- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.8K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#174
Chapter 114
Quote:
Sebelumnya, setelah menyusun rencana secara diam-diam jauh dari jangkauan orang-orang tim 3 yang disiagakan di ruangan bawah tanah ini. Pak Adrian memulai dengan mengitari ruangan ini dengan berpura-pura mengambil obat tambahan untuk orang-orang unit-1 yang terluka. Tanpa mereka sadari bahwa es yang menyelimuti orang unit-01 diam-diam ikut menyembuhkan luka.
Cara yang simpel itu mampu membawanya ke ruangan senjata yang tidak dijaga sama sekali. Jadi penjaganya hanya berada di pintu utama dan juga satu orang yang menjaga kawanan unit-01. Walaupun semua kunci dan akses menuju gudang senjata sudah diambil, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa pak Adrian memiliki trik lainnya. Ia meraba-raba pintu yang terbuat dari lempengan besi dicampur bahan lainnya hingga berkilauan.
“Nah!” sebuah tombol tak kasat mata muncul seraya menampilkan teks digital untuk segera memasukan sidik jari miliknya. Sekali tekan pintu pun terbuka, karena hanya digunakan untuk keadaan darurat maka pintunya terbuka sangat pelan dan tidak menimbulkan suara.
Sebuah cahaya surga terlihat ketika banyaknya persenjataan di ruangan ini, baik berupa hasil jadi maupun dalam tahap pengujian. Begitu pun dengan baju tempur yang terpampang nyata berdiri tegak, menunggu seseorang untuk memakainya. Pak Adrian mengambil beberapa senjata yang diperlukan, terutama yang bentuknya kecil dan bisa disembunyikan dalam baju maupun celananya.
Kepergian pak Adrian yang memakan waktu lama membuat petugas yang menjaga pun mulai curiga. Namun ia tidak bisa pergi karena harus menjaga ruangan yang ditempati oleh unit-01. Sehingga cara yang dilakukannya adalah menghubungi rekannya yang lain yang berada di depan pintu utama, memberitahunya bahwa pak Adrian belum juga kembali untuk mengambil beberapa obat tambahan.
“Ah, tidak usah…ia sudah kembali,” ucapnya setelah melihat keberadaan pak Adrian dari lorong jauh.
“Jangan lengah, meskipun kita sudah mengunci semua pergerakannya, tetap saja orang-orang di sini lebih tahu area ini dibandingkan kita,” ucap rekannya sekedar mengingatkan.
“Tidak usah khawatir, kita ini Human-Beaters kan?” sambungan pun tertutup.
Pak Adrian yang datang langsung mengangkat tangannya, kemudian merogoh semua saku yang dimiliki untuk membuktikan bahwa ia tidak membawa sesuatu yang aneh kecuali beberapa obatan yang memang ia ambil untuk rekan unit-01. Setelah dinyatakan aman dan bersih, pak Adrian diperbolehkan masuk. Baru beberapa langkah, dirinya terpeleset hingga hampir jatuh. Beruntungnya orang dari tim 3 dengan sigap menahan tubuhnya sebeulum terjatuh ke lantai.
“Oi, lihat-lihat kalau berjalan!” meskipun sudah menolong tetapi nada bicaranya tinggi.
“Maafkan aku,” senyum pak Adrian begitu mencurigakan, jarak kurang satu meter dengan kedua tangan memegang tubuh pak Adrian dimanfaatkan betul untuk melakukan serangan. Ditekannya sebuah tombol kecil di jam tangannya, lalu keluar sebuah kawat jaring seperti taser yang langsung menancap di leher orang tim 3.
“Apa yang---,” belum sempat menyelesaikan perkataanny, kejut listrik bertegangan tinggi meluncur, dan membuatnya tidak sadarkan diri karena sasaran tepat di bagian leher, memberikan efek lebih tinggi dibandingkan di bagian tubuh lainnya.
“Satu jatuh, tinggal satu lagi,” ucap pak Adrian dengan percaya diri tinggi.
Setelah berhasil melumpuhkan salah satu dari tim 3, pak Adrian bergegas masuk untuk memberikan orang-orang unit-01 sebuah suplemen yang mampu meningkatkan tenaga mereka secara instan. Setelah semuanya bersiap, mereka kembali berjalan menuju ruangan persenjataan untuk mengambil beberapa senjata. Pak Adrian dan Viktor masuk sementara yang lainnya berjaga di luar.
“Wow!” takjub Viktor melihat ruangan persenjataan yang begitu lengkap.
“Ada satu buah baju tempur yang merupakan contoh, tenaganya tidak terlalu kuat, tetapi bisa untuk melumpuhkan orang yang berjaga di depan pintu.”
“Tidak masalah, lalu apakah kau mempunyai senjata lain yang bisa kugunakan? Yang bentuknya kecil agar bisa kubawa banyak….”
Beberapa menit dihabiskan di sana, Viktor keluar dengan membawa ransel besar yang terisi banyak sekali persenjataan. Sekarang tinggal membereskan seseorang yang berada di pintu depan. Sebuah rencana sederhana dibuat, anggota unit-01 yang lain setuju dengan mengorbankan diri mereka agar Viktor bisa keluar.
“Persenjataan itu sangat berharga, ini salah kita tidak membawa perlengkapan tempur yang lengkap,” ucap salah seorang anggota unit-01. “gunakan itu untuk melawan orang yang menjijikan itu,” lanjutnya.
“Kalian….,” dengan berat hati Viktor mengikutinya.
Anggota yang lain langsung bergerak maju, melihat petugas yang ternyata sudah siap dengan skenario ini. Tangannya berubah menjadi bentuk monster sambil menyeringai, lalu mengeluarkan perkataan yang tidak mengenakan, mengejek orang-orang unit-01 yang hanya manusia biasa tanpa senjata pamungkas.
“Kalian meninggalkannya di belakang?” ucap anggota tim 3.
“Urusanmu apa?!”
Anggota unit-01 maju, dengan hanya bermodalkan pistol saja. Langkah itu tentunya tidak cukup, karena anggota tim unit-01 dengan mudah dikalahkan. Satu-persatu pun terjatuh kembali dengan luka memar di wajah, bahkan salah satunya harus menerima kenyataan pahit dengan kepala yang terinjak. Anggota tim 3 mengeluarkan kuku-kuku tajamnya sembari mengancam.
“Tolong, berbuat baik dan ikuti saja, aku tidak terbiasa membunuh manusia!” ucapnya dengan nada tinggi.
“Cih, jangan terlalu sombong,” dalam keadaan yang tersedak, anggota ini malah tersenyum lebar.
“HAH?!”
Viktor tiba-tiba datang dengan kecepatan penuh, menghujam perut anggota tim 3 dengan sebuah bogem keras hingga mulutnya menganga. Ia baru menyadari bahwa Viktor menjadikan rekannya sebagai umpan, pukulan keras mampu melumpuhkan anggota tim 3 sekaligus menghemat tenaga dan juga senjata.
“Maaf, harus mengorbankan kalian,” ucap Viktor yang dibalas dengan acungan jempol dari rekannya.
Keadaan di atas sudah sangat kacau, pak Adrian menuju lantai paling atas sedangkan Viktor menuju ke arena pertempuran. Di sana sudah tergeletak kapten Kruse dengan keadaan yang sangat tragis, sedangkan kapten Juka juga dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Dengan salah satu senjata yang dibawanya, Viktor menembak kapten texas yang sudah dalam wujud mengerikan, membuat ledakan kecil.
“Wajahmu sudah jelek, jangan kau buat seperti itu!” ledek Viktor melihat kekecewaan yang nampak dari wajah kapten Texas.
“Cih, kubunuh kau terlebih dahulu,” kapten Texas melesat maju.
Viktor sudah memegang sesuatu ditangannya, tiga buah bola berukuran bola ping pong. Dirinya pun tak gentar melihat kapten Texas yang sudah bergerak, malahan hal ini sangat diinginkan.
“Datang kau….,” sambil menyiapkan bola-bola itu.
Kapten Texas semakin mendekat, barulah Viktor melemparkan satu dari ketiga bola di tangan kirinya. Ketika bola itu dilemparkan, keluar sebuah jaring-jaring yang terbuat dari kawat tipis, seakan-akan ingin menangkap kapten Texas. Terkejut melihat jaring itu, kapten Texas berusaha menghindar, namun Viktor sudah bisa membacanya dengan melempar dua buah lagi bola berisi jaring kawat tipis itu.
“Mainan anak-anak!” gerak kapten Texas sambil menghindarinya.
“Eh, gerakannya cepat, tapi setidaknya ia sudah menjauh dari salah satu kapten,” Viktor bergerak menuju kapten Juka, sambil menembak ke arah kapten Texas, untuk membuat ledakan yang menghalangi pandangannya.
Sesampainya di tempat kapten Juka, Viktor membuka salah satu baterai berbentuk lingkaran dipinggangnya. Lalu memberikannya kepada kapten Juka, setidaknya bertarung berdua memiliki kesempatan lebih tinggi dibandingkan hanya seorang, apalagi melawan seorang kapten yang berubah menjadi Beaters.
“Kita tidak punya banyak waktu lagi, hanya baju tempurmu yang bisa digunakan dengan maksimal, pikirkan cara untuk menang,” ucap Viktor.
