Kaskus

Story

fthhnfAvatar border
TS
fthhnf
Roda Kehidupan
Roda Kehidupan


"Roda itu bernama kehidupan. Saat kita berada diatas kadang berputar sangat cepat, namun ketika kita berada dibawah roda itu terlalu lambat berputar kembali. Kamu tau kenapa? Karena kehidupan tak semudah mengayuh sepeda untuk tetap berjalan diatas aspal yang halus.​"

Sebelumnya mohon maaf dan mohon izin untuk memberanikan diri menuliskan sebuah catatan sederhana seorang lelaki yang hidup di sebuah kota kecil namun sangat nyaman, Magelang.

Gue nulis ini sebagai catatan dan memory gue untuk melukiskan tentang kehidupan yang seperti roda. Silahkan berpendapat cerita ini true story atau fiktif belaka, disini gue hanya menulis sebuah roda kehidupan.

Gue sadar tulisan gue masih acak-acakan. Mohon maaf jika terdapat banyak umpatan kasar dalam bahasa jawa dan beberapa pikiran liar yang terkandung dalam cerita. Semoga bisa disikapi secara bijak. Cerita ini dimulai tahun 2003 anggap aja tahun segitu gw berada di bangku SMA. Nama tokoh dan tempat instansi juga sengaja disamarkan atau gue ganti demi kebaikan kita semua.

Ah... kurasa cukup. Dan kamu akan tetap menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan...


© Uhuk.. Wis keren? Sip mas! Oke.


Index Cerita:

Part 1 Aku dan Kalian

Part 2 Kaliurang Sore Itu

Part 3 Bella Namanya

Part 4 PHK Massal

Part 5 Warung Baru Ibu

Part 6 Bapak Semangatku

Ketahuan Bini

Part 7 Kak Siska Kenapa?

Part 8 Hape Baru

Part 9 Pelukan Hangat Kak Siska

Part 10 Pelangi Di Sekar Langit

Part 11 Cemburu, Bell?

Part 12 Kasihan Bapak

Part 13 Minuman Cinta

Part 14 Pekerjaan Pertama

Part 15 Pulau Dewata

Part 16 Tersenyum Kembali

Part 17 Mumi Sekolah

Part 18 Desember Terbaik

Part 19 Happy New Year

Part 20 Gosip Fara

Part 21 Konser Jikustik

Part 22 Maaf, Nov

Part 23 Si Gundul

Part 24 Sebuah Takdir

Part 25 Must On

Part 26 Kejutan

Part 27 Thanks, Nov!

Part 28 Ujian Nasional

Part 29 Janji Bella

Part 30 Babak Baru Kehidupan

Part 31 Vita!

Part 32 Pacar Cadangan

Part 33 Suroboyo Rek!

Part 34 Semalam Bersama Bella
Diubah oleh fthhnf 01-04-2023 20:40
custinayulia645Avatar border
fhy544Avatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 33 lainnya memberi reputasi
32
22.9K
434
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
fthhnfAvatar border
TS
fthhnf
#30
11. Cemburu, Bell?
"Gimana liburannya Dit" Tanya Novi kepadaku di telepon.

"Emm... Dirumah aja, kamu masih di Surabaya?"

"Masih.." Jawab Novi. "Eh Prapto masih di Jogja?" Tanya Novi kemudian.

"Iya masih di Jogja dia, buruan balik deh Nov..."

"Minggu depan kayaknya Dit..."

"Bosan banget libruan ini Nov gila!" Keluhku.

"Lha kan ada Bella... Bisa sepuasnya tuh kalian maen..." Ucap Novi.

"Dia lagi di Semarang..." Jawabku lesu.

"Hahaha... Kasihan. Eh ngomong-ngomong belum kamu tembak juga Dit?" Tanya Novi lagi.

"..." Entah kenapa jantungku seperti berhenti berdetak. Iya... Aku belum nembak Bella. "Heeehh kok malah diem aja sih!" Seru Novi mengagetkanku.

"Emmm... Aku gk berani sih Nov.."

"Kenapa?"

"Gk tau... Takut dia nolak, takut aja nantinya dia berubah setelah aku nembak..."

"Bukannya kalian udah deket banget ya? Emm... Menurutku sih dia juga punya perasaan yg sama kok kayak kamu. Itu aku simpulin setelah denger ceritamu..."

"Iya sih, tapi gimana ya..."

"Harusnya kamu tuh bisa baca perasaan Bella gimana ke kamu..."

"Emang kamu tau Nov?"

"Orang normal juga tau kali gimana Bella ke kamu, masa sih kamu gk nangkep sinyal itu?"

"Terus menurutmu aku kudu pie Nov?"

"Yaelah Dit... Plis deh, jangan bego-bego banget!"

"....."

"Mau? Kejadian kayak Kak Siska kamu rasain lagi?" Ucap Novi menasehatiku.

Aku memang cerita ke Novi kalo aku sedih banget saat Kak Siska pergi. Novipun paham aku dan Kak Siska sebenernya saling suka, tapi emang akunya aja yg gk peka atau bego mungkin. Duh Kak Siska, lagi apa ya dia.

"Itu juga yg jadi pikiranku Nov..."

"Maksudnya?"

"Jujur aja, aku masih ngarepin Kak Siska..."

"...." Kini Novi diam dalam teleponnya.

"Dia katanya mau balik kok..." Tambahku kemudian.

"Terus persaan kamu ke Bella sebenernya tuh gimana?"

"Aku juga bingung... Tapi aku nyaman aja sama dia..."

"Cinta?"

"Kayaknya sih iya Nov..."

"Kok kayaknya??"

"Ya gimana duh bingung juga ngejelasinnya..."

"Yaudah kalo gitu ikutin kata hatimu aja lah Dit... Kamu harus tegas, kalo mau nungguin Kak Siska ya tungguin. Tapi kalo kamu cinta sama Bella ya udah tembak aja..." Kata Novi menceramahiku.

"Kalo aku ditolak gimana?"

"Yo nasib... Hahahha!" Jawab Novi asal.

"Haha jancuk!" Umpatku.

"Hey... Kamu tu cowok! Adepin!" Imbuh Novi kemudian.

"Iya-iya deh Nov... Makasih deh ya, aku pikirin dulu..."

"Gitu dong, kalo butuh bantuan aku selalu ada buat kamu kok..." Ucap Novi tersenyum.

"Makasih ya Nov... Ya udah ah tidur aja lah yok!" Kataku mengakhiri telepon dengan Novi.

"Tuuttt... Tuutt... Tuttt..."

Seperti dugaanku sebelumnya liburan kali ini tak ada yg menarik. Siang hari kuhabiskan untuk tidur dan bantuin Ibu menjaga warung. Malamnya kumpul bareng kawan sekampung. Ntah itu main gaple, tongkrong, dan kegiatan yg bermanfaat lainnya.

---

Akhirnya setelah lama menunggu, datang juga tahun ajaran baru yg tiba-tiba membuatku cemas. Perasaanku berkata kalo aku akan berpisah sama sahabat-sahabatku karena kelas bakal diacak lagi.

Sabtu ini adalah hari pertama masuk sekolah, namun agenda hari ini hanya pengumuman pembagian kelas saja. Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah menggunakan motor vega yg Ayah tinggal. Ah aku kangen Ayah, akhir-akhir ini Ayah jarang kasih kabar ke rumah. Semoga saja Beliau selalu dalam lindunganNya.

Sesampainya disekolah, suasana sungguh sangat ramai. Terlihat banyak wajah baru disana. Mereka masih mengenakan seragam SMP, mereka ini adalah siswa-siswi baru yg akan mengikuti MOS. Wah udah kayak SMP Budi Utomo aja nih sekolahku. Sejenak aku memandang calon adik kelas itu dari depan tempat parkir.

"Woe su liatin apa?" Seru Prapto menepuk pundakku.

"Eh kowe cuk, tuh adik-adik kelas..."

