Kaskus

Story

congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.

Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
sargopipAvatar border
efti108Avatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
166.7K
793
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
#627
Part 76 - Nice Try
Tiba akhirnya di ujung semester genap, waktunya penentuan kenaikan kelas bagi siswa-siswi seluruh penjuru negeri.

Mamah yang menjadi wali bagi Gua dan Zahra saat pengambilan rapor. Gua dan Zahra juga ikut mengantar Mamah di sekolah.

Sambil menunggu selesai pengambilan rapor dan segala tetek bengek dibocorkannya kenakalan gua, kami menunggu di warung luar sekolah.

"Nilaiku kayaknya bakal jelek semua deh" keluh gua ke Zahra

Dia membalas dengan enteng "Siapa suruh galau sampe berkepanjangan gitu"

"Kamu udah pernah pacaran ra?"

"Belum, kenapa emang?" Zahra balik tanya

Gua memaklumi balasan perkataan gua sebelumnya "Pantesan.."

"Emangnya semua orang yang patah hati kayak gitu ya?"

"Ngga juga sih haha"

"Wuuuu"

Sekitar satu jam lebih kami berdua menunggu, akhirnya Mamah mengabari Zahra kalau rapor kami berdua sudah di tangan (Mamah masih diam seribu bahasa ke gua, jadi ngabarinnya ke Zahra).

Benar saja, nilai kimia gua dapet D, sedangkan fisika pas KKM B-

Nilai agama ngga usah ditanya lagi, gurunya resek.

Walaupun masih dinyatakan naik kelas, tapi gua rasa nilai waktu itu adalah nilai rapor gua yang paling jelek sepanjang 12 tahun mengenyam pendidikan dasar.

Gua akui, gua ngga pernah expert di perkembangan rumus-rumus fisika dan kimia. Aneh rasanya bagi otak gua untuk mencerna rumus rumus yang susah masuk di logika gua.

Mungkin, gua bakal lebih bisa memahami jika si pengajar menjelaskan fungsi dari rumus dan teori tersebut. Misal, diberi contoh kasus di kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, guru-guru di negeri tercinta ini mana peduli tentang hal seperti itu?

Tak butuh waktu lama bagi Papah untuk mengetahui rapor merah gua.

Langsung panas kuping gua diomelin berjam-jam lewat telepon.

Kedua eyang gua juga ngomel-ngomel saat gua pulang ke rumah.

Duhh, Okta Okta..

Satu-satunya raport merah disepanjang gua menempuh pendidikan kala itu menjadi titik balik semuanya.

Perlahan gua membuka lembaran baru, membuka hati bagi orang baru.

Gua nggak try hard banget buat cari ganti, tapi kalau ada yang mau jalan bareng di samping gua, ayok jalani.

Muka sedikit bule ini (walau nggak ganteng banget), tentu saja menjadikan gua ngga susah mendekati cewek-cewek. Meskipun tidak didukung dengan postur tubuh ideal.

Punya kakak yang jago foto kayak Mbak Oliv juga menambah privillege bagi gua. Karena berkat hobinya dan kepiawaiannya memotret, feed IG gua jadi rapi dan aestetik ketika distalking oleh cewek-cewek😜

Modif motor menjadi pelampiasan gua dalam mencari kesibukan di libur semester, sekaligus pelampiasan agar tidak terpikirkan kenangan-kenangan gua dengan Okta.

Modif ala Vietnam sebagai kiblat gua dalam mempercantik si MX Old. Karena bagi gua, modif-modif ala vietnam nampak lebih simple dan elegan. Ngga seperti modif-modif alay ala Indonesia.

"Motor apik-apik yo masih aja bonceng angin mbah" ejek mas Joe ketika gua memasang speedometer custom di bengkelnya

"Dikata Zahra sama Mbak Oliv itu angin?" Bela gua

Mas Joe ngga mau kalah "Mereka kan adek ama kakak lu"

"Yaudah, bukan angin kan?"

"Terserah lu dah"

Kami terdiam beberapa saat, Mas Joe masih membereskan cover body yang harus dipasang seperti semula setelah memasang speedometer baru milik gua. Btw, jupiter MX ini cover bodynya bikin ribet kalau mau bongkar-bongkar😭

Selesai dengan motor gua, kami berdua duduk di bangku depan bengkel sambil minum es

Mas Joe membuka obrolan "Lu cari yang gimana sih ja?, Masa modelan kayak lu lama banget dapet ganti"

"Bukan masalah cepet apa ngga nya mas, kalo cuma buat nyari ganti mah tinggal pilih doang" sombong dikit haha

"..."

"Gua pengennya yang bener-bener klop. Paling ngga ya sisi minus yang beresiko besar buat putus harus gua pertimbangin. Gua ngga mau patah hati lagi mas, capek. Pengennya ini yang terakhir gua sakit hati"

"Kebanyakan seleksi lu, kayak orang nyari karyawan. Btw, udah ada kandidatnya belom?" Tanya mas Joe

"Ada dehhh hahah" lalu gua bergegas pergi dari bengkel, menghindari pertanyaan menye-menye soal gebetan gua

Sebenernya gua lagi deket sama beberapa cewek, dan ada satu cewek yang jadi kandidat kuat, namanya Revi

Gua agak lupa gimana awal gua kenal sama dia. Yang jelas, gua pernah sekontak BBM sama dia. Kayaknya sih bisa satu kontak lewat broadcast wkw

Kan waktu itu lagi jamannya promote pin BBM lewat broadcast.

Meskipun saat itu udah lumayan deket sama Revi, tapi ngga gua lanjutin karena gua lebih milih Diana.

Ngga lama setelah itu, Revi juga punya pacar (gua tau dari postingannya)

Sampai beberapa waktu lalu, dia nemuin IG gua, kemudian kami saling follow dan akhirnya kembali dekat, secara virtual. Kami berdua sama sekali belum pernah bertemu secara langsung. Hanya sekedar berinteraksi lewat chat, telepon, serta video call.

Tapi rasa-rasanya asik gitu komunikasi sama Revi. Ngga ada rasa canggung antara kami berdua walau cuma berkomunikasi lewat dunia maya.

Di ruang keluarga rumah Mbak Oliv, gua lagi guling-guling nontin TV.

Sedangkan si tuan rumah sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.

Tiba-tiba ia keluar sambil menawarkan sesuatu "Dek, mau jajan ngga?"

"Mau lah, pake ditawarin segala"

Mbak Oliv menyerahkan selembar uang berwarna biru, membebaskan gua beli apa saja dengan uang itu. Tapi dengan syarat gua harus balik membawa 'roti lapis'

Sekembalinya gua dari warung, Mbak Oliv langsung mencerca gua dengan pertanyaan "Revi Siapa?"

Ternyata Revi menelepon ketika gua sedang pergi ke warung

"Kenalin dong.."

"Enak aja kenalin, aku aja belum pernah ketemu" balas gua

"Yaudah, ntar malem ajakin ketemuan"

Gua hanya diam, menimang-nimang keputusan yang akan gua ambil.

"Aku pinjemin mobil deh" bujuk Mbak Oliv

Akhirnya gua mengambil Handphone, mencari nomor Revi, dan memencet tombol call

"Halo rev, sorry tadi gua abis ke warung, HP nya gua tinggal" kata gua

"Oh iya ngga apa" balasnya

Lalu gua bertanya perihal kepentingan apa sehingga dia menelepon gua, yang dijawab dengan "cuma pengen telepon aja sih"

Kami saling diam selama beberapa detik. Di hadapan gua, mbak Oliv memberikan isyarat agar gua segera menawarkan Revi untuk pergi berdua.

Gua menarik nafas, mengumpulkan keberanian dan membuang rasa gugup

"Rev, lu suka kopi ngga?" Tanya gua

"Sukaaa banget, tapi yang pake cream. Kalo kopi item, ngga suka" jawabnya

"Gua tau tempat asik buat nongkrong gitu, lu mau tau ngga?"

"Di mana tuh?"

"Wah, ini maps gua error dah, ngga bisa shareloc. Gimana kalo gua ajakin langsung ke sana?" Kalimat tersebut terucap secara spontan dari mulut gua

Dia tertawa terkekeh di seberang sana, dilanjut dengan ucapan "nice try"

Gua memastikan "Jadi gimana?" Berdebar jantung gua menunggu jawaban dari Revi

"Jemput gua abis isya ya"

Kemudian, telepon langsung terputus. Gua bernafas lega

Mbak Oliv bertanya tentang tempat ngopi yang gua maksud "emang mau kamu ajakin ke mana?"

"Ngga tau" balas gua, menyesal mengajak Revi ke tempat ngopi. Gua yang biasa nongkrong di warkop mana paham tempat ngopi yang instagramable.

Mbak Oliv merespon dengan isyarat jari telunjuk yang diletakkan di dahi dengan posisi horizontal.

Setelah maghrib, Mbak Oliv sibuk memilihkan setelan outfit yang cocok buat gua.

Mbak Oliv menyodorkan kemeja yang diambilnya dari lemari pakaian di kamar gua yang jelas-jelas langsung gua tolak.

"Gerah mbak kalo pake kemeja" protes gua

Setelah memilih-milih, akhirnya pilihan mbak Oliv jatuh ke outer windbreaker.

Gua mengiyakan pilihannya

"Kamu kayaknya punya jam tangan deh dek" ucap Mbak Oliv

"Punya"

"Dipake lah"

Gua ngga setuju kali ini, karena kulit gua seringterasa gatal ketika mengenakan aksesoris di pergelangan tangan.

Mbak Oliv kembali membujuk "Buat malem ini aja"

Di dalam lemari, gua ambil jam tangan stainless berlogo PMI dari kotaknya. Sebuah jam pemberian dari Papah, yang dibawa ketika pulang berlayar.

"Dah, ganteng banget. Pasti si Reva klepek-klepek" kata Mbak Oliv

"Reviii" gua mengkoreksi

"Santai dong haha"

Selepas isya, gua pergi ke rumah Mbak Oliv untuk meminjam mobil.

Ia menyerahkan kunci mobil dengan gantungan sebuah dompet yang berisi STNK

Sesaat sebelum berangkat, Mbak Oliv berlari kecil masuk ke dalam rumah "tunggu, ada yang kelupaan"

Ia secara brutal menyemprotkan parfum ke gua setelah kembali. Gua hanya bisa menutup mata dan wajah agar tak terkena semprotan cairan pewangi tadi.

Setelah mengendus bau parfum, gua menyadari bahwa parfum yang di semprotkan ke gua adalah parfum cewek.

"Ya jangan parfum cewek juga dong mbak" protes gua

Mbak Oliv membalas dengan senyum kuda

Dengan kemantaban hati, gua segera membelah padatnya lalu lintas kota di sabtu malam, menjemput Revi di rumahnya
delet3
japraha47
mirzazmee
mirzazmee dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.