- Beranda
- Stories from the Heart
Mbah Buyut
...
TS
beqichot
Mbah Buyut
Spoiler for PEMBERITAHUAN:
PROLOGUE
Aku cuma manusia biasa, yang biasa-biasa saja. Ga punya kemampuan khusus di bidang apapun, apalagi dalam olah kebatinan.
Indonesiao, jelas bukan... Aku ga pernah lihat penampakan apapun.
Hanya saja, entah kenapa beberapa serangan ghaib selalu luput mengenaiku.
Darimana aku tahu ???
Dari pengirimnya sendiri....
Aneh? Ya... Pengirimnya mengaku pernah mengirimiku sesuatu yang ghaib, namun ga nembus katanya.
Dia bahkan bertanya, aku punya pegangan apa?
Pegangan? Apa pula itu?
Aku hanya percaya, selama ini yang melindungiku adalah Sang Maha Melindungi, dan bukan yang lain.
Namun, bagaimanapun, tetap saja ada rasa penasaran di hati... Bagaimana mungkin serangan ghaib itu bisa ga nembus? Padahal terus terang saja, ibadahku masih kalang kabut ga karuan.
Hingga rasa penasaran itu membawaku pada seseorang yang tahu masalah ghaib. Aku diterawang oleh beliau yang adalah seorang kyai.
Kata beliau, ada warisan ilmu dari Mbah Buyutku.
Bagi yang belum tahu, Mbah Buyut adalah orang tua dari Kakek atau nenek kita.
Sedikit aku terangkan, dalam khasanah jalur keturunan Jawa yang aku pahami, ada urutan dan nama untuk tiap tingkatan.
Untuk jalur ke atas, inilah urutannya.
Dimulai dari Bapak/Ibu
Lalu Kakek/Nenek
Dilanjutkan Mbah Buyut
Berikutnya Mbah Canggah
Lalu Mbah Wareng
Selanjutnya Mbah Udheg-udheg
Dan terakhir Mbah Gantung Siwur
Tingkatan yang aku ketahui hanya sampai di situ saja.
Kembali ke topik awal....
Hmmm...Mbah Buyut...
Aku terlahir 6 bulan setelah wafatnya Mbah buyutku... Menurut cerita yang aku dapat dari kakek dan budheku, mbah Buyutku memang orang yang Linuwih/Pinunjul.
Linuwih, artinya mempunyai kelebihan dibandingkan orang lain.
Pinunjul, lebih unggul dari orang lain.
Tentu saja dalam hal olah rasa, olah kebatinan, dan olah kridaatau kesaktian.
Tapi, saat aku lahir, beliau sudah wafat. Jadi bagaimana bisa beliau mewariskan ilmunya padaku?
Suatu yang mustahil menurutku.
Tapi, semenjak itu, banyak kejadian-kejadian yang tak masuk akal yang terjadi padaku.
Aku tak tahu, apakah ini berhubungan dengan ilmu warisan itu? Atau hanya kejadian "kebetulan" yang ga ada hubungannya dengan itu.
Lagipula, aku tak tertarik untuk menggali ilmu warisan itu...
Karena, banyak syarat yang kurasa sangat berat untuk menggali dan memperdalam ilmu warisan itu.
Dari kakekku yang anak pertama Mbah Buyut, aku selalu diajari untuk puasa sesuai ajaran kejawen. Ada puasa mutih, ngebleng, ngrowot, pati geni dsb. Tapi aku paling males yang namanya tirakat atau puasa kejawen gitu...hehe.
Jadi ya gitu deh... Ga ada perubahan dalam diriku.
Dan aku juga selalu menyepelekan yang namanya hal-hal ghaib gitu. Aku percaya makhluk ghaib itu ada, tapi selama ini toh aku tak pernah melihat hal seperti itu.
Dan semoga ga pernah...
Tapi hidupku berubah setelah ada kejadian yang membuatku harus bersentuhan dengan alam lain dimensi itu. Yah...menyesal bahwa aku tidak mau menggali dan mengembangkan ilmu warisan Mbah Buyutku...
Walaupun aku juga masih bertanya-tanya, apakah memang ada ilmu warisan itu dalam diriku?
Baiklah..... Perkenalkan, sebut saja namaku Bisma. Jelas nama rekaan. Kenapa Bisma? Aku teringat tokoh wayang ini, yang merupakan sesepuh Pandawa dan Kurawa. Tokoh yang selalu memegang janji hingga akhir hayatnya. Aku ingin seperti tokoh wayang ini yang selalu tepat janji. Teguh pada pendirian...yah...walaupun kenyataannya diriku berbanding terbalik dengan tokoh satu ini.
Jujur saja, aku termasuk orang yang plin plan, dan juga kadang melanggar janjiku sendiri...

