- Beranda
- Stories from the Heart
[1951]Aku Mencintai Sesosok Jin
...
TS
xandler
[1951]Aku Mencintai Sesosok Jin
![[1951]Aku Mencintai Sesosok Jin](https://s.kaskus.id/images/2021/10/12/11108504_202110120937070108.jpg)
Quote:
Chapter 01 - Awal Pertemuan
21 Oktober 1951, Jakarta
Aku sedang berada di dalam kerumunan untuk melihat Pidato Presiden IR Soekarno yang sangat ku kagumi, dalam rangka Pekan olahraga Nasional II. Yang bertempat di stadium ikada, yang nanti pada tahun 1962 akan di ubah nama nya menjadi stadium Gelora Bung Karno. Terlihat muhammad hatta juga berdiri di bekalang pak Soekarno, aku tidak bisa menyembunyikan rasa kagum ku kepada mereka berdua, senyum di bibir ku pun tidak bisa ku sembunyi kan.
Setelah pidato singkat beliau, PON II pun resmi di buka dan akan di selenggarakan selama 7 hari, aku begitu bersemangat dan tidak sabar untuk mendukung Jakarta Raya, Kota dimana aku di lahirkan dan di besarkan. Banyak atlet dari seluruh indonesia berbaris sekaligus melambaikan tangan kepada kami, kami pun menyambut nya dengan antusias. Event ini akan di selenggarakan selama 7 hari sampai 28 oktober 1951, dan Provinsi Jawa barat yang akhirnya keluar sebagai pemenang dan di ikuti oleh Jakarta di peringkat ke 2 dan Jawa timur di peringkat ke 3. Walaupun Jakarta tidak dapat menjadi juara pertama saat itu, namun aku tetap lah senang. Karna para atlet sudah mengeluarkan segala kemampuan nya dan aku sangat mengapresiasi semangat juang mereka.
Tapi mengetahui Event PON 2 sudah berakhir membuat ku cukup sedih, berarti aku perlu menunggu setahun lagi untuk dapat melihat aksi mereka. Dan aku harus kembali menjalani hari-hari membosankan ku seperti sebelum nya.
Ngomong-ngomong perkenalkan, Nama ku Roberth, aku kini berumur 20 tahun dan sedang mengeyam pendidikan di "Universiteit Indonesia" atau Universitas Indonesia di jakarta. Aku memilih jurusan hukum karna ingin menjadi seperti ayah ku. ibu ku berkebangsaan inggris yang sejak lama sudah mengubah kebangsaan nya menjadi WNI setelah menikahi ayah ku, yang mana beliau adalah orang asli jakarta. Ayah ku kini bekerja di sebuah kantor kejaksaan di jakarta, beliau adalah seorang hakim yang luar biasa, begitu tegas, dan tanpa pandang bulu, sosok yang sangat aku kagumi. Setidak nya itulah yang aku rasakan dulu, sampai dimana aku mulai beranjak dewasa, pandangan ku terhadap dunia pun mulai berubah, terkadang aku berharap untuk tidak perlu bertambah dewasa, hanya karna takut dengan dunia apa yang akan menanti ku di depan nya nanti.
.
.
.
Aku melamun begitu lama sampai-sampai sudah tidak terasa langit mulai gelap dan pukul menunjukan pukul 5:30 Sore, aku pun bergegas untuk pulang dengan menggunakan jasa becak. Butuh kurang lebih 15 menit untuk sampai ke rumah ku dari stadium ikada. Sesampai nya di rumah aku melihat ayah ku yang sedang asyik bermain dengan adik ku di ruang tamu.
"Gimana seru gak acara nya?" Tanya ayah ku sembari menggendong adik yang masih berusia 5 tahun.
"agak kecewa sih jakarta ga juara 1, tapi seru kok" saut ku sembari menaruh tas di sofa.
"Padahal ayah mau ikut tadi, cuma mendadak dapet telfon dari kantor, maaf ya" ucap beliau.
"ia gpp kok, lagi pula ayah jadi punya waktu lebih untuk main sama adik". saut ku.
30 menit kurang lebih ku habis kan untuk berbincang dengan ayah ku, lalu aku yang lelah memutuskan untuk tidur karna sudah sangat lelah, karna besok pagi aku ada kelas di kampus.