"Haha... Gk kerasa ya kita udah kelas tiga aja!" Kata Prapto.

"Yoi... Aku inget dulu kamu culun banget cuk, hahaha!" Ejekku.

"Hahaha... Asu kowe! Eh Bella udah jadi kamu tembak?" Tanya Prapto.

"Belum su! Haha.."

"Cemen kowe!"

"Luweh! Si Novi masih di Surabaya?" Tanyaku basa-basi.

"Iya... Balik besok katanya!" Ucap Prapto.

"Oh... Yowis yok liat pengumuman kelas!"

Kemudian kami pun berjalan menuju ruang guru untuk melihat pengumuman pembagian kelas. Khawatir juga sih kalo kita dipisahkan oleh kebijakan sekolah yg aneh-aneh ini.

Sesampainya di ruang guru, terlihat anak-anak telah berkerumun di papan pengumuman yg ditempel. Perlahan aku masuk ke dalam kerumunan itu lalu mencari namaku tertera di kelas mana. Dan ternyata dugaanku, SALAH! Kita bertiga ternyata masih jodoh. Aku, Novi, dan Prapto masuk ke kelas 3B.

"Haha... Sekelas lagi kita cuk!" Ucapku.

"Juiiih bosen aku liat tampangmu tiap hari su!" Kata Prapto.

"Haha! Ngrokok aja yuk di wc..." Ajakku.

"Yowis yok!"

Tak lama setelah itu, kami pergi ke toilet untuk ngerokok. Suasana disini masih sunyi. Anak-anak lain belum menampakkan dirinya di toilet. Karena memang sepi dan takut kalo ada setan yg ikutan ngerokok, aku mengajak Prapto untuk pulang. Kebetulan malam nanti aku akan ada janji sama Bella juga. Malam mingguan coy, meski jomblo tapi kudu tetep malam mingguan dong.

"Su, mau langsung pulang?" Tanya Prapto.

"Yoi... Nanti malem mau ketemuan sama Bella aku..."

"Wah makin deket aja koe su!"

"Iya dong!"

"Emm.. masih malem nanti kan kamu ketemu nya? Maen dulu lah, bosan aku di kos..."

"Kemana woi?" Tanyaku.

"Ke lapangan tembak aja! Udah lama kita gk ngerjain orang pacaran!" Ucap Prapto semangat.

"Wuiih... Ide bagus tuh! Ayok dah!"

Spoiler for Lapangan Tembak :


Sebelum menuju kesana terlebih dulu kami mencari Dimas untuk melakukan aksi ini. Setelah menemukan Dimas, Prapto pun menjelaskan strategi untuk ngerjain orang disana. Ide Prapto sih simpel aja, gembosin ban, terus nyopot kabel busi biar motor mati. Namun kali ini terbesit di otakku untuk melakukan aksi yg lebih gila lagi.

"Kita colong bannya aja!"

"Hahh??" Kata Prapto dan Dimas terkejut.

"Gimana caranya?" Tanya Dimas.

"Jadi gini, kita cari target yg naruh motornya sembarangan, terus copotin deh tu ban, tuh aku bawa kunci-kunci kok di jok motor!" Kataku menjelaskan.

"Wah seru tuh! Ayok dah!" Kata Dimas semangat.

"Yakin kalian?" Tanya Prapto ragu.

"Takut kowe su? Cemen ah!" Tanyaku.

"Emm... Yakin cuma bannya doang? Gimana kalo karburasinya sekalian! Lumayan tuh kalo dijual!"

"Hahahahhaha... Edan koe!" Kataku kagum Prapto punya ide cemerlang lainnya.

"Hahaha ayok dah jangan kelamaan!" Seru Dimas.

Tak lama berselang, kamipun telah sampai ke lapangan tembak tersebut. Mata kami mencari-cari target yg ideal untuk melakukan aksi ini. Setelah mengintai di setiap sudut, akhirnya kami memutuskan untuk ngerjain motor protolan yg di parkir dibalik semak-semak. Pas banget!

Sebelum melakukan aksi ini, kami memastikan dulu sang pemilik motor berada jauh dari motornya itu. Dari hasil pengamatan Dimas, si pemilik motor sedang pacaran di sekitaran danau, dan motornya sengaja ditinggal disitu karena gk mungkin juga membawa motornya kesana, susah jalannya.

Setelah memastikan keadaan aman, aksi jahil tapi kriminal ini pun dimulai...

"Setandarin tengah dulu su!" Kataku pelan.

"Oke..." Jawab Prapto seraya menyetandarkan motor secara hati-hati.

"Dim... Cariin kunci 18!" Perintahku ke Dimas, suara tetap pelan.

Akupun mulai mengendorkan baut yg ada di sekitar rantai motor. "Kreeek...kreeekkk..." Suara baut motor yg kuputar. Prapto membantu manarik as belakang motor, sedangkan Dimas mengamati keadaan sekitar.

"Aman Kan Dim?" Ucap Prapto.

"Aman... Pelan-pelan aja!" Jawab Dimas.

"GREGG"suara ban motor yg telah terlepas.

"Wuiih..." Kata Prapto sambil senyam-senyum.

"Amankan dulu disini!" Ucapku.

"Yg depan sekalian su!" Kata Prapto.

"Kamu cuk! Aku pegangin motor ini!" Kataku seraya menyerahkan kunci pas untuk menyopot ban depan.

Entah apa yg dilakukan Prapto, namun lama sekali ia membuka baut yg menempel di as depan motor ini. Melihat Prapto kesusahan, Dimas pun membantu Prapto, dan aku yg mengamati keadaan sekitar.

Selang beberapa saat kemudian kedua ban telah lepas dari tempatnya. Sebuah batu besar telah kami siapkan untuk ganjal motor itu agar tidak terjatuh. Sementara itu Prapto masih berusaha mencopot karburasi yg berada di tengah-tengah mesin.

"Udah nih.. Ayok balik!" Ajak Prapto.

"Bentar-bentar!" Ucapku sambil membereskan kunci-kunci

"Buruan woe! Ketahuan kita nanti!" Seru Dimas menarik tanganku.

Akhirnya setelah melakukan kejahilan aksi nekat ini, kami pun kembali berjalan ke pinggiran dan membawa barang hasil jarahan kami menuju motor yg sengaja kami parkir disitu.

Sesampainya disana, terjadilah hal yg sangat mengejutkan.

"ASU!"

"BAJINGAN!"

"SETAN!"

Betapa terkejutnya kami melihat ban motorku dan Dimas telah hilang dari tempat nya.

"Wah kualat nih kita!" Kata Prapto.

"Jangkrik! Siapa sih yg usil gini!" Umpatku.

"Terus gimana nih kita pulang nya??" Tanya Dimas dengan emosi.

"Tenang Dim... Kita jual aja nih barang jarahan kita! Terus dibeliin ban lagi buat kalian!" Kata Prapto memberi solusi.

"Terus yg jaga motor siapa?" Tanyaku.

"Ya aku lah! Kalian kan tau dimana yg jual barang kayak gini!" Jawab Prapto.

Setelah dipikir-pikir bener juga tuh jancuk satu itu. Akhirnya aku dan Dimas pergi untuk menjual barang gelap ini untuk membeli ban dan velg kami yg juga hilang. Sial bener kita!

Dengan membawa sepasang ban lengkap dengan velg racing serta karburasi, aku dan Dimas pergi ke pasar loakan menggunakan angkot jalur warna biru.

Jadi pasar loakan itu semacam pasar klitikan jogja gitu. Isinya lengkap, ada barang baru ataupun bekas.

Sebenarnya aku gk yakin juga kalo ada yg mau membeli barang-barang kayak gini. Tapi mau gimana lagi, keadaan benar-benar mendesak, Dimas pun nampak yakin karena ia punya banyak pengalaman dalam masalah jual-beli barang gelap seperti ini, katanya.

"Dim, ntar mau dijual di sebelah mana?"

"Udah tenang aja!" Kata Dimas.

"Kalo pada gk mau beli?"

"Pasti ada lah!" Kata Dimas tenang.

"Ah edan kowe!"

Setelah sekitar 10 menit naik angkot, akhirnya kami sampai juga. Tempatnya panas, banyak orang jual barang-barang bekas disini. Mulai dari buku, tv, pakaian, onderdil motor, pokoknya lengkap. Banyak orang juga yg bawa barang kayak kami. Pantes dinamai pasar stres.

"Waduh mau dijual ke siapa nih Dim?" Kataku bingung.

Dimas nampak melihat keadaan sekitar, sepertinya dia juga bingung mau dijual kemana, sialan si Dimas! Tiba-tiba ia berhenti di depan penjual kulkas dan tv.

"Pak yg jual onderdil disini dimana?" Tanya Dimas.

"Di depan sana dek, kalo disini jualannya elektronik!"

"Oh... Makasih pak!"

Kamipun pergi ke lapak penjual onderdil. Sesampainya disana kami didatangi seorang pemuda, nampaknya penjual juga.

"Dek, mau jual velg ya? coba sini tak liat dulu!" Ucap pemuda itu.

"Iya mas, nih liat aja, masih mulus, racing lagi!" Kata Dimas.

Pemuda itu lalu mengecek velg yg kami bawa. "Mau dijual berapa semuanya?"

"Empat ratus ribu aja mas!" Jawab Dimas.

"Edaan! kayak begini sih seratus juga udah syukur!" Kata pemuda itu.

"Ini orisinil lho mas! Baru nya aja masih tujuh ratusan!" Seru Dimas.

"Tapi bekas kan sekarang?"

"Tiga ratus ribu deh mas..."

"Seratus ribu!"

Lalu Dimas ambil tasnya terus mengeluarkan karburasi yg tadi diambil Prapto. "Nih aku tambahin ini! Barunya lima ratus ribuan mas, jadi lima ratus aja sama ini!"

"Emm... Dua ratus deh..."

"Mas kalo nawar kira-kira dong!" Seruku mulai emosi juga.

"Namanya juga orang nawar, ya terserah lah! Aku kasih seratus harusnya udah makasih kalian!" Kata pemuda itu.

"Woh asu! Nek ra gelem yowis! (Woh Anjing! Kalo gk mau ya udah!)" Ucapku emosi.

"Eh Bajingan, nantang kowe?!" Ucap pemuda itu dengan nada tinggi.

"Yowis mas... Tak jual ke yg lain aja kalo gitu..." Kata Dimas seraya menarik tanganku, takut kayaknya tuh anak misal malah ribut disini.

Setelah lama berputar-putar, akhirnya kami menemukan pedagang yg mau membeli barang ini dengan harga yg masuk akal. Tanpa pikir panjang, kami pun mengiyakan tawaran tersebut dan langsung membeli ban dan velg untuk motor kami sendiri.

"Yaudah Dim buruan balik, udah sore nih! Kasian Prapto nunggunya"

"Oke yuk!"

Tak lama kamipun kembali ke lapangan tembak untuk memasang ban dan velg di motor kami masing-masing. Tadinya mau ngerjain orang, eh malah dikerjain balik. Asu-asu! Batinku.

----

Malam hari sesuai janjiku ke Bella, aku dateng ke rumahnya selepas maghrib. Bella udah ada di teras rumah nya.

Cantik banget ni anak, mana rambutnya dikucir lagi. Duuh bikin deg-deg an aja.

"Wah udah siap aja nih..."

"Iya dong..."

"Makin cantik deh Bell kamu..."

"Yg bener?" Tanya Bella dengan nada yg manja.

"Hehe... Suer!"

"Kamu makin jelek aja Dit... Hahaha..." Sial kena Bully aku.

Setelah ngobrol bentar dan pamit ke orang tua Bella kami pun pergi. Orang tua Bella enak orangnya, asal jangan sampe jam 9 malam mereka ngasih izin kami keluar. Kita rencana mau makan malam bareng, tapi belum tau mau dimana.

"Jadi mau makan apa nih kita?" Tanya Bella antusias di boncengan belakang.

"Apa ya... Emm..."

"Bubur ayam aja gimana Dit..." Ajak Bella.

"Aduh Bell... Malem-malem gini mana ada bubur ayam yg buka!"

"Oiya ya..."

"...."

Sambil berfikir mau makan apa, kujalankan motor ini pelan melewati setiap sudut kota. Menikmati malam di Kota Magelang sungguh indah. Ramai tapi nyaman.

Awalnya Bella hanya pegang baju di sekitar pinggang, namun perlahan tapi pasti ia menlingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Duh apa nih yg nempel, batinku cengegesan. Nyaman sekali rasanya saat ini. Kujalankan laju kuda besi ini semakin pelan dan semakin pelan.

"DITT! Kok pelan banget jalannya??" Protes Bella mencubit perutku.

"Kan lagi mikir Bell... Bahaya kalo ngebut..."

"Yaudah terus mau makan dimana? Jangan-jangan cuma modus aja nih biar bisa keluar sama aku!" Celoteh Bella lalu melepaskan pegangannya.

"Enggak Bell... nasi goreng aja yuk!" Ucapku halus.

"Okedeh ngikut sopir ojeknya aja..."

Dengan kecepatan sedang kupacu sang kuda besi ini ke warung Nasgor Pak Pri. Warung nasgor ini enak banget, terkenal di daerah sini.

Sesampainya disana, kami memesan dua piring nasi goreng pedas manis dan dua gelas es jeruk. Sempat mikir juga sepedas apa, takutnya magh ku kambuh. Tp okelah no problem, toh udah lama juga aku gk makan masakan pedas yg sebenernya sangat aku suka.

"Wah... Kayaknya enak ya..."

"Iya Bell... Dulu sama Ayahku sering makan disini..."

"Oh iya Dit aku pengen main kerumahmu deh..."

"Kerumah aja... Kapan terserah... Deket kok, jadi pas pertigaan pangkalan angkot itu belok aja kekanan, gampang pokoknya!"

Sambil menikmati hidangan yg telah tersedia, kamipun larut dalam obralan seputar keluargaku dan keluarganya.

Bella nampak ceria sekali mendengarkan latar belakang keluargaku yg belum semuanya ia tahu. Aku cuma iya-iya aja saat Bella cerita tentang kehidupannya. Njiiir liatin gerak bibirnya yg tipis membuat pengen nyium aja. Woi Dit sadar!

"Eh Adit... Makan disini juga kamu..." Ucap seorang cewek yg tiba-tiba duduk tepat disampingku.

"Eh iya Kak... Kak Fara juga ya? Ucapku kagok ke Kak Fara yg tiba-tiba masuk di warung nasi goreng ini tanpa diduga sebelumnya.

Kutengok Bella yg duduk di depanku mulai pasang muka geram memainkan sendok di atas piringnya. Sedangkan Kak Fara semakin dekat duduk di sampingku.

"Sial, kenapa jadi gini..."

Nampak kedua cewek ini saling pandang satu sama lain dengan sorot mata yg penuh tanda tanya. Aku hanya garuk-garuk kepala gk ngerti apa yg sedang mereka pikirkan.

"Eh Kak kenalin ini Bella.. Bell kenalin ini Kak Fara..."

"Hai.. Kak..." Sapa Bella dengan penekanan di kata "kak" nya.

"Iya." Jawab Kak Fara dingin.

Saat ini aku bingung harus bagaimana. Duh andai ada Novi, pasti bisa ngasih solusi. Waduuuuh kok bisa gini sih, batinku.

"Eh... Bell mau nambah kamu?" Ucapku mencairkan suasana.

"Enggak ah... Kenyang!" Jawab Bella. "Oh... Kalo kamu mau nambah boleh kok, aku pulang duluan aja..." Imbuh Bella ketus.

Njiir salah ngomong kayaknya aku.

"Enggak kok, Bell... Udah kenyang, kepedesen lagi..."

"Eh... Kamu makan pedes Dit? Bukannya kamu gk suka pedes ya?" Potong Kak Fara.

"Tau darimana Adit gk suka pedes?" Sahut Bella tak mau kalah.

"Lhoh, bukannya kamu kalo makan bakso di kantin sekolah gk pake sambel ya?" Kata Kak Fara dengan nada meninggi.

"HALLO... Oh iya Buk... Iya iya..." Teriakku sambil memegangi handphone di telinga.

Hanya dengan pura-pura mengangkat telepon inilah salah satu cara kabur dari situasi ini.

"Siapa Dit...?" Tanya Bella.

"Ibuku nih... Aku disuruh bantuin!"

"Oh... Yaudah kalo gitu sekalian pulang yuk, males banget disini..." Ucap Bella.

"Iya Bell bentar..."

Terlihat Bella buru-buru berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan ke penjual nasgor, "Aku bayar dulu ya Dit..." Ucap Bella.

Entah kenapa aku yg harusnya traktir malah ditraktir.

"Bell.. Bell... Bentar, pamit dulu," ucapku ke Bella yg tengah berjalan ke kasir.

"Aku pulang dulu ya Kaaak......" Kata Bella dengan senyuman manis, manis banget kayak tokoh antagonis di film tersanjung.

"Iya... Deeek..." jawab Kak Fara juga dengan senyuman yg tak kalah manis nya.

"Duh Kak maaf, aku harus bantuin Ibu nih..." Ucapku halus ke Kak Fara.

"Iya Dit... Gk papa kok..." Jawabnya lembut.

Kamipun kembali kerumah Bella dengan sejuta pertanyaan. Entah apa sebabnya, Bella sesekali keliatan gelisah dan tak menentu. Sesekali juga ia nampak diam gk kayak biasanya. Bingung juga sih gimana caranya untuk lelehin hati seorang Bella.

Selama di boncenganpun entah apa yg dia pikirkan, gk kayak biasanya dia yg cerewet berubah menjadi seorang cewek pendiam.

Beberapa saat kami duduk di teras rumah Bella. Ia masuk kedalam rumahnya lalu kembali membawa segelas air putih dan duduk di sampingku. Tiba-tiba Bella menatapku dengan raut wajah yg penasaran, kayak mau mengintrogasi tersangka pembunuhan.

"Tadi kamu sama dia kok akrab banget sih?" Tanya Bella dengan nada penasaran.

"Dia kakak kelas aku Bell dulu..." Kataku jujur.

"Oh gitu..." Kata Bella mengangguk. "Kayaknya dia suka deh sama kamu..." Imbuh Bella.

"Ah gk kok... Kita cuma temen, dia kakak kelasku, kebetulan rumahnya deket dari rumahku, tp kita temenan aja kok..." Kataku menjelaskan lagi.

"Tapi dia kayak cemburu gitu tadi..." Ucap Bella.

"Itu kan perasaan kamu..."

"Hmmm... Ya udahlah kalo gitu... Nih diminum dulu..." Ucap Bella.

"Kamu juga cemburu Bell?" Ntah kenapa pertanyaan ini tiba-tiba keluar dari mulut ku.

"Ah... Enggak kok, siapa juga yg cemburu..." Jawab Bella salah tingkah.

"Oh... Kirain..."

Karena tadi terlanjur bilang mau bantuin Ibu, terpaksa deh aku buru-buru pamit pulang. Bella kayak gk rela, Gk tau deh kenapa alasannya. Bahkan anehnya aku suruh langsung ngabarin kalo aku udah sampe rumah. "Pokoknya sampe rumah langsung sms, gk mau tau!" Ucap Bella dengan nada yg ketus namun manis.

Ah dasar Bella...
Diubah oleh fthhnf 23-11-2021 21:48
yayanaurar
unhappynes
njek.leh
njek.leh dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.