Kaskus

Story

papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
REUNI
REUNI


Prolog




Quote:


Daftar isi :


Quote:




Tamat




*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
bebyzhaAvatar border
ferist123Avatar border
slametgudelAvatar border
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.2K
889
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
papahmuda099Avatar border
TS
papahmuda099
#272
Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung



kaskus-image



"Selamat, kamu telah berhasil melalui goa itu,"

Aku tersentak kaget mendengar suara yang kukenal itu.

Akupun dengan cepat bangkit dari posisi tiduranku. Dan dengan dalam posisi setengah duduk, aku menoleh ke arah sumber suara.

"Lho...,"

"Sumbing dan Sindoro...," Gumamku saat melihat siapa sosok yang menyapaku barusan.

"Kok aku bisa ada di luar lagi?" Tanyaku sambil bangkit berdiri.

Gadis dengan cadar biru itu berjalan mendekatiku. Ia lalu berkata pelan.

"Goa itu sebenarnya adalah ujian yang ratu kami buat, untuk menguji, seberapa kuatkah tekad yang kamu miliki,"

Aku menghela nafas panjang. Sambil memejamkan mata aku menghirup udara sepuasnya. Karena rasanya, saat aku berada di dalam goa tadi, aku tidak bisa bernafas dengan tenang.

Tapi...

kaskus-image

Aku langsung membuka mataku cepat-cepat dengan jantung yang berdebar-debar.

"Gila... Apa ini maksudnya," kataku dalam hati.

Saat aku memejamkan mata tadi, tiba-tiba saja sosok makhluk hitam yang tadi kulihat di dalam goa ada didepan mataku!

"Ada apa?" Tanya gadis bercadar biru itu.

"Ah... enggak, enggak papa," kataku cepat. Karena aku pun masih belum tahu, apa arti dari bayangan itu.

"Oya, sekarang dimana dan bagaimana keadaan temanku itu?"

"Teman kamu sekarang sudah ada di dalam kereta. Sekarang mari kita kembali ke istana, untuk melapor kepada Ratu Mandalawangi," jawabnya.

Akhirnya kami berdua pun beranjak pergi dari mulut goa yang memiliki 1000 keanehan itu. Aku menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang....lenyap. tidak ada apapun di belakangku. Tidak ada mulut goa yang tadi aku masuki. Hanya ada pepohonan besar dan tinggi disana.
kaskus-image

Tapi, sayup-sayup aku seperti mendengar suara dari pak Cipto. Dari arah rimbunnya pepohonan besar di belakangku.

"Tolong... Sampaikanlah apa yang tadi aku ceritakan kepadamu...,"

Antara sadar dan tidak, aku pun menganggukkan kepala.

"Pasti...," Kataku dalam hati.

Saat aku kembali melihat ke arah depan, aku sedikit terkejut karena perempuan bercadar biru itu sedang menatap ke arahku dengan tajam.

"Apakah perempuan ini tahu apa yang yang ingin aku lakukan," kataku dalam hati.

"Akh... Aku lupa kalau perempuan ini bisa tahu apa yang aku katakan di dalam hati," keluhku sambil menunggu apakah yang akan dilakukan oleh perempuan itu.

Tapi, perempuan bercadar itu tidak mengatakan apa-apa. Ia kembali melangkah ke depan tidak memperdulikanku. Dan akupun hanya bisa mengikuti arah yang ia tuju tanpa berkata apa apa lagi.

Di kejauhan tampak sebuah kereta yang mungkin di kereta itulah temanku Yusuf berada. Aku mulai tersenyum senang dan juga lega. Rasanya semua usahaku ini tidaklah sia-sia. Rasa-rasanya aku ingin berlari menuju kereta itu.

Dan akhirnya kamipun sampai di kereta kuda itu. Sais kereta turun, dan membukakan pintu untuk kami.

Kami berdua lalu masuk, dan memang benar. Disana ada temanku, Yusuf. Aku pun langsung mendekatinya dan memeluk erat tubuhnya.

