- Beranda
- Stories from the Heart
Roda Kehidupan
...
TS
fthhnf
Roda Kehidupan

"Roda itu bernama kehidupan. Saat kita berada diatas kadang berputar sangat cepat, namun ketika kita berada dibawah roda itu terlalu lambat berputar kembali. Kamu tau kenapa? Karena kehidupan tak semudah mengayuh sepeda untuk tetap berjalan diatas aspal yang halus."
Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.
Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.
Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.
Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...
Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.
Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.
Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.
Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...
© Uhuk.. Wis keren? Sip mas! Oke.
Index Cerita:
Part 1 Aku dan Kalian
Part 2 Kaliurang Sore Itu
Part 3 Bella Namanya
Part 4 PHK Massal
Part 5 Warung Baru Ibu
Part 6 Bapak Semangatku
Ketahuan Bini
Part 7 Kak Siska Kenapa?
Part 8 Hape Baru
Part 9 Pelukan Hangat Kak Siska
Part 10 Pelangi Di Sekar Langit
Part 11 Cemburu, Bell?
Part 12 Kasihan Bapak
Part 13 Minuman Cinta
Part 14 Pekerjaan Pertama
Part 15 Pulau Dewata
Part 16 Tersenyum Kembali
Part 17 Mumi Sekolah
Part 18 Desember Terbaik
Part 19 Happy New Year
Part 20 Gosip Fara
Part 21 Konser Jikustik
Part 22 Maaf, Nov
Part 23 Si Gundul
Part 24 Sebuah Takdir
Part 25 Must On
Part 26 Kejutan
Part 27 Thanks, Nov!
Part 28 Ujian Nasional
Part 29 Janji Bella
Part 30 Babak Baru Kehidupan
Part 31 Vita!
Part 32 Pacar Cadangan
Part 33 Suroboyo Rek!
Part 34 Semalam Bersama Bella
Diubah oleh fthhnf 01-04-2023 20:40
junti27 dan 33 lainnya memberi reputasi
32
23K
434
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fthhnf
#31
12. Kasihan Bapak
Hari pun berganti, setelah kejadian di warung nasgor itu, Bella jadi makin perhatian sama aku. Aku sih seneng-seneng aja. Hari ini setelah pulang sekolah di hari pertama aku kelas 3, kulihat Ibu sedang duduk di kursi ruang tamu. Gk biasanya Ibu kayak gini, kayaknya lagi ada masalah. Daripada penasaran, aku tanyain aja deh...
"Kenapa Bu kok kayak lagi mikir..." Tanyaku lalu duduk disamping Ibu.
"Gk apa-apa Dit..." Ucap Ibuku bohong. Aku tahu pasti ada apa-apa. Tapi aku salut sama Ibu, menyembunyikan sesuatu yg sebenarnya berat dari anaknya. Mungkin gk mau anaknya mikir yg macam-macam.
"Gk papa tapi kok kayaknya sedih Buk?"
"...." Ibuku hanya diam lalu tersenyum seakan bilang. "Udah tenang aja..."
"Gk apa-apa Dit... Makan dulu sana!"
"Yaudah Buk kalo gitu, Adit kekamar dulu ya..."
"Iya..." Kata Ibu mengusap rambutku.
"Nggeh Buk..."
Selama aku makan aku kepikiram Ibu terus. Ada apa ya dengan Ibu? Gk biasanya Ibu seperti itu. Jangan-jangan memang ada masalah. Duh gawat, apa aku sms Ayah aja ya.. Perasaanku bener-bener gk enak.
To: Bapak
Pak, Ibu kenapa ya kok kayaknya lagi sedih..
Tak ada balasan dari Ayah. Akupun makin khawatir saja. Hingga sore hari Ayah gk balas sms-nya. Daripada kepikiran terus mending aku telepon aja lah.
"Nomor yg anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area, cobalah beberapa saat lagi..."
Ah sial kenapa gk aktif? Aku cek sms tadi ternyata juga pending. Hmm... Semoga gk ada apa-apa deh.
Malam hari aku masih kepikiran Ibu, daritadi Ibu juga gk semangat. Warung tetap buka seperti biasa, namun kulihat Ibu sering melamun.
To: Mbak Laras
Mbak lagi apa?
From: Mbak Laras
Tumben sms. Ada apa?
Entah kenapa aku malah sms Mbak Laras. Malam itu benar-benar gk tenang. Aku pikir Mbak Laras lah yg bisa nenangin aku.
"Gpp mbak, cuma gk enak aja perasaanku..." Balasku ke Mbak Laras.
"Lha emg kenapa?" Balas Mbak Laras lagi.
"Ibu daritadi murung mbak, tapi gk ngaku knp..."
"Oh yauda tak kesitu aja..."
Dan benar saja Mbak Laras bener-bener kerumah. Dia pura-pura beli sesuatu di warung. Mbak Laras terlihat ngobrol dulu sama Ibu, entah aku gk tau apa yg mereka omongin. Lama juga mereka ngobrol, ada sekitar 15 menit. Usai ngobrol sama Ibu, Mbak Laras nyamperin aku yg lagi di teras daritadi. "Udah tenang aja gk ada apa-apa kok..."
"Iya Mbak..."
"Yg jelas kamu tetep harus fokus sama sekolahmu..." Kata Mbak Laras menasehatiku.
"Emang Ibu kenapa to Mbak?"
"Gk tau juga sih, Budhe belum mau cerita juga... Tapi Mbak yakin gk masalah kok!" (Inget kan Mbak Laras ini kalo manggil Ibuku Budhe).
"....."
"Kamu jagain Ibumu makanya jangan maen aja!"
"Iya deh Mbak..."
Seperti biasa Mbak Laras banyak nasehatin aku inilah itulah udah kayak adiknya aja.
"Gatot tuh mbak dibilangin juga, dia yg ngajak maen terus, hehehe..."
"Iya nanti Mbak bilangin, kalian berdua itu sama aja!"
Setelah Mbak Laras pamit, aku bantuin Ibu menutup warung. Kemudian aku masuk ke kamar. Sebelum tidur aku masih kepikiran Ibu kenapa. Tapi aku ingat apa yg dibilang Mbak Laras tadi agar gk mikir macem-macem.
Keesokan harinya, seperti biasa hari ini aku bangun pagi, mandi, sarapan sebentar, lalu berangkat ke sekolah. Jujur, aku masih kepikiran Ibu kenapa. Tapi pagi ini Ibu sudah kembali seperti biasa, mungkin kemarin memang lagi galau aja beliau.
"Hey Nov, kamu kenapa?" Tanyaku ketika melihat Novi duduk di bangku pojok kelas. Wajahnya pucat, kepalanya ia senderkan di dinding yg ada di sampingnya.
"Gk tau nih..." Ucap Novi lemas.
"Kamu sakit? Ke UKS aja yuk!" Ajakku khawatir.
"Nanti aja deh... Si Prapto lagi aku mintain tolong beli obat, moga aja langsung sembuh..." Kata Novi masih lemas.
"Oh... Terus udah sarapan?"
"Belum..."
"Waduh, aku beliin bubur ayam dulu deh..." Kataku seraya meletakkan tas ditempat dudukku.
"Makasih ya Dit, ini duitnya..." Ucap Novi seraya mengulurkan tangan untuk memberikan uang.
"Udah-udah aku ada kok..." Balasku singkat menolak pemberian Novi dan langsung berjalan menuju tukang bubur ayam yg biasa mangkal di depan sekolah.
"...."
Beberapa saat kemudian, aku telah sampai di pangkalan tukang bubur itu. Lalu aku pesan seporsi, karena tak membawa mangkuk, akhirnya aku dipinjami oleh si penjual yg ngebolehin mangkuk nya aku bawa masuk ke kelas. Kemudian setelah membayar, dengan hati-hati kubawa semangkuk bubur ini menuju kelas.
"Setdah tu anak mana sih? Udah ilang aja!" Gumamku sendirian melihat Novi tak ada di tempat duduknya.
"Woe Dit! Itu buat Novi kan? Tuh dia di UKS!" Seru Firman, teman sekelasku.
"Ok Man!"
Tanpa pikir panjang, aku berjalan menuju UKS untuk memberikan bubur yg panas ini ke sahabat terbaikku dan berharap semoga ia cepat sembuh.
Sesampainya di UKS, kulihat Vita tengah memberikan minyak angin di kepala Novi, dan Prapto sibuk mencari sesuatu di kotak P3K.
"Woe... Lama amat kamu! Sini buburnya!" Kata Vita ketika melihat kedatanganku.
"Antre! Jadi ya lama..." Ucapku lalu kuletakkan bubur ini di meja yg ada disamping tempat tidur. "Tadi gk mau ke UKS, sekarang udah disini aja..." Keluhku.
"....."
"Yaudah dimakan dulu Nov ini..." Ucap Vita halus mengambil mangkuk di meja.
"...." Novipun mengangkat tubuhnya berusaha untuk duduk.
"Su mending dianter pulang aja deh..." Kataku ke Prapto.
"Lhah aku gk ada motor... Kamu bawa?"
"Bawa to biasa..."
"Yowis sana anterin balik!" Kata Prapto.
Setelah diskusi sebentar sama Prapto untuk memutuskan siapa yg mengantar Novi, akhirnya disepakati aku yg meninggalkan sekolah di jam pelajaran. Seneng sih, jadi gk ikut pelajaran awal deh.
Selang beberapa menit kemudian, kuantar Novi pulang ke rumahnya. Kujalankan hati-hati kuda besi ini agar Novi nyaman duduk di boncengan belakang.
"Nov... Nov..." Panggilku.
"Iya..."
"Langsung pulang atau ke dokter dulu ini?" Tanyaku sambil mengendarai motor.
"Pulang dulu aja Dit, lagian belum ada yg buka dokter jam segini..."
"Oh ok..." Jawabku singkat seraya membelokkan motor ke arah kanan.
Tak lama kemudian sampailah kami di rumah nya, kupencet Bel yg ada di pintu gerbang. Beberapa saat kemudian terlihat satpam rumah Novi berlari kearah kami dan membuka pintu gerbang.
"Mbak Novi Kenapa?" Tanya Satpam itu.
"Gk enak badan..." Jawab Novi singkat. "Mamah Papah udah pergi?" Imbuh Novi.
"Udah Mbak..."
"...."
"Yaudah Nov aku balik ke sekolah dulu ya..." Kataku berpamitan.
"Gk disini dulu Dit?" Tawar Novi.
"Gk deh Nov, kamu istirahat aja..."
"Gk papa kok Dit, beneran..."
"Enggak Nov, nanti aja pulang sekolah deh..."
"Emm... Yaudah kalo gitu makasih banget ya..."
"Iya Nov, cepet sembuh ya..." Kataku, lalu kunaiki kembali motor ini dan kujalankan santai menuju sekolah.
Akhirnya aku kembali lagi ke sekolah untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Tapi lumayan deh jadi gk ikut pelajaran pertama hari ini.
---
Beberapa hari kemudian Novi belum juga berangkat ke sekolah. Aku sms tapi dia selalu balas kalo sudah baikan. Karena penasaran dan cukup khawatir juga, aku sama Prapto berinisiatif nengokin dia.
Usai pulang sekolah, sampailah kami di pintu gerbang rumah Novi. Karena sudah kenal sama satpam rumahnya, kami dipersilahkan masuk.
Bu Sri pembantu Novi yg membuka pintu, katanya Novi lagi nonton tv di lantai atas, dia udah sehat tapi gk mau sekolah. Kenapa lagi tu anak.
Kami jalan menaiki tangga menuju lantai atas, seperti istana rumah Novi ini. Sebelas-duabelas deh sama rumah Kak Siska. Duh jadi keinget Kak Siska malahan, lagi apa ya dia?
"Woe sialan, asik bener nonton tv!" Ocehku ketika melihat Novi asik slonjoran di depan tv.
"Heh kalian udah disini aja..."
"Tak kiro mati koe Nov... (Aku kira mampus kamu Nov)" Kata Prapto slengekan.
"Karepmu Prap!" (Terserah kamu deh Prap!)" Timpal Novi.
"Kenapa gk masuk sekolah?" Tanyaku seraya duduk di sofa besar depan tv.
"Males aku..."
"Gk dimarahin orang tuamu?"
"Nov apaan ni?" Tanya Prapto yg tiba-tiba udah bawa minuman ditangannya.
"Jus semangka itu, Ambil dua Prap buat Adit sekalian!" Suruh Novi ke Prapto yg udah buka kulkas aja.
"Heem..."
"Heh Nov!" Seruku.
"Apaan?"
"Yee sial, gk dimarahin orang tuamu bolos gini?"
"Justru itu!"
"Justru itu gimana maksudnya?"
"Pengen aku sekali-kali dimarahin!" Kata Novi aneh.
"...."
"Mereka sibuk terus sampe lupa punya anak segede ini..." Imbuh Novi kemudian.
"Terus kamu pengen dimarahin gitu?"
"Iya... Itu tandanya mereka masih sayang kan sama aku?"
"Taudeh, aneh kamu Nov..."
"Hmm..."
"Masuk lah besok, sepi gk ada kamu di kelas!"
"Iya Nov masuk ya besok, gk ada yg nraktir aku lagi..." Oceh Prapto ikut nimbrung.
"Lihat besok deh..."
Menurut Novi, orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing. Walaupun hidup berkecukupan, tapi Novi merasakan kurangnya kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Kami ngobrol lama waktu itu. Setelah kami bujuk-bujuk akhirnya Novi pun janji mau sekolah lagi besok.
Tak terasa hari semakin sore. Karena takut dimarahin Ibu, aku dan Prapto pun pamit pulang. Novi nganter sampai pintu depan.
"Yaudah pulang dulu yo Nov kita..."
"Yowis ati-ati..."
Gerbang pun dibuka dan kami meninggalkan rumah Novi. Sebelum pulang aku nganterin si kunyuk satu ini dulu ke kosnya. Setelah itu barulah aku pulang.
Sesampainya di depan rumah kulihat ada motor f1zR parkir di halaman. Kayak kenal motornya. Nampak juga ada seseorang yg sedang ngobrol sama Ibu di teras. Njiir Kak Fara, ngapain dia kesini?
"Kak..."
"Eh Adit..."
"Yauda Ibu tinggal dulu ya nduk..."
Kemudian aku duduk di kursi teras depan Kak Fara. Rambutnya yg terurai seakan menambah kesan dewasa.
"Baru pulang Dit..." Ucap Kak Fara memecah lamunanku.
"Eh iya Kak..."
"Panggil Fara aja, jangan pakai Kak... Kayak pramuka aja..." Pintanya.
"Iya deh..."
"Ngomong-ngomomg apa kabar Dit?" Tanya Kak Fara, sori Fara maksudnya.
"Baik... kamu sendiri?"
"Baik juga Far..." Ucapku agak kikuk. "Gimana kuliah?" Imbuhku basa-basi.
"Biasa aja sih, enakan SMA kali..."
"...."
"Tau rumahku dari siapa Far?"
"Lhah desa kita sebelahan ini, tinggal tanya dikit udah nemu ..."
"Oh... Ngomong-ngomong ada apa nih?"
"Emm... cuma mampir aja kok..." Jawab Fara basa-basi.
"Oh... Sering-sering aja gk papa kalo gitu, hehe..." Kataku juga basa-basi.
"..."
Kami ngobrol banyak waktu itu, Fara banyak menceritakan lingkungan kampusnya yg baru. Tak terasa waktu pun menjadi sore.
"Dit..."
"Iya Far, kenapa?"
"Emm... Gk ada yg marah kan kalo aku maen ke rumahmu gini?" Pertanyaan aneh dari Fara muncul. Aku paham apa maksudnya.
"Gk lah, tadi kan aku bilang sering-sering kesini gk apa-apa... Palingan Ibuku tuh yg marah kalo kamu kesini nya tengah malem... Hahaha..."
"Hehehe... Emm.. Kemarin pacar kamu ya?"
"Yg di nasgor Pak Pri itu?"
"Iya..."
"Bukan..." Jawabku.
"Hehe... Yauda kalo gitu, makasih ya..." Ucap Fara tersenyum manis.
"Makasih terus Far..."
"Hehehe... Yauda aku pulang dulu ya, udah sore..."
"Iya Far... Hati-hati ya..."
Kemudian Fara pun pamit ke Ibu lalu pulang, cengar-cengir aja dia gk ngerti kenapa. Aku nganter Fara sampe depan motornya persis.
"Trreett... teerrt..." suara motor f1zR nyaring ditelinga. "Duluan ya Dit..."
---
Disuatu malam...
Aku duduk diruang tamu bersama Ibu. Akhir-akhir ini Ibu memang terlihat beda. Walaupun tak menjelaskan kepadaku yg sebenarnya, namun aku merasakan sesuatu yg aneh. Hingga akhirnya....
"Dit... Ibu mau ngomong sesuatu..."
"Iya Bu... Pripun? (Kenapa Bu?)"
"Bapakmu disana lagi kena musibah..."
"Hah??" Sumpah aku kaget waktu Ibu bicara. "Ada apa Bu Bapak?" Tanyaku panik.
"Bapak baik-baik aja kok, tapi Bapakmu kena tipu disana..."
"Kok bisa Buk?" Tanyaku masih panik.
Ternyata yg membuat Ibu akhir-akhir ini sering melamun dan murung karena Ayah kena tipu di Jakarta. Menurut penjelasan Ibu, Ayah dipercaya bosnya memegang uang gaji untuk karyawan. Namun pas mau nyerahin gaji itu ke karyawan lain, uang itu malah hilang beberapa juta dibawa lari temennya sendiri. Intinya seperti itu.
"Dit..."
"Iya Buk..."
"Motor nya Ibu jual dulu gk apa-apa? Buat tambahan ganti rugi Bapak disana..."
"Iya Buk gk papa kok..." Ucapku sedih. Bukan sedih karena motor mau dijual, tapi sedih memikirkan nasib Ayah bagaimana di sana.
"Ibu juga udah pinjem duit Paklikmu kemarin..."
"Terus Bapak gimana Buk?"
"Bapak juga lagi cari tambahan buat ganti rugi, sekarang Bapak tinggal di rumah temen Bapak yg ada disana..."
Aku shock banget, jujur aku merasa bersalah karena baru tau apa yg terjadi sebenarnya di dalam keluarga ini. Aku gk tau ternyata roda sepeda bernama keluarga yg Ayah kayuh saat ini sedang melewati aspal yg bergelombang.
"Sementara ini uang sakumu Ibu kurangin ya Dit... Ibu harus berhemat, pemasukan warung jelas gk cukup buat kita hidup..." Ucap Ibu menjelaskan.
"Iya Bu..." Kataku paham.
"Maafin Ibu ya Dit..." Kata Ibuku sedikit meneteskan air mata lalu memelukku.
"...."
Roda memang terus berputar, dalam waktu yg singkat saja kami harus berada di posisi bawah lagi. Semoga Tuhan selalu melindungi keluarga ini, doaku.
"Kenapa Bu kok kayak lagi mikir..." Tanyaku lalu duduk disamping Ibu.
"Gk apa-apa Dit..." Ucap Ibuku bohong. Aku tahu pasti ada apa-apa. Tapi aku salut sama Ibu, menyembunyikan sesuatu yg sebenarnya berat dari anaknya. Mungkin gk mau anaknya mikir yg macam-macam.
"Gk papa tapi kok kayaknya sedih Buk?"
"...." Ibuku hanya diam lalu tersenyum seakan bilang. "Udah tenang aja..."
"Gk apa-apa Dit... Makan dulu sana!"
"Yaudah Buk kalo gitu, Adit kekamar dulu ya..."
"Iya..." Kata Ibu mengusap rambutku.
"Nggeh Buk..."
Selama aku makan aku kepikiram Ibu terus. Ada apa ya dengan Ibu? Gk biasanya Ibu seperti itu. Jangan-jangan memang ada masalah. Duh gawat, apa aku sms Ayah aja ya.. Perasaanku bener-bener gk enak.
To: Bapak
Pak, Ibu kenapa ya kok kayaknya lagi sedih..
Tak ada balasan dari Ayah. Akupun makin khawatir saja. Hingga sore hari Ayah gk balas sms-nya. Daripada kepikiran terus mending aku telepon aja lah.
"Nomor yg anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area, cobalah beberapa saat lagi..."
Ah sial kenapa gk aktif? Aku cek sms tadi ternyata juga pending. Hmm... Semoga gk ada apa-apa deh.
Malam hari aku masih kepikiran Ibu, daritadi Ibu juga gk semangat. Warung tetap buka seperti biasa, namun kulihat Ibu sering melamun.
To: Mbak Laras
Mbak lagi apa?
From: Mbak Laras
Tumben sms. Ada apa?
Entah kenapa aku malah sms Mbak Laras. Malam itu benar-benar gk tenang. Aku pikir Mbak Laras lah yg bisa nenangin aku.
"Gpp mbak, cuma gk enak aja perasaanku..." Balasku ke Mbak Laras.
"Lha emg kenapa?" Balas Mbak Laras lagi.
"Ibu daritadi murung mbak, tapi gk ngaku knp..."
"Oh yauda tak kesitu aja..."
Dan benar saja Mbak Laras bener-bener kerumah. Dia pura-pura beli sesuatu di warung. Mbak Laras terlihat ngobrol dulu sama Ibu, entah aku gk tau apa yg mereka omongin. Lama juga mereka ngobrol, ada sekitar 15 menit. Usai ngobrol sama Ibu, Mbak Laras nyamperin aku yg lagi di teras daritadi. "Udah tenang aja gk ada apa-apa kok..."
"Iya Mbak..."
"Yg jelas kamu tetep harus fokus sama sekolahmu..." Kata Mbak Laras menasehatiku.
"Emang Ibu kenapa to Mbak?"
"Gk tau juga sih, Budhe belum mau cerita juga... Tapi Mbak yakin gk masalah kok!" (Inget kan Mbak Laras ini kalo manggil Ibuku Budhe).
"....."
"Kamu jagain Ibumu makanya jangan maen aja!"
"Iya deh Mbak..."
Seperti biasa Mbak Laras banyak nasehatin aku inilah itulah udah kayak adiknya aja.
"Gatot tuh mbak dibilangin juga, dia yg ngajak maen terus, hehehe..."
"Iya nanti Mbak bilangin, kalian berdua itu sama aja!"
Setelah Mbak Laras pamit, aku bantuin Ibu menutup warung. Kemudian aku masuk ke kamar. Sebelum tidur aku masih kepikiran Ibu kenapa. Tapi aku ingat apa yg dibilang Mbak Laras tadi agar gk mikir macem-macem.
Keesokan harinya, seperti biasa hari ini aku bangun pagi, mandi, sarapan sebentar, lalu berangkat ke sekolah. Jujur, aku masih kepikiran Ibu kenapa. Tapi pagi ini Ibu sudah kembali seperti biasa, mungkin kemarin memang lagi galau aja beliau.
"Hey Nov, kamu kenapa?" Tanyaku ketika melihat Novi duduk di bangku pojok kelas. Wajahnya pucat, kepalanya ia senderkan di dinding yg ada di sampingnya.
"Gk tau nih..." Ucap Novi lemas.
"Kamu sakit? Ke UKS aja yuk!" Ajakku khawatir.
"Nanti aja deh... Si Prapto lagi aku mintain tolong beli obat, moga aja langsung sembuh..." Kata Novi masih lemas.
"Oh... Terus udah sarapan?"
"Belum..."
"Waduh, aku beliin bubur ayam dulu deh..." Kataku seraya meletakkan tas ditempat dudukku.
"Makasih ya Dit, ini duitnya..." Ucap Novi seraya mengulurkan tangan untuk memberikan uang.
"Udah-udah aku ada kok..." Balasku singkat menolak pemberian Novi dan langsung berjalan menuju tukang bubur ayam yg biasa mangkal di depan sekolah.
"...."
Beberapa saat kemudian, aku telah sampai di pangkalan tukang bubur itu. Lalu aku pesan seporsi, karena tak membawa mangkuk, akhirnya aku dipinjami oleh si penjual yg ngebolehin mangkuk nya aku bawa masuk ke kelas. Kemudian setelah membayar, dengan hati-hati kubawa semangkuk bubur ini menuju kelas.
"Setdah tu anak mana sih? Udah ilang aja!" Gumamku sendirian melihat Novi tak ada di tempat duduknya.
"Woe Dit! Itu buat Novi kan? Tuh dia di UKS!" Seru Firman, teman sekelasku.
"Ok Man!"
Tanpa pikir panjang, aku berjalan menuju UKS untuk memberikan bubur yg panas ini ke sahabat terbaikku dan berharap semoga ia cepat sembuh.
Sesampainya di UKS, kulihat Vita tengah memberikan minyak angin di kepala Novi, dan Prapto sibuk mencari sesuatu di kotak P3K.
"Woe... Lama amat kamu! Sini buburnya!" Kata Vita ketika melihat kedatanganku.
"Antre! Jadi ya lama..." Ucapku lalu kuletakkan bubur ini di meja yg ada disamping tempat tidur. "Tadi gk mau ke UKS, sekarang udah disini aja..." Keluhku.
"....."
"Yaudah dimakan dulu Nov ini..." Ucap Vita halus mengambil mangkuk di meja.
"...." Novipun mengangkat tubuhnya berusaha untuk duduk.
"Su mending dianter pulang aja deh..." Kataku ke Prapto.
"Lhah aku gk ada motor... Kamu bawa?"
"Bawa to biasa..."
"Yowis sana anterin balik!" Kata Prapto.
Setelah diskusi sebentar sama Prapto untuk memutuskan siapa yg mengantar Novi, akhirnya disepakati aku yg meninggalkan sekolah di jam pelajaran. Seneng sih, jadi gk ikut pelajaran awal deh.
Selang beberapa menit kemudian, kuantar Novi pulang ke rumahnya. Kujalankan hati-hati kuda besi ini agar Novi nyaman duduk di boncengan belakang.
"Nov... Nov..." Panggilku.
"Iya..."
"Langsung pulang atau ke dokter dulu ini?" Tanyaku sambil mengendarai motor.
"Pulang dulu aja Dit, lagian belum ada yg buka dokter jam segini..."
"Oh ok..." Jawabku singkat seraya membelokkan motor ke arah kanan.
Tak lama kemudian sampailah kami di rumah nya, kupencet Bel yg ada di pintu gerbang. Beberapa saat kemudian terlihat satpam rumah Novi berlari kearah kami dan membuka pintu gerbang.
"Mbak Novi Kenapa?" Tanya Satpam itu.
"Gk enak badan..." Jawab Novi singkat. "Mamah Papah udah pergi?" Imbuh Novi.
"Udah Mbak..."
"...."
"Yaudah Nov aku balik ke sekolah dulu ya..." Kataku berpamitan.
"Gk disini dulu Dit?" Tawar Novi.
"Gk deh Nov, kamu istirahat aja..."
"Gk papa kok Dit, beneran..."
"Enggak Nov, nanti aja pulang sekolah deh..."
"Emm... Yaudah kalo gitu makasih banget ya..."
"Iya Nov, cepet sembuh ya..." Kataku, lalu kunaiki kembali motor ini dan kujalankan santai menuju sekolah.
Akhirnya aku kembali lagi ke sekolah untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Tapi lumayan deh jadi gk ikut pelajaran pertama hari ini.
---
Beberapa hari kemudian Novi belum juga berangkat ke sekolah. Aku sms tapi dia selalu balas kalo sudah baikan. Karena penasaran dan cukup khawatir juga, aku sama Prapto berinisiatif nengokin dia.
Usai pulang sekolah, sampailah kami di pintu gerbang rumah Novi. Karena sudah kenal sama satpam rumahnya, kami dipersilahkan masuk.
Bu Sri pembantu Novi yg membuka pintu, katanya Novi lagi nonton tv di lantai atas, dia udah sehat tapi gk mau sekolah. Kenapa lagi tu anak.
Kami jalan menaiki tangga menuju lantai atas, seperti istana rumah Novi ini. Sebelas-duabelas deh sama rumah Kak Siska. Duh jadi keinget Kak Siska malahan, lagi apa ya dia?
"Woe sialan, asik bener nonton tv!" Ocehku ketika melihat Novi asik slonjoran di depan tv.
"Heh kalian udah disini aja..."
"Tak kiro mati koe Nov... (Aku kira mampus kamu Nov)" Kata Prapto slengekan.
"Karepmu Prap!" (Terserah kamu deh Prap!)" Timpal Novi.
"Kenapa gk masuk sekolah?" Tanyaku seraya duduk di sofa besar depan tv.
"Males aku..."
"Gk dimarahin orang tuamu?"
"Nov apaan ni?" Tanya Prapto yg tiba-tiba udah bawa minuman ditangannya.
"Jus semangka itu, Ambil dua Prap buat Adit sekalian!" Suruh Novi ke Prapto yg udah buka kulkas aja.
"Heem..."
"Heh Nov!" Seruku.
"Apaan?"
"Yee sial, gk dimarahin orang tuamu bolos gini?"
"Justru itu!"
"Justru itu gimana maksudnya?"
"Pengen aku sekali-kali dimarahin!" Kata Novi aneh.
"...."
"Mereka sibuk terus sampe lupa punya anak segede ini..." Imbuh Novi kemudian.
"Terus kamu pengen dimarahin gitu?"
"Iya... Itu tandanya mereka masih sayang kan sama aku?"
"Taudeh, aneh kamu Nov..."
"Hmm..."
"Masuk lah besok, sepi gk ada kamu di kelas!"
"Iya Nov masuk ya besok, gk ada yg nraktir aku lagi..." Oceh Prapto ikut nimbrung.
"Lihat besok deh..."
Menurut Novi, orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing. Walaupun hidup berkecukupan, tapi Novi merasakan kurangnya kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Kami ngobrol lama waktu itu. Setelah kami bujuk-bujuk akhirnya Novi pun janji mau sekolah lagi besok.
Tak terasa hari semakin sore. Karena takut dimarahin Ibu, aku dan Prapto pun pamit pulang. Novi nganter sampai pintu depan.
"Yaudah pulang dulu yo Nov kita..."
"Yowis ati-ati..."
Gerbang pun dibuka dan kami meninggalkan rumah Novi. Sebelum pulang aku nganterin si kunyuk satu ini dulu ke kosnya. Setelah itu barulah aku pulang.
Sesampainya di depan rumah kulihat ada motor f1zR parkir di halaman. Kayak kenal motornya. Nampak juga ada seseorang yg sedang ngobrol sama Ibu di teras. Njiir Kak Fara, ngapain dia kesini?
"Kak..."
"Eh Adit..."
"Yauda Ibu tinggal dulu ya nduk..."
Kemudian aku duduk di kursi teras depan Kak Fara. Rambutnya yg terurai seakan menambah kesan dewasa.
"Baru pulang Dit..." Ucap Kak Fara memecah lamunanku.
"Eh iya Kak..."
"Panggil Fara aja, jangan pakai Kak... Kayak pramuka aja..." Pintanya.
"Iya deh..."
"Ngomong-ngomomg apa kabar Dit?" Tanya Kak Fara, sori Fara maksudnya.
"Baik... kamu sendiri?"
"Baik juga Far..." Ucapku agak kikuk. "Gimana kuliah?" Imbuhku basa-basi.
"Biasa aja sih, enakan SMA kali..."
"...."
"Tau rumahku dari siapa Far?"
"Lhah desa kita sebelahan ini, tinggal tanya dikit udah nemu ..."
"Oh... Ngomong-ngomong ada apa nih?"
"Emm... cuma mampir aja kok..." Jawab Fara basa-basi.
"Oh... Sering-sering aja gk papa kalo gitu, hehe..." Kataku juga basa-basi.
"..."
Kami ngobrol banyak waktu itu, Fara banyak menceritakan lingkungan kampusnya yg baru. Tak terasa waktu pun menjadi sore.
"Dit..."
"Iya Far, kenapa?"
"Emm... Gk ada yg marah kan kalo aku maen ke rumahmu gini?" Pertanyaan aneh dari Fara muncul. Aku paham apa maksudnya.
"Gk lah, tadi kan aku bilang sering-sering kesini gk apa-apa... Palingan Ibuku tuh yg marah kalo kamu kesini nya tengah malem... Hahaha..."
"Hehehe... Emm.. Kemarin pacar kamu ya?"
"Yg di nasgor Pak Pri itu?"
"Iya..."
"Bukan..." Jawabku.
"Hehe... Yauda kalo gitu, makasih ya..." Ucap Fara tersenyum manis.
"Makasih terus Far..."
"Hehehe... Yauda aku pulang dulu ya, udah sore..."
"Iya Far... Hati-hati ya..."
Kemudian Fara pun pamit ke Ibu lalu pulang, cengar-cengir aja dia gk ngerti kenapa. Aku nganter Fara sampe depan motornya persis.
"Trreett... teerrt..." suara motor f1zR nyaring ditelinga. "Duluan ya Dit..."
---
Disuatu malam...
Aku duduk diruang tamu bersama Ibu. Akhir-akhir ini Ibu memang terlihat beda. Walaupun tak menjelaskan kepadaku yg sebenarnya, namun aku merasakan sesuatu yg aneh. Hingga akhirnya....
"Dit... Ibu mau ngomong sesuatu..."
"Iya Bu... Pripun? (Kenapa Bu?)"
"Bapakmu disana lagi kena musibah..."
"Hah??" Sumpah aku kaget waktu Ibu bicara. "Ada apa Bu Bapak?" Tanyaku panik.
"Bapak baik-baik aja kok, tapi Bapakmu kena tipu disana..."
"Kok bisa Buk?" Tanyaku masih panik.
Ternyata yg membuat Ibu akhir-akhir ini sering melamun dan murung karena Ayah kena tipu di Jakarta. Menurut penjelasan Ibu, Ayah dipercaya bosnya memegang uang gaji untuk karyawan. Namun pas mau nyerahin gaji itu ke karyawan lain, uang itu malah hilang beberapa juta dibawa lari temennya sendiri. Intinya seperti itu.
"Dit..."
"Iya Buk..."
"Motor nya Ibu jual dulu gk apa-apa? Buat tambahan ganti rugi Bapak disana..."
"Iya Buk gk papa kok..." Ucapku sedih. Bukan sedih karena motor mau dijual, tapi sedih memikirkan nasib Ayah bagaimana di sana.
"Ibu juga udah pinjem duit Paklikmu kemarin..."
"Terus Bapak gimana Buk?"
"Bapak juga lagi cari tambahan buat ganti rugi, sekarang Bapak tinggal di rumah temen Bapak yg ada disana..."
Aku shock banget, jujur aku merasa bersalah karena baru tau apa yg terjadi sebenarnya di dalam keluarga ini. Aku gk tau ternyata roda sepeda bernama keluarga yg Ayah kayuh saat ini sedang melewati aspal yg bergelombang.
"Sementara ini uang sakumu Ibu kurangin ya Dit... Ibu harus berhemat, pemasukan warung jelas gk cukup buat kita hidup..." Ucap Ibu menjelaskan.
"Iya Bu..." Kataku paham.
"Maafin Ibu ya Dit..." Kata Ibuku sedikit meneteskan air mata lalu memelukku.
"...."
Roda memang terus berputar, dalam waktu yg singkat saja kami harus berada di posisi bawah lagi. Semoga Tuhan selalu melindungi keluarga ini, doaku.
njek.leh dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup