- Beranda
- Sejarah & Xenology
Mengenal Agama asli Nusantara
...
TS
LordFaries4.0
Mengenal Agama asli Nusantara
Agama asli Nusantara atau kepercayaan adat adalah agama-agama suku (agama bersahaja atau etnis) pribumi yang telah ada sebelum agama-agama asing masuk ke Nusantara.
Kerohanian asli pada umumnya juga meliputi sejumlah aliran/organisasi kepercayaan baru yang didirikan di Nusantara.
Agama/kepercayaan nenek moyang suku bangsa Austronesia serta bangsa Papua yang telah ada di Nusantara sebelum masuk agama-agama asing dari subbenua India (Hindu dan Buddha), Arab (Islam), Portugis (Kristen Katolik), Belanda (Kristen Protestan), dan Tiongkok (Konghucu).
Sebelum Nusantara didiami bangsa berkulit cokelat (Austronesia), bangsa proto Melanesia (berkulit hitam) menganut kepercayaan monoteistik yang sekarang dikenal dengan nama kapitayan. Seiring dengan datangnya orang-orang Austronesia, kepercayaan itu turut dianut oleh mereka.

Kepercayaan masyarakat purba telah mempunyai mitologi kaya serta wiracarita, memuliakan dewa-dewi, roh leluhur dan roh kekuatan alam yang menghuni air, gunung, hutan. Hakikat tak terlihat yang memiliki kekuatan supernatural ini disebut oleh orang Jawa, Sunda, Melayu, Bali sebagai Hyang dan oleh suku-suku Dayak sebagai Sangiang.
Beberapa dari agama asli masih hidup baik yang murni maupun telah gabungan (sinkretis) dengan agama asing, umpamanya agama Hindu Bali, Kejawen serta Masade (Islam Tua). Akan tetapi kepercayaan asli yang telah hilang bisa hidup sebagai agama rakyat di antara umat Islam atau Kristen di dalam praktik adat di luar agama resmi, misalnya syamanisme Melayu dan kepercayaan kaum Abangan Jawa.
Keagamaan asli juga meliputi sejumlah aliran/organisasi kepercayaan baru (gerakan spiritual) yang didirikan di Nusantara pada abad ke-19–21-an dan terkait dengan agama-agama asli, yakni Saminisme, Subud, Sumarah, dll. Namun, gagasan universal aliran kepercayaan di Indonesia sebagai sumber dari Tuhan YME dan hubungan pribadi dengan Dia tidak menyiratkan mengikuti wajib kepada adat agamawi etnis.
Hingga kini, tak satu pun agama-agama asli Nusantara yang diakui di Indonesia selaku agama, hanya sebagai aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sekaligus sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia tertanggal 7 November 2017 dengan No. 97/PUU-XIV/2016, para penghayat kepercayaan dapat mencantumkan nama “penghayat kepercayaan” dalam dokumen kependudukan mereka dan memiliki hak yang sama-sama seperti para penganut enam agama.
Untuk melegalkan status mereka, beberapa agama asli (Aluk Todolo, Kaharingan, Pemena, dan Tolotang) pada tahun 1970-an dan 80-an berada di bawah naungan agama resmi Hindu sebagai aliran-alirannya.
Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) adalah wadah tunggal sebagai payung bagi kumpulan-kumpulan kepercayaan.
Berikut ialah daftar agama kuno asli Nusantara yang masih hidup:
1. Adat Musi (suku Talaud, Sulawesi Utara)

Tempat suci penghayat ADAT Musi.
2. Adat Papua (suku Asmat dll, Papua)

Tengkorak nenek moyang Asmat
Kerohanian asli pada umumnya juga meliputi sejumlah aliran/organisasi kepercayaan baru yang didirikan di Nusantara.
Agama/kepercayaan nenek moyang suku bangsa Austronesia serta bangsa Papua yang telah ada di Nusantara sebelum masuk agama-agama asing dari subbenua India (Hindu dan Buddha), Arab (Islam), Portugis (Kristen Katolik), Belanda (Kristen Protestan), dan Tiongkok (Konghucu).
Sebelum Nusantara didiami bangsa berkulit cokelat (Austronesia), bangsa proto Melanesia (berkulit hitam) menganut kepercayaan monoteistik yang sekarang dikenal dengan nama kapitayan. Seiring dengan datangnya orang-orang Austronesia, kepercayaan itu turut dianut oleh mereka.

Kepercayaan masyarakat purba telah mempunyai mitologi kaya serta wiracarita, memuliakan dewa-dewi, roh leluhur dan roh kekuatan alam yang menghuni air, gunung, hutan. Hakikat tak terlihat yang memiliki kekuatan supernatural ini disebut oleh orang Jawa, Sunda, Melayu, Bali sebagai Hyang dan oleh suku-suku Dayak sebagai Sangiang.
Beberapa dari agama asli masih hidup baik yang murni maupun telah gabungan (sinkretis) dengan agama asing, umpamanya agama Hindu Bali, Kejawen serta Masade (Islam Tua). Akan tetapi kepercayaan asli yang telah hilang bisa hidup sebagai agama rakyat di antara umat Islam atau Kristen di dalam praktik adat di luar agama resmi, misalnya syamanisme Melayu dan kepercayaan kaum Abangan Jawa.
Keagamaan asli juga meliputi sejumlah aliran/organisasi kepercayaan baru (gerakan spiritual) yang didirikan di Nusantara pada abad ke-19–21-an dan terkait dengan agama-agama asli, yakni Saminisme, Subud, Sumarah, dll. Namun, gagasan universal aliran kepercayaan di Indonesia sebagai sumber dari Tuhan YME dan hubungan pribadi dengan Dia tidak menyiratkan mengikuti wajib kepada adat agamawi etnis.
Hingga kini, tak satu pun agama-agama asli Nusantara yang diakui di Indonesia selaku agama, hanya sebagai aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sekaligus sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia tertanggal 7 November 2017 dengan No. 97/PUU-XIV/2016, para penghayat kepercayaan dapat mencantumkan nama “penghayat kepercayaan” dalam dokumen kependudukan mereka dan memiliki hak yang sama-sama seperti para penganut enam agama.
Untuk melegalkan status mereka, beberapa agama asli (Aluk Todolo, Kaharingan, Pemena, dan Tolotang) pada tahun 1970-an dan 80-an berada di bawah naungan agama resmi Hindu sebagai aliran-alirannya.
Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) adalah wadah tunggal sebagai payung bagi kumpulan-kumpulan kepercayaan.
Berikut ialah daftar agama kuno asli Nusantara yang masih hidup:
1. Adat Musi (suku Talaud, Sulawesi Utara)

Tempat suci penghayat ADAT Musi.
Spoiler for Isi:
Adat Musi adalah sebuah agama asli Nusantara yang berasal dari ajaran Bawangin Panahal. Adat Musi juga merujuk ke organisasi agama tersebut yang bernama Gereja Adat Musi. Adat Musi mengajarkan bahwa manusia harus selalu sadar terhadap kesalahan dan dosa dirinya, senantiasa bertaubat dan berdoa kepada Tuhan, dan bersifat rendah hati, mengasihi, dan berbuat baik kepada sesama manusia dan alam. Penganut Adat Musi meyakini bahwa Bawangin Panahal menerima wahyu dari Tuhan dan dari perantaranya yang disebut Onto'a atau Onto'a Ruata.
Musi merupakan nama sebuah desa di Pulau Salibabu, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara, tempat lahir dan hidup Bawangin Panahal serta tempat agama ini pertama kali diturunkan dan disebarkan. Kata "adat" (juga ditulis "ADAT", kapital seluruhnya) dalam Adat Musi telah disebut sebagai kependekan dari frasa "Allah dalam tubuh".

Pentua ADAT Musi
Ajaran Adat Musi menyebutkan bahwa Tuhan berada di tempat paling tinggi dan tidak ada yang menyerupainya atau menyamai kedudukannya. Tuhan merupakan segalanya bagi manusia. Tuhan bersifat Mahakasih, Maha Penyelamat, Maha Pembebas, Maha Pelindung, Maha Penjaga, Maha Pemelihara, dan Maha Pembela Kebenaran dan Keadilan dan melindungi kedamaian di dunia bagi manusia. Tuhan merupakan pemilik dari dunia. Tuhan dikelilingi oleh cahaya kebesarannya sehingga fisik manusia tidak dapat melihat Tuhan. Di dalam Adat Musi, Tuhan memiliki beberapa sebutan yaitu Mawu Ruata (Tuhan Allah), Mawu Ruata Na'ala'a (Tuhan Allah Pencipta), Ruata Ualuadda (Tuhan Pembela, Pelindung, dan Pembimbing Pemelihara yang benar), Tuang (Tuhan Yang Maha Esa).
Adat Musi mempercayai bahwa manusia memiliki tujuan untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupannya di dunia maupun setelah mati dan caranya adalah dengan mengamalkan ajaran Tuhan. Setelah kematian, manusia yang menjalankan kebaikan dan ajaran Tuhan akan hidup bahagia di suatu tempat suci sementara yang tidak akan mengalami penyiksaan. Manusia berkewajiban taat kepada Tuhan, selalu bersyukur, berdoa, menghormati sesama ciptaan Tuhan, dan melaksanakan ritual.
Musi merupakan nama sebuah desa di Pulau Salibabu, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara, tempat lahir dan hidup Bawangin Panahal serta tempat agama ini pertama kali diturunkan dan disebarkan. Kata "adat" (juga ditulis "ADAT", kapital seluruhnya) dalam Adat Musi telah disebut sebagai kependekan dari frasa "Allah dalam tubuh".

Pentua ADAT Musi
Ajaran Adat Musi menyebutkan bahwa Tuhan berada di tempat paling tinggi dan tidak ada yang menyerupainya atau menyamai kedudukannya. Tuhan merupakan segalanya bagi manusia. Tuhan bersifat Mahakasih, Maha Penyelamat, Maha Pembebas, Maha Pelindung, Maha Penjaga, Maha Pemelihara, dan Maha Pembela Kebenaran dan Keadilan dan melindungi kedamaian di dunia bagi manusia. Tuhan merupakan pemilik dari dunia. Tuhan dikelilingi oleh cahaya kebesarannya sehingga fisik manusia tidak dapat melihat Tuhan. Di dalam Adat Musi, Tuhan memiliki beberapa sebutan yaitu Mawu Ruata (Tuhan Allah), Mawu Ruata Na'ala'a (Tuhan Allah Pencipta), Ruata Ualuadda (Tuhan Pembela, Pelindung, dan Pembimbing Pemelihara yang benar), Tuang (Tuhan Yang Maha Esa).
Adat Musi mempercayai bahwa manusia memiliki tujuan untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupannya di dunia maupun setelah mati dan caranya adalah dengan mengamalkan ajaran Tuhan. Setelah kematian, manusia yang menjalankan kebaikan dan ajaran Tuhan akan hidup bahagia di suatu tempat suci sementara yang tidak akan mengalami penyiksaan. Manusia berkewajiban taat kepada Tuhan, selalu bersyukur, berdoa, menghormati sesama ciptaan Tuhan, dan melaksanakan ritual.
