- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.9K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#177
Chapter 116
Quote:
Kedua sayap masih menempel di bahu Viktor, melihatnya kesakitan seperti itu membuat Kapten Texas senang sekaligus menghibur dirinya. Lalu setelah dicabut, darah pun menempel di ujung sayapnya, kental dan segar. Viktor dibiarkan seperti itu saja sampai kehabisan darah, kali ini tamatlah sudah. Kapten Texas melihat kapten Juka dengan tangan besarnya yang mengarah padanya, ia pun tidak segan memuji rekannya itu di BASS.
“Melepas senjata yang menempel dilenganmu, agar bisa membuat pose yang indah begitu. Thunder Gun lagi?” kapten Texas berjalan secara perlahan, kapten Juka tidak bergeming sedikitpun. “kuingatkan, dengan sedetik saja dan tidak mengeluarkan keringat sama sekali aku bisa ketempatmu berdiri. Kau sangat paham bukan?”
Kapten Juka tetap fokus sambil mengisi daya yang dilimpahkan semuanya ke tangan besarnya itu, tidak ada jaminan sama sekali bahwa thunder gun yang akan ditembakannya nanti akan mengenai kapten Texas. Apalagi keberadaan Viktor yang ada dijalur tembaknya, semuanya menjadi sangat sulit. Tiba-tiba sesuatu muncul dari arah gedung markas utama BASS, sebuah senjata berbentuk sabit.
“Senjata itu kan?” ucap Djohan terkejut.
Sabit yang melayang sambil berputar dengan kecepatan penuh itu mengarah ke kapten Texas. Tentu saja serangan seperti itu dapat dengan mudah dihempaskannya hanya menggukan satu tangan monster miliknya. Lalu monster Beaters berwarna keabuan datang dengan menghancurkan salah satu jendela dan turun dengan menghentakan kakinya dengan keras, memberikan efek hancur pada pijakan kakinya.
“Hunter?” ucap kapten Texas. “eh…kau sudah bisa menggunakan bentuk itu?”
Hunter dengan mode lain, sama seperti kapten Texas didepannya, Hunter kini sudah bisa menggunakan armored mode. Melapisi tubuh monsternya dengan lapisan-lapisan keras seperti baju jirah, duri-duri disekitar pundak dan juga bagian wajah yang tertutup menyisakan matanya yang tajam.
“Aku tidak sampai membunuhnya, entahlah…,” ucap Djohan yang diperhatikan oleh anggota Silver Clan lainnya. “pikirannya sempat terganggu sebelumnya, jika sudah bisa menggunakan mode itu harusnya pikirannya sudah kembali jernih,” tutup Djohan.
“Memang tidak bisa, kekuatan Beaters menang telak,” ucap mister Brock yang semakin tidak percaya diri, melihat baik kapten BASS maupun orang dari unit-01 tidak ada yang berkutik dihadapan kapten Texas.
Hunter memanggil kembali senjata utamanya dihempas jauh oleh kapten Texas, sedangkan kapten Juka terus bersiap mengumpulkan semua energi dalam baju tempurnya untuk dilepaskan menjadi thunder gun yang sangat dahsyat. Kapten Texas memincingkan matanya, baru ia sadari bahwa sabit milik Hunter telah bersimbah darah.
“Oh ini…aku sudah membunuhnya…..” ucap Hunter sambil memainkan sabitnya. “ucapan terakhirnya membuatku ingin tertawa, ‘kapten Texas akan membunuhmu!’ begitu ucapnya sebelum sabit ini menuntaskan tugasnya.”
Bayangan sosok wakil kapten tim 3 muncul dalam benaknya, setelah Hunter mengucapkan hal itu. Emosi dalam dirinya naik, kapten Texas langsung berbalik arah dan menerjang Hunter dengan kepalan tinju yang sangat keras. Hunter mampu menahan serangan ini dengan menggunakan sabitnya.
“Padahal kau lebih dulu menggunakan kekuatan ini, tapi mengapa bisa lebih lemah daripada aku?” ledek Hunter.
“Diam!” muncul dua buah sayap yang dijadikan senjata menggunakan ujungnya untuk menyerang Hunter.
Lagi-lagi Hunter dapat menghindarinya, “Kau membuatnya seperti bagian atas cabit kepiting, kreatif tetapi membuatnya menjadi lambat.
Hunter berinisiatif menyerang balik, keahliannya menggunakan sabit semakin lihai saja. Kapten Texas masih bisa menyanggupi kecepatan yang dikeluarkan oleh Hunter, tetapi ada satu dua serangan yang sempat mengenai tubuhnya. Dengan kokohnya kulit badannya itu, serangan Hunter masih bisa diredam, hanya saja kapten Texas tidak bisa menerimanya.
“Kenapa! Masalahnya ada padaku kan?! Aku yang memberikan serum itu padamu!” teriak kapten Texas.
“Benar, anggap saja ia sial karena berada dijalanku,” Hunter melemparkan sabitnya.
“SIAL!SIAL!SIAL!” kapten Texas meraih sabit yang dilemparkan, kali ini gerakannya sangat cepat hingga membuat hembusan angin yang kuat. “MATI KAU!” kapten Texas menusuk Hunter tepat di bagian dadanya, tempat di mana Beat berada.
Darah keluar dari dada Hunter, kulit setara baju jirah itu tidak mampu menahan sabit bikinannya sendiri. Amarah kapten Texas sudah terluapkan, satu pengganggu sudah dilumpuhkannya lagi. Kali ini hanya kapten tim 1 satulah yang dapat melawannya jika dirinya bersedia. Mata Hunter tertutup, kapten Texas pun melepaskan peganganya dari sabit itu, namun hal tidak terduga terjadi ketika pegangan sabit itu malah melilit ke tangan kapten Texas.
“Apa?! bagaimana---,” kapten Texas kembali emosi melihat Hunter yang kembali membuka matanya.
“Kena kau!” Hunter begitu percaya diri, “inilah rencanaku sejak awal, apa kau tidak menyadari bahwa sabitku ini terbuat dari sel Beaters…,” kapten Texas meronta namun lilitannya sudah menjalar keseluruh tubuhnya, bahkan bagian punggung tempat sayapnya yang meresahkan itu ikut terkunci.
“Kau……”
“Ya, aku memindahkan dulu letak Beatnya, hebat bukan? Dan sekarang posisi kita sudah berada di tengah-tengah di antara kedua gedung besar ini.”
Kapten Texas lantas menyadari bahwa semua yang dilakukan Hunter adalah untuk menjebaknya, ia menoleh kebelakang, sebuah cahaya dengan intesitas tinggi terkumpul di lengan besar milik kapten Kruse yang kini dipakai oleh Kapten Juka.
“Jadi ini?!!” kapten Texas semakin meronta, tapi Hunter lebih kuat lagi menahannya.
“Lakukanlah kapten Juka! Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi!” teriak Hunter.
“Cih, mudah untuknya berbicara seperti itu, tetapi memikul kekuatan sebesar ini, dengan kondisi tangan yang terluka….,” kapten Juka mengumpulkan keberaniannya, jika meleset maka semua ini akan sia-sia. Sudah terlalu banyak orang berkorban.
Kapten Juka menghirup nafas dalam-dalam, semua energi dari baterai yang diberikan oleh Viktor sudah ditransferkan ke tangan yang menggunakan tambahan tangan besar milik kapten Kruse. Sedangkan tangan satunya menahan dan membuat bidikan lebih akurat dengan menggesernya sedikit demi sedikit hingga pas.
Telapak tangan besar itu mulai retak, diikuti dengan bagian lengannya yang mulai mengeluarkan cahaya dari lubang kecil yang terbentuk akibat tidak kuat menahan kekuatan yang sangat besar itu. kedua kaki sudah ditancapkan dengan mantap, sebuah tembakan thunder gun meluncur, berwarna merah gelap, berbentuk seperti sebuah laser berukuran besar. Tembakan itu langsung menghujam kedua monster yang tepat berdiri di lajur tembak.
“Kekuatan yang dahsyat!” kagum Djohan melihat semua ini, cahaya merah bersinar terang.
“Masih belum!” kapten Juka terus menembakannya, ia membuat pelotar roketnya mengeluarkan dorongan yang begitu kuat untuk menahan tubuhnya agar tidak terpental.
Sementara itu Sterling dan juga Vivian yang posisinya sudah berada di dekat pintu masuk komplek kantor utama BASS ikut menyaksikan sebuah cahaya berwarna merah yang berkilauan.
“Apa itu?” tanya Sterling.
“Entahlah, kita harus cepat!” pinta Vivian dan Sterling memacu mobil lebih kencang.
Tangan berukuran besar itu tidak mampu menahannya lagi, benda itu hancur lalu membuat tubuh kapten Juka terpelanting jauh. Sinar laser yang tercipta dari thunder gun menghilang, sebuah jalur baru yang dibuat dari efeknya terlihat jelas, membelah di antara kantor utama BASS dan kantor Surbanews. Keberadaan Hunter maupun kapten Texas tidak nampak lagi, begitupun jejaknya.
“Apakah kita menang?” tanya Viktor yang secara perlahan kehilangan kesadarannya akibat kehilangan banyak darah. “eh? Siapa?” sesaat sebelum tidak sadarkan diri, dirinya melihat seseorang mendekat dan setelahnya semuanya menjadi hitam.
Di tempat kapten Juka, Djohan yang ikut turun bersama tuan Stam tidak sanggup melihat kondisinya yang begitu mengenaskan. Kapten Juka harus merelakan satu tangannya hancur tak tersisa, sementara dirinya sudah tidak sadarkan diri.
“Melepas senjata yang menempel dilenganmu, agar bisa membuat pose yang indah begitu. Thunder Gun lagi?” kapten Texas berjalan secara perlahan, kapten Juka tidak bergeming sedikitpun. “kuingatkan, dengan sedetik saja dan tidak mengeluarkan keringat sama sekali aku bisa ketempatmu berdiri. Kau sangat paham bukan?”
Kapten Juka tetap fokus sambil mengisi daya yang dilimpahkan semuanya ke tangan besarnya itu, tidak ada jaminan sama sekali bahwa thunder gun yang akan ditembakannya nanti akan mengenai kapten Texas. Apalagi keberadaan Viktor yang ada dijalur tembaknya, semuanya menjadi sangat sulit. Tiba-tiba sesuatu muncul dari arah gedung markas utama BASS, sebuah senjata berbentuk sabit.
“Senjata itu kan?” ucap Djohan terkejut.
Sabit yang melayang sambil berputar dengan kecepatan penuh itu mengarah ke kapten Texas. Tentu saja serangan seperti itu dapat dengan mudah dihempaskannya hanya menggukan satu tangan monster miliknya. Lalu monster Beaters berwarna keabuan datang dengan menghancurkan salah satu jendela dan turun dengan menghentakan kakinya dengan keras, memberikan efek hancur pada pijakan kakinya.
“Hunter?” ucap kapten Texas. “eh…kau sudah bisa menggunakan bentuk itu?”
Hunter dengan mode lain, sama seperti kapten Texas didepannya, Hunter kini sudah bisa menggunakan armored mode. Melapisi tubuh monsternya dengan lapisan-lapisan keras seperti baju jirah, duri-duri disekitar pundak dan juga bagian wajah yang tertutup menyisakan matanya yang tajam.
“Aku tidak sampai membunuhnya, entahlah…,” ucap Djohan yang diperhatikan oleh anggota Silver Clan lainnya. “pikirannya sempat terganggu sebelumnya, jika sudah bisa menggunakan mode itu harusnya pikirannya sudah kembali jernih,” tutup Djohan.
“Memang tidak bisa, kekuatan Beaters menang telak,” ucap mister Brock yang semakin tidak percaya diri, melihat baik kapten BASS maupun orang dari unit-01 tidak ada yang berkutik dihadapan kapten Texas.
Hunter memanggil kembali senjata utamanya dihempas jauh oleh kapten Texas, sedangkan kapten Juka terus bersiap mengumpulkan semua energi dalam baju tempurnya untuk dilepaskan menjadi thunder gun yang sangat dahsyat. Kapten Texas memincingkan matanya, baru ia sadari bahwa sabit milik Hunter telah bersimbah darah.
“Oh ini…aku sudah membunuhnya…..” ucap Hunter sambil memainkan sabitnya. “ucapan terakhirnya membuatku ingin tertawa, ‘kapten Texas akan membunuhmu!’ begitu ucapnya sebelum sabit ini menuntaskan tugasnya.”
Bayangan sosok wakil kapten tim 3 muncul dalam benaknya, setelah Hunter mengucapkan hal itu. Emosi dalam dirinya naik, kapten Texas langsung berbalik arah dan menerjang Hunter dengan kepalan tinju yang sangat keras. Hunter mampu menahan serangan ini dengan menggunakan sabitnya.
“Padahal kau lebih dulu menggunakan kekuatan ini, tapi mengapa bisa lebih lemah daripada aku?” ledek Hunter.
“Diam!” muncul dua buah sayap yang dijadikan senjata menggunakan ujungnya untuk menyerang Hunter.
Lagi-lagi Hunter dapat menghindarinya, “Kau membuatnya seperti bagian atas cabit kepiting, kreatif tetapi membuatnya menjadi lambat.
Hunter berinisiatif menyerang balik, keahliannya menggunakan sabit semakin lihai saja. Kapten Texas masih bisa menyanggupi kecepatan yang dikeluarkan oleh Hunter, tetapi ada satu dua serangan yang sempat mengenai tubuhnya. Dengan kokohnya kulit badannya itu, serangan Hunter masih bisa diredam, hanya saja kapten Texas tidak bisa menerimanya.
“Kenapa! Masalahnya ada padaku kan?! Aku yang memberikan serum itu padamu!” teriak kapten Texas.
“Benar, anggap saja ia sial karena berada dijalanku,” Hunter melemparkan sabitnya.
“SIAL!SIAL!SIAL!” kapten Texas meraih sabit yang dilemparkan, kali ini gerakannya sangat cepat hingga membuat hembusan angin yang kuat. “MATI KAU!” kapten Texas menusuk Hunter tepat di bagian dadanya, tempat di mana Beat berada.
Darah keluar dari dada Hunter, kulit setara baju jirah itu tidak mampu menahan sabit bikinannya sendiri. Amarah kapten Texas sudah terluapkan, satu pengganggu sudah dilumpuhkannya lagi. Kali ini hanya kapten tim 1 satulah yang dapat melawannya jika dirinya bersedia. Mata Hunter tertutup, kapten Texas pun melepaskan peganganya dari sabit itu, namun hal tidak terduga terjadi ketika pegangan sabit itu malah melilit ke tangan kapten Texas.
“Apa?! bagaimana---,” kapten Texas kembali emosi melihat Hunter yang kembali membuka matanya.
“Kena kau!” Hunter begitu percaya diri, “inilah rencanaku sejak awal, apa kau tidak menyadari bahwa sabitku ini terbuat dari sel Beaters…,” kapten Texas meronta namun lilitannya sudah menjalar keseluruh tubuhnya, bahkan bagian punggung tempat sayapnya yang meresahkan itu ikut terkunci.
“Kau……”
“Ya, aku memindahkan dulu letak Beatnya, hebat bukan? Dan sekarang posisi kita sudah berada di tengah-tengah di antara kedua gedung besar ini.”
Kapten Texas lantas menyadari bahwa semua yang dilakukan Hunter adalah untuk menjebaknya, ia menoleh kebelakang, sebuah cahaya dengan intesitas tinggi terkumpul di lengan besar milik kapten Kruse yang kini dipakai oleh Kapten Juka.
“Jadi ini?!!” kapten Texas semakin meronta, tapi Hunter lebih kuat lagi menahannya.
“Lakukanlah kapten Juka! Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi!” teriak Hunter.
“Cih, mudah untuknya berbicara seperti itu, tetapi memikul kekuatan sebesar ini, dengan kondisi tangan yang terluka….,” kapten Juka mengumpulkan keberaniannya, jika meleset maka semua ini akan sia-sia. Sudah terlalu banyak orang berkorban.
Kapten Juka menghirup nafas dalam-dalam, semua energi dari baterai yang diberikan oleh Viktor sudah ditransferkan ke tangan yang menggunakan tambahan tangan besar milik kapten Kruse. Sedangkan tangan satunya menahan dan membuat bidikan lebih akurat dengan menggesernya sedikit demi sedikit hingga pas.
Telapak tangan besar itu mulai retak, diikuti dengan bagian lengannya yang mulai mengeluarkan cahaya dari lubang kecil yang terbentuk akibat tidak kuat menahan kekuatan yang sangat besar itu. kedua kaki sudah ditancapkan dengan mantap, sebuah tembakan thunder gun meluncur, berwarna merah gelap, berbentuk seperti sebuah laser berukuran besar. Tembakan itu langsung menghujam kedua monster yang tepat berdiri di lajur tembak.
“Kekuatan yang dahsyat!” kagum Djohan melihat semua ini, cahaya merah bersinar terang.
“Masih belum!” kapten Juka terus menembakannya, ia membuat pelotar roketnya mengeluarkan dorongan yang begitu kuat untuk menahan tubuhnya agar tidak terpental.
Sementara itu Sterling dan juga Vivian yang posisinya sudah berada di dekat pintu masuk komplek kantor utama BASS ikut menyaksikan sebuah cahaya berwarna merah yang berkilauan.
“Apa itu?” tanya Sterling.
“Entahlah, kita harus cepat!” pinta Vivian dan Sterling memacu mobil lebih kencang.
Tangan berukuran besar itu tidak mampu menahannya lagi, benda itu hancur lalu membuat tubuh kapten Juka terpelanting jauh. Sinar laser yang tercipta dari thunder gun menghilang, sebuah jalur baru yang dibuat dari efeknya terlihat jelas, membelah di antara kantor utama BASS dan kantor Surbanews. Keberadaan Hunter maupun kapten Texas tidak nampak lagi, begitupun jejaknya.
“Apakah kita menang?” tanya Viktor yang secara perlahan kehilangan kesadarannya akibat kehilangan banyak darah. “eh? Siapa?” sesaat sebelum tidak sadarkan diri, dirinya melihat seseorang mendekat dan setelahnya semuanya menjadi hitam.
Di tempat kapten Juka, Djohan yang ikut turun bersama tuan Stam tidak sanggup melihat kondisinya yang begitu mengenaskan. Kapten Juka harus merelakan satu tangannya hancur tak tersisa, sementara dirinya sudah tidak sadarkan diri.
69banditos dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas