- Beranda
- Stories from the Heart
Lelaki di Halte Transjogja
...
TS
shabira.elnafla
Lelaki di Halte Transjogja

Lelaki di Halte Transjoga
Bab 1 Kata Pertama
"Anggara!" Lelaki di sampingku mengulurkan tangan. Senyum terbit dari wajahnya.
"Eh, Nira." Aku membalas uluran tangannya. Akhirnya, setelah dua minggu kami berjumpa, sekarang mulai keluar kata pertama, meski hanya sebuah nama saja.
Setelahnya kami kembali diam. Aku sibuk mengagumi dirinya yang terlihat menggoda di mata. Sedangkan Anggara sibuk dengan buku yang dia baca. Sesekali terlihat tangannya membetulkan letak kacamata yang melorot, beberapa kali pula jarinya membalik halaman demi halaman buku yang dia pegang.
Hanya dengan ekor mata aku berani melihat lelaki itu. Jika menatap langsung, rasanya belum sanggup. Jadi ketika ada kesempatan untuk melihatnya lagi dan lagi, tak akan kulewatkan saat itu. Ada andong lewat misalnya. Wajahku ikut bergerak sampai kendaraan yang ditarik dengan kuda tersebut menghilang di tikungan atau tertutup kendaraan lain, yang terpenting, saat itu netraku tidak perlu juling untuk melihat sosoknya hanya dari sudut mata saja.
"Bis saya sudah datang! Permisi duluan, ya, Mbak!" Anggara berdiri dari tempat duduknya.
"Hati-hati, Mas!" Seketika ingin sekali kubungkam mulut ini. Dia naik bus, harusnya yang kupesan untuk hati-hati sopirnya, bukan penumpangnya.
Stupid!
Tak lupa senyum kuberikan pada lelaki berkacamata itu ketika Anggara melangkah masuk ke dalam bus. Dia membalas dengan lambaian tangan. Tubuhnya menghilang bersama kendaraan yang membawanya pulang, sedangkan aku, masih tetap di halte.
Aku memukul kening berkali-kali. Kenapa gugup sekali, sih! Padahal sudah direncanakan akan sesantai mungkin ketika saat ini tiba. Namun tetap saja, rasa tidak bisa berbohong. Hati tidak bisa diajak kompromi.
Setelah memastikan bus yang membawa Anggara dan separuh hatiku benar-benar hilang, aku mengambil ponsel dan mengetik sesuatu di layar android tersebut.
[Jemput, Des]
Baru satu menit pesan tersebut terkirim, balasan masuk ke ponsel.
[Malas]
Aku tertawa. Desi memang seperti itu, tapi dalam hitungan ke lima puluh, pasti gadis itu sudah berhenti di depan halte. Apa aku harus mulai menghitung dari sekarang? Ah, sepertinya tidak perlu. Toh nanti dia pasti datang juga.
Dua menit kemudian, motor matic berhenti di depan halte. Desi membuka helm dan melempar tatapan jengah. "Kamu mau sampai kapan kayak gini. Berasa penguntit tahu gak!"
Aku berdiri dari kursi, membersihkan debu yang mungkin saja menempel di pantat, setelahnya menghampiri sahabat satu-satunya di kota perantauan ini. "Kayak kamu gak pernah suka sama orang aja!" Helm yang dia sodorkan kuambil, lalu memakai di kepala.
"Tapi gak pernah kayak kamu, Ra. Kurang kerjaan banget. Kalau suka bilang! Bukan diem-dieman hanya duduk di sampingnya setiap hari!" Dia mencibir.
"Whatever! Yang penting aku bisa lihat senyumnya dan sekarang bertambah tahu namanya!"
"Gak waras kamu, Ra!"
Kami berboncengan membelah jalanan kota Jogja. Aku yang di belakang mengulum senyum ketika teringat dengan perkenalan aneh kami. Setelah dua minggu saling diam, lelaki itu mengajakku ngobrol dulu. Keren sekali.
