- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
...
TS
nyunwie
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
Gue memejamkan mata dan meresapi suara angin yang beradu dengan rimbunnya dedaunan sebuah pohon besar di samping gerbong kereta yang sudah terbengkalai. Seperti alunan musik pengantar tidur; desiran angin membuat perlahan demi perlahan kesadaran gue melayang, menembus ruang tanpa batas, ke sebuah dimensi yang tidak beruntas.
"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.
"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.
"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"
"Haaah!?"

Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.
"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!
Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.
Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.
Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.
Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...
Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!
Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.
Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.
Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!
Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.
Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.
Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.
Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.
Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.
Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.
Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.
Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.
Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.
Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.
Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!
"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.
"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.
"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"
"Haaah!?"

Quote:
Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.
"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!
Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.
Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.
Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.
Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...
Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!
Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.
Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.
Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!
Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.
Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.
Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.
Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.
Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.
Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.
Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.
Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.
Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.
Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.
Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!
Spoiler for They don’t give you a right:
Diubah oleh nyunwie 31-10-2020 20:09
idrisefendhi552 dan 121 lainnya memberi reputasi
116
250.9K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nyunwie
#509
Part 52-a
Diam dan nikmati;
Tanpa berbagi,
Tanpa suara sana-sini
Cukup simpan semuanya untukmu sendiri!
Sekali lagi, aku bisa saja pergi tanpa pernah kamu sadari langkah pertama yang aku mulai;
Untuk berhenti,
Untuk tidak melanjutkan apa-apa saja yang sudah aku mulai,
Disini.
Apa kamu bisa melihat tandanya?
Tanpa berbagi,
Tanpa suara sana-sini
Cukup simpan semuanya untukmu sendiri!
Sekali lagi, aku bisa saja pergi tanpa pernah kamu sadari langkah pertama yang aku mulai;
Untuk berhenti,
Untuk tidak melanjutkan apa-apa saja yang sudah aku mulai,
Disini.
Apa kamu bisa melihat tandanya?
Gue dan Tante Elsa sama-sama diam memandangi jalan sepanjang 400 meter yang sepi tanpa satupun ada kendaraan lain yang melintas di sepanjang jalan ini. Sudah sekitar 10 detik mobil supir tante Elsa menghentikan laju mobil setelah berbelok memasuki jalan ini, "Ada yang aneh, Bu. Engga biasanya jalanan ini sepi." Ucapnya saat menghentikan laju mobil yang akhirnya membuat gue dan Tante Elsa sama-sama diam dan mengamati.
"Kita putar balik ajah, ya. Bu!?" Ucap supirnya Tante Elsa.
"Gak usah, Pak. Kita dari tadi diikutin. Puter balik juga percuma. Hadepin ajah. Saya mau lihat siapa." Ujar Tante Elsa.
"Baik. Perlu saya hubungin yang lain untuk standby…"
"Gak perlu, Pak. Saya sendiri bisa." Sambar gue.
"Bu!?" Supir Tante Elsa seolah menghiraukan ucapan gue.
"Turuti saja, dia boss kamu!" Celetuk Tante Elsa lalu ia sedikit menggelengkan kepala kemudian kembali melajukan mobil yang kami tumpangi ini secara perlahan.
"BRUUUGGGGG!" Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari garasi sebuah rumah hingga menabrak mobil yang kami tumpangi. Dan beberapa detik setelahnya, beberapa pria datang dan menyerang mobil milik Tante Elsa.
…
Tante Elsa langsung turun dari mobil setelah kami tiba di depan salah satu bangunan yang berada di kawasan Ruko. Wajahnya terlihat sangat marah dan dia langsung berjalan masuk ke dalam bangunan tersebut, "HAAANNNN SIALAN!" Teriak Tante Elsa yang membuat seisi ruangan terdiam. Sementara gue hanya tertawa-tawa sambil menyeret oleh-oleh yang gue bawa—salah satu orang yang menyerang kami sebelumnya.
Melihat gue tertawa, Tante Elsa menggelengkan kepala. "Finally, I know why you're kicked from your school." Ucap Tante Elsa lalu menunjuk salah satu pria berbadan tegap dengan pakaian security berwarna hitam untuk mengurus oleh-oleh yang gue bawa kemudian Tante Elsa menunjuk wanita yang duduk di meja resepsionis dan berkata, "Sambungkan saya dengan, Han!"
"NO!" Sambar gue yang lalu membuat wanita yang diperintahkan Tante Elsa menekan tombol angka pada pesawat teleponnya. "Ini bukan kerjaannya Om Han!" Sahut gue lalu mendorong pria yang akan mengambil oleh-oleh yang gue bawa, "Get out there! And never touch him!" Lanjut gue sambil menjauhkan pria berseragam security itu dari oleh-oleh yang gue bawa, Jimbo.
Tante Elsa terlihat kebingungan, "Tante tau orang ini. Dia salah satu anak buahnya Han!" Ujar Tante Elsa.
"Yes, He is. Tapi aku yakin, Tant. Dia bergerak bukan perintah dari Om Han." Sahut gue lalu menarik rambut Jimbo hingga dia tersungkur di kaki gue. "Mbo! Lo sadar situasinya, kan? Gue harap lo bisa selametin diri lo sendiri sekarang. Sebut namanya, Mbo! Sebut sama siapa lo kerja sama buat ini? Gue butuh nama!" Lanjut gue dan hendak menginjak wajahnya namun kaki gue berhenti saat mata gue bertemu matanya.
...
Gue menyeruput perlahan kopi hitam yang masih hangat yang baru saja disajikan oleh office girl yang bekerja di kantor yang pada papan pengenalnya bertuliskan sebuah kantor alih daya jasa pengamanan, yang sebenarnya hanya sebuah kamuflase dari apa fungsi sebenarnya kantor ini.
Sebenarnya tidak juga salah, kantor ini memang menyediakan jasa pengamanan. Namun hanya jika kamu adalah seseorang atau dari perusahaan yang menurut Tante Elsa layak yang dapat membuat tanda tanganmu bersanding dengan tanda tangan Tante Elsa dalam sebuah kontrak kerja sama.
Atau katakan saja, tempat ini adalah kantor administrasi tentara pribadi milik Tante Elsa. Karena setiap nama yang berada di dalam database komputer di kantor ini akan melakukan apa saja untuk keamanan Tante Elsa. Mengerikannya, Tante Elsa menggunakan ini semua sebagai mata dan telinga untuknya.
Mengetahui ini semua, banyak pertanyaan gue terjawab tentang Tante Elsa, tentang bagaimana Tante Elsa seperti untouchable diantara orang-orang untouchable. Namun hal ini juga menjadi tanya baru untuk gue. Bagaimana cara Tante Elsa melakukan ini semua? Gue tidak yakin dia melakukan ini seorang diri. Siapa orang di balik Tante Elsa? Atau dengan siapa dia membangun ini semua jika memang tidak ada jawaban untuk pertanyaan gue yang kedua.
"Hiiiiihhh." Gue bergidik melihat Tante Elsa yang juga sedang menyeruput kopi di dalam cangkirnya.
"Anty bakal tetep tegur si Han atas kelakuan anak buahnya ini." Ujar Tante Elsa sambil meletakan kembali cangkirnya di atas meja lalu menatap Jimbo yang sedang terikat di ruang sebelah ruangan tempat gue dan tante Elsa duduk yang dipisahkan dengan dinding kaca yang cukup tebal.
Gue lalu bangkit dan sedikit melongok ke luar jendela, ke arah bawah, ke arah mobil Tante Elsa yang rusak karena serangan yang dilakukan Jimbo dkk. "Tant…" Panggil gue lalu berbalik hadap, menghadap Tante Elsa. "Terserah kalo Tante mau bilang sama Om Han atau gimana. Tapi satu yang harus Tante tau, dia ngelakuin itu untuk Gladys. Please pastiin dia baik-baik ajah. Aku gak mau Gladys kehilangan satu-satunya orang yang berarti buat dia." Lanjut gue.
Tante Elsa terdiam sejenak lalu dia melepaskan kaca matanya. "Lagi pula ini salah aku, Tant. Apa yang mereka berdua lakuin ini sama-sama atas dasar dendam sama aku. Jadi please. Biarin aku yang selesain ini."