Aku tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kota yang tidak terlalu dikenal oleh penduduk +62..
Tapi sedari kecil, aku sudah beberapa kali berpindah kota tempat tinggal. Walaupun akhirnya terdampar lagi di kota asal...
Wajahku? Nah ini yang suka bikin bingung. Menurut almarhumah ibuku, aku ini anaknya yang paling ganteng...

Menurut teman-temanku, wajahku biasa-biasa saja.
Menurut cewe-cewe, wajahku imut...a.k.a item mutlak...

Nah, pendapat siapa yang akan dipakai? Pendapat agak jujur dari teman-temanku saja ya? Wajahku biasa-biasa saja. Ganteng enggak, jelek iya. Tapi inilah diriku, kuterima apa adanya. Dan tetap bersyukur apapun adanya diriku...
Cuman efeknya adalah, terlalu banyak cewe yang menolak saat kutembak....

Tapi it's ok... No problemo...
Seperti kata bang Haji, jadi bujangab itu bebas.... Ga ada yang ngelarang...hahaha.
(Ini trik menghibur diri sendiri yang setia menjomblo..).
Nama. Alamat, wajah sudah...trus apa lagi ya?
Pacar? Ga usah ditanya.... Banyaaakkkk bangetttt....yang nolak aku, jadi masih jomblo akut...
Pekerjaan? Masih setia jadi kuli bangunan dengan segala kesederhanaannya...
Sudah..sudah... Cukup dengan perkenalannya...
Sekarang aku akan mulai bercerita...
Kalau mau baca silahkan, kalau ga mau.........harus mau...!!!!

Oke..let's go to part 1....
Besok lagi tapinya......heuheuheu...
Diubah oleh beqichot 29-10-2021 14:36
sh1mano105 dan 201 lainnya memberi reputasi
192
349.9K
9.9K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beqichot
#35
Mbah Buyut
Ketika sudah benar-benar sadar dan penglihatanku terang, aku ternganga melihat penampakan yang ada di depanku.
Aku tak lagi berada di gudang... Aku seperti berada di sebuah tempat yang asing bagiku. Tempat yang belum pernah aku singgahi.
Suasana redup bagai awal pagi, ketlka matahari semburat di ufuk timur. Masih remang-remang namun bisa melihat dengan jelas.
Dan sesosok gadis yang amat cantik, dengan gaun putih bersih, bersimpuh di sampingku. Tangannya masih memegang pergelangan kakiku. Nampaknya dialah yang tadi menggoyang kakiku agar aku bangun.
"Si..siapa kamu...?" tanyaku sambil bangkit dari berbaring. Aku duduk di tanah. Hei...tanah? Bukankah aku tidur di bangku bambu?
"Aku pengikutmu mas...!" jawab gadis cantik itu.
Bau bunga kanthil yang harum menguar dari tubuh gadis itu.
"Sejak kapan kamu mengikutiku...?"
"Sejak lama mass .. Sejak di kota sebelah ..!" katanya.
Mungkinkah dia miss kunti yang hadir dalam mimpi-mimpiku? Sepertinya sih bukan... Miss kunti itu sangat menyeramkan, sedangkan gadis ini begitu cantik menawan...
"Aku memang yang waktu itu meminta untuk ikut padamu mass....!" katanya, seolah mampu membaca pikiranku.
"Tapi..waktu itu wujudmu serem banget...!"
"Hihihi...kaumku bisa berubah bentuk sesuka kami mas...!"
"Oh.. Lalu siapa namamu...?"
To the point amat ya? Yah, inilah hasil suka godain cewe...yang selalu gagal...
"Namaku Nastiti mas...!"
Oke, step pertama terlewati. Sudah tahu namanya. Selanjutnya...SSI..
"Nama yang cantik, secantik orangnya...!"
Nastiti tampak tersenyum simpul dan menundukkan wajahnya.
Yess... Lancar nih kayaknya.
"Lalu kenapa kamu membawaku ke tempat ini?" tanyaku.
"Bukan aku mas... Tapi beliau...,!" sahut Nastiti sambil menunjuk dengan ibu jarinya. Khas gaya keraton...
Aku menoleh ke arah yang ditunjuknya. Nampak seorang lelaki tua yang tinggi besar, dengan baju lurik, dan celana komprang sebatas lutut berwarna hitam. Jenggotnya panjang dan dikepang. Sementara, kepalanya memakai ikat kepala kawung. Rambutnya diikat model majapahit, seperti sanggul tepat di atas kepalanya.
Sosok itu nampak sangat berwibawa, namun pandangan matanya menyejukkan.
"Siapa beliau ini Nastiti. Ayahmu... Atau kakekmu...?" tanyaku pada Nastiti.
"Beliau ini adalah kakek buyutmu mas...!" jawab Nastiti.
Hah....??? Kakek buyut...??? Seperti ini rupanya wujud kakek buyutku.
Aku menghampiri sosok tua itu, lalu sungkem pada beliau.
"Bisma menghaturkan sungkem kepada mbah Buyut...!"
"Berdirilah... Aku terima sungkemmu buyut...!" kata beliau.
Suaranya berat dan dalam...
Aku bangkit dan berdiri di depan beliau.
"Bagaimana kabarmu buyut? Baru sekali ini kita bertemu. Namun sejak kamu kecil, aku selalu memantau perkembanganmu. Memang, dulu aku pernah menitipkan ilmu padamu. Saat kamu dalam kandungan ibumu, di saat aku masih hidup... Itu kan yang jadi pertanyaanmu?" kata mbah Buyut panjang lebar.
"Tapi apa fungsinya ilmu itu mbah... Jaman sekarang kok pake ilmu-ilmu kayak gitu...?"
"Khan sudah ada manfaatnya. Coba kamu bayangin... Jlka kamu ga punya ilmu itu, dan terkena pelet nenek-nenek itu... Orang-orang bakal heran melihat anak muda tergila-gila pada nenek peot...!" kata mbah Buyut.
Tak terasa aku membayangkan apa yang dikatakan oleh mbah Buyutku.
Hiii....malah merinding.....
"Bener juga sih mbah... Makasih ya mbah, sudah ngasih ilmu itu...!"
"Iya, sekarang tinggal kamu kembangin aja...!"
"Enggak ah mbah... Berat lakunya. Ga kuat kalau harus puasa mutih, ngebleng atau pati geni." ujarku.
"Kalau mau yang ringan sih ada, tapi hasilnya kurang maksimal. Mau?"
"Apa itu mbah...?" tanyaku penasaran.
"Puasa biasa selama 40 hari...!" jawab mbah Buyut.
"Halah... Wong puasa Ramadhan yang cuma 30 hari aja sering bolong kok mbah...!" sahutku.
Mbah buyut geleng-geleng. Mungkin beliau berpikir...punya cucu buyut kok begini amat yak?

"Baiklah... Mbah bikin lebih ringan lagi...!"
"Emang bisa mbah...?"
"Bisa... Hasilnya sepadwn dengan puasa 40 hari... Mau?" tanya beliau.
"Ya lihat-lihat dulu lah mbah. Kalau masih berat, ya ga mau...!" kataku.
"Ga berat kok. Kamu cuma perlu puasa 3 hari saja...!"
"Beneran mbah...?? Kalau itu aku kuat mbah...!" jawabku sok kepedean.
"Dengarkan baik-baik.. Kamu harus mulai puasa pada hari Rebo Pon, diakhiri hari Jumat Kliwon. Dan selama 3 hari ga boleh tidur sama sekali...!"
Eh...busyet... Ga boleh tidur sama sekali? Sudah lapar, ditambah ga boleh tidur? Wtf.....
Tapi aku sudah terlanjur bilang kalau aku bakal kuat... Jadi gengsi dong kalau aku bilang ga kuat...
"Kenapa harus mulai hari Rebo Pon mbah?"
"Karena jumlah hari dan pasaran dari Rebo Pon, Kamis wage, dan Jumat Kliwon berjumlah 40. Makanya, puasa 3 hari setara dengan puasa 40 hari....!" sahut mbah Buyut.
"Hmm...baik mbah. Nanti aku coba untuk berpuasa seperti yang mbah Buyut terangkan...!" jawabku.
"Satu lagi... Sebelum memulai puasa itu, hari Selasa sore kamu harus mandi kembang setaman... Itu lambang bahwa kamu mensucikan tubuhmu untuk persiapan puasa. Dan sejak mandi itu, kamu ga boleh tidur sampai Jumat sore saat Maghrib!"
"Iya mbah....!"
"Nah, sebagai permulaan, aku akan membuka mata batinmu sekarang. Tapi hanya sesdikit. Nanti setelah kamu selesai laku itu, mata batinmu akan terbuka seluruhnya...!" kata mbah Buyut.
"Kalau mata batin dibuka, aku jadi bisa melihat makhluk halus mbah?" tanyaku.
"Iya...benar. Juga bisa melihat jika ada serangan ghaib yang datang menyerangmu..!"
"Ga usah lah mbah... Nanti aku malah takut kalau lihat yang seperti itu mbah...!"
"Laki-laki kok penakut. Apa mau mbah sunat lagi...?" tanya mbah Buyut.
"Eh..ya jangan lah mbah. Masa depan ini mbah. Kalau disunat lagi, bisa habis dong...!"
Kudengar tawa cekikikan di belakangku. Rupanya Nastiti yang ketawa mendengar aku mau disunat lagi...
"Sekarang tutup matamu. Simbah mau membuka mata batinmu...!" perintah mbah Buyut.
Yah...daripada disunat lagi, ya mending nurut aja dah...
Aku memejamkan mataku, lalu kurasakan hembusan angin menerpa kedua mataku. Mungkin mbah Buyut meniup kedua mataku.
"Sudah...sekarang buka matamu...!"
Aku membuka mataku.. Ga ada yang berubah...masih seperti tadi.
Wah, jangan-jangan mbah Buyut nipu nih...
"Ga ada bedanya mbah. Aku masih belum bisa ngelihat makhluk ghaib..!" ujarku.
"Tentu saja... Kamu saat ini sedang di alam bawah sadarmu. Nah, waktu simbah sudah habis... Simbah pamit dulu...!"
Sosok mbah buyut memudar dan kemudian hilang dari pandanganku.
Kemudian aku merasakan kantuk ysng amat sangat.
Kantuk yang ga bisa dltahan... Hingga aku langsung tertidur lelap
Aku terbangun di bangku bambu yang biasa kupakai untuk tidur.
Waktu sudah subuh saat itu... Aku mengingat-ingat mimpiku semalam. Mimpi.yang aneh.. Dan herannya, aku bisa mengingat setiap detailnya, seolah aku memang mengalaminya secara nyata.
Ah...sudahlah...
Aku bangkit dan menuju kamar mandi, mengambil wudhu dan sholat subuh.
Saat salam terakhir, aku agak kaget melihat bayangan putih di samping kiriku.
Kuselesaikan sholatku dan kembali menoleh ke samping kiri.
Bayangan itu masih ada... Siluet warna putih berdiri tegak di sampingku.
Bentuknya samar... Dan membentuk badan ramping...tapi tak nampak jelas.
"Nastiti...?" aku berdesis
Bayangan putih itu nampak bergerak.. Seakan memutar tubuhnya dan menghadapku.
"Iya mas... Mas bisa melihatku?"
Aku mendengar suara di dalam.kepalaku...namun terasa sangat jauuhhhh....!!!
"Bisa...tapi masih sangat samar. Cuma berbentuk bayangan putih...!" jawabku.
"Syukurlah... Mata batin mas sudah mulai terbuka ..!"
Lagi-lagi suara yang sangat jauh rasanya.
Ternyata mimpiku semalam memang bukan mimpi biasa. Sekarang aku sudah bisa melihat Nastiti walau masih dalam bentuk bayangan kabur.
Ga sabar rasanya untuk bisa segera menikmati wajah cantiknya...
Aku tak lagi berada di gudang... Aku seperti berada di sebuah tempat yang asing bagiku. Tempat yang belum pernah aku singgahi.
Suasana redup bagai awal pagi, ketlka matahari semburat di ufuk timur. Masih remang-remang namun bisa melihat dengan jelas.
Dan sesosok gadis yang amat cantik, dengan gaun putih bersih, bersimpuh di sampingku. Tangannya masih memegang pergelangan kakiku. Nampaknya dialah yang tadi menggoyang kakiku agar aku bangun.
"Si..siapa kamu...?" tanyaku sambil bangkit dari berbaring. Aku duduk di tanah. Hei...tanah? Bukankah aku tidur di bangku bambu?
"Aku pengikutmu mas...!" jawab gadis cantik itu.
Bau bunga kanthil yang harum menguar dari tubuh gadis itu.
"Sejak kapan kamu mengikutiku...?"
"Sejak lama mass .. Sejak di kota sebelah ..!" katanya.
Mungkinkah dia miss kunti yang hadir dalam mimpi-mimpiku? Sepertinya sih bukan... Miss kunti itu sangat menyeramkan, sedangkan gadis ini begitu cantik menawan...
"Aku memang yang waktu itu meminta untuk ikut padamu mass....!" katanya, seolah mampu membaca pikiranku.
"Tapi..waktu itu wujudmu serem banget...!"
"Hihihi...kaumku bisa berubah bentuk sesuka kami mas...!"
"Oh.. Lalu siapa namamu...?"
To the point amat ya? Yah, inilah hasil suka godain cewe...yang selalu gagal...

"Namaku Nastiti mas...!"
Oke, step pertama terlewati. Sudah tahu namanya. Selanjutnya...SSI..
"Nama yang cantik, secantik orangnya...!"
Nastiti tampak tersenyum simpul dan menundukkan wajahnya.
Yess... Lancar nih kayaknya.
"Lalu kenapa kamu membawaku ke tempat ini?" tanyaku.
"Bukan aku mas... Tapi beliau...,!" sahut Nastiti sambil menunjuk dengan ibu jarinya. Khas gaya keraton...
Aku menoleh ke arah yang ditunjuknya. Nampak seorang lelaki tua yang tinggi besar, dengan baju lurik, dan celana komprang sebatas lutut berwarna hitam. Jenggotnya panjang dan dikepang. Sementara, kepalanya memakai ikat kepala kawung. Rambutnya diikat model majapahit, seperti sanggul tepat di atas kepalanya.
Sosok itu nampak sangat berwibawa, namun pandangan matanya menyejukkan.
"Siapa beliau ini Nastiti. Ayahmu... Atau kakekmu...?" tanyaku pada Nastiti.
"Beliau ini adalah kakek buyutmu mas...!" jawab Nastiti.
Hah....??? Kakek buyut...??? Seperti ini rupanya wujud kakek buyutku.
Aku menghampiri sosok tua itu, lalu sungkem pada beliau.
"Bisma menghaturkan sungkem kepada mbah Buyut...!"
"Berdirilah... Aku terima sungkemmu buyut...!" kata beliau.
Suaranya berat dan dalam...
Aku bangkit dan berdiri di depan beliau.
"Bagaimana kabarmu buyut? Baru sekali ini kita bertemu. Namun sejak kamu kecil, aku selalu memantau perkembanganmu. Memang, dulu aku pernah menitipkan ilmu padamu. Saat kamu dalam kandungan ibumu, di saat aku masih hidup... Itu kan yang jadi pertanyaanmu?" kata mbah Buyut panjang lebar.
"Tapi apa fungsinya ilmu itu mbah... Jaman sekarang kok pake ilmu-ilmu kayak gitu...?"
"Khan sudah ada manfaatnya. Coba kamu bayangin... Jlka kamu ga punya ilmu itu, dan terkena pelet nenek-nenek itu... Orang-orang bakal heran melihat anak muda tergila-gila pada nenek peot...!" kata mbah Buyut.
Tak terasa aku membayangkan apa yang dikatakan oleh mbah Buyutku.
Hiii....malah merinding.....

"Bener juga sih mbah... Makasih ya mbah, sudah ngasih ilmu itu...!"
"Iya, sekarang tinggal kamu kembangin aja...!"
"Enggak ah mbah... Berat lakunya. Ga kuat kalau harus puasa mutih, ngebleng atau pati geni." ujarku.
"Kalau mau yang ringan sih ada, tapi hasilnya kurang maksimal. Mau?"
"Apa itu mbah...?" tanyaku penasaran.
"Puasa biasa selama 40 hari...!" jawab mbah Buyut.
"Halah... Wong puasa Ramadhan yang cuma 30 hari aja sering bolong kok mbah...!" sahutku.
Mbah buyut geleng-geleng. Mungkin beliau berpikir...punya cucu buyut kok begini amat yak?

"Baiklah... Mbah bikin lebih ringan lagi...!"
"Emang bisa mbah...?"
"Bisa... Hasilnya sepadwn dengan puasa 40 hari... Mau?" tanya beliau.
"Ya lihat-lihat dulu lah mbah. Kalau masih berat, ya ga mau...!" kataku.
"Ga berat kok. Kamu cuma perlu puasa 3 hari saja...!"
"Beneran mbah...?? Kalau itu aku kuat mbah...!" jawabku sok kepedean.
"Dengarkan baik-baik.. Kamu harus mulai puasa pada hari Rebo Pon, diakhiri hari Jumat Kliwon. Dan selama 3 hari ga boleh tidur sama sekali...!"
Eh...busyet... Ga boleh tidur sama sekali? Sudah lapar, ditambah ga boleh tidur? Wtf.....

Tapi aku sudah terlanjur bilang kalau aku bakal kuat... Jadi gengsi dong kalau aku bilang ga kuat...
"Kenapa harus mulai hari Rebo Pon mbah?"
"Karena jumlah hari dan pasaran dari Rebo Pon, Kamis wage, dan Jumat Kliwon berjumlah 40. Makanya, puasa 3 hari setara dengan puasa 40 hari....!" sahut mbah Buyut.
"Hmm...baik mbah. Nanti aku coba untuk berpuasa seperti yang mbah Buyut terangkan...!" jawabku.
"Satu lagi... Sebelum memulai puasa itu, hari Selasa sore kamu harus mandi kembang setaman... Itu lambang bahwa kamu mensucikan tubuhmu untuk persiapan puasa. Dan sejak mandi itu, kamu ga boleh tidur sampai Jumat sore saat Maghrib!"
"Iya mbah....!"
"Nah, sebagai permulaan, aku akan membuka mata batinmu sekarang. Tapi hanya sesdikit. Nanti setelah kamu selesai laku itu, mata batinmu akan terbuka seluruhnya...!" kata mbah Buyut.
"Kalau mata batin dibuka, aku jadi bisa melihat makhluk halus mbah?" tanyaku.
"Iya...benar. Juga bisa melihat jika ada serangan ghaib yang datang menyerangmu..!"
"Ga usah lah mbah... Nanti aku malah takut kalau lihat yang seperti itu mbah...!"
"Laki-laki kok penakut. Apa mau mbah sunat lagi...?" tanya mbah Buyut.
"Eh..ya jangan lah mbah. Masa depan ini mbah. Kalau disunat lagi, bisa habis dong...!"
Kudengar tawa cekikikan di belakangku. Rupanya Nastiti yang ketawa mendengar aku mau disunat lagi...

"Sekarang tutup matamu. Simbah mau membuka mata batinmu...!" perintah mbah Buyut.
Yah...daripada disunat lagi, ya mending nurut aja dah...
Aku memejamkan mataku, lalu kurasakan hembusan angin menerpa kedua mataku. Mungkin mbah Buyut meniup kedua mataku.
"Sudah...sekarang buka matamu...!"
Aku membuka mataku.. Ga ada yang berubah...masih seperti tadi.
Wah, jangan-jangan mbah Buyut nipu nih...
"Ga ada bedanya mbah. Aku masih belum bisa ngelihat makhluk ghaib..!" ujarku.
"Tentu saja... Kamu saat ini sedang di alam bawah sadarmu. Nah, waktu simbah sudah habis... Simbah pamit dulu...!"
Sosok mbah buyut memudar dan kemudian hilang dari pandanganku.
Kemudian aku merasakan kantuk ysng amat sangat.
Kantuk yang ga bisa dltahan... Hingga aku langsung tertidur lelap
Aku terbangun di bangku bambu yang biasa kupakai untuk tidur.
Waktu sudah subuh saat itu... Aku mengingat-ingat mimpiku semalam. Mimpi.yang aneh.. Dan herannya, aku bisa mengingat setiap detailnya, seolah aku memang mengalaminya secara nyata.
Ah...sudahlah...
Aku bangkit dan menuju kamar mandi, mengambil wudhu dan sholat subuh.
Saat salam terakhir, aku agak kaget melihat bayangan putih di samping kiriku.
Kuselesaikan sholatku dan kembali menoleh ke samping kiri.
Bayangan itu masih ada... Siluet warna putih berdiri tegak di sampingku.
Bentuknya samar... Dan membentuk badan ramping...tapi tak nampak jelas.
"Nastiti...?" aku berdesis
Bayangan putih itu nampak bergerak.. Seakan memutar tubuhnya dan menghadapku.
"Iya mas... Mas bisa melihatku?"
Aku mendengar suara di dalam.kepalaku...namun terasa sangat jauuhhhh....!!!
"Bisa...tapi masih sangat samar. Cuma berbentuk bayangan putih...!" jawabku.
"Syukurlah... Mata batin mas sudah mulai terbuka ..!"
Lagi-lagi suara yang sangat jauh rasanya.
Ternyata mimpiku semalam memang bukan mimpi biasa. Sekarang aku sudah bisa melihat Nastiti walau masih dalam bentuk bayangan kabur.
Ga sabar rasanya untuk bisa segera menikmati wajah cantiknya...

bruno95 dan 77 lainnya memberi reputasi
78
Tutup