Kaskus

Story

penacintaAvatar border
TS
penacinta
Keluarga Mantan Pacar
Keluarga Mantan Pacar


 


Aku baru saja selesai membereskan barang-barang ke dalam rumah kontrakan kami. Suamiku –Mas Zaki, langsung kembali ke kantornya setelah urusan beberes kelar.


“Loh, kamu Rania, kan? Mantan pacarnya si Hendi adik aku?” tiba-tiba orang di sebelah rumah menyapaku.


Ya salaam … ternyata dia Mbak Maria, kakak dari Mas Hendi, mantan pacarku dulu.


“Eh, Mbak Maria, apa kabarnya, Mbak?” Aku menghampiri pagar rumahnya dan menyalaminya.


“Kamu beli rumah di sini?” tanyanya dengan tatapan menyelidik.


“Emm … bukan, Mbak. Cuma ngontrak.”


“Ooh … wajar, sih, kamu mana mampu beli perumahan di kompleks ini! Ya udah, sini duduk, tapi sandalnya dilepas, ya! Entar ubin marmer aku kotor!” ujarnya.


“Iya, Mbak,” jawabku santai. Aku pun melepas sandal dan duduk di teras rumahnya.


Inilah sebabnya dulu, aku berpikir panjang hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Mas Hendi. Keluarganya kurang beradab.


“Tapi, yang tadi itu suami kamu?” tanyanya lagi.


“Iya, Mas Zaki.”


“Itu mobil punya sendiri apa pinjem?” cecarnya lagi. Pasti tadi dia melihat kalau Mas Zaki pergi dengan Fortunernya. Haduuh!


“Ooh … mobil kantornya, Mbak.”


“Hmm … sudah kuduga, sih! Kamu gak nyesel gagal kimpoi sama si Hendi?”


“Sudah lama berlalu, Mbak. Mungkin kami bukan jodoh.”


“Itu, lah, kamu pasti nyesel, kan? Si Hendi sekarang udah merid sama anak orang kaya, lho! Rumahnya aja besaaarr ….”


“Syukurlah, Mbak.”


“Kamu tau, gak? Dia kerja di mana?”


“Di mana, Mbak?”


“Di perusahaan tambang HS Group!”


“Waaw … pantesan gajinya gede, ya?” ujarku seraya tersenyum. Nama perusahaan itu memang sudah familiar di telingaku.


“Jelas, lah! Pasti kamu nyesel, kan?”


“Enggak, lah, Mbak. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah. Aku cukup bahagia dengan rumah tanggaku sekarang.”


“Kamu, sih, pake minta putus segala dari si Hendi. Sekarang dapat suami kere, bisanya cuma sewa rumah doank! Mobil aja gak punya.”


“Gak apa-apa, Mbak. Aku sudah bersyukur dengan kehidupanku sekarang.”


“Alah, Ran! Mana mungkin kamu gak nyesel, kalo aja dulu kamu gak minta putus, trus jadi nikah sama Hendi, pasti kamu sekarang hidup enak.”


“Mbak, aku permisi pulang, ya!”


“Kok buru-buru amat? Aku belum habis cerita, lho! Kamu gak pengen masuk dulu buat liat-liat isi rumah aku?”


“Hehe … lain kali gak apa-apa, ya, Mbak?”


“Ya udah, deh! Tapi, kamu sewa rumah itu berapa juta sebulan?”


“Mmm … aku gak tau, Mbak. Itu urusannya Mas Zaki. Kami hanya sementara aja, kok.”


“Hahaha … ya iya, lah. Sewa rumah di kompleks elite begini pasti mahal, kalian gak akan sanggup kalo kelamaan!” Mbak Maria tertawa mengejek.


“Hehehe … iya, Mbak. Permisi ….”


Akhirnya bisa bernapas lega setelah bisa menjauh dari Mbak Maria. Mungkin dia memang tak perlu tahu, kalau HS Group itu punya Papa mertuaku, dan Mas Hendi adalah bawahan suamiku di kantor cabang luar pulau. Kami mengontrak sementara karena kami sedang merenovasi istana megah milik kami di pusat kota. Rumah dengan lima puluh pilar besar.


Sekali lagi aku bersyukur, untung saja dulu aku tak jadi menikah dengan Mas Hendi.

unyienAvatar border
lsenseyelAvatar border
pulaukapokAvatar border
pulaukapok dan 6 lainnya memberi reputasi
5
2.2K
30
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
penacintaAvatar border
TS
penacinta
#3


Keluarga Mantan Pacar

Part 4

Malam itu, Mas Zaki mengajakku keluar sekedar mengisi perut dan menikmati pemandangan kota ini dari lantai sepuluh, di sebuah restoran kelas atas yang memang sangat terkenal. Padahal aku lebih suka jajan bakso di warung bakso favoritku saat kuliah dulu.

Oh, ya. Aku akan ceritakan sedikit tentang awal pertemuanku dengan Mas Zaki. Awalnya aku sama sekali tak menyangka kalau ternyata Mas Zaki adalah anak pemilik perusahaan di tempat aku magang dulu. Kami sama-sama anak magang lebih tepatnya. Penampilan Mas Zaki biasa saja, sama seperti mahasiswa lainnya.

Saat itu, aku melihat Mas Zaki kesulitan membawa beberapa tumpuk berkas sekaligus. Aku berniat membantunya,  tapi apes, malah aku yang dimarahi olehnya.

“Mas, Mas. Sepertinya membawa banyak berkas begitu bisa bahaya, lho. Kan jalan jadi gak kelihatan,” sapaku.

“Awas, jangan ganggu kerjaan orang napa, sih? Bikin tambah ribet aja!” dengusnya.

“Yaah … mau dibantuin malah marah. Ya udah!” balasku. Tiba-tiba, pluk! Satu buah map plastik terjatuh ke lantai. Jelas saja Mas Zaki kesulitan untuk bisa mengambilnya. Kalau dia menunduk untuk mengambil, otomatis sebagian berkas yang dipegangnya akan ikut terlepas. Aku hanya terkekeh melihatnya kebingungan, namun malu untuk meminta tolong.

“Kenapa malah ketawa?”

“Susah, kan? Dibilang juga apa? bawa berkas itu sedikit-sedikit aja!”

“Eh, berisik! Bantuin, kek, ambilin itu yang jatoh. Susah, nih!”

“Bilang dulu, dong! Tolong!”

“Ck! Cepetan!”

“Ya ampun, gak sopan amat. Bilang tolong aja susah?”

“Aku udah telat, nih! Ditungguin bos di lantai atas! Kudu cepet ke lift, udah gak ada waktu!”

“Huuh … dasar cowok sok kecakpean. Ya udah, nih! Awas kalo jatoh lagi, ogah bantuin!” ujarku sambil memungut dan meletakkan map itu di bagian paling atas dari berkas-berkas yang dipegang olehnya.

Tanpa mengucap terima kasih, dia langsung saja ngeloyor pergi. Ingin rasanya aku jitak kepalanya. Betewe, dia itu masih magang aja songong amat! Huh!

Sepulang magang, aku dijemput boleh Mas Hendi. Waktu itu, aku mau diajak untuk bertemu keluarganya. Itulah moment paling berkasan seumur hidupku. Kesan buruk maksudnya.

Sampailah kami di rumah keluarga Mas Hendi tepat jam delapan malam. Ibu, kakak, dan seorang adiknya perempuan sudah menunggu di ruang tamu. Saat aku masuk, serentak mereka menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Apa yang salah, sih? Apa penampilanku terlalu norak?

“Duduk aja dulu, ya, Ran. Mas mau ke dalam sebentar,” ujar Mas Hendi saat itu. Mas Hendi pun berlalu.

“Rania, ya?” tanya ibunya Mas Hendi.

“I-iya, Bu.” Aku maju selangkah untuk menyalami mereka.

“Kamu udah kerja?” tanya Mbak Maria.

“Masih kuliah, Mbak, sekarang sedang magang.”

“Mbak, kamu anak tunggal, ya?” tanya adiknya Mas Hendi, namanya Yuri.

“Sebenarnya aku punya saudara kandung, kakak lebih tepatnya. Tapi meninggal waktu kecil,” jawabku agak sungkan. Kenapa pertanyaannya langsung menjurus begitu, sih?

“Sakit?” tanya sang Ibu.

“i-iya, Bu. Sakit.”

“Sakit apa?” tanyanya lagi, nadanya masih sama, datar dan dingin.

“Sakit nya gak berat, waktu itu demam tinggi, tapi karena ada kelainan bawaan lahir, jadi gak bisa tertolong.”

“Kelainan apa?”

“Mm, anu, kalau istilahnya sekarang DS, Bu.”

“Down syndrome?” tanya Yuri. Ekspresi wajahnya berubah jadi tak lagi ramah.

“Iya,” jawabku singkat.

“Kayaknya kurang cocok, Bu,” ujar Yuri lagi.

“Kenapa?” tanya ibunya.

“DS itu bisa menurun, loh. Gimana kalau nanti anaknya dia sama Mas Hendi DS jugak? Mau ditaro mana muka keluarga kita, Bu?” ujar Yuri. Deg! Jantungku langsung terasa sakit. Sehina itu, kah?

“Kamu bener juga. Tapi kalau misalnya dia perempuan yang mau kerja keras dan banting tulang demi keluarga kita, gak apa-apa juga, sih,” bisik Mbak Maria. Meski suaranya bisik-bisik, aku tetap bisa mendengar. Saat itulah aku tahu kalau mereka bakal jadi toxic seandainya aku masuk dalam keluarga ini.

“Kamu serius sama anak saya?” tanya si Ibu.

“Saya tergantung Mas Hendi, kalau dia serius ya saya akan berusaha serius juga.”

“Loh, gak bisa gitu, dong! Sekarang zamannya emansipasi wanita, kalau kamu memang suka sama adik aku, kamu harus kejar dia sampai dapat! Apalagi Hendi itu ganteng, lah kamu? Kalihatan biasa aja.” Mbak Maria menimpali. Ooh, begitu cara pandang mereka dalam suatu hubungan. Ini beneran gak sehat. Aku gak mau jadi menantu dan ipar yang teraniaya di kemudian hari.

“Buk, Mbak, Dek, gimana? Rania cantik, gan?” tanya Mas Hendi yang sudah kembali datang ke ruang tamu.

“Cantiknya biasa aja, standar, kalau dinilai pakai angka, mungkin lima puluh lima,” sahut Yuri. Maksudnya apa bicara begitu?

“Ah, kamu masih kecil, gak boleh bicara begitu!” sahut Mas Hendi sambil duduk di sebelah Yuri. Seketika itu pula Yuri bergelayut manja di pundak Mas Hendi. Aku kok jadi agak risih, ya?

“Hendi, ibu sih gak masalah, tapi cuma kalau bisa pastikan dulu sebelum kalian melanjutkan hubungan,” ujar si Ibu.

“Pastikan apanya, Bu?” tanya Mas Hendi.

“Pastikan nantinya kerjaannya bagus, gajinya besar, kerjanya dalam urusan rumah tangga telaten, dan royal sama keluarga kita.”

“Ooh … pasti itu, Bu! Rania bakalan diterima kerja di perusahaan tambang nanti, ya kan, Ran?” tanya Mas Hendi.

“Baru magang aja, Mas. Belum tahu apakah boleh lanjut kerja di sana setelah lulus nanti,” jawabku.

“Ya harus bisa lanjut, dong!”

“Aku usahakan, Mas.”

“Naah … gitu, dong. Itu baru namanya calon mantu ibuku.” Mas Hendi tertawa renyah. Dia tak tahu ada segores luka dalam hatiku. Aku bisa membaca niat keluarga ini terhadapku.

Malam itu juga, saat di jalan setelah dari rumah ibunya, aku bertanya langsung pada Mas Hendi tentang maksud keluarganya.

“Ya wajar, lah, semua mertua pasti mau menantu yang pinter cari uang dan telaten ngurus rumah tangga,” jawab Mas Hendi enteng.

“Kalau aku kerja, lalu aku gak sempat beberes rumah gimana, Mas?”

“Itu namanya kamu bukan menantu yang baik. Pinter-pinter, dong, atur waktu supaya bisa menghasilkan uang dan mengurus rumah.”

“Emangnya kalau kita nikah, kita tinggal dengan ibumu?”

“Iya, lah. Mana mungkin aku ninggalin ibu aku, Ran. Aku kan anak lelaki satu-satunya.”

“Aku maunya kalau menikah, tinggal terpisah, Mas. Meskipun hanya mengontrak. Ibuku juga tinggal sendiri gak masalah.”

“Gak bisa gitu, lah. Ibuku harus tetap diutamakan.” Mas Hendi bicara dengan penekanan yang sangat memuakkan. Egois!

Sejak hari itu, aku semakin yakin untuk meminta berpisah saja dari Mas Hendi. Belum apa-apa adiknya sudah sering minta pulsa, minta bayarin gofood, minta belikan baju, dan keperluan remeh temeh lainnya. Kalau aku protes, Mas Hendi selalu saja membela adiknya. Malam itu, aku kembali menyampaikan keberatan atas sikap keluarganya padaku.

“Ya ampun, Ran, segitu doank kamu keberatan? Anggap aja ini ujian kamu sebagai calon mantu di keluarga kami.”

“Kenapa mesti pake ujian segala?”

“Ya karena aku kan ganteng, banyak cewek yang ngerebutin aku. Kalau memang kamu mau serius, ikutin aja lah!”

“Ooh, gitu? Apakah wajah tampan saja kelak bisa membuat istrimu kenyang, Mas?”

“Kok kamu tanyanya gitu? Masih banyak, loh, cewek-cewek cantik yang antri mau sama aku, kamu gak takut aku tinggalin?”

“Enggak. Soalnya sampe sekarang aja kuliah kamu gak jelas, Mas. Entah kapan lulusnya. Malahan kadang tugas kamu suruh aku yang ngerjain. Jelas-jelas kita beda jurusan.”

“Jadi kamu gak ikhlas bantuin aku, iya?”

“Bukan gitu, keluargamu menuntut standar tinggi untuk calon istri kamu, sedangkan aku? Aku bisa berharap apa dari kamu, Mas? setidaknya tunjukkanlah kalau kamu memang serius, bertanggung jawab, kuliahnya dibenerin, jangan kebanyakan bolos lagi.”

“Loh, ya terserah aku, lah!”

“Ya udah, kalau gitu, sampai di sini aja hubungan kita, Mas.”

“Hah? Rania, kamu minta putus, dari pangeran kampus seperti aku? Kamu yakin? Gak akan nyesel?” tanyanya seraya membentangkan kedua tangan dengan pongahnya. Ia tertawa mengejek.

“Enggak, Mas, karena aku bukan Nia Ramadhani dan kamu bukan Ardi Bakrie!”


User telah dihapus
jiyanq
pulaukapok
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.