“Yah…sudah kupikirkan,” sambil mengganti baterai, daya yang baru memberikan tenaga sehingga ia bisa bangkit dan kembali bertarung.
Cara yang simpel itu mampu membawanya ke ruangan senjata yang tidak dijaga sama sekali. Jadi penjaganya hanya berada di pintu utama dan juga satu orang yang menjaga kawanan unit-01. Walaupun semua kunci dan akses menuju gudang senjata sudah diambil, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa pak Adrian memiliki trik lainnya. Ia meraba-raba pintu yang terbuat dari lempengan besi dicampur bahan lainnya hingga berkilauan.
“Nah!” sebuah tombol tak kasat mata muncul seraya menampilkan teks digital untuk segera memasukan sidik jari miliknya. Sekali tekan pintu pun terbuka, karena hanya digunakan untuk keadaan darurat maka pintunya terbuka sangat pelan dan tidak menimbulkan suara.
Sebuah cahaya surga terlihat ketika banyaknya persenjataan di ruangan ini, baik berupa hasil jadi maupun dalam tahap pengujian. Begitu pun dengan baju tempur yang terpampang nyata berdiri tegak, menunggu seseorang untuk memakainya. Pak Adrian mengambil beberapa senjata yang diperlukan, terutama yang bentuknya kecil dan bisa disembunyikan dalam baju maupun celananya.
Kepergian pak Adrian yang memakan waktu lama membuat petugas yang menjaga pun mulai curiga. Namun ia tidak bisa pergi karena harus menjaga ruangan yang ditempati oleh unit-01. Sehingga cara yang dilakukannya adalah menghubungi rekannya yang lain yang berada di depan pintu utama, memberitahunya bahwa pak Adrian belum juga kembali untuk mengambil beberapa obat tambahan.
“Ah, tidak usah…ia sudah kembali,” ucapnya setelah melihat keberadaan pak Adrian dari lorong jauh.
“Jangan lengah, meskipun kita sudah mengunci semua pergerakannya, tetap saja orang-orang di sini lebih tahu area ini dibandingkan kita,” ucap rekannya sekedar mengingatkan.
“Tidak usah khawatir, kita ini Human-Beaters kan?” sambungan pun tertutup.
Pak Adrian yang datang langsung mengangkat tangannya, kemudian merogoh semua saku yang dimiliki untuk membuktikan bahwa ia tidak membawa sesuatu yang aneh kecuali beberapa obatan yang memang ia ambil untuk rekan unit-01. Setelah dinyatakan aman dan bersih, pak Adrian diperbolehkan masuk. Baru beberapa langkah, dirinya terpeleset hingga hampir jatuh. Beruntungnya orang dari tim 3 dengan sigap menahan tubuhnya sebeulum terjatuh ke lantai.
“Oi, lihat-lihat kalau berjalan!” meskipun sudah menolong tetapi nada bicaranya tinggi.
“Maafkan aku,” senyum pak Adrian begitu mencurigakan, jarak kurang satu meter dengan kedua tangan memegang tubuh pak Adrian dimanfaatkan betul untuk melakukan serangan. Ditekannya sebuah tombol kecil di jam tangannya, lalu keluar sebuah kawat jaring seperti taser yang langsung menancap di leher orang tim 3.
“Apa yang---,” belum sempat menyelesaikan perkataanny, kejut listrik bertegangan tinggi meluncur, dan membuatnya tidak sadarkan diri karena sasaran tepat di bagian leher, memberikan efek lebih tinggi dibandingkan di bagian tubuh lainnya.
“Satu jatuh, tinggal satu lagi,” ucap pak Adrian dengan percaya diri tinggi.
Setelah berhasil melumpuhkan salah satu dari tim 3, pak Adrian bergegas masuk untuk memberikan orang-orang unit-01 sebuah suplemen yang mampu meningkatkan tenaga mereka secara instan. Setelah semuanya bersiap, mereka kembali berjalan menuju ruangan persenjataan untuk mengambil beberapa senjata. Pak Adrian dan Viktor masuk sementara yang lainnya berjaga di luar.
“Wow!” takjub Viktor melihat ruangan persenjataan yang begitu lengkap.
“Ada satu buah baju tempur yang merupakan contoh, tenaganya tidak terlalu kuat, tetapi bisa untuk melumpuhkan orang yang berjaga di depan pintu.”
“Tidak masalah, lalu apakah kau mempunyai senjata lain yang bisa kugunakan? Yang bentuknya kecil agar bisa kubawa banyak….”
Beberapa menit dihabiskan di sana, Viktor keluar dengan membawa ransel besar yang terisi banyak sekali persenjataan. Sekarang tinggal membereskan seseorang yang berada di pintu depan. Sebuah rencana sederhana dibuat, anggota unit-01 yang lain setuju dengan mengorbankan diri mereka agar Viktor bisa keluar.
“Persenjataan itu sangat berharga, ini salah kita tidak membawa perlengkapan tempur yang lengkap,” ucap salah seorang anggota unit-01. “gunakan itu untuk melawan orang yang menjijikan itu,” lanjutnya.
“Kalian….,” dengan berat hati Viktor mengikutinya.
Anggota yang lain langsung bergerak maju, melihat petugas yang ternyata sudah siap dengan skenario ini. Tangannya berubah menjadi bentuk monster sambil menyeringai, lalu mengeluarkan perkataan yang tidak mengenakan, mengejek orang-orang unit-01 yang hanya manusia biasa tanpa senjata pamungkas.
“Kalian meninggalkannya di belakang?” ucap anggota tim 3.
“Urusanmu apa?!”
Anggota unit-01 maju, dengan hanya bermodalkan pistol saja. Langkah itu tentunya tidak cukup, karena anggota tim unit-01 dengan mudah dikalahkan. Satu-persatu pun terjatuh kembali dengan luka memar di wajah, bahkan salah satunya harus menerima kenyataan pahit dengan kepala yang terinjak. Anggota tim 3 mengeluarkan kuku-kuku tajamnya sembari mengancam.
“Tolong, berbuat baik dan ikuti saja, aku tidak terbiasa membunuh manusia!” ucapnya dengan nada tinggi.
“Cih, jangan terlalu sombong,” dalam keadaan yang tersedak, anggota ini malah tersenyum lebar.
“HAH?!”
Viktor tiba-tiba datang dengan kecepatan penuh, menghujam perut anggota tim 3 dengan sebuah bogem keras hingga mulutnya menganga. Ia baru menyadari bahwa Viktor menjadikan rekannya sebagai umpan, pukulan keras mampu melumpuhkan anggota tim 3 sekaligus menghemat tenaga dan juga senjata.
“Maaf, harus mengorbankan kalian,” ucap Viktor yang dibalas dengan acungan jempol dari rekannya.
Keadaan di atas sudah sangat kacau, pak Adrian menuju lantai paling atas sedangkan Viktor menuju ke arena pertempuran. Di sana sudah tergeletak kapten Kruse dengan keadaan yang sangat tragis, sedangkan kapten Juka juga dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Dengan salah satu senjata yang dibawanya, Viktor menembak kapten texas yang sudah dalam wujud mengerikan, membuat ledakan kecil.
“Wajahmu sudah jelek, jangan kau buat seperti itu!” ledek Viktor melihat kekecewaan yang nampak dari wajah kapten Texas.
“Cih, kubunuh kau terlebih dahulu,” kapten Texas melesat maju.
Viktor sudah memegang sesuatu ditangannya, tiga buah bola berukuran bola ping pong. Dirinya pun tak gentar melihat kapten Texas yang sudah bergerak, malahan hal ini sangat diinginkan.
“Datang kau….,” sambil menyiapkan bola-bola itu.
Kapten Texas semakin mendekat, barulah Viktor melemparkan satu dari ketiga bola di tangan kirinya. Ketika bola itu dilemparkan, keluar sebuah jaring-jaring yang terbuat dari kawat tipis, seakan-akan ingin menangkap kapten Texas. Terkejut melihat jaring itu, kapten Texas berusaha menghindar, namun Viktor sudah bisa membacanya dengan melempar dua buah lagi bola berisi jaring kawat tipis itu.
“Mainan anak-anak!” gerak kapten Texas sambil menghindarinya.
“Eh, gerakannya cepat, tapi setidaknya ia sudah menjauh dari salah satu kapten,” Viktor bergerak menuju kapten Juka, sambil menembak ke arah kapten Texas, untuk membuat ledakan yang menghalangi pandangannya.
Sesampainya di tempat kapten Juka, Viktor membuka salah satu baterai berbentuk lingkaran dipinggangnya. Lalu memberikannya kepada kapten Juka, setidaknya bertarung berdua memiliki kesempatan lebih tinggi dibandingkan hanya seorang, apalagi melawan seorang kapten yang berubah menjadi Beaters.
“Kita tidak punya banyak waktu lagi, hanya baju tempurmu yang bisa digunakan dengan maksimal, pikirkan cara untuk menang,” ucap Viktor.
“Yah…sudah kupikirkan,” sambil mengganti baterai, daya yang baru memberikan tenaga sehingga ia bisa bangkit dan kembali bertarung.
69banditos dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas