- Beranda
- Stories from the Heart
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
...
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

Hallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.
Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya
Quote:
Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati

Oh iya jangan lupa
Quote:
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
233.2K
2.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
afryan015
#581
Abimantra
saat aku kembali berdiri dan mencari barang yan membuatku tersandung ternyata tidak ku temukan, dan saat aku akan kembali mendorong motorku tiba tiba di pundaku terasa ada seseorang yang memegangnya, karena terkejut aku langsung menoleh kebelakang pundak ku, dan kulihat seorang laki laki yang wajahnya masih samar karena pencahayaan ditempat itu yang kurang akibat lampu padam.
“ayo kita harus segera pergi dari sini sejauh mungkin” sosok lelaki itu berkata sembari membantuku mendorong sepeda motor ku
“maaf anda siapa ya, dan terimakasih sudah mau membantuku untuk mendorong motor” tanyaku heran pada sosok lelaki ini
“nanti kamu akan tahu sendiri, sudah ayo kita harus bergegas pergi dari tempat ini” sambil terus mendorong lelaki itu berkata dan mempercepat dorongannya
Untung dalam batin ku karena ada orang yang mau menolong ku mendorong sepeda motorku, namun aneh saat dia datang tidak ada sama sekali suara yang menunjukan dia mendekat padaku, dan anehnya lagi aku merasa dia bukan lah orang asing, seolah aku mengenalnya, namun aku tidak tahu aku mengenal dia dimana dan siapa dia sebenarnya, tidak ada pandangan sama sekali tentang sosok ini.
Saat aku dibantu mendorong oleh lelaki ini, memang aku merasa atmosfir disekeliling ku mulai tidak enak, seperti banyak mata sedang mengawasi ku yang sedang mendorong motor ini, bulu kudung mulai merinding dan berdiri karena merasa banyak makhluk yang mengawasi, satu persatu mereka mulai menampakan diri mereka, sosok mbak kunti, om wowo, beberapa makhluk kerdil, dan semakin lama aku mendorong, makhluk makhlukh dengan wujud semakin aneh mulai bermunculan, namun anehnya mereka hanya mengawasiku dan lelaki yang membantuku mendorong motor, mereka seolah enggan untuk mendekat dan menganggu kami berdua.
Sambil terus berjalan aku mencoba menanyakan tentang sebenarnya dia siapa, aku juga mengatakan kalau aku juga merasa tidak asing dengan dirinya, namun lelaki itu masih enggan juga untuk mengatakan yang sejujurnya siapa dirinya, dia hanya terdengar sedikit tertawa kecil dan terus menambah kecepatan mendorongnya.
Cukup jauh kita mendorong motor ini, namun lelaki ini sama sekali tidak mengeluh dan terus membantuku mendorong, hingga sampai akhirnya kita sampai di sebuah perempatan sebuah pasar, hawa negatif semakin terasa kuat disana, dan masih sama tidak ada seorang pun, padahal pasar ini terkenal di Wonosobo sebagai pasar yang tidak penah tidur, aktifitas jual beli tidak pernah selesai dipasar ini walau malam sudah larut dan sudah mulai pagi, biasanya banyak sekali para penjual sayur dan pengepul sayur berada disini, namun saat ini sama sekali tidak ada siapa siapa.
Walaupun hawa negatif sangat kental disini, namun masih sama tidak ada yang berani mendekat padaku, aneh rasanya padahal biasanya kalau aku sendiri pasti akan langsung di ganggu atau diserang oleh mereka yang tertarik padaku, dan singkat cerita aku yang dibantu lelaki ini pun berhasil melewati pasar itu tanpa halangan atau mendapat serangan dari penghuni sekitar.
Setelah melewati pasar itu, tiba tiba dari arah atas belakang ku, suara yang aku kenal berteriak kepadaku untuk segera menunduk.
“Ryaaannn cepat menunduk” Shinta dengan suara keras dan lantang memberi perintah untuk menghindar.
“hey kenapa tiba tiba datang” aku yang menengok kebelakang terkejut melihat Shinta melesat dengan cepatnya.
Shinta langsung melesat kearah lelaki yang membantuku mendorong motor, aneh rasanya kenapa Shinta justru menyerang dia dan bukan sosok sosok yang terus mengawasi aku dari tadi, apakah lelaki yang membantuku ini bukan sosok sembarangan, apakah dia sebenarnya berbahaya untuk ku, kalau memang dia berbahaya untuku ku kenapa firasatku malah berkata sebaliknya, aku merasa dia memiliki sebuah ikatan dengan ku dan aku merasa kenal dengan dia, aku sempat meragukan prasaanku karena Shinta menyerangnya dengan begitu cepat.
Serangan Shinta begitu cepat mengarah lelaki yang membantuku mendorong sepeda motor itu, sempat aku berteriak untuk menghentikan serangan yang dilakukan Shinta, namun dia sudah terlanjur melakukanya dengan cepat, sebuah pukulan yang dilakukan Shinta tepat mengenai bagian belakang kepala lelaki itu, namun anehnya, sosok lelaki ini tidak terluka sama sekali hanya saja akibat serangan dari Shinta, lelaki itu menghantam tanah tepat kepalanya terlebih dahulu, dan kemudian bergegas bangun setelah mendapat serangan dari Shinta, dan Shinta sendiri langsung mendarat beberapa meter didepan sosok laki laki ini.
Melihat sosok lelaki ini langsung berdiri dengan cepat, Shinta langsung memberikan serangan kedua, tendangan yang diarahkan tepat di pelipis lelaki itu, namun kali ini sosok lelaki ini dengan mudah dan ringan menahan tendangan Shinta dengan satu tangan sembali berkata..
“wah wah, tendangan mu sangat kuat, memang cocok kamu disamping Ryan” lelaki itu memuji serangan Shinta sekaligus mengagetkanku karena dia tahu namaku, padahal dari tadi aku sama sekali tidak membicarakan soal nama dengan dia.
“siapa kamu sebenarnya, kenapa bisa bersama Ryan, apa rencanamu mendekati Ryan, atau mau mencelakai Ryan” tanya Shinta dengan detail.
“haha aku? Mencelakai Ryan? Bagaimana bisa aku melukai diriku sendiri” jawaban yang tak kalah mengagetkanku, apa maksudnya melukai diriku sendiri?
“apa maksudmu berkata seperti itu” tanya Shinta keheranan, sedangkan aku hanya melongo di samping mereka
“apa kamu tidak merasakan auraku apakah ada tanda aku akan melukai Ryan, justru aku muncul karena kamu tadi menolak saat di ajak Ryan, sudah tahu situasi sedang seperti ini” sosok lelaki ini malah kembali bertanya dan menyalahkan Shinta
“.........” Shinta hanya terdiam dan terus mengamati sosok laki laki ini, dan setelah beberapa saat ekspresi Shinta berubah seolah terkejut.
Tak berselang lama juga setelah mereka berbicara, tiba tiba lampu disekitar sana kembali menyala, aku dan Shinta kembali dikagetkan oleh wujud laki laki ini, bagaimana tidak terkejut, lelaki yang menggunakan pakaian khas kerajaan jawa lengkap dengan bawahan jarit yang dipakainya dan memiliki wajah, postur tubuh dan aura yang sangat mirip dengan ku, hanya saja menurut Shinta sosok ini memiliki energi yang lebih kuat dibandingkan diriku, siapa sebenarnya lelaki ini.
Aku yang terkejut melihatnya kemudian memberanikan diri untuk menanyakan sebenarnya siapa dirinya, lelaki itu hanya menjawab kalau dirinya adalah diriku, hah? Apa maksudnya ini, apa aku ini kembar, dan dia baru saja menemukan ku setelah kita sekian lama terpisah, lah kenapa jadi seperti sinetron aja, dan jangan bilang selama kita terpisah dia dipungun oleh keluarga yang kaya raya, sehingga dia bisa memakai pakaian sesuka hati dia, wah tambah ngaco saja pikiranku ini.
Aku yang masih merasa aneh dengan lelaki ini, kemudian mendekati wajah itu, wajah yang sangat mirip dengan ku, ku coba pegang pegang wajahnya, dingin terasa dan yang jelas aku tidak bisa merasakan wajah nya hanya rasa dingin yang aku rasakan saat itu, yang menjelaskan dia bukanlah materi padat seperti ku, apakah dia qorin ku, atau apalah dia ini.
Shinta pun merasa aneh dan terus mengamati sosok yang berada didepannya ini, memastikan kalau benar benar dia bukan lah musuh, wajah garang Shinta memang sudah tidak terlihat hanya saja wajah atau ekspresi heran karena berjumpa dengan sosok yang sangat mirip dengan ku, lalu dengan nada sopan dan rendah Shinta menanyakan siapa sosok yang mirip denganku ini.
“kenapa kalian berdua memandangku seperti musuh, kalian masih belum percaya padaku?” tanya sosok itu pada kta berdua
“.......” aku dan Shinta hanya melongo dan menggelengkan kepala, layaknya orang bloon yang tak mengerti apa apa
“aku adalah Abimantra, aku adalah dirimu dimasa lalu Ryan, sebelum kamu ada kamu adalah aku” sosok lelaki itu memperkenalkan dirinya adalah Abimantara dan dengan menjelaskan hal yang tidak aku mengerti sama sekali.
“ha........” dengan kompak aku dan Shinta menjawab
“sudah yang jelas aku bukanlah musuh, intinya aku adalah salah satu leluhurmu, auramu mewarisi auraku makanya kita memiliki aura yang sama” jelas Abimantra pada kita
“memang sih sama, tapi sepertinya kamu lebih kuat dan bisa di andalkan dibanding Ryan” dengan lirikan sinis Shinta
“heh apa maksudmu Shinta mengatakan hal seperti itu” dengan nada kesal aku menjawab omongan Shinta.
“ah nggak, nggak ada apa apa” Shinta menjawab dengan kepala mlengos menatap kearah lain sambil tersenyum.
“haha sudah sudah ayo sekarang kita pergi kerumah orang tua Via, mereka pasti sudah menunggu, dan malam juga sudah mulai larut, mbah Margono sudah menunggu dirumah dan jelas ibu mu dan bapakmu sudah menunggu Yan” ucap Abimantra pada kita
“tunggu dari mana kamu tahu Mbah Margono berada dirumah” tanya Shinta keheranan
“haha sudah lupakan, aku juga sekarang tahu kalau ida sedang berusaha menyembuhkan bapak Ryan dengan mantra dan doa, kita coba saja apakah Mbah Margono bisa mengapus santetnya, ayo kita juga mempunyai misi untuk mengambil ikhtiar yang disiapkan oleh mertua mu yan” ucap Abimantra bergegas
Setelah obrolan ini satu persatu warga mulai bermunculan di jalanan, tabir yang semula seolah menyelimuti malam ini terasa mulai memudar dan terlihat malam seolah tidak terasa begitu gelap seperti tadi.
Dan dengan polosnya aku masih mendorong motorku tanpa mencoba untuk menghidupkannya terlebih dahulu, padahal aku sudah menyadari kalau keadaan disekitar sudah mulai kembali normal, hingga beberapa orang yang berpapasan denganku mencoba bertanya padaku dan memastikan aku tidak apa apa dan hanya memberi tahuku kalau didepan beberapa meter lagi akan ada bengkel yang masih buka, mendengar hal itu aku merasa senang, dan meminta Abimantra untuk membantu ku mendorong lagi, sedangkan Shinta jelas dia tidak akan membantu malah dia dengan seenak jidatnya sendiri duduk di jog belakang, yang membuat motor ini terasa lebih berat.
Namun saat aku meminta Abimantra membantuku dia malah tersenyum sambil berkata lirih “sepertinya benar katamu Shinta” tanpa menjawab Shinta hanya mengangguk dan tersenyum, melihat tingkah mereka ini membuat aku malah bertanya tanya sebenarnya apasih yang salah dari diriku, aku kan hanya meminta dibantu untuk mendorong motor saja.
Setelah mendorong dan dibantu oleh Abimantra, sampailah kita di bengkel yang dimaksud tadi, aku menemui pemilik bengkel dan meminta tolong untuk di cek kan motorku yang tidak mau menyala, pemilik bengkel pun langsung memeriksa motorku ini, diteliti satu persaru, dan saat akan di coba di hidupkan, pemilik bengkel itu menekan tombol starter dan terdengar suara motor hidup dengan gampangnya, dan untuk memastikan tidak ada kerusakan pada motorku, pemilik bengkel itu memeriksa disetiap bagian dan tidak ditemukan kerusakan pada motorku itu.
Melihat motorku baik baik saja, aku jadi mersa heran kenapa tadi tidak mau dinyalakan, dan sedangkan Abimantra dan Shinta malah hanya tertawa kecil melihat tampangku yang kebingungan, dan ditengah kebingunganku sipemilik bengkel kemudian mendekat padaku dan memberitahuku bahwa tidak terjadi masalah apapun pada motorku, dan aku ditarik biaya cek sebesar duapuluh ribu rupiah, setelah membayar baru Shinta menjelaskan kalau sebenarnya dari tadi memang motorku tidak kenapa kenapa hanya karena ada gangguan dari energi makhluk sebelah sepanjang jalan tadi makanya motorku tidak bisa menyala.
Sial batinku, harusnya aku tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk pengecekan itu, padahal itu uang terakhirku, maklum lah orang baru menikah belum bisa mengontrol uangnya, dan apalagi sudah ada istri, yang merangkap sebagai bendahara ya sudah kalau mau minta uang harus buat proposal dulu.
Dengan perasaan kesal akupun melanjutkan perjalanan menuju kerumah orangtua Via, eh tunggu dia juga orang tuaku sekarang, yah intinya itu lah aku mau mengambil air yang sudah disiapkan tadi, selama perjalanan sama sekali tidak ada masalah, hingga aku pulang kerumah sama sekali tidak ada masalah sama sekali.
Sesampainya dirumah aku masih melihat Margono berada di ruang tamu sambil duduk bersilah, aku yakin dia sedang melakukan suatu hal, sambil membawa air yang aku ambil tadi, aku melihat kearah kamar orang tuaku, bapak sedang tertidur dan suara rintihan karena rasa sakit yang dirasakan bapak tidak terdengar, sepertinya bapak mulai membaik setelah mencoba di netralkan oleh mbah Margono tadi.
Mbah Margono sedikit mendekhem seolah memberiku tanda, aku pun meletakan air yang tadi ku ambil dari orang tua ku / orang tua Via lalu ku letakan diatas meja, dan hendak selanjutnya menuju ke arah mbah Margono, namun Abimantra malah menyuruhku ke kamar dan segera rebahan dan terlihat Via yang sudah tertidur saat itu, dan mengikuti apa yang diarahakan olehnya, Shinta pun mengikuti kita dari belakang.
Abimantra menyuruhku utnuk memusatkan pikiran tepat di tengah tengah kepalaku, dan memintaku membersihkan pikaran ku dari segala hal, dan tak lupa meminta diriku untuk mengatur nafasku, dan menyuruhku mengikuti kata kata yang dia ucapkan, atau lebih tepat kalau perkataan yang diucapkan oleh Abimantra adalah mantra yang membuatku bisa melakukan rogoh sukmo.
Aku mencoba beberapa kali, bagian yang tersulit adalah memusatkan pikiranku, beberapa kali tubuhku sudah merasa ringan dan seolah akan melayang namun karena pikiranku yang belum bisa bersih makanya beberapa kali gagal, dan hingga setelah beberapa kali mencoba akhirnya aku bisa melakukan nya dengan sendiri untuk pertama kali, tanpa bantuan dari Shinta.
Kulihat suasana yang sangat berbeda semua ruangan seolah diterangi oleh suasana senja berwarna orange, aku juga bisa melihat tubuhku terbaring diatas tempat tidurku bersama dengan Via, lalu kulihat kesekeliling ada Shinta dan juga Abimantra, Abimantra kemudian mengajaku untuk segera ke ruang tamu, Shinta kemudian meraih tanganku, dan menuntuk ku untuk mengikuti Abimantra.
Aku keluar bergandengan dengan Shinta, terlihat sesampainya di depan kamar ternyata sudah berkumpul, ada mbah Margono, Bang Damar, Abimantra, Gufron, Barzam, Aruna, Ningrum, Adiwilaga, dan tak lupa juga ada bapak yang nampak duduk sambil menahan rasa sakit di punggungnya, aku kemudian mendekat pada bapak dan melihat bagian punggung, dan terlihat luka yang ternyata sudah begitu parah.
Ingin rasanya menangis melihat kondisi bapak dalam alam astral ini, namun rasa sedih ini harus aku tahan, walaupun begitu, setetes air mataku terlanjur menetes, apalagi melihat ekspresi bapak yang seperti itu, membuat ku merasa tidak tega,
Shinta dan bang Damar mendekati diriku, mencoba menenangkan ku, dan berkata.
“akan kita balas orang yang melakukan itu pada amang” ucap bang Damar padaku
“tenang Ryan kita akan habisi semua yang berani berurusan dengan kita” ucap Shinta dengan mantab
“ok sudah kita mulai membuat strategi, cepat atau lambat kita harus menyerang terlebih dahulu, jangan hanya bertahan, tenang yan bapak mu tadi sudah mbah kasih ajian dan melonggarkan santetnya, tapi tetap semua butuh proses dan banyak ikhtiar, dan Ambarawa tetap kita harus kesana”
Aku pun mulai bersemangat, masih ada harapan, kitapun mulai membicarakan hal kedepan yang akan kita lakukan.
itkgid dan 49 lainnya memberi reputasi
50
Tutup