- Beranda
- Stories from the Heart
AKU dan MEREKA
...
TS
okushi
AKU dan MEREKA
Gerimis ringan bertebaran menyambut malam dikala sore itu, awan mendung yang sedari pagi menggumpal, seakan malas beranjak dari posisi tidurnya. Sayup-sayup telinga ini mendengar lantunan Shalawat Tarhim (doa-doa sebelum adzan di kumandangkan) dari masjid yang berada di RW sebelah, mengingatkan waktu Sholat Maghrib akan segera tiba.
"Bagaimana ini pak, sudah 3 minggu demamnya belum juga turun, obat dari dokter yang kesekian kalinya juga sudah hampir habis, hanya sisa untuk diminumkan malam ini dan besok saja", ucap wanita muda itu, yang sedang memeluk seorang anak dalam gendongannya.
"Iya ya bu, padahal dokter bilang demam biasa saja, semua normal, tidak ada gejala DBD, THYPUS atau penyebab yang lain", sahut suaminya.
"Salah diagnosa palingan dokternya", dengan nada skeptis salah satu pria yang lebih muda dari mereka menyela pembicaraan.
"Ahh... Ga mungkin, sudah kita check dengan dokter yang berbeda, diagnosa dari mereka sama persis. Janggal rasanya kalau mereka salah diagnosa, mengingat mereka juga dokter senior dan langganan keluarga kita. Apalagi data dari CT Scan juga normal-normal saja", tepis bapak dari anak itu.
"Trus anak ini gimana, umurnya masih 5 tahun loh, kalau panasnya ga turun bisa-bisa lewat dia", celetuk pria itu lagi.
"Husshh... Antok..!! Jangan asal kalo ngomong, lebih baik kamu diam dulu daripada memperkeruh keadaan", sanggah bapak dari anak kecil itu dengan suara rendah, dan setengah tegas setelah melihat istrinya meneteskan air mata mendengar perkataan Antok.
Ya, Antok namanya, teman bapak dari anak yang sedang sakit itu dan sudah mereka anggap sebagai keluarga, seperti adik mereka sendiri. Sebenarnya dia sangat baik, tingkah lakunya yang konyol saat bermain dengan anak mereka, bahkan ikut merawat juga sangat mencerminkan kasih sayang nya, pun saat bersama dengan keluarga yang lain. Memang cara bicaranya yang kadang tak terkontrol dan terkesan "asal" kalau mengemukakan pendapat, menjadi nilai minus dan secara otomatis langsung menutupi semua kebaikannya.
Ibu muda itu terus memeluk erat sembari membenamkan wajahnya ke dada mungil anak kecil yang sedang terkulai lemas itu, uraian air mata yang mambanjiri setengah baju anaknya mencerminkan kekhawatiran dan kesedihan yang teramat sangat dalam. Dengan lembut suaminya menenangkan serta mengingatkan untuk terus berdoa kepada Tuhan, agar anak itu diberikan kesehatan dan semua kembali normal dan berjalan seperti sedia kala.
"Sabar bu, kita terus berdoa dan ikhtiar ya, besok kalau obatnya sudah habis kita periksakan lagi ke dokter", suaminya mencoba menenangkan.
"Mau ke dokter yang mana lagi pak..?? Kita sudah coba semua dokter umum dan spesialis, dari yang pribadi juga yang di rumah sakit, semua diagnosanya sama pak. Bahkan sudah 2 kali CT Scan juga hasilnya normal. Anak kita sakit apa pak..??", keluh istrinya dengan sesekali menyeka mata.
"Ke dukun udah coba mbak..?? siapa tau kiriman...", ketus Antok lagi.
"Stop tok, diam kamu..!!", potong si bapak setengah membentak.
"Sudahlah pak... Antok mungkin benar, apa salahnya semua kita coba, boleh ya pak...", mohon istrinya memelas.
Ditengah kebingungan dan ketidakpastian diantara mereka, tiba-tiba anak kecil itu berkata dengan suara lirih dan parau.
"Nenek..."
Mendengar itu, seakan dikomando mereka bertiga langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar, selang beberapa detik menamatkan pandangan tapi tidak ada siapapun disana, mereka mulai saling bertatapan sembari mengernyitkan dahi. Antok sedikit mengangkat pundak menegaskan tidak tahu dan memastikan tidak ada siapa-siapa disana.
"Nenek masih dalam perjalanan pulang dari luar kota sayang, besok baru sampai. Adik sudah kangen nenek ya..??" dengan lembut ibunya menenangkan sembari mengelus rambut anak itu yang mulai basah karna keringat.
"Iya sayang, nenek sudah bawain oleh-oleh mainan kesu......"
"Dalam lemari..."
Belum selesai si bapak bicara, tiba-tiba anak itu memotong dengan suara lirihnya.
Seketika mereka terdiam saling pandang dan kebingungan dengan perkataan anak itu.
Dengan tetap tenang dan mencoba keras untuk berpikir positif walaupun seluruh bulu kuduknya sudah menegang, bapak menanyakan maksud dari perkataan anaknya dengan pelan, "Dalam lemari kenapa dik..??"
"Neneknya duduk di dalam lemari..."
Dengan aba-aba dari bapak, wanita itu sigap membawa anaknya menjauh dan berjalan cepat keluar dari kamar tidur.
Kini tinggal bapak yang masih berada didalam kamar ditemani oleh Antok, terlihat jelas ketakutan dari raut muka mereka berdua saat menyiapkan nyali. Dengan saling melempar anggukan aba-aba, mereka mulai memberanikan diri dan melangkahkan kaki menuju lemari.
Bapak: "Buka pintu lemarinya, Tok"
Antok: "Kamu saja mas"
Bapak: "Buka saja, jangan takut, aku dibelakangmu"
Antok: "Tuker tempat aja lahh kita"
Bapak: "Sudahlahh buka saja, ini lemari kecil, ga mungkin ada orang didalem juga"
Antok: "Yang aku takutin malah yang bukan orang bos"
Suasana sunyi dan keringat dingin yang bercucuran membuat malam itu terasa mencekam, lama mereka menumbuhkan nyali hanya untuk membuka sebuah lemari kain kecil yang kusam.
Lemari itu sendiri berukuran sebesar minibar (kulkas kecil yang umumnya ada di dalam kamar hotel bintang 4), full kain, dan pintunya memakai resleting.
Saat keberanian mulai tumbuh, sang bapak akhirnya maju dan berdiri di depan pintu lemari untuk membukanya. Dengan ancang-ancang penuh keyakinan, dia memberanikan diri memegang ujung resleting dan siap membukanya.
Antok: "Hati-hati mas"
Bapak: "Iya"
Antok: "Aku pergi ambil sapu dulu mas"
Bapak: "Jangan macam-macam kamu, diem sini temenin aku"
Antok: "Kita ga punya senjata mas, siapa tau ada ular keluar dari sana. Paling ga kita pegang pemukul"
Bapak: "Jangan ngaco, disini ga ada ular. Udah ga ada waktu, jangan berisik, berdoa aja semoga ga ada apa-apa"
Antok: "Aku takut mas"
Bapak: "Udah tua masih aja penakut, malu sama umur. Diem, kalao ngomong lagi aku suruh kamu buka lemarinya nihh"
Dengan eratnya Antok berpegangan kerah baju belakang bapak sampai leher bapak agak tercekik.
Bapak: "Lepaskan tanganmu Antok, leherku kamu tercekik"
Antok: "maaf mas ga sengaja"
Bapak: "Bantu doa Tok, kita buka sekarang"
Antok: "Baik mas"
Dan mereka mulai melafadzkan surat-surat pendek yang mereka hafal sembari membuka resleting dari lemari kain tersebut secara perlahan. Saat lemari mulai terbuka, semakin bercucuran keringat dingin yang keluar dari pori-pori kepala, semakin cepat laju jantung memacu, sampai lutut kaki sudah tak tahan lagi menopang tubuh mereka. Mata mereka setengah melotot tak percaya dengan apa yang saat itu mereka lihat, mulut mereka terdiam kaku membisu dan tak sanggup berkata-kata, bersuara pun tak mampu...
(BERSAMBUNG...)
Next...
"Tanpa ekspresi, dia tetap hening duduk di dalam lemari, bahkan menoleh pun tidak"
List:
- Episode 2
- Episode 3
- Episode 4 (Tamat)
"Bagaimana ini pak, sudah 3 minggu demamnya belum juga turun, obat dari dokter yang kesekian kalinya juga sudah hampir habis, hanya sisa untuk diminumkan malam ini dan besok saja", ucap wanita muda itu, yang sedang memeluk seorang anak dalam gendongannya.
"Iya ya bu, padahal dokter bilang demam biasa saja, semua normal, tidak ada gejala DBD, THYPUS atau penyebab yang lain", sahut suaminya.
"Salah diagnosa palingan dokternya", dengan nada skeptis salah satu pria yang lebih muda dari mereka menyela pembicaraan.
"Ahh... Ga mungkin, sudah kita check dengan dokter yang berbeda, diagnosa dari mereka sama persis. Janggal rasanya kalau mereka salah diagnosa, mengingat mereka juga dokter senior dan langganan keluarga kita. Apalagi data dari CT Scan juga normal-normal saja", tepis bapak dari anak itu.
"Trus anak ini gimana, umurnya masih 5 tahun loh, kalau panasnya ga turun bisa-bisa lewat dia", celetuk pria itu lagi.
"Husshh... Antok..!! Jangan asal kalo ngomong, lebih baik kamu diam dulu daripada memperkeruh keadaan", sanggah bapak dari anak kecil itu dengan suara rendah, dan setengah tegas setelah melihat istrinya meneteskan air mata mendengar perkataan Antok.
Ya, Antok namanya, teman bapak dari anak yang sedang sakit itu dan sudah mereka anggap sebagai keluarga, seperti adik mereka sendiri. Sebenarnya dia sangat baik, tingkah lakunya yang konyol saat bermain dengan anak mereka, bahkan ikut merawat juga sangat mencerminkan kasih sayang nya, pun saat bersama dengan keluarga yang lain. Memang cara bicaranya yang kadang tak terkontrol dan terkesan "asal" kalau mengemukakan pendapat, menjadi nilai minus dan secara otomatis langsung menutupi semua kebaikannya.
Ibu muda itu terus memeluk erat sembari membenamkan wajahnya ke dada mungil anak kecil yang sedang terkulai lemas itu, uraian air mata yang mambanjiri setengah baju anaknya mencerminkan kekhawatiran dan kesedihan yang teramat sangat dalam. Dengan lembut suaminya menenangkan serta mengingatkan untuk terus berdoa kepada Tuhan, agar anak itu diberikan kesehatan dan semua kembali normal dan berjalan seperti sedia kala.
"Sabar bu, kita terus berdoa dan ikhtiar ya, besok kalau obatnya sudah habis kita periksakan lagi ke dokter", suaminya mencoba menenangkan.
"Mau ke dokter yang mana lagi pak..?? Kita sudah coba semua dokter umum dan spesialis, dari yang pribadi juga yang di rumah sakit, semua diagnosanya sama pak. Bahkan sudah 2 kali CT Scan juga hasilnya normal. Anak kita sakit apa pak..??", keluh istrinya dengan sesekali menyeka mata.
"Ke dukun udah coba mbak..?? siapa tau kiriman...", ketus Antok lagi.
"Stop tok, diam kamu..!!", potong si bapak setengah membentak.
"Sudahlah pak... Antok mungkin benar, apa salahnya semua kita coba, boleh ya pak...", mohon istrinya memelas.
Ditengah kebingungan dan ketidakpastian diantara mereka, tiba-tiba anak kecil itu berkata dengan suara lirih dan parau.
"Nenek..."
Mendengar itu, seakan dikomando mereka bertiga langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar, selang beberapa detik menamatkan pandangan tapi tidak ada siapapun disana, mereka mulai saling bertatapan sembari mengernyitkan dahi. Antok sedikit mengangkat pundak menegaskan tidak tahu dan memastikan tidak ada siapa-siapa disana.
"Nenek masih dalam perjalanan pulang dari luar kota sayang, besok baru sampai. Adik sudah kangen nenek ya..??" dengan lembut ibunya menenangkan sembari mengelus rambut anak itu yang mulai basah karna keringat.
"Iya sayang, nenek sudah bawain oleh-oleh mainan kesu......"
"Dalam lemari..."
Belum selesai si bapak bicara, tiba-tiba anak itu memotong dengan suara lirihnya.
Seketika mereka terdiam saling pandang dan kebingungan dengan perkataan anak itu.
Dengan tetap tenang dan mencoba keras untuk berpikir positif walaupun seluruh bulu kuduknya sudah menegang, bapak menanyakan maksud dari perkataan anaknya dengan pelan, "Dalam lemari kenapa dik..??"
"Neneknya duduk di dalam lemari..."
Dengan aba-aba dari bapak, wanita itu sigap membawa anaknya menjauh dan berjalan cepat keluar dari kamar tidur.
Kini tinggal bapak yang masih berada didalam kamar ditemani oleh Antok, terlihat jelas ketakutan dari raut muka mereka berdua saat menyiapkan nyali. Dengan saling melempar anggukan aba-aba, mereka mulai memberanikan diri dan melangkahkan kaki menuju lemari.
Bapak: "Buka pintu lemarinya, Tok"
Antok: "Kamu saja mas"
Bapak: "Buka saja, jangan takut, aku dibelakangmu"
Antok: "Tuker tempat aja lahh kita"
Bapak: "Sudahlahh buka saja, ini lemari kecil, ga mungkin ada orang didalem juga"
Antok: "Yang aku takutin malah yang bukan orang bos"
Suasana sunyi dan keringat dingin yang bercucuran membuat malam itu terasa mencekam, lama mereka menumbuhkan nyali hanya untuk membuka sebuah lemari kain kecil yang kusam.
Lemari itu sendiri berukuran sebesar minibar (kulkas kecil yang umumnya ada di dalam kamar hotel bintang 4), full kain, dan pintunya memakai resleting.
Saat keberanian mulai tumbuh, sang bapak akhirnya maju dan berdiri di depan pintu lemari untuk membukanya. Dengan ancang-ancang penuh keyakinan, dia memberanikan diri memegang ujung resleting dan siap membukanya.
Antok: "Hati-hati mas"
Bapak: "Iya"
Antok: "Aku pergi ambil sapu dulu mas"
Bapak: "Jangan macam-macam kamu, diem sini temenin aku"
Antok: "Kita ga punya senjata mas, siapa tau ada ular keluar dari sana. Paling ga kita pegang pemukul"
Bapak: "Jangan ngaco, disini ga ada ular. Udah ga ada waktu, jangan berisik, berdoa aja semoga ga ada apa-apa"
Antok: "Aku takut mas"
Bapak: "Udah tua masih aja penakut, malu sama umur. Diem, kalao ngomong lagi aku suruh kamu buka lemarinya nihh"
Dengan eratnya Antok berpegangan kerah baju belakang bapak sampai leher bapak agak tercekik.
Bapak: "Lepaskan tanganmu Antok, leherku kamu tercekik"
Antok: "maaf mas ga sengaja"
Bapak: "Bantu doa Tok, kita buka sekarang"
Antok: "Baik mas"
Dan mereka mulai melafadzkan surat-surat pendek yang mereka hafal sembari membuka resleting dari lemari kain tersebut secara perlahan. Saat lemari mulai terbuka, semakin bercucuran keringat dingin yang keluar dari pori-pori kepala, semakin cepat laju jantung memacu, sampai lutut kaki sudah tak tahan lagi menopang tubuh mereka. Mata mereka setengah melotot tak percaya dengan apa yang saat itu mereka lihat, mulut mereka terdiam kaku membisu dan tak sanggup berkata-kata, bersuara pun tak mampu...
(BERSAMBUNG...)
Next...
"Tanpa ekspresi, dia tetap hening duduk di dalam lemari, bahkan menoleh pun tidak"
List:
- Episode 2
- Episode 3
- Episode 4 (Tamat)
Diubah oleh okushi 11-07-2024 13:04
redrices dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.7K
70
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
okushi
#18
Episode 2
(Sebelumnya...)
Dengan eratnya Antok berpegangan kerah baju belakang bapak sampai leher bapak agak tercekik.
Bapak: "Lepaskan tanganmu Antok, leherku kamu cekik"
Antok: "maaf mas ga sengaja"
Bapak: "Bantu doa Tok, kita buka sekarang"
Antok: "Baik mas"
Dan mereka mulai melafadzkan surat-surat pendek yang mereka hafal sembari membuka resleting dari lemari kain tersebut secara perlahan. Saat lemari mulai terbuka, semakin bercucuran keringat dingin yang keluar dari pori-pori kepala, semakin cepat laju jantung memacu, sampai lutut kaki sudah tak tahan lagi menopang tubuh mereka. Mata mereka setengah melotot tak percaya dengan apa yang saat itu mereka lihat, mulut mereka terdiam kaku membisu dan tak sanggup berkata-kata, bersuara pun tak mampu...
----------------------------------------------------------------------------------------
"Cuma pakaian Tok", bisik bapak kepada Antok setengah tak percaya.
Saking penasarannya Antok merangsek kedepan dan langsung mengeluarkan semua pakaian yang ada didalam lemari itu, tak lupa juga aksinya memasukkan tangannya ke dalam lemari dan menggoyangkan kekiri dan ke kanan, bak seorang magician yang memberi tahu penonton bahwa tak ada benang/tali.
Bapak: "Hehhh..!!! Ngapain kamu obrak-abrik isi lemarinya..??"
Antok: "Siapa tau ada ular"
Bapak: "Ular-ular gigimu estafet..!! Masih aja ngebet ke ular"
Antok: "Ya siapa tau bos, kan ngeri klo tiba-tiba lompat ke kita"
Bapak: "Haduhhh... Disini ga ada ular. Jadi berantakan kan karna ulahmu"
Antok: "Tinggal setrika lagi aja juga beres bos"
Bapak: "Heleehh... Mulutmu gampangan, tapi syukurlah bukan seperti yang kita kira"
Antok: "Emang ngira nya apaan mas..??"
Bapak: "Nenek-nenek tadi bego..!!"
Antok: "Oh iya, hehehe... Aku sihh ga takut yang begituan, pikiranku takut ular aja sihh"
Bapak: "Jangan sombong, hati-hati mulutmu jaga... Udahlahh, beresin lagi baju-bajunya"
Antok: "Aku mas..??"
Bapak: "Iya lahh, kan kamu yang berantakin. Udah ya, aku mau liat anak dan istriku dulu"
Antok: "Jangan gitu lah mas, aku ikut"
Bapak: "Ogah..!! Ga ada apa-apa juga, katamu ga takut yang begituan. Beresin pokoknya"
Antok: "Serius mas, jangan becanda gitu lahh..??"
Bapak: "Beresin, titik."
Dan beranjak pergilah si bapak menuju istri juga anaknya yang masih demam.
"Bener-bener nihh ditinggal sendirian, mana malem ini sepi banget, dingin, jomblo, kamar serem, @$&^@%#*&^Y@!%%&*&*#&&.....", gumam Antok sambil kesel sendiri.
"Dia masih ada disana"
Seketika itu juga Antok langsung loncat dan lari mendengar suara yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
DUGG GDEBUGH..
Antok yang saking takutnya berlari sambil menutup matanya tak sengaja tersandung meja dan jatuh tersungkur.
"AMPUUNNN... AMPUUNNN... SAYA BELUM MAU MATI... AMPUUNNN...", teriak Antok sambil nangis.
"Aduuhh... kenapa kamu lari sambil merem Tok", meski parau dan lemah, suara nenek Parijah terdengar sangat lembut.
Nenek Parijah (kita panggil aja Nek Ijah ya, biar akrab, okesipp) adalah tetangga sebelah rumah yang sudah seperti saudara sendiri di keluarga ini, Nek Ijah ini sangat kenal erat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia sebelah (alam gaib, alam astral, alam arwah, alam samar, alam kabri, alam baka, alam malakut, alam kelanggengan, alam akhirat, alam mbah dukun, pokoknya semua tentang alam dia ngerti lahh...).
Oke lanjut...
Saat antok masih teriak-teriak sambil nangis, si bapak menghampirinya.
Bapak: "Hey bangun, ngapain kamu nangis dan teriak-teriak..??"
Antok: "AMPUUNNN... SUMPAH AMPUUNN...", masih takut membuka matanya.
Bapak: "Hey bangun, cengeng, ini aku"
Antok: "BENERAN GAK NIH..?? NTAR POCONG MALES AHH", tetap teriak dan nangis tidak mau membuka matanya.
Nek Ijah: "Sudah Tok ga apa-apa, ayo bangun, ini Nek ijah"
Antok: "AWAS NTAR KALO SETAN, AKU PINGSAN NIHH", dengan nada mengancam.
Ibu: "Ga apa-apa Tok, ini kita kok"
Antok: "Nahh klo ini aku tau, asli suara mbak nihh"
Bapak: "Sentimen... Emangnya suaraku kayak apa..??"
Antok: "Gendruwo"
Bapak: "Dasar kau..."
Nek ijah dan ibu pun tertawa mendengan perdebatan kecil bapak dan Antok. Tak berselang lama Antok pun membuka matanya dan duduk sambil memegangi lututnya yang tersandung meja tadi. Lukanya mulai bengkak dan lebam, wajah Antok meringis menahan rasa sakit. Nek Ijah pun mendekati dan mengulang kembali pertanyaannya...
Nek Ijah: "Kenapa kamu lari Tok..??"
Antok: "Nek Ijah sihh... Udah suasananya serem, ga ada permisi langsung maen suara aja. Kan kaget, udah gitu setengah mati lagi kagetnya"
Nek Ijah: "Hehehe... Iya maaf ya, Nek Ijah tadi cuma kasih tau aja biar kamu ga sembarangan lagi"
Tidak ada yang bisa emosi setelah lihat wajah Nek Ijah, perawakannya yang kalem, selalu tersenyum imut, tutur katanya lemah lembut, meskipun sudah terlihat keriput, tapi semua orang tetap salut. (Ahaayy)
Antok: "Ehh tunggu Nek, tadi yang bilang 'Dia masih disana' itu Nek Ijah..??"
Mendengar pertanyaan itu Nek Ijah hanya melemparkan senyuman.
Antok: "Jangan nyeremin gutu ahh Nek, becandanya gelap nihh Nek Ijah"
Bapak yang melihat Antok ketakutan puas tertawa cekikikan.
Ibu: "Iya Tok, tadi setelah mas kasih kode, saya langsung pergi ke rumah Nek Ijah untuk minta bantuan. Ternyata Nek Ijah sudah mengerti dan langsung menjelaskan semuanya. Pun saat mas nyusul kesana juga sudah dijelaskan semua. Intinya kami sudah tenang, Nek Ijah yang akan bantu selanjutnya"
Antok: "Maksudnya gimana..?? dijelaskan semua, kenapa aku ga dijelaskan juga..??"
Bapak: "Nanti saya jelaskan, dan kamu juga nanti tau kok. Untuk sementara biarkan Nek Ijah yang melanjutkan"
Antok: "Kok jadi maen rahasia-rahasia an gini sihh..?? