Kaskus

Story

fthhnfAvatar border
TS
fthhnf
Roda Kehidupan
Roda Kehidupan


"Roda itu bernama kehidupan. Saat kita berada diatas kadang berputar sangat cepat, namun ketika kita berada dibawah roda itu terlalu lambat berputar kembali. Kamu tau kenapa? Karena kehidupan tak semudah mengayuh sepeda untuk tetap berjalan diatas aspal yang halus.​"

Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.

Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.

Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.

Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...


© Uhuk.. Wis keren? Sip mas! Oke.


Index Cerita:

Part 1 Aku dan Kalian

Part 2 Kaliurang Sore Itu

Part 3 Bella Namanya

Part 4 PHK Massal

Part 5 Warung Baru Ibu

Part 6 Bapak Semangatku

Ketahuan Bini

Part 7 Kak Siska Kenapa?

Part 8 Hape Baru

Part 9 Pelukan Hangat Kak Siska

Part 10 Pelangi Di Sekar Langit

Part 11 Cemburu, Bell?

Part 12 Kasihan Bapak

Part 13 Minuman Cinta

Part 14 Pekerjaan Pertama

Part 15 Pulau Dewata

Part 16 Tersenyum Kembali

Part 17 Mumi Sekolah

Part 18 Desember Terbaik

Part 19 Happy New Year

Part 20 Gosip Fara

Part 21 Konser Jikustik

Part 22 Maaf, Nov

Part 23 Si Gundul

Part 24 Sebuah Takdir

Part 25 Must On

Part 26 Kejutan

Part 27 Thanks, Nov!

Part 28 Ujian Nasional

Part 29 Janji Bella

Part 30 Babak Baru Kehidupan

Part 31 Vita!

Part 32 Pacar Cadangan

Part 33 Suroboyo Rek!

Part 34 Semalam Bersama Bella
Diubah oleh fthhnf 01-04-2023 20:40
custinayulia645Avatar border
fhy544Avatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 33 lainnya memberi reputasi
32
23K
434
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
fthhnfAvatar border
TS
fthhnf
#113
Part 28 Ujian Nasional
Waktu terus berjalan, Ujian Akhir Nasional pun sudah di depan mata. Entah siapa yg menggagas sistem UAN ini, yg jelas sistem ini adalah momok yg menakutkan bagi seluruh siswa-siswi di Indonesia. Bagaimana bisa proses belajar mengajar selama tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Adil kah? Tidak! Semua murid pasti menjawab tidak. Aku membayangkan jika seluruh siswa-siswi di negeri ini kompak memboikot ujian, pasti kelabakan tuh Depdiknas, hahaha.

Tapi itu tak mungkin terjadi, karena hari ini aku telah berada di sebuah ruangan yg mengerikan dimana ada dua puluh siswa duduk tegang diawasi mata yg mematikan oleh dua orang guru dari sekolah lain.

Bahasa Indonesia, Ujian Hari pertama sukses aku lewati. Tak ada kesulitan yg berarti di dalam soal tersebut. Aku yakin mendapatkan nilai bagus dimata pelajaran ini.

"Pie Nov? Bisa?" Tanyaku ke Novi saat keluar ruang ujian. Kebetulan kami satu ruangan. Prapto ada di ruang ujung.

"Bisa sih, cuma gk yakin aja dapet nilai bagus..."

"Yakin aja! Urusan nilai kita cuma bisa berdoa!"

"Iya..."

Usai Ujian, aku pun bergegas pulang. Walau sedang Ujian aku tetap bekerja di pasar. Namun hanya sampai jam 3 saja. Jadi sorenya bisa aku gunakan buat tidur lalu malamnya bisa belajar.

Selasa, Hari kedua UAN

Pagi ini sebelum berangkat ke sekolah, aku ke rumahnya Bella. Aku benar-benar khawatir saat Bella meneleponku semalam. Di hari penentuan ini Bella terjangkit demam. Aku ingin cepat menjenguknya, terlebih kedua orang tua Bella saat ini posisinya sedang perjalanan pulang dari Surabaya untuk mengurus kepindahan keluarganya beberapa hari lagi.

"Edan koe su subuh-subuh bangunin orang!" Keluh Kipli di kamarnya karena aku membangunkannya sepagi ini.

"Sori cuk... Aku nyilih motormu yo nggo ngeterke Bella.. (Aku pinjem motormu buat nganter Bella ya...)" Kataku ke Kipli di dalam kamarnya.

"Ono opo emange kok dengaren? (Kenapa njing tumben?)"

"Dia sakit cuk!"

"Oh yowes pake aja gk papa..." Ujar Kipli mempersilahkan motornya aku pinjam.

"Makasih yo cuk!"

"Santai gk masalah! Kunci sama STNK di atas tv ya!" Kata Kipli lalu melanjutkan tidurnya.

"Suwun yo cuk! Eh minta rokokmu yo... Hehe..." Ucapku seraya mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.

"...."

Setelah kukeluarkan motor Kipli, dengan kecepatan penuh kulaju motor ini menuju rumah Bella. Jalanan jam segini masih renggang. Tak sampai limabelas menit sampailah aku di depan rumah Bella.

Lampu rumahnya masih menyala semua padahal mentari pagi sudah mulai menyinari alam semesta. Aku semakin panik. Lalu dengan cepat kuketok pintu rumahnya.

"Tok... Tok... Tok..."

"Bell... Bellaaaa..."

"Bell... Bukain Bell!"

Tak ada jawaban apapun dari dalam rumahnya. Sempat aku berpikir untuk mendobrak pintu rumahnya, namun urung kulakukan karena takut dikira maling sama tetangga sekitar.

Sembari menunggu jawaban Bella, pintu tetap kuketok agar cepat mendapat respon dari Bella. Beberapa saat kemudian kudengar suara kunci diputar di sela-sela lubang pintu. "Kreek.. Kreek..."

"Bell gimana masih panas?"

"Kamu pagi banget kesini kenapa?" Tanya Bella dengan polosnya. Wajahnya nampak pucat.

"Kenapa gimana?? Jelas aku khawatir lah!" Seruku lalu kepegang kening Bella.

"...."

"Masih panas gini Bell kamu..." Ucapku lalu merangkul Bella ke sofa ruang tamu rumahnya kemudian kumatikan saklar lampu yg masih menyala.

"..."

"Tiduran dulu Bell..."

"Iya..." Jawab Bella lemes lalu tiduran di sofa seperti perintahku.

"Aku buatin teh panas dulu ya!" Kataku lalu jalan ke arah dapur membuatkan teh panas buat Bella.

Sesampainya di dapur kucari letak teh dan gula yg aku sendiri gk tau dimana tempatnya. Aku berusaha setenang mungkin menghadapi situasi seperti ini. Beberapa saat mencari akhirnya kutemukan juga tempat teh dan gula itu. Dengan cepat kutuangkan air panas dari dalam teremos lalu menyeduhnya.

"Ini Bell diminum dulu..."

"Makasih ya Dit..." Ucap Bella berusaha bangun dari tidurnya.

"Iya... Daerah sini ada yg jual bubur Bell? Kamu belum makan kan?" Tanyaku kemudian.

"Belum Dit... Di gapura sebelah ada kok..." Jawab Bella kemudian mulai meminum teh panas buatanku.

"Yaudah aku beli dulu Bell... Kamu tiduran dulu aja gk papa..." Kataku lalu pergi membeli sarapan buat Bella.

Dengan motor milik Kipli ini aku membelikan sarapan buat Bella. Gk jauh sih sebenernya, tapi biar lebih cepat aku menggunakan motor. Gk sampe sepuluh menit aku sudah kembali lagi kerumah Bella membawakan bubur buat Bella sarapan.

"Dimakan Bell biar mendingan..."

"Iya Dit, kamu gk makan sekalian?"

"Aku udah kok Bell... Gih dimakan! Aku suapin ya..." Ucapku.

"Iya..." Kata Bella tersenyum manis.

Hanya beberapa suapan saja yg Bella makan, setelah makan Bella meyuruhku ngambil paracetamol di kamarnya. Lalu tanpa ragu kuambil obat yg Bella maksud itu. Aku sedikit tercengang saat masuk kekamar Bella dan melihat beberpa foto kami berdua terpajang di dinding kamarnya. Ah... Tapi sekarang bukan saatnya melihat-lihat. Kuambil obat yg tergeletak di meja belajar lalu kembali lagi ke ruang tamu.

"Nih Bell..." Kataku memberikan obat buat Bella.

"Bukain..." Pinta Bella manja.

"Iya sayaaang..." Ucapku tersenyum lalu merobek bungkusan plastik obat tersebut.

"Makasih..." Kata Bella tersenyum lalu meminumnya.

Aku paham banget kondisi Bella kayak gimana, walau dia berusaha biasa aja di depanku, tapi aku tau kondisi dia benar-benar lemah.

"Bell... Kamu kuat ke sekolah?"

"Insya Alloh kuat Dit..."

"Aku anterin dulu ya nanti..."

"Iya Dit, maaf ya jadi ngerepotin..."

"Kamu ini ngomong apaan sih!" Seruku, lalu menyuruhnya tiduran lagi karena masih cukup pagi.

Kulihat jam di layar hapeku masih menunjukkan pukul 05.50. Masih ada waktu sejam lebih buat Bella tiduran dulu sebelum ujian yg akan dilaksanakan serentak pukul 08.00.

"Kamu tiduran dulu Bell gk papa kok... Nanti aku bangunin"

"Iya Dit..."

"Masih lemes ya?"

"Gk kok, udah mendingan..." Jawabnya berusaha semanis mungkin.

Beberapa saat kemudian Bella pun terpejam. Kuamati wajahnya masih cukup pucat. Kasihan Bella, disaat sepenting ini malah jatuh sakit. Kulihat ada senyum tipis diwajahnya. Entah apa yg ada di kepala Bella, tapi senyum itu sungguh manis, senyum yg mampu membuatku terpikat. Senyum yg beberapa hari lagi jarang aku lihat.

Sembari menjaga tidurnya, kubuka buku paket matematika sekedar untuk mengingat materi yg akan diujikan nanti. Meskipun ada anggapan belajar disaat ujian itu tidak berguna, tapi aku yakin disaat-saat akhir seperti ini otak kita bisa menerima lebih banyak materi ketimbang hari biasa. Aku percaya semakin kita tertekan, semakin sempurna kerja otak kita.

Tak terasa jarum panjang berputar sangat cepat. Dengan hati-hati kubangunkan Bella yg masih terlelap.

"Bell... Bangun Bell..."

"...."

"Bell... udah jam tujuh kurang Bell..."

"Iya Dit..." Jawab Bella lemas.

"Kamu udah mendingan?" Tanyaku lalu kembali memegang keningnya. Panasnya sudah sedikit turun.

"Udah Dit..."

"Yaudah gih ganti baju Bell... Gk usah mandi dulu ya..."

"Iya Dit... Aku cuci muka sama gosok gigi dulu ya..." Kata Bella lalu beranjak dari tidurnya.

"Iya sayang..."

Akhirnya Bella pun siap-siap buat berangkat ke sekolah. Tak ada pilihan lain, hari ini seburuk apapun kondisi Bella memang harus mengikuti ujian. Sungguh sistem pendidikan yg aneh. Sekitar setengah jam kemudian keluarlah Bella dari dalam kamarnya. Bella tetap cantik. Meski pucat, namun pesona dari sosok cewek ini tetap terpancar. Bella menunjukkan senyum manisnya saat ia keluar kamar.

"Yuk Dit berangkat..." Kata Bella dengan jaket ditangannya.

"Oke..."

Setelah mengunci pintu dan gerbang rumahnya, kami langsung berangkat untuk mengikuti medan pertempuran. Kujalankan kuda besi ini dengan kecepatan normal. Selama perjalanan Bella memelukku erat. Kepalanya ia senderkan di bahuku. Kulihat dari spion mata Bella terpejam. Entah apa yg dirasakan Bella namun aku yakin kondisi dia benar-benar lemah.

"Selamat pagi Dek..." Ucap Bapak-bapak berompi hijau yg tiba-tiba menghentikan laju motor ini.

"Pagi Pak..."

Sial!! Pagi ini benar-benar sial. Aku tak tau peraturan apa yg aku langgar sehingga seorang polantas menyetop kami. Duh Gusti...

"Bisa lihat surat-suratnya Dek?"

"Iya Pak..." Kataku lalu mengeluarkan STNK motor milik Kipli dari dalam dompet.

"Bisa lihat SIMnya Dek?"

"Saya belum punya Pak..." Kataku pasrah.

"Yaudah mari ikut saya ke pos..." Ajak seorang polisi itu.

"Bentar Pak... Jadi gini lho Pak, kita hari ini ujian. Temen saya ini sakit. Makannya saya nekat pake motor buat nganterin..." Kataku memberikan alasan agar tidak ditilang.

"..."

"Saya mohon Pak, kita buru-buru..." Ucapku memohon lalu memandang wajah Bella yg pucat.

"..." Tak ada respon apa-apa dari polantas itu. Namun ia nampak memikirkan sesuatu.

"Bapak boleh nilang saya, tapi nanti setelah saya antar temen saya ini ujian dulu..."

"Kalian beda sekolah?" Tanya sang polantas.

"Iya Pak..."

"..."

"Bagaimana Pak? Saya mohon sekali ini saja Pak..."

"Yasudah-yasudah... Ini STNKnya. Silahkan melanjutkan perjalanannya..." Kata sang polantas diluar dugaan.

"Wah nggeh Pak... Maturnuwun..."

"Hati-hati yo le, ini karena kalian mau Ujian dan karena temanmu ini sakit..."

"Iya Pak terima kasih banyak..." Ucapku lalu bergegas melanjutkan perjalanan ke sekolah Bella.

Kemudian kami pun melanjutkan perjalanan. Tak sampai sepuluh menit sampailah kami di depan sekolah Bella.

"Sukses ya Bell ujiannya..."

"Iya Dit makasih ya..."

"Iya... Gimana masih lemes Bell?"

"Dikit... Tapi kuat kok..."

"Semangat ya Bell..."

"Iya Dit kamu juga ya..."

"Yaudah aku berangkat dulu ya... nanti aku jemput..." Kataku pamit.

"Iya... Hati-hati ya Dit..."

Setelah itu aku pun berangkat ke sekolah dengan cepat. Kusalip beberapa mobil tanpa menghiraukannya. Bisa panjang urusannya kalo sampe telat. Akhirnya sekitar sepuluh menit kemudian, sampailah aku di depan sekolah. Lalu kuparkirkan motor ini di tempat biasa yakni warung depan sekolah. Kurogoh hape di dalam saku, waktu menunjukkan pukul 07.50. "Lumayan masih ada waktu sepuluh menit, bisa beberapa hisapan rokok..." Gumamku sendirian.

"Sssttt.... Fiiuuuhh...."Kepulan asap putih pun melayang-layang di udara.

"Heh edan koe! Buruan masuk jam berapa ini!" Seru seorang cewek turun dari angkot.

"Eh koe Vit, bentar ah satu isepan lagi!"

"Yowis cepet!" Katanya singkat berdiri di pinggir jalan.

"Iyo-iyo..." Ucapku lalu membuang puntung rokok yg sebenarnya masih panjang karena Vita kayaknya nungguin.

Akhirnya kami pun berjalan masuk ke dalam sekolah. Vita lari-lari kecil meninggalkanku, aku hanya melihatnya saja dari belakang.

"Woe Vit tungguin napa..." Panggilku.

"Cepet makannya! Lelet banget jadi cowok!"

"Hahahahaha..." Tawaku dikatain lelet sama Vita, kemudian ia pun memasang ekspresi yg aneh.

"...."

Lalu aku pun jalan lebih cepat nyusul Vita. Aku amati cewek yg berjalan disampingku ini. Njiiir kenapa baru sadar kalo Vita ini cantik juga. Sayang aku sudah punya Bella, hahahaha. Beberapa langkah kemudian sampailah aku di depan ruang ujian.

"Tuh masih pada diluar kan? Haha..." Ejekku.

"Hmmm..."

Suasana diluar ruang ujian masih cukup ramai. Kulihat Prapto komat-kamit baca doa. Entah doa apa yg dia baca, padahal Prapto ini minus banget di pelajaran agama. Gk yakin dia baca doa dengan bener.

"Novi mana cuk?" Tanyaku ke Prapto.

"Mbuh su! Sik aku lagi berdoa!" Seru Prapto.

"Hahaha gayamu, sholat wae ra tau kok! (Hahaha gayamu, sholat aja gk pernah!)"

"Luweh ah meneng koe! (Bodo ah, diem kamu!)"

Lalu kucari keberadaan Novi dimana, sekedar tanya aja sih bagaimana persiapannya buat ujian hari ini, karena aku tau ada beberapa materi yg belum Novi pahami.

"Woe Nov!"

"Heem apa?"

"Siap kan Nov?"

"Siap gk siap sih..." Keluh Novi.

"Yowis pokoknya yakin aja!"

"Iya Dit... Yaudah yok masuk! Tuh udah dibuka..." Kata Novi.

Beberapa saat kemudian masuklah kami di ruang ujian. Aku sama Novi memang satu ruangan. Aku berada di barisan ketiga, Novi berada di barisan kedua. Gk jauh-jauh banget lah kalo nanti minta bantuan.

Dengan mantap kubuka lembar soal yg dipenuhi angka-angka rumit khas matematika. Kubaca satu demi satu soal yg diujikan. Ada beberapa soal yg cukup susah, tapi banyak juga soal yg telah aku kuasai. Tanpa ragu, setelah melingkari nama, aku mulai mengerjakan soal dari nomor satu.

Hingga akhirnya aku kesulitan pada soal nomor sepuluh. Kuamati angka yg tertera di dalam soal itu namun tak kunjung mendapatkan rumus untuk menjawabnya. Aku masukin berbagai rumus pun tak menemukan jawaban yg cocok. Iseng aku coret-coret meja sambil berfikir, namun tiba-tiba seorang penjaga ujian menegurku.

"Kamu nomer urut tiga! Sedang apa kamu?" Serunya memecah keheningan ruang ujian.

"Saya pak?" Tanyaku.

"Iya! Sedang apa kamu?" Tanyanya lalu menghampiriku.

"Ngitung Pak..." Jawabku santai.

"Ini apa? Kamu nyontek ya?" Tanya penjaga itu dengan nada tinggi.

"Maksudnya?"

"Ini kenapa banyak coret-coretan rumus dimeja! Kamu pasti sudah mempersiapkan ini dari kemarin!" Tuduhnya asal karena coretan-coretan itu sudah ada dari kemarin.

"Wah Pak jangan asal nuduh! Coba dicermati lagi, ini bukan coretan rumus matematika!" Seruku.

"Saya gk mau tau! Sekarang kamu keluar!!"

"Baik! Tapi inget ya Pak, saya disini dididik bukan untuk nyontek!!" Kataku penuh emosi. "Braakkkk!!" Suara pintu yg aku tutup dengan keras.

Beberapa saat kemudian seorang tim pengawas lain menghampiriku dan menanyakan apa yg terjadi. Aku pun menjawab dengan jujur apa adanya. Kuceritakan secara detail kenapa terjadi kekacauan tersebut dan kujelaskan juga bahwa aku tak menyadari kalo di meja terdapat banyak coret-coretan rumus fisika.

Kemudian aku dibawa keruang kepala sekolah untuk diinterogasi. Akhirnya tim pengawas ujian yg kuketahui dari tim independent pun mengecek apa yg sebenarnya tertulis diatas meja tersebut. Cukup lama aku menunggu diruang kepala sekolah ini hingga akhirnya seorang pengawas itupun kembali lagi keruang kepala sekolah memberikan lembar jawab dan soal kepadaku.

"Agar tidak terjadi salah paham lagi, adek kerjakan soal ini disini ya..." Ucapnya ramah.

"Iya Pak..."

"Maaf ya Dek, mungkin penjaga tadi tidak mengetahui rumus apa yg ditulis di meja itu..."

"Iya Pak..."

"Ya sudah, cepat kerjakan... Waktu adek terpotong cukup banyak..."

"Baik Pak, terima kasih..."

Tanpa pikir panjang aku mulai konsentrasi untuk menyelesaikan soal-soal ini. Waktu berputar dengan cepat, bel tanda waktu ujian selesai pun nyaring terdengar. Kerjaanku hanya tinggal beberapa soal lagi. Namun karena keadaan yg mendesak, kulingkari lingkaran-lingkaran yg masih kosong secara acak dan berharap keberuntungan datang di lembar jawab itu.

"Gimana Dit? Aman kan tadi?" Tanya Novi ketika melihatku keluar dari ruang kepala sekolah.

"Aman Nov!"

"Selesai kan?" Tanya Novi khawatir.

"Selesai kok, nyantai aja deh Nov... Kamu gimana?"

"Aman juga kok, tapi emang reseh tu penjaganya Dit, anak-anak mati gaya semua tadi..."

"Hahaha yowislah lupakan, makan aja yok!" Ajakku santai.

"Yowis oke yuk... Prapto mana ya?"

"Tau deh Nov... Paling juga udah di kantin!"

Kemudian aku dan Novi berjalan menuju kantin buat makan. Sesampainya dikantin kulihat Prapto dan anak-anak lain sudah berada disana dan berisik ngeributin jawaban-jawaban tadi.

"Cieee ada yg mau jadi kepala sekolah nih..." Sapa Andra salah satu temanku.

"Hahaha... Ngopo koe su?" Tanya Prapto dengan santainya.

"Wis gk usah dibahas! Yg penting aku bisa ngerjain tuh soal!" Ucapku tenang.

"Tapi selesai to cuk kerjaanmu?" Tanya Prapto lagi ketika aku duduk.

"Selesai lah, tapi ya gk tau deh dapet nilai berapa..."

"Alah yg penting lulus dulu aja cuk! Soal nilai pikir belakangan..."

"Iyo su!"

Cukup lama juga aku berada dikantin. Selain makan, kita juga ngobrol bareng. Banyak yg kita obrolin. Mulai dari persiapan ujian hari terakhir besok hingga rencana mau ngelanjutin dimana. Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba terasa getaran di saku celanaku. "Drrrrt... Derrt..." Wah ada sms nih. Duh pasti dari Bella. Gawat, kelupaan aku kalo harus jemput Bella. Kasihan dia kalo nunggu.

From: Bella
Dit, aku udah keluar, kamu jadi jemput?

To: Bella
Oke Bell, maaf habis makan. Oke aku jemput sekarang.


Setelah membayar satu porsi soto yg aku makan tadi, aku pun pamit ke anak-anak lalu bergegas untuk menjemput Bella. Lima belas menit kemudian sampailah aku di depan sekolah Bella. Kurogoh hape yg ada didalam kantong buat ngabarin kalo aku sudah berada di depan sekolahnya.

To: Bella
Bell, aku dh di depan nih.

From: Bella
Oke aku keluar


Beberapa saat kemudian kulihat Bella berjalan menghampiriku dengan senyuman khasnya. Wajahnya masih sedikit pucat.

"Maaf Bell nungguin lama ya?" Sapaku ketika ia sampai di depanku.

"Gk kok tenang aja... Gimana bisa ngerjain kan Dit?" Tanya Bella.

"Alhamdulillah bisa, kamu gimana Bell?" Tanyaku seraya memberikan helm untuk Bella.

"Alhadulillah juga lancar Dit..."

"Syukurlah... Terus masih lemes?" Tanyaku menanyakan kondisi Bella.

"Udah mendingan Dit... Yuk pulang..." Ucap Bella lalu duduk di boncengan belakang.

"Oke..."

Kemudian kujalankan motor ini dengan santai. Bella memlukku dengan erat. Kulihat wajahnya nampak lesu, aku tau kondisinya belum fit.

"Bell..."

"Iya Dit..."

"Masih lemes ya?"

"Dikit..."

"Besok kalo kamu di Surabaya, jaga kesehatan ya..."

"Iya Dit..." Ucap Bella lalu memelukku lebih erat dari boncengan belakang. "Love you sayang..." Bisik Bella pelan.

"Love you too..." Balasku menghadap belakang sejenak.

Sekitar lima belas menit kemudian, sampailah kami di depan rumah Bella. Pintu rumahnya terbuka.

"Udah pada pulang Bell?"

"Udah Dit..."

"Yaudah kamu istirahat aja ya sekarang..."

"Iya Dit, makasih ya..." Ucap Bella tersenyum manis.

"Sama-sama sayang... Yaudah aku balik ya..." Kataku pamit.

"Iya... Hati-hati Dit..."

"Oke..."

Setelah mengantar Bella pulang, aku langsung menuju pasar untuk kerja sekalian ngembaliin motor milik Kipli. Hari ini pasar cukup ramai, aku pun tak kenal lelah memikul beban seberat 20kg hingga 50kg dari kios ke tempat parkir maupun sebaliknya. Meski jam kerja sengaja aku kurangi selama ujian, namun tiap malam pasti badan pegel-pegel semua. Dan untung saja Ibu sering mijitin aku kalo aku terlihat kecapekan.

Dihari terakhir UAN tak ada kesulitan yg berarti. Aku cukup menguasai mata pelajaran bahasa inggris yg diujikan ini. Aku berharap mendapatkan hasil maksimal dalam mata pelajaran ini.

"Pie su yakin lulus to?" Tanya Prapto saat ngerokok di pinggir jalan sesaat setelah Novi naik angkot jurusannya.

"90 persen cuk! Koe?"

"Sama lah, 90 persen!"

"Sip!" Ucapku singkat. "Oiyo cuk, menurutmu gimana ya? Aku setelah lulus kerja dulu atau gimana ya..." Imbuhku meminta pertimbagan sahabatku yg koplak ini.

"Iyo cuk kerja sik aja! Kumpulin duit setahun ini cuk. Habis itu bisa buat kuliah. Gampanglah itu..." Jelas Prapto.

"Iyo sih cuk pikirku juga gitu..." Kataku.

"Yowis gk usah minder gk usah khawatir, rejeki wis ada yg ngatur..."

"Yoi cuk! Terus kapan kowe daftar di Akmilnya?" Tanyaku.

"Tahap pertama akhir bulan cuk!"

"Aman to tapi cuk?" Kataku lalu membuang puntung rokok.

"Aman! Yowis yok balik, koe jadi pulang Jogja kan? Tuh angkotnya dateng!"

"Jadi dong, yok..."


Spoiler for Next Episodeeeee:
unhappynes
njek.leh
fhy544
fhy544 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.