"Haahhh." Tante Elsa menghela nafasnya. "But you must remember. Kalau kejadian ini tersebar reputasi Anty bisa jatuh. Atau kalau Tante tidak bertindak atas ini orang-orang nanti bakal meragukan Tante karena sama kecoa-kecoa ini ajah Tante bisa di…" Tante Elsa menegakan kepalanya. Matanya mendadak menatap gue secara tajam. "YOU ARE CREATED ALL OF THIS!?" Lanjutnya lalu menggelengkan kepala sambil memijat hidungnya yang mancung itu.
"No! Bukan aku yang bikin ini semua. Aku cuma ngasih kesempatan mereka buat nyoba apa yang mereka pengen ajah." Sahut gue.
"Anty gak habis pikir sama kamu. Anty gak ngerti jalan pikiran kamu! Kamu kelewatan! Kamu sadar gak apa yang kamu lakuin ini berbahaya! Gimana kalau… Sh*t" Tante Elsa sedikit memukul bibir meja di hadapannya. "Apa ngajak Anty salah satu rencana kamu?" Tanya Tante Elsa.
Gue hanya menjawab pertanyaan Tante Elsa dengan sebuah senyuman. "Oke, setelah ini selesai Anty mau bener-bener ngobrol sama kamu. Anty yakin your mom doesn't like to see his child born to be a monster like this!"
"Yes, Tant. Help me." Sahut gue lirih. Lalu Tante Elsa bangkit untuk memeluk gue.
...
Satu setengah jam berlalu setelah kami tiba di kantor ini dan tiba-tiba suara gaduh terdengar dari arah lantai dasar kantor ini yang memecah keheningan di antara gue dan Tante Elsa semenjak terakhir Tante Elsa melepas pelukannya sambil berkata, "Anty bakal terus dampingin kamu sampe sembuh."
"DIAMMM!!!" Suara bentakan pria terdengar dari luar ruangan tempat gue dan Tante Elsa berada yang disusul suara ketukan pintu setelahnya.
"MASUK!" Ucap Tante Elsa berteriak. Sedangkan gue melangkah mendekati pintu, "WIDI! STOP! DIAM DI TEMPAT KAMU!" Bentak Tante Elsa pada gue.
Pintu terbuka lalu dua orang pria berbadan tegap yang berdandan mirip seorang reserse lengkap dengan lencananya masuk sambil menggiring seorang pria yang wajahnya sudah tidak asing di mata gue. "Lepas!" Ucap Tante Elsa pada kedua pria besar itu, lalu mereka melepaskan pria yang tidak asing itu.
Sekilas gue melihat lirikan mata Tante Elsa yang gue tangkap sebagai kode untuk gue melakukan apapun pada pria ini, "Kontrol!" Ucap Tante Elsa dan gue menganggukan kepala.
"Halo, lama tak jumpa, Pak Cik!?" Ucap gue lalu menghampiri pria itu kemudian menjulurkan tangan kanan gue, "Apa kabar, Pak Cik, sehat?" Lanjut gue namun Pak Cik tidak menjawab sapaan gue. "Oh ya, maaf." Gue menarik kembali tangan kanan gue dan menggantinya dengan tangan kiri. "Saya lupa kalau tangan kanan Pak Cik udah jadi cemilan…"
"Cuiiiiihhhhh…" Pak Cik tiba-tiba meludahi wajah gue dan sontak hal itu membuat dua pria yang membawanya kemari langsung memukul Pak Cik hingga ia tersungkur.
"Hahahaha." Gue tertawa sambil mengusap air liur Pak Cik di wajah gue, sementara Tante Elsa terlihat khawatir bangkit dari kursinya. Gue langsung memberi gesture pada Tante Elsa untuk diam dan kembali duduk. "Pak udah, Pak. Saya gak mau dia mati sekarang." Ucap gue pada dua pria itu lalu dia menghentikan serangnya pada Pak Cik.
Gue kembali menyodorkan tangan kiri gue untuk membantu Pak Cik kembali berdiri, "Kenapa Pak Cik nekat sekali?" Tanya gue yang dihiraukan oleh Pak Cik. "Haahhh…" Gue menghembuskan nafas lalu duduk di lantai di samping tubuh Pak Cik
Gue mengambil sedikit darah Pak Cik yang keluar dari pelipisnya yang pecah dengan telunjuk gue, "Pak Cik nampaknya ini orang yang tidak belajar dari pengalaman...mmmmmmm…"
"WIDI!!!!" Bentak Tante Elsa melihat apa yang gue lakukan.
"Memapa?" Tanya gue pada Tante Elsa dan di ruang sebelah gue melihat Jimbo sedang muntah.
"Lepas tangan kamu dari mulut kamu!!!!!!" Ucap Tante Elsa sambil berjalan menghampiri lalu mencoba mengeluarkan tangan gue yang sedang gue emut layaknya lolipop. "Bantu saya!" Ucap Tante Elsa pada dua pria yang rasanya juga sedang menahan rasa mualnya.
...
Quote:
...
Quote:
...
Dan gue hanya bisa menangis menumpahkan segalanya yang selama ini gue coba tutupi dari semua orang, bahkan diri sendiri dalam pelukan Tante Elsa.
"It's oke, ini suatu hal yang baik kamu sudah mau cerita ini semua sama Anty. It's oke." Ucap Tante Elsa sambil membelai bahu gue. "Anty yakin setiap orang punya adiksi dalam dirinya masing-masing. Dan Anty yakin setiap orang bisa lepas dari adiksinya kalau dianya mau. Anty tanya sama kamu sekarang. Kamu mau gak lepas dari Adiksi kamu sama darah orang dan jadi ninja begitu?"
Gue menggelengkan kepala, "Mmm...mmmaaa...aaa….maau." jawab gue sesegukan.
"It's good kalau kamu udah mau. Anty yakin kamu bisa, Anty yakin banget. Karena kamu juga udah sadar apa yang salah sama diri kamu dan kamu udah mau ilangin itu semua. Then now tinggal kita temuin caranya kamu buat bisa nahan diri kamu."
Gue menganggukan kepala.
"Oke sekarang kita bersihin ini semua dulu." Ucap Tante Elsa sambil melepas pelukannya. "Kamu diem. Gak usah bergerak." Lanjut Tante Elsa lalu menekan tombol speaker pada pesawat teleponnya kemudian menekan rangakain tombol angka, "Tolong bersihin disini, yah." Ucap Tante Elsa berbicara dengan seseorang yang dia hubungi lalu kembali mendekap gue kemudian menuntun gue untuk keluar dari ruangan ini melewati tubuh 3 orang yang sudah tergeletak tidak bernyawa.
"Tant…"
"Yaa."
"Jimbo." Ucap gue.
"Biar nanti assitant Anty pulangin dia ke Han sekalian sampein pesan Tante buat si Han sialan itu."
"Tant…" Panggil gue lagi.
"Yaa."
"Aku takut ke Neraka."
"Haaahh…. Semua orang takut ke Neraka, Wid. Tapi nanti kamu gak sendiri, Anty selalu disamping kamu." Ucap Tante Elsa lalu menjatuhkan sebuah Katana yang sudah berlumuran dengan darah.
...
"Gimana tadi daftar sekolahnya? Loh, kalian kok bajunya beda sama berangkat tadi?" Tanya Mbah Uti sedikit heran, saat kami tiba di rumah setelah sebelumnya gue dan Tante Elsa mengganti pakaian kami di apartementnya Tante Elsa.
"Iya, tadi abis belanja dulu, Bu. Hehehe." Jawab Tante Elsa sambil menunjukan paper bag dari sebuah department store.
"Loh, Sogo ngeluarin paper bag ini lagi? Bukannya ini papper bag edisi lebaran kemarin, yah?" Tanya Mbah Uti matanya tajam menatap ke arah Tante Elsa. "SA!???"
###
Pada kenyataanya sebuah cahaya yang membuat bayangan itu ada.
anonymcoy02 dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Tutup