Singkat cerita aku pun berangkat ke kampus menggunakan sepada, karna jika harus menunggu oplet akan memakan banyak waktu menunggu karna armada nya yang masih sedikit. lalu 20 menit ku habiskan untuk mengayuh sepeda ku ke kampus, aku pun langsung menyapa teman-teman ku yang sedang berkerumun di taman depan gedung. Setelah berbincang-bincang sebentar aku pun masuk ke dalam kelas ku karna waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi. Pelajaran kulalui seperti biasa nya, sampai pukul 11 siang, kelas pun berakhir. karna aku masih memiliki kelas 2 jam kemudian aku pun memutuskan untuk membaca buku yang ku di belakang gedung, karna tempat nya yang sepi nan asri sangat cocok untuk membaca sekaligus menenangkan diri, dan jarang juga mahasiswa yang lalu lalang di sini, seolah ini adalah tempat pribadi ku.
Namun baru aku membaca buku 10 menitan, aku mendengar seorang wanita memanggilku.
"hai"... panggil seorang wanita sembari menepuk pundak kiri ku.
aku pun sontak kaget dan langsung melihat nya, tapi baru saja aku menoleh melihat nya, seolah paras nya berhasil meng hipnotis ku untuk beberapa saat, aku terdiam sembari memandangi wajah nya. Wajah ayu dengan kepangan di rambut nya, dan dengan kaca mata yang se olah menegaskan ke anggunan nya.
"hai kok diem aja". tanya nya yang bingung.
"ahh... maaf gpp gpp" ucap ku panik sembari berdiri dengan terburu-buru.
aku tidak pernah melihat nya sebelumnya, apakah dia anak baru? atau anak pindahan?, aku bertanya-tanya pada diri ku.
"ada apa? ada perlu dengan ku" tanya ku.
"ah gpp kok, cuma penasaran aja soal nya aku sering ngeliat kamu di sini sendirian" jawab nya dengan senyum manis.
"ohhh emang udah biasa kok disini, nyari ketenangan karna suasananya tenang" balas ku dengan senyum.
"oia kamu sendiri di sini ngapain?" tanya ku kembali.
"sama kaya kamu" jawab nya dengan senyum lebar.
Wanita itu pun ikut duduk di rumput di sebelah ku, lalu mengintip isi buku ku.
"kenapa? mau baca juga?" tanya ku sembari menyodorkan buku ke arah nya.
"hmm engga, cuma pengen tau aja kamu lagi baca apa". jawab nya
"ngomong-ngomong kamu dari fakultas apa? filsafat?" . tanya ku penasaran.
"hmmm engga" jawab nya singkat.
"terus dari kedokteran?" tanya ku lagi dan ia kembali memebrikan jawab nya yang sama.
"loh terus kamu dari fakultas apa?" tanya ku yang semakin penasaran.
"ada deh" ucap nya dengan senyun lebar ke arah ku.
.
.
.
itu lah pertama kali nya aku bertemu dengan nya, wanita pertama yang berhasil mengetuk hati ku, dan juga cinta pertama ku.
Spoiler for Chapter:
Chapter 02
Chapter 03
Chapter 04
Chapter 05
Chapter 06
Chapter 07 : Sahabat Terbaik
Chapter 08 : Desa Ghaib?
Chapter 09 : Ungkapan
Chapter 10 : Aku Pasti Akan Kembali
Chapter 03
Chapter 04
Chapter 05
Chapter 06
Chapter 07 : Sahabat Terbaik
Chapter 08 : Desa Ghaib?
Chapter 09 : Ungkapan
Chapter 10 : Aku Pasti Akan Kembali
Quote:
Dilarang keras untuk mempublikasikan ke media lain dalam bentuk apa pun untuk tujuan ke untungan pribadi, terkecuali sudah memiliki izin dari penulis "xandler"
Update akan keluar setiap 1-2 hari sekali, semoga kalian terhibur

Jangan lupa untuk Comment dan rate nya

Diubah oleh xandler 30-08-2022 01:47
iwakcetol dan 48 lainnya memberi reputasi
49
14.8K
Kutip
92
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
xandler
#19
maaf ya saya lupa mencantumkan umur aira di chapter 05 sebelum nya, saat itu Aira masih berumur sekitar 16-17 tahun
"Aku mau kamu" Ucap aira sembari menunjuk tepat ke arah ku.
Aku pun cukup terkejut melihat wanita dengan tatapan tanpa ekspresi itu, bahkan pak gunawan pun terlihat sangat terkejut dengan kelakuan putri nya.
"mboo... tolong bawa aira ke kamar nya". teriak pak gunawan memanggil pembantu nya.
Lalu Aira pun di ajak mbo dengan sedikit paksaan untuk pergi meninggalkan kami berdua, menuju kamar nya.
"aduh maaf rob, baru kali ini saya liat dia begitu". ucap pak gunawan dengan wajah sedikit khawatir sembari kembali duduk.
"oh ia om gpp hehe" balas ku.
"memang dari kecil anak itu terlihat tidak normal, atau bisa di katakan ia seperti hidup di dimensi berbeda dengan kita". ucap nya sembari menyalakan rokok.
"berbeda dimensi? maksud om seperti disleksia atau malah seperti gangguan mental?" tanya ku penasaran.
"bukan... tidak seperti ia gila atau mengidap suatu masalah pada otak nya, hanya saja ia seperti memiliki pandangan berbeda dari kita, bahkan karna sikap nya itu dari kecil ia tidak dapat bergaul dengan teman sebaya nya, sampai-sampai aku memutuskan untuk menyekolahkan nya di rumah dengan memanggil guru pribadi, karna khawatir jika terjadi sesuatu kalau aku menyekolah kan nya di sekolah umum.. mungkin karna ibu nya....". ucap nya yang terhenti.
"ibu nya?" tanya ku penasaran.
"ah gpp... maaf ya bikin kamu jadi kaget tadi, yasudah.. kebetulan ada yang mau saya kerjakan, nanti saya telfon ayah kamu buat ngucapin terimakasih". jawab nya seperti enggan untuk menjawab pertanyaan ku.
Setelah itu aku pun pamit pergi untuk pulang, sungguh aneh dengan kejadian tadi, sebenarnya membuat ku cukup penasaran, namun lebih baik aku tidak terlalu ikut campur dengan urusan keluarga mereka.
Baru aku mau menuruni tangga di lantai 2 untuk menuju me lantai 1, namun secara tiba-tiba aku melihat pintu kamar terbuka yang tidak jauh dari posisi ku, yang masih berada di lantai 2, lalu aku melihat Aira keluar yang masih dengan wajah tanpa ekspresi, lalu ia pun langsung menoleh ke arah ku yang ingin turun, dan ia pun berjalan cepat ke arah ku, yang membuat bulu kuduk ku berdiri. Entah mengapa aku begitu takut saat itu dan memutuskan untuk melarikan diri dengan juga berjalan cepat ke lantai 1 sembari menundukan kepala, aku pun terus berjalan dengan sesekali menengok ke arah belakang, dan wanita itu masih terus mengejarku, yang membuat ku semakin takut ialah wajah nya yang begitu dingin dan tatapan tanpa ekspresi nya masih terus menatap ku. Aku pun terus berjalan dan berjalan semakin cepat sampai-sampai tidak ku sadari, aku malah pergi ke halaman belakang, lalu aku menengok ke arah kiri dan kanan, hanya terlihat sebuah gazebo dan kolam ikan.
"tunggu" ucap aira yang tepat berada di belakang kuping ku.
Aku pun begitu kaget dan bulu kuduk ku kembali berdiri, namun aku sudah tidak bisa kemana-mana lagi, sampai-sampai aku terpojok ke sebuah pohon.
"ampunnn... jangan bunuh sayaaa" ucap ku yang begitu ketakutan sembari menutup mata ku.
Aku yang masih tidak merasakan apa pun setelah menutup mata, dengan jantubg yang tidak berhenti berdegub kencang saat itu, aku mencoba untuk membuka mata berharap aira sudah pergi meninggalkan ku.. lalu..
"haaa..!! " teriak ku singkat melihat nya
wajah nya yang tepat berada di depan wajah ku, terlihat ia sedang mengendus - endus badan ku seperti se ekor anjing, aku pun hanya bisa diam dan tidak berani untuk bergerak.
"A...apa ma..ma...mau mu??" tanya ku gagap.
dia pun menghiraukan pertanyaan ku dan masih sibuk mengendus-endus badan ku untuk beberapa saat.
"kamu". ucap nya setelah berhenti mengendus ku.
"i..i..yaa?". tanya ku dengan wajah panik.
"ternyata bukan kamu". ucap nya yang langsung berbalik dan berjalan meninggalkan ku.
"eh... maksud nya?".tanya ku bingung.
ia pun hanya tetap berjalan meninggalkan ku, aku pun dengan rasa takut namun karna terlanjur ku penasaran dengan sikap nya, memutuskan untuk menghampiri nya dan berhenti di depan nya, lalu ia pun berhenti.
"maksud kamu dari tadi apa sih? tolong jelasin, aku yang tadi nya bodo amat malah di buat penasaran". ucap ku dengan nada sedikit kesal.
"aku mencium bau jin di tubuh mu, tapi setelah aku pastikan, ternyata hanya sisa-sisa nya yang masih menempel, jadi aku tidak ada urusan dengan mu" ucap nya dengan wajah datar.
Setelah mengucap kan itu, ia pun kembali berjalan untuk kembali masuk ke rumah. Namun aku yang malah semakin penasaran dengan ucapan nya, kembali menghentikan nya.
"sebentar-sebentar bisa kita bicara sebentar, tolong lah". ucap ku sembari membungkuk kan tubuh ku.
"ok". balas nya singkat.
ia pun memutar arah dan berjalan menuju gazebo, aku pun langsung mengikuti nya. setelah mendengar ucapan nya tadi entah mengapa aku langsung teringat dengan Lena, mungkin saja ia bisa menjadi petunjum ku, walau pun aku masih tidak yakin.
Sesampai nya di gazebo ia pun duduk diam, dengan wajah dan tatapan dingin yang seolah tidak pernah hilang dari wajah nya. Aku pun ikut duduk di sebelah nya.
"t..tadi maksud kamu ada sisa-sisa bau jin di badan ku, bi..bisa kamu jelaskan?" tanya yang masih gugup untuk berbicara dengan nya.
"biasa nya... ketika manusia pernah melakukan kontak dengan mahkluk lain... akan ada bau yang akan masih menempel kepada manusia itu untuk beberapa hari..". ucap nya.
"tapi seingat ku, aku tidak pernah melakukan kontak dengan jin atau apa pun itu" balas ku bingung.
"mungkin... kamu hanya tidak menyadari" ucap nya kembali.
Aku pun di buat semakin dan semakin bingung dengan ucapan nya, tapi aku merasa dia tidak lah berbohong, dia mungkin memang terlihat aneh, tapi entah apa alasan nya, aku tidak bisa begitu saja mengabaikan ucapan nya.
"A..aku boleh menceritakan suatu hal kepada mu? mungkin saja cerita ku membuat mu tertarik". tanya ku sembari mendekatkan wajah ku.
"tentu" balas nya singkat.
Lalu aku pun menceritakan tentang semua yang aku alami, tentang wanita bernama Lena, dan kejadian Edi juga. lalu setelah aku menceritakan semua nya, aku melihat perubahan drastis di wajah nya.
"lalu dimana aku bisa menemukan wanita itu? sekarang? apa bisa kau mengantarkan aku sekarang, ayo biar aku panggilkan mamang". ucap nya dengan wajah senang sembari menarik-narik tangan ku.
Aku pun harus mengecewakan nya, aku mengatakan kepada nya bahwa aku hanya selalu bisa menemukan nya setiap waktu senggang ku saat kuliah pada pukul 11 siang sampai pukul 1 siang, di luar waktu itu aku tidak pernah menemui nya.
"ok.. besok aku akan ke kampus mu". ucap nya.
"heh? kamu yakin? besok" tanya ku memastikan
"iya besok, jam 11 aku akan kesana". balas nya dengan wajah penasaran.
Aku pun meng ia kan ajakan nya untuk bertemu di fakultasku besok, setelah itu aku pun izin pulang, ia melambaikan tangan ke arah ku dengan senyum lebar terpampang jelas di wajah nya. Aku pun mengambil motor ku dan pergi meninggalkan rumah nya, di tengah perjalanan aku tidak berhenti memikirkan tentang kejadian tadi, entah apa yang di fikirkan wanita itu, terutama dengan senyum nya.. memang senyum nya itu seolah seperti puzzle terakhir untuk melengkapi kecantikan nya, Namun.... bagi ku... terlihat menyeramkan. Entah apa yang dia ingin kan dari Lena sebenernya, ia begitu tertarik dengan lena. Namun aku memiliki firasat sedikit tidak enak dengan ini, walau pun di satu sisi aku merasa ia dapat membantu ku untuk mengungkap kan siapa Lena sebenarnya.
Quote:
CHAPTER 06
"Aku mau kamu" Ucap aira sembari menunjuk tepat ke arah ku.
Aku pun cukup terkejut melihat wanita dengan tatapan tanpa ekspresi itu, bahkan pak gunawan pun terlihat sangat terkejut dengan kelakuan putri nya.
"mboo... tolong bawa aira ke kamar nya". teriak pak gunawan memanggil pembantu nya.
Lalu Aira pun di ajak mbo dengan sedikit paksaan untuk pergi meninggalkan kami berdua, menuju kamar nya.
"aduh maaf rob, baru kali ini saya liat dia begitu". ucap pak gunawan dengan wajah sedikit khawatir sembari kembali duduk.
"oh ia om gpp hehe" balas ku.
"memang dari kecil anak itu terlihat tidak normal, atau bisa di katakan ia seperti hidup di dimensi berbeda dengan kita". ucap nya sembari menyalakan rokok.
"berbeda dimensi? maksud om seperti disleksia atau malah seperti gangguan mental?" tanya ku penasaran.
"bukan... tidak seperti ia gila atau mengidap suatu masalah pada otak nya, hanya saja ia seperti memiliki pandangan berbeda dari kita, bahkan karna sikap nya itu dari kecil ia tidak dapat bergaul dengan teman sebaya nya, sampai-sampai aku memutuskan untuk menyekolahkan nya di rumah dengan memanggil guru pribadi, karna khawatir jika terjadi sesuatu kalau aku menyekolah kan nya di sekolah umum.. mungkin karna ibu nya....". ucap nya yang terhenti.
"ibu nya?" tanya ku penasaran.
"ah gpp... maaf ya bikin kamu jadi kaget tadi, yasudah.. kebetulan ada yang mau saya kerjakan, nanti saya telfon ayah kamu buat ngucapin terimakasih". jawab nya seperti enggan untuk menjawab pertanyaan ku.
Setelah itu aku pun pamit pergi untuk pulang, sungguh aneh dengan kejadian tadi, sebenarnya membuat ku cukup penasaran, namun lebih baik aku tidak terlalu ikut campur dengan urusan keluarga mereka.
Baru aku mau menuruni tangga di lantai 2 untuk menuju me lantai 1, namun secara tiba-tiba aku melihat pintu kamar terbuka yang tidak jauh dari posisi ku, yang masih berada di lantai 2, lalu aku melihat Aira keluar yang masih dengan wajah tanpa ekspresi, lalu ia pun langsung menoleh ke arah ku yang ingin turun, dan ia pun berjalan cepat ke arah ku, yang membuat bulu kuduk ku berdiri. Entah mengapa aku begitu takut saat itu dan memutuskan untuk melarikan diri dengan juga berjalan cepat ke lantai 1 sembari menundukan kepala, aku pun terus berjalan dengan sesekali menengok ke arah belakang, dan wanita itu masih terus mengejarku, yang membuat ku semakin takut ialah wajah nya yang begitu dingin dan tatapan tanpa ekspresi nya masih terus menatap ku. Aku pun terus berjalan dan berjalan semakin cepat sampai-sampai tidak ku sadari, aku malah pergi ke halaman belakang, lalu aku menengok ke arah kiri dan kanan, hanya terlihat sebuah gazebo dan kolam ikan.
"tunggu" ucap aira yang tepat berada di belakang kuping ku.
Aku pun begitu kaget dan bulu kuduk ku kembali berdiri, namun aku sudah tidak bisa kemana-mana lagi, sampai-sampai aku terpojok ke sebuah pohon.
"ampunnn... jangan bunuh sayaaa" ucap ku yang begitu ketakutan sembari menutup mata ku.
Aku yang masih tidak merasakan apa pun setelah menutup mata, dengan jantubg yang tidak berhenti berdegub kencang saat itu, aku mencoba untuk membuka mata berharap aira sudah pergi meninggalkan ku.. lalu..
"haaa..!! " teriak ku singkat melihat nya
wajah nya yang tepat berada di depan wajah ku, terlihat ia sedang mengendus - endus badan ku seperti se ekor anjing, aku pun hanya bisa diam dan tidak berani untuk bergerak.
"A...apa ma..ma...mau mu??" tanya ku gagap.
dia pun menghiraukan pertanyaan ku dan masih sibuk mengendus-endus badan ku untuk beberapa saat.
"kamu". ucap nya setelah berhenti mengendus ku.
"i..i..yaa?". tanya ku dengan wajah panik.
"ternyata bukan kamu". ucap nya yang langsung berbalik dan berjalan meninggalkan ku.
"eh... maksud nya?".tanya ku bingung.
ia pun hanya tetap berjalan meninggalkan ku, aku pun dengan rasa takut namun karna terlanjur ku penasaran dengan sikap nya, memutuskan untuk menghampiri nya dan berhenti di depan nya, lalu ia pun berhenti.
"maksud kamu dari tadi apa sih? tolong jelasin, aku yang tadi nya bodo amat malah di buat penasaran". ucap ku dengan nada sedikit kesal.
"aku mencium bau jin di tubuh mu, tapi setelah aku pastikan, ternyata hanya sisa-sisa nya yang masih menempel, jadi aku tidak ada urusan dengan mu" ucap nya dengan wajah datar.
Setelah mengucap kan itu, ia pun kembali berjalan untuk kembali masuk ke rumah. Namun aku yang malah semakin penasaran dengan ucapan nya, kembali menghentikan nya.
"sebentar-sebentar bisa kita bicara sebentar, tolong lah". ucap ku sembari membungkuk kan tubuh ku.
"ok". balas nya singkat.
ia pun memutar arah dan berjalan menuju gazebo, aku pun langsung mengikuti nya. setelah mendengar ucapan nya tadi entah mengapa aku langsung teringat dengan Lena, mungkin saja ia bisa menjadi petunjum ku, walau pun aku masih tidak yakin.
Sesampai nya di gazebo ia pun duduk diam, dengan wajah dan tatapan dingin yang seolah tidak pernah hilang dari wajah nya. Aku pun ikut duduk di sebelah nya.
"t..tadi maksud kamu ada sisa-sisa bau jin di badan ku, bi..bisa kamu jelaskan?" tanya yang masih gugup untuk berbicara dengan nya.
"biasa nya... ketika manusia pernah melakukan kontak dengan mahkluk lain... akan ada bau yang akan masih menempel kepada manusia itu untuk beberapa hari..". ucap nya.
"tapi seingat ku, aku tidak pernah melakukan kontak dengan jin atau apa pun itu" balas ku bingung.
"mungkin... kamu hanya tidak menyadari" ucap nya kembali.
Aku pun di buat semakin dan semakin bingung dengan ucapan nya, tapi aku merasa dia tidak lah berbohong, dia mungkin memang terlihat aneh, tapi entah apa alasan nya, aku tidak bisa begitu saja mengabaikan ucapan nya.
"A..aku boleh menceritakan suatu hal kepada mu? mungkin saja cerita ku membuat mu tertarik". tanya ku sembari mendekatkan wajah ku.
"tentu" balas nya singkat.
Lalu aku pun menceritakan tentang semua yang aku alami, tentang wanita bernama Lena, dan kejadian Edi juga. lalu setelah aku menceritakan semua nya, aku melihat perubahan drastis di wajah nya.
"lalu dimana aku bisa menemukan wanita itu? sekarang? apa bisa kau mengantarkan aku sekarang, ayo biar aku panggilkan mamang". ucap nya dengan wajah senang sembari menarik-narik tangan ku.
Aku pun harus mengecewakan nya, aku mengatakan kepada nya bahwa aku hanya selalu bisa menemukan nya setiap waktu senggang ku saat kuliah pada pukul 11 siang sampai pukul 1 siang, di luar waktu itu aku tidak pernah menemui nya.
"ok.. besok aku akan ke kampus mu". ucap nya.
"heh? kamu yakin? besok" tanya ku memastikan
"iya besok, jam 11 aku akan kesana". balas nya dengan wajah penasaran.
Aku pun meng ia kan ajakan nya untuk bertemu di fakultasku besok, setelah itu aku pun izin pulang, ia melambaikan tangan ke arah ku dengan senyum lebar terpampang jelas di wajah nya. Aku pun mengambil motor ku dan pergi meninggalkan rumah nya, di tengah perjalanan aku tidak berhenti memikirkan tentang kejadian tadi, entah apa yang di fikirkan wanita itu, terutama dengan senyum nya.. memang senyum nya itu seolah seperti puzzle terakhir untuk melengkapi kecantikan nya, Namun.... bagi ku... terlihat menyeramkan. Entah apa yang dia ingin kan dari Lena sebenernya, ia begitu tertarik dengan lena. Namun aku memiliki firasat sedikit tidak enak dengan ini, walau pun di satu sisi aku merasa ia dapat membantu ku untuk mengungkap kan siapa Lena sebenarnya.
Diubah oleh xandler 15-10-2021 21:15
iwakcetol dan 41 lainnya memberi reputasi
42
Kutip
Balas
Tutup