- Beranda
- Stories from the Heart
Roda Kehidupan
...
TS
fthhnf
Roda Kehidupan

"Roda itu bernama kehidupan. Saat kita berada diatas kadang berputar sangat cepat, namun ketika kita berada dibawah roda itu terlalu lambat berputar kembali. Kamu tau kenapa? Karena kehidupan tak semudah mengayuh sepeda untuk tetap berjalan diatas aspal yang halus."
Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.
Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.
Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.
Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...
Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.
Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.
Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.
Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...
© Uhuk.. Wis keren? Sip mas! Oke.
Index Cerita:
Part 1 Aku dan Kalian
Part 2 Kaliurang Sore Itu
Part 3 Bella Namanya
Part 4 PHK Massal
Part 5 Warung Baru Ibu
Part 6 Bapak Semangatku
Ketahuan Bini
Part 7 Kak Siska Kenapa?
Part 8 Hape Baru
Part 9 Pelukan Hangat Kak Siska
Part 10 Pelangi Di Sekar Langit
Part 11 Cemburu, Bell?
Part 12 Kasihan Bapak
Part 13 Minuman Cinta
Part 14 Pekerjaan Pertama
Part 15 Pulau Dewata
Part 16 Tersenyum Kembali
Part 17 Mumi Sekolah
Part 18 Desember Terbaik
Part 19 Happy New Year
Part 20 Gosip Fara
Part 21 Konser Jikustik
Part 22 Maaf, Nov
Part 23 Si Gundul
Part 24 Sebuah Takdir
Part 25 Must On
Part 26 Kejutan
Part 27 Thanks, Nov!
Part 28 Ujian Nasional
Part 29 Janji Bella
Part 30 Babak Baru Kehidupan
Part 31 Vita!
Part 32 Pacar Cadangan
Part 33 Suroboyo Rek!
Part 34 Semalam Bersama Bella
Diubah oleh fthhnf 01-04-2023 20:40
junti27 dan 33 lainnya memberi reputasi
32
22.9K
434
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fthhnf
#57
Part 20 Gosip Fara
Malam ini aku sengaja datang ke rumah Bella tanpa menghubunginya dulu, takutnya sih gk mau aku samperin kalo aku sms atau kabarin dulu.
"Ting... Tong..."
Sebuah bel dirumahnya telah aku pencet. Tak sampai dua menit berselang, Bella sendiri yg bukain pintu gerbang rumahnya.
Wajahnya ditekuk nunjukin kalo dia masih marah. Tanpa basa-basi dan tanpa dipersilahkan, langsung saja aku nyelonong masuk dan memarkirkan motor Gatot yg aku pinjam di samping garasi.
"Kenapa sih Bell? Dari kemaren masih cemberut aja..."
"Gk papa!" Jawab Bella masih ketus.
"Ciee... Makin cantik aja kalo marah!" Godaku.
"Iiih apaan sih!"
Tak lama berselang terlihat Ayah Bella keluar dari rumahnnya.
"Lho temennya kok gk diajak masuk Bell?" Tanya sang Ayah ke Bella.
"Udah Pak gk usah, ini kita mau pergi sebentar ngambil buku tugas di rumah temen," sahutku cepat sekaligus meminta izin ngajakin Bella pergi.
"Oh yaudah kalo gitu, jangan malam-malam..." Jawab sang Ayah seraya masuk kembali ke dalam.
Bella hanya bengong lalu mangguk-mangguk terus garuk-garuk kepala melihatku. Ia juga hanya menerima pasrah saat kuberikan helm yg aku ambil dari garasi rumahnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Bella nampak kesal.
"Ngikut aja Bell..." Jawabku tersenyum.
Selama ngebonceng gk kayak biasanya, Bella masih aja nunjukin juteknya. Padahal aku gk ngerti kenapa dia kayak gini. Biasalah cewek, ribet.
"Lho kok malah ke sekolahmu?" Tanya Bella curiga.
"Hehe... Bentar Bell ada sesuatu yg mau aku tunjukkin..." Kataku halus seraya mengambil hape dari saku celanaku.
To: Rangga
Sekarang ngga!
"Mau ngap......" Belum selesai Bella menyelesaikan perkataannya, telah terdengar suara ledakan di langit yg mengagetkan Bella.
"Ciiieeeett Duuuerrrr!"Satu kembang api telah meluncur menuju langit yg gelap, cahaya kemilaunya menyinari area di sekitarnya. Sangat indah!
"Duuuuerrr... Suiiiiittt dueeerr!"
Tak lama berselang beberapa kembang api meluncur lagi menghiasi angkasa. Terlihat senyuman manis Bella di sela-sela pandangannya ke langit.
"Duuuuerrr... Suiiiiittt dueeerr!"
Nampak sangat cantik ketika kemilau cahaya kembang api itu menyinari wajah Bella. Matanya nampak berkaca-kaca. Lalu aku melangkah membelakangi Bella, dari belakang sini kukalungkan kalung yg aku beli di Jogja spesial untuknya.
"Selamat Tahun Baru Bella Sekar Puspita, maaf ngebuat kamu marah. Maafin aku ya..." Ucapku lirih berbisik di telinganya.
Tak ada balasan ucapan darinya, namun ia membalikkan badannya ke arahku. Ada tetesan air mata yg jatuh lalu mengalir di pipinya. Kuusap perlahan air matanya. Bella tersenyum manis. Terlihat sangat cantik ia mengenakannya, kalung itu pun nampak semakin berkilau dengan siluet cahaya kembang api yg masih menghiasi langit malam.
Bella masih tak mengucapkan sepatah kata apapun, namun perlahan tangannya bergerak lembut mengusap halus pipiku. Untuk beberapa saat mata kita bertemu, sorot matanya penuh makna. Ia terus memandangku dengan mata yg masih berkaca-kaca.
Kemudian kugenggam erat jemari Bella yg masih menempel di pipiku, lalu kuambil nafas dalam-dalam. "Kamu cantik banget Bell..." Kataku pelan.
Entah siapa yg menulai bibir kami saling menempel, lalu kucium dengan lembut. Bella membalas ciuman itu juga dengan lembut.
"Mmuuch..." Kulepas ciumanku.
Wajahnya memerah, beberapa saat ia salah tingkah memalingkan wajahnya. Aku hanya tersenyum melihatnya. Lalu kuulurkan tanganku kearahnya dan mengajaknya pulang.
"Pulang yuk..." Kataku memecah keheningan diantara kami.
"Selamat tahun baru, Dit..." Ucap Bella dan kamipun pulang dengan perasaan yg bahagia.
---
Hari ini aku sungguh merasakan lelah yg begitu hebat. Beberapa hari ini Ibu jatuh sakit. Setiap hari aku mengurus Ibu dirumah dibantu sama Mbak Laras. Entah kenapa aku merasa damai dan tenang saat Mbak Laras bantuin aku menjaga Ibu. Ia bahkan sering bolos kuliah demi nemenin Ibu dirumah pagi hari saat kutinggal sekolah dan sore saat kutinggal kerja di pasar. Njjiir apa aku jadiin istri aja ya dia? Ah jangan ding, malas aku jadi saudara iparnya Gatot.
Disisi lain aku sedikit bahagia karena Ayah janji mau pulang akhir bulan nanti. Tanpa sepengetahuan Ibu, aku mendatangi seorang rentenir dimana Ibu meminjam uang. Diam-diam aku membantu Ibu mencicil tagihan hutang yg kalo tidak dibayar akan berlipat ganda suku bunganya.
"Dit, kamu gk capek tiap hari kerja gitu?" Tanya Mbak Laras saat berada di rumahku.
"Lha mau gimana Mbak, warung akhir-akhir ini juga sering tutup, gk mungkin lah aku minta duit ke Ibu..."
"Kalo masalah itu sih tiap hari aku kasih uang saku ke kamu juga gk papa..."
"Gk usah Mbak! Makasih..."
"Yaudah, tiap hari motorku kamu bawa aja buat sekolah, kan lumayan tuh bisa ngirit dikit..."
"Lha kuliah Mbak Laras gimana?"
"Ya gampang kalo itu, aku bisa suruh nganter temen, atau kalo gk aku antar jemput deh Dit..."
"Gk usah Mbak makasih..." Ucapku menolak halus.
"Kamu ini emang keras kepala, persis Masmu dulu!" Kata Mbak Laras lalu noyor kepalaku.
"...."
"Eh Mbak, Alhdulillah Ibu udah mendingan ya..."
"Iya... Kasihan Ibumu, banyak pikiran dia! Makannya kamu jangan nambahin pikiran Bude!" Seru Mbak Laras galak.
"Lha kan aku malah ngebantu..."
"Hmm... Iya, tapi Bude tuh pikiran dan curiga kenapa kamu akhir-akhir ini sering keluar kalo pulang sekolah!"
"Tapi Mbak gk bilang kan kalo aku kerja?" Tanyaku ke Mbak Laras.
"Enggak kok, tapi kamu harus bilang jujur suatu saat nanti Dit..."
"Iya Mbak..."
"Yaudah Mbak pulang dulu..." Kata Mbak Laras beranjak untuk pergi.
"Makasih ya Mbak..."
"Hmm iya..."
Aku sangat bersyukur mengenal Mbak Laras. Perhatiannya membuatku bisa merasakan kehadiran seorang kakak perempuan. Ia selalu menasehatiku tentang apapun, entah itu persoalan asmara atau pergaulan.
(Masih) Pertengahan Februari 2004
Hari ini setelah membantu Ibu kulakan barang dagangan di pasar, aku sengaja nongkrong di warung Mas Bendot dulu untuk sekedar ngopi. Rencananya besok Ibu akan membuka warungnya lagi pasca sakit kemarin. Aku menggunakan motor milik Mas Tono buat bawa barang belanjaan ini. Berkat kerja di pasar, aku mendapatkan banyak bantuan dari teman kerjaku disana. Dan aku juga tau mana toko yg paling murah.
Cuaca sore Magelang yg dingin membuat kopi panas sangat pas untuk dinikmati. Sambil menikmati kopi hitam buatan Mas Bendot, terdengar olehku perbincangan beberapa pemuda yg juga sedang nongkrong di warung kopi ini.
"Gila tuh anak Pak Beni, denger-denger sekarang bisa dipake!"
"Iya, kata temenku juga gitu..."
"Kira-kira berapa ya semalem... Hahaha..."
"Keluarga mereka kan emang gitu semua..."
DEG... Entah kenapa jantungku berdetak kencang saat mendengar obrolan pemuda-pemuda itu.
Anak Pak Beni? Berarti Fara dong? Ah mana mungkin dia begitu, pikirku.
Lalu kuambil satu batang rokok super yg kubeli eceran, kusulut rokok ini kmudian kuhisap dalam-dalam mencoba mencerna omongan mereka.
"Sori mas... Maksudnya Fara ya?" Tanyaku ke salah satu pemuda itu.
"Yaiyalah! Siapa lagi anak Pak Beni kalo bukan Fara?" Jawab pemuda itu.
"Kowe kenal bro?" Tanya pemuda yg satunya.
"Emmm... Gk kok mas, cuma sekedar tau aja, hehe..." Jawabku pura-pura tersenyum.
"Katanya dia suka dijemput om-om!" Ucap pemuda yg berbeda.
"Ah ya gk kaget sih.." Kata salah satu pemuda yg lain.
Mana mungkin sih dia begitu. Bulan lalu aku baru aja ketemu. Kucoba berfikir dengan akal sehat, gk mungkin! Dari sudut pandang manapun Fara gk bakalan seperti itu.
Apa aku tanya langsung ke Fara aja ya? Ah tapi mana mungkin, bisa tersinggung dia nanti. Entah kenapa aku menjadi khawatir dengan keadaannya saat ini. Setelah pertemuanku dengan Fara beberapa minggu lalu, kayaknya dia baik-baik aja. Ah bodoamat, bukan urusanku juga. Eh tapi bener gk ya? Njiir khawatir aku.
Kuhisap kembali rokok ini, "sssstttt.... Fiiiiuuuuhhhh...." Pikiranku menjadi bercabang kemana-mana mendengar gosip murahan dari pemuda kampung sebelah yg bahkan tak kukenal itu. Setelah menghabiskan sebatang rokok, langsung kubayar kopi ini ke mas Bendot.
"Iki mas..." Kataku seraya memberi uang pas ke mas Bendot.
"Tumben Dit cepet-cepet..."
"Iya ni Mas, kasihan Ibu lama nunggu belanjaan nya..." Jawabku. "Yo wis aku pamit ya mas... Mari mas semuanya..." Sapaku ke mereka semua.
Setelah basa-basi pamit, langsung kunyalakan dan kuarahkan motor ini menuju rumah. Selama berjalan menuju rumah, pikiranku masih bertanya-tanya tentang kebenaran gosip itu. Selain aku anggap saudara, Fara juga telah aku anggap teman baik.
Selang beberapa saat kemudian, sampailah aku dirumah. Lalu kubawa barang belanjaan menuju warung dan meletakkannya di rak dan etalase kecil yg telah ditentukan.
Selesai menata barang dagangan, kulangkahkan kaki ini menuju kamar. Kurebahkan tubuh ini ke kasur dengan pikiran yg masih menerawang jauh memikirkan keadaan Fara. Apa benar dia seperti itu? Ah mana mungkin! Tapi kenapa orang-orang di warung kopi tadi bisa bicara begitu? Udahlah... Bukan urusanku juga! Emmm... Tapi? Ah tau ah, mending mikirin tugas aja deh.
Kemudian kurogoh saku celanaku, kuambil hapeku, lalu aku ketik sms untuk Novi menanyakan tugas kelompok yg diberikan guru kewarganegaraan.
To: Novi
Nov gimana tugasnya? Mau dikerjain kapan?
From: Novi
Terserah, nanti gimana? Jam 7an, si Prapto bisanya jam segitu.
"Gimana kalo sekarang aja aku kesitunya, bete nih dirumah!" Balasku.
"Yoyoi... Aku tungguin dirumah, masuk aja nanti!"
"Ok!"
Setelah kubalas sms tersebut, langsung kulangkahkan kaki ini keluar kamar menuju motor Mas Tono yg masih aku bawa di halaman rumah.
---
"Ting... Tong..." Suara Bel yg kupencet ketika aku sampai di gerbang rumah yg mirip istana ini. Selang beberapa saat kemudian, tampak Bu Sri keluar dari rumah itu.
"Eh Nak Adit... Silahkan masuk, udah ditungguin Mbak Novi di atas..."
"Iya Buk... Makasih..." Kataku lalu mendorong motor masuk ke dalam. "Gk ditawarin minum Buk? Hehe" candaku kemudian.
"Hehe... Ibuk udah tau kok, soda gembira kan? Hehe..."
"Hehe... Iya Buk, tau aja sih... Ya udah aku masuk dulu ya..."
"Silahkan Nak Adit..." Balas Bu Sri seraya menutup kembali gerbang rumah ini.
Setelah kuparkir motor di depan garasi, aku berjalan ke pintu masuk. Aku selalu bingung ketika sampai di pintu ini, antara tetap memakai alas kaki atau melepasnya. Akhirnya karena memang takut kotor, kulepas alas kaki yg kupakai ini, lalu aku berjalan lagi menaiki tangga menuju lantai atas tempat biasa Novi menghabiskan waktunya. "Woe Nov..." Sapaku.
"Lhah... Dilepas lagi sandalmu? Ckckck..." Tanya Novi sambil menggelengkan kepala.
"Haha, takut kotor Nov! Udah ah, lagi ngapain kamu?" Kataku seraya duduk di karpet.
"Biasa, nonton TV..."
"Si Prapto kemana sih emg? Kok bisanya jam tujuh?"
"Ada rapat pengurus ekskul theater dia..."
"Owh..." Kataku singkat seraya mengambil cemilan wafer di meja.
Si kunyuk satu itu emang punya bakat akting, dia bahkan pernah menang di lomba theater antar kota mewakili sekolah kami. Keren kan? Tapi sayang cita-cita nya sebagai aktor komedi tengah malam gagal ia wujudkan.
"Kwamu gwak kwe gwerejwa Nuov?" Tanyaku dengan mulut yg penuh dengan wafer.
"Udah, tadi pagi!" Jawab Novi yg masih sibuk dengan acara TV.
"Owh..."
"Eh Dit... Udah denger gosip tentang Kak Fara belum?" Tanya Novi tiba-tiba.
"Hah gosip? Gosip apaan?"
"Masak sih kamu gk tau? Bukannya kalian deket ya? Anak-anak musik lagi pada ngomongin ini lho..."
"Apaan sih?" Kataku lalu menggelengkan kepala.
"Emm... Katanya sih dia jadi cewek gk bener Dit di dikampusnya..."
"Gk bener gimana?"
"Ya itu, tau lah Dit. Secara anak band gitu dia sekarang..."
"Uhhuuukk... Hoooekkk...." Kumuntahkan wafer yg ada dimulutku.
"Bu Sriiiiiii.... Minumnya mana!" Teriak Novi. "Kamu kenapa sih pake keselek segala! Jadi kotor kan itu!" Imbuh Novi.
"Sori-sori Nov... Kaget aja dengernya..." Kataku terkejut karena mendengar kabar yg sama.
"Awalnya sih aku juga gk percaya... Tapi kayaknya emang bener gitu sih..." Ucap Novi kemudian.
"....."
"Kasian dia ya selalu jadi omongan dimana-mana..."
"....."
"Heh! Diem aja sih!"
"Emm... Terus masalahnya buat kita apa? Emg anak band harus kek gitu ya?" Kataku santai.
"Ya gk sih..."
"Ya udah kalo gitu, terserah dia aja. Lagian aku gk percaya kok, tapi kalo emang bener pasti dia punya alasan yg kuat..." Ucapku menjelaskan. Njiir keren kan aku? Berkat majalah 'Aneka Yes' tuh!
"Iya sih... Ngomong-ngomong kapan terakhir kalian ketemu?" Tanya Novi.
"Emmm... Kapan ya, bulan lalu deh..."
"Emm... Bella tau Dit kalo kamu ketemu Kak Fara?"
"Ya gk lah! Saling ngejaga perasaan aja Nov, lagian aku jg gk sengaja ketemunya..." Jawabku bohong.
"Oh..."
"..."
"Eh Dit, kamu sadar kan kalo dulu dia suka sama kamu?"
"Ngomong apaan sih kamu... Udah deh, kita ngerjain tugas aja sekarang!" Jawabku mengalihkan pembicaraan.
"Hmmmm.... Ngerjain gimana? Bukunya kan dibawa Prapto!"
"Haduuuh... Yaudah kalo gitu minumnya mana sih Nov, haus nih... Hehe..."
"Iya... Iya bentar, aku tanyain dulu di bawah..." Kata Novi berdiri lalu berjalan menuju tangga.
Setelah Novi ke bawah, kuganti chanel tv, mencoba mengalihkan pikiranku mengenai gosip tentang Fara. Kenapa cepat sekali gosip itu menyebar? Kenapa juga aku jadi kepikiran dia? Huh!
"Allahuakbar... Allahuakbar..." Terdengar sayup-sayup suara adzan dari kejauhan.
"Heh kamu gk sholat?" Seru Novi sambil membawa segelas soda gembira.
"....."
"Heh Dit!"
"Hem... Apaan?" Tanyaku masih asyik mantengin Laudya Chintya Bella di sinetron yg populer banget.
"Kamu gk sholat? Tuh Adzan Maghrib!"
"...." Aku cuma bengong denger Novi ngomong gitu.
Njiir mati gaya deh aku. Malu rasanya diingatkan sholat sama Novi. Selama Ayah pergi ke Jakarta, aku jadi lupa kewajiban menjadi seorang muslim.
"Iya Nov... Ini juga mau sholat! Nunggu iklan!" Kataku pura-pura.
"Buruan ih... Tuh Bu Sri juga mau sholat, barengan aja!"
"Okedeh..." Seruku lalu berjalan turun menyusuri tangga menuju ke dapur.
Kulihat Bu Sri sudah memakai mukena miliknya. Langsung aku sapa dan bilang kalo aku juga mau sholat, Bu Sri nungguin aku wudzu lalu aku dan Bu Sri sholat berjama'ah.
"Udah selesai sholatnya?" Tanya Novi ketika aku kembali ke lantai atas.
"Udah Nov... Makasih ya, hehe..."
"Heem... Dit, anter beli pulsa dulu yuk!" Ajak Novi.
"Dimana?"
"Konter depan tuh..."
Kemudian kami jalan kaki ke konter yg Novi maksud. Gk jauh, cuma beberapa meter aja dari rumah Novi. Sesampainya di konter, Novi langsung membeli voucher pulsa. Njiir dia beli pulsa dua ratus ribu!
"Kamu sekalian ya..." Ucap Novi
"Pulsaku masih kok Nov, gk usah..." Kataku menolak. Padahal ngarep.
"Halah sekalian, udah aku bayar juga nih voucher.."
"Duh Nov makasih ya..." Kataku halus. Tapi di dalam hati girang banget dibeliin pulsa duapuluh lima ribu sama Novi.
Usai membeli pulsa, kamipun kembali ke rumah. Terlihat ada motor lain di depan garasi. "Tuh Prapto udah dateng..." Kata Novi seraya membuka pintu gerbang rumahnya.
"Pake motor siapa tuh dia?"
"Tau deh, Kakaknya mungkin!" Jawab Novi sambil menutup kembali pintu gerbang. Padahal satpamnya udah lari-lari mau bukain. Lalu kami berjalan menuju dalam rumah mengikuti Novi dibelakang.
"Dipake aja sandalnya!"
"Hehe... Iya deh Nov..."
Kamipun langsung berjalan menuju tangga. Terdengar suara televisi dari tangga.
"Woe darimana kalian?" Sapa Prapto ketika melihat kedatangan kami.
"Beli pulsa!"
"Walah tau gitu titip sekalian, hehe..." Ucap Prapto.
"Halah! Alasan aja kowe su! Bilang aja pengen dibeliin pulsa!" Sahutku.
"Hahahaha..."
"Yaudah yuk langsung ngerjain tugas aja!" Kata Novi seraya duduk di karpet dan mengambil beberapa kertas yg ada di bawah meja.
"Kita bagi aja kalo gitu!" Kataku.
"Bagi gimana?" Tanya Prapto.
"Ya kita bagi tugas su!" Jelasku.
"Oke kalo gitu besok kamu yg ngetik ya Dit... Kita tulis kerangkanya aja sekarang!" Ucap Novi memutuskan.
"Hhhmmm... Lagi-lagi aku yg ngetik!" Keluhku. Berkat suka bantuin ngetik tugas kuliahnya Mbak Laras aku jadi cepet kalo ngetik di komputer.
"Hahaha... Salah siapa bisa cepet kalo ngetik!"
Setelah menentukan tugas masing-masing, kami memulai membuat analisa mata pelajaran Kewarganegaraan dengan tema Korupsi Di Indonesia. Keren kan tugas di sekolah SMA 002 ini? Novi terlihat serius mencatat poin-poin dibeberapa artikel yg ia kumpulkan. Sedangkan Prapto malah asik nonton Laudya Chintya Bella. Emang kunyuk tuh bocah!
"Heh cuk asu! Itu ditulis malah nonton tv!" Seruku.
"Udah tadi..." Kata Prapto Singkat.
"Hmmmm.... Eh Nov kayaknya solusi untuk nanggulangin korupsi itu bukan hukuman mati deh..." Kataku.
"Lha terus menurutmu? Ada solusi lain?" Tanya Novi menghentikan tulisannya.
"Emm... Menurutku sih kalo hukuman mati bisa diakali deh Nov... Tau sendiri kan Indonesia?"
"Terus?" Sahut Prapto tiba-tiba.
"Ya yg harus diubah itu sistemnya, sistem yg membuat korupsi itu merajalela. Menurutku sih kita harus merubah sistem ini sejak dini. Moral, itu yg harus diperbaiki di generasi penerus kayak kita ini. Jika kesadaran moral telah tercapai, pasti korupsi akan teratasi..." Kataku menjelaskan.
"Sistem ya? Iya juga sih..."
"Nah itu yg mau aku bilang!" Sahut Prapto lagi.
"Asu koe cuk!" Balasku.
"Ya itu bisa juga sih Dit, tapi itu semua kan perlu waktu..." Ucap Novi.
"Emmm... Iya bener, semuanya memang butuh proses, gk ada yg instant! Menurutku dari pada hukuman mati, kayaknya lebih kongkrit perbaikan moral dulu deh..."
"Contone moralmu kui su seng kudu diperbaiki! (Contohnya seperti moralmu itu njing yg harus diperbaiki!)" Timpal Prapto asal.
"Koyo moralmu apik wae su! (Kayak udah bagus aja moralmu njing!)" Balasku mendebat Prapto.
"Wis-wis... Ya udah kalo gitu pake pemikiranmu aja Dit..." Kata Novi manggut-manggut.
"Emm... Kita gabungin aja Nov pemikiran kita... Kalo perbaikan moral gagal, ya ditambah hukuman mati... Hahaha..."
"Koe seng kudu dihukum mati su! Hahaha... (Kamu yg harus dihukum mati njing! Hahaha)" Sahut Prapto. Njiir perlu diservis tuh mulut.
"Karepmu su!" Kataku singkat, emosi.
"Kalian ini malah debat sendiri!" Seru Novi.
"Hahaha Adit tuh Nov..."
"Hmm... Yaudah Nov kita gabungin aja ya yg tadi itu..."
"Jangan, malah rancu kalo gitu. Udahlah aku tulis dulu nanti, kamu yg ngetik ya besok, sekalian kamu benerin kalo ada yg kurang pas." Ucap Novi.
"Oke siap!" Jawabku.
Njiir keren kan bahasan kita? Ini bukan obrolan mahasiswa Fisipol lho, ini bener-bener obrolan anak SMA. Keren ya SMAku dulu, kita dididik agar bisa menganalisa suatu kasus. Pantes kalo alumni nya banyak yg duduk di kursi legislatif daerah. Eh.
Ok cukup.
Sambil menunggu Novi mencatat poin-poin hasil diskusi kami, terasa getaran di saku celanaku, "Drrrttt... Drrrrrrttt..." Ada sms nih,
From: Bella
Malem sayang... Lg apa? Udah selesai belum belajar kelompoknya? Jgn lupa makan ya!
To: Bella
Malem juga Bella Sayang... Udah kok ni, tinggal nungguin si Novi nyatet aja trs pulang.
"Oke... Hati2 ya! Kabarin kalo udah sampe rumah!"
Akhirnya setelah selesai mencatat, kamipun pamit pulang karena waktu juga semakin malam.
Selang dua puluh menit kemudian, sampailah aku dirumah. Setelah kumasukkan motor Mas Tono ke dalam, langsung aku berjalan menuju kamar. Kurebahkan badanku ke kasur yg sangat empuk ini.
Tiba-tiba terasa getaran panjang di saku celanaku. Telpon nih,
>>+62815..... Is Calling<<
"Ting... Tong..."
Sebuah bel dirumahnya telah aku pencet. Tak sampai dua menit berselang, Bella sendiri yg bukain pintu gerbang rumahnya.
Wajahnya ditekuk nunjukin kalo dia masih marah. Tanpa basa-basi dan tanpa dipersilahkan, langsung saja aku nyelonong masuk dan memarkirkan motor Gatot yg aku pinjam di samping garasi.
"Kenapa sih Bell? Dari kemaren masih cemberut aja..."
"Gk papa!" Jawab Bella masih ketus.
"Ciee... Makin cantik aja kalo marah!" Godaku.
"Iiih apaan sih!"
Tak lama berselang terlihat Ayah Bella keluar dari rumahnnya.
"Lho temennya kok gk diajak masuk Bell?" Tanya sang Ayah ke Bella.
"Udah Pak gk usah, ini kita mau pergi sebentar ngambil buku tugas di rumah temen," sahutku cepat sekaligus meminta izin ngajakin Bella pergi.
"Oh yaudah kalo gitu, jangan malam-malam..." Jawab sang Ayah seraya masuk kembali ke dalam.
Bella hanya bengong lalu mangguk-mangguk terus garuk-garuk kepala melihatku. Ia juga hanya menerima pasrah saat kuberikan helm yg aku ambil dari garasi rumahnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Bella nampak kesal.
"Ngikut aja Bell..." Jawabku tersenyum.
Selama ngebonceng gk kayak biasanya, Bella masih aja nunjukin juteknya. Padahal aku gk ngerti kenapa dia kayak gini. Biasalah cewek, ribet.
"Lho kok malah ke sekolahmu?" Tanya Bella curiga.
"Hehe... Bentar Bell ada sesuatu yg mau aku tunjukkin..." Kataku halus seraya mengambil hape dari saku celanaku.
To: Rangga
Sekarang ngga!
"Mau ngap......" Belum selesai Bella menyelesaikan perkataannya, telah terdengar suara ledakan di langit yg mengagetkan Bella.
"Ciiieeeett Duuuerrrr!"Satu kembang api telah meluncur menuju langit yg gelap, cahaya kemilaunya menyinari area di sekitarnya. Sangat indah!
"Duuuuerrr... Suiiiiittt dueeerr!"
Tak lama berselang beberapa kembang api meluncur lagi menghiasi angkasa. Terlihat senyuman manis Bella di sela-sela pandangannya ke langit.
"Duuuuerrr... Suiiiiittt dueeerr!"
Nampak sangat cantik ketika kemilau cahaya kembang api itu menyinari wajah Bella. Matanya nampak berkaca-kaca. Lalu aku melangkah membelakangi Bella, dari belakang sini kukalungkan kalung yg aku beli di Jogja spesial untuknya.
"Selamat Tahun Baru Bella Sekar Puspita, maaf ngebuat kamu marah. Maafin aku ya..." Ucapku lirih berbisik di telinganya.
Tak ada balasan ucapan darinya, namun ia membalikkan badannya ke arahku. Ada tetesan air mata yg jatuh lalu mengalir di pipinya. Kuusap perlahan air matanya. Bella tersenyum manis. Terlihat sangat cantik ia mengenakannya, kalung itu pun nampak semakin berkilau dengan siluet cahaya kembang api yg masih menghiasi langit malam.
Bella masih tak mengucapkan sepatah kata apapun, namun perlahan tangannya bergerak lembut mengusap halus pipiku. Untuk beberapa saat mata kita bertemu, sorot matanya penuh makna. Ia terus memandangku dengan mata yg masih berkaca-kaca.
Kemudian kugenggam erat jemari Bella yg masih menempel di pipiku, lalu kuambil nafas dalam-dalam. "Kamu cantik banget Bell..." Kataku pelan.
Entah siapa yg menulai bibir kami saling menempel, lalu kucium dengan lembut. Bella membalas ciuman itu juga dengan lembut.
"Mmuuch..." Kulepas ciumanku.
Wajahnya memerah, beberapa saat ia salah tingkah memalingkan wajahnya. Aku hanya tersenyum melihatnya. Lalu kuulurkan tanganku kearahnya dan mengajaknya pulang.
"Pulang yuk..." Kataku memecah keheningan diantara kami.
"Selamat tahun baru, Dit..." Ucap Bella dan kamipun pulang dengan perasaan yg bahagia.
---
Hari ini aku sungguh merasakan lelah yg begitu hebat. Beberapa hari ini Ibu jatuh sakit. Setiap hari aku mengurus Ibu dirumah dibantu sama Mbak Laras. Entah kenapa aku merasa damai dan tenang saat Mbak Laras bantuin aku menjaga Ibu. Ia bahkan sering bolos kuliah demi nemenin Ibu dirumah pagi hari saat kutinggal sekolah dan sore saat kutinggal kerja di pasar. Njjiir apa aku jadiin istri aja ya dia? Ah jangan ding, malas aku jadi saudara iparnya Gatot.
Disisi lain aku sedikit bahagia karena Ayah janji mau pulang akhir bulan nanti. Tanpa sepengetahuan Ibu, aku mendatangi seorang rentenir dimana Ibu meminjam uang. Diam-diam aku membantu Ibu mencicil tagihan hutang yg kalo tidak dibayar akan berlipat ganda suku bunganya.
"Dit, kamu gk capek tiap hari kerja gitu?" Tanya Mbak Laras saat berada di rumahku.
"Lha mau gimana Mbak, warung akhir-akhir ini juga sering tutup, gk mungkin lah aku minta duit ke Ibu..."
"Kalo masalah itu sih tiap hari aku kasih uang saku ke kamu juga gk papa..."
"Gk usah Mbak! Makasih..."
"Yaudah, tiap hari motorku kamu bawa aja buat sekolah, kan lumayan tuh bisa ngirit dikit..."
"Lha kuliah Mbak Laras gimana?"
"Ya gampang kalo itu, aku bisa suruh nganter temen, atau kalo gk aku antar jemput deh Dit..."
"Gk usah Mbak makasih..." Ucapku menolak halus.
"Kamu ini emang keras kepala, persis Masmu dulu!" Kata Mbak Laras lalu noyor kepalaku.
"...."
"Eh Mbak, Alhdulillah Ibu udah mendingan ya..."
"Iya... Kasihan Ibumu, banyak pikiran dia! Makannya kamu jangan nambahin pikiran Bude!" Seru Mbak Laras galak.
"Lha kan aku malah ngebantu..."
"Hmm... Iya, tapi Bude tuh pikiran dan curiga kenapa kamu akhir-akhir ini sering keluar kalo pulang sekolah!"
"Tapi Mbak gk bilang kan kalo aku kerja?" Tanyaku ke Mbak Laras.
"Enggak kok, tapi kamu harus bilang jujur suatu saat nanti Dit..."
"Iya Mbak..."
"Yaudah Mbak pulang dulu..." Kata Mbak Laras beranjak untuk pergi.
"Makasih ya Mbak..."
"Hmm iya..."
Aku sangat bersyukur mengenal Mbak Laras. Perhatiannya membuatku bisa merasakan kehadiran seorang kakak perempuan. Ia selalu menasehatiku tentang apapun, entah itu persoalan asmara atau pergaulan.
(Masih) Pertengahan Februari 2004
Hari ini setelah membantu Ibu kulakan barang dagangan di pasar, aku sengaja nongkrong di warung Mas Bendot dulu untuk sekedar ngopi. Rencananya besok Ibu akan membuka warungnya lagi pasca sakit kemarin. Aku menggunakan motor milik Mas Tono buat bawa barang belanjaan ini. Berkat kerja di pasar, aku mendapatkan banyak bantuan dari teman kerjaku disana. Dan aku juga tau mana toko yg paling murah.
Cuaca sore Magelang yg dingin membuat kopi panas sangat pas untuk dinikmati. Sambil menikmati kopi hitam buatan Mas Bendot, terdengar olehku perbincangan beberapa pemuda yg juga sedang nongkrong di warung kopi ini.
"Gila tuh anak Pak Beni, denger-denger sekarang bisa dipake!"
"Iya, kata temenku juga gitu..."
"Kira-kira berapa ya semalem... Hahaha..."
"Keluarga mereka kan emang gitu semua..."
DEG... Entah kenapa jantungku berdetak kencang saat mendengar obrolan pemuda-pemuda itu.
Anak Pak Beni? Berarti Fara dong? Ah mana mungkin dia begitu, pikirku.
Lalu kuambil satu batang rokok super yg kubeli eceran, kusulut rokok ini kmudian kuhisap dalam-dalam mencoba mencerna omongan mereka.
"Sori mas... Maksudnya Fara ya?" Tanyaku ke salah satu pemuda itu.
"Yaiyalah! Siapa lagi anak Pak Beni kalo bukan Fara?" Jawab pemuda itu.
"Kowe kenal bro?" Tanya pemuda yg satunya.
"Emmm... Gk kok mas, cuma sekedar tau aja, hehe..." Jawabku pura-pura tersenyum.
"Katanya dia suka dijemput om-om!" Ucap pemuda yg berbeda.
"Ah ya gk kaget sih.." Kata salah satu pemuda yg lain.
Mana mungkin sih dia begitu. Bulan lalu aku baru aja ketemu. Kucoba berfikir dengan akal sehat, gk mungkin! Dari sudut pandang manapun Fara gk bakalan seperti itu.
Apa aku tanya langsung ke Fara aja ya? Ah tapi mana mungkin, bisa tersinggung dia nanti. Entah kenapa aku menjadi khawatir dengan keadaannya saat ini. Setelah pertemuanku dengan Fara beberapa minggu lalu, kayaknya dia baik-baik aja. Ah bodoamat, bukan urusanku juga. Eh tapi bener gk ya? Njiir khawatir aku.
Kuhisap kembali rokok ini, "sssstttt.... Fiiiiuuuuhhhh...." Pikiranku menjadi bercabang kemana-mana mendengar gosip murahan dari pemuda kampung sebelah yg bahkan tak kukenal itu. Setelah menghabiskan sebatang rokok, langsung kubayar kopi ini ke mas Bendot.
"Iki mas..." Kataku seraya memberi uang pas ke mas Bendot.
"Tumben Dit cepet-cepet..."
"Iya ni Mas, kasihan Ibu lama nunggu belanjaan nya..." Jawabku. "Yo wis aku pamit ya mas... Mari mas semuanya..." Sapaku ke mereka semua.
Setelah basa-basi pamit, langsung kunyalakan dan kuarahkan motor ini menuju rumah. Selama berjalan menuju rumah, pikiranku masih bertanya-tanya tentang kebenaran gosip itu. Selain aku anggap saudara, Fara juga telah aku anggap teman baik.
Selang beberapa saat kemudian, sampailah aku dirumah. Lalu kubawa barang belanjaan menuju warung dan meletakkannya di rak dan etalase kecil yg telah ditentukan.
Selesai menata barang dagangan, kulangkahkan kaki ini menuju kamar. Kurebahkan tubuh ini ke kasur dengan pikiran yg masih menerawang jauh memikirkan keadaan Fara. Apa benar dia seperti itu? Ah mana mungkin! Tapi kenapa orang-orang di warung kopi tadi bisa bicara begitu? Udahlah... Bukan urusanku juga! Emmm... Tapi? Ah tau ah, mending mikirin tugas aja deh.
Kemudian kurogoh saku celanaku, kuambil hapeku, lalu aku ketik sms untuk Novi menanyakan tugas kelompok yg diberikan guru kewarganegaraan.
To: Novi
Nov gimana tugasnya? Mau dikerjain kapan?
From: Novi
Terserah, nanti gimana? Jam 7an, si Prapto bisanya jam segitu.
"Gimana kalo sekarang aja aku kesitunya, bete nih dirumah!" Balasku.
"Yoyoi... Aku tungguin dirumah, masuk aja nanti!"
"Ok!"
Setelah kubalas sms tersebut, langsung kulangkahkan kaki ini keluar kamar menuju motor Mas Tono yg masih aku bawa di halaman rumah.
---
"Ting... Tong..." Suara Bel yg kupencet ketika aku sampai di gerbang rumah yg mirip istana ini. Selang beberapa saat kemudian, tampak Bu Sri keluar dari rumah itu.
"Eh Nak Adit... Silahkan masuk, udah ditungguin Mbak Novi di atas..."
"Iya Buk... Makasih..." Kataku lalu mendorong motor masuk ke dalam. "Gk ditawarin minum Buk? Hehe" candaku kemudian.
"Hehe... Ibuk udah tau kok, soda gembira kan? Hehe..."
"Hehe... Iya Buk, tau aja sih... Ya udah aku masuk dulu ya..."
"Silahkan Nak Adit..." Balas Bu Sri seraya menutup kembali gerbang rumah ini.
Setelah kuparkir motor di depan garasi, aku berjalan ke pintu masuk. Aku selalu bingung ketika sampai di pintu ini, antara tetap memakai alas kaki atau melepasnya. Akhirnya karena memang takut kotor, kulepas alas kaki yg kupakai ini, lalu aku berjalan lagi menaiki tangga menuju lantai atas tempat biasa Novi menghabiskan waktunya. "Woe Nov..." Sapaku.
"Lhah... Dilepas lagi sandalmu? Ckckck..." Tanya Novi sambil menggelengkan kepala.
"Haha, takut kotor Nov! Udah ah, lagi ngapain kamu?" Kataku seraya duduk di karpet.
"Biasa, nonton TV..."
"Si Prapto kemana sih emg? Kok bisanya jam tujuh?"
"Ada rapat pengurus ekskul theater dia..."
"Owh..." Kataku singkat seraya mengambil cemilan wafer di meja.
Si kunyuk satu itu emang punya bakat akting, dia bahkan pernah menang di lomba theater antar kota mewakili sekolah kami. Keren kan? Tapi sayang cita-cita nya sebagai aktor komedi tengah malam gagal ia wujudkan.
"Kwamu gwak kwe gwerejwa Nuov?" Tanyaku dengan mulut yg penuh dengan wafer.
"Udah, tadi pagi!" Jawab Novi yg masih sibuk dengan acara TV.
"Owh..."
"Eh Dit... Udah denger gosip tentang Kak Fara belum?" Tanya Novi tiba-tiba.
"Hah gosip? Gosip apaan?"
"Masak sih kamu gk tau? Bukannya kalian deket ya? Anak-anak musik lagi pada ngomongin ini lho..."
"Apaan sih?" Kataku lalu menggelengkan kepala.
"Emm... Katanya sih dia jadi cewek gk bener Dit di dikampusnya..."
"Gk bener gimana?"
"Ya itu, tau lah Dit. Secara anak band gitu dia sekarang..."
"Uhhuuukk... Hoooekkk...." Kumuntahkan wafer yg ada dimulutku.
"Bu Sriiiiiii.... Minumnya mana!" Teriak Novi. "Kamu kenapa sih pake keselek segala! Jadi kotor kan itu!" Imbuh Novi.
"Sori-sori Nov... Kaget aja dengernya..." Kataku terkejut karena mendengar kabar yg sama.
"Awalnya sih aku juga gk percaya... Tapi kayaknya emang bener gitu sih..." Ucap Novi kemudian.
"....."
"Kasian dia ya selalu jadi omongan dimana-mana..."
"....."
"Heh! Diem aja sih!"
"Emm... Terus masalahnya buat kita apa? Emg anak band harus kek gitu ya?" Kataku santai.
"Ya gk sih..."
"Ya udah kalo gitu, terserah dia aja. Lagian aku gk percaya kok, tapi kalo emang bener pasti dia punya alasan yg kuat..." Ucapku menjelaskan. Njiir keren kan aku? Berkat majalah 'Aneka Yes' tuh!
"Iya sih... Ngomong-ngomong kapan terakhir kalian ketemu?" Tanya Novi.
"Emmm... Kapan ya, bulan lalu deh..."
"Emm... Bella tau Dit kalo kamu ketemu Kak Fara?"
"Ya gk lah! Saling ngejaga perasaan aja Nov, lagian aku jg gk sengaja ketemunya..." Jawabku bohong.
"Oh..."
"..."
"Eh Dit, kamu sadar kan kalo dulu dia suka sama kamu?"
"Ngomong apaan sih kamu... Udah deh, kita ngerjain tugas aja sekarang!" Jawabku mengalihkan pembicaraan.
"Hmmmm.... Ngerjain gimana? Bukunya kan dibawa Prapto!"
"Haduuuh... Yaudah kalo gitu minumnya mana sih Nov, haus nih... Hehe..."
"Iya... Iya bentar, aku tanyain dulu di bawah..." Kata Novi berdiri lalu berjalan menuju tangga.
Setelah Novi ke bawah, kuganti chanel tv, mencoba mengalihkan pikiranku mengenai gosip tentang Fara. Kenapa cepat sekali gosip itu menyebar? Kenapa juga aku jadi kepikiran dia? Huh!
"Allahuakbar... Allahuakbar..." Terdengar sayup-sayup suara adzan dari kejauhan.
"Heh kamu gk sholat?" Seru Novi sambil membawa segelas soda gembira.
"....."
"Heh Dit!"
"Hem... Apaan?" Tanyaku masih asyik mantengin Laudya Chintya Bella di sinetron yg populer banget.
"Kamu gk sholat? Tuh Adzan Maghrib!"
"...." Aku cuma bengong denger Novi ngomong gitu.
Njiir mati gaya deh aku. Malu rasanya diingatkan sholat sama Novi. Selama Ayah pergi ke Jakarta, aku jadi lupa kewajiban menjadi seorang muslim.
"Iya Nov... Ini juga mau sholat! Nunggu iklan!" Kataku pura-pura.
"Buruan ih... Tuh Bu Sri juga mau sholat, barengan aja!"
"Okedeh..." Seruku lalu berjalan turun menyusuri tangga menuju ke dapur.
Kulihat Bu Sri sudah memakai mukena miliknya. Langsung aku sapa dan bilang kalo aku juga mau sholat, Bu Sri nungguin aku wudzu lalu aku dan Bu Sri sholat berjama'ah.
"Udah selesai sholatnya?" Tanya Novi ketika aku kembali ke lantai atas.
"Udah Nov... Makasih ya, hehe..."
"Heem... Dit, anter beli pulsa dulu yuk!" Ajak Novi.
"Dimana?"
"Konter depan tuh..."
Kemudian kami jalan kaki ke konter yg Novi maksud. Gk jauh, cuma beberapa meter aja dari rumah Novi. Sesampainya di konter, Novi langsung membeli voucher pulsa. Njiir dia beli pulsa dua ratus ribu!
"Kamu sekalian ya..." Ucap Novi
"Pulsaku masih kok Nov, gk usah..." Kataku menolak. Padahal ngarep.
"Halah sekalian, udah aku bayar juga nih voucher.."
"Duh Nov makasih ya..." Kataku halus. Tapi di dalam hati girang banget dibeliin pulsa duapuluh lima ribu sama Novi.
Usai membeli pulsa, kamipun kembali ke rumah. Terlihat ada motor lain di depan garasi. "Tuh Prapto udah dateng..." Kata Novi seraya membuka pintu gerbang rumahnya.
"Pake motor siapa tuh dia?"
"Tau deh, Kakaknya mungkin!" Jawab Novi sambil menutup kembali pintu gerbang. Padahal satpamnya udah lari-lari mau bukain. Lalu kami berjalan menuju dalam rumah mengikuti Novi dibelakang.
"Dipake aja sandalnya!"
"Hehe... Iya deh Nov..."
Kamipun langsung berjalan menuju tangga. Terdengar suara televisi dari tangga.
"Woe darimana kalian?" Sapa Prapto ketika melihat kedatangan kami.
"Beli pulsa!"
"Walah tau gitu titip sekalian, hehe..." Ucap Prapto.
"Halah! Alasan aja kowe su! Bilang aja pengen dibeliin pulsa!" Sahutku.
"Hahahaha..."
"Yaudah yuk langsung ngerjain tugas aja!" Kata Novi seraya duduk di karpet dan mengambil beberapa kertas yg ada di bawah meja.
"Kita bagi aja kalo gitu!" Kataku.
"Bagi gimana?" Tanya Prapto.
"Ya kita bagi tugas su!" Jelasku.
"Oke kalo gitu besok kamu yg ngetik ya Dit... Kita tulis kerangkanya aja sekarang!" Ucap Novi memutuskan.
"Hhhmmm... Lagi-lagi aku yg ngetik!" Keluhku. Berkat suka bantuin ngetik tugas kuliahnya Mbak Laras aku jadi cepet kalo ngetik di komputer.
"Hahaha... Salah siapa bisa cepet kalo ngetik!"
Setelah menentukan tugas masing-masing, kami memulai membuat analisa mata pelajaran Kewarganegaraan dengan tema Korupsi Di Indonesia. Keren kan tugas di sekolah SMA 002 ini? Novi terlihat serius mencatat poin-poin dibeberapa artikel yg ia kumpulkan. Sedangkan Prapto malah asik nonton Laudya Chintya Bella. Emang kunyuk tuh bocah!
"Heh cuk asu! Itu ditulis malah nonton tv!" Seruku.
"Udah tadi..." Kata Prapto Singkat.
"Hmmmm.... Eh Nov kayaknya solusi untuk nanggulangin korupsi itu bukan hukuman mati deh..." Kataku.
"Lha terus menurutmu? Ada solusi lain?" Tanya Novi menghentikan tulisannya.
"Emm... Menurutku sih kalo hukuman mati bisa diakali deh Nov... Tau sendiri kan Indonesia?"
"Terus?" Sahut Prapto tiba-tiba.
"Ya yg harus diubah itu sistemnya, sistem yg membuat korupsi itu merajalela. Menurutku sih kita harus merubah sistem ini sejak dini. Moral, itu yg harus diperbaiki di generasi penerus kayak kita ini. Jika kesadaran moral telah tercapai, pasti korupsi akan teratasi..." Kataku menjelaskan.
"Sistem ya? Iya juga sih..."
"Nah itu yg mau aku bilang!" Sahut Prapto lagi.
"Asu koe cuk!" Balasku.
"Ya itu bisa juga sih Dit, tapi itu semua kan perlu waktu..." Ucap Novi.
"Emmm... Iya bener, semuanya memang butuh proses, gk ada yg instant! Menurutku dari pada hukuman mati, kayaknya lebih kongkrit perbaikan moral dulu deh..."
"Contone moralmu kui su seng kudu diperbaiki! (Contohnya seperti moralmu itu njing yg harus diperbaiki!)" Timpal Prapto asal.
"Koyo moralmu apik wae su! (Kayak udah bagus aja moralmu njing!)" Balasku mendebat Prapto.
"Wis-wis... Ya udah kalo gitu pake pemikiranmu aja Dit..." Kata Novi manggut-manggut.
"Emm... Kita gabungin aja Nov pemikiran kita... Kalo perbaikan moral gagal, ya ditambah hukuman mati... Hahaha..."
"Koe seng kudu dihukum mati su! Hahaha... (Kamu yg harus dihukum mati njing! Hahaha)" Sahut Prapto. Njiir perlu diservis tuh mulut.
"Karepmu su!" Kataku singkat, emosi.
"Kalian ini malah debat sendiri!" Seru Novi.
"Hahaha Adit tuh Nov..."
"Hmm... Yaudah Nov kita gabungin aja ya yg tadi itu..."
"Jangan, malah rancu kalo gitu. Udahlah aku tulis dulu nanti, kamu yg ngetik ya besok, sekalian kamu benerin kalo ada yg kurang pas." Ucap Novi.
"Oke siap!" Jawabku.
Njiir keren kan bahasan kita? Ini bukan obrolan mahasiswa Fisipol lho, ini bener-bener obrolan anak SMA. Keren ya SMAku dulu, kita dididik agar bisa menganalisa suatu kasus. Pantes kalo alumni nya banyak yg duduk di kursi legislatif daerah. Eh.
Ok cukup.
Sambil menunggu Novi mencatat poin-poin hasil diskusi kami, terasa getaran di saku celanaku, "Drrrttt... Drrrrrrttt..." Ada sms nih,
From: Bella
Malem sayang... Lg apa? Udah selesai belum belajar kelompoknya? Jgn lupa makan ya!
To: Bella
Malem juga Bella Sayang... Udah kok ni, tinggal nungguin si Novi nyatet aja trs pulang.
"Oke... Hati2 ya! Kabarin kalo udah sampe rumah!"
Akhirnya setelah selesai mencatat, kamipun pamit pulang karena waktu juga semakin malam.
Selang dua puluh menit kemudian, sampailah aku dirumah. Setelah kumasukkan motor Mas Tono ke dalam, langsung aku berjalan menuju kamar. Kurebahkan badanku ke kasur yg sangat empuk ini.
Tiba-tiba terasa getaran panjang di saku celanaku. Telpon nih,
>>+62815..... Is Calling<<
Diubah oleh fthhnf 03-12-2021 22:28
njek.leh dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup