- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
...
TS
nyunwie
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
Gue memejamkan mata dan meresapi suara angin yang beradu dengan rimbunnya dedaunan sebuah pohon besar di samping gerbong kereta yang sudah terbengkalai. Seperti alunan musik pengantar tidur; desiran angin membuat perlahan demi perlahan kesadaran gue melayang, menembus ruang tanpa batas, ke sebuah dimensi yang tidak beruntas.
"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.
"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.
"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"
"Haaah!?"

Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.
"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!
Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.
Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.
Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.
Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...
Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!
Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.
Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.
Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!
Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.
Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.
Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.
Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.
Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.
Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.
Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.
Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.
Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.
Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.
Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!
"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.
"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.
"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"
"Haaah!?"

Quote:
Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.
"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!
Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.
Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.
Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.
Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...
Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!
Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.
Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.
Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!
Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.
Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.
Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.
Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.
Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.
Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.
Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.
Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.
Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.
Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.
Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!
Spoiler for They don’t give you a right:
Diubah oleh nyunwie 31-10-2020 20:09
idrisefendhi552 dan 121 lainnya memberi reputasi
116
251.1K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nyunwie
#458
Part 49-c
Sejujurnya gue masih agak kenyang, namun melihat masakan yang dibawa istrinya Pak Margono yang masih muda (gue jadi ngiler pengen ngembat, makanannya woiiiiii!!!) entah mengapa rasa ingin makan timbul. Terlebih melihat Tante Elsa yang sudah makan dengan lahapnya terlebih dahulu gue jadi tergoda (dengan istrinya Pak Mar. Fokuuusss oi!!!!) untuk makan lagi.
Dan gue pun memutuskan untuk makan lagi yang pada akhirnya membuat gue sangat kekenyangan hingga sedikit sulit untuk bergerak. Pun dengan Tante Elsa, dia terlihat hanya bersandar di sofa seperti orang yang tidak berdaya.
Parahnya lagi, bahkan gue sampai tidak tahu kapan Pak Margono dengan istrinya pergi; gue tertidur di karpet di bawah sofa dan Tante Elsa juga sepertinya tertidur di sofa. Karena saat gue membuka mata ketika gue mendengar sayup-sayup suara adzan gue melihat Tante Elsa sedang tertidur di sofa dengan gaya bebas.
"Tant… Tant… kok tidur di sini. Pindah di kamar sana." Ucap gue pelan sambil menepuk-nepuk pundak Tante Elsa.
"Ssshhhhhh ahhh… berisik!"
"Yee dibilangin, tidurnya begitu nanti bangun badannya pegel-pegel lho, Tant!"
Tante Elsa lalu bangkit dengan mata yang masih terpejam, "Bawel! Samanya kaya bapaknya, Bawel!" Ucap Tante Elsa kemudian berjalan gontai menuju ke salah satu kamar.
Setelah Tante Elsa masuk ke dalam kamar, gue naik ke atas sofa. Ingin hati untuk melanjutkan tidur lagi, namun entah mengapa udara dingin yang terasa sedikit membuat hati gue merasa melankolis. Gue lalu berjalan keluar dan duduk di kursi yang berembun yang ada di depan rumah, menyulut sebatang rokok dan meresapi pagi kali ini dengan nuansa kerinduan di dalam hati; entah apa atau siapa yang gue rindukan.
Perlahan terang mulai datang, menyibak kabut yang entah sejak kapan menyelimuti daerah ini. Sambil mengapit rokok yang masih menyala, gue memutuskan untuk sedikit berjalan ke atas puncak bukit dimana semalam gue bertemu dengan Pak Margono.
Sesampai di sana, gue benar-benar tidak percaya dengan apa yang gue lihat. Dari atas sini gue bisa melihat 3 buah gunung yang berdiri kokoh di yang seolah sedang memagari tempat ini. Gue tidak tahu gunung apa saja itu, gue masih mencoba menavigasikan posisi gue saat ini.
Gue pun berdiam diri di atas puncak bukit ini, hati gue sedikit bergetar melihat pemandangan ini. Rasanya gue ingin menangis namun entah menangis untuk apa; perasaan ini sama persis seperti pertama kalinya gue menginjakan kaki di suatu puncak gunung saat kegiatan pramuka semasa SMP; keharuan ini, keciutan hati, perasaan bias antara senang dan sedih yang sulit dibedakan yang tidak jelas dari mana ia datang, semuanya bercampur di dalam hati membentuk sebuah perasaan yang tidak pernah ternamakan.
Gue lalu mengeluarkan ponsel gue untuk menghubungi seseorang. Namun sialnya sinyal provider yang gue gunakan khusus untuk menghubungi orang yang gue maksud ini kurang begitu baik. Lalu gue pun mengeluarkan ponsel gue yang lainnya, ponsel yang umum gue gunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang. Sinyal providernya lebih baik dan gue pun menghubungi orang yang gue maksud itu dengan nomor ini.
Namun setelah lebih dari 10 kali gue mencoba menghubunginya, dia tidak juga menjawab panggilan telepon gue. "Haahh." Gue menghela nafas karena teringat suatu perjanjian dengannya untuk tidak saling menjawab panggilan jika tidak menggunakan nomor yang memang khusus untuk kami berkomunikasi berdua.
Lalu gue memutuskan untuk kembali setelah melihat keagungan Sang Pagi. Gue berbaring di sofa lalu mata terpejam dengan sendirinya.
…
Suara peralatan dan perlengkapan dapur yang beradu dan aroma-aroma masakan yang bertemu dengan indra pencium membuat gue terbangun dengan agak kaget. Gue langsung melongok ke arah dapur yang ternyata di dapur istrinya Pak Margono sedang memasak. Gue tidak menyadari kapan dia datang karena gue tidur lumayan lelap.
(Oke kita sebut saja) Hartati atau Tati, nama Istri dari Pak Margono. "Mbak… eh, Bu. Dari tadi?" Tanya gue mencoba menyapa Bu Tati.
Bu Tati hanya tersenyum sambil menundukan pundak dan kepalanya sedikit tanpa berhenti memotong sesuatu di atas talenan kayu. Gue lalu melihat ke jam di ponsel gue, pukul 07.15. Berarti gue belum terlalu lama tertidur dan kemungkinan Bu Tati juga belum lama datang namun jika belum lama dia datang kenapa sudah tercium aroma-aroma masakan yang menggiurkan. Gue pun penasaran dengan apa yang dimasak Bu Tati, "Masak apa, Bu?" Tanya gue.
Bu Tati tersenyum lalu mengangkat bawang yang sedang diirisnya lalu baru gue tahu dan sadari kalau Bu Tati adalah seorang Tunawicara. Ia mengatakan sesuatu dengan suara sengau, yang membuat gue sedikit merasa bersalah. Gue hanya menelan ludah sambil memperhatikan dan mencoba mengerti apa yang sedang Bu Tati sampaikan.
Sejujurnya gue tidak mengerti apa yang sedang Bu Tati sampaikan dan itu tentu saja membuat gue bingung untuk merespon selanjutnya. "Lagi masak beningan asem, katanya Den." Suara Pak Margono terdengar dari arah pintu utama dan itu sedikit membuat gue lega.
Lalu Pak Margono sedikit berkelakar dengan istrinya menggunakan Bahasa Jawa yang intinya Pak Margono mengatakan pada istrinya kalau gue pasti tidak akan mengerti dengan apa yang diucapkannya karena gue baru pertama kali bertemunya dan Pak Margono juga mengatakan pada istrinya yang kurang lebih, "Mangkanya disuruh belajar bahasa isyarat atau baca tulis biar bisa ngomong sama orang."
Gue benar-benar bingung harus bersikap seperti apa, sehingga beberapa kali gue hanya cengar-cengir kuda sambil mencoba memahami apa yang Bu Tati sampaikan. Namun berapa kali pun gue mencoba memahami rasanya hampir mustahil untuk gue bisa memahami segala ekspresinya; butuh waktu yang lama dan intens pastinya.
..
Suasana kembali hening saat Pak Margono pamit ingin mencari pakan untuk kerbaunya dan menyisakan gue dan Bu Tati yang masih sibuk dengan masakannya. Sudah hampir pukul delapan saat terdengar suara pintu terbuka dari kamar yang ditempati Tante Elsa.
"Kamu gak tidur, Wid?" Tanya Tante Elsa suaranya parau lalu menghampiri Bu Tati di dapur. "Mbak, bikinin saya teh, ya. Gak pake gula."
"..." Bu Tati merespon ucapan Tante Elsa.
"Iyaa kaya biasa." Sahut Tante Elsa seperti mengerti apa yang diutarakan Bu Tati. "Wid, kamu gak jawab Tante nanya?"
"Eh, iya. Tidur Tant. Ini baru bangun."
"Bohong! Tadi Anti denger kamu ngobrol sama Pak Mar, kok."
"Ohh, ya itu udah bangun. Kan semalem abis makan juga langsung tidur." Sahut gue.
"Oh iya, kamu yang bangunin Tante buat pindah ke kamar ya." Sahut Tante Elsa datar.
"Lahh???" Gue keheranan.
Tante Elsa lalu sedikit membanting tubuhnya di sofa di sebelah gue. Lalu merentangkan kakinya naik ke atas paha gue. "Pijitin Anti dong, pegel nih." Ucap Tante Elsa.
"Dih, ngeboss?"
"Lah?" Tante Elsa meledek gue, "hahaha." Tante Elsa hendak menurunkan kakinya namun gue tahan kemudian gue memijat pelan kakinya. Entah mengapa rasanya gue benar-benar melihat Tante Elsa yang berbeda pagi ini. Tante Elsa terlihat tidak seperti biasanya, dia seolah kehilangan aura misterius, jutek, sombong, songong bin sengak. Tante Elsa yang gue lihat pagi ini adalah Tante Elsa yang mungkin akan dengan bangga gue mengatakan jika dia adalah Tante gue; Seorang perempuan dengan senyum yang manis, cantik, ramah dan menenangkan setiap kali menatapnya.
"Kenapa kamu ngeliatin Tante begitu?" Tanya Tante Elsa.
"Haah? Hahaha. Gak papa, cuma ngeliat kaya ada yang beda ajah. Gak tau apa, tapi kayaknya kalo Tante begini Widi sih gak masalah kalo ngajak Tante ambil rapot."
"Hahaha, songong." Sahut Tante Elsa sambil melempar bantal kecil ke arah wajah gue.
"Hahaha." Gue tertawa.
Kami saling tertawa beberapa saat hingga akhirnya Tante Elsa menarik nafas panjang sambil mengaitkan sedikit rambut pada daun telinganya. "Dipaksa untuk terus sempurna itu nggak mudah, Wid. Kadang Anti capek, lelah. Mau teriak. Mau berhenti dari ini semua. But yaa…" Tante Elsa sedikit menyunggingkan senyum. "You know, lah. Makanya Anti suka banget tempat ini, karena rasanya cuma disini Anti enggak perlu khawatir dengan semuanya." Lanjut Tante Elsa matanya seperti menerawang.
Bersamaan itu entah mengapa gue seperti merasa Tante Elsa menyimpan sebuah perasaan besar, namun entah untuk dan pada siapa atau apa itu. Yang jelas gue benar-benar melihat Tante Elsa yang berbeda sekali seperti biasanya. Mungkin benar kata pujangga, mata adalah jendela dunia.
