- Beranda
- Stories from the Heart
KKN DI LEMBAH MATAHARI (BASED ON TRUE STORY)
...
TS
bayubiruuuu
KKN DI LEMBAH MATAHARI (BASED ON TRUE STORY)
Prakata
Hai horror mania diforum tercinta, saya akan menceritakan salah satu pengalaman hidup yang tidak mungkin dilupakan oleh empunya cerita. Awal dari cerita ini, saya tak sengaja melihat teman-teman digrup SMA Angkatan saya memposting foto keindahan lokasi alam, keangkerannya serta banyakknya keganjilan disaat kegiatan KKN berlangsung. Sekian hari keributan semakin riuh di grup, banyak komen dari anggota grup Whatsapp membuat saya menjadi semakin penasaran, demi mengobati rasa penasaran itu akhirnya saya japri teman saya yang Upload foto-foto tersebut, sekian lama kami telp dan chat akhirnya saya tertarik dan ingin mempublish cerita ini.
Dengan perdebatan yang panjang dan alot akhirnya saya diizinkan tapi dengan berbagai kesepakatan dan sensor, Meski sebelumnya satu sekelompok mahasiswa ini tidak sepakat, padahal setelah kegiatan KKN itu berakhir semua anggota sebenarnya sudah menutup rapat-rapat salah satu kisah kelam mereka. Bahkan mereka tidak menceritakannya kepada teman dekat, keluarga, kelompok lain, dosen pembimbing dan kampus tempat mereka bernaung.
Memang kisah ini kedepan akan saya tulis ulang dengan detail, karena ketidak puasan saya menulis disebelah. Percaya atau tidak percaya tentang kisah ini saya kembalikan lagi pada para pembaca yang Budiman, karena setiap dithread-thread yang sudah saya tuliskan berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman orang-orang dekat saya. Kejadian yang sudah disampaikan teman-teman saya dan di tulis tanpa melebihkan serta mengurangi kejadian yang mereka alami dilapangan.
Sebelum saya tulis kisah ini, saya juga melakukan beberapa perjanjian dengan pemilik cerita. Demi kebaikan bersama nama, tokoh, tempat dan waktu saya samarkan. Jangan terlalu mengahayati cerita, karena mereka yang kalian bayangkan dan kalian perbincangkan dialam lain pasti akan merasakan juga. Yang paling penting ikuti Rules diforum ini. Ambil hikmahnya saja, mulai…
PROLOG
Demi apapun, Jangan pernah sekali-kali membicarakan mereka. Apabila darah berbalut lembaran kelopak bunga sudah tertumpah dilembah, aku takt ahu harus bicara apa? Dan aku sendiri tak tahu apa yang akan terjadi ? hanya tradisi yang bisa menjawab “MATI”
“KKN DI LEMBAH MATAHARI”
JANGAN LUPA ? DITUNGGU
DIBURJO
INDEX
PART. 1
PART. 2
PART. 3
PART. 4
PART. 5
PART. 6
PART. 7
PART. 8
PART. 9
PART. 10. ABAH KANIGORO
PART. 11. BENGGOLO
PART. 12. PERUSUH MAKAM KERAMAT
PART. 13. MEREKA MULAI MENYAPA
PART. 14 MEREKA MULAI MENYAPA 2
Part. 15 KEBUN SAWI
PART. 16. PIPIT
PART. 17 LEDAKAN
PART. 18 DARAH BERBALUT KELOPAK BUNGA
PART. 19. KI BAWONO DAN NYAI RUSMINAH
PART. 20. TRANSPORTASI
PART. 21 MOTOR
PART. 22 PENGOBATAN GRATIS
PART. 23 MATI
PART. 24. Pak Rahmad
PART 25. PTSD
PART 26. HILANG
PART 27. BELATUNG
PART. 28. POSKO BARU
PART 29. ARUNG JERAM
PART 30. RYAN
PART 31. SOSOK DI JEMBATAN
PART 32. AYAM CEMANI
PART 33. KEARIFAN LOKAL
Diubah oleh bayubiruuuu 23-12-2021 10:22
bebyzha dan 80 lainnya memberi reputasi
75
71.6K
513
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bayubiruuuu
#213
PART. 25. PTSD
“Sebelumnya kami mohon maaf untuk para reader yang menunggu lama apdetan thread ini, karena TS yang bedebah ini sakitnya agak lama. Ya Namanya sakit, mulai sakit hati, sakit beneran dan memang sakitnya campur-campur jadi agak lama, untungnya nggak berat-berat amat. Tapi siapa juga yang mau sakit, ya kan? Ditambah empunya cerita lagi sibuk juga ngurus thesisnya karena mau ujian, belagu banget..ya kan…(habis ujian bingungnya nambah krn masih nyari istri
)ya jadi mau gimana lagi. Oke kita lanjut semoga apdetan kedepan bisa lancar kek TOL”
)ya jadi mau gimana lagi. Oke kita lanjut semoga apdetan kedepan bisa lancar kek TOL”Sepeninggal pak Rahmad yang kembali ke habitatnya, situasi dan kondisi di posko serasa makin sepi, rasanya sangat hambar diraut muka para penduduknya. Keceriaan diposko selama ini diisi oleh celoteh dan canda tawa dari Rosa yang periang telah sirna. Tidak ada kegiatan berarti sore sampai malam hari itu. Mereka hanya duduk-duduk tidak jelas, makan, ngopi, ngudud dan intinya menghibur diri sendiri. Hanya Indah yang terlihat sangat terpukul, ia kini lebih sering menyendiri didalam kamar sepeninggal Rosa, kadang Indah tiba-tiba menangis dan menjerit sendiri dengan dari dalam kamar.
Aneh…memang, kejiwaannya saat sangat terpukul. Sedangkan Peserta KKN yang berada di posko 113 dalam dua hari ini merasa semakin takut akan kondisi Indah, Agustin beserta teman-teman perempuannya yang lain memutuskan untuk menemani Indah secara bergantian didalam kamar. Saat didalam kamar mereka juga bergantian memberi semangat, pengertian dan motivasi kepada indah yang sedang terpuruk. Seperti itulah yang dikerjakan selama dua hari setelah kematian Rosa.
Di Malam ketiga, setelah kematian Rosa, agenda dimulai kembali. Tapi kondisi mental meraka saat itu tidak seperti di awal sebelum kejadian meningglnya Rosa. Selepas Isya’ semua anggota KKN 113 berkumpul diruang tamu. Baru saja mereka duduk melingkar dan membuka acara ada sesuatu yang aneh. “Huuu…huuu…huuu”suara tangisan yang sayup sayup lirih terdengar dari dalam kamar peserta KKN putri. Semua yang duduk didiruang tamu langsung terdiam dan saling menatap satu sama lain. Raut muka mereka berubah seketika menjadi binging aka napa yang terjadi, makin lama mereka semakin menunjukkan rasa takut.
Sekitar lima menit terdiam akhirnya semua mata tertuju kepada Ayub, sadar akan tatapan permintaan tanggung jawab dari semua rekan-rekannya, sang ketua pun bingung apa yang harus dilakukan saat itu. Bahdim yang berada disamping Ayub pun menoleh “Yub, ayok diperiksa”. Ayub hanya mengangguk dan “Ayok” sahut Ayub sambil berdiri mengajak Bahdim berdiri untuk pergi kekamar peserta KKN putri. Mereka berdua berjalan pelan meninggalkan ruang tamu, sedang tangan Ayub langsung mengambil lampu minyak tanah di meja. Baru berjalan beberapa meter dari ruang tamu, Seketika itu juga suara tangisan dari dalam kamar mulai mengecil seperti menjauh dari kamar. Sebenarnya mereka berdua juga takut, tapi apalah daya semua karena keadaan dan mereka terus berjalan pelan.
Sampai didepan kamar mereka berdua perlahan membuka kamar, tangan Ayub meyodorkan lampu kedalam kamar terlebih dahulu. Saat itu tiba-tiba suara tangisan itu menghilang bersamaan dengan pintu yang mulai terbuka. Sedang Bahdim yang berada dibelakang Ayub melihat kedalam kamar dengan rasa takut untuk masuk kamar. “Ayok Dim masuk” bisik Bahdim dari belakang. Ayub yang mendengar desakan Bahdim perlahan berjalan masuk dan memeriksa dengan lampu yang ada ditangannya. Dengan sangat berhati-hati mereka memeriksa seluruh kamar, mulai dari almari sampai kolong tempat tidur pun mereka periksa. Tapi hasilnya nihil, Ayub kembali berdiri hanya menggelangkan kepala pelan. “Nggak ada apa-apa Dim, ayok balik” ajak Ayub sambil mulai berjalan meninggalkan kamar. “Alhamdulilah, Yub. Yok” jawab Bahdim sambil mengikuti Ayub dari belakang.
Ayub yang sudah tiba diruang tamu, dan langsung duduk diantara teman-temannya. “Sudah nggak ada apa-apa kok, tenang saja”. “Iya, nggak ada apa-apa. Kita lanjut saja acaranya” sahut Bahdim. Semuanya yang duduk menghela nafas dengan lega dan mereka kembali melanjutkan acara rutin untuk memulai proker selanjutnya. Untuk menenangkan semua anggoota perempuan, Ayub, Bahdim, Joko, Ryan dan Roni berjanji untuk tidur didepan kamar anggota putri.
Setelah acara Rutin selesai seluruh anggota KKN berisitirahat, akan tetapi malam itu bayangan sosok Rosa semakin nyata dimata Indah, Indah yang rebahan dengan posisi miring kearah pintu merasa sosok Rosa yang memakai baju merah itu sering berkelebat mondar - mandir didalam kamarnya. Memang sewaktu Rosa meninggal memakai baju merah.
Bahkan sosok berbaju mirip Rosa, mengeluarkan sedikit suara yang mirip dengan almarhum dan juga malam itu bau parfumnya menyeruak keseluruh ruangan didalam posko. Semua anggota KKN merasan tapi mereka semua yang masih bangun memilih untuk diam dan pura-pura sudah tidur. Indah yang ketakutan, didekap lembut dan ditenangkan oleh Agustin.
Entah apa yang diinginkan Rosa semenjak kematiannya, semua teman - temannya saat itu juga tidak ada yang tahu. Sedang kondisi kejiwaan dan kesehatan Indah semakin terpuruk, keesokan harinya persis dihari ketiga Indah jatuh sakit. post-traumatic stress disorder (PTSD) yang menjangkitinya membuat Indah semakin sedih, hingga pikiran serta tatapan kosongnya menjadi berkepanjangan. Hingga dihari ketiga siang hari, Indah yang duduk dengan tatapan kosong dikamar sendirian tiba-tiba “Hueeekkk...hueekkk” suara ia memuntahkan darah segar bercampur kelopak bunga sama seperti teman – temannya yang pernah mengalami kejadian ini, muntahan itu merembes hingga membasahari baju, sprei dan kasurnya. Pipit dan Rerey yang berada didepan kamar langsung berlari menuju kamar sambil berteriak-teriak...”Ndah kena apa kamu” Kata Pipit. “kamu gak papa kan” Tanya Rerey. Indah hanya diam dan terus memuntahkan darah segarnya, merasa takut Rerey berlari memanggil Ayub dan teman-temannya yang berada didepan posko, seketika itu juga Ayub dan kawan-kawan bangkit yang lain berlari menghampirinya.
Ayub dan Bahdim pergi langsung kedapur, mereka mengambil segelas air dan mendo’akannya terlebih dahulu, seteleah itu mereka pergi ke kamar. Sesampainya sampai dikamar Ayub dan Bahdim berhenti, mereka menunggu teman-teman perempuannya untuk membersihkan darah diwajah dan benda yang terkena muntahan Indah. Selesai itu semua, Ayub perlahan meminumkan air itu kepada Indah. Baru Selepas meminum air itu, kondisi Indah agak tenang dan bisa mulai untuk tidur. Pipit dan Rerey yang habis sibuk membersihkan bekas muntahan darah Indah, mereka berdua duduk disamping Indah dan untuk menjaganya.
Malam ketiga ini sama dengan malam sebelumnya, sosok Rosa mulai aktif berkelebatan dimalam hari. Tapi untuk semua penghuni posko hanya bisa berpura-pura tidak tahu sambil menahan rasa takut. Besok paginya kondisi Indah sudah agak baikan, ia sudah bisa sedikit beraktifitas dengan teman – temannya. Kegiatan pagi itu membuat proker di posko, untuk para lelaki sementara tetap pergi kekebun membantu warga.
Sore seperti biasa para gadis peserta KKN 113 tugasnya memasak makanan didapur. Untuk makan malam. Sambil memasak mereka mulai melempar canda tawa untuk menghibur Indah, minimal untuk menghilangkan kekosongan dipikirannya. Menjelang maghrib mereka berempat masih sibuk memasak. Disela - sela mereka memasak, ditemani dua lampu tempel yang remang – remang, tiba – tiba ada yang mengetuk pintu dapur ”Tok..tok..tok”
Dengan respon yang cepat Pipit tadinya mencuci panci langsung berdiri mengambil lampu tempel, dengan membawa lampu tempel ditangan Pipit yang dekat dari pintu berjalan untuk membuka pintunya, tapi saat pintu sudah dibuka Pipit tidak melihat ada seseorangpun diluar. Hanya pemandangan yang sudah gelap, dan siluet – siluet pepohonan hutan yang bergoyang diterpa angin. Sejenak Pipit memandangi situasi diluar pintu tidak ada siapapun, Lelah matanya mencari pengetuk pintu akhirnya pintu kayu pun ditutup kembali oleh pipit.
Tak seberapa lama pipit yang baru saja menaruh lampu di meja dapur, ada yang mengetok pintu Kembali “Tok…tok...tok”, semua mata tertuju kepada Pipit. Ketiga orang temannya ingin Pipit yang membuka pintu lagi, ia pun tak keberatan. Pipit kini berjalan kembali dan membuka pintu. Waktu pintu dibuka, Pipit kembali tidak melihat ada orang atau apapun diluar sana, hanya suara jangkrik, tonggaret dan gareng yang semakin keras terdengar. Ia pun menutup pintu dengan perasaan jengkel, Pipit berjalan dan kembali berkumpul dengan teman – temannya unntuk melanjutkan memasak.
Sementara Itu, Untuk Bahdim, Rian dan Roni, sedang perjalanan pulang dari kebun dan mereka asyik bercerita tentang horornya lembah ini. Khususnya Roni semakin asyik memberitahu Bahdim dan Rian tentang sosok – sosok penghuni hutan yang disebelah kebun.
Berganti di dapur Posko, Baru saja pipit duduk bersama teman-temanya, pintu sudah diketuk kembali. Diketukan yang ketiga semua penghuni dapur mulai kesal dan marah. “Gantian Tin” celetuk Pipit, Kali ini Agustin yang beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat untuk membuka pintu. Waktu dibuka dengan cepat pintu dapur, wajah Agustin mematung sambil bergetar. Ia melihat sosok buto ireng yang biasanya dipanggil ki bawono oleh penduduk sudah berdiri tepat didepannya...
Semua yang didapur ikut menoleh melihat ke arah pintu dan melihat sosok Bawono yang siap memangsa mereka semua, “Aaaaaaakkkhhh”Agustin yang berada didepan pintu langsung menejrit histeris dan membuang lampu tempelnya. Ia spontan berlari menuju halaman depan posko. Melihat Agustin yang sudah lari sambil berteriak, semua yang berada didapur yang sekilas mendengar dan melihat Bawono pun langsung ikut berlari dan berteriak mengikuti Agustin. Sampai mereka berkumpul dihalaman rumah sambil berteriak ketakutan. Semua manarik nafas dalam-dalam dengan ngos-ngosan sambil melihat isi didalam posko, takutnya bawono mengikuti mereka kedepan.
Sedangkan Dipos depan, Ayub dan Joko sedang duduk-duduk mendengar jeritan ini langsung beranjak berdiri dan berlari menuju halaman rumah. Agustin yang berlari pertama kali dan sudah stabil nafasnya langsung memberi tahu pada Ayub.
Lalu Ayub bersama Joko berjalan masuk ke dalam rumah, mereka mulai berdo’a bersama di ruang tamu terlebih dahulu beberapa menit, setelah selesai berdo’a mereka pergi mengecek di dapur, kamar mandi dan seisi rumah. Ternyata Bawono yang habis muncul itu sudah tidak ada lagi. Dirasa sudah aman Ayub kembali keteras posko dan memanggil teman temannya yang berada di halaman. Ayub meminta teman-temannya untuk melanjutkan memasak.
Semua mahasiswi menyetujui untuk masak kembali, tapi perasaan mereka masih takut, cemas dan was-was. Akhirnya Ayub dan Joko menemani mereka memasak didapur sampai selesai.
Sore menjelang malam. Masakan sudah matang dan siap dihidangkan diruang tengah.
Roni, Bahdim dan Ryan baru sampai dari kebun, mereka langsung mandi dan bersiap makan malam bersama diruang tengah. Mereka bertiga yang baru datang pun tidak sempat diceritakan akan hal yang baru saja terjadi di dapur. Setelah semua makanan sederhana tersaji lengkap diruang tengah dan anggota yang baru datang selesai mandi. Makan malam akhirnya dimulai. Mereka semua duduk melingkar mengitari makanan yang sudah di sajikan, posisi saat itu Roni duduk tepat didepan dipintu masuk ruang tengah menghadap teman-temannya. Dengan perut yang sudah keroncongan Roni, Rian dan Bahdim melahap makanan dengan ganasnya.
Di sela - sela makan malam, Roni kembali membicarakan sosok ki Bawono. Rasanya Roni tidak ada puasnya bercerita tentang sosok ini, dari siang waktu dikebun sampai posko ini tadi sore rasanya masih kurang. Kali ini cerita Roni sosok - sosok seperti ki Bawono semakin banyak di dusun ini. Mereka seperti balatentara alam lain dari penduduk hutan. Apalagi menjelang malam, sosok hitam itu seperti bergerak mendatangi dusun ini. Sampai di suatu tempat yang paling mengerikan menurut Roni, sosok Bawono ini terlihat banyak dan berjubel di jalan setapak masuk kehutan larangan yang di plakat “dilarang masuk”. Tapi semua anggota KKN yang makan diruang hanya diam, tidak ada yang merespon Roni, mereka semua sibuk dengan makanannya. Mereka smeua menganggap Roni saat itu seperti radio rusak, ya ngomel sendiri tidak ada habisnya.
Baru saja selesai Roni menceritakan sosok Bawono, tiba-tiba suara barang – barang di dapur bejatuhan.“Klontang...klontang...klontang...” semua penduduk posko menghentikan aktifitas makannya dan terdiam, seketiika itu bau busuk daun dan pohon hutan mulai menyergap mereka yang tengah makan didalam posko. Selang beberapa detik dikeheningan malam dan mereka masih terdiam. Tiba - tiba di belakang Roni, kabut hitam muncul keatas secara perlahan dan memadat dengan cepat. Hingga terlihat dengan jelas Buto dengan julukan Bawono sudah berdiri di belakang Roni. Buto ireng yang berdiri di belakangnya menatap marah penduduk posko dan tertawa pelan. “Ha...ha...ha...ha lapo nyeluk aku le”, (Ha...ha...ha..., kenapa panggil aku nak) Ucap Buto Bawono dengan suara berat dengan warna kulitnya hitam legam. “Aaaaaa.....” spontan semua yang sedang makan, matanya terperanjat kaget dan berteriak histeris secara serentak.
Semua anggota kelompok Ayub seketika bangkit dan berlari tunggang - langgang berhamburan keluar rumah. Roni yang kaget akan suara berat dibelakangnya dan teman-temannya berlari merasa penasaran, dia akhirnya menoleh ke belakang. Di belakangnya ternyata kosong tidak ada apa apa. Tetapi ketika ia menoleh ke atas, sosok itu melambai lambaikan tangannya dengan kuku hitam yang runcing kewajah Roni. Lidahnya yang kemerahan penuh lendir juga saat itu sudah menjulur kebawah sampai tanah, ujung lidahnya dengan aroma busuk dan bacin mulai bergerak menggulung keatas, Bawono ini seperti ini mau melumat tubuh Roni bulat-bulat.
“Asssuuuuu...cooookkkk” Roni yang kaget akan kedatangan sosok dibelakangnya, langsung lari keluar terbirit - birit ketakutan.
Semua penghuni posko 113 berkumpul tak beraturan di halaman rumah termasuk Roni. Mereka berkumpul sambil mengeluarkan nafas ketakutan. Meredam sejenak detak jantung yang berpacu liar, saat itu juga mata-mata penuh kebencian mulai tertuju kepada Roni.
Aneh…memang, kejiwaannya saat sangat terpukul. Sedangkan Peserta KKN yang berada di posko 113 dalam dua hari ini merasa semakin takut akan kondisi Indah, Agustin beserta teman-teman perempuannya yang lain memutuskan untuk menemani Indah secara bergantian didalam kamar. Saat didalam kamar mereka juga bergantian memberi semangat, pengertian dan motivasi kepada indah yang sedang terpuruk. Seperti itulah yang dikerjakan selama dua hari setelah kematian Rosa.
Di Malam ketiga, setelah kematian Rosa, agenda dimulai kembali. Tapi kondisi mental meraka saat itu tidak seperti di awal sebelum kejadian meningglnya Rosa. Selepas Isya’ semua anggota KKN 113 berkumpul diruang tamu. Baru saja mereka duduk melingkar dan membuka acara ada sesuatu yang aneh. “Huuu…huuu…huuu”suara tangisan yang sayup sayup lirih terdengar dari dalam kamar peserta KKN putri. Semua yang duduk didiruang tamu langsung terdiam dan saling menatap satu sama lain. Raut muka mereka berubah seketika menjadi binging aka napa yang terjadi, makin lama mereka semakin menunjukkan rasa takut.
Sekitar lima menit terdiam akhirnya semua mata tertuju kepada Ayub, sadar akan tatapan permintaan tanggung jawab dari semua rekan-rekannya, sang ketua pun bingung apa yang harus dilakukan saat itu. Bahdim yang berada disamping Ayub pun menoleh “Yub, ayok diperiksa”. Ayub hanya mengangguk dan “Ayok” sahut Ayub sambil berdiri mengajak Bahdim berdiri untuk pergi kekamar peserta KKN putri. Mereka berdua berjalan pelan meninggalkan ruang tamu, sedang tangan Ayub langsung mengambil lampu minyak tanah di meja. Baru berjalan beberapa meter dari ruang tamu, Seketika itu juga suara tangisan dari dalam kamar mulai mengecil seperti menjauh dari kamar. Sebenarnya mereka berdua juga takut, tapi apalah daya semua karena keadaan dan mereka terus berjalan pelan.
Sampai didepan kamar mereka berdua perlahan membuka kamar, tangan Ayub meyodorkan lampu kedalam kamar terlebih dahulu. Saat itu tiba-tiba suara tangisan itu menghilang bersamaan dengan pintu yang mulai terbuka. Sedang Bahdim yang berada dibelakang Ayub melihat kedalam kamar dengan rasa takut untuk masuk kamar. “Ayok Dim masuk” bisik Bahdim dari belakang. Ayub yang mendengar desakan Bahdim perlahan berjalan masuk dan memeriksa dengan lampu yang ada ditangannya. Dengan sangat berhati-hati mereka memeriksa seluruh kamar, mulai dari almari sampai kolong tempat tidur pun mereka periksa. Tapi hasilnya nihil, Ayub kembali berdiri hanya menggelangkan kepala pelan. “Nggak ada apa-apa Dim, ayok balik” ajak Ayub sambil mulai berjalan meninggalkan kamar. “Alhamdulilah, Yub. Yok” jawab Bahdim sambil mengikuti Ayub dari belakang.
Ayub yang sudah tiba diruang tamu, dan langsung duduk diantara teman-temannya. “Sudah nggak ada apa-apa kok, tenang saja”. “Iya, nggak ada apa-apa. Kita lanjut saja acaranya” sahut Bahdim. Semuanya yang duduk menghela nafas dengan lega dan mereka kembali melanjutkan acara rutin untuk memulai proker selanjutnya. Untuk menenangkan semua anggoota perempuan, Ayub, Bahdim, Joko, Ryan dan Roni berjanji untuk tidur didepan kamar anggota putri.
Setelah acara Rutin selesai seluruh anggota KKN berisitirahat, akan tetapi malam itu bayangan sosok Rosa semakin nyata dimata Indah, Indah yang rebahan dengan posisi miring kearah pintu merasa sosok Rosa yang memakai baju merah itu sering berkelebat mondar - mandir didalam kamarnya. Memang sewaktu Rosa meninggal memakai baju merah.
Bahkan sosok berbaju mirip Rosa, mengeluarkan sedikit suara yang mirip dengan almarhum dan juga malam itu bau parfumnya menyeruak keseluruh ruangan didalam posko. Semua anggota KKN merasan tapi mereka semua yang masih bangun memilih untuk diam dan pura-pura sudah tidur. Indah yang ketakutan, didekap lembut dan ditenangkan oleh Agustin.
Entah apa yang diinginkan Rosa semenjak kematiannya, semua teman - temannya saat itu juga tidak ada yang tahu. Sedang kondisi kejiwaan dan kesehatan Indah semakin terpuruk, keesokan harinya persis dihari ketiga Indah jatuh sakit. post-traumatic stress disorder (PTSD) yang menjangkitinya membuat Indah semakin sedih, hingga pikiran serta tatapan kosongnya menjadi berkepanjangan. Hingga dihari ketiga siang hari, Indah yang duduk dengan tatapan kosong dikamar sendirian tiba-tiba “Hueeekkk...hueekkk” suara ia memuntahkan darah segar bercampur kelopak bunga sama seperti teman – temannya yang pernah mengalami kejadian ini, muntahan itu merembes hingga membasahari baju, sprei dan kasurnya. Pipit dan Rerey yang berada didepan kamar langsung berlari menuju kamar sambil berteriak-teriak...”Ndah kena apa kamu” Kata Pipit. “kamu gak papa kan” Tanya Rerey. Indah hanya diam dan terus memuntahkan darah segarnya, merasa takut Rerey berlari memanggil Ayub dan teman-temannya yang berada didepan posko, seketika itu juga Ayub dan kawan-kawan bangkit yang lain berlari menghampirinya.
Quote:
Ayub dan Bahdim pergi langsung kedapur, mereka mengambil segelas air dan mendo’akannya terlebih dahulu, seteleah itu mereka pergi ke kamar. Sesampainya sampai dikamar Ayub dan Bahdim berhenti, mereka menunggu teman-teman perempuannya untuk membersihkan darah diwajah dan benda yang terkena muntahan Indah. Selesai itu semua, Ayub perlahan meminumkan air itu kepada Indah. Baru Selepas meminum air itu, kondisi Indah agak tenang dan bisa mulai untuk tidur. Pipit dan Rerey yang habis sibuk membersihkan bekas muntahan darah Indah, mereka berdua duduk disamping Indah dan untuk menjaganya.
Malam ketiga ini sama dengan malam sebelumnya, sosok Rosa mulai aktif berkelebatan dimalam hari. Tapi untuk semua penghuni posko hanya bisa berpura-pura tidak tahu sambil menahan rasa takut. Besok paginya kondisi Indah sudah agak baikan, ia sudah bisa sedikit beraktifitas dengan teman – temannya. Kegiatan pagi itu membuat proker di posko, untuk para lelaki sementara tetap pergi kekebun membantu warga.
Sore seperti biasa para gadis peserta KKN 113 tugasnya memasak makanan didapur. Untuk makan malam. Sambil memasak mereka mulai melempar canda tawa untuk menghibur Indah, minimal untuk menghilangkan kekosongan dipikirannya. Menjelang maghrib mereka berempat masih sibuk memasak. Disela - sela mereka memasak, ditemani dua lampu tempel yang remang – remang, tiba – tiba ada yang mengetuk pintu dapur ”Tok..tok..tok”
Dengan respon yang cepat Pipit tadinya mencuci panci langsung berdiri mengambil lampu tempel, dengan membawa lampu tempel ditangan Pipit yang dekat dari pintu berjalan untuk membuka pintunya, tapi saat pintu sudah dibuka Pipit tidak melihat ada seseorangpun diluar. Hanya pemandangan yang sudah gelap, dan siluet – siluet pepohonan hutan yang bergoyang diterpa angin. Sejenak Pipit memandangi situasi diluar pintu tidak ada siapapun, Lelah matanya mencari pengetuk pintu akhirnya pintu kayu pun ditutup kembali oleh pipit.
Tak seberapa lama pipit yang baru saja menaruh lampu di meja dapur, ada yang mengetok pintu Kembali “Tok…tok...tok”, semua mata tertuju kepada Pipit. Ketiga orang temannya ingin Pipit yang membuka pintu lagi, ia pun tak keberatan. Pipit kini berjalan kembali dan membuka pintu. Waktu pintu dibuka, Pipit kembali tidak melihat ada orang atau apapun diluar sana, hanya suara jangkrik, tonggaret dan gareng yang semakin keras terdengar. Ia pun menutup pintu dengan perasaan jengkel, Pipit berjalan dan kembali berkumpul dengan teman – temannya unntuk melanjutkan memasak.
Sementara Itu, Untuk Bahdim, Rian dan Roni, sedang perjalanan pulang dari kebun dan mereka asyik bercerita tentang horornya lembah ini. Khususnya Roni semakin asyik memberitahu Bahdim dan Rian tentang sosok – sosok penghuni hutan yang disebelah kebun.
Quote:
Berganti di dapur Posko, Baru saja pipit duduk bersama teman-temanya, pintu sudah diketuk kembali. Diketukan yang ketiga semua penghuni dapur mulai kesal dan marah. “Gantian Tin” celetuk Pipit, Kali ini Agustin yang beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat untuk membuka pintu. Waktu dibuka dengan cepat pintu dapur, wajah Agustin mematung sambil bergetar. Ia melihat sosok buto ireng yang biasanya dipanggil ki bawono oleh penduduk sudah berdiri tepat didepannya...
Quote:
Semua yang didapur ikut menoleh melihat ke arah pintu dan melihat sosok Bawono yang siap memangsa mereka semua, “Aaaaaaakkkhhh”Agustin yang berada didepan pintu langsung menejrit histeris dan membuang lampu tempelnya. Ia spontan berlari menuju halaman depan posko. Melihat Agustin yang sudah lari sambil berteriak, semua yang berada didapur yang sekilas mendengar dan melihat Bawono pun langsung ikut berlari dan berteriak mengikuti Agustin. Sampai mereka berkumpul dihalaman rumah sambil berteriak ketakutan. Semua manarik nafas dalam-dalam dengan ngos-ngosan sambil melihat isi didalam posko, takutnya bawono mengikuti mereka kedepan.
Sedangkan Dipos depan, Ayub dan Joko sedang duduk-duduk mendengar jeritan ini langsung beranjak berdiri dan berlari menuju halaman rumah. Agustin yang berlari pertama kali dan sudah stabil nafasnya langsung memberi tahu pada Ayub.
Quote:
Lalu Ayub bersama Joko berjalan masuk ke dalam rumah, mereka mulai berdo’a bersama di ruang tamu terlebih dahulu beberapa menit, setelah selesai berdo’a mereka pergi mengecek di dapur, kamar mandi dan seisi rumah. Ternyata Bawono yang habis muncul itu sudah tidak ada lagi. Dirasa sudah aman Ayub kembali keteras posko dan memanggil teman temannya yang berada di halaman. Ayub meminta teman-temannya untuk melanjutkan memasak.
Semua mahasiswi menyetujui untuk masak kembali, tapi perasaan mereka masih takut, cemas dan was-was. Akhirnya Ayub dan Joko menemani mereka memasak didapur sampai selesai.
Sore menjelang malam. Masakan sudah matang dan siap dihidangkan diruang tengah.
Roni, Bahdim dan Ryan baru sampai dari kebun, mereka langsung mandi dan bersiap makan malam bersama diruang tengah. Mereka bertiga yang baru datang pun tidak sempat diceritakan akan hal yang baru saja terjadi di dapur. Setelah semua makanan sederhana tersaji lengkap diruang tengah dan anggota yang baru datang selesai mandi. Makan malam akhirnya dimulai. Mereka semua duduk melingkar mengitari makanan yang sudah di sajikan, posisi saat itu Roni duduk tepat didepan dipintu masuk ruang tengah menghadap teman-temannya. Dengan perut yang sudah keroncongan Roni, Rian dan Bahdim melahap makanan dengan ganasnya.
Di sela - sela makan malam, Roni kembali membicarakan sosok ki Bawono. Rasanya Roni tidak ada puasnya bercerita tentang sosok ini, dari siang waktu dikebun sampai posko ini tadi sore rasanya masih kurang. Kali ini cerita Roni sosok - sosok seperti ki Bawono semakin banyak di dusun ini. Mereka seperti balatentara alam lain dari penduduk hutan. Apalagi menjelang malam, sosok hitam itu seperti bergerak mendatangi dusun ini. Sampai di suatu tempat yang paling mengerikan menurut Roni, sosok Bawono ini terlihat banyak dan berjubel di jalan setapak masuk kehutan larangan yang di plakat “dilarang masuk”. Tapi semua anggota KKN yang makan diruang hanya diam, tidak ada yang merespon Roni, mereka semua sibuk dengan makanannya. Mereka smeua menganggap Roni saat itu seperti radio rusak, ya ngomel sendiri tidak ada habisnya.
Baru saja selesai Roni menceritakan sosok Bawono, tiba-tiba suara barang – barang di dapur bejatuhan.“Klontang...klontang...klontang...” semua penduduk posko menghentikan aktifitas makannya dan terdiam, seketiika itu bau busuk daun dan pohon hutan mulai menyergap mereka yang tengah makan didalam posko. Selang beberapa detik dikeheningan malam dan mereka masih terdiam. Tiba - tiba di belakang Roni, kabut hitam muncul keatas secara perlahan dan memadat dengan cepat. Hingga terlihat dengan jelas Buto dengan julukan Bawono sudah berdiri di belakang Roni. Buto ireng yang berdiri di belakangnya menatap marah penduduk posko dan tertawa pelan. “Ha...ha...ha...ha lapo nyeluk aku le”, (Ha...ha...ha..., kenapa panggil aku nak) Ucap Buto Bawono dengan suara berat dengan warna kulitnya hitam legam. “Aaaaaa.....” spontan semua yang sedang makan, matanya terperanjat kaget dan berteriak histeris secara serentak.
Semua anggota kelompok Ayub seketika bangkit dan berlari tunggang - langgang berhamburan keluar rumah. Roni yang kaget akan suara berat dibelakangnya dan teman-temannya berlari merasa penasaran, dia akhirnya menoleh ke belakang. Di belakangnya ternyata kosong tidak ada apa apa. Tetapi ketika ia menoleh ke atas, sosok itu melambai lambaikan tangannya dengan kuku hitam yang runcing kewajah Roni. Lidahnya yang kemerahan penuh lendir juga saat itu sudah menjulur kebawah sampai tanah, ujung lidahnya dengan aroma busuk dan bacin mulai bergerak menggulung keatas, Bawono ini seperti ini mau melumat tubuh Roni bulat-bulat.
“Asssuuuuu...cooookkkk” Roni yang kaget akan kedatangan sosok dibelakangnya, langsung lari keluar terbirit - birit ketakutan.
Semua penghuni posko 113 berkumpul tak beraturan di halaman rumah termasuk Roni. Mereka berkumpul sambil mengeluarkan nafas ketakutan. Meredam sejenak detak jantung yang berpacu liar, saat itu juga mata-mata penuh kebencian mulai tertuju kepada Roni.
sulkhan1981 dan 27 lainnya memberi reputasi
28
Tutup