- Beranda
- Stories from the Heart
Lelaki di Halte Transjogja
...
TS
shabira.elnafla
Lelaki di Halte Transjogja

Lelaki di Halte Transjoga
Bab 1 Kata Pertama
"Anggara!" Lelaki di sampingku mengulurkan tangan. Senyum terbit dari wajahnya.
"Eh, Nira." Aku membalas uluran tangannya. Akhirnya, setelah dua minggu kami berjumpa, sekarang mulai keluar kata pertama, meski hanya sebuah nama saja.
Setelahnya kami kembali diam. Aku sibuk mengagumi dirinya yang terlihat menggoda di mata. Sedangkan Anggara sibuk dengan buku yang dia baca. Sesekali terlihat tangannya membetulkan letak kacamata yang melorot, beberapa kali pula jarinya membalik halaman demi halaman buku yang dia pegang.
Hanya dengan ekor mata aku berani melihat lelaki itu. Jika menatap langsung, rasanya belum sanggup. Jadi ketika ada kesempatan untuk melihatnya lagi dan lagi, tak akan kulewatkan saat itu. Ada andong lewat misalnya. Wajahku ikut bergerak sampai kendaraan yang ditarik dengan kuda tersebut menghilang di tikungan atau tertutup kendaraan lain, yang terpenting, saat itu netraku tidak perlu juling untuk melihat sosoknya hanya dari sudut mata saja.
"Bis saya sudah datang! Permisi duluan, ya, Mbak!" Anggara berdiri dari tempat duduknya.
"Hati-hati, Mas!" Seketika ingin sekali kubungkam mulut ini. Dia naik bus, harusnya yang kupesan untuk hati-hati sopirnya, bukan penumpangnya.
Stupid!
Tak lupa senyum kuberikan pada lelaki berkacamata itu ketika Anggara melangkah masuk ke dalam bus. Dia membalas dengan lambaian tangan. Tubuhnya menghilang bersama kendaraan yang membawanya pulang, sedangkan aku, masih tetap di halte.
Aku memukul kening berkali-kali. Kenapa gugup sekali, sih! Padahal sudah direncanakan akan sesantai mungkin ketika saat ini tiba. Namun tetap saja, rasa tidak bisa berbohong. Hati tidak bisa diajak kompromi.
Setelah memastikan bus yang membawa Anggara dan separuh hatiku benar-benar hilang, aku mengambil ponsel dan mengetik sesuatu di layar android tersebut.
[Jemput, Des]
Baru satu menit pesan tersebut terkirim, balasan masuk ke ponsel.
[Malas]
Aku tertawa. Desi memang seperti itu, tapi dalam hitungan ke lima puluh, pasti gadis itu sudah berhenti di depan halte. Apa aku harus mulai menghitung dari sekarang? Ah, sepertinya tidak perlu. Toh nanti dia pasti datang juga.
Dua menit kemudian, motor matic berhenti di depan halte. Desi membuka helm dan melempar tatapan jengah. "Kamu mau sampai kapan kayak gini. Berasa penguntit tahu gak!"
Aku berdiri dari kursi, membersihkan debu yang mungkin saja menempel di pantat, setelahnya menghampiri sahabat satu-satunya di kota perantauan ini. "Kayak kamu gak pernah suka sama orang aja!" Helm yang dia sodorkan kuambil, lalu memakai di kepala.
"Tapi gak pernah kayak kamu, Ra. Kurang kerjaan banget. Kalau suka bilang! Bukan diem-dieman hanya duduk di sampingnya setiap hari!" Dia mencibir.
"Whatever! Yang penting aku bisa lihat senyumnya dan sekarang bertambah tahu namanya!"
"Gak waras kamu, Ra!"
Kami berboncengan membelah jalanan kota Jogja. Aku yang di belakang mengulum senyum ketika teringat dengan perkenalan aneh kami. Setelah dua minggu saling diam, lelaki itu mengajakku ngobrol dulu. Keren sekali.
Setelah hari ini, aku yakin jika hubungan ini akan berkembang semakin jauh lagi. Tidak masalah jika lambat, yang penting hasil akhirnya. Lagi pula, apa gunanya jika hanya aku yang mencintai dia, sedangkan dia tahu namaku saja tidak. Eh, sekarang sudah saling tahu.
Unik memang, bisa-bisanya jatuh cinta pada lelaki yang bahkan namanya saja baru diketahui belum ada satu jam yang lalu. Tapi kalau bicara hati, siapa yang bisa menduga, kan?
Begitu juga dengan kisah ini. Dengan tanpa diduga sebelumnya, hatiku terpaut pada lelaki berkacamata itu. Anggara.
Beberapa menit setelahnya, motor matic Desi terparkir di depan kamar kosan yang kami sewa. Aku terlebih dulu masuk ke dalam dan menghempaskan tubuh ke kasur busa berukuran 175X200 cm. Bayangan senyum Anggara kembali hadir, tanpa disengaja bibir ini ikut melengkung. “Aku jatuh cinta woy!” seruku sambil memeluk guling.
Desi yang baru masuk menatap sebal, dia meletakkan kunci motor di atas nakas lalu menyusul berbaring di sebelahku.
Kami berdua diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Desi entah memikirkan apa, sedangkan aku tentu saja tentang Anggara. Memang siapa lagi? Hanya dia yang beberapa hari ini selalu mengantui hari-hari.
Bunyi jarum jam satu-satunya pengisi sunyi di dalam kamar. Sesekali deru kendaraan dari luar kosan ikut meramaikan suasana. Kosan yang kami sewa berada di pinggiran Jogja, selatan Candi Prambanan. Hanya butuh lima menit untuk sampai ke tempat sejarah itu, tapi sekitar dua puluh menit untuk sampai ke pusat kota.
Desi bangun dari posisinya, dia duduk dan menatap kosong ke tembok di depan.
“Kamu sehat, Des?” Aku mengguncang lengannya.
Gadis itu menoleh, lalu mengendikkan bahu dan menggeleng. “Aku baru tahu kalau dia punya pacar!” ujarnya.
“Siapa?”
“Dian! Tadi dia bilang kalau hanya ingin temenan sama aku, tidak untuk jadi pacar!”
Waw! Dian yang kutahu sangat perhatian dengan Desi. Tidak jarang dua sejoli itu melewati malam Minggu bersama. Bahkan beberapa kali Dian mengantar sahabatku pulang, tapi apa katanya tadi? Lelaki itu sudah punya pacar? Sejak kapan? Kenapa baru bilang sekarang?
“Gak apa-apa, sih! Hanya saja kenapa dulu memberi harapan kalau akhirnya hanya membuat luka.”
“Sabar, ya, Des!” Aku menepuk pundaknya lembut.
“Aman. Aku baik-baik saja.” Dia tersenyum. “Kamu hati-hati, ya. Aku aja yang sudah sedekat ini bisa kecolongan, apa lagi kamu yang baru tahu namanya!”
Deg.
Kenapa saat aku lagi di puncak bahagia Desi justru mematahkan itu dengan kelimatnya yang ... benar. Ya, dia yang kenal dan dekat bahkan bisa dibilang seperti pacaran saja hanya dianggap teman, lalu apa kabar denganku? Baru tahu namanya sudah berandai-andai kalau hubungan ini pasti akan berlanjut berakhir happy.
Apa memang harus seperti ini dalam mencintai? Hanya satu yang berkorban perasaan sedangkan yang satunya tinggal menerima tanpa memikirkan timbal baliknya.
“Ya udah, kalau kamu mau ngelanjutin gak apa-apa, tapi aku sudah ngingetin di awal. Jangan samapai kejadian yang sama juga kamu rasakan. Sumpah, rasanya gak sesimple yang dilihat! Sakit, Ra!” Desi menyeka sudut matanya. Dia berdiri meninggalkan ranjang dan mengambil handuk.
Aku masih tetap memikirkan kalimat yang Desi ucapkan. Siapkah jika nanti akhirnya sakit hati? Seperti yang Desi alami saat ini. “Kamu mau ke mana? Tumben mandi!” Aku membuang pikiran negatif yang tiba-tiba datang tanpa diundang.
Desi membalikkan badan, lalu nyengir memamerkan deretan giginya yang rapi. “Main sama Dian!”
What the?
“Heh. Katanya sudah punya pacar, kok masih keluar sama kamu?”
“Memang kenapa? Keluar berdua gak harus menjadi pasangan, kan? Teman emang gak boleh keluar bareng?”
Aku memandangnya kesal. Setelah tadi curhat sedemikian mengenaskan, sekarang masih mau pergi bareng? Benar-benar tidak bisa ditebak jalan pikiran cewek itu.
“Ra, aku hanya tahu mencintai. Urusan dia tidak membalas atau hanya mengaggapku teman, itu urusannya, yang penting dia tidak meminta aku untuk berhenti mencintainya.”
Aku menarik satu sudut bibir. “Bucin!”
“Emang kamu gak? Ya mending aku berani ngungkapin, daripada kamu! Gak ada perkembangan yang berarti.”
“Aku sudah tahu namanya!”
“Tapi tidak hatinya!
****
Bab 2 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...b782546e05468b
Bab 3 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...68337e2726422f
Bab 4 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...933e5b00352a7e
Bab 5
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...02bbf6950f0b78
Diubah oleh shabira.elnafla 11-02-2026 16:33
tiokyapcing dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.1K
14
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
shabira.elnafla
#4
Bab 3
Antara Maya dan Nyata
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, menangis tertawa
Baru dua jam lirik lagu itu kuposting di sosial media, puluhan tanggapan sudah memenuhi kolom komentar. Kebanyakan dari mereka bertanya untuk siapa, tapi satu yang menarik perhatianku, komentar dari akun dengan nama I Putu Putra.
Jika bisa, ukir saja namanya di hatimu. Biar dia abadi, meski tidak bisa memiliki.
Lalu di kolom komentar, di bawahnya dia juga menambahkan lagi.
Senja ada setiap hari, meski hadirnya tidak tidaklah lama dan abadi. Jika kau ukir namanya di senja, maka dia akan hilang ditelan gelapnya malam. Lalu, tinggallah kau yang kesepian, menunggu senja selanjutnya datang.
What? Ini bukan bermaksud dia mendoakanku agar tidak bisa bersama Anggara, kan? Jadi maksudnya apa?
Meski tidak secara jelas mengatakan, tapi aku bisa menarik maksdu dari kalimat yang dia tulis di sana.
"Ah, menyebalkan!" Aku berteriak.
Desi menatapku aneh. Dia menyilangkan telunjuknya di dahi. "Sinting!"
"Ini loh, masa ada akun yang mendoakan aku dan Anggara tidak bersatu. Kan menyebalkan sekali!"
"Siapa?" Desi meletakkan ponselnya, lalu mendekat dan duduk di sebelahku. "Loh, ini kan, yang sering inbokan sama kamu!"
Memang. Aku dan akun ini banyak berada dalam satu grup yang sama. Juga sama-sama suka menulis novel online atau cerpen. Kami juga pernah kolab dalam sebuah novel, hingga banyak dari teman-teman mayaku menganggap kami pasangan juga di dunia nyata.
Tentu saja semua itu hanya anggapan mereka, karena meski kami dekat di dunia maya, tapi tidak pernah sama sekali bertemu di dunia nyata, dan belum punya niat untuk itu juga. Takut kecewa.
Baru saja ingin mengirim inbok padanya, dia lebih dulu menyapa. Well, sepertinya orang ini tahu kalau aku sedang kesal.
[Lagi jatuh cinta?]
Hei apa-apaan? Harusnya dia tidak bisa menembak segampang itu. Memang aku terlihat jika hari dan hatiku hanya dipenuhi dengan Anggara?
[Sok tahu.]
[Bukan hanya tahu, tapi semua terlihat jelas di status kamu akhir-akhir ini.]
[Oh, ya? Sepertinya aku berteman sama cenayang! Lalu apa maksud komentarmu tadi?]
Dia tidak menjawab, tapi membelokkan topik pembicaraan ke arah lain, dan sialnya, aku mengikuti maunya. Melupakan tentang komentarnya yang seperti menyumpahiku. Kami berbicara sampai larut malam, meski hanya lewat ketikan pesan. Jika boleh jujur, Putu sangat ramah jika padaku, tapi dengan akun lain tidak. Entah jika di kolom pesan, apakah masih sama cueknya ketika mengobrol dengan akun cewek selain aku? Semoga saja.
Anggara dan Putu dua orang yang sama-sama mengisi hariku. Bedanya hanya yang satu nyata dan bisa nikmati senyumnya, dan satunya hanya lewat maya.
Bosan bermain dengan sosial media berwarna biru itu, aku menyudahi obrolan kami. Dia berpesan untuk hati-hati. Entah maksudnya hati-hati pada siapa.
"Ra, aku keluar bentar, ya. Beli makan!" Desi menyambar jaket levis yang tersampir di kursi.
"Jangan gila kamu, ini sudah jam sebelas malam. Mau nyari makan atau nyari kunti?" Aku beranjak dari karpet rasfur depan televisi, lalu berdiri menghalangi di depan pintu. "Gak boleh! Kamu cewek, gak aman keluar malam-malam!"
"Ada Dian. Dia sudah nunggu di depan!" Desi meringis
Aku berpindah tempat. Katanya ditolak! Katanya hanya teman! Katanya sudah punya pacar! Tapi masih saja sering berduaan. Dasar labil!
"Emang gak bisa cari makannya besok aja? Pas udah siang gitu!" Aku membuntuti langkah Desi yang tergesa.
"Laparnya sekarang, Ra!"
"Ditunda dulu, gih! Ini udah hampir tengah malam. Gerbang juga sudah ditutup sama Bu Kos."
Desi menghentikan langkahnya. "Aku bisa manjat pagar, pendek gitu pun. Tapi kamu jangan bilang-bilang, ya!" Dia mencubit kecil hidungku, lalu kembali melanjutkan langkah.
Benar saja, Desi mamanjat pagar samping kosan. Ya, meski tingginya hanya 1,5 meter, tapi tetap saja itu bukan sesuatu yang pantas dilakukan oleh seorang gadis. Apa lagi hanya demi lelaki yang bahkan hanya menganggapnya teman. Mana sekarang tengah malam pula. Benar-bener gila kurasa anak itu.
Setelah Desi naik ke jok motor dan pergi bersama Dian, aku kembali masuk ke kamar kosan. Menghela napas panjang dan berdoa semoga Desi tidak melakukan hal yang aneh-aneh.
Orang kalau sudah jatuh cinta, tai kucing saja berasa coklat silverqueen. Kata pepatah sih gitu. Meski aku juga belum pernah merasakan tai kucing, sih!
Antara Maya dan Nyata
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, menangis tertawa
Baru dua jam lirik lagu itu kuposting di sosial media, puluhan tanggapan sudah memenuhi kolom komentar. Kebanyakan dari mereka bertanya untuk siapa, tapi satu yang menarik perhatianku, komentar dari akun dengan nama I Putu Putra.
Jika bisa, ukir saja namanya di hatimu. Biar dia abadi, meski tidak bisa memiliki.
Lalu di kolom komentar, di bawahnya dia juga menambahkan lagi.
Senja ada setiap hari, meski hadirnya tidak tidaklah lama dan abadi. Jika kau ukir namanya di senja, maka dia akan hilang ditelan gelapnya malam. Lalu, tinggallah kau yang kesepian, menunggu senja selanjutnya datang.
What? Ini bukan bermaksud dia mendoakanku agar tidak bisa bersama Anggara, kan? Jadi maksudnya apa?
Meski tidak secara jelas mengatakan, tapi aku bisa menarik maksdu dari kalimat yang dia tulis di sana.
"Ah, menyebalkan!" Aku berteriak.
Desi menatapku aneh. Dia menyilangkan telunjuknya di dahi. "Sinting!"
"Ini loh, masa ada akun yang mendoakan aku dan Anggara tidak bersatu. Kan menyebalkan sekali!"
"Siapa?" Desi meletakkan ponselnya, lalu mendekat dan duduk di sebelahku. "Loh, ini kan, yang sering inbokan sama kamu!"
Memang. Aku dan akun ini banyak berada dalam satu grup yang sama. Juga sama-sama suka menulis novel online atau cerpen. Kami juga pernah kolab dalam sebuah novel, hingga banyak dari teman-teman mayaku menganggap kami pasangan juga di dunia nyata.
Tentu saja semua itu hanya anggapan mereka, karena meski kami dekat di dunia maya, tapi tidak pernah sama sekali bertemu di dunia nyata, dan belum punya niat untuk itu juga. Takut kecewa.
Baru saja ingin mengirim inbok padanya, dia lebih dulu menyapa. Well, sepertinya orang ini tahu kalau aku sedang kesal.
[Lagi jatuh cinta?]
Hei apa-apaan? Harusnya dia tidak bisa menembak segampang itu. Memang aku terlihat jika hari dan hatiku hanya dipenuhi dengan Anggara?
[Sok tahu.]
[Bukan hanya tahu, tapi semua terlihat jelas di status kamu akhir-akhir ini.]
[Oh, ya? Sepertinya aku berteman sama cenayang! Lalu apa maksud komentarmu tadi?]
Dia tidak menjawab, tapi membelokkan topik pembicaraan ke arah lain, dan sialnya, aku mengikuti maunya. Melupakan tentang komentarnya yang seperti menyumpahiku. Kami berbicara sampai larut malam, meski hanya lewat ketikan pesan. Jika boleh jujur, Putu sangat ramah jika padaku, tapi dengan akun lain tidak. Entah jika di kolom pesan, apakah masih sama cueknya ketika mengobrol dengan akun cewek selain aku? Semoga saja.
Anggara dan Putu dua orang yang sama-sama mengisi hariku. Bedanya hanya yang satu nyata dan bisa nikmati senyumnya, dan satunya hanya lewat maya.
Bosan bermain dengan sosial media berwarna biru itu, aku menyudahi obrolan kami. Dia berpesan untuk hati-hati. Entah maksudnya hati-hati pada siapa.
"Ra, aku keluar bentar, ya. Beli makan!" Desi menyambar jaket levis yang tersampir di kursi.
"Jangan gila kamu, ini sudah jam sebelas malam. Mau nyari makan atau nyari kunti?" Aku beranjak dari karpet rasfur depan televisi, lalu berdiri menghalangi di depan pintu. "Gak boleh! Kamu cewek, gak aman keluar malam-malam!"
"Ada Dian. Dia sudah nunggu di depan!" Desi meringis
Aku berpindah tempat. Katanya ditolak! Katanya hanya teman! Katanya sudah punya pacar! Tapi masih saja sering berduaan. Dasar labil!
"Emang gak bisa cari makannya besok aja? Pas udah siang gitu!" Aku membuntuti langkah Desi yang tergesa.
"Laparnya sekarang, Ra!"
"Ditunda dulu, gih! Ini udah hampir tengah malam. Gerbang juga sudah ditutup sama Bu Kos."
Desi menghentikan langkahnya. "Aku bisa manjat pagar, pendek gitu pun. Tapi kamu jangan bilang-bilang, ya!" Dia mencubit kecil hidungku, lalu kembali melanjutkan langkah.
Benar saja, Desi mamanjat pagar samping kosan. Ya, meski tingginya hanya 1,5 meter, tapi tetap saja itu bukan sesuatu yang pantas dilakukan oleh seorang gadis. Apa lagi hanya demi lelaki yang bahkan hanya menganggapnya teman. Mana sekarang tengah malam pula. Benar-bener gila kurasa anak itu.
Setelah Desi naik ke jok motor dan pergi bersama Dian, aku kembali masuk ke kamar kosan. Menghela napas panjang dan berdoa semoga Desi tidak melakukan hal yang aneh-aneh.
Orang kalau sudah jatuh cinta, tai kucing saja berasa coklat silverqueen. Kata pepatah sih gitu. Meski aku juga belum pernah merasakan tai kucing, sih!
itkgid dan 2 lainnya memberi reputasi
3