2. Adat Papua (suku Asmat dll, Papua)
Tengkorak nenek moyang Asmat
Spoiler for Isi:
Dalam hal kepercayaan orang Asmat yakin bahwa mereka adalah keturunan dewa yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam tiap hari.
Menururt keyakinan orang Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan. Dalam perjalanannya turun ke hilir sampai ia tiba di tempat yang kini didiami oleh orang Asmat hilir, ia mengalami banyak petualangan. Dalam mitologi orang Asmat yang berdiam di Teluk Flaminggo misalnya, dewa itu namanya Fumeripitsy. Ketika ia berjalan dari hulu sungau ke arah laut, ia diserang oleh seekor buaya raksasa. Perahu lesung yang ditumpanginya tenggelam. Dalam perkelahian sengit yang terjadi, ia dapat membunuh si buaya, tetapi ia sendiri luka parah. Ia terbawa arus yang mendamparkannya di tepi sungai Asewetsy, Desa Syuru sekarang.
Untung ada seekor burung Flamingo yang merawatnya sampai ia sembuh kembali; kemudian ia membangun rumah yew dan mengukir dua patung yang sangat indah serta membuat sebuah genderang Em, yang sangat kuat bunyinya. Setelah ia selesai, ia mulai menari terus-menerus tanpa henti, dan kekuatan sakti yang keluar dari gerakannya itu memberi hidup pada kedua patung yang diukirnya. Tak lama kemudian mulailah patung-patung itu bergerak dan menari, dan mereka kemudian menjadi pasangan manusia yang pertama, yaitu nenek-moyang orang Asmat.
Orang Asmat yakin bahwa di lingkungan tempat tinggal manusia juga diam berbagai macam roh yang mereka bagi dalam 3 golongan.
Yi – ow atau roh nenek moyang yang bersifat baik terutama bagi keturunannya.
Osbopan atau roh jahat dianggap penghuni beberapa jenis tertentu.
Dambin – Ow atau roh jahat yang mati konyol.
Kehidupan orang Asmat banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besar menyangkut seluruh komuniti desa yang selalu berkaitan dengan penghormatan roh nenek moyang seperti berikut ini:
Mbismbu (pembuat tiang)
Yentpokmbu (pembuatan dan pengukuhan rumah yew)
Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan perahu lesung)
Yamasy pokumbu (upacara perisai)
Mbipokumbu (Upacara Topeng)
Suku ini percaya bahwa sebelum memasuki surga, arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana, bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat-ulat sagu.
Roh-roh dan Kekuatan Magis
Roh setan
Kehidupan orang-orang Asmat sangat terkait erat dengan alam sekitarnya. Mereka memiliki kepercayaan bahawa alam ini didiami oleh roh-roh, jin-jin, makhluk-makhluk halus, yang semuanya disebut dengan setan. Setan ini digolongkan ke dalam 2 kategori:
1. Setan yang membahayakan hidup. Setan yang membahayakan hidup ini dipercaya oleh orang Asmat sebagai setan yang dapat mengancam nyawa dan jiwa seseorang. Seperti setan perempuan hamil yang telah meninggal atau setan yang hidup di pohon beringin, roh yang membawa penyakit dan bencana (Osbopan).
2. Setan yang tidak membahayakan hidup. Setan dalam kategori ini dianggap oleh masyarakat Asmat sebagai setan yang tidak membahayakan nyawa dan jiwa seseorang, hanya saja suka menakut-nakuti dan mengganggu saja. Selain itu orang Asmat juga mengenal roh yang sifatnya baik terutama bagi keturunannya., yaitu berasal dari roh nenek moyang yang disebut sebagai yi-ow
Kekuatan magis dan Ilmu sihir
Orang Asmat juga percaya akan adanya kekuatan-kekuatan magis yang kebanyakan adalah dalam bentuk tabu. Banyak hal -hal yang pantang dilakukan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, seperti dalam hal pengumpulan bahan makanan seperti sagu, penangkapan ikan, dan pemburuan binatang.
Kekuatan magis ini juga dapat digunakan untuk menemukan barang yang hilang, barang curian ataupun menunjukkan si pencuri barang tersebut. Ada juga yang mempergunakan kekuatan magis ini untuk menguasai alam dan mendatangkan angin, halilintar, hujan, dan topan.
Upacara suku Asmat:
Ritual hari Kematian
Orang Asmat tidak mengenal dalam hal mengubur mayat orang yang telah meninggal. Bagi mereka, kematian bukan hal yang alamiah. Bila seseorang tidak mati dibunuh, maka mereka percaya bahwa orang tersebut mati karena suatu sihir hitam yang kena padanya. Bayi yang baru lahir yang kemudian mati pun dianggap hal yang biasa dan mereka tidak terlalu sedih karena mereka percaya bahwa roh bayi itu ingin segera ke alam roh-roh. Sebaliknya kematian orang dewasa mendatangkan dukacita yang amat mendalam bagi masyarakat Asmat.
Suku Asmat percaya bahwa kematian yang datang kecuali pada usia yang terlalu tua atau terlalu muda, adalah disebabkan oleh tindakan jahat, baik dari kekuatan magis atau tindakan kekerasan. Kepercayaan mereka mengharuskan pembalasan dendam untuk korban yang sudah meninggal. Roh leluhur, kepada siapa mereka membaktikan diri, direpresentasikan dalam ukiran kayu spektakuler di kano, tameng atau tiang kayu yang berukir figur manusia. Sampai pada akhir abad 20an, para pemuda Asmat memenuhi kewajiban dan pengabdian mereka terhadap sesama anggota, kepada leluhur dan sekaligus membuktikan kejantanan dengan membawa kepala musuh mereka, sementara bagian badannya di tawarkan untuk dimakan anggota keluarga yang lain di desa tersebut.
Apabila ada orang tua yang sakit, maka keluarga terdekat berkumpul mendekati si sakit sambil menangis sebab mereka percaya ajal akan menjemputnya. Tidak ada usaha-usaha untuk mengobati atau memberi makan kepada si sakit. Keluarga terdekat si sakit tidak berani mendekatinya karena mereka percaya si sakit akan ´membawa´ salah seorang dari yang dicintainya untuk menemani. Di sisi rumah dimana si sakit dibaringkan, dibuatkan semacam pagar dari dahan pohon nipah. Ketika diketahui bahwa si sakit meninggal maka ratapan dan tangisan menjadi-jadi. Keluarga yang ditinggalkan segera berebut memeluk sis akit dan keluar rumah mengguling-gulingkan tubuhnya di lumpur. Sementara itu, orang-orang di sekitar rumah kematian telah menutup semua lubang dan jalan masuk (kecuali jalan masuk utama) dengan maksud menghalang-halangi masuknya roh-roh jahat yang berkeliaran pada saat menjelang kematian. Orang-orang Asmat menunjukkan kesedihan dengan cara menangis setiap hari sampai berbulan-bulan, melumuri tubuhnya dengan lumpur dan mencukur habis rambutnya. Yang sudah menikah berjanji tidak akan menikah lagi (meski nantinya juga akan menikah lagi) dan menutupi kepala dan wajahnya dengan topi agar tidak menarik bagi orang lain.
Mayat orang yang telah meninggal biasa diletakkan di atas para (anyaman bambu), yang telah disediakan di luar kampung dan dibiarkan sampai busuk. Kelak, tulang belulangnya dikumpulkan dan disipan di atas pokok-pokok kayu. Tengkorak kepala diambil dan dipergunakan sebagai bantal petanda cinta kasih pada yang meninggal. Orang Asmat percaya bahwa roh-roh orang yang telah meninggal tersebut (bi) masih tetap berada di dalam kampung, terutama kalau orang itu diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu yang tingginya 5-8 meter. Cara lain yaitu dengan meletakkan jenazah di perahu lesung panjang dengan perbekalan seperti sagu dan ulat sagu untuk kemudian dilepas di sungai dan seterusnya terbawa arus ke laut menuju peristirahatan terakhir roh-roh.
Saat ini, dengan masuknya pengaruh dari luar, orang Asmat telah mengubur jenazah dan beberapa barang milik pribadi yang meninggal. Umumnya, jenazah laki-laki dikubur tanpa menggunakan pakaian, sedangkan jenazah wanita dikubur dengan menggunakan pakaian. Orang Asmat juga tidak memiliki pemakaman umum, maka jenazah biasanya dikubur di hutan, di pinngir sungai atau semak-semak tanpa nisan. Dimana pun jenazah itu dikubur, keluarga tetap dapat menemukan kuburannya.
Ritual Pembuatan dan Pengukuhan Perahu Lesung
Setiap 5 tahun sekali, masyarakat Asmat membuat perahu-perahu baru.Dalam proses pembuatan prahu hingga selesai, ada berapa hal yang perlu diperhatikan. Setelah pohon dipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan diruncingkan kedua ujungnya, batang itu telah siap untuk diangkut ke pembuatan perahu. Sementara itu, tempat pegangan untuk menahan tali penarik dan tali kendali sudah dipersiapkan. Pantangan yang harus diperhatikan saat mengerjakan itu semua adalah tidak boleh membuat banyak bunyi-bunyian di sekitar tempa itu. Masyarakat Asmat percaya bahwa jika batang kayu itu diinjak sebelum ditarik ke air, maka batang itu akan bertambah berat sehingga tidak dapat dipindahkan.
Untuk menarik batang kayu, si pemilik perahu meminta bantuan kepada kerabatnya. Sebagian kecil akan mengemudi kayu di belakang dan selebihnya menarik kayu itu. Sebelumnya diadakan suatu upacara khusus yang dipimpin oleh seorang tua yang berpengaruh dalam masyarakat. Maksudnya adalah agar perahu itu nantinya akan berjalan seimbang dan lancar.
Perahu pun dicat dengan warna putih di bagian dalam dan di bagian luar berwarna merah berseling putih. Perahu juga diberi ukiran yang berbentuk keluarga yang telah meninggal atau berbentuk burung dan binatang lainnya.Setelah dicat, perahu dihias dengan daun sagu. Sebelum dipergunakan, semua perahu diresmikan terlebih dahulu. Para pemilik perahu baru bersama dengan perahu masing-masing berkumpul di rumah orang yang paling berpengaruh di kampung tempat diadakannya pesta sambil mendengarkan nyanyi -nyanyian dan penabuhan tifa. Kemudian kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri dalam perlombaan perahu. Para pendayung menghias diri dengan cat berwarna putih dan merah disertai bulu-bulu burung. Kaum anak-anak dan wanita bersorak-sorai memberikan semangat dan memeriahkan suasana. Namun, ada juga yang menangis mengenang saudaranya yang telah meninggal.
Dulu, pembuatan perahu dilaksanakan dalam rangka persiapan suatu penyerangan dan pengayauan kepala. Bila telah selesai, perahu -perahu ini dicoba menuju tempat musuh dengan maksud memanas -manasi mereka dan memancing suasana musuh agar siap berperang. Sekarang, penggunaan perahu lebih terarahkan untuk pengangkutan bahan makanan.
Upacara Bis
Upacara Bis merupakan salah satu kejadian penting di dalam kehidupan suku Asmat sebab berhubungan dengan pengukiran patung leluhur (Bis) apabila ada permintaan dalam suatu keluarga. Dulu, upacara Bis ini diadakan untuk memperingati anggota keluarga yang telah mati terbunuh, dan kematian itu harus segera dibalas dengan membunuh anggota keluarga dari pihak yang membunuh.
Untuk membuat patung leluhur atau saudara yang telah meninggal diperlukan kurang lebih 6-8 minggu. Pengukiran patung dikerjakan di dalam rumah panjang (bujang) dan selama pembuatan patung berlangsung, kaum wanita tidak diperbolehkan memasuki rumah tersebut. Dalam masa-masa pembuatan patung bis, biasanya terjadi tukar-menukar istri yang disebut dengan papis. Tindakan ini bermaksud untuk mempererat hubungan persahabatan yang sangat diperlukan pada saat tertentu, seperti peperangan. Pemilihan pasangan terjadi pada waktu upacara perang-perangan antara wanita dan pria yang diadakan tiap sore.
Upacara perang-perangan ini bermaksud untuk mengusir roh-roh jahat dan pada waktu ini, wanita berkesempatan untuk memukul pria yang dibencinya atau pernah menyakiti hatinya. Sekarang ini, karena peperangan antar clan sudah tidak ada lagi, maka upacara bis ini baru dilakukan bila terjadi mala petaka di kampung atau apabila hasil pengumpulan bahan makanan tidak mencukupi. Menurut kepercayaan, hal ini disebabkan roh-roh keluarga yang telah meninggal yang belum diantar ketempat perisitirahatan terakhir, yaitu sebuah pulau di muara sungai Sirets.
Patung bis menggambarkna rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal. Yang satu berdiri di atas bahu yang lain bersusun dan paling utama berada di puncak bis. Setelah itu diberikan warna dan diberikan hiasan-hiasan.Usai didandani, patung bis ini diletakkan di atas suatu panggung yang dibangun dirumah panjang. Pada saat itu, keluarga yang ditinggalkan akan mengatakan bahwa pembalasan dendam telah dilaksanakan dan mereka mengharapkan agar roh-roh yang telah meninggal itu berangkat ke pulau Sirets dengan tenang. Mereka juga memohon agar keluarga yang ditinggalkan tidak diganggu dan diberikan kesuburan. Biasanya, patung bis ini kemudian ditaruh dan ditegakkan di daerah sagu hingga rusak.
Upacara pengukuhan dan pembuatan rumah bujang (yentpokmbu)
Orang-orang Asmat mempunyai 2 tipe rumah, yaitu rumah keluarga dan rumah bujang (je). Rumah bujang inilah yang amat penting bagi orang-orang Asmat. Rumah bujang ini dinamakan sesuai nama marga (keluarga) pemiliknya.
Rumah bujang merupakan pusat kegiatan baik yang bersifat religius maupun yang bersifat nonreligius. Suatu keluarga dapat tinggal di sana, tetapi apabila ada suatu penyerangan yang akan direncanakan atau upacara-upacara tertentu, wanita dan anak-anak dilarang masuk. Orang-orang Asmat melakukan upacara khusus untuk rumah bujang yang baru, yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Pembuatan rumah bujang juga diikuti oleh beberapa orang dan upacara dilakukan dengan tari-tarian dan penabuhan tifa.
Menururt keyakinan orang Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan. Dalam perjalanannya turun ke hilir sampai ia tiba di tempat yang kini didiami oleh orang Asmat hilir, ia mengalami banyak petualangan. Dalam mitologi orang Asmat yang berdiam di Teluk Flaminggo misalnya, dewa itu namanya Fumeripitsy. Ketika ia berjalan dari hulu sungau ke arah laut, ia diserang oleh seekor buaya raksasa. Perahu lesung yang ditumpanginya tenggelam. Dalam perkelahian sengit yang terjadi, ia dapat membunuh si buaya, tetapi ia sendiri luka parah. Ia terbawa arus yang mendamparkannya di tepi sungai Asewetsy, Desa Syuru sekarang.
Untung ada seekor burung Flamingo yang merawatnya sampai ia sembuh kembali; kemudian ia membangun rumah yew dan mengukir dua patung yang sangat indah serta membuat sebuah genderang Em, yang sangat kuat bunyinya. Setelah ia selesai, ia mulai menari terus-menerus tanpa henti, dan kekuatan sakti yang keluar dari gerakannya itu memberi hidup pada kedua patung yang diukirnya. Tak lama kemudian mulailah patung-patung itu bergerak dan menari, dan mereka kemudian menjadi pasangan manusia yang pertama, yaitu nenek-moyang orang Asmat.
Orang Asmat yakin bahwa di lingkungan tempat tinggal manusia juga diam berbagai macam roh yang mereka bagi dalam 3 golongan.
Yi – ow atau roh nenek moyang yang bersifat baik terutama bagi keturunannya.
Osbopan atau roh jahat dianggap penghuni beberapa jenis tertentu.
Dambin – Ow atau roh jahat yang mati konyol.
Kehidupan orang Asmat banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besar menyangkut seluruh komuniti desa yang selalu berkaitan dengan penghormatan roh nenek moyang seperti berikut ini:
Mbismbu (pembuat tiang)
Yentpokmbu (pembuatan dan pengukuhan rumah yew)
Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan perahu lesung)
Yamasy pokumbu (upacara perisai)
Mbipokumbu (Upacara Topeng)
Suku ini percaya bahwa sebelum memasuki surga, arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana, bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat-ulat sagu.
Roh-roh dan Kekuatan Magis
Roh setan
Kehidupan orang-orang Asmat sangat terkait erat dengan alam sekitarnya. Mereka memiliki kepercayaan bahawa alam ini didiami oleh roh-roh, jin-jin, makhluk-makhluk halus, yang semuanya disebut dengan setan. Setan ini digolongkan ke dalam 2 kategori:
1. Setan yang membahayakan hidup. Setan yang membahayakan hidup ini dipercaya oleh orang Asmat sebagai setan yang dapat mengancam nyawa dan jiwa seseorang. Seperti setan perempuan hamil yang telah meninggal atau setan yang hidup di pohon beringin, roh yang membawa penyakit dan bencana (Osbopan).
2. Setan yang tidak membahayakan hidup. Setan dalam kategori ini dianggap oleh masyarakat Asmat sebagai setan yang tidak membahayakan nyawa dan jiwa seseorang, hanya saja suka menakut-nakuti dan mengganggu saja. Selain itu orang Asmat juga mengenal roh yang sifatnya baik terutama bagi keturunannya., yaitu berasal dari roh nenek moyang yang disebut sebagai yi-ow
Kekuatan magis dan Ilmu sihir
Orang Asmat juga percaya akan adanya kekuatan-kekuatan magis yang kebanyakan adalah dalam bentuk tabu. Banyak hal -hal yang pantang dilakukan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, seperti dalam hal pengumpulan bahan makanan seperti sagu, penangkapan ikan, dan pemburuan binatang.
Kekuatan magis ini juga dapat digunakan untuk menemukan barang yang hilang, barang curian ataupun menunjukkan si pencuri barang tersebut. Ada juga yang mempergunakan kekuatan magis ini untuk menguasai alam dan mendatangkan angin, halilintar, hujan, dan topan.
Upacara suku Asmat:
Ritual hari Kematian
Orang Asmat tidak mengenal dalam hal mengubur mayat orang yang telah meninggal. Bagi mereka, kematian bukan hal yang alamiah. Bila seseorang tidak mati dibunuh, maka mereka percaya bahwa orang tersebut mati karena suatu sihir hitam yang kena padanya. Bayi yang baru lahir yang kemudian mati pun dianggap hal yang biasa dan mereka tidak terlalu sedih karena mereka percaya bahwa roh bayi itu ingin segera ke alam roh-roh. Sebaliknya kematian orang dewasa mendatangkan dukacita yang amat mendalam bagi masyarakat Asmat.
Suku Asmat percaya bahwa kematian yang datang kecuali pada usia yang terlalu tua atau terlalu muda, adalah disebabkan oleh tindakan jahat, baik dari kekuatan magis atau tindakan kekerasan. Kepercayaan mereka mengharuskan pembalasan dendam untuk korban yang sudah meninggal. Roh leluhur, kepada siapa mereka membaktikan diri, direpresentasikan dalam ukiran kayu spektakuler di kano, tameng atau tiang kayu yang berukir figur manusia. Sampai pada akhir abad 20an, para pemuda Asmat memenuhi kewajiban dan pengabdian mereka terhadap sesama anggota, kepada leluhur dan sekaligus membuktikan kejantanan dengan membawa kepala musuh mereka, sementara bagian badannya di tawarkan untuk dimakan anggota keluarga yang lain di desa tersebut.
Apabila ada orang tua yang sakit, maka keluarga terdekat berkumpul mendekati si sakit sambil menangis sebab mereka percaya ajal akan menjemputnya. Tidak ada usaha-usaha untuk mengobati atau memberi makan kepada si sakit. Keluarga terdekat si sakit tidak berani mendekatinya karena mereka percaya si sakit akan ´membawa´ salah seorang dari yang dicintainya untuk menemani. Di sisi rumah dimana si sakit dibaringkan, dibuatkan semacam pagar dari dahan pohon nipah. Ketika diketahui bahwa si sakit meninggal maka ratapan dan tangisan menjadi-jadi. Keluarga yang ditinggalkan segera berebut memeluk sis akit dan keluar rumah mengguling-gulingkan tubuhnya di lumpur. Sementara itu, orang-orang di sekitar rumah kematian telah menutup semua lubang dan jalan masuk (kecuali jalan masuk utama) dengan maksud menghalang-halangi masuknya roh-roh jahat yang berkeliaran pada saat menjelang kematian. Orang-orang Asmat menunjukkan kesedihan dengan cara menangis setiap hari sampai berbulan-bulan, melumuri tubuhnya dengan lumpur dan mencukur habis rambutnya. Yang sudah menikah berjanji tidak akan menikah lagi (meski nantinya juga akan menikah lagi) dan menutupi kepala dan wajahnya dengan topi agar tidak menarik bagi orang lain.
Mayat orang yang telah meninggal biasa diletakkan di atas para (anyaman bambu), yang telah disediakan di luar kampung dan dibiarkan sampai busuk. Kelak, tulang belulangnya dikumpulkan dan disipan di atas pokok-pokok kayu. Tengkorak kepala diambil dan dipergunakan sebagai bantal petanda cinta kasih pada yang meninggal. Orang Asmat percaya bahwa roh-roh orang yang telah meninggal tersebut (bi) masih tetap berada di dalam kampung, terutama kalau orang itu diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu yang tingginya 5-8 meter. Cara lain yaitu dengan meletakkan jenazah di perahu lesung panjang dengan perbekalan seperti sagu dan ulat sagu untuk kemudian dilepas di sungai dan seterusnya terbawa arus ke laut menuju peristirahatan terakhir roh-roh.
Saat ini, dengan masuknya pengaruh dari luar, orang Asmat telah mengubur jenazah dan beberapa barang milik pribadi yang meninggal. Umumnya, jenazah laki-laki dikubur tanpa menggunakan pakaian, sedangkan jenazah wanita dikubur dengan menggunakan pakaian. Orang Asmat juga tidak memiliki pemakaman umum, maka jenazah biasanya dikubur di hutan, di pinngir sungai atau semak-semak tanpa nisan. Dimana pun jenazah itu dikubur, keluarga tetap dapat menemukan kuburannya.
Ritual Pembuatan dan Pengukuhan Perahu Lesung
Setiap 5 tahun sekali, masyarakat Asmat membuat perahu-perahu baru.Dalam proses pembuatan prahu hingga selesai, ada berapa hal yang perlu diperhatikan. Setelah pohon dipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan diruncingkan kedua ujungnya, batang itu telah siap untuk diangkut ke pembuatan perahu. Sementara itu, tempat pegangan untuk menahan tali penarik dan tali kendali sudah dipersiapkan. Pantangan yang harus diperhatikan saat mengerjakan itu semua adalah tidak boleh membuat banyak bunyi-bunyian di sekitar tempa itu. Masyarakat Asmat percaya bahwa jika batang kayu itu diinjak sebelum ditarik ke air, maka batang itu akan bertambah berat sehingga tidak dapat dipindahkan.
Untuk menarik batang kayu, si pemilik perahu meminta bantuan kepada kerabatnya. Sebagian kecil akan mengemudi kayu di belakang dan selebihnya menarik kayu itu. Sebelumnya diadakan suatu upacara khusus yang dipimpin oleh seorang tua yang berpengaruh dalam masyarakat. Maksudnya adalah agar perahu itu nantinya akan berjalan seimbang dan lancar.
Perahu pun dicat dengan warna putih di bagian dalam dan di bagian luar berwarna merah berseling putih. Perahu juga diberi ukiran yang berbentuk keluarga yang telah meninggal atau berbentuk burung dan binatang lainnya.Setelah dicat, perahu dihias dengan daun sagu. Sebelum dipergunakan, semua perahu diresmikan terlebih dahulu. Para pemilik perahu baru bersama dengan perahu masing-masing berkumpul di rumah orang yang paling berpengaruh di kampung tempat diadakannya pesta sambil mendengarkan nyanyi -nyanyian dan penabuhan tifa. Kemudian kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri dalam perlombaan perahu. Para pendayung menghias diri dengan cat berwarna putih dan merah disertai bulu-bulu burung. Kaum anak-anak dan wanita bersorak-sorai memberikan semangat dan memeriahkan suasana. Namun, ada juga yang menangis mengenang saudaranya yang telah meninggal.
Dulu, pembuatan perahu dilaksanakan dalam rangka persiapan suatu penyerangan dan pengayauan kepala. Bila telah selesai, perahu -perahu ini dicoba menuju tempat musuh dengan maksud memanas -manasi mereka dan memancing suasana musuh agar siap berperang. Sekarang, penggunaan perahu lebih terarahkan untuk pengangkutan bahan makanan.
Upacara Bis
Upacara Bis merupakan salah satu kejadian penting di dalam kehidupan suku Asmat sebab berhubungan dengan pengukiran patung leluhur (Bis) apabila ada permintaan dalam suatu keluarga. Dulu, upacara Bis ini diadakan untuk memperingati anggota keluarga yang telah mati terbunuh, dan kematian itu harus segera dibalas dengan membunuh anggota keluarga dari pihak yang membunuh.
Untuk membuat patung leluhur atau saudara yang telah meninggal diperlukan kurang lebih 6-8 minggu. Pengukiran patung dikerjakan di dalam rumah panjang (bujang) dan selama pembuatan patung berlangsung, kaum wanita tidak diperbolehkan memasuki rumah tersebut. Dalam masa-masa pembuatan patung bis, biasanya terjadi tukar-menukar istri yang disebut dengan papis. Tindakan ini bermaksud untuk mempererat hubungan persahabatan yang sangat diperlukan pada saat tertentu, seperti peperangan. Pemilihan pasangan terjadi pada waktu upacara perang-perangan antara wanita dan pria yang diadakan tiap sore.
Upacara perang-perangan ini bermaksud untuk mengusir roh-roh jahat dan pada waktu ini, wanita berkesempatan untuk memukul pria yang dibencinya atau pernah menyakiti hatinya. Sekarang ini, karena peperangan antar clan sudah tidak ada lagi, maka upacara bis ini baru dilakukan bila terjadi mala petaka di kampung atau apabila hasil pengumpulan bahan makanan tidak mencukupi. Menurut kepercayaan, hal ini disebabkan roh-roh keluarga yang telah meninggal yang belum diantar ketempat perisitirahatan terakhir, yaitu sebuah pulau di muara sungai Sirets.
Patung bis menggambarkna rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal. Yang satu berdiri di atas bahu yang lain bersusun dan paling utama berada di puncak bis. Setelah itu diberikan warna dan diberikan hiasan-hiasan.Usai didandani, patung bis ini diletakkan di atas suatu panggung yang dibangun dirumah panjang. Pada saat itu, keluarga yang ditinggalkan akan mengatakan bahwa pembalasan dendam telah dilaksanakan dan mereka mengharapkan agar roh-roh yang telah meninggal itu berangkat ke pulau Sirets dengan tenang. Mereka juga memohon agar keluarga yang ditinggalkan tidak diganggu dan diberikan kesuburan. Biasanya, patung bis ini kemudian ditaruh dan ditegakkan di daerah sagu hingga rusak.
Upacara pengukuhan dan pembuatan rumah bujang (yentpokmbu)
Orang-orang Asmat mempunyai 2 tipe rumah, yaitu rumah keluarga dan rumah bujang (je). Rumah bujang inilah yang amat penting bagi orang-orang Asmat. Rumah bujang ini dinamakan sesuai nama marga (keluarga) pemiliknya.
Rumah bujang merupakan pusat kegiatan baik yang bersifat religius maupun yang bersifat nonreligius. Suatu keluarga dapat tinggal di sana, tetapi apabila ada suatu penyerangan yang akan direncanakan atau upacara-upacara tertentu, wanita dan anak-anak dilarang masuk. Orang-orang Asmat melakukan upacara khusus untuk rumah bujang yang baru, yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Pembuatan rumah bujang juga diikuti oleh beberapa orang dan upacara dilakukan dengan tari-tarian dan penabuhan tifa.
Diubah oleh LordFaries4.0 23-11-2021 11:17
hippopotamus93 dan 52 lainnya memberi reputasi
53
16K
Kutip
171
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
LordFaries4.0
#5
9. Jingi Tiu (suku Sabu, Nusa Tenggara Timur)

Proses pembuatan perahu dalam Upacara Hole sebelum kemudian dilarung ke laut di pantai Napae

Proses pembuatan perahu dalam Upacara Hole sebelum kemudian dilarung ke laut di pantai Napae
Spoiler for Isi:
Jingi Tiu merupakan aliran kepercayaan atau agama asli dari suku Sabu yang juga dikenal sebagai Savu, Sawu, atau Hawu yang berasal dari Rai Hawu, Kabupaten Sabu Raijua, Pulau Sabu di provinsi Nusa Tenggara Timur. Kepercayaan Jingitiu meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di Rai Wawa atau dunia bawah ini yaitu berupa manusia, langit, tumbuh-tumbuhan, laut, hewan, bumi secara tidak langsung berasal dari tuhan atau zat ilahi yang mereka sebut sebagai Deo Ama yang berarti TUHAN Bapak. Deo Ama adalah Sang Pencipta yang berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Deo Ama merupakan tokoh tertinggi, penuh misteri, paling dihormati, dan paling ditakuti bagi Suku Sabu. Oleh karena itu, tidak ada aturan sesaji yang dipersembahkan kepada Deo Ama dan namanya tidak boleh disebut bagi Suku Sabu. Adapun Deo Ama memiliki nama lain seperti Deo Woro Deo Penynyi yang artinya TUHAN Mengumpulkan Menciptakan.
Asal mula kepercayaan
Awalnya kepercayaan Jingi Tiu sama sekali tidak memiliki nama sampai datangnya para penginjil dan pendeta dari Portugis ke kampung suku Sabu pada tahun 1625 menamai kepercayaan tersebut dengan nama Gentios yang artinya kafir atau tidak bertuhan. Jingi Tiu sendiri berasal dari cara pelafalan suku Sabu terhadap kata Gentios tersebut. Jingi berarti menolak, Ti artinya dari, Au atau U artinya Tuhan sehingga dapat diartikan Jingi Tiu berarti "menolak perintah Tuhan" menurut ajaran agama Kristen.
Para orang Sabu dan para Mone Ama atau pemuka agama awalnya tidak menyadari arti kata Jingi Tiu tersebut sehingga mereka tidak membantah dan dianggap menerima saja istilah Jingi Tiu dari para penginjil dan pendeta Portugis tersebut. Setelah menyadari bahwa Jingi Tiu memiliki konotasi negatif, para orang Sabu dan para Mone Ama atau pemuka agama awalny ingin mengubah nama tersebut namun sudah terlambat. Alasannya karena nama Jingi Tiu sudah terlanjur melekat sebagai identitas kepercayaan mereka dan orang-orang sudah terbiasa dengan nama Jingi Tiu sehingga para orang Sabu dan para Mone Ama atau pemuka agama tetap sepakat menyandang Jingi Tiu sebagai nama ajaran mereka sampai sekarang.
Konsep dasar kepercayaan Jingi Tiu tidak mengenal istilah khusus yang mewakili kepercayaan mereka. Bagi orang Suku Sabu Jingi Tiu adalah penerapan keprcayaan terhadap kehidupan sehari-hari dibawah aturan Uku yang artinya Aturan Adat agar terjadi keseimbangan antara manusia dan alam. Penyimpangan dari Uku tersebut dapat mengganggu keseimbangan tersebut yang timbul berupa krisis dalam kehidupan mereka seperti terjadi kematian yang tidak wajar ditengah-tengah mereka, kemarau yang berkepanjangan, timbulnya serangan hama yang menyerang hasil pertanian mereka, dan bencana lainnya.
Selain itu Suku Sabu juga percaya adanya berbagai makhluk halus yang tingkatannya lebih rendah dari Deo Ama. Makhluk halus tersebut terdiri dari 3 (tiga) jenis yaitu Rai Balla yang menjaga bumi, Dahi Balla yang menjaga laut, dan Riru Balla yang menjaga langit. Makhluk halus tersebut mengatur berbagai aspek kehidupan manusia terutama Suku Sabu seperti mengatur musim hujan oleh Bani Ae yang artinya Puteri Agung, mengatur nira, mengatur musim kemarau, melindungi dan mengembangbiakkan berbagai hewan ternak terutama Kambing, menjaga keseuburan tanah, serta menumbuhkan tanaman oleh Riru Balla.
Selain untuk mengatur kehidupan manusia, ada makhluk halus lain yang bertugas untuk melindungi kampung penduduk Suku Sabu. Makhluk halus tersebut terdiri dari Uli Rae dan Maki Rae yang artinya Pengendali Kampung. Uli Rae berjaga disebelah kanan gerbang timur kampung sementara Maki Rae berjaga disebelah kiri gerbang timur kampung. Selain itu ada Tiba Rae yang artinya Penangkis Kampung serta Aji Rae yang artinya Penahan Kampung. Mereka semua berjaga agar menjadi Ngita Nano Ngita Adu yang artinya Agar Dapat Diandalkan Dapat Keras serta Ngita Kemaki Ri Ngallu Apa yang artinya Tahan Terhadap Serangan Angin Buruk.
Hubungan dan kesatuan antara alam dengan Suku Sabu diterapkan dalam berbagai upacara adat tradisional seperti perlunya mengadakan upacara adat dan sesajen terhadap Rai Balla setelah menggarap usaha tani guna memulihkan tanah yang luka serta agar Rai Balla tidak murka, bukan untuk persembahan kepada Deo Ama. Upacara adat tersebut juga berfungsi sebagai pemelihara keseimbangan antara Suku Sabu sebagai manusia, alam, serta dengan kekuatan gaib dari ketiga makhluk halus tersebut yang mereka percayai.
Salah satu keseimbangan yang lain adalah keseimbangan peran gender antara laki-laki dan perempuan dalam melaksanan tugas dan kewajibannya masing-masing dalam suatu rumah tangga. Keseimbangan lainnya adalah mendatangkan Meringgi dan Menggeru serta dijauhi dari Pana. Meringgi yang artinya Dingin memiliki maksud keadaan damai dan sentosa. Menggeru yang artinya Hijau atau Subur memiliki maksud kesuburan pada hasil pertanian dan peternakan. Pana yang artinya Panas memiliki maksud malapetaka atau bencana yang datang.
Saat ini jumlah penghayat kepercayaan Jingi Tiu menurun seiring perkembangan zaman. Mayoritas penduduk Suku Sabu pindah memeluk salah satu agama resmi di Indonesia yaitu Kristen Protestan yang pada tahun 2016 tercatat sekitar 89.86% dibandingkan dengan penghayat Jingi Tiu sebanyak 7.24%. Agama Kristen Katolik dan Kristen Protestan masuk ke daerah Suku Sabu sekitar tahun 1970an. Walaupun menganut agama Kristen Protestan beberapa norma dan upacara dari kepercayaan Jingi Tiu masih dipertahankan.
Dewan Mone Ama sebagai majelis adat dan agama
Dewan MoneAma merupakan dewan adat Suku Sabu yang memimpin jalannya sebagian besar upacara adat serta menetapkan Uku atau peraturan adat yang berlaku di Suku Sabu. Seluruh anggota Mone Ama adalah tokoh adat yang merepresentasikan berbagai makhluk halus yang mengatur kehidupan kampung Suku Sabu yang dilantik secara Dou Pehami yang artinya Orang Yang Diolesi atau Diurapi. Berikut adalah anggota dari Dewan Mone Ama:
Deo Rai
Deo Rai merupakan kepala adat dan memegang peranan tertinggi di Mone Ama. Deo Rai bertanggung jawab untuk memimpin seluruh upacara adat. Selain itu Deo Rai secara gaib juga bertanggung jawab dalam kegiatan pada musim hujan.
Mau Kia
Mau Kia merupakan panglima perang yang bertanggung jawab mengenai kegiatan perang dalam adat Suku Sabu.
Pulodo Wadu
Pulodo Wadu merupakan pemelihara adat yang bertanggung jawab dalam menjaga Uku atau peraturan adat Suku Sabu.[5] Selain itu, Pulodo Wadu secara gaib juga bertanggung jawab dalam kegiatan pada musim kemarau serta memelihara kesuburan tanah pertanian.
Do Heleo
Do Heleo merupakan pengawas kampung yang bertanggung jawab dalam mengawasi segala sesuatu di kampung Suku Sabu.
Rue
Rue merupakan tokoh yang bertanggung jawab untuk menyucikan atau membersihkan kembali setelah terjadinya penyimpangan dalam kehidupan Suku Sabu.
Rumah Ibadah
Rumah ibadah para penghayat kepercayaan Jingi Tiu digunakan untuk melaksanakan berbagai upacara adat Suku Sabu dan juga digunakan sebagai tempat ibadah keyakinan Jingi Tiu. Ada tempat lain yang dikenal sebagai Nada berupa lapangan luas yang khusus digunakan untuk meletakkan persembahan kepada makhluk halus diatas Wadu atau Wowadu yang artinya batu untuk meminta berbagai hajat. Rumah ibadah Suku Sabu memiliki berbagai nama yang mewakili fungsinya masing-masing:
Ammu Deo yang artinya rumah tuhan tempat berlangsungnya upacara dan pemujaan yang dipimpin oleh Deo Rai
Ammu Kepue atau Ammu Ada atau Ammu Ngaa Kewahhu yang artinya rumah asal bagi satu keturunan untuk berkumpul kembali (Pe Ada) untuk melaksanakan upacara (Ngaa Kewahhu) pada waktu-waktu tertentu. Ammu Kepue juga disebut sebagai Ammu Ae (Rumah Besar) yang artinya rumah besar yang dapat menampung banyak orang ketika melaksanakan upacara adat yang dipimpin oleh Bangngu Udu yang artinya Kepala Marga.
Ammu Maja yang artinya rumah untuk menghormati tokoh bernama Maja Pai Jawa dengan melaksanakan upacara yang disebut Mone Ama.
Ammu Rue yang artinya rumah untuk melaksanakan upacara penyucian setelah melakukan pelanggaran, terutama Perzinahan. Upacara dilangsungkan oleh pemangku adat yang mereka sebut sebagai Rue.
Adapun bentuk bangunan rumah ibadah berbentuk persegi panjang dengan bagian samping melebar yang berbentuk setengah lingkaran membentuk elips. Bagian atap rumah ibadah ini sendiri berbentu perahu terbalik dan dilapisi dengan dedaunan lebat yang mereka sebut sebagai Roukoko yang artinya bulu leher. Ukuran Roukoko sendiri mengikuti panjang balok bubungan yang disebut Bangngu.
Dari panjangnya balok Bangngu dapat pula ditentukan jumlah kasau (balai-balai pada atap rumah) yang disebut sebagai Worena. Jumlah Worena wajib berjumlah ganjil dengan sisa 1 Worena terletak di belakang rumah. Penyebutan Ammu atau rumah sendiri mengikuti banyaknya jumlah Worena seperti Wo Tallu yang artinya 3, Wo Lammi yang artinya 5 , Wo Pidu yang artinya 7, Wo Heo yang artinya 9, dan seterusnya. Bentuk tiang rumah ibadah berbentuk bulat karena menurut mereka bulat artinya kuat, utuh dan mampu menolak bala. Salah satu keunikan rumah ibadah ini adalah ketiadaannya dinding karena menurut Suku Sabu menandakan keterbukaan eskistensi manusia terhadap Tuhan terutama dalam hubungan penyucian dan pelanggaran sehingga tidak ada penghalang lagi diantara mereka. Bagi mereka yang telah melakukan pelanggaran diwajibkan untuk mengitari Ammu Rue sebanyak 3 kali sembari diasapi oleh pemangku adat yang disebut sebagai Rue. Proses upacara penstabilan tersebut dinamai Alle Pe Kehao Rowi Rue yang artinya telah disucikan atau telah dibasuh oleh Rue.
Upacara adat kepercayaan
Upacara Dabba Ana
Upacara Dabba Ana merupakan upacara pemandian bayi setelah dilahirkan. Upacara tersebut seperti halnya upacara Basuh Lantai di Daik Lingga, provinsi Kepulauan Riau tetapi berbeda tatacara dan maknanya. Upacara yang dilaksanakan pada bulan Dabba Aki ini bertujuan agar sang bayi diterima oleh Deo Ama dan dibaptis agar diakui menjadi Jingi Tiu. Proses upacara Dabba Ana diawali dari prosesi pemandian bayi dalam suatu wadah penampungan air hingga diakhiri dengan prosesi mencukur rambut. Jika bayi yang dilahirkan meninggal sebelum upacara Dabba Ana maka bayi tersebut disebut sebagai Anak Domehari sehingga tidak perlu melaksanakan ritual Dabba Ana.
Upacara Tali Manu Dabba
Upacara Tali Manu Dabba merupakan upacara adat berupa Sabung ayam yang dilakukan selama 2 (dua) hari dalam setahun kalender adat Suku Sabu di sebuah arena yang disebut Dara Nada. Adanya upacara Tali Manu Dabba merupakan respon dari Suku Sabu atas pentingnya Hak Asasi Manusi karena punahnya generasi penerus jika peperangan antar suku terus dilanjutkan. Oleh karena itu para leluhur mengganti peperangan antar manusia menjadi peperangan antar hewan yaitu ayam. Upacara adat Tali Manu Dabba dibentuk menjadi 2 kubu yaitu kubu atas yang disponsori oleh Hari Djuda dan kubu bawah yang disponsori oleh Nagngi Lay. Kedua kubu tersebut terdiri dari beberapa kelompok yang disebut sebagai Ada. Pada Ada atas terdiri dari Ada Gopo, Ada Rae Kewore, Ada Dabba, dan Kota Hawu. Sementara untuk Ada bawah terdiri dari Ada Hului, Ada Eiko, Ada Raja Mara, Ada Ei Tede, dan Ada Rae Wiu.
Upacara Heko Nyale Dabba atau Hibu Nyale Dabba
Upacara Heko Nyale Dabba atau Hibu Nyale Dabba merupakan upacara adat dalam menangkap Nyale atau biasa disebut sebagai cacinng laut yang hidup di lubang-lubang karang yang terletak dibawah permukaan laut. Menurut legenda Suku Sabu, Nyale tersebut merupakaan jelmaan dari seorang putri yang terkena penyakit kulit dan berubah menjadi cacing laut ketika mencari ikan bersama ibunya di laut. Ketika berubah menjadi Nyale putri tersebut berkata pada ibunya akan muncul pada waktu tertentu dan tidak akan menampakkan diri jika terdapat perempuan hamil, perempuan menyusui, perempuan yang tegah datang bulan, serta orang tua yang anaknya belum dimandikan dalam upacara Dabba Ana. Berdasarkan legenda tersebut, perempuan hamil, perempuan menyusui, perempuan yang tegah datang bulan, serta orang tua yang anaknya belum dimandikan dalam upacara Dabba Ana dilarang untuk mengikuti upacara Heko Nyale Dabba atau Hibu Nyale Dabba tersebut.
Upacara Pemau Do Made
Upacara Pemau Do Made merupakan upacara penyucian arwah orang yang sudah meninggal sebelum berangkat menuju nirwana atau surga. Upacara adat Pemau Do Made dilaksanakan selama 3 hari secara berturut-turut. Pada hari pertama keluarga dari orang yang telah meninggal saling berkumpul. Dari pihak laki-laki bertugas membawa hewan ternak seperti kamping atau babi beserta pangan lain seperti Padi, Kacang hijau, dan Sorgum sementara pihak perempuan mengumpulkan bahan-bahan tersebut. Pada hari kedua keluarga tersebut akan berpakaian berwarna putih kemudian keluar berkeliling kampung sembari menyanyi nyanyian adat diiringi tangisan ratapan menuju tempat pembuangan. Setelah sampai di tempat pembuangan tersebut, mereka semua nantinya disucikan kembali menggunakan asap dupa dan air. Pada hari ketiga dimulailah penyembelihan seluruh hewan ternak yang telah disediakan di hari pertama. Seluruh hewan ternak tersebut disembelih sebagai persembahan disebuah tempat yang disebut Pai. Nantinya sisa dari hewan ternak yang belum disembelih akan disembelih untuk dibagikan ke seluruh masyarakat Suku Sabu.
Upacara Bui Ihi Hole
Upacara Bui Ihi Hole merupakan upacara yang dilaksanakan dalam rangka mengungkapkan rasa syukur terhadap hasil panen yang telah dipeorleh. Upacara ini dilaksanakan bertujuan untuk menyucikan kembali ladang yang telah mereka panen serta dijauhi dari malapetaka seperti hal-hal jahat dan penyakit dan wabah. Upacara Bui Ihi Hole ini diselenggarakan dengan nyanyian adat dengan sebuah tarian dengan gerakan sederhana yang disebut tarian Padoa
Kalender adat suku Sabu
Menurut kefettoran (distrik) Seba terdapat pembagian waktu selama 1tahun sebanyak 12 bulan yang tiap bulan terdapat almanak kerja permanen yang dipelopori dan dikerjakan oleh Mone Ama. Pekerjaan tersebut terdiri dari pekerjaan sehari-hari maupun upacara-upcara keagamaan Jingi Tiu. Kalender adat Suku Sabu yang disebut sebagai Kewehu Rai ini menghitung hari ritualnya berdasarkan perhitungan bulan komariah. Kedua belas bulan tersebut terdiri dari:
Helila Wadu atau Kelila Wasu
Bulan Helila Wadu atau Kelila Wasu jatuh pada bulan Juli sampai Agustus. Pada bulan ini Suku Sabu diselenggarakannya salah satu amanat dari Dewan Mone Ama yaitu Puru Hogo berupa masak gula dan iris tuak. Gula dan Tuak yang merupakan salah satu bahan makanan pokok Suku Sabu.
Tunu Manu
Bulan Tunu Manu jatuh pada bulan Agustus sampai September. Pada bulan ini waktunya untuk menyelenggarakan upacara persembahan berupa penyembelihan seekor ayam dan seekor babi diatas batu persembahan bernama Wowadu Tunu Manu yang terletak di desa Rai Nyale.
Bagaraé
Bulan Bagaraé jatuh pada bulan September sampai Oktober. Pada bulan ini diselenggarakannya salah satu amanat dari Dewan Mone Ama yaitu Baga Rae sebagai tanda berakhirnya kegiatan masak gula dan iris tuak. Penyelenggaraan upacara Baga Rae selain untuk memeriksa curah hujan pada musim penghujan yang akan datang juga sebgai antisipasi tidak terjadi malapetaka seperti terhindar dari musuh dan adanya korban jiwa. Dari sisi sosial, penyelenggaraan upacara Baga Rae agar tali persaudaraan antara warga udu dan kerongo makin erat.
Koöma
Bulan Koöma jatuh pada bulan Oktober sampai November. Pada bulan ini diselenggarakannya salah satu amanat dari Dewan Mone Ama yaitu Djelli Ma sebagai tanda untuk membersihkan kebun. Penyelenggaraan upacara Djelli Ma untuk persiapan terakhir sebelum memasuki musim tanam di sawah atau di ladang.
Naiki Kebui
Bulan Naiki Kebui jatuh pada bulan November sampai Desember. Pada bulan ini tidak ada penyelenggaraan upacara sehingga Suku Sabu melakukan aktivitas lain seperti menyiangi sawah dari hama rumput. Jika tidak terjadi hujan, orang Suku Sabu dibawah pimpinan Deo Rai menyelenggarakan upacara meminta hujan kepada Deo Ama.
Wila Kolo
Bulan Wila Kolo jatuh pada bulan Desember sampai Januari. Pada bulan ini Suku Sabu menyelenggarakan upacara untuk meminta kepada Deo Ama agar hasil pangan baik dari kebun maupun sawah terhindar dari berbagai malapetaka seperti angin topan, angin badai, serta gelombang air laut. Selain itu, mereka juga meminta agar hasil panen nanti kian melimpah.
Hanga Dimu
Bulan Hanga Dimu jatuh pada bulan Januari sampai Februri. Pada bulan ini dilaksanakannya upacara sebelum memulai panen kacang hijau. Pelaksanaan upacara tersebut dalam rangka syukur kepada Deo Ama yang telah telah mengabulkan doa mereka saat pelaksanaan upacara di bulan Wila Kolo sebelumnya.
Dabba Akki
Bulan Daba Akki jatuh pada bulan Februari sampai Maret. Pada bulan ini diselenggarakannya 2 amanat dari Dewan Mone Ama yaitu Dabba dan sebagai tanda pembatisan bayi yang baru lahir serta Hapo sebagai pengesahan anak dalam daur hidup Suku Sabu. Adapun daur hidup Suku Sabu terdiri dari:
Metana yang artinya Lahir
Pe Wie Ngara yang artinya Pemberian Nama
Hapo yang artinya Pengakuan atau Pengesahan Anak
Dabba yang artinya Baptis
Leko Wue yang artinya Belajar Mengenakan Pakaian
Bagga yang artinya Sunat
Peloko Nga'a yang artinya Potong Gigi dan Perkimpoian
Made yang artinya Kematian.
Dabba Aé
Bulan Dabba Aé jatuh pada bulan Maret sampai April. Pada bulan ini tidak ada penyelenggaraan upacara adat melainkan penyelenggaraan pesta dalam rangka menyambut hari ketiga setelah panen sorgum dan pesta Pado'a
Banga Liu
Bulan Banga Liu jatuh pada bulan April sampai Mei. Pada bulan ini diselenggarakannya 2 amanat dari Dewan Mone Ama yaitu Banga Liu dan Hole. Upacara Banga Liu diadakan bertujuan untuk mendinginkan berbagai objek benda yang umumnya berkaitan dengan pertanian seperti kebun kelapa, kebun kapas, pinang, serta hewan ternak. Sementara itu pada bulan yang sama juga diadakan Upacara Pe-do'a Bui Ihi Hole dengan membawa sirih pinang ke kuburan leluhur untuk menghormati arwah para leluhur.
Werru Aa atau Aá
Bulan Werru Aa atau Aá jatuh pada bulan Mei sampai Juni. Pada bulan ini diselenggarakan upacara persembahan berupa pembenaman seekor ayam jantan kedalam sungai dalam keadaan hidup-hidup. Penyelenggaran upacara tersebut untuk menutup mulut sungai agar segala hasil pertanian Suku Sabu tidak keluar dari kampung mereka sehingga mereka tidak terkena kelaparan karena kekurangan pangan.
Ari
Bulan Ari jatuh pada bulan Juni sampai Juli. Pada bulan ini tidak ada penyelenggaraan upacara adat.[
Penyusunan 12 (dua belas) bulan tersebut berdasarkan atas 9 (sembilan) amanat dari Dewan Mone Ama disusun oleh Deo Ama yang terdiri dari:
Puru Hogo
Baga Rae
Djelli Ma
Hanga Dimu
Daba
Banga Liu
Holle
Hapo
Made
Tokoh kemerdekaan berkeyakinan Jingi Tiu
1. Julian Hendrik atau dikenal sebagai Ludji He oleh masyarakat sekitar yang diangkat sebagai perintis kemerdekaan oleh Menteri Sosial Sapardjo pada tahun 1980 di masa pemerintahan Soeharto. Julian Hendrik tatkala berumur 24 tahun pada 3 Februari 1933 mengajak kru marine untuk mengambil alih kapal perang De Zeven Provincien (Kapal Tujuh Provinsi) dari pihak Kolonial Belanda yang dikenal sebagai Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi.
2. Riwu Ga yang dijuluki sebagai terompet kemerdekaan oleh Soekarno. Tepat setelah proklamasi pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945, Riwu Ga berani dan nekat mengumumkan berita mengenai proklamasi kemerdekaan Indonesia atas izin Laksamana Maeda. Riwu Ga kala itu mengumumkan sambil mengibarkan bendera merah putih mengitari kota Jakarta dengan mobil Jip yang dikendarai oleh Sarwoko.
Riwu Ga juga berjasa menggagalkan aksi pelarian Soekarno ke Australia oleh pihak Kolonial Belanda karena Soekarno bersikeras membawa Riwu Ga tetapi dilarang oleh pihak kolonial Belanda.Riwu Ga diasuh oleh pihak keluarga Soekarno semasa pernikahannya dengan Inggit Garnasih.
Asal mula kepercayaan
Awalnya kepercayaan Jingi Tiu sama sekali tidak memiliki nama sampai datangnya para penginjil dan pendeta dari Portugis ke kampung suku Sabu pada tahun 1625 menamai kepercayaan tersebut dengan nama Gentios yang artinya kafir atau tidak bertuhan. Jingi Tiu sendiri berasal dari cara pelafalan suku Sabu terhadap kata Gentios tersebut. Jingi berarti menolak, Ti artinya dari, Au atau U artinya Tuhan sehingga dapat diartikan Jingi Tiu berarti "menolak perintah Tuhan" menurut ajaran agama Kristen.
Para orang Sabu dan para Mone Ama atau pemuka agama awalnya tidak menyadari arti kata Jingi Tiu tersebut sehingga mereka tidak membantah dan dianggap menerima saja istilah Jingi Tiu dari para penginjil dan pendeta Portugis tersebut. Setelah menyadari bahwa Jingi Tiu memiliki konotasi negatif, para orang Sabu dan para Mone Ama atau pemuka agama awalny ingin mengubah nama tersebut namun sudah terlambat. Alasannya karena nama Jingi Tiu sudah terlanjur melekat sebagai identitas kepercayaan mereka dan orang-orang sudah terbiasa dengan nama Jingi Tiu sehingga para orang Sabu dan para Mone Ama atau pemuka agama tetap sepakat menyandang Jingi Tiu sebagai nama ajaran mereka sampai sekarang.
Konsep dasar kepercayaan Jingi Tiu tidak mengenal istilah khusus yang mewakili kepercayaan mereka. Bagi orang Suku Sabu Jingi Tiu adalah penerapan keprcayaan terhadap kehidupan sehari-hari dibawah aturan Uku yang artinya Aturan Adat agar terjadi keseimbangan antara manusia dan alam. Penyimpangan dari Uku tersebut dapat mengganggu keseimbangan tersebut yang timbul berupa krisis dalam kehidupan mereka seperti terjadi kematian yang tidak wajar ditengah-tengah mereka, kemarau yang berkepanjangan, timbulnya serangan hama yang menyerang hasil pertanian mereka, dan bencana lainnya.
Selain itu Suku Sabu juga percaya adanya berbagai makhluk halus yang tingkatannya lebih rendah dari Deo Ama. Makhluk halus tersebut terdiri dari 3 (tiga) jenis yaitu Rai Balla yang menjaga bumi, Dahi Balla yang menjaga laut, dan Riru Balla yang menjaga langit. Makhluk halus tersebut mengatur berbagai aspek kehidupan manusia terutama Suku Sabu seperti mengatur musim hujan oleh Bani Ae yang artinya Puteri Agung, mengatur nira, mengatur musim kemarau, melindungi dan mengembangbiakkan berbagai hewan ternak terutama Kambing, menjaga keseuburan tanah, serta menumbuhkan tanaman oleh Riru Balla.
Selain untuk mengatur kehidupan manusia, ada makhluk halus lain yang bertugas untuk melindungi kampung penduduk Suku Sabu. Makhluk halus tersebut terdiri dari Uli Rae dan Maki Rae yang artinya Pengendali Kampung. Uli Rae berjaga disebelah kanan gerbang timur kampung sementara Maki Rae berjaga disebelah kiri gerbang timur kampung. Selain itu ada Tiba Rae yang artinya Penangkis Kampung serta Aji Rae yang artinya Penahan Kampung. Mereka semua berjaga agar menjadi Ngita Nano Ngita Adu yang artinya Agar Dapat Diandalkan Dapat Keras serta Ngita Kemaki Ri Ngallu Apa yang artinya Tahan Terhadap Serangan Angin Buruk.
Hubungan dan kesatuan antara alam dengan Suku Sabu diterapkan dalam berbagai upacara adat tradisional seperti perlunya mengadakan upacara adat dan sesajen terhadap Rai Balla setelah menggarap usaha tani guna memulihkan tanah yang luka serta agar Rai Balla tidak murka, bukan untuk persembahan kepada Deo Ama. Upacara adat tersebut juga berfungsi sebagai pemelihara keseimbangan antara Suku Sabu sebagai manusia, alam, serta dengan kekuatan gaib dari ketiga makhluk halus tersebut yang mereka percayai.
Salah satu keseimbangan yang lain adalah keseimbangan peran gender antara laki-laki dan perempuan dalam melaksanan tugas dan kewajibannya masing-masing dalam suatu rumah tangga. Keseimbangan lainnya adalah mendatangkan Meringgi dan Menggeru serta dijauhi dari Pana. Meringgi yang artinya Dingin memiliki maksud keadaan damai dan sentosa. Menggeru yang artinya Hijau atau Subur memiliki maksud kesuburan pada hasil pertanian dan peternakan. Pana yang artinya Panas memiliki maksud malapetaka atau bencana yang datang.
Saat ini jumlah penghayat kepercayaan Jingi Tiu menurun seiring perkembangan zaman. Mayoritas penduduk Suku Sabu pindah memeluk salah satu agama resmi di Indonesia yaitu Kristen Protestan yang pada tahun 2016 tercatat sekitar 89.86% dibandingkan dengan penghayat Jingi Tiu sebanyak 7.24%. Agama Kristen Katolik dan Kristen Protestan masuk ke daerah Suku Sabu sekitar tahun 1970an. Walaupun menganut agama Kristen Protestan beberapa norma dan upacara dari kepercayaan Jingi Tiu masih dipertahankan.
Dewan Mone Ama sebagai majelis adat dan agama
Dewan MoneAma merupakan dewan adat Suku Sabu yang memimpin jalannya sebagian besar upacara adat serta menetapkan Uku atau peraturan adat yang berlaku di Suku Sabu. Seluruh anggota Mone Ama adalah tokoh adat yang merepresentasikan berbagai makhluk halus yang mengatur kehidupan kampung Suku Sabu yang dilantik secara Dou Pehami yang artinya Orang Yang Diolesi atau Diurapi. Berikut adalah anggota dari Dewan Mone Ama:
Deo Rai
Deo Rai merupakan kepala adat dan memegang peranan tertinggi di Mone Ama. Deo Rai bertanggung jawab untuk memimpin seluruh upacara adat. Selain itu Deo Rai secara gaib juga bertanggung jawab dalam kegiatan pada musim hujan.
Mau Kia
Mau Kia merupakan panglima perang yang bertanggung jawab mengenai kegiatan perang dalam adat Suku Sabu.
Pulodo Wadu
Pulodo Wadu merupakan pemelihara adat yang bertanggung jawab dalam menjaga Uku atau peraturan adat Suku Sabu.[5] Selain itu, Pulodo Wadu secara gaib juga bertanggung jawab dalam kegiatan pada musim kemarau serta memelihara kesuburan tanah pertanian.
Do Heleo
Do Heleo merupakan pengawas kampung yang bertanggung jawab dalam mengawasi segala sesuatu di kampung Suku Sabu.
Rue
Rue merupakan tokoh yang bertanggung jawab untuk menyucikan atau membersihkan kembali setelah terjadinya penyimpangan dalam kehidupan Suku Sabu.
Rumah Ibadah
Rumah ibadah para penghayat kepercayaan Jingi Tiu digunakan untuk melaksanakan berbagai upacara adat Suku Sabu dan juga digunakan sebagai tempat ibadah keyakinan Jingi Tiu. Ada tempat lain yang dikenal sebagai Nada berupa lapangan luas yang khusus digunakan untuk meletakkan persembahan kepada makhluk halus diatas Wadu atau Wowadu yang artinya batu untuk meminta berbagai hajat. Rumah ibadah Suku Sabu memiliki berbagai nama yang mewakili fungsinya masing-masing:
Ammu Deo yang artinya rumah tuhan tempat berlangsungnya upacara dan pemujaan yang dipimpin oleh Deo Rai
Ammu Kepue atau Ammu Ada atau Ammu Ngaa Kewahhu yang artinya rumah asal bagi satu keturunan untuk berkumpul kembali (Pe Ada) untuk melaksanakan upacara (Ngaa Kewahhu) pada waktu-waktu tertentu. Ammu Kepue juga disebut sebagai Ammu Ae (Rumah Besar) yang artinya rumah besar yang dapat menampung banyak orang ketika melaksanakan upacara adat yang dipimpin oleh Bangngu Udu yang artinya Kepala Marga.
Ammu Maja yang artinya rumah untuk menghormati tokoh bernama Maja Pai Jawa dengan melaksanakan upacara yang disebut Mone Ama.
Ammu Rue yang artinya rumah untuk melaksanakan upacara penyucian setelah melakukan pelanggaran, terutama Perzinahan. Upacara dilangsungkan oleh pemangku adat yang mereka sebut sebagai Rue.
Adapun bentuk bangunan rumah ibadah berbentuk persegi panjang dengan bagian samping melebar yang berbentuk setengah lingkaran membentuk elips. Bagian atap rumah ibadah ini sendiri berbentu perahu terbalik dan dilapisi dengan dedaunan lebat yang mereka sebut sebagai Roukoko yang artinya bulu leher. Ukuran Roukoko sendiri mengikuti panjang balok bubungan yang disebut Bangngu.
Dari panjangnya balok Bangngu dapat pula ditentukan jumlah kasau (balai-balai pada atap rumah) yang disebut sebagai Worena. Jumlah Worena wajib berjumlah ganjil dengan sisa 1 Worena terletak di belakang rumah. Penyebutan Ammu atau rumah sendiri mengikuti banyaknya jumlah Worena seperti Wo Tallu yang artinya 3, Wo Lammi yang artinya 5 , Wo Pidu yang artinya 7, Wo Heo yang artinya 9, dan seterusnya. Bentuk tiang rumah ibadah berbentuk bulat karena menurut mereka bulat artinya kuat, utuh dan mampu menolak bala. Salah satu keunikan rumah ibadah ini adalah ketiadaannya dinding karena menurut Suku Sabu menandakan keterbukaan eskistensi manusia terhadap Tuhan terutama dalam hubungan penyucian dan pelanggaran sehingga tidak ada penghalang lagi diantara mereka. Bagi mereka yang telah melakukan pelanggaran diwajibkan untuk mengitari Ammu Rue sebanyak 3 kali sembari diasapi oleh pemangku adat yang disebut sebagai Rue. Proses upacara penstabilan tersebut dinamai Alle Pe Kehao Rowi Rue yang artinya telah disucikan atau telah dibasuh oleh Rue.
Upacara adat kepercayaan
Upacara Dabba Ana
Upacara Dabba Ana merupakan upacara pemandian bayi setelah dilahirkan. Upacara tersebut seperti halnya upacara Basuh Lantai di Daik Lingga, provinsi Kepulauan Riau tetapi berbeda tatacara dan maknanya. Upacara yang dilaksanakan pada bulan Dabba Aki ini bertujuan agar sang bayi diterima oleh Deo Ama dan dibaptis agar diakui menjadi Jingi Tiu. Proses upacara Dabba Ana diawali dari prosesi pemandian bayi dalam suatu wadah penampungan air hingga diakhiri dengan prosesi mencukur rambut. Jika bayi yang dilahirkan meninggal sebelum upacara Dabba Ana maka bayi tersebut disebut sebagai Anak Domehari sehingga tidak perlu melaksanakan ritual Dabba Ana.
Upacara Tali Manu Dabba
Upacara Tali Manu Dabba merupakan upacara adat berupa Sabung ayam yang dilakukan selama 2 (dua) hari dalam setahun kalender adat Suku Sabu di sebuah arena yang disebut Dara Nada. Adanya upacara Tali Manu Dabba merupakan respon dari Suku Sabu atas pentingnya Hak Asasi Manusi karena punahnya generasi penerus jika peperangan antar suku terus dilanjutkan. Oleh karena itu para leluhur mengganti peperangan antar manusia menjadi peperangan antar hewan yaitu ayam. Upacara adat Tali Manu Dabba dibentuk menjadi 2 kubu yaitu kubu atas yang disponsori oleh Hari Djuda dan kubu bawah yang disponsori oleh Nagngi Lay. Kedua kubu tersebut terdiri dari beberapa kelompok yang disebut sebagai Ada. Pada Ada atas terdiri dari Ada Gopo, Ada Rae Kewore, Ada Dabba, dan Kota Hawu. Sementara untuk Ada bawah terdiri dari Ada Hului, Ada Eiko, Ada Raja Mara, Ada Ei Tede, dan Ada Rae Wiu.
Upacara Heko Nyale Dabba atau Hibu Nyale Dabba
Upacara Heko Nyale Dabba atau Hibu Nyale Dabba merupakan upacara adat dalam menangkap Nyale atau biasa disebut sebagai cacinng laut yang hidup di lubang-lubang karang yang terletak dibawah permukaan laut. Menurut legenda Suku Sabu, Nyale tersebut merupakaan jelmaan dari seorang putri yang terkena penyakit kulit dan berubah menjadi cacing laut ketika mencari ikan bersama ibunya di laut. Ketika berubah menjadi Nyale putri tersebut berkata pada ibunya akan muncul pada waktu tertentu dan tidak akan menampakkan diri jika terdapat perempuan hamil, perempuan menyusui, perempuan yang tegah datang bulan, serta orang tua yang anaknya belum dimandikan dalam upacara Dabba Ana. Berdasarkan legenda tersebut, perempuan hamil, perempuan menyusui, perempuan yang tegah datang bulan, serta orang tua yang anaknya belum dimandikan dalam upacara Dabba Ana dilarang untuk mengikuti upacara Heko Nyale Dabba atau Hibu Nyale Dabba tersebut.
Upacara Pemau Do Made
Upacara Pemau Do Made merupakan upacara penyucian arwah orang yang sudah meninggal sebelum berangkat menuju nirwana atau surga. Upacara adat Pemau Do Made dilaksanakan selama 3 hari secara berturut-turut. Pada hari pertama keluarga dari orang yang telah meninggal saling berkumpul. Dari pihak laki-laki bertugas membawa hewan ternak seperti kamping atau babi beserta pangan lain seperti Padi, Kacang hijau, dan Sorgum sementara pihak perempuan mengumpulkan bahan-bahan tersebut. Pada hari kedua keluarga tersebut akan berpakaian berwarna putih kemudian keluar berkeliling kampung sembari menyanyi nyanyian adat diiringi tangisan ratapan menuju tempat pembuangan. Setelah sampai di tempat pembuangan tersebut, mereka semua nantinya disucikan kembali menggunakan asap dupa dan air. Pada hari ketiga dimulailah penyembelihan seluruh hewan ternak yang telah disediakan di hari pertama. Seluruh hewan ternak tersebut disembelih sebagai persembahan disebuah tempat yang disebut Pai. Nantinya sisa dari hewan ternak yang belum disembelih akan disembelih untuk dibagikan ke seluruh masyarakat Suku Sabu.
Upacara Bui Ihi Hole
Upacara Bui Ihi Hole merupakan upacara yang dilaksanakan dalam rangka mengungkapkan rasa syukur terhadap hasil panen yang telah dipeorleh. Upacara ini dilaksanakan bertujuan untuk menyucikan kembali ladang yang telah mereka panen serta dijauhi dari malapetaka seperti hal-hal jahat dan penyakit dan wabah. Upacara Bui Ihi Hole ini diselenggarakan dengan nyanyian adat dengan sebuah tarian dengan gerakan sederhana yang disebut tarian Padoa
Kalender adat suku Sabu
Menurut kefettoran (distrik) Seba terdapat pembagian waktu selama 1tahun sebanyak 12 bulan yang tiap bulan terdapat almanak kerja permanen yang dipelopori dan dikerjakan oleh Mone Ama. Pekerjaan tersebut terdiri dari pekerjaan sehari-hari maupun upacara-upcara keagamaan Jingi Tiu. Kalender adat Suku Sabu yang disebut sebagai Kewehu Rai ini menghitung hari ritualnya berdasarkan perhitungan bulan komariah. Kedua belas bulan tersebut terdiri dari:
Helila Wadu atau Kelila Wasu
Bulan Helila Wadu atau Kelila Wasu jatuh pada bulan Juli sampai Agustus. Pada bulan ini Suku Sabu diselenggarakannya salah satu amanat dari Dewan Mone Ama yaitu Puru Hogo berupa masak gula dan iris tuak. Gula dan Tuak yang merupakan salah satu bahan makanan pokok Suku Sabu.
Tunu Manu
Bulan Tunu Manu jatuh pada bulan Agustus sampai September. Pada bulan ini waktunya untuk menyelenggarakan upacara persembahan berupa penyembelihan seekor ayam dan seekor babi diatas batu persembahan bernama Wowadu Tunu Manu yang terletak di desa Rai Nyale.
Bagaraé
Bulan Bagaraé jatuh pada bulan September sampai Oktober. Pada bulan ini diselenggarakannya salah satu amanat dari Dewan Mone Ama yaitu Baga Rae sebagai tanda berakhirnya kegiatan masak gula dan iris tuak. Penyelenggaraan upacara Baga Rae selain untuk memeriksa curah hujan pada musim penghujan yang akan datang juga sebgai antisipasi tidak terjadi malapetaka seperti terhindar dari musuh dan adanya korban jiwa. Dari sisi sosial, penyelenggaraan upacara Baga Rae agar tali persaudaraan antara warga udu dan kerongo makin erat.
Koöma
Bulan Koöma jatuh pada bulan Oktober sampai November. Pada bulan ini diselenggarakannya salah satu amanat dari Dewan Mone Ama yaitu Djelli Ma sebagai tanda untuk membersihkan kebun. Penyelenggaraan upacara Djelli Ma untuk persiapan terakhir sebelum memasuki musim tanam di sawah atau di ladang.
Naiki Kebui
Bulan Naiki Kebui jatuh pada bulan November sampai Desember. Pada bulan ini tidak ada penyelenggaraan upacara sehingga Suku Sabu melakukan aktivitas lain seperti menyiangi sawah dari hama rumput. Jika tidak terjadi hujan, orang Suku Sabu dibawah pimpinan Deo Rai menyelenggarakan upacara meminta hujan kepada Deo Ama.
Wila Kolo
Bulan Wila Kolo jatuh pada bulan Desember sampai Januari. Pada bulan ini Suku Sabu menyelenggarakan upacara untuk meminta kepada Deo Ama agar hasil pangan baik dari kebun maupun sawah terhindar dari berbagai malapetaka seperti angin topan, angin badai, serta gelombang air laut. Selain itu, mereka juga meminta agar hasil panen nanti kian melimpah.
Hanga Dimu
Bulan Hanga Dimu jatuh pada bulan Januari sampai Februri. Pada bulan ini dilaksanakannya upacara sebelum memulai panen kacang hijau. Pelaksanaan upacara tersebut dalam rangka syukur kepada Deo Ama yang telah telah mengabulkan doa mereka saat pelaksanaan upacara di bulan Wila Kolo sebelumnya.
Dabba Akki
Bulan Daba Akki jatuh pada bulan Februari sampai Maret. Pada bulan ini diselenggarakannya 2 amanat dari Dewan Mone Ama yaitu Dabba dan sebagai tanda pembatisan bayi yang baru lahir serta Hapo sebagai pengesahan anak dalam daur hidup Suku Sabu. Adapun daur hidup Suku Sabu terdiri dari:
Metana yang artinya Lahir
Pe Wie Ngara yang artinya Pemberian Nama
Hapo yang artinya Pengakuan atau Pengesahan Anak
Dabba yang artinya Baptis
Leko Wue yang artinya Belajar Mengenakan Pakaian
Bagga yang artinya Sunat
Peloko Nga'a yang artinya Potong Gigi dan Perkimpoian
Made yang artinya Kematian.
Dabba Aé
Bulan Dabba Aé jatuh pada bulan Maret sampai April. Pada bulan ini tidak ada penyelenggaraan upacara adat melainkan penyelenggaraan pesta dalam rangka menyambut hari ketiga setelah panen sorgum dan pesta Pado'a
Banga Liu
Bulan Banga Liu jatuh pada bulan April sampai Mei. Pada bulan ini diselenggarakannya 2 amanat dari Dewan Mone Ama yaitu Banga Liu dan Hole. Upacara Banga Liu diadakan bertujuan untuk mendinginkan berbagai objek benda yang umumnya berkaitan dengan pertanian seperti kebun kelapa, kebun kapas, pinang, serta hewan ternak. Sementara itu pada bulan yang sama juga diadakan Upacara Pe-do'a Bui Ihi Hole dengan membawa sirih pinang ke kuburan leluhur untuk menghormati arwah para leluhur.
Werru Aa atau Aá
Bulan Werru Aa atau Aá jatuh pada bulan Mei sampai Juni. Pada bulan ini diselenggarakan upacara persembahan berupa pembenaman seekor ayam jantan kedalam sungai dalam keadaan hidup-hidup. Penyelenggaran upacara tersebut untuk menutup mulut sungai agar segala hasil pertanian Suku Sabu tidak keluar dari kampung mereka sehingga mereka tidak terkena kelaparan karena kekurangan pangan.
Ari
Bulan Ari jatuh pada bulan Juni sampai Juli. Pada bulan ini tidak ada penyelenggaraan upacara adat.[
Penyusunan 12 (dua belas) bulan tersebut berdasarkan atas 9 (sembilan) amanat dari Dewan Mone Ama disusun oleh Deo Ama yang terdiri dari:
Puru Hogo
Baga Rae
Djelli Ma
Hanga Dimu
Daba
Banga Liu
Holle
Hapo
Made
Tokoh kemerdekaan berkeyakinan Jingi Tiu
1. Julian Hendrik atau dikenal sebagai Ludji He oleh masyarakat sekitar yang diangkat sebagai perintis kemerdekaan oleh Menteri Sosial Sapardjo pada tahun 1980 di masa pemerintahan Soeharto. Julian Hendrik tatkala berumur 24 tahun pada 3 Februari 1933 mengajak kru marine untuk mengambil alih kapal perang De Zeven Provincien (Kapal Tujuh Provinsi) dari pihak Kolonial Belanda yang dikenal sebagai Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi.
2. Riwu Ga yang dijuluki sebagai terompet kemerdekaan oleh Soekarno. Tepat setelah proklamasi pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945, Riwu Ga berani dan nekat mengumumkan berita mengenai proklamasi kemerdekaan Indonesia atas izin Laksamana Maeda. Riwu Ga kala itu mengumumkan sambil mengibarkan bendera merah putih mengitari kota Jakarta dengan mobil Jip yang dikendarai oleh Sarwoko.
Riwu Ga juga berjasa menggagalkan aksi pelarian Soekarno ke Australia oleh pihak Kolonial Belanda karena Soekarno bersikeras membawa Riwu Ga tetapi dilarang oleh pihak kolonial Belanda.Riwu Ga diasuh oleh pihak keluarga Soekarno semasa pernikahannya dengan Inggit Garnasih.
Diubah oleh LordFaries4.0 21-11-2021 11:20
EriksaRizkiM dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas