- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR STORY) TUMBAL PABRIK
...
TS
jurigciwidey
(HORROR STORY) TUMBAL PABRIK
Hai semua ane Jurigciwidey, ane baru kali ini aktif di kaskus, setelah 2 tahun tidak dibuka ini akun akhirnya aktif kembali.
Ane kali ini ingin bercerita kembali, setelah kemarin ane bercerita tentang suatu kisah tentang warung yang tidak pernah tutup satu kalipun
1-DITERIMA KERJA
2-MALAM PERTAMA
3-BAYANGAN
4-PERTEMUAN
5-GELAP
6-POWER PLANT
7-PERDEBATAN
8-GERBANG DEPAN
Ane kali ini ingin bercerita kembali, setelah kemarin ane bercerita tentang suatu kisah tentang warung yang tidak pernah tutup satu kalipun
(HORROR STORY) WARUNG TENGAH MALAM
dan cerita lanjutanya
(HORROR STORY) KAMPUNG SEPUH
dan cerita lanjutanya
(HORROR STORY) KAMPUNG SEPUH
Dan kali ini ane akan bekerja tentang Suatu pabrik tempatku bekerja dulu dengan aturan-aturan yang tidak tertulis yang aneh bagi ane. pabrik ini sayangnya sudah bangkrut namun ketika ane bekerja disana banyak kejadian yang menurut ane diluar nalar.


Spoiler for 0-PROLOG:
Hujan rintik-rintik disertai kabut mengguyur ciwidey kala itu, hujan yang disertai dingin yang menusuk kulitku membuatku harus memakai jacket tebal untuk menghangatkan tubuh. Aku ingat, hari ini aku harus berangkat ke kota Bandung, bertemu dengan teman-teman kerja ku dulu, ketika aku bekerja di salah satu pabrik di daerah kab Bandung.
Aku awalnya ragu untuk berangkat, karena jarak pandang di depan rumahku sangat minim, karena kabut tebal yang menutupi kampungku hari itu.
“apakah harus aku batalkan aja ya, melihat kondisi cuaca di ciwidey yang kurang baik” pikirku
aku terdiam sejenak di depan rumah, melihat kondisi cuaca yang sepertinya tidak memungkinkan untuk keluar, namun karena aku sudah lama tidak bertemu dengan teman-teman kerjaku dulu, akhirnya aku memaksakan diri untuk berangkat.
Akhirnya aku memakai motor kesayanganku untuk menembus kabut tebal di ciwidey hari itu, aku menjalankan motor ku dengan sangat hati-hati, mengingat jarak yang ditempuh dari ciwidey ke Bandung sangat jauh.
Selepas ciwidey jarak pandangku semakin jauh, kabut tebal pun pelan-pelan menghilang, aku menyusuri setiap jalan yang berliku menuju bandung dengan motorku pada hari itu.
2 jam berlalu, akhirnya aku tiba di suatu cafe di buah batu, disana aku membuka WA ku dan melihat teman-temanku sudah sampai satu persatu. Aku memarkirkan motorku dan akhirnya aku masuk di cafe itu.
Akhirnya aku bertemu dengan mereka, bertemu dengan 3 orang teman kerja ku yang dulu di suatu pabrik di Kab Bandung. kulihat perubahan dari mereka yang sangat berbeda dibandingkan ketika dulu kita bekerja bersama sebagai buruh pabrik di tempat itu.
Disana aku mengobrol dengan mereka, saling bertukar cerita tentang kehidupan kita masing-masing selepas kita resign dari pabrik itu akibat alasan yang sebenarnya tabu bagi kita semua untuk diceritakan kembali.
Disana pula aku tau tentang cerita ujang, dari temanku yang kebetulan adalah salah satu penduduk di kampung itu, yang ceritanya aku sempat ceritakan disini
“eh mang harusnya kamu bayar royalti, cerita ku malah kamu tulis jadi web novel” salah satu temanku yang bernama iman menggodaku
“lah, ga apa apa atuh, khan ceritanya lumayan bagus” kataku
“ah ntar takutnya jadi kayak cerita KKN penari, banyak orang yang datang nyari tempat itu” kata Iman sambil sesekali menyeruput minuman yang kami pesan
“moal kalem weh (engga ko santai aja), toh ceritanya aku samarkan, terus aku tambahkan bumbu-bumbu supaya menarik” jawabku
Kita terlarut dalam obrolan di hari itu, kita banyak cerita tentang hal-hal konyol ketika kita bekerja di pabrik, tak lupa kita juga saling bertukar cerita seram tentang pabrik, terutama ketika shift malam.
“eh katanya pabrik itu akhirnya bangkrut ya” kata dadi
Kami berempat yang sedang meminum minuman sontak langsung berhenti atas ucapan dadi.
“ah masa” ujang momo
“serius, kemarin sewaktu lewat ketika keluar dari tol soreang, pabrik itu terlihat sepi” kata dado meyakinkan kita berempat.
“mungkin gara-gara pandemi jadi banyak di PHK hingga akhirnya bangkrut” kataku
“atau mungkin gara-gara tumbal tahunan nya tidak terpenuhi tahun ini akibat WFH” kata iman
“hush” kata kataku
“lah benerkan, terakhir kecelakaan kerja itu tahun kemarin, ampe adiknya boss jadi korban juga” kata iman
“Indah” kataku.
“iya” iman mencoba menyakinkan semua orang disana termasuk aku.
Iman adalah orang yang paling dekat dengan indah ketika kita semua kerja di pabrik, karena mungkin mereka tinggal di kampung yang sama dan bekerja di tempat yang sama pula, sehingga dia hapal siapa indah yang tak lain adalah adik dari boss pabrik tempat kita bekerja dulu.
“Indah dulu sering bercerita tentang keanehan di pabrik, dia banyak bercerita padaku ketika masih ada, dan dia juga yang suka mewanti-wanti ketika kita semua shift malam” kata iman
“kan kalian tau sendiri banyak hal-hal aneh ketika di pabrik, kebanyakan karyawan baru juga banyak yang resign akibat itu, namun karena kita semua lebih percaya takut kehilangan uang dan pekerjaan sehingga kita bertahan dengan kondisi pabrik kayak gitu” kata iman.
Akhirnya kami pun bercerita tentang pabrik, bercerita tentang angkernya pabrik tempat kita berkerja, dan ini juga yang menginspirasiku untuk bercerita
Disana juga aku akan bercerita tentang Indah, salah satu adik bos dari pabrik tempat kita bekerja yang berakhir mengenaskan.
Aku awalnya ragu untuk berangkat, karena jarak pandang di depan rumahku sangat minim, karena kabut tebal yang menutupi kampungku hari itu.
“apakah harus aku batalkan aja ya, melihat kondisi cuaca di ciwidey yang kurang baik” pikirku
aku terdiam sejenak di depan rumah, melihat kondisi cuaca yang sepertinya tidak memungkinkan untuk keluar, namun karena aku sudah lama tidak bertemu dengan teman-teman kerjaku dulu, akhirnya aku memaksakan diri untuk berangkat.
Akhirnya aku memakai motor kesayanganku untuk menembus kabut tebal di ciwidey hari itu, aku menjalankan motor ku dengan sangat hati-hati, mengingat jarak yang ditempuh dari ciwidey ke Bandung sangat jauh.
Selepas ciwidey jarak pandangku semakin jauh, kabut tebal pun pelan-pelan menghilang, aku menyusuri setiap jalan yang berliku menuju bandung dengan motorku pada hari itu.
2 jam berlalu, akhirnya aku tiba di suatu cafe di buah batu, disana aku membuka WA ku dan melihat teman-temanku sudah sampai satu persatu. Aku memarkirkan motorku dan akhirnya aku masuk di cafe itu.
Akhirnya aku bertemu dengan mereka, bertemu dengan 3 orang teman kerja ku yang dulu di suatu pabrik di Kab Bandung. kulihat perubahan dari mereka yang sangat berbeda dibandingkan ketika dulu kita bekerja bersama sebagai buruh pabrik di tempat itu.
Disana aku mengobrol dengan mereka, saling bertukar cerita tentang kehidupan kita masing-masing selepas kita resign dari pabrik itu akibat alasan yang sebenarnya tabu bagi kita semua untuk diceritakan kembali.
Disana pula aku tau tentang cerita ujang, dari temanku yang kebetulan adalah salah satu penduduk di kampung itu, yang ceritanya aku sempat ceritakan disini
“eh mang harusnya kamu bayar royalti, cerita ku malah kamu tulis jadi web novel” salah satu temanku yang bernama iman menggodaku
“lah, ga apa apa atuh, khan ceritanya lumayan bagus” kataku
“ah ntar takutnya jadi kayak cerita KKN penari, banyak orang yang datang nyari tempat itu” kata Iman sambil sesekali menyeruput minuman yang kami pesan
“moal kalem weh (engga ko santai aja), toh ceritanya aku samarkan, terus aku tambahkan bumbu-bumbu supaya menarik” jawabku
Kita terlarut dalam obrolan di hari itu, kita banyak cerita tentang hal-hal konyol ketika kita bekerja di pabrik, tak lupa kita juga saling bertukar cerita seram tentang pabrik, terutama ketika shift malam.
“eh katanya pabrik itu akhirnya bangkrut ya” kata dadi
Kami berempat yang sedang meminum minuman sontak langsung berhenti atas ucapan dadi.
“ah masa” ujang momo
“serius, kemarin sewaktu lewat ketika keluar dari tol soreang, pabrik itu terlihat sepi” kata dado meyakinkan kita berempat.
“mungkin gara-gara pandemi jadi banyak di PHK hingga akhirnya bangkrut” kataku
“atau mungkin gara-gara tumbal tahunan nya tidak terpenuhi tahun ini akibat WFH” kata iman
“hush” kata kataku
“lah benerkan, terakhir kecelakaan kerja itu tahun kemarin, ampe adiknya boss jadi korban juga” kata iman
“Indah” kataku.
“iya” iman mencoba menyakinkan semua orang disana termasuk aku.
Iman adalah orang yang paling dekat dengan indah ketika kita semua kerja di pabrik, karena mungkin mereka tinggal di kampung yang sama dan bekerja di tempat yang sama pula, sehingga dia hapal siapa indah yang tak lain adalah adik dari boss pabrik tempat kita bekerja dulu.
“Indah dulu sering bercerita tentang keanehan di pabrik, dia banyak bercerita padaku ketika masih ada, dan dia juga yang suka mewanti-wanti ketika kita semua shift malam” kata iman
“kan kalian tau sendiri banyak hal-hal aneh ketika di pabrik, kebanyakan karyawan baru juga banyak yang resign akibat itu, namun karena kita semua lebih percaya takut kehilangan uang dan pekerjaan sehingga kita bertahan dengan kondisi pabrik kayak gitu” kata iman.
Akhirnya kami pun bercerita tentang pabrik, bercerita tentang angkernya pabrik tempat kita berkerja, dan ini juga yang menginspirasiku untuk bercerita
Disana juga aku akan bercerita tentang Indah, salah satu adik bos dari pabrik tempat kita bekerja yang berakhir mengenaskan.
1-DITERIMA KERJA
2-MALAM PERTAMA
3-BAYANGAN
4-PERTEMUAN
5-GELAP
6-POWER PLANT
7-PERDEBATAN
8-GERBANG DEPAN
Diubah oleh jurigciwidey 22-10-2021 15:15
elvinrk dan 66 lainnya memberi reputasi
63
40.5K
Kutip
274
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#108
Mohon maaf kalau updatenya telat, karena udah seminggu ini badan masih belum fit dan masih dalam masa pemulihan jadi maaf kalau misalkan telat updatenya 
Terjadi perdebatan hebat antara kita ber empat di warung itu. Aku dan Iman memutuskan untuk tidak masuk kerja lagi setelah mengalami kejadian kemarin malam, namun berbeda dengan Dady dan Momo. Mereka memaksaku dan Iman untuk tetap bekerja hingga gajian tiba. Setelah kita berdua dipersilahkan untuk resign dari kantor.
Terlihat HP dari Iman beberapa kali berbunyi ketika kita sedang berada di Warung, setelah Iman cek ternyata itu adalah Indah yang menelepon, namun karena Iman terlalu emosi. Iman seakan-akan mengacuhkan panggilan itu.
“Man angkat? Siapa tau penting” kataku kepada iman
“Iya si Iman mah, kasian ada tlp dari cewe ko ga di angkat” kata dadi kepada Iman
Iman pun terdiam sejenak dia seperti memikirkan sesuatu, dan akhirnya tak lama dia mengangkat tlp dan menjauh dari tempat duduk kita ber empat di warung tersebut.
Aku mengamati apa yang iman bicarakan, samar samar terdengar bahwa Indah tidak percaya dengan semua itu, bahkan perkataan iman tentang kakaknya yang sewaktu-waktu menghilang dan ada di pabrik dia tidak percaya sama sekali. Hingga dia sendiri akan memastikan kakaknya ada di rumahnya malam ini untuk memperkuat argumen nya.
Tak lama Iman pun menutup Tlp dan kembali berjalan ke arahku dan kembali duduk disana, dia mengatakan bahwa dia akan mengikuti saran Dadi dan momo untuk bekerja hingga gajian tiba, karena dia tidak mau dady dan momo kembali menganggur tanpa sedikitpun menerima gaji selepas mereka resign dari pabrik tersebut.
Akupun hanya mengangguk dan mengikuti kata Iman, karena aku yakin itu adalah keputusan terbaik bagi kita semua yang ada disini.
***
Hujan kembali mengguyur wilayah Bandung dan sekitarnya sore itu, Aku memacu motorku menyusuri gelapnya jalanan ciwidey menuju Pabrik tempatku bekerja.
Beberapa kali aku harus berjalan pelan hingga menghindari kemacetan karena air meluap ke jalan. Aku dengan sigap melewati gang-gang sempit untuk menghindari jalan yang tergenang banjir, karena aku khawatir apabila aku memaksakan diri. Motorku akan mati di tengah-tengah genangan itu, dan membuatku telat masuk pabrik.
“Kenapa mesti hujan sih” aku menggerutu sepanjang jalan
Karena hujan akan mengingatkanku pada kejadian kemarin malam, kejadian yang baru aku rasakan dan takan terlupakan ketika aku bekerja di pabrik tersebut.
Butuh waktu 1 jam dari rumah hingga aku sampai di pabrik itu, dengan keadaan basah kuyup, aku memarkirkan motorku dan melepas jas hujan yang dari tadi menempel di tubuhku, kulihat Dady, Iman dan momo sudah ada pos security, menunggu jam kerja dimulai.
Aku memarkirkan motorku dan berlari ke arah mereka, dengan memakai jas hujan yang aku sulap menjadi pengganti payung, aku berlari dari parkiran ke pos security untuk menemui mereka berempat.
Namun ada yang aneh, security yang ada di dalam pos terlihat baik hari ini, dia menyiapkan cemilan dan makanan ringan yang dibagikan kepada kita ber empat disana.
“ini dari si boss, ada makanan ringan lebih, bawa gih buat ganjel perut sewaktu jaga malam di pabrik” kata security itu.
Aku bingung, tumben atasanku baik sekali malam ini, aku melihat cemilan-cemilan ini adalah cemilan-cemilan yang mahal, yang hanya bisa dibeli di kota. Padahal malam kemarin kita ber empat baru saja melakukan sesuatu yang melanggar peraturan pabrik.
Terlihat dady dan momo dengan lahapnya memakan makanan itu, tak lupa mereka membawa bungkus keresek untuk bekal nanti malam.
“bbuawa ajua duik, sayuang kalau tiduak dibaua” kata dadi dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Plak
Momo seketika menepuk punggung dadi hingga sebagian makananya keluar.
“makan dulu tuh makanan, baru ngomong” kata momo
Kami sontak tertawa, seperti malam-malam biasanya, kita kembali bercanda di pos security sembari menunggu jam kerja datang.
Iman juga terlihat lebih santai kali ini, tidak seperti malam sebelumnya yang penuh dengan kewaspadaan, dia sekarang lebih berbaur dengan kita bertiga seperti menghiraukan kejadian-kejadian yang terjadi di malam-malam sebelumnya.
***
Jam 22:00
Kami semua sudah ada di ruangan produksi, kita berkumpul di tengah-tengah ruangan yang berisik itu, di kelilingi oleh mesin-mesin besar yang bergerak selama 24 jam. Dady dengan sigap membuka bungkusan yang dia bawa, bungkusan makanan yang dia bawa dari security depan.
Sebuah makanan ringan yang mewah yang biasa di beli di cafe-cafe mahal di kota, isinya juga bermacam-macam, ada yang berisi keju mozarela, daging asap, coklat hingga buah-buahan.
“banyak amat kamu bawa dad?” tanya momo keheranan
“lumayan mo, kapan lagi makan-makanan begini” jawab dadi sembari tersenyum
“yu ah kita makan malam” kata dadi dengan semangat
Aku tersenyum melihat mereka berdua ketika saling sindir atau berbeda pendapat, karena mereka berdua bisa menghangatkan suasana di malam yang dingin ini. terkadang itu bisa membuaku dan iman tertawa seketika melihat tingkah mereka.
Iman merasa tidak ada keanehan malam ini, namun dia juga merasa heran dengan suasana pabrik yang sekarang.
“eh pada sadar ga?” kata iman kepada kita bertiga
“sadar kenapa” jawabku
“pabrik terasa kosong, ga ada mahluk satupun” kata iman merasa keheranan
“euuuhhhh mulai deh ngomongin hantu” kata dadi dan momo secara kompak
“engga bukan gitu, ya aneh aja, kemarin banyak banget kejadian kali ini terasa hening” kata Iman
Seketika kita berempat terdiam dan saling memandang satu sama lain, dady pun yang sedang mengunyah makanan juga terdiam.
“DUARRRRRR”
“EH Go%$#K, Chough chough” dadi kaget hingga terbatuk-batuk
Momo secara spontan mengagetkan kita yang terdiam sesaat setelah iman berbicara hal tersebut. seketika dia tertawa keras, melihat dadi yang kaget hingga terbatuk-batuk disana.
Namun ketika dia sedang tertawa tiba tiba
TRANG
TRANG
TRANG
Tiba-tiba terdengar sebuah suara, suara seseorang yang sedang memukul-mukul gerbang depan. Suaranya sangat keras hingga terdengar hingga ruangan produksi yang ada di dalam.
“suara apaan tuh” momo yang tadinya tertawa kini terdiam sesaat.
Aku, dadi dan Iman yang sedang duduk pun sontak berdiri, dengan sedikit berlari kita menuju pintu keluar ruang produksi untuk mengetahui siapa yang memukul gerbang pabrik.
TRANG
TRANG
TRANG
Suara itu kembali terdengar, dan kali ini lebih keras. Suara yang diiringi oleh suara hujan di malam hari, membuat kita berempat waspada, karena aku takut akan terjadi sesuatu seperti kemarin malam.
“dad ambil senter, takut nanti listrik mati lagi” kataku sembari sedikit berteriak.
Dadi dengan sigap berlari ke tempat peralatan untuk mencari senter untuk berjaga-jaga apabila nanti listrik mati secara mendadak.
Sedangkan iman segera berlari ke gerbang depan sembari menggerutu.
“Kemana sih security, ko ada yang mukul-mukul gerbang ga ada di pos”
Iman berlari dibawah guyuran hujan ke arah gerban depan pabrik, namun seketika iman kaget dengan apa yang dia lihat.
Pos tersebut sudah gelap gulita, pintunya terkunci rapat, dan tidak ada jejak-jejak ada security yang ada disana.
Pintu gerbang pun kini terkunci, namun terlihat terkunci dari arah luar, sontak Iman pun panik. Dia merasakan ketakutan yang mendalam kali ini, lalu tiba-tiba.
TRANG
TRANG
TRANG
“IMAN, DIKDIK, DADY, MOMO Bantu aku masuk kedalam, Si AA tidak ada di rumah malam ini”
Indah memukul gerbang pabrik yang terkunci dari luar, mencoba memanggil kita berempat karena apa yang iman ceritakan tentang kakaknya yang sewaktu-waktu bisa menghilang dari rumah kini terjadi.

Spoiler for 8-GERBANG DEPAN:
Terjadi perdebatan hebat antara kita ber empat di warung itu. Aku dan Iman memutuskan untuk tidak masuk kerja lagi setelah mengalami kejadian kemarin malam, namun berbeda dengan Dady dan Momo. Mereka memaksaku dan Iman untuk tetap bekerja hingga gajian tiba. Setelah kita berdua dipersilahkan untuk resign dari kantor.
Terlihat HP dari Iman beberapa kali berbunyi ketika kita sedang berada di Warung, setelah Iman cek ternyata itu adalah Indah yang menelepon, namun karena Iman terlalu emosi. Iman seakan-akan mengacuhkan panggilan itu.
“Man angkat? Siapa tau penting” kataku kepada iman
“Iya si Iman mah, kasian ada tlp dari cewe ko ga di angkat” kata dadi kepada Iman
Iman pun terdiam sejenak dia seperti memikirkan sesuatu, dan akhirnya tak lama dia mengangkat tlp dan menjauh dari tempat duduk kita ber empat di warung tersebut.
Aku mengamati apa yang iman bicarakan, samar samar terdengar bahwa Indah tidak percaya dengan semua itu, bahkan perkataan iman tentang kakaknya yang sewaktu-waktu menghilang dan ada di pabrik dia tidak percaya sama sekali. Hingga dia sendiri akan memastikan kakaknya ada di rumahnya malam ini untuk memperkuat argumen nya.
Tak lama Iman pun menutup Tlp dan kembali berjalan ke arahku dan kembali duduk disana, dia mengatakan bahwa dia akan mengikuti saran Dadi dan momo untuk bekerja hingga gajian tiba, karena dia tidak mau dady dan momo kembali menganggur tanpa sedikitpun menerima gaji selepas mereka resign dari pabrik tersebut.
Akupun hanya mengangguk dan mengikuti kata Iman, karena aku yakin itu adalah keputusan terbaik bagi kita semua yang ada disini.
***
Hujan kembali mengguyur wilayah Bandung dan sekitarnya sore itu, Aku memacu motorku menyusuri gelapnya jalanan ciwidey menuju Pabrik tempatku bekerja.
Beberapa kali aku harus berjalan pelan hingga menghindari kemacetan karena air meluap ke jalan. Aku dengan sigap melewati gang-gang sempit untuk menghindari jalan yang tergenang banjir, karena aku khawatir apabila aku memaksakan diri. Motorku akan mati di tengah-tengah genangan itu, dan membuatku telat masuk pabrik.
“Kenapa mesti hujan sih” aku menggerutu sepanjang jalan
Karena hujan akan mengingatkanku pada kejadian kemarin malam, kejadian yang baru aku rasakan dan takan terlupakan ketika aku bekerja di pabrik tersebut.
Butuh waktu 1 jam dari rumah hingga aku sampai di pabrik itu, dengan keadaan basah kuyup, aku memarkirkan motorku dan melepas jas hujan yang dari tadi menempel di tubuhku, kulihat Dady, Iman dan momo sudah ada pos security, menunggu jam kerja dimulai.
Aku memarkirkan motorku dan berlari ke arah mereka, dengan memakai jas hujan yang aku sulap menjadi pengganti payung, aku berlari dari parkiran ke pos security untuk menemui mereka berempat.
Namun ada yang aneh, security yang ada di dalam pos terlihat baik hari ini, dia menyiapkan cemilan dan makanan ringan yang dibagikan kepada kita ber empat disana.
“ini dari si boss, ada makanan ringan lebih, bawa gih buat ganjel perut sewaktu jaga malam di pabrik” kata security itu.
Aku bingung, tumben atasanku baik sekali malam ini, aku melihat cemilan-cemilan ini adalah cemilan-cemilan yang mahal, yang hanya bisa dibeli di kota. Padahal malam kemarin kita ber empat baru saja melakukan sesuatu yang melanggar peraturan pabrik.
Terlihat dady dan momo dengan lahapnya memakan makanan itu, tak lupa mereka membawa bungkus keresek untuk bekal nanti malam.
“bbuawa ajua duik, sayuang kalau tiduak dibaua” kata dadi dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Plak
Momo seketika menepuk punggung dadi hingga sebagian makananya keluar.
“makan dulu tuh makanan, baru ngomong” kata momo
Kami sontak tertawa, seperti malam-malam biasanya, kita kembali bercanda di pos security sembari menunggu jam kerja datang.
Iman juga terlihat lebih santai kali ini, tidak seperti malam sebelumnya yang penuh dengan kewaspadaan, dia sekarang lebih berbaur dengan kita bertiga seperti menghiraukan kejadian-kejadian yang terjadi di malam-malam sebelumnya.
***
Jam 22:00
Kami semua sudah ada di ruangan produksi, kita berkumpul di tengah-tengah ruangan yang berisik itu, di kelilingi oleh mesin-mesin besar yang bergerak selama 24 jam. Dady dengan sigap membuka bungkusan yang dia bawa, bungkusan makanan yang dia bawa dari security depan.
Sebuah makanan ringan yang mewah yang biasa di beli di cafe-cafe mahal di kota, isinya juga bermacam-macam, ada yang berisi keju mozarela, daging asap, coklat hingga buah-buahan.
“banyak amat kamu bawa dad?” tanya momo keheranan
“lumayan mo, kapan lagi makan-makanan begini” jawab dadi sembari tersenyum
“yu ah kita makan malam” kata dadi dengan semangat
Aku tersenyum melihat mereka berdua ketika saling sindir atau berbeda pendapat, karena mereka berdua bisa menghangatkan suasana di malam yang dingin ini. terkadang itu bisa membuaku dan iman tertawa seketika melihat tingkah mereka.
Iman merasa tidak ada keanehan malam ini, namun dia juga merasa heran dengan suasana pabrik yang sekarang.
“eh pada sadar ga?” kata iman kepada kita bertiga
“sadar kenapa” jawabku
“pabrik terasa kosong, ga ada mahluk satupun” kata iman merasa keheranan
“euuuhhhh mulai deh ngomongin hantu” kata dadi dan momo secara kompak
“engga bukan gitu, ya aneh aja, kemarin banyak banget kejadian kali ini terasa hening” kata Iman
Seketika kita berempat terdiam dan saling memandang satu sama lain, dady pun yang sedang mengunyah makanan juga terdiam.
“DUARRRRRR”
“EH Go%$#K, Chough chough” dadi kaget hingga terbatuk-batuk
Momo secara spontan mengagetkan kita yang terdiam sesaat setelah iman berbicara hal tersebut. seketika dia tertawa keras, melihat dadi yang kaget hingga terbatuk-batuk disana.
Namun ketika dia sedang tertawa tiba tiba
TRANG
TRANG
TRANG
Tiba-tiba terdengar sebuah suara, suara seseorang yang sedang memukul-mukul gerbang depan. Suaranya sangat keras hingga terdengar hingga ruangan produksi yang ada di dalam.
“suara apaan tuh” momo yang tadinya tertawa kini terdiam sesaat.
Aku, dadi dan Iman yang sedang duduk pun sontak berdiri, dengan sedikit berlari kita menuju pintu keluar ruang produksi untuk mengetahui siapa yang memukul gerbang pabrik.
TRANG
TRANG
TRANG
Suara itu kembali terdengar, dan kali ini lebih keras. Suara yang diiringi oleh suara hujan di malam hari, membuat kita berempat waspada, karena aku takut akan terjadi sesuatu seperti kemarin malam.
“dad ambil senter, takut nanti listrik mati lagi” kataku sembari sedikit berteriak.
Dadi dengan sigap berlari ke tempat peralatan untuk mencari senter untuk berjaga-jaga apabila nanti listrik mati secara mendadak.
Sedangkan iman segera berlari ke gerbang depan sembari menggerutu.
“Kemana sih security, ko ada yang mukul-mukul gerbang ga ada di pos”
Iman berlari dibawah guyuran hujan ke arah gerban depan pabrik, namun seketika iman kaget dengan apa yang dia lihat.
Pos tersebut sudah gelap gulita, pintunya terkunci rapat, dan tidak ada jejak-jejak ada security yang ada disana.
Pintu gerbang pun kini terkunci, namun terlihat terkunci dari arah luar, sontak Iman pun panik. Dia merasakan ketakutan yang mendalam kali ini, lalu tiba-tiba.
TRANG
TRANG
TRANG
“IMAN, DIKDIK, DADY, MOMO Bantu aku masuk kedalam, Si AA tidak ada di rumah malam ini”
Indah memukul gerbang pabrik yang terkunci dari luar, mencoba memanggil kita berempat karena apa yang iman ceritakan tentang kakaknya yang sewaktu-waktu bisa menghilang dari rumah kini terjadi.
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
27
Kutip
Balas
Tutup