- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
...
TS
nyunwie
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
Gue memejamkan mata dan meresapi suara angin yang beradu dengan rimbunnya dedaunan sebuah pohon besar di samping gerbong kereta yang sudah terbengkalai. Seperti alunan musik pengantar tidur; desiran angin membuat perlahan demi perlahan kesadaran gue melayang, menembus ruang tanpa batas, ke sebuah dimensi yang tidak beruntas.
"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.
"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.
"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"
"Haaah!?"

Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.
"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!
Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.
Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.
Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.
Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...
Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!
Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.
Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.
Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!
Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.
Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.
Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.
Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.
Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.
Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.
Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.
Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.
Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.
Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.
Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!
"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.
"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.
"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"
"Haaah!?"

Quote:
Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.
"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!
Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.
Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.
Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.
Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...
Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!
Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.
Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.
Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!
Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.
Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.
Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.
Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.
Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.
Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.
Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.
Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.
Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.
Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.
Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!
Spoiler for They don’t give you a right:
Diubah oleh nyunwie 31-10-2020 20:09
umbhelijo35 dan 120 lainnya memberi reputasi
115
247.3K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nyunwie
#550
Part 54-c
Bukan apa jenis senjatanya
Tapi siapa orang yang memegangnya
Karena ditangan yang tepat
Bahkan sebuah jarum dapat menghilangkan nyawa seseorang dengan cepat
Tapi siapa orang yang memegangnya
Karena ditangan yang tepat
Bahkan sebuah jarum dapat menghilangkan nyawa seseorang dengan cepat
...
"Terus sekarang lo mau lepas tangan gitu ajah?" Tanya Malik seolah tidak terima dengan keputusan yang gue buat.
"Yap." Jawab gue santai lalu menenggak kaleng bir yang gue beli di sebuah minimarket lalu duduk di lantai di depan minimarket tersebut.
"Anj*ng lo yang nyemplungin gue, terus lo…"
"Hahaha. Omongan lo sama kaya anak buah lo. Cie anak buah gak tuh. Hahaha."
"Sebenernya apa yang lo rencanain sih, Wid?" Tanya Malik serius dan bersamaan itu ponsel yang sebelumnya gue serahkan pada Malik berdering.
"Angkat." Ujar gue pada Malik yang terlihat bingung. Malik lalu menjawab panggilan itu. Sementara gue memandangi santai ke suatu arah, melihat di kejauhan seseorang terlihat sedang menelpon sambil mendengarkan Malik yang entah mengapa menjadi gugup.
"..." Gue tertawa kecil. "Gimana?" Tanya gue pada Malik setelah Malik selesai menerima panggilan telepon itu.
"Ini beneran orangnye Opung?" Tanya Malik.
"..." Gue mengangkat bahu gue.
"Ta* serius! Lo gak ngejebak gue, kan?"
"Buat apaan anying, jebak lo. Lo kena juga bisa langsung dikeluarin Mbah lo."
"Iyah abis itu gue dipenggal."
"Hahaha. Yaudah terus apa katanya?" Tanya gue.
"Dia mau ngoper lagi." Jawab Malik terlihat gelisah.
"Yaudah, suruh orang lo jemput dah." Sahut gue.
"Gue gak yakin. Soalnya dia minta adu banteng." Sahut Malik.
"Yaudah aduin. Kenape lo takut? Lo gak niat pala lo yang mau lo aduin, kan?" Tanya gue lalu Malik terlihat berpikir. "Suruh orang jemput bolanya. Jangan elu, cantik dikit main!" Lanjut gue.
"Ngerti gue. Tapi yang gue heran kok dia minta adu banteng disini. Kaya gak logis ajah gitu, pas banget kite lagi ada disini. Kaya lagi mau ngejebak gitu." Sahut Malik sambil celingukan.
"Hemmmm menarik." Sahut gue berpose berpikir sambil memegang dagu.
"Anying urat takut lo bener-bener udah putus kali, ye!" Ujar Malik.
"Anjir urat takut. Baru denger gue, hahahah. Lagian ngapain harus takut selama kita gak megang apa-apa?"
"Iyasih tapi…" Sahut Malik sambil mengetik sebuah pesan di handphone-nya entah pada siapa.
"Tapi biasain jangan SMS kuda!!!!!! Lo tau gak silop bisa minta history smsan lo sama operator." Selak gue sambil memperhatikan juru parkir yang sedang mengatur parkir sebuah mobil yang hendak masuk.
"Enggak, gue cuma sms lokasinya ajah sama kuda gue." Sahut Malik santai lalu memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya. "Gue mau nanya serius sama lo. Apa konsekuensi yang lo terima nantinya kalo lo berenti? Setau gue kata Pak Cik sekali masuk lo gak bakal bisa keluar lagi." Lanjut Malik raut wajahnya serius.
"Mungkin gue bakal mati. Atau mungkin gue bakal jadi orang paling dicari…"
"Gila lo! Bisa sesantai itu ngomong mati." Selak Malik.
"Semua orang bakal mati, Lik. Itu bukan suatu yang harus ditakutin. Mati itu hak!"
"..." Malik menggelengkan kepalanya seolah tidak habis pikir dengan gue.
"Makasih!" Sahut gue bergurau.
"Emang dasar orang gila, lo! By the way gue sebenernya kasian sama Pak Cik. Udah tangannya dibuntungin. Terus dia meninggalnya dibunuh begitu. Parah banget. Jujur sebenernya tau itu gue ciut sumpah. Sekejam itu dunia kita."
"That's why disini lo gak boleh salah. Zero mistake! Ada bos-bos disini yang sama sekali engga terima sedikitpun kesalahan."
"..." Malik terdiam.
"Tapi lo gak usah takut, lo udah satu step di depan. Dan lo juga gak usah khawatir. Walaupun gue nyerahin semua ini sama lo. Gue enggak lepas tangan gitu ajah. Gue bakal selalu ada di belakang lo."
"Tapi kenapa lo nyerahi semuanya sama gue gitu…"
"Suatu saat lo bakal paham, Lik. Lo harus perbesar lagi sudut penglihatan lo!"
Entah sudah berapa lama gue berbincang dengan Malik, perlahan minimarket ini semakin ramai. Satu persatu anak-anak sebaya kami mulai datang dan duduk-duduk di depan minimarket ini seperti apa yang Malik dan gue lakukan. Lalu di sela-sela obrolan kami, di seberang jalan, gue melihat ajudan Mbahnya Malik menghentikan motor RXZ modifikasi yang dikendarainya.
"Sumpah suaranya kesel banget gue dengernya!" Ucap gue pada Malik.
"Au tuh, padahal udah diomelin sama anak-anaknya Mbah gue. Tapi tetep ae batu." Sahut Malik.
"Lo nyuruh dia?" Tanya gue.
"..." Malik menganggukan kepala sambil mengeluarkan ponsel yang sebelumnya gue berikan.
"Lo mau ngapain?" Tanya gue.
"Telpon orangnya, bilang kalo yang jemput udah di tkp."
"..." Gue tertawa kecil.
"Kenapa lo ketawa."
"Gapape, tes ae telpon kaya bakal diangkat." Sahut gue.
Dan apa yang gue ucapkan terbukti, seseorang yang dihubungi Malik tidak menjawab panggilan telepon Malik. Bukan hanya satu atau dua kali, tapi bahkan sudah sejam dari pertama kali Malik mencoba menghubunginya tidak juga ada respon dari seseorang yang entah siapa. Selama satu jam itu gue hanya menertawai Malik yang sudah kesal karena berkali-kali dia ditelpon oleh orang yang disuruhnya—dia juga sudah kesal menunggu.
"Sebelum-sebelumnya emang kalo lo begini juga?" Tanya Malik.
"..." Gue hanya tertawa kecil sambil menyulut rokok lalu saat gue menghembuskan asapnya bersamaan ponsel Malik berdering.
"Siap… siap… siap bung… oke… langsung? Iya." Gue mendengar Malik merespon. "Taaaaaa****!!" Gerutu Malik setelah selesai dengan panggilan telepon itu.
"Kenapa lo?" Tanya gue.
"Bentar!" Malik menghubungi ajudan Mbahnya yang mungkin sudah matang tersorot sinar matahari. "Bang, itu di depan lo ada kardus, ambil ajah langsung bawa ke tempat biasa."
"..."
"Iyah itu barangnya, yaudah sikat. Tiati di jalannya." Lanjut Malik kemudian mengakhiri panggilan teleponnya. "See!? Barangnya dari tadi udah disitu. Sianjingnya dia gak ngasih tau ajah dari tadi." Ucap Malik geram.
"Hahahah. Begitu dah."
"Tawa lo monyet, udah tau bukannya bilang dari awal."
"Hahaha, gue tau bakalan lama. Tapi gue gak tau bolanya ada dimana. Mereka bisa naro dimana ajah di tempat-tempat yang enggak terduga. Emang begitu sistemnya."
"Berarti lo kemarenan juga begini terus dong."
"Hahaha." Gue hanya tertawa. "Terus dia minta angka berapa?" Tanya gue.
"Segini." Malik menunjukan nominalnya lewat kalkulator di ponselnya.
"Ohhh. Yaudah, selamat bekerja, deh." Ujar gue sambil menguhubungi supirnya Tante Elsa untuk menjemput gue kembali.
"Le, supir yang dari tadi nganter kite itu supir tante lo yang lo bilang?" Tanya Malik.
"Yoi dong!"
"Anj*ng orang kaya lo yee sekarang."
"Ihh parah! Banget! Hahahah."
"Sue bat lu! Siapa dah nama Tante lo?" Tanya Malik.
"Haaah lo mau ngelacak yee. Hahahaha"
"Penasaran ae gue…"
"Jangan suka fudul jadi orang, entar nyesel. Hahaha."
"Apaan fudul?" Tanya Malik.
"Mau tau urusan orang. Oh iye lupa gue mau kasih tau ini."
"Apaan?"
"Di sekolah lo yang baru nanti, lo bakalan punya kakak kelas, namanya Nata…"
"Temen lo?"
"..." Gue sedikit menggerakan pundak, "Yang jelas orangnya cukup nyebelin, senyebelin gue di sekolah, lebih kali. Tapi sebenermya dia asik. Baik juga. Tapiiiiiii! Ada baiknya lo ngejauh ajah dari dia."
"Kenapa?" Tanya Malik.
"Dia bakal jadi musuh yang enggak akan pernah bisa lo kalahin kalo lo milih musuhan sama dia. Lo mau ada pukul sama dia lo kalah! Lo mau adu otak… heeeeeh apalagi! Otak lo cuma seupil!"
"Ta*"
"Hahahah."
"Terus kalo gue milih buat temenan sama dia?" Tanya Malik.
"Kalo lo siap jadi nomor dua bahkan buat hidup lo sendiri, silahkan. Tapi saran gue mending gak usah! Lo temenan sama dia oke. Tapi gak usah terlalu deket, gak usah terlalu dalam atau…"
"Atau apa?"
"Intinya gue kenal lo. Gue kenal dia juga. Kalian berdua bukan dua tipe orang yang cocok buat duduk bareng sebagai temen."
"Hahah, lama-lama kek dukun lo!"
"Dukun yang kaya gue. Hahahaha. Yaudah lo mau balik bareng gue atau balik sendiri?" Tanya gue saat melihat mobil yang menjemput gue sudsh tiba.
"Duluan, deh. Gue nungguin Alo."
"Oh yaudah. Salam buat Alodya, yah. Bilangin gue kangen, hahaha."
"Ta*!" Malik terlihat cemburu.
"Hahahhaha."
Gue lalu masuk ke dalam mobil dan sekali lagi melihat Malik sebelum mobil melaju. Gue benar-benar khawatir Malik akan berteman dengan Nata nantinya. Sejujurnya bukan karena karakter mereka yang berbeda, tapi banyak hal yang mungkin akan menimbulkan percikan diantara mereka berdua jika mereka berdua berteman. Sejarah Negeri ini salah satunya.
"Pak, kita puter balik ajah, yah. Jemput orang dulu." Ucap gue pada supir yang mengendarai mobil ini.
"Siap, boss!"
Setelah memutar balik dan melaju beberapa puluh meter dari minimarket tempat sebelumnya gue berbincang dengan Malik. Gue melihat seorang anak muda berdiri di trotoar, gue langsung membuka pintu untuknya dan dia langsung masuk dengan cepat saat kecepatan laju mobil ini hampir mendekati nol yang kemudian kembali berakselerasi saat ia sudah masuk.
"Good job, Cel! Lo emang selalu bisa gue andelin." Ujar gue pada Excel, menyambutnya masuk ke dalam mobil gue.
"Gue masih deg-degan. Sumpah!" Sahut Excel. "Kenapa harus cara begini, sih? Kenapa enggak langsung tubrukan ajah kaya biasanya kalo gue jemput bola!?" Lanjut Excel sambil melepas jaketnya.
"Beda pemerintahan, beda peraturan! Ini udah bukan jamannya Opung atau Pak Tri. Kita gak bisa pake cara mereka berdua. Kuno! Lagian kalo pake cara mereka berdua Ale nanti bakalan tau kalo lo masih kerja sama gue."
"Iya bener."
"Lo juga harus udah mulai berani, Cel! Inget lo udah bukan kuda lo boss nya mereka! Lo punya orang yang bisa bantuin lo dalam kondisi apapun. Semuanya udah ada di hape yang gue kasih. Lo tinggal telpon ajah nomor-nomernya kalo lo butuh apa-apa."
"Iya, Le. Thanks banget lo udah…"
"Gue yang makasih sama lo, Cel. Udah jaga kepercayaan gue selama ini."
"Ohiya, Le. Gue mau tanya deh. Pak Tri sama Opung emang kemana?" Tanya Excel.
"Oh ya, Mas Wid. Saya lupa. Tadi Ibu bilang katanya besok dia mau ke Medan jenguk Opung di rumah sakit jadi enggak bisa anterin Mas Wid ke sekolah yang baru. Jadi kemungkinan besok saya lagi yang ditugasin buat nganter Mas Wid." Ucap supir yang mengendarai mobil ini.
"Iya, makasih, Pak." Sahut gue lalu kembali fokus pada Excel, "See!?"
"..." Excel menganggukan kepala.
"Mereka udah tua, Cel. Kasian kalo harus terus kerja. Udah waktunya mereka istirahat. Nikmatin hidup dengan penyakitnya.
"Hahaha, gila."
"Ohya gue lupa kasih tau lo. Lo kenal Mami, kan?" Tanya gue.
"Mami yang edeb di xxxxx?"
"Iya betul. Lo atur suplai ke dia, yah. Mulai sekarang dia pasien lo juga. Perlakuin sama kaya Malik sama Ale. Jangan diistimewain biar kate pasukannya banyak."
"Sip, santai boss!"
"Sama atu lagi."
"Apa?"
"Anaknya Mami cakep. Jangan lo pacarin!"
"Yee bangkek kirain apaan. Hahahaha."
###
Setelah mengantar Excel sampai kos kosan yang sengaja gue sewa untuk tempat singgah Excel, gue langsung kembali ke rumah. Gue kembali ke gedung sasana krida namun sayangnya sudah tidak ada orang di sana.
Gue pun langsung menghubungi Hendra untuk mengetahui posisinya karena gue juga tidak mendapati Hendra di rumahnya. Hendra memberitahu kalau dia sedang berada di rumahnya Ria bersama Tomo dan Dinda. Hendra pun menyuruh gue untuk kesana.
Tanpa berpikir panjang, gue langsung melangkah ke rumah Ria setelah Hendra memberi tahu letak rumahnya. Sesampainya di sana gue langsung disambut hangat dan pastinya beberapa pertanyaan mainstream "Lo dari mana?" Gue menjawab seadanya tentu bukan jawaban sebenarnya. Tapi gue merasa ada yang aneh, dengan situasi disini. Gue merasa ada yang mereka sembunyikan dari gue. Terlebih saat tiba-tiba Tomo mengajak Hendra untuk menemaninya membeli bakso untuk kami semua dan Kak Ria juga mengatakan kalau dia hendak mengambil laptop di rumah kakaknya yang berada di gang sebelah, mereka nampak sengaja memberikan ruang kepada gue dan Dinda.
"Din… diem ajah." Ucap gue saat hanya menyisakan gue dan Dinda di rumah Kak Ria.
"Hmmmmm." Sahut Dinda.
"Kamu marah?" Tanya gue.
"Kenapa harus marah?"
"Iyah, kenapa harus marah ya? Aku juga gak tau lagi kenapa? Tapi rasanya begitu, sih. Kamu kaya lagi marah. Hehehe." Sahut gue nyengir kuda lalu suasana menjadi hening dan entah mengapa gue tiba-tiba bingung mencari topik pembicaraan.
Gue lalu berdiri dari sofa yang gue duduki kemudian berjalan ke arah lemari kaca yang berisikan piala-piala yang pastinya untuk menunjukan apa-apa saja prestasi yang sudah dicapai oleh siapapun penghuni rumah ini.
"Kamu nyari apaan sih?" Tanya Dinda akhirnya membuka suara.
"Nyari topik pembicaraan nih. Kali ada disini gitu."
"Isshhh gak lucuuuu ah!" Sahut Dinda dan akhirnya gue melihat dia kembali tersenyum.
"Gitu dong senyum. Kan cakepnya maximal banget kalo senyum."
"Gombal!" Sahut Dinda kembali masam namun dia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, memberi kode agar gue duduk di sampingnya.
"Apa?" Tanya gue.
"Maafin aku yah, Wid." Ujar Dinda.
"Maaf untuk?"
"Maaf tadi aku bete sama kamu. Aku sadar harusnya aku gak boleh bete sama kamu. Apalagi marah…"
"Gak apa-apa, Dind…"
"Jangan gak apa-apa, Wid. Aku serius!"
"Aku juga serius, Din." Sahut gue sambil mengubah hadap ke arah Dinda lalu meraih telapak tangan kanannya. Dinda sedikit terkejut tapi dia tidak menghalaunya. "Din, aku gak tau ini bener apa engga. Tapi pasti kamu ngerasain, Dind. Akummmmmmm." Dinda membekap mulut gue dengan telapak tangan kirinya.
"NO! Stop it!" Ucap Dinda tegas "No… No… Jangan, Wid." Lanjut Dinda dan perlahan air mata menetes dari matanya.
"..." Gue terdiam tidak mengerti.
Gue mencoba melepaskan tangan Dinda, "Din, haakkuummmm." Dinda makin menguatkan tangannya untuk membekap mulut gue.
"Engga, Wid. Kamu jangan bilang itu!" Ucap Dinda lalu menangis dan karena dia menangis gue berhasil melepaskan tangannya dari mulut gue.
"Dind, kenapa?" Tanya gue.
"..." Sambil menangis Dinda menggelengkan kepalanya sementara gue menghalau air matanya jatuh ke tanah.
"Kamu baik, Wid. Baik banget! Tapi kamu gak boleh ngomong gitu!?" Ucap Dinda, dia berusaha menghentikan tangisnya.
"Kenapa, Dind?"
"Jangan Wid! Aku belom pernah tau kamu punya pacar apa engg…"
"Aku gak punya pacar, Dind. Lagian kalo aku punya pacar gak mungkin aku deketin kamu. Aku bukan cowo kaya begitu."
"..." Dinda menggelengkan kepala. "Kamu juga belom tau aku punya pacar atau engga!"
"..." Seketika gue terdiam dan mengerti apa yang terjadi.
"Aku juga bingung kenapa bisa, Wid. Bahkan kita belum saling nyimpen nomer masing-masing. Bahkan kita belum pernah tau nama tengah masing-masing. Aku juga enggak ngerti kenapa bisa. Tapi semua ini salah, Wid. Semua salah karena aku punya seseorang pada kenyataanya."
"..." Gue terdiam dan gue yakin mata gue berkaca-kaca.
"Maaf, Wid. Ini salah aku. Aku gak pernah bete sama kamu salah ngasih kucingnya Mbak Andin. Kemarin aku bete sama pacarku yang enggak bisa jemput aku."
"Haaahhh." Gue menghela nafas yang terasa agak sesak.
"Aku juga gak pernah nyangka kamu beneran serius mau gantiin kucingnya. Tapi sumpah bukan karena itu! Sumpah aku juga gak ngerti kenapa aku juga ada rasa sama kamu. Semua tiba-tiba dan… dan… dan… secepat itu datengnya. Aku juga gak ngerti kenapa. Tapi semuanya salah, Wid. Salah! Nyatanya aku masih baik-baik ajah sama pacar aku, gak ada alasan buat aku ninggalin dia."
"Haaaahhhh." Gue menghela nafas sambil mengusap wajah.
Semua baik-baik saja
Dan akan selalu baik-baik saja
Sampai aku kembali mengingat tentang dirimu
Segalanya turut kelabu
Dan akan selalu baik-baik saja
Sampai aku kembali mengingat tentang dirimu
Segalanya turut kelabu
...
End of book 3
"Pak, pelan-pelan." Ucap gue pada supir yang akan mengantar gue ke sekolah yang baru saat mobil hendak masuk ke jalan raya.
Gue melihat Dinda tengah berdiri di atas trotoar seperti sedang menunggu sesuatu tidak lama gue melihat seorang dengan pakaian SMA yang mengendarai motor matic berwarna putih berhenti di hadapan Dinda. Dan ia langsung naik membonceng pada motor itu.
Gue tidak mengerti kenapa rasanya begitu menyesakan dada saat melihat tangan Dinda melingkar di perut pengendara motor matic itu. Mungkin gue harus mengakui; gue yang awalnya berniat main-main justru harus mendapatkan rasa sakit yang bukan main.
Aku tidak mengerti apakah ini karma
Atau Semesta sedang menjaga,
Sampai tiba waktunya,
Sampai kita tahu maknanya.
Atau Semesta sedang menjaga,
Sampai tiba waktunya,
Sampai kita tahu maknanya.
...
Gue tiba di sekolah yang baru 60 menit melewati waktu seharusnya. Gue telat! Dan karena itu gue dipisahkan dari barisan peserta MOS yang lainnya. Seseorang kakak osis perempuan mencak-mencak marah bahkan sedikit memaki-maki. Gue sedikit tertawa karena memaklumi, "sok galak, biasa!" Ujar gue dalam hati.
Dari name tag yang tertera di dadanya, gue mengetahui kakak osis itu bernama (sebut saja) MUTIA. "NGELIATIN APA LO!? CABUL LO YE!" Bentaknya.
"..." gue tersenyum.
"PLAKKK!!" Tiba-tiba dia menampar gue dan mengundang perhatian yang lainnya.
"Nyun! Lo gila!? Kenapa, sih?" Tanya kakak osis yang lainnya menghampiri.
joyanwoto dan 27 lainnya memberi reputasi
28
Tutup