Setelah hari ini, aku yakin jika hubungan ini akan berkembang semakin jauh lagi. Tidak masalah jika lambat, yang penting hasil akhirnya. Lagi pula, apa gunanya jika hanya aku yang mencintai dia, sedangkan dia tahu namaku saja tidak. Eh, sekarang sudah saling tahu.
Unik memang, bisa-bisanya jatuh cinta pada lelaki yang bahkan namanya saja baru diketahui belum ada satu jam yang lalu. Tapi kalau bicara hati, siapa yang bisa menduga, kan?
Begitu juga dengan kisah ini. Dengan tanpa diduga sebelumnya, hatiku terpaut pada lelaki berkacamata itu. Anggara.
Beberapa menit setelahnya, motor matic Desi terparkir di depan kamar kosan yang kami sewa. Aku terlebih dulu masuk ke dalam dan menghempaskan tubuh ke kasur busa berukuran 175X200 cm. Bayangan senyum Anggara kembali hadir, tanpa disengaja bibir ini ikut melengkung. “Aku jatuh cinta woy!” seruku sambil memeluk guling.
Desi yang baru masuk menatap sebal, dia meletakkan kunci motor di atas nakas lalu menyusul berbaring di sebelahku.
Kami berdua diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Desi entah memikirkan apa, sedangkan aku tentu saja tentang Anggara. Memang siapa lagi? Hanya dia yang beberapa hari ini selalu mengantui hari-hari.
Bunyi jarum jam satu-satunya pengisi sunyi di dalam kamar. Sesekali deru kendaraan dari luar kosan ikut meramaikan suasana. Kosan yang kami sewa berada di pinggiran Jogja, selatan Candi Prambanan. Hanya butuh lima menit untuk sampai ke tempat sejarah itu, tapi sekitar dua puluh menit untuk sampai ke pusat kota.
Desi bangun dari posisinya, dia duduk dan menatap kosong ke tembok di depan.
“Kamu sehat, Des?” Aku mengguncang lengannya.
Gadis itu menoleh, lalu mengendikkan bahu dan menggeleng. “Aku baru tahu kalau dia punya pacar!” ujarnya.
“Siapa?”
“Dian! Tadi dia bilang kalau hanya ingin temenan sama aku, tidak untuk jadi pacar!”
Waw! Dian yang kutahu sangat perhatian dengan Desi. Tidak jarang dua sejoli itu melewati malam Minggu bersama. Bahkan beberapa kali Dian mengantar sahabatku pulang, tapi apa katanya tadi? Lelaki itu sudah punya pacar? Sejak kapan? Kenapa baru bilang sekarang?
“Gak apa-apa, sih! Hanya saja kenapa dulu memberi harapan kalau akhirnya hanya membuat luka.”
“Sabar, ya, Des!” Aku menepuk pundaknya lembut.
“Aman. Aku baik-baik saja.” Dia tersenyum. “Kamu hati-hati, ya. Aku aja yang sudah sedekat ini bisa kecolongan, apa lagi kamu yang baru tahu namanya!”
Deg.
Kenapa saat aku lagi di puncak bahagia Desi justru mematahkan itu dengan kelimatnya yang ... benar. Ya, dia yang kenal dan dekat bahkan bisa dibilang seperti pacaran saja hanya dianggap teman, lalu apa kabar denganku? Baru tahu namanya sudah berandai-andai kalau hubungan ini pasti akan berlanjut berakhir happy.
Apa memang harus seperti ini dalam mencintai? Hanya satu yang berkorban perasaan sedangkan yang satunya tinggal menerima tanpa memikirkan timbal baliknya.
“Ya udah, kalau kamu mau ngelanjutin gak apa-apa, tapi aku sudah ngingetin di awal. Jangan samapai kejadian yang sama juga kamu rasakan. Sumpah, rasanya gak sesimple yang dilihat! Sakit, Ra!” Desi menyeka sudut matanya. Dia berdiri meninggalkan ranjang dan mengambil handuk.
Aku masih tetap memikirkan kalimat yang Desi ucapkan. Siapkah jika nanti akhirnya sakit hati? Seperti yang Desi alami saat ini. “Kamu mau ke mana? Tumben mandi!” Aku membuang pikiran negatif yang tiba-tiba datang tanpa diundang.
Desi membalikkan badan, lalu nyengir memamerkan deretan giginya yang rapi. “Main sama Dian!”
What the?
“Heh. Katanya sudah punya pacar, kok masih keluar sama kamu?”
“Memang kenapa? Keluar berdua gak harus menjadi pasangan, kan? Teman emang gak boleh keluar bareng?”
Aku memandangnya kesal. Setelah tadi curhat sedemikian mengenaskan, sekarang masih mau pergi bareng? Benar-benar tidak bisa ditebak jalan pikiran cewek itu.
“Ra, aku hanya tahu mencintai. Urusan dia tidak membalas atau hanya mengaggapku teman, itu urusannya, yang penting dia tidak meminta aku untuk berhenti mencintainya.”
Aku menarik satu sudut bibir. “Bucin!”
“Emang kamu gak? Ya mending aku berani ngungkapin, daripada kamu! Gak ada perkembangan yang berarti.”
“Aku sudah tahu namanya!”
“Tapi tidak hatinya!
****
Bab 2 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...b782546e05468b
Bab 3 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...68337e2726422f
Bab 4 https://www.kaskus.co.id/show_post/6...933e5b00352a7e
Bab 5
https://www.kaskus.co.id/show_post/6...02bbf6950f0b78
Diubah oleh shabira.elnafla 11-02-2026 16:33
tiokyapcing dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.1K
14
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
shabira.elnafla
#2
Bab 2
Nomor Wasap
Sempurna! Riasan wajah sudah rapi, baju seragam sudah ditutupi jaket dan bau badan sudah tersamarkan oleh parfum yang harganya lumayan untuk jajan seminggu.
Aku keluar dari toilet menuju loker. Desi masih di sana, bersandar tembok dan mengetik sesuatu pada layar ponsel sambil senyum-senyum. Tebakanku tidak lain dan tidak bukan pasti sedang chatting dengan Dian.
"Aku beraksi dulu, Des. Jangan lupa jemput kalau aku sudah kasih kode!"
Desi melirik dan mencibir. "Bucin," desisnya.
Aku hanya tertawa, lalu mencolek dagu gadis itu. "Sasama bucin dilarang saling mengejek girl!"
Desi menyemburkan tawa, entah karena kalimatku atau hal lain, yang jelas gadis itu tampak mengangguk setuju dengan label sesama bucin yang baru saja kukatakan.
"Oke! Sampai jumpa nanti, Ra. Jangan lupa, kali ini minta nomornya."
Aku mengiyakan dengan anggukan kepala, lalu berjalan menyusuri lorong dan keluar dari tempat kerja. Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore lebih. Sedikit telat dari biasanya, tapi tidak masalah, asal masih bisa melihat wajah dan senyum Anggara.
Tidak sampai lima menit, aku sudah berada di Halte Transjogja Malioboro 2. Kepalaku celingukan mencari sosoknya di antara orang-orang yang menunggu bus. Tidak ada.
Apa dia sudah naik bis?
"Halo!" Dari arah belakang, suara dari orang yang kucari terdengar.
"Eh, Mas. Aku kira sudah pulang! Eh!" Aku menutup mulut dengan telapak tangan.
Anggara tertawa kecil lalu menujuk kursi yang masih kosong. "Mau duduk di sana?"
Aku mengangguk. Lalu menyusul langkah lelaki berkacamata tersebut. Dari belakang, punggungnya terlihat kokoh. Sangat kokoh, hingga aku menduga jika Anggara rutin olah raga, setidaknya seminggu sekali.
Lelaki itu langsung menghempaskan pantat di kursi. Tangannya menepuk sebelah kiri yang masih kosong. "Sini!"
Aku duduk di sebelahnya, sedangkan tas tangan yang kubawa ditaruh di tengah, sebagai pembatas antara kami.
Ketika jam pulang kerja seperti sekarang, halte penuh dengan calon penumpang Transjogja. Ada karyawan toko hingga pekerja kantoran berbaur menjadi satu bersama kami.
Anggara membuka risleting ranselnya, dari dalam dia mengeluarkan dua buah softdrink berwarna merah. Satu botol diulurkannya padaku. "Kamu haus, kan? Baru pulang kerja?" Dia menunjuk seragam yang kukenakan. "Sudah lama di Ramayana Mall?"
Aku menunduk, padahal sudah memakai jaket yang menutupi seragam warna oranye yang kukenakan, tapi tetap saja dia tahu. "Belum, Mas. Baru lima tahun," jawabku jujur.
"Anggara saja. Berasa tua banget dipanggil mas." Dia meneguk soft drink yang dibawanya.
Anggara menoleh ke kanan, melihat bus yang datang. Dari samping, terlihat hidungnya yang lebih mancung dari pada milikku. Dia mendesah lega, setelah orang yang duduk di samping kanan beranjak dan masuk ke Transjogja yang baru datang.
"Kamu naik nomor berapa?" tanyanya sambil tersenyum.
"3A. Kamu?"
"Sama. Tapi kok pas saya naik kamu gak ikut naik!"
Aku menggaruk kepala yang tiba-tiba gatal. Alasan apa yang harus aku katakan sekarang? Kenapa pula kemarin tidak memperhatikan nomor bus yang dia naiki, sih!
Dasar stupid!
Anggara masih menatapku menunggu jawaban. Dia mengeryitkan dahi saat sebuah senyum kulemparkan. "Sebenarnya 1A, yang 3A kan, kamu! Tadi itu mau bilang 1A, tapi entah kenapa yang keluar dari mulut nomor bis kamu!"
Lelaki itu tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu kembali meneguk minumannya. Dia menatapku geli.
Aku memalingkan wajah, menghindar dari tatapan Anggara. Jika bisa sekarang ingin kubenturkan kepala ke tiang. Malu! Alasan yang kukatakan terlihat memaksa sekali.
Double stupid.
Kami diam. Dia tidak lagi membuka buku dan tenggelam dalam lembaran kertas. Mungkin karena mendapat teman bicara, atau mungkin saja sudah habis tamat semua buku yang dia baca.
Dari ekor mata, aku melihat Anggara mengambil ponsel di saku, lalu mengetik sesuatu di layar pipih miliknya. Setelah itu kembali memasukan gagdet ke dalam saku.
"Kamu punya hape?" tanyaku mencoba basa-basi, meski gagal. Ya jelas punya, lah baru saja dia memegangnya kok. Basa-basi yang basi sekali menurutku.
"Iya. Kenapa?" tanyanya.
"Kalau nomor wasap punya gak?" Aku meringis. Bodo amat dengan wajah yang mungkin saja memerah. Jika ada cermin di depanku, pasti bisa kulihat dari sana betapa merahnya muka ini.
Kali ini Anggara tidak tertawa, dia langsung mengambil ponsel dan menyebutkan deretan angka. "Coba kamu chat aku!"
[Hai. Ini Nira]
Aku menekan tombol kirim.
Ponsel Anggara kembali bergetar. "Masuk. Aku save, ya. Mau dinamain apa?"
"Terserah. Gadis manis aja kalau kamu gak malu." Kepercayaan diriku meningkat sedikit demi sedikit. Berada di dekat Anggara selama ini membuat kenyamanan yang sempat hilang kembali datang. Dia ternyata asik jika sudah kenal, tidak sedingin yang terlihat di luar.
Lelaki itu mengetik sesuatu. "Begini?" Dia tertawa. "Eh, bis saya sudah sampai. Saya duluan, ya, Nira!" Dia mengambil tas dan bergegas melangkah meninggalkanku.
Rasanya ingin kuomeli sopir yang membawa bisa berhenti dalam waktu yang tidak tepat. Menganggu saja!
"Ngobrolnya nanti disambung lewat chat!" lanjutnya.
Aku membalas senyumannya. Bis yang membawa Anggara pergi meninggalkan halte. Sedangkan di sini aku masih diam dan melihat kursi bekas tempat Anggara duduk.
"Yihui!" teriakku sambil mengepalkan tangan ke udara. Anggara benar-benar memberi nama gadis manis pada kontakku. Senangnya!
Orang di sekitarku melihat dengan tatapan aneh. Aku hanya meringis lalu menganggukan kepala dan pergi meninggalkan halte.
Jika sebelumnya Desi selalu menjemput di halte, kali ini tidak lagi karena teriakanku yang membuat calon penumpang saling berbisik. Untung saja mereka tidak membawaku ke RSJ.
Sepanjang jalan, aku senyum kepada semua orang yang berpapasan. Peduli amat dengan anggapan sinting atau kurang waras dari mereka, yang jelas kabahagiaan ini harus dibagi pada semua orang, meski hanya lewat sebuah senyuman.
"Woy! Kesurupan kamu!" Desi berhenti di sebelahku. Kaca helm dia buka. "Kenapa gak ngechat? Malah senyum-senyum sendiri."
"Nanti aja aku ceritain, sekarang kita pulang!" Aku naik ke jok belakang motor matic Desi.
"Sukses?"
"Lebih dari sukses. Aku dapat softdrink. Yeee!"
Desi menghidupkan mesin motor, lalu memutar gas dan membawaku meninggalkan Malioboro. "Cuma softdrink pun, bukanya kita sering dapat di kerjaan."
"Beda. Ini dari Anggara tahu. Tidak akan aku minum, dan akan kupajang di meja selamanya!" Aku memeluk botol softdrink dengan gemas.
Kami menyusuri jalanan kota Jogja. Beberapa trafight light sudah terlewati. Ketika sudah separuh perjalanan, kembali lagi motor berhenti karena lampu trafight light kembali merah.
"Ra, kamu tahu gak bis yang dinaiki Anggara?" tanya Desi tiba-tiba.
"3A. Kenapa?"
Desi menyikut perutku. "Lihat bis yang berhenti di samping." Kami berhenti di lampu merah bandara, kepalaku menoleh ke arah yang ditunjuk Desi.
"Anggara!" desisku ketika melihat lelaki berkacamata berdiri di dekat pintu masuk. Aku segera memalingkan wajah dan menyembunyikan kepala di samping kepala Desi.
Semoga saja dia tidak melihat.
Nomor Wasap
Sempurna! Riasan wajah sudah rapi, baju seragam sudah ditutupi jaket dan bau badan sudah tersamarkan oleh parfum yang harganya lumayan untuk jajan seminggu.
Aku keluar dari toilet menuju loker. Desi masih di sana, bersandar tembok dan mengetik sesuatu pada layar ponsel sambil senyum-senyum. Tebakanku tidak lain dan tidak bukan pasti sedang chatting dengan Dian.
"Aku beraksi dulu, Des. Jangan lupa jemput kalau aku sudah kasih kode!"
Desi melirik dan mencibir. "Bucin," desisnya.
Aku hanya tertawa, lalu mencolek dagu gadis itu. "Sasama bucin dilarang saling mengejek girl!"
Desi menyemburkan tawa, entah karena kalimatku atau hal lain, yang jelas gadis itu tampak mengangguk setuju dengan label sesama bucin yang baru saja kukatakan.
"Oke! Sampai jumpa nanti, Ra. Jangan lupa, kali ini minta nomornya."
Aku mengiyakan dengan anggukan kepala, lalu berjalan menyusuri lorong dan keluar dari tempat kerja. Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore lebih. Sedikit telat dari biasanya, tapi tidak masalah, asal masih bisa melihat wajah dan senyum Anggara.
Tidak sampai lima menit, aku sudah berada di Halte Transjogja Malioboro 2. Kepalaku celingukan mencari sosoknya di antara orang-orang yang menunggu bus. Tidak ada.
Apa dia sudah naik bis?
"Halo!" Dari arah belakang, suara dari orang yang kucari terdengar.
"Eh, Mas. Aku kira sudah pulang! Eh!" Aku menutup mulut dengan telapak tangan.
Anggara tertawa kecil lalu menujuk kursi yang masih kosong. "Mau duduk di sana?"
Aku mengangguk. Lalu menyusul langkah lelaki berkacamata tersebut. Dari belakang, punggungnya terlihat kokoh. Sangat kokoh, hingga aku menduga jika Anggara rutin olah raga, setidaknya seminggu sekali.
Lelaki itu langsung menghempaskan pantat di kursi. Tangannya menepuk sebelah kiri yang masih kosong. "Sini!"
Aku duduk di sebelahnya, sedangkan tas tangan yang kubawa ditaruh di tengah, sebagai pembatas antara kami.
Ketika jam pulang kerja seperti sekarang, halte penuh dengan calon penumpang Transjogja. Ada karyawan toko hingga pekerja kantoran berbaur menjadi satu bersama kami.
Anggara membuka risleting ranselnya, dari dalam dia mengeluarkan dua buah softdrink berwarna merah. Satu botol diulurkannya padaku. "Kamu haus, kan? Baru pulang kerja?" Dia menunjuk seragam yang kukenakan. "Sudah lama di Ramayana Mall?"
Aku menunduk, padahal sudah memakai jaket yang menutupi seragam warna oranye yang kukenakan, tapi tetap saja dia tahu. "Belum, Mas. Baru lima tahun," jawabku jujur.
"Anggara saja. Berasa tua banget dipanggil mas." Dia meneguk soft drink yang dibawanya.
Anggara menoleh ke kanan, melihat bus yang datang. Dari samping, terlihat hidungnya yang lebih mancung dari pada milikku. Dia mendesah lega, setelah orang yang duduk di samping kanan beranjak dan masuk ke Transjogja yang baru datang.
"Kamu naik nomor berapa?" tanyanya sambil tersenyum.
"3A. Kamu?"
"Sama. Tapi kok pas saya naik kamu gak ikut naik!"
Aku menggaruk kepala yang tiba-tiba gatal. Alasan apa yang harus aku katakan sekarang? Kenapa pula kemarin tidak memperhatikan nomor bus yang dia naiki, sih!
Dasar stupid!
Anggara masih menatapku menunggu jawaban. Dia mengeryitkan dahi saat sebuah senyum kulemparkan. "Sebenarnya 1A, yang 3A kan, kamu! Tadi itu mau bilang 1A, tapi entah kenapa yang keluar dari mulut nomor bis kamu!"
Lelaki itu tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu kembali meneguk minumannya. Dia menatapku geli.
Aku memalingkan wajah, menghindar dari tatapan Anggara. Jika bisa sekarang ingin kubenturkan kepala ke tiang. Malu! Alasan yang kukatakan terlihat memaksa sekali.
Double stupid.
Kami diam. Dia tidak lagi membuka buku dan tenggelam dalam lembaran kertas. Mungkin karena mendapat teman bicara, atau mungkin saja sudah habis tamat semua buku yang dia baca.
Dari ekor mata, aku melihat Anggara mengambil ponsel di saku, lalu mengetik sesuatu di layar pipih miliknya. Setelah itu kembali memasukan gagdet ke dalam saku.
"Kamu punya hape?" tanyaku mencoba basa-basi, meski gagal. Ya jelas punya, lah baru saja dia memegangnya kok. Basa-basi yang basi sekali menurutku.
"Iya. Kenapa?" tanyanya.
"Kalau nomor wasap punya gak?" Aku meringis. Bodo amat dengan wajah yang mungkin saja memerah. Jika ada cermin di depanku, pasti bisa kulihat dari sana betapa merahnya muka ini.
Kali ini Anggara tidak tertawa, dia langsung mengambil ponsel dan menyebutkan deretan angka. "Coba kamu chat aku!"
[Hai. Ini Nira]
Aku menekan tombol kirim.
Ponsel Anggara kembali bergetar. "Masuk. Aku save, ya. Mau dinamain apa?"
"Terserah. Gadis manis aja kalau kamu gak malu." Kepercayaan diriku meningkat sedikit demi sedikit. Berada di dekat Anggara selama ini membuat kenyamanan yang sempat hilang kembali datang. Dia ternyata asik jika sudah kenal, tidak sedingin yang terlihat di luar.
Lelaki itu mengetik sesuatu. "Begini?" Dia tertawa. "Eh, bis saya sudah sampai. Saya duluan, ya, Nira!" Dia mengambil tas dan bergegas melangkah meninggalkanku.
Rasanya ingin kuomeli sopir yang membawa bisa berhenti dalam waktu yang tidak tepat. Menganggu saja!
"Ngobrolnya nanti disambung lewat chat!" lanjutnya.
Aku membalas senyumannya. Bis yang membawa Anggara pergi meninggalkan halte. Sedangkan di sini aku masih diam dan melihat kursi bekas tempat Anggara duduk.
"Yihui!" teriakku sambil mengepalkan tangan ke udara. Anggara benar-benar memberi nama gadis manis pada kontakku. Senangnya!
Orang di sekitarku melihat dengan tatapan aneh. Aku hanya meringis lalu menganggukan kepala dan pergi meninggalkan halte.
Jika sebelumnya Desi selalu menjemput di halte, kali ini tidak lagi karena teriakanku yang membuat calon penumpang saling berbisik. Untung saja mereka tidak membawaku ke RSJ.
Sepanjang jalan, aku senyum kepada semua orang yang berpapasan. Peduli amat dengan anggapan sinting atau kurang waras dari mereka, yang jelas kabahagiaan ini harus dibagi pada semua orang, meski hanya lewat sebuah senyuman.
"Woy! Kesurupan kamu!" Desi berhenti di sebelahku. Kaca helm dia buka. "Kenapa gak ngechat? Malah senyum-senyum sendiri."
"Nanti aja aku ceritain, sekarang kita pulang!" Aku naik ke jok belakang motor matic Desi.
"Sukses?"
"Lebih dari sukses. Aku dapat softdrink. Yeee!"
Desi menghidupkan mesin motor, lalu memutar gas dan membawaku meninggalkan Malioboro. "Cuma softdrink pun, bukanya kita sering dapat di kerjaan."
"Beda. Ini dari Anggara tahu. Tidak akan aku minum, dan akan kupajang di meja selamanya!" Aku memeluk botol softdrink dengan gemas.
Kami menyusuri jalanan kota Jogja. Beberapa trafight light sudah terlewati. Ketika sudah separuh perjalanan, kembali lagi motor berhenti karena lampu trafight light kembali merah.
"Ra, kamu tahu gak bis yang dinaiki Anggara?" tanya Desi tiba-tiba.
"3A. Kenapa?"
Desi menyikut perutku. "Lihat bis yang berhenti di samping." Kami berhenti di lampu merah bandara, kepalaku menoleh ke arah yang ditunjuk Desi.
"Anggara!" desisku ketika melihat lelaki berkacamata berdiri di dekat pintu masuk. Aku segera memalingkan wajah dan menyembunyikan kepala di samping kepala Desi.
Semoga saja dia tidak melihat.
Diubah oleh shabira.elnafla 10-12-2021 18:19
itkgid dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup