Kaskus

Story

fthhnfAvatar border
TS
fthhnf
Roda Kehidupan
Roda Kehidupan


"Roda itu bernama kehidupan. Saat kita berada diatas kadang berputar sangat cepat, namun ketika kita berada dibawah roda itu terlalu lambat berputar kembali. Kamu tau kenapa? Karena kehidupan tak semudah mengayuh sepeda untuk tetap berjalan diatas aspal yang halus.​"

Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.

Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.

Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.

Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...


© Uhuk.. Wis keren? Sip mas! Oke.


Index Cerita:

Part 1 Aku dan Kalian

Part 2 Kaliurang Sore Itu

Part 3 Bella Namanya

Part 4 PHK Massal

Part 5 Warung Baru Ibu

Part 6 Bapak Semangatku

Ketahuan Bini

Part 7 Kak Siska Kenapa?

Part 8 Hape Baru

Part 9 Pelukan Hangat Kak Siska

Part 10 Pelangi Di Sekar Langit

Part 11 Cemburu, Bell?

Part 12 Kasihan Bapak

Part 13 Minuman Cinta

Part 14 Pekerjaan Pertama

Part 15 Pulau Dewata

Part 16 Tersenyum Kembali

Part 17 Mumi Sekolah

Part 18 Desember Terbaik

Part 19 Happy New Year

Part 20 Gosip Fara

Part 21 Konser Jikustik

Part 22 Maaf, Nov

Part 23 Si Gundul

Part 24 Sebuah Takdir

Part 25 Must On

Part 26 Kejutan

Part 27 Thanks, Nov!

Part 28 Ujian Nasional

Part 29 Janji Bella

Part 30 Babak Baru Kehidupan

Part 31 Vita!

Part 32 Pacar Cadangan

Part 33 Suroboyo Rek!

Part 34 Semalam Bersama Bella
Diubah oleh fthhnf 01-04-2023 20:40
custinayulia645Avatar border
fhy544Avatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 33 lainnya memberi reputasi
32
22.9K
434
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
fthhnfAvatar border
TS
fthhnf
#100
Part 26 Kejutan
Dengan santai kulangkahkan kaki ini menuju rumah, sesampainya di dekat teras, aku kaget saat tamu itu menoleh kearahku.

"Adiiitt....."


"Eh Vita?"

"..."

"Tumben kesini?"

"Motorku bocor Dit di depan, takut aku nungguinnya..."

"Owalaaah..."

"Udah daritadi?"

"Baru aja kok, sepuluh menitan... Aku mau sms kamu tapi hapeku juga mati..."

"Yaudah biar aku ambil dulu Vit..."

"Yauda yuk..."

"Aku aja yg ambil, tambal ban depan kan?" Tanyaku.

"Eh barengan aja..." Cegah Vita.

"Tungguin sini aja dulu..."

"Iya deh... Makasih ya..." Ujar Vita tersenyum. "Nih uangnya..." Imbuhnya kemudian.

"Gk usah pake ini aja..." Kataku seraya jalan ke gapura.

"Sekedap nggeh Buk... (Sebentar ya Bu...)" Pamitku ke Ibu yg liatin kita aja daritadi.

"Iyo Dit..." Jawab Ibu.

Kemudian kuambil motor Vita yg ditambal di tambal ban depan gapura desaku. Kirain siapa yg dateng. Tapi Vita kok makin hari makin cakep aja ya...

Setelah kuambil motor milik Vita, aku kembali lagi ke rumah dengan motornya. Kulihat Vita masih duduk di teras ditemani Ibu. Wah udah akrab aja tuh calon mantu. Hahahaha, pikirku konyol.

"Nih Vit..." Ucapku lalu menyerahkan kunci motornya.

"Hehe... Makasih ya Dit..."

"Sama-sama..."

"Yaudah Ibu jaga warung dulu ya..." Sahut Ibu meninggalkan kami di teras.

"Nggeh Bu... maturnuwun..." Balas Vita ramah.

"...." Ibupun membalas dengan senyuman ramahnya.

Setelah Ibu beranjak, aku pun ngobrol-ngobrol sama Vita bentar.

"Yaudah ya Dit, aku pulang dulu..."

"Buru-buru amat Vit..."

"Hehe... Udah maghrib juga, gk enak..."

"Oh iya deh..."

"Makasih ya Dit..."

"Yoyoi..."

Kulihat renyah tawa Ibu kepada setiap pembeli seakan menghilangkan anggapan kalo kami baru saja mendapatkan cobaan yg luar biasa. Kucoba merenungi hidup ini, aku mulai berfikir bagaimana caranya menjaga Ibu lahir dan batin. Biar bagaimanapun aku harus menggantikan Ayah sebagai satu-satunya seorang lelaki di keluarga ini.

Hari pun terus berganti, kehidupanku sebagai seorang siswa kelas 3 SMA dan seorang pekerja kasar masih seperti biasanya.

Sabtu pertengahan April 2004.

Novi berangsur-angsur mulai kembali seperti Novi yg dulu. Aku pun menyambut baik sikap Novi. Kami disibukkan dengan belajar untuk persiapan Ujian Akhir Nasional yg akan kami hadapi beberapa hari lagi.

Sebenarnya yg aku takutkan bukanlah Ujiannya, melainkan kepergian Bella setelah ujian tersebut. Sering aku berfikir bagaimana rasaanya menjalin hubungan jarak jauh. Apa kami bisa menjalinya? Entahlah aku tak tau, semoga apa yg dikatakan Mbak Laras benar "kalo jodoh pasti gk kemana Dit...".

Pagi ini cuaca sangat cerah, aku berangkat sekolah dengan penuh semangat. Hanya tinggal beberapa hari lagi aku menjadi siswa di SMA 002 ini. Aku harus memanfaatkan saat terakhir ini buat bareng teman-teman di sekolah. Namun sesampainya di sekolah aku merasakan keanehan di dalam kelas saat semua anak seakan cuek. Njjir kenapa nih? Kenapa pada aneh gini? Apa jangan-jangan aku pernah nglakuin salah? Atau emang mereka fokus ujian ya?

"Cuk... kenapa sih ini?" Tanyaku ke Prapto melihat keanehan sikap anak-anak.

"Kenapa apanya?" Kata Prapto balik nanya.

"Ya kok kayaknya pada serius semua ya?"

"Gk tau tuh, perasaanmu aja kali..." Jawab Prapto lalu pergi ke kantin.

Hmm... Benar apa kata Prapto, mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin benar mereka sedang fokus dengan ujian.

Waktu semakin siang, jam pelajaran terakhir pun akan segera berakhir. Prapto daritadi juga aneh, bahkan dia sering pindah duduk di bangku depan guru yg kosong karena ada anak yg gk masuk. Sikap Novi pun berubah lagi seperti sebelumnya. Mereka hanya ngomong seperlunya aja.

Kenapa ya ini? Tapi kok malah kayak pada diemin aku sih? Masa disaat-saat akhir kayak gini aku malah dikucilkan? Njiir salah apa sih aku.

"Teeeettt... Teeeettt..."Suara Bell pulang terdengar nyaring ditelinga.

Usai berdoa anak-anak mulai beranjak dari duduknya. Dan pergi meninggalkan kelas.

"Aku duluan yo Dit.." Ucap Prapto lalu pergi gitu aja.

"..."

Aku adalah orang terakhir yg berada di dalam kelas. Beberapa saat kemudian aku pun beranjak untuk keluar kelas.

Saat aku berjalan menuju gerbang sekolah, tiba-tiba.....

"Byyyuuurrrrrr.... Byuurrrr...." Njir air apaan nih.

"Plok... Plakk... Plokkk..." Eh apaan nih telur busuk ya? Eh sial.

"Hahahahahaha..." Kulihat anak-anak tertawa terbahak-bahak di sekelilingku.

"Bluuukk... Blukk..."

Akhirnya segala macam sampah dilemparkan ke arahku. Aku pun tak berusaha untuk meghindar karena aku mulai sadar kalo mereka emang lagi ngerjain aku yg sedang ulang tahun.

"Waaah asu, aku baline pie iki? (Anjing aku pulangnya gimana nih kotor gini?)"

"Hahahaha..."

Beberapa saat kemudian kulihat Novi, Vita, dan beberapa anak lain berjalan menuju kearahku dengan membawa roti ulang tahun.

"Happy Birthday Dit..."

"...."

Aku benar-benar terharu saat ini. Aku tak menyangka mereka ngerjain aku daritadi hanya untuk memberi kejutan di ulang tahunku.

"Hehe... Makasih Nov, Vit, Din... Makasih yo semua..."

"Sini aku potongin!" Ucap Prapto mengambil kue.

Njiir firasat buruk nih...

"Pleeegggghh......" Bener kan, akhirnya kue ulang tahun itupun hinggap di wajahku. Dan anak-anak tertawa terbahak-bahak melihat keadaanku yg makin gk karuan.

"Setan koe cuk!" Seruku.

"Hahaha... Nih lagi..." Sahut Dimas yg tiba-tiba aja datang lalu menyiramkan air entah air apa aku gk tau. "Byuuuuurr...."

Akhirnya mereka satu per satu pergi meninggalkan sekolah ini. Njiir terus gimana baliknya aku? Masa mau naik angkot keadaan gini?

"Cuk pinjem bajumu cuk..." Kataku ke Prapto.

"Wah bajuku aku cuci semua su..." Ucap Prapto. Njiir ini sih alasan aja.

"Asu koe cuk, terus aku gimana pulangnya ini??"

"Ya urusanmu kui... Hahahaha..."

"Hmm... Yowislah!"

"Hahahaha..."

"Tak ke kamar mandi bentar ya, tungguin..."

"Yo cepet..."

Kemudian aku berjalan menuju kamar mandi buat membersihkan diri akibat lemparan segala macam sampah dari anak-anak.

Usai dari kamar mandi, aku tak menemukan dimana Prapto berada. Njiir sialan si kunyuk itu. Pasti kabur tu anak.

Dengan menahan malu akhirnya aku pergi meninggalkan sekolah dan jalan menuju jalan raya buat nunggu angkot sendiri, iya sendirian.

Malu rasanya saat semua orang yg melihatku menatap dengan tatapan aneh. Beberapa saat aku menunggu angkot, kulihat seorang cewek berjalan ke arahku. Alhamdulillah ada yg nemenin juga akhirnya. Aku tersenyum ke arahnya, ia pun membalas senyumanku dengan senyuman yg sangat manis.

"Nih... Selamat ulang tahun ya..." Ucap Novi ketika sampe di depanku.

"Waduh apaan ni Nov?"

"Buka aja..."

"Iya deh..." Kataku lalu membuka paper bag yg diberikan Novi.

"...."

"...."

"Duuh Nov Makasih ya..."

"Hehe, sama-sama..." Ucap Novi dengan senyuman yg paling manis.

"..."

"Dipake tuh, masa mau kotor gitu kamu pulang..."

"Hehe... Iya Nov bentar ya..." Kataku lalu beranjak ke belakang gardu listrik buat memakai kaos pemberian Novi.

Baik bener Novi dia seakan tau kalo aku memang lagi butuh baju ganti. Tapi ini kan baju mahal, duh jadi gk enak. Novi memberikan kado kaos warna cokelat dengan gambar orang berselancar di depan. Wah mahal nih pasti.

"Makasih ya Nov..."

"Iya Dit, kamu suka gk?"

"Suka lah, bagus banget..."

"Hehehe...."

Akhirnya aku pun ngobrol sama Novi sekalian nunggu angkot. Aku sengaja membiarkan angkot jurusanku lewat gitu aja agar bisa lebih lama ngobrol bareng Novi, begitupun Novi. Setelah beberapa saat kemudian Novi menyetop angkot jurusan rumahnya.

"Makasih ya Nov sekali lagi..." Ucapku ketika ia pamit pulang naik dan masuk ke dalam angkot.

---

"Tunggu sini dulu ya..." Ucap seorang perempuan dengan senyum khasnya.

Sore hari setelah dikerjai anak-anak, aku duduk di teras rumah Bella. Entah kenapa dia menyuruhku datang ke tempatnya. Ah dasar Bella, suka seenaknya sendiri nyuruh orang. Padahal tadi aku sedang nongkrong sama anak-anak kampung. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, ia belum keluar juga.

Bengong menunggu di teras, tiba-tiba terdengar nyanyian lagu selamat ulang tahun dari pintu rumahnya, segera kubalikkan badan. Bella muncul dengan kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya. Dan entah kenapa aku merinding saat ia berjalan mendekatiku.

"Selamat ulang tahun Sayang..." Ucap Bella manis.

"........"

"Ditiup dong lilinnya...."

"......"

"Yee diem aja!" Oceh Bella kemudian.

"Hehe iya Bell... Makasih ya, mana nih kadonya?" Candaku grogi.

"Makannya ini ditiup dulu, baru kado!" Kata Bella.

"Fiiiiuuuuhhhh" Aku pun meniup lilin di atas kue ulang tahun berbentuk hati itu.

"Yeeeyyy Selamat ulang tahun ya sayang..." Ucap Bella kali ini manis, sambil tepuk tangan.

"Hehe... Makasih ya Bella..."

"Iya... Bentar aku ambil something dulu!" Kata Bella beranjak dari duduknya.

Kuamati kue ulang tahun pemberian Bella. Wah kayaknya enak nih. Tak berapa lama kemudian Bella keluar dari dalam rumahnya.

"Semoga kamu suka ya..." Ucap Bella seraya memberikan bungkusan kado kepadaku.

"Wuiih apa nih? Aku buka ya..." Balasku penasaran.

"Eh nanti aja dirumah Dit..."

"Wah bikin penasaran aja sih..." Kataku sambil mengira-ngira isinya apa.

"Pokoknya dibukanya sampe rumah!" Seru Bella kemudian.

"Iya deh iya. Makasih sayang..."

"Ngomong-ngomong apa nih harapan kamu di ulang tahun ke 42 ini?" Tanya Bella.

"42?"

"Hahahaha..." Bella tertawa lepas. Cantik banget dia. "Becanda Diiit becanda..." Imbuh bella masih cengengesan.

"Hmmmm.... Aku sih saat ini pengen lulus sekolah yg pasti, terus hubungan kita langgeng deh..."

"Amiin... Sip dah semoga terkabul!" Ucap Bella Semangat.

Sore itu aku dan Bella ngobrol-ngobrol di teras rumahnya sambil makan kue ulang tahun pemberian Bella. Kata Bella sih ini buatannya sendiri. Emang jago tuh anak bikin kue.

"Mulai sekarang kamu kurangin ya maen-maennya Dit... Bentar lagi UAN kita!"

"Iya Bell Iya..."

"Ikutan bimbel kek..."

"Ah... Malas aku ikut begituan, lagian nanggung tinggal beberapa hari lagi, mending bimbel sama kamu aja deh..." Godaku.

"Yeee... Serius ini!"

"Aku serius Bell..."

"Yaudah pokoknya kalo kita ketemu harus bahas pelajaran sama latihan-latihan soal..."

"Gitu banget Bell..." Kataku protes.

"Yaudah kalo gk mau, kita gk usah ketemu!" Ancam Bella. Kayaknya serius nih.

"Iya Bell iya... Ngikut Bu Guru aja deh aku..." Kataku pasrah.

Lama kami ngobrol tak terasa matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Suara adzan maghrib pun terdengar dari rumah Bella.

"Bell... Udah maghrib nih, Aku pamit pulang ya..."

"Iya Dit... Ini kuenya dibawa pulang..." Kata Bella sambil memotong-motong sisa kue ulang tahun yg masih banyak itu ke dalam kardus putih.

"Iya Bell... Makasih ya..."

Setelah membawa bungkusan kue ulang tahun dan kado dari Bella, aku pun mulai beranjak dan berjalan menuju motor milik Kipli yg aku parkir di depan garasi rumah Bella. Gk enak kalo pinjem Gatot melulu, sekali-kali minjem Kipli gk masalah.

"Makasih ya Bell untuk hari ini..."

"Cuup..." Entah bagaimana tiba-tiba Bella mencium pipi kiriku. "Selamat Ulang tahun Sayang..." Imbuh Bella tersenyum manis.

"Love you sayang..."

"Love you too... Hati2 ya sayang..." Kata Bella manis.

Setelah berpamitan dan mendapat kecupan dari Bella, akupun mulai berjalan pulang mengendarai kuda besi ini. Selama perjalanan aku hanya membayangkan moment-moment indah bareng Bella tadi. Bersyukur banget aku punya pacar secantik dan sebaik Bella. Hingga di lampu merah perempatan kota, lamunanku dibuyarkan oleh sesosok cewek yg sedang mendorong motornya di seberang jalan. Kasian juga melihatnya. Tanpa pikir panjang setelah lampu hijau, kuarahkan motor ini menuju cewek itu dan berniat untuk menolongnya.

"Kenapa mbak motornya?" Sapaku basa-basi.

"Gk tau nih mas... Tiba-tiba macet!" Ucap perempuan itu menghentikan dorongannya.

"Abis bensinnya kali mbak..." Kataku kemudian.

"Masih banyak kok mas, bisa buat aquarium!" Jawabnya. Wah gokil nih cewek, malah becanda dia. Eh becanda atau ngejek sih?

"Mbaknya bisa aja... Aku step-in aja mbak sini!"

"Apaan tuh step-in?" Tanya cewek itu penasaran. Kayaknya bener-bener gk tau.

"Maksudnya aku dorongin pake kaki mbak, Aku jalan di belakang motor Mbak..." Kataku menjelaskan.

"Wah boleh tuh..."

"Yaudah ayok..."

"Maaf ya mas ngrepotin..."

"Santai aja mbak..."

Selama perjalanan nyetepin motor, cewek itu cuma diem aja. Kayaknya serius banget liat jalanan. "Mbak-mbak... pertigaan depan belok mana?" Tanyaku ketika mau lewat pertigaan.

"Hah? Apa mas?"

"Belok mana? Susah nyetepnya kalo beloknya mendadak!"

"Oh... Kanan mas..." Jawabnya santai.

Jika diamati kayaknya seumuran nih cewek.

"Rumahnya mana mbak?" Kataku penasaran. Jauh juga aku nyetepin motornya.

"Komplek Griya Indah Mas..." Jawabnya masih serius konsen liatin depan.

Buset jauh amat, Ucapku dalam hati. Sekitar dua puluh menit perjalanan kita pun sampai di depan rumahnya. Eh rumahnya kayak kos-kosan.

"Wuuih makasih lho mas..." Ucapnya, manis juga senyumannya.

"Ini rumahnya mbak?"

"Aku ngekos disini mas... Masuk dulu mas, aku buatin minum..." Kata cewek itu menawarkan.

"Wah gk usah mbak, aku langsung pulang aja, ngrepotin malah..."

"Enggak kok, Itung-itung ucapan terima kasih..."

"Makasih mbak, udah malam juga gk enak..."

"Oh yauda kalo gitu..."

"Aku balik dulu ya mbak..."

"Oh iya mas... Makasih lho..." Ucapnya halus.

Akupun langsung memutar balik motorku dan kembali kerumah. Beberapa meter berjalan baru sadar aku belum kenalan. Ah bodohnya aku kenapa gk kenalan dulu tadi. Kan lumayan nambah temen juga. Daripada penasaran mending balik deh sekedar kenalan. Kulihat dari spion dia juga masih di depan gerbang.

"Mbak..."

"Eh mas... gimana mas?" Tanya cewek itu heran tapi cengar-cengir.

"Aku numpang sholat bentar boleh? Udah mau isya nih, takut gk nyampai waktunya kalo sampe rumah." Kataku beralasan sebaik mungkin. Keren ya alasanku, tiba-tiba muncul di otak aja tadi.

"Oh silahkan mas..." Ucapnya tersenyum.

"Oke mbak..."

Setelah memarkir motor di halaman kosannya, aku berjalan mengikutinya dari belakang. Modis juga nih cewek, tingginya ada sekitar 160 cm, rambutnya panjang lurus kecoklatan. Dengan celana jins hitam dan kaos oblong warna putih terkesan modis aja, apalagi ditambah tas ransel kecil yg ada di punggungnya. Kayaknya sih bener kita seumuran, nanti deh aku kenalan.

"Silahkan masuk mas..." Ucap cewek itu mempersilahkan. Wah nekat juga ngebolehin cowok yg belum dikenalnya masuk ke dalam kamar kosnya.

"Iya mbak..."

Kamarnya rapi banget, wangi pula, dominan warna biru segala pernak-pernik yg ada. Beda sama kos Prapto yg berantakan. Di dalamnya ada tv, komputer, dan dispenser juga aku lihat.

"Wudzunya di kamar mandi aja mas..." Katanya sambil menunjuk kamar mandi yg ada di dalam kamarnya.

"Oke..."

Setelah wudzu, cewek itu terlihat sedang merapikan sajadah buatku.

"Lho mbaknya gk sholat sekalian?" Tanyaku mantap, setelah tau ia muslim juga karena punya sajadah.

"Aku lagi enggak mas... hehe," ucapnya santai.

"Oh..."

Selesai sholat maghrib akupun berinisiatif merapikan sendiri sajadah yg aku gunakan. Cewek itu lg di kamar mandi. Sumpah kamarnya ini wangi banget, kasurnya tebel dengan selimut warna biru. Wah jadi ngantuk nih, pengen rebahan di kasurnya.

Beberapa saat kemudian cewek itu keluar dari kamar mandi. Masih pake pakaian yg tadi, cuma lebih seger aja. Kayaknya habis cuci muka.

"Udah mas sholatnya?" Sapa cewek itu.

"Udah mbak, makasih ya..." Jawabku sopan. "Ngomong-ngomong asli mana mbak kok kos segala?" Timpalku kemudian.

"Temanggung mas..."

"Oh... Kuliah, sekolah atau kerja disini?" Tanyaku basa-basi.

"Kuliah kok tp sambil kerja juga..." Jawab cewek itu sambil ngaduk teh yg baru dibuatnya. "Nih mas diminum..." Ucapnya lagi.

"Makasih mbak... Oh iya aku Adit..." Ucapku seraya mengulurkan tangan.

"Fitria..." Jawabnya menjabat tanganku. Halus banget tangannya.

"Oh... Kuliah dimana nih?"

"Di UM... Kamu sekolah, kuliah, atau?"

"Masih sekolah mbak, di SMA 002" Jawabku.

"Kelas?" Tanyanya sedikit penasaran.

"Tiga nih..."

"Wah hampir ujian dong?"

"Iya mbak..."

Duh jangan panggil mbak sih... cuma beda setahun ini..." Protesnya halus.

"Iya deh Fit, hehehe..." Oh baru lulus kemarin dia.

"Rencana mau ngelanjutin kuliah atau kerja, Dit? Tanya Firtria.

"Belum tau juga sih..." Jawabku sadar kalo gk mungkin untuk melanjutkan kuliah.

"Yg penting lulus dulu ya?" Kata Fitria.

"Hehehe iya..." Jawabku singkat. "Emang di Temanggung gk ada kampus bagus? Hahaha..." Tanyaku bercanda.

"Sialan, tapi emang aku pengennya kuliah disini sih..." Ujar Fitria.

"Kenapa gitu?"

"Emmm... Panjang deh ceritanya." Jawab Fitria kayaknya enggan ceritain alasannya.

"Oh... Hehehe..."

Fitria orangnya asik buat ngobrol, supel banget. Ngobrolin apa aja nyambung sama dia. Bahkan dia juga tau lho perkembangan politik negeri ini. Dia juga nyambung diajak ngomong bola eropa. Pinter nih cewek.

"Wah pusing aku ngomongin politik Fit..."

"Yeee... kalo kita gk mau tau, tambah hancur negeri ini..." Jelasnya.

"...."

"Ngomong-ngomong kamu beneran suka AC Milan? Pemain tua-tua semua gitu dijagoin..." Ejek Fitria.

"Hehe iya juga sih, tapi kan penguasa Italia... Juve aja keok tuh!"

"Belum ketemu PSIS aja mereka, hahahaha..." Jawab Fitria asal. Njiir gokil nih.

Saat itu demam PSIS Semarang memang lagi melanda anak muda di Magelang. Tim itu selalu menjadi wakil Jateng di kompetisi liga Bank Mandiri. Jamannya De Porras sama Ortiz kalo gk salah. Hagemoni PSIS memang kental sebagai wakil Jateng saat itu. "Wah suka bola lokal juga Fit?" Tanyaku.

"Dikit sih, cuma sering aja denger anak-anak cowok di kelasku ngomongin bola"

"Oh..."

Lama kami ngobrol di dalam kamar Fitria, perut ini pun mulai keroncongan. Maklum daritadi cuma makan kue ulang tahun pemberian Bella. Daripada kelaperan, mending dimakan disini aja deh.

"Eh Fit bentar, aku ada kue..."

"Eh gk usah Dit, ambil semuanya ya hahaha..." Candanya.

Akupun berjalan ke motor mengambil kue pemberian Bella tadi. Walaupun sisa, tapi masih banyak kok. Sayang juga kalo gk kemakan nanti.

"Nih... Kebetulan tadi temenku ada yg ulang tahun..." Kataku bohong seraya membuka bungkusan kue, Fitria duduk bersila di atas kasurnya. Sedangkan aku duduk di karpet.

"Wuiiih... Enak nih kayaknya." Ucap Fitria sambil nyomot kue itu tanpa ragu. Dasar anak kos, hahaha.

Sambil ngobrol kamipun menghabiskan kue ulang tahun itu berdua, Fitria juga gk malu-malu saat makan kuenya, kayak udah kenal lama aja kita. Jahat ya aku, kue ulang tahun dari Bella malah dimakan berdua sama cewek lain. Maaf ya Bell...

"Oh iya Fit udah malem nih... Aku pulang dulu ya..."

"Eh iya..."

"Emmm... Boleh minta..." Sebelum selesai mengatakan sesuatu, Fitria memotong perkataanku. Gokil nih cewek.

"Boleh...." Ucapnya santai.

"Hah? Apaan emang?" Tanyaku.

"Nomer hape kan? Hehehe..." Jawab Fitria cengengesan.

"Hahaha tau aja sih?"

"Ya tau lah daritadi pegangin hape mulu..." Ucap Fitria.

"Hahaha... berapa nomornya? Siapa tau motornya besok macet lagi, hehehe."

"Nih... 085643012345"

"Ok, aku save ya..."

"Sip!"

Kemudian akupun pulang diantar Fitria sampe gerbang kosnya.

"Duluan ya Fit..."

"Makasih ya sekali lagi..."


Spoiler for Bersambuuuung...:
jenggalasunyi
unhappynes
njek.leh
njek.leh dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.