Kaskus

Story

deni.kaAvatar border
TS
deni.ka
Babi Ngepet
Spoiler for Sekilas Info:



Prolog

Babi ngepet, setiap orang di Indonesia pasti sudah tidak asing dengan cerita satu ini, ada yang percaya ada yang tidak. Namun, sejujurnya tidak banyak yang percaya mengenai keberadaan babi ngepet, terlebih setelah munculnya cerita karangan babi ngepet palsu di sebuah kota di Jawa Barat. Meski sebenarnya banyak orang yang tidak percaya, sejujurnya praktek mencari kekayaan dengan media babi ngepet masih ada yang melakukannya.

Metode pesugihan alias mencari kekayaan melalui jalan yang tidak benar sudah jamak diketahui oleh banyak orang, salah satu yang paling terkenal yakni dengan metode babi ngepet. Tidak meratanya pembangunan dan sulitnya mencari pekerjaan menjadi alasan mengapa jalan pintas untuk sukses ini masih jadi pilihan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di desa.

Meski zaman sudah modern dan banyak jalan yang benar untuk bisa menghasilkam pundi-pundi rupiah, akan tetapi praktek pesugihan seperti babi ngepet tak akan pernah hilang ditelan kemajuan zaman. Mereka yang lemah iman akan selalu memilih cara mudah untuk mendapatkan kekayaan.



Quote:




Quote:



Hallo agan dan sista semuanya, semoga kalian sehat selalu ya, sebelum memulai cerita, TS mau kenalan sebentar. Walau status ID TS masih newbie, sebenarnya TS sudah lama mengenal Kaskus. Btw ID pertama TS sudah jadi anak band. Beberapa upaya sudah TS lakukan untuk mengembalikan ID tersebut, tapi pada akhirnya gagal.

Dulu TS sering membaca cerita di SFTH, salah satunya cerita agan ahmaddanielo alias Daniel Ahmad yang terkenal dengan cerita "Eksekusi Tapal Kuda" serta "Midnight Resto" yang ikonik dengan tokoh idola sejuta Kaskuser, yakni "Samsol" emoticon-Hammer (S)

Setelah beberapa tahun vakum dan tidak lagi berkunjung ke SFTH, dengan semangat baru di era tatanan new normal ini, TS ingin mewujudkan salah satu keinginan terpendam TS untuk menulis cerita sendiri di subforum ini. Jika nantinya masih ada hal yang kurang dalam tulisan pertama ini menurut agan dan sista, mohon kritik dan sarannya ya gan sist. Selamat membaca emoticon-Cendol Gan







rinandyaAvatar border
jenggalasunyiAvatar border
1980decadeAvatar border
1980decade dan 10 lainnya memberi reputasi
11
8.1K
116
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
deni.kaAvatar border
TS
deni.ka
#27
BAGIAN 13: Pembuktian


Rahmat, Sapari, dan Handoko masih dibuat bingung atas perkataan Mbah Waji. Benarkah arwah Handoyo dan Sunarti kini menyerupai sosok babi hutan ?Begitulah pertanyaan yang kinia ada di benak mereka. Tak lama berselang Kang Nardi, Pak Tikno serta Pak Mardi datang.

Mereka pun mulai menceritakan apa yang dilihat tadi, cerita tersebut tentu membuat tiga orang lainnya tambah penasaran. Sementara itu Mbah Waji membenarkan cerita Kang Nardi dan yang lainnya. Ia berkata bahwa memang begitulah yang terjadi pada suami istri tersebut.

"Jadi sampean melihat sosok babi hutan tersebut berada di sekitar jenazah mereka Kang ?" Tanya Sapari ke Kang Nardi.

"Benar Par, dan babi itu tampak seperti mengeluarkan air mata." Jawab Kang Nardi.

"Wah aku jadi penasaran, apa saya bisa melihatnya juga Mbah ?" Tanya Handoko sambil menoleh ke arah Mbah Waji.

"Bisa, jika kalian memang ingin membuktikannya. Sebenarnya apa yang terjadi pada keduanya adalah resiko dari praktek pesugihan tersebut." Ujar Mbah Waji.

"Bagaimana Mat, Par. Apa kalian mau melihat juga ?" Tanya Handoko.

"Kalau saya mau Kang, saya ingin membuktiknnya sendiri." Ujar Rahmat.

"Kalau kalian berdua setuju, aku juga lah." Tambah Sapari.

"Kalau kalian memang menginginkannya, sekarang coba mendekat kemari." Ujar Mbah Waji.

Ketiganya pun lalu mendekat ke arah Mbah Waji, mereka mengambil posisi jongkok. Setelah itu Mbah Waji menyutuh ketiganya menutup mata. Mbah Waji lantas mengusap satu per satu mata dari ketiga orang tersebut secara bergantian menggunakan telapak tangan kanannya.

"Sudah, sekarang kalian boleh membuka mata. Jika kalian melihat sesuatu seperti babi hutan misalnya, mbah berpesan agar kalian tetap tenang. Babi itu tidak akan menyerang kalian, dan hanya kalian yang bisa melihatnya." Ujar Mbah Waji memberi saran kepada mereka bertiga.

"Baik Mbah, kami mengerti." Ujar ketiganya bersamaan.

"Kalau begitu sekarang kalian mendekatlah ke teras rumah, mumpung jenazahnya belum diberangkatkan." Ujar Mbah Waji.

"Hati-hati, jangan kaget nanti." Tambah Pak Tikno.

Ketiganya pun lantas berdiri dan segera menuju teras rumah, dari teras tersebut mereka bisa melihat sekilas dua jenazah yang kini sedang disemayamkan di atas tikar. Sementara itu di halaman rumah tampak beberapa warga yang melayat tampak duduk di kursi yang disediakan.

Ketiga orang tersebut kini sudah sampai di halaman rumah di dekat teras, mereka pun duduk di kursi baris kedua yang tampak kosong. Mereka pun celingak-celinguk melihat kondisi sekitar rumah, bagi mereka tidak ada yang aneh. Tampak beberapa pelayat sedang mengobrol.

"Biasa-biasa saja, mana babinya ?" Tanya Handoko.

"Kang ... Kang, lihat itu di sana," bisik Rahmat sambil menunjuk ke arah pintu rumah yang terbuka.

"Astagfirullah, itu babinya," ujar Handoko dan Sapari sambil mengelus dadanya.

"Heh, lihat-lihat juga di sana," ujar Sapari sambil berbisik. Ia menunjuk ke arah teras rumaj sebelah utara sambil menepuk pundak kedua temannya.

"Itu babi hutan kok mondar-mandir do teras rumah." Tambah Sapari.

"Dia melihat ke sini Kang," ujar Rahmat.

"Loh babinya mengeluarkan air mata ?" Tanya Handoko sambil melihat ke arah kedua temannya.

"Iya Kang, terlihat seperti menangis. Jadi ini perwujudan babi hutan yang Mbah Waji maksud," ujar Rahmat.

"Mengerikan ya, setelah mati malah jadi babi." Ujar Handoko.

Ketiganya hanya bisa beristigfar dan mengelus dada melihat kejadian tersebut, beberapa kali dua babi hutan itu silih berganti menampakkan diri. Mereka seolah mengerti jika ada orang yang bisa melihatnya, dan kedua babi itu menampakkan ekspresi wajah yang terlihat sedih ketika ada orang yang melihat mereka.

Tak lama kemudian datang seorang warga, dia pun menuju teras rumah menemui laki-laki berkopiah yang duduk bersila. "Kang penggalian makamnya sudah selesai," ujar orang tersebut.

"Kalau begitu jenazah bisa segera diberangkatkan, beritahu warga yang lain." Ujar laki-laki berkopiah itu sembari berdiri.

Sapari, Handoko, dan Rahmat yang mendengar percakapan tersebut pun lantas beranjak dari tempat duduknya. Mereka pun bersiap untuk ikut memikul jenazah menuju kuburan.

"Sudah mau berangkat, ayo kita siap-siap !" Ajak Handoko.

"Baik Kang, tapi apa kita tidak kembali ke tempat Mbah Waji dan Kang Nardi dulu ?" Tanya Rahmat.

"Tidak perlu, nanti kita juga bakal ketemu lagi di kuburan. Katanya Mbah Waji juga mau ikut ke kuburan." Jawab Handoko.

"Ayo masuk ke rumah, membantu mengeluarkan jenazah." Ujar Sapari.

Ketigaya pun lantas menuju ke dalam rumah untuk membantu membawa jenazah ke luar rumah. Tampak beberapa warga lain juga sudah bersiap-siap di luar rumah untuk memikul jenazah tersebut.



***



Sementara itu di tempat Mbah Waji dan Kang Nardi berada, mereka pun kini sudah beranjak dari tempat duduknya. Mereka mendekati rumah duka untuk ikut mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Para pelayat serta warga sekitar juga sudah tampak berkerumun di sekitar rumah duka.

"Jenengan ikut ke kuburan Mbah ?" Tanya Pak Mardi.

"Ya, saya akan ikut Pak. Har kamu juga harus ikut." Ujar Mbah Waji.

"Baik Pak." Jawab Hartono sambil menganggukkan kepalanya.

"Saya dan Nardi mau ikut memikul jenazahnya, lagi pula mereka berdua tetap tetangga kami. Kami akan membantu proses pemakamannya." Ujar Pak Tikno.

"Baik, kami bertiga nanti akan mengikuti di belakang. Kita akan bertemu lagi nanti di kuburan." Ujar Pak Mardi.

Pak Tikno dan Kang Nardi pun pamit kepada tiga orang tersebut untuk ikut membantu memikul jenazah suami istri tersebut. Sementara itu mereka bertiga akan tetap menunggu kebrangkatan jenazah di pinggir jalan dekat rumah duka.

Mbah Waji tampak diam mematung sambil memgangi dagunya, dia merasa seperti melupakan sesuatu. Hartono yang melihat hal tersebut lantas mencoba untuk menanyakannya.

"Bapak sedang memikirkan apa ? Apa ada hal yang aneh ?" Tanya Hartono.


"Saya seperti melupakan sesuatu hal yang penting Har, tapi apa ya ?"


rinandya
gajah_gendut
khuman
khuman dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.