamudian Novi pun berjalan ke sebuah gedung untuk pendaftaran mahasiswa baru. Terlihat dari kejauhan Novi tengah berbincang dengan seorang bapak-bapak lalu mempersilahkannya masuk kedalam gedung dengan sopan. Gila tu anak, udah kayak orang penting aja disambut segala.

Lumayan lama juga nungguin Novi kembali, ada sekitar setengah jam aku hanya duduk-duduk di dalam mobil dan sesekali keluar melihat suasana. "Sial, tau gini aku ikut masuk aja tadi," batinku.

Tak lama kemudian nampak Novi sudah keluar dari gedung tersebut dan berjalan menuju kesini.

"Lama ya Dit, maaf ya..."

"Enggak kok, bentar doang..."

"Mau kemana nih?" Tanya Novi melepas kemejanya. Kini ia mengenakan kaos hitam, khas Novi banget ini.

"Emm... Kemana ya?"

"Parangtritis yuk Dit..."

"Gk kejauhan Nov?"

"Lumayan sih, terus kemana?"

"Gimana kalo ke rumah Prapto aja?" Ajakku.

"Dia kan lagi tes juga di Akmil!"

"Oh iya ya lupa..."

Setelah diskusi beberapa saat, dan karena gk ada tujuan juga mau kemana akhirnya kami putuskan untuk pergi ke Pantai Parangtritis. Lumayanlah bisa healingbentar kalo kata anak millenial.

Dengan mantap Novi pun memacu mobilnya menembus keramain jalanan Kota Jogja menuju Parangtritis. Di tengah perjalanan Novi menghentikan mobilnya di pom bensin untuk ganti celana. Ribet katanya pakai celana model kain. "Bentar Dit, aku ganti celana dulu, ribet banget pake celana ginian!"

"Gk ganti disini aja Nov? Hahahaha..."

"Matamu!" Seru Novi lalu keluar dari mobilnya.

Usai ganti celana, kamipun kembali melanjutkan perjalanan ditemani lagu-lagu westlife yg entah kenapa Novi suka banget. Lalu kamipun mengobrol saat awal ketemu di sekolah dulu hingga kejadian-kejadian konyol yg pernah kami lalui ketika menjadi siswa SMA 002.

Tak lama setelah itu, sampailah kami di area parkir Pantai Parangtritis. Novi langsung memarkir mobilnya dengan cepat dan bergegas keluar menikmati hembusan angin laut.

"Panas tapi seger ya Dit..." Ucap Novi ketika menghirup udara sekitar pantai.

"Heem..." Jawabku singkat. Ada-ada aja panas kok seger.

"Dit beli es kelapa muda ayo!" Ajak Novi.

"Yokk gila panas banget!" Kataku semangat lalu berjalan mengikuti Novi ke sebuah warung.

Sesampainya di warung, Novi memesan beberapa menu yg tersedia. Entah apa yg Novi pesan, aku hanya melihatnya dari gasebo yg disediakan oleh warung tersebut.

"Gila kok panas banget ya..." Ucap Novi ketika duduk di depanku usai memesan makanan.

"Ya namanya aja pantai!"

Kamipun kembali berbincang santai sembari menunggu pesanan datang. Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Novi, dia sangat paham aku butuh refreshing seperti ini untuk sedikit melupakan kesedihan karena harus LDR sama Bella.

"Silahkan… ini ikan bakarnya… dan ini es kelapanya. Selamat menikmati!" Suguh pelayan pria dengan ramah.

"Terima kasih." Jawab Novi hangat kepada pelayanan tersebut.

"Wah enak nih..." Gerutuku lalu mulai nyomotin makanan siap saji ini.

"Diabisin Dit..." Ucap Novi.

"Siap!"

Kemudian dengan lahap kamipun menghabiskan makanan yg lezat ini diiringi suara desiran ombak yg bergemuruh.

"Habis ini fotoin aku ya Dit!" Kata Novi lalu menaruh hapenya di meja.

Lalu, setelah cukup kenyang seperti biasa kusulut rokok andalanku. Novi kembali berjalan ke tepi pantai untuk sekedar menyentuh air dengan kakinya dan memintaku untuk mengabadikan moment ini. Sedangkan aku mengikutinya perlahan berjalan dibekangnya sambil memotret Novi dan pemandangan dengan hape kamera milik Novi seperti yg ia minta.

"Selfie yuk Dit!"

"Apaan tuh selfie?" Tanyaku heran.

"Ya foto berdua! Ndeso banget!" Seru Novi.

"Oh yayaya..."

Akhirnya kamipun foto bersama dengan latar pemandangan pantai. Sempat beberapa kali foto karena memang susah untuk mengambil gambar dengan kamera belakang. "Cepreet... Cepreet" Dengan gaya alay lidah melet dan beberapa gaya lain kamipun puas mengabadikan moment ini berdua.

Usai berfoto ria kamipun kembali ke gasebo untuk menikmati kelapa muda dan melihat pemandangan pantai yg indah. Sambil ngobrol ngalor ngidul tak terasa waktu cepat berputar. Langit sore yang indah pun muncul. "Pulang yuk Dit, udah mau sore!" Ajak Novi.

"Oke yuk!" Jawabku lalu membereskan barang bawaan dan membuang sampah yg ada di sekitar kami.

"Bentar aku bayar dulu!"

"Pake ini aja Nov!"

"Halah, ini aja!"

"Iyadeh..." Kataku singkat karena percuma debat soal bayar membayar sama Novi.

Kemudian kamipun pulang menuju Magelang dengan suasana hati yg gembira. "Makasih ya Nov jalan-jalannya..." Ucapku di dalam mobil ketika hampir sampai rumah.

"Aku lagi Dit yg makasih udah ditemenin di kampusnya..."

---

Hari terus berganti, pagi ini aku bangun dengan perasaan yg gelisah. Bagaimana tidak. Ini adalah hari pengumuman kelulusan. "Wis teko mantep wae Dit! (Sudah, yakin aja Dit!)" ucap Ibu menenangkanku pagi ini.

Dengan penuh rasa cemas akhirnya aku berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah kulihat wajah teman-teman yang lain. Sepertinya merekapun deg-degan, adapula yang mulutnya komat-kamit berdoa. Tapi dimana Novi dan Prapto?? Akupun melihat kesekelilingku. Kemudian, kucari sosok mereka berdua yang belum menampakkan batang hidungnya. Wah apa gk berangkat ya mereka. Jangan-jangan mereka gk lulus. Pikirku karena gosipnya yg gk datang ke sekolah berarti gk lulus. Setelah kucari kemana-mana, akhirnya kutemukan mereka sedang makan bubur ayam depan sekolah bareng Rangga, Vita, dan Seno.

"Woi kirain gk datang!" Sapaku ke mereka.

"Lwaper cwuk!" Ucap Prapto masih dengan mulut yg penuh dengan makanan.

"Makan dulu Dit!" Ucap Novi dan Vita tiba-tiba bebarengan.

"Ehm...." Sindiran batuk Rangga yg mengetahui gelagat gk enak.

"Emmm...."

"...."

"Udah tadi..." Jawabku ke mereka berdua.

Kemudian aku pun nyomot esteh milik Prapto yg ada di meja untuk mengalihkan perhatian. "Woi minta cuk!" Ucapku kemudian kusulut rokok andalanku.

"Kalian gk deg-degan?" Tanyaku ke mereka.

"Santai aja lagi, gk ada guru yg dateng ke rumah ya berarti lulus!" Ucap Rangga santai.

"Ya moga bener deh lulus semua kita!"

"Amiin..."

Setelah menghabiskan bubur ayam dan menentukan arah konvoi nanti, kami lantas menuju ke aula untuk mendengarkan pengumuman dan arahan dari pihak sekolah. Tak ada prosesi wisuda seperti anak SMA zaman sekarang. Pengumuman dilaksanakan di aula secara langsung oleh kepala sekolah. Sebelum acara inti, kami bernyanyi lagu hymne guru.

Akhirnya saat yg menegangkan akan dimulai. Dimana penentuan lulus atau tidaknya akan dibacakan hanya berdasarkan nilai Ujian Nasional. "Dengan mengucap puji dan syukur, Alhamdulillah SMA 002 untuk tahun ini dinyatakan lulus 100%!!!" Ucap kepala sekolah dengan mantap lalu semua murid suka cita menyambut pengumuman ini.

"Waaaaa ALHAMDULILLAH..." Kataku lalu syujud syukur!"

"Selamat cuk!" Ucap Prapto lalu memelukku.

"Novvv selamat.." Kataku kemudian kami bertiga berpelukan dan disambut anak-anak lain datang menghampiri.

Kami para siswa bersuka cita. Tawa dan tangis bercampur karena kelulusan ini. Di dalam gedung aula, dalam hati terselip juga penyesalan, meninggalkan cerita SMA yang sebenarnya ingin aku ulang kembali. Memperbaiki prestasi, menghapus kenangan-kenangan kelam dan kenakalan yang sudah dialami.

Mungkin bukan hanya aku yang berfikiran demikian. Entahlah, yang pasti perpisahan pasti terjadi. Episode kehidupan baru akan kami jalani setelah lulus ini.

"Adiittt aku lulussssss!!" Teriak Bella dalam teleponnya.

"Wah selamat Bell!"

"Kamu gimana Dit?" Tanya Bella.

"Alhamdulillah lulus juga Bell.."

"Alhamdulillah Dit... Terus ini mau konvoi ya?" Tanya Bella.

"Kayaknya sih iya Bell..."

"Aaaa pengeenn..." Rengek Bella manja.

"Yasini Bell makanya hahaha..." Ejekku ke Bella karena tidak bisa mengikuti perayaan kelulusan sekolahnya.

"Ah kamu gitu..."

"Hehe maaf Bell..."

"Hmm... Yaudah Dit aku mau jalan-jalan aja ke Mall sama keluarga beli perabotan..."

"Wah sekarang jadi anak mall dong, hehe..."

"Ih apaan cuma beli perabotan yg masih kurang aja kok..."

"Hehehe iya Bell... Hati-hati ya..."

"Iya Dit... Cium duluuuu!" Ucap Bella manja.

"Tuut.. Tuuut... Tuutt..." Ah dasar Bella, minta dicium tapi dimatiin telponnya.

Usai teleponan sama Bella, akupun menghampiri anak-anak yg telah bertukar tanda tangan di seragam osisnya.

"Dit tanda tanganin sini!" Teriak Vita lalu memberikan spidol kepadaku.

"Dimana Vit?"

"Ini sini aja!" Ucap Vita seraya membalikkan badannya.

"Gk di saku depan aja Vit?" Godaku.

"Mau?" Tantang Vita.

"Hah?"

"Hahahaha..."

"Yee nantangin malah jiper!" Ejek Vita.

"Hahahaha gk enak lah rame!" Kataku beralasan sambil menandatangani baju Vita di bagian punggungnya.

Emang gila deh Vita, aku iyain bener mampus tuh anak. Usai menandatangani seragam Vita, akupun memintanya untuk menandatangani juga seragamku di bagian lengan. "Sini Vit!" Ucapku mengarahkannya.

Setelah bertukar tanda tangan dengan Vita, aku mencari keberadaan teman-teman sekelasku. Mereka tengah asyik juga bertukar tanda tangan di depan kelas. Kuhampiri mereka lalu kamipun saling bertukar tanda tangan.

"Udah tuh gede lagi!" Seru Novi yg memberikan tanda tangannya di punggungku.

"Thanks Nov!"

"Wah sini tak coret-coret kepalamu Dit!" Celoteh Prapto yg tiba-tiba udah membawa pilok warna.

"Matamu! Sini minta!" Ucapku lalu kamipun mencoret-coret baju seragam milik kami.

Puas corat-coret seragam, lalu kamipun konvoi mengelilingi kota bareng anak-anak yg lain. Aku ngebonceng Rangga yg menggunakan motor dengan knalpot wor-wor nya yg berisik. "Treet tett.. wor worr.. trretetttet.. worr.. worrr..."

Setelah berkeliling kota, rombongan konvoi sekolah memutuskan untuk pulang karena gosipnya akan ada patroli dari kepolisian. Rangga pun dengan baik hati mengantarkanku pulang hingga gapura rumah. "Makasih yo Ngga..." Ucapku ketika turun dari motor.

Di sekitar gapura rumah terlihat Gatot dengan seragam yg corat coret juga tengah kumpul bersama anak-anak lainnya. "Woi sini cuk! Pesta ini kita! Seru Gatot.

"Oke su!" Jawabku lalu berjalan menuju anak-anak itu lalu melakukan pesta kecil-kecilan yg membuat kepala jadi puyeng hingga sore hari.

"Cuk gk kuat aku cuk! Uwis ah..." Ucap Gatot ketika ditawarin satu gelas minuman setan lagi.

"Ah cupu!"

"Cemen kowe cuk!" Kata anak-anak membully Gatot.

"Bodo ah, daripada muntah nanti!" Seru Gatot membela diri.

Karena suasana kepala juga sudah mulai gk kondusif, akhirnya satu persatu anak-anak membubarkan diri untuk pulang. Aku dan Gatot pun memutuskan untuk pulang juga. Di perjalanan pulang, kulihat Mbak Laras tengah mengendarai motornya berjalan ke arah kami, Gatot panik lalu mukanya diseger-segerin.

"Wuidih lulus kan kalian?" Tanya Mbak Laras ketika melewati kami.

"Lulus dong!" Ucapku.

"Woi Gatot, ngapain kamu? Mabuk kamu?" Cerca Mbak Laras curiga karena Gatot kayak menghindar saat dekat kakaknya.

"Enggak Mbak, cuma capek aja seharian konvoi!" Ucap Gatot beralasan selogis mungkin.

"Iya Mbak, muter-muter tadi..." Timpalku menutupi kelakuan bejat kami.

"Awas ya kalo mabuk-mabukan lagi!" Ancam Mbak Laras. "Yaudah sana pulang!" Sambung Mbak Laras.

"Iya Mbak..." Jawabku dan Gatot kompak bergegas meninggalkan Mbak Laras takut ketahuan.

Sesampainya dirumah, Ibu telah menyambut kedatanganku kali ini. Nampak Ibu sangat khawatir karena belum aku kabari kalo aku lulus.

"Lulus kan Dit?"

"Lulus Buk Alhamdulillah..."

"Alhamdulillah Dit... Ibuk lega dengernya..."

"Hehe iya Buk..." Ucapku lalu nylonong gitu aja cepat-cepat mandi karena takut Ibu tahu kalo anaknya bau alkohol. Maaf nggih Buk...

Usai mandi akupun duduk santai menikmati senja dengan kepala yg masih cukup berat. "Syukurlah aku telah lulus," batinku sendirian di teras rumah. Aku sangat bersyukur telah melewati satu babak dalam hidupku. Teringat beberapa kenangan yg tercipta saat masa SMA kemarin dimana aku mengenal orang-orang hebat didalamnya. Ntah seperti apa kehidupanku selanjutnya, aku belum mempunyai gambaran yg pasti. Namun aku yakin jika Tuhan telah menciptakan jalan yg terbaik untuk hidupku.

Ini adalah awal dari kehidupan yg sebenarnya. Seperti ucapan Novi sesaat setelah menandatangani baju osis milikku. "Ini bukan akhir! Tapi inilah awal yg sebenarnya!" Ucapnya lalu tersenyum. Dan babak baru Roda Kehidupan akan kembali berputar.
Diubah oleh fthhnf 16-12-2021 13:54
njek.leh
delia.adel
fhy544
fhy544 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.