"Yusuf...," Kataku pelan. Rasanya, seolah-olah kami telah berpisah bertahun-tahun lamanya. Yusuf pun memelukku dengan erat. Kurasakan tubuhnya agak gemetaran saat aku memeluknya.

Aku pun melepaskan pelukan kami.

"Ada apa, suf?" Tanyaku sambil memperhatikan keadaannya dengan teliti. Dan, aku baru menyadari bahwa ada beberapa hal yang aneh terjadi pada dirinya.

Wajah dan tubuh Yusuf, menua...ia menjadi lebih tua dibandingkan dengan usianya!

"Lho...suf, kok kamu jadi gini?" Tanyaku panik.

Yusuf hanya diam, tapi bisa kulihat ada bayangan air mata di kedua pelupuk matanya. Dan, ia menangis. Awalnya pelan, tapi makin lama makin kencang.

Hatiku terenyuh. Aku bingung hendak berbuat apa. Nggak akhirnya aku menarik tangan perempuan bercadar biru itu keluar.

Diluar, aku dengan suara agak bergetar karena menahan emosi, bertanya kepadanya.

"Katakan, apa yang telah terjadi kepada temanku itu. Kenapa sampai ia berwujud seperti kakek-kakek seperti sekarang?"

Si perempuan itu terdiam sesaat. Namun setelah aku mengulangi pertanyaanku dengan nada suara yang lebih keras, akhirnya ia pun menjawab.

"Itu akibat dari terkurungnya ia di dalam goa hukuman tadi. Dan seperti yang telah aku katakan kepadamu, sesaat sebelum kamu masuk. Bahwa keadaan di dalam goa itu memiliki aliran waktu yang jauh berbeda dengan waktu diluar goa. Sedetik diluar goa, bisa sehari didalam sana. Jadi, bisa kamu bayangkan, sudah berapa tahun temanmu itu berada dan terkurung didalamnya, hahahaha...," Jawabnya dengan diakhiri suara tawa yang melengking tinggi. Seolah ia gembira dengan kondisi ini.

Sungguh, saat itu aku sangat amat ingin menghajarnya. Tapi aku harus menahannya dengan sekuat tenaga. Karena aku sadar, bahwa saat ini, perempuan yang sedang tertawa itu adalah orang yang dipercaya oleh sang penguasa di wilayahnya. Bisa runyam urusan kalau terjadi apa-apa dengannya.

Aku hanya terdiam. Lalu, tanpa berkata apa-apa, akupun kembali dan masuk kedalam kereta kuda itu. Aku memilih duduk disamping sahabatku itu. Aku sengaja duduk sambil berpaling melihat keluar. Tak tahan rasanya melihat sahabat sendiri menderita seperti itu.

"Alam gaib memang sangat menakjubkan, tapi disisi lain, sangat menakutkan," batinku.

Setelah perempuan itu juga masuk. Sais kereta menutup pintu kereta. Lalu kereta itupun mulai bergerak. Kembali menuju istana milik sang penguasa wilayah ini, Ratu Mandalawangi.

Disepanjang perjalanan, kami semua hanya terdiam. Hanya suara Isak tangis dari Yusuf saja yang masih sesekali terdengar. Hingga tak lama kemudian, kamipun kembali tiba didepan istana sang penguasa.

Saat aku turun, bapak dan pak ustadz sudah menunggu kedatangan kami. Lalu, secara singkatnya, kami bertiga berpamitan kepada sang penguasa. Tak lupa pak ustadz mengucapkan terima kasih dengan kebaikan sang Ratu, karena sudah mau membebaskan sukma dari Yusuf, temanku.

Aku sendiri hanya terdiam, sambil terus memegang lengan Yusuf erat-erat. Bapak juga terdiam. Sesekali ia melirik ke arahku. Entahlah, aku tak tahu apa maksud dari lirikannya itu. Pikiranku buntu. Aku hanya memikirkan keadaan Yusuf terus saat itu. Akupun tak begitu menggubris, saat Ratu Mandalawangi memuji keberhasilanku lulus dari goa hukuman itu.

Setelah berbasa-basi sejenak, kami berempat lalu berpamitan untuk kembali pulang. Didepan pintu istana yang dijaga oleh siluman siluman berkepala kerbau itu, bapak menitipkanku kepada pak ustadz.

"Pak ustadz, saya titip anak-anak ini saat kita kembali. Soalnya saya akan langsung balik ke tubuh saya yang ada di Tangerang," ucapnya.

"Baik, pak. Insyaallah, amanat bapak akan saya laksanakan sebaik-baiknya," jawab pak ustadz.

Bapak menyuruhku dan Yusuf untuk memegang tangannya. Tak lupa, menyuruhku untuk memejamkan mata. Ada hawa aneh yang seperti tersedot keluar dari dalam tubuhku. Hingga membuatku lemas. Tapi, kemudian ada hawa lainnya yang agak hangat masuk. Mengganti hawa aneh yang keluar tadi. Tubuhku kembali segar. Semua rasa letihku hilang saat hawa hangat itu masuk.

Bersamaan dengan perasaan itu, mendadak aku juga menjadi sangat mengantuk. Saking ngantuknya, mataku ini terasa jadi sangat nyaman saat aku pejamkan.

"Buka matamu," sebuah suara yang asing terdengar.

Aku sedikit malas sebenarnya, tapi suara yang aku dengar itu bukan suara bapak, maupun pak ustadz. Maka, meskipun sedikit terpaksa, akupun membuka mata.

Silau... itu yang kurasakan saat pertama kali aku membuka mataku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku mengangkat tanganku agar cahaya yang membuatku silau itu sedikit terhalangi. Aku kaget karena ternyata aku sedang diposisi tiduran.

"Lho?"

Belum sempat aku menganalisa keadaanku yang tau-tau sedang tiduran ini. Tiba-tiba...

"Indra sudah sadar,"

"Alhamdulillah...,"

Aku kaget. Banyak suara yang kudengar ada disekelilingku. Aku langsung bergerak untuk bangun. Tapi, tangan seseorang menahanku untuk tidak langsung bangun.

"Yusuf...," Desisku melihat siapa orangnya.

Ia tersenyum.

Aku memandangi wajahnya dengan perasaan campur aduk. Karena wajah Yusuf yang sekarang, terlihat lebih tua dibandingkan dengan usia yang sebenarnya.

Aku menoleh kearah lain. Disana sudah berkumpul semua teman-temanku. Gatot, Inas, Sofi, Sri, Nova, Ikhwan, Slamet dan juga Wulan. Mereka semua tampak baik-baik saja.

Aku juga melihat ada pak ustadz yang sedang berdiri tak jauh dari tempatku terbaring. Aku menganggukkan kepalaku tanda berterima kasih. Beliau tersenyum.

Aku kembali menoleh kepada Yusuf. Awalnya agak sulit bagiku untuk tersenyum. Tapi melihatnya tersenyum dengan ikhlas, senyumku mengembang dengan sendirinya.

Aku lalu memeluknya. Tak terasa, air mataku mengalir tanpa bisa dicegah. Yusuf menepuk-nepuk pundakku menenangkanku. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku malah terlihat lemah dihadapan orang yang seharusnya lebih merasa menderita.

"Maaf Suf, maaf...," Hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulutku.

"Gak papa, Ndra. Mudah-mudahan ini menjadi sebuah pembelajaran bagiku untuk kedepannya. Bagi kita semua juga. Agar jangan meremehkan hal-hal yang kita tidak tahu. Apalagi hal-hal gaib," katanya.

Aku mengangguk.

Teman-temanku yang lain juga ikut berdiri dan langsung memelukku dan juga Yusuf.

Aku yang masih menangis bahagia dan juga sedih, berkata didalam hati.

"Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung,"





TAMAT
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:26
69banditos
key.99
dewiyulli07
dewiyulli07 dan 26 lainnya memberi reputasi
27
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.