"Tant, Widi penasaran deh. Tante bisa dapet… emmm… bisa nemu dan dapet tempat ini gimana, sih? Terus ini sebenernya dimana? Sampe Tante bisa yakin tempat ini bener-bener aman?"
"Ini di… (Tante Elsa menyebutkan tempat ini) Anti juga gak tau pastinya sejarah tempat ini, Anti tau tempat ini dari dosen Anti…"
"Dosen?"
"Ya, dosen Anti semasa kuliah. Anti dulu deket banget sama beliau, sampe sekarang malah. Bisa dibilang beliau itu mentor Anti dalam dunia yang kita jalanin sekarang. Yah bisa dibilang udah seperti bapak juga buat Anti. Dia ngasih tau tempat ini beberapa tahun lalu sebagai hadiah katanya sebelum dia pindah ke Eropa."
"Oh dosen anti udah gak disini?"
"Yaa dia sekarang udah hidup tenang nikmati masa tuanya di suatu negara di Eropa. Kapan-kapan nanti kita kesana…"
"Asikkkk." Sambat gue girang.
"Nah, menurut beliau dulunya tempat ini, desa di bawah sana. Tempat tinggalnya Pak Mar. Dulunya itu desa yang terisolasi gak ada akses keluar dan masuk. Penduduk desa juga nggak pernah keluar mereka hidup dari alam di sekitar sini. Sampai akhirnya ada seorang saudagar kota yang enggak sengaja nemu tempat ini lalu dia bangun rumah ini dan buka akses jalan ke tempat ini dan desa di bawah sana. Cerdiknya, saudagar itu menggunakan kecakapannya yang jelas berbeda jauh dengan warga lokal sampe dia dianggap sebagai pemimpin untuk warga-warga desa. Malah, dosen Anti ngegambarinnya kalau saudagar itu bak Nabi untuk warga desa ini."
"..." Gue menganggukan kepala dan hanyut dalam cerita Tante Elsa.
"Mungkin itu pintar atau licik entahlah, tapi saudagar itu mengajarkan laki-laki di desa ini cara bertarung namun tidak disertai dengan cara berpikir. Dia membiarkan warga desa tetap bodoh tanpa pendidikan. Mungkin memang itu tujuan dan menurut dosen Anti memang seperti itu tujuannya. Dia melatih warga desa untuk menjadi prajurit-prajurit yang menjaga istananya, rumah ini. Dan menurut dosen Anti saudagar itu berhasil! Namun sayangnya keberhasilan itu tidak dilanjutkan oleh anak sulungnya yang lebih memiliki 'hati'..." Tante Elsa mengutip dengan jarinya. "... si anak sulung yang menurut dosen anti memiliki tingkat intelektual lebih dari ayahnya sepulangnya dia dari menjalani pendidikan di Eropa si anak sulung mulai mengajarkan apa yang dia dapat selama menjalani masa pendidikannya pada warga di sini yang akhirnya membuat tempat ini di bombardir oleh tentara pemerintah pada akhir tahun 65."
"Waw… jadi si sulung itu…"
"Yap. Konon menurut dosen anti pada saat tempat ini dibombardir oleh tentara kita, hanya sedikit warga yang berhasil selamat dengan melarikan diri ke hutan. Itu pun konon lebih banyak anak-anak, Pak Mar salah satunya. Saat kejadian itu katanya dia masih berusia 12 tahun. Pak Mar juga pernah cerita sama Anti. Setelah kejadian itu tempat ini, desa ini benar tidak berpenghuni, sisa warga yang selamat memilih untuk menetap di hutan."
"Lalu kenapa bisa mereka balik lagi kesini?"
"Saudagar yang menemukan tempat ini memiliki tiga orang anak. Si sulung yang pada akhirnya berakhir tragis dan membawa petaka pada tempat yang indah ini. Anak kedua si saudagar sayangnya tidak memiliki umur yang panjang, dia meninggal konon saat usianya masih beberapa bulan. Dan Bungsu dari keluarga Saudagar itu kebetulan saat kejadian itu beliau sedang menjalani pendidikan di Eropa sehingga dia selamat dan dia kembali ke Indonesia untuk mengabdi menjadi tenaga pengajar hingga menjadi seorang dosen besar di salah satu universitas. Dan selama itu pula dia mulai membangun kembali tempat ini, mengumpulkan lagi sisa-sisa warga yang selamat meneruskan apa yang ayahnya pernah lakukan sampai akhirnya Si Bungsu memberikan istananya ini pada anak didiknya…"
"Si Bungsu itu…"
"Ya, dia dosen anti."
"Waw." Gue sedikit menghela nafas.
"Sama seperti ayahnya, Dosen anti dianggap pemimpin oleh penduduk di sini. Beliau dihormati, beliau diagungkan. Tapi sedikit berbeda dengan ayah dan kakaknya. Beliau menggabungkan kedua cara mereka, Dosen Anti tempat menjaga tempat ini tetap tersembunyi tapi Beliau tidak membiarkan penduduk di sini bodoh. Walau orang-orang di sini tidak pernah secara resmi tercatat sebagai warga di Negeri ini, bahkan tempat ini rasanya sudah dianggap mati. Namun dosen anti selalu membawa anak-anak di sini yang dianggapnya berpotensi dan memiliki semangat untuk mengenyam pendidikan di kota besar. Entah itu di Jakarta, Jogja, Surabaya, Semarang. Tidak sedikit anak-anak dari sini yang saat ini memiliki posisi penting di berbagai instansi Pemerintahan dan itu pula yang membuat tempat ini tetap aman, karena itu adalah permintaan dari Dewanya mereka, kasarnya."
"Terus sekarang berarti Tante yang gantiin Dosen Tante di sini?"
"Haaahhh…" Tante Elsa menghembuskan nafasnya matanya jauh menerawang. "Tidak seharusnya jika dia masih ada…"
"Dia siapa?" Sambar gue.
"Seorang rekan Tante. Temen kuliah Tante dulu. Masih saudara sama Mbak Tati… yah Mbak yaa, saudara jauh." Tante Elsa mengalihkan pandang ke arah Mbak Tati dan Mbak Tati terlihat menganggukan kepala dengan sedikit tersenyum lalu memberikan sebuah respon. "Tuh sepupu Mbak Tati katanya. Cuma sepupu jauh." Lanjut Tante Elsa menerjemahkan apa yang diutarakan Mbak Tati. "Dia anak kesayangannya dosen Tante. Dia yang paling dipercaya oleh Dosennya Tante. Bisa dibilang kalau bukan karena dia rasanya Tante gak mungkin juga bisa sedeket itu sama Dosen Tante. Sayangnya dia meninggalkan kami terlebih dahulu karena sebuah penyakit yang dideritanya." Lanjut Tante Elsa sedikit lirih.
"..." Gue diam mencoba meresapi apa yang mungkin dirasakan Tante Elsa sambil terus memijat kakinya.
"Tapi anti yakin, dosen anti bakalan seneng nanti, ngeliat kamu! Karena dia mirip banget sama kamu. Songong-songongnya, sombong-sombongnya, tengil-tengulnya. Kamu sama dia bener-bener mirip mungkin bedanya dia lebih matang enggak kaya kamu yang sering asal main di tepi jurang!"
"..." Gue hanya menyunggingkan senyum dan sedikit menambah kekuatan pada jemari gue yang sedang memijit kaki Tante Elsa karena jujur gue agak tidak senang jika disama-samakan apalagi dibanding-bandingkan dengan orang lain.
"Auuuuu! Hahahah. Kesel dia disama-samain sama orang, hahaha." Ucap Tante Elsa. "Oh yaa nanti kamu Anti daftarin sekolah di… (Tante Elsa menyebut salah satu sekolah internasional yang ada di Jakarta), yah!"
"Haaah!? Enggak! Enggak mau!" Sahut gue.
"Lho kenapa? Menurut Anti itu sekolah paling bagus di Jakarta. Di Indonesia malah!"
"Enggak, deh. Tant! Bergaul sama anak-anak borju yang kalo sekolah naik Jazz, Lancer, BMW or Mercy maybe? Yang turun dari mobil terus palanya dongak padahal tuh mobil punya orang tuanya. Yang setiap weekend party-party…"
"Kamu minder? Gak perlu minder, Widi! Kamu mau apa? BMW? Apapun Anti bakal kasih. Tenang! Anti juga gak akan biarin ponakan Aunty kalah tongkrongan sama yang lain." Sambar Tante Elsa.
"Minder? Maap gak ada duh! Widi cuma males Tant sama pergaulan kek begitu. Sumpah! Gak nyaman dan bukan Aku bangettt…" Gue melirikan bola mata gue kesegala arah.
"Hahaha, apah sih ishh, jelek kamu tuh!" Sambar Tante Elsa.
"Serius, Tant! Enggak ada hal yang menarik yang bisa aku tulis nantinya kalo aku sekolah di sana. Semisal di masa depan nanti Temen Widi sukses, famous as a rich man. Jadi orang kasarnya! So what! Itu gak akan ada menariknya karena emang dari biyung atau bahkan dari buyutnya dia udah kaya udah sukses udah famous. Lain hal kalo temen Widi dulunya gembel pas dia dewasa dia berubah jadi orang, pasti bakal ada ceritanya, asem dulu tuh orang ngegembel bareng gua. Kan gitu kasarnya, Tant."
"Kayanya ada yang salah sama mindset kamu, deh. Wid! Kenapa harus temen kamu. Kenapa engga kamu yang creating your own success story? Kenapa mesti kamu bangga sama kesuksesan orang? Kenapa engga kamu bercita-cita kamu yang sukses bukan orang lain? Aneh!"
"Tant, orang biasa pasti bakal kagum sama kisah Soekarno, bakal gedek sama Semaun, dan pasti enggak habis pikir sama Kartosuwiryo. Tapi orang yang paham pasti bakal kagum bukan sama tiga nama itu tapi bakal kagum sama satu nama, Umar Said!"
"Tjokroaminoto" Sambung Tante Elsa.
"Yes. Aku gak pernah berniat dan enggak ada cita-cita dapetin exposure dari banyak orang dalam hidup aku. Sekarang atau nanti. Aku sadar aku sedikit narsis tapi narsis aku bukan aku tunjukin buat semua orang. Sama kaya dosen Tante, mungkin saat ini semua perhatian tertuju sama Tante. Tapi buat orang-orang paham, mereka pasti ngerti kalau yang hebat bukan tante tapi orang yang udah ngasih exposure sebegitu banyaknya ke arah Tante. Yaa… simplenya aku gak mau sukses dan terkenal sebagai Aktor film tapi aku pengen dipuja sebagai sutradara."
Tante Elsa langsung mengangkat kakinya, melepasnya dari tangan gue dan langsung mendekap memeluk gue. Dalam dekapannya gue merasakan air mata Tante Elsa jatuh di belakang pundak gue. "Maafin Tante selama ini engga pernah ada buat kamu. Maafin Tante terlalu egois mentingin diri sendiri dibangin keponakan Tante yang harusnya Tante jagain semenjak kamu ditinggal orang tua kamu. Anti bangga punya ponakan secerdas kamu. Tapi disatu sisi Anti malu karena pasti apa yang ada di dalam diri kamu saat ini terbentuk karena kerasnya hidup kamu sebelumnya. Anti gak bisa bayangin sekeras apa, tapi Anti yakin itu sangat sangat keras. Sekarang Anti bingung harus bangga atau menyesal."
Dan gue pun memutuskan untuk makan lagi yang pada akhirnya membuat gue sangat kekenyangan hingga sedikit sulit untuk bergerak. Pun dengan Tante Elsa, dia terlihat hanya bersandar di sofa seperti orang yang tidak berdaya.
Parahnya lagi, bahkan gue sampai tidak tahu kapan Pak Margono dengan istrinya pergi; gue tertidur di karpet di bawah sofa dan Tante Elsa juga sepertinya tertidur di sofa. Karena saat gue membuka mata ketika gue mendengar sayup-sayup suara adzan gue melihat Tante Elsa sedang tertidur di sofa dengan gaya bebas.
"Tant… Tant… kok tidur di sini. Pindah di kamar sana." Ucap gue pelan sambil menepuk-nepuk pundak Tante Elsa.
"Ssshhhhhh ahhh… berisik!"
"Yee dibilangin, tidurnya begitu nanti bangun badannya pegel-pegel lho, Tant!"
Tante Elsa lalu bangkit dengan mata yang masih terpejam, "Bawel! Samanya kaya bapaknya, Bawel!" Ucap Tante Elsa kemudian berjalan gontai menuju ke salah satu kamar.
Setelah Tante Elsa masuk ke dalam kamar, gue naik ke atas sofa. Ingin hati untuk melanjutkan tidur lagi, namun entah mengapa udara dingin yang terasa sedikit membuat hati gue merasa melankolis. Gue lalu berjalan keluar dan duduk di kursi yang berembun yang ada di depan rumah, menyulut sebatang rokok dan meresapi pagi kali ini dengan nuansa kerinduan di dalam hati; entah apa atau siapa yang gue rindukan.
Perlahan terang mulai datang, menyibak kabut yang entah sejak kapan menyelimuti daerah ini. Sambil mengapit rokok yang masih menyala, gue memutuskan untuk sedikit berjalan ke atas puncak bukit dimana semalam gue bertemu dengan Pak Margono.
Sesampai di sana, gue benar-benar tidak percaya dengan apa yang gue lihat. Dari atas sini gue bisa melihat 3 buah gunung yang berdiri kokoh di yang seolah sedang memagari tempat ini. Gue tidak tahu gunung apa saja itu, gue masih mencoba menavigasikan posisi gue saat ini.
Gue pun berdiam diri di atas puncak bukit ini, hati gue sedikit bergetar melihat pemandangan ini. Rasanya gue ingin menangis namun entah menangis untuk apa; perasaan ini sama persis seperti pertama kalinya gue menginjakan kaki di suatu puncak gunung saat kegiatan pramuka semasa SMP; keharuan ini, keciutan hati, perasaan bias antara senang dan sedih yang sulit dibedakan yang tidak jelas dari mana ia datang, semuanya bercampur di dalam hati membentuk sebuah perasaan yang tidak pernah ternamakan.
Gue lalu mengeluarkan ponsel gue untuk menghubungi seseorang. Namun sialnya sinyal provider yang gue gunakan khusus untuk menghubungi orang yang gue maksud ini kurang begitu baik. Lalu gue pun mengeluarkan ponsel gue yang lainnya, ponsel yang umum gue gunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang. Sinyal providernya lebih baik dan gue pun menghubungi orang yang gue maksud itu dengan nomor ini.
Namun setelah lebih dari 10 kali gue mencoba menghubunginya, dia tidak juga menjawab panggilan telepon gue. "Haahh." Gue menghela nafas karena teringat suatu perjanjian dengannya untuk tidak saling menjawab panggilan jika tidak menggunakan nomor yang memang khusus untuk kami berkomunikasi berdua.
Lalu gue memutuskan untuk kembali setelah melihat keagungan Sang Pagi. Gue berbaring di sofa lalu mata terpejam dengan sendirinya.
…
Suara peralatan dan perlengkapan dapur yang beradu dan aroma-aroma masakan yang bertemu dengan indra pencium membuat gue terbangun dengan agak kaget. Gue langsung melongok ke arah dapur yang ternyata di dapur istrinya Pak Margono sedang memasak. Gue tidak menyadari kapan dia datang karena gue tidur lumayan lelap.
(Oke kita sebut saja) Hartati atau Tati, nama Istri dari Pak Margono. "Mbak… eh, Bu. Dari tadi?" Tanya gue mencoba menyapa Bu Tati.
Bu Tati hanya tersenyum sambil menundukan pundak dan kepalanya sedikit tanpa berhenti memotong sesuatu di atas talenan kayu. Gue lalu melihat ke jam di ponsel gue, pukul 07.15. Berarti gue belum terlalu lama tertidur dan kemungkinan Bu Tati juga belum lama datang namun jika belum lama dia datang kenapa sudah tercium aroma-aroma masakan yang menggiurkan. Gue pun penasaran dengan apa yang dimasak Bu Tati, "Masak apa, Bu?" Tanya gue.
Bu Tati tersenyum lalu mengangkat bawang yang sedang diirisnya lalu baru gue tahu dan sadari kalau Bu Tati adalah seorang Tunawicara. Ia mengatakan sesuatu dengan suara sengau, yang membuat gue sedikit merasa bersalah. Gue hanya menelan ludah sambil memperhatikan dan mencoba mengerti apa yang sedang Bu Tati sampaikan.
Sejujurnya gue tidak mengerti apa yang sedang Bu Tati sampaikan dan itu tentu saja membuat gue bingung untuk merespon selanjutnya. "Lagi masak beningan asem, katanya Den." Suara Pak Margono terdengar dari arah pintu utama dan itu sedikit membuat gue lega.
Lalu Pak Margono sedikit berkelakar dengan istrinya menggunakan Bahasa Jawa yang intinya Pak Margono mengatakan pada istrinya kalau gue pasti tidak akan mengerti dengan apa yang diucapkannya karena gue baru pertama kali bertemunya dan Pak Margono juga mengatakan pada istrinya yang kurang lebih, "Mangkanya disuruh belajar bahasa isyarat atau baca tulis biar bisa ngomong sama orang."
Gue benar-benar bingung harus bersikap seperti apa, sehingga beberapa kali gue hanya cengar-cengir kuda sambil mencoba memahami apa yang Bu Tati sampaikan. Namun berapa kali pun gue mencoba memahami rasanya hampir mustahil untuk gue bisa memahami segala ekspresinya; butuh waktu yang lama dan intens pastinya.
..
Suasana kembali hening saat Pak Margono pamit ingin mencari pakan untuk kerbaunya dan menyisakan gue dan Bu Tati yang masih sibuk dengan masakannya. Sudah hampir pukul delapan saat terdengar suara pintu terbuka dari kamar yang ditempati Tante Elsa.
"Kamu gak tidur, Wid?" Tanya Tante Elsa suaranya parau lalu menghampiri Bu Tati di dapur. "Mbak, bikinin saya teh, ya. Gak pake gula."
"..." Bu Tati merespon ucapan Tante Elsa.
"Iyaa kaya biasa." Sahut Tante Elsa seperti mengerti apa yang diutarakan Bu Tati. "Wid, kamu gak jawab Tante nanya?"
"Eh, iya. Tidur Tant. Ini baru bangun."
"Bohong! Tadi Anti denger kamu ngobrol sama Pak Mar, kok."
"Ohh, ya itu udah bangun. Kan semalem abis makan juga langsung tidur." Sahut gue.
"Oh iya, kamu yang bangunin Tante buat pindah ke kamar ya." Sahut Tante Elsa datar.
"Lahh???" Gue keheranan.
Tante Elsa lalu sedikit membanting tubuhnya di sofa di sebelah gue. Lalu merentangkan kakinya naik ke atas paha gue. "Pijitin Anti dong, pegel nih." Ucap Tante Elsa.
"Dih, ngeboss?"
"Lah?" Tante Elsa meledek gue, "hahaha." Tante Elsa hendak menurunkan kakinya namun gue tahan kemudian gue memijat pelan kakinya. Entah mengapa rasanya gue benar-benar melihat Tante Elsa yang berbeda pagi ini. Tante Elsa terlihat tidak seperti biasanya, dia seolah kehilangan aura misterius, jutek, sombong, songong bin sengak. Tante Elsa yang gue lihat pagi ini adalah Tante Elsa yang mungkin akan dengan bangga gue mengatakan jika dia adalah Tante gue; Seorang perempuan dengan senyum yang manis, cantik, ramah dan menenangkan setiap kali menatapnya.
"Kenapa kamu ngeliatin Tante begitu?" Tanya Tante Elsa.
"Haah? Hahaha. Gak papa, cuma ngeliat kaya ada yang beda ajah. Gak tau apa, tapi kayaknya kalo Tante begini Widi sih gak masalah kalo ngajak Tante ambil rapot."
"Hahaha, songong." Sahut Tante Elsa sambil melempar bantal kecil ke arah wajah gue.
"Hahaha." Gue tertawa.
Kami saling tertawa beberapa saat hingga akhirnya Tante Elsa menarik nafas panjang sambil mengaitkan sedikit rambut pada daun telinganya. "Dipaksa untuk terus sempurna itu nggak mudah, Wid. Kadang Anti capek, lelah. Mau teriak. Mau berhenti dari ini semua. But yaa…" Tante Elsa sedikit menyunggingkan senyum. "You know, lah. Makanya Anti suka banget tempat ini, karena rasanya cuma disini Anti enggak perlu khawatir dengan semuanya." Lanjut Tante Elsa matanya seperti menerawang.
Bersamaan itu entah mengapa gue seperti merasa Tante Elsa menyimpan sebuah perasaan besar, namun entah untuk dan pada siapa atau apa itu. Yang jelas gue benar-benar melihat Tante Elsa yang berbeda sekali seperti biasanya. Mungkin benar kata pujangga, mata adalah jendela dunia.
"Tant, Widi penasaran deh. Tante bisa dapet… emmm… bisa nemu dan dapet tempat ini gimana, sih? Terus ini sebenernya dimana? Sampe Tante bisa yakin tempat ini bener-bener aman?"
"Ini di… (Tante Elsa menyebutkan tempat ini) Anti juga gak tau pastinya sejarah tempat ini, Anti tau tempat ini dari dosen Anti…"
"Dosen?"
"Ya, dosen Anti semasa kuliah. Anti dulu deket banget sama beliau, sampe sekarang malah. Bisa dibilang beliau itu mentor Anti dalam dunia yang kita jalanin sekarang. Yah bisa dibilang udah seperti bapak juga buat Anti. Dia ngasih tau tempat ini beberapa tahun lalu sebagai hadiah katanya sebelum dia pindah ke Eropa."
"Oh dosen anti udah gak disini?"
"Yaa dia sekarang udah hidup tenang nikmati masa tuanya di suatu negara di Eropa. Kapan-kapan nanti kita kesana…"
"Asikkkk." Sambat gue girang.
"Nah, menurut beliau dulunya tempat ini, desa di bawah sana. Tempat tinggalnya Pak Mar. Dulunya itu desa yang terisolasi gak ada akses keluar dan masuk. Penduduk desa juga nggak pernah keluar mereka hidup dari alam di sekitar sini. Sampai akhirnya ada seorang saudagar kota yang enggak sengaja nemu tempat ini lalu dia bangun rumah ini dan buka akses jalan ke tempat ini dan desa di bawah sana. Cerdiknya, saudagar itu menggunakan kecakapannya yang jelas berbeda jauh dengan warga lokal sampe dia dianggap sebagai pemimpin untuk warga-warga desa. Malah, dosen Anti ngegambarinnya kalau saudagar itu bak Nabi untuk warga desa ini."
"..." Gue menganggukan kepala dan hanyut dalam cerita Tante Elsa.
"Mungkin itu pintar atau licik entahlah, tapi saudagar itu mengajarkan laki-laki di desa ini cara bertarung namun tidak disertai dengan cara berpikir. Dia membiarkan warga desa tetap bodoh tanpa pendidikan. Mungkin memang itu tujuan dan menurut dosen Anti memang seperti itu tujuannya. Dia melatih warga desa untuk menjadi prajurit-prajurit yang menjaga istananya, rumah ini. Dan menurut dosen Anti saudagar itu berhasil! Namun sayangnya keberhasilan itu tidak dilanjutkan oleh anak sulungnya yang lebih memiliki 'hati'..." Tante Elsa mengutip dengan jarinya. "... si anak sulung yang menurut dosen anti memiliki tingkat intelektual lebih dari ayahnya sepulangnya dia dari menjalani pendidikan di Eropa si anak sulung mulai mengajarkan apa yang dia dapat selama menjalani masa pendidikannya pada warga di sini yang akhirnya membuat tempat ini di bombardir oleh tentara pemerintah pada akhir tahun 65."
"Waw… jadi si sulung itu…"
"Yap. Konon menurut dosen anti pada saat tempat ini dibombardir oleh tentara kita, hanya sedikit warga yang berhasil selamat dengan melarikan diri ke hutan. Itu pun konon lebih banyak anak-anak, Pak Mar salah satunya. Saat kejadian itu katanya dia masih berusia 12 tahun. Pak Mar juga pernah cerita sama Anti. Setelah kejadian itu tempat ini, desa ini benar tidak berpenghuni, sisa warga yang selamat memilih untuk menetap di hutan."
"Lalu kenapa bisa mereka balik lagi kesini?"
"Saudagar yang menemukan tempat ini memiliki tiga orang anak. Si sulung yang pada akhirnya berakhir tragis dan membawa petaka pada tempat yang indah ini. Anak kedua si saudagar sayangnya tidak memiliki umur yang panjang, dia meninggal konon saat usianya masih beberapa bulan. Dan Bungsu dari keluarga Saudagar itu kebetulan saat kejadian itu beliau sedang menjalani pendidikan di Eropa sehingga dia selamat dan dia kembali ke Indonesia untuk mengabdi menjadi tenaga pengajar hingga menjadi seorang dosen besar di salah satu universitas. Dan selama itu pula dia mulai membangun kembali tempat ini, mengumpulkan lagi sisa-sisa warga yang selamat meneruskan apa yang ayahnya pernah lakukan sampai akhirnya Si Bungsu memberikan istananya ini pada anak didiknya…"
"Si Bungsu itu…"
"Ya, dia dosen anti."
"Waw." Gue sedikit menghela nafas.
"Sama seperti ayahnya, Dosen anti dianggap pemimpin oleh penduduk di sini. Beliau dihormati, beliau diagungkan. Tapi sedikit berbeda dengan ayah dan kakaknya. Beliau menggabungkan kedua cara mereka, Dosen Anti tempat menjaga tempat ini tetap tersembunyi tapi Beliau tidak membiarkan penduduk di sini bodoh. Walau orang-orang di sini tidak pernah secara resmi tercatat sebagai warga di Negeri ini, bahkan tempat ini rasanya sudah dianggap mati. Namun dosen anti selalu membawa anak-anak di sini yang dianggapnya berpotensi dan memiliki semangat untuk mengenyam pendidikan di kota besar. Entah itu di Jakarta, Jogja, Surabaya, Semarang. Tidak sedikit anak-anak dari sini yang saat ini memiliki posisi penting di berbagai instansi Pemerintahan dan itu pula yang membuat tempat ini tetap aman, karena itu adalah permintaan dari Dewanya mereka, kasarnya."
"Terus sekarang berarti Tante yang gantiin Dosen Tante di sini?"
"Haaahhh…" Tante Elsa menghembuskan nafasnya matanya jauh menerawang. "Tidak seharusnya jika dia masih ada…"
"Dia siapa?" Sambar gue.
"Seorang rekan Tante. Temen kuliah Tante dulu. Masih saudara sama Mbak Tati… yah Mbak yaa, saudara jauh." Tante Elsa mengalihkan pandang ke arah Mbak Tati dan Mbak Tati terlihat menganggukan kepala dengan sedikit tersenyum lalu memberikan sebuah respon. "Tuh sepupu Mbak Tati katanya. Cuma sepupu jauh." Lanjut Tante Elsa menerjemahkan apa yang diutarakan Mbak Tati. "Dia anak kesayangannya dosen Tante. Dia yang paling dipercaya oleh Dosennya Tante. Bisa dibilang kalau bukan karena dia rasanya Tante gak mungkin juga bisa sedeket itu sama Dosen Tante. Sayangnya dia meninggalkan kami terlebih dahulu karena sebuah penyakit yang dideritanya." Lanjut Tante Elsa sedikit lirih.
"..." Gue diam mencoba meresapi apa yang mungkin dirasakan Tante Elsa sambil terus memijat kakinya.
"Tapi anti yakin, dosen anti bakalan seneng nanti, ngeliat kamu! Karena dia mirip banget sama kamu. Songong-songongnya, sombong-sombongnya, tengil-tengulnya. Kamu sama dia bener-bener mirip mungkin bedanya dia lebih matang enggak kaya kamu yang sering asal main di tepi jurang!"
"..." Gue hanya menyunggingkan senyum dan sedikit menambah kekuatan pada jemari gue yang sedang memijit kaki Tante Elsa karena jujur gue agak tidak senang jika disama-samakan apalagi dibanding-bandingkan dengan orang lain.
"Auuuuu! Hahahah. Kesel dia disama-samain sama orang, hahaha." Ucap Tante Elsa. "Oh yaa nanti kamu Anti daftarin sekolah di… (Tante Elsa menyebut salah satu sekolah internasional yang ada di Jakarta), yah!"
"Haaah!? Enggak! Enggak mau!" Sahut gue.
"Lho kenapa? Menurut Anti itu sekolah paling bagus di Jakarta. Di Indonesia malah!"
"Enggak, deh. Tant! Bergaul sama anak-anak borju yang kalo sekolah naik Jazz, Lancer, BMW or Mercy maybe? Yang turun dari mobil terus palanya dongak padahal tuh mobil punya orang tuanya. Yang setiap weekend party-party…"
"Kamu minder? Gak perlu minder, Widi! Kamu mau apa? BMW? Apapun Anti bakal kasih. Tenang! Anti juga gak akan biarin ponakan Aunty kalah tongkrongan sama yang lain." Sambar Tante Elsa.
"Minder? Maap gak ada duh! Widi cuma males Tant sama pergaulan kek begitu. Sumpah! Gak nyaman dan bukan Aku bangettt…" Gue melirikan bola mata gue kesegala arah.
"Hahaha, apah sih ishh, jelek kamu tuh!" Sambar Tante Elsa.
"Serius, Tant! Enggak ada hal yang menarik yang bisa aku tulis nantinya kalo aku sekolah di sana. Semisal di masa depan nanti Temen Widi sukses, famous as a rich man. Jadi orang kasarnya! So what! Itu gak akan ada menariknya karena emang dari biyung atau bahkan dari buyutnya dia udah kaya udah sukses udah famous. Lain hal kalo temen Widi dulunya gembel pas dia dewasa dia berubah jadi orang, pasti bakal ada ceritanya, asem dulu tuh orang ngegembel bareng gua. Kan gitu kasarnya, Tant."
"Kayanya ada yang salah sama mindset kamu, deh. Wid! Kenapa harus temen kamu. Kenapa engga kamu yang creating your own success story? Kenapa mesti kamu bangga sama kesuksesan orang? Kenapa engga kamu bercita-cita kamu yang sukses bukan orang lain? Aneh!"
"Tant, orang biasa pasti bakal kagum sama kisah Soekarno, bakal gedek sama Semaun, dan pasti enggak habis pikir sama Kartosuwiryo. Tapi orang yang paham pasti bakal kagum bukan sama tiga nama itu tapi bakal kagum sama satu nama, Umar Said!"
"Tjokroaminoto" Sambung Tante Elsa.
"Yes. Aku gak pernah berniat dan enggak ada cita-cita dapetin exposure dari banyak orang dalam hidup aku. Sekarang atau nanti. Aku sadar aku sedikit narsis tapi narsis aku bukan aku tunjukin buat semua orang. Sama kaya dosen Tante, mungkin saat ini semua perhatian tertuju sama Tante. Tapi buat orang-orang paham, mereka pasti ngerti kalau yang hebat bukan tante tapi orang yang udah ngasih exposure sebegitu banyaknya ke arah Tante. Yaa… simplenya aku gak mau sukses dan terkenal sebagai Aktor film tapi aku pengen dipuja sebagai sutradara."
Tante Elsa langsung mengangkat kakinya, melepasnya dari tangan gue dan langsung mendekap memeluk gue. Dalam dekapannya gue merasakan air mata Tante Elsa jatuh di belakang pundak gue. "Maafin Tante selama ini engga pernah ada buat kamu. Maafin Tante terlalu egois mentingin diri sendiri dibangin keponakan Tante yang harusnya Tante jagain semenjak kamu ditinggal orang tua kamu. Anti bangga punya ponakan secerdas kamu. Tapi disatu sisi Anti malu karena pasti apa yang ada di dalam diri kamu saat ini terbentuk karena kerasnya hidup kamu sebelumnya. Anti gak bisa bayangin sekeras apa, tapi Anti yakin itu sangat sangat keras. Sekarang Anti bingung harus bangga atau menyesal."
…
Sampai saat ini bahkan diri ini tidak pernah bisa menjawab pertanyaan semacam ini; apakah semua ini harus dibanggakan atau sesuatu yang seharusnya disesali.
Tapi semua sudah terjadi bukan? Bahkan hingga di titik ini.
Sampai saat ini bahkan diri ini tidak pernah bisa menjawab pertanyaan semacam ini; apakah semua ini harus dibanggakan atau sesuatu yang seharusnya disesali.
Tapi semua sudah terjadi bukan? Bahkan hingga di titik ini.
joyanwoto dan 27 lainnya memberi reputasi
28
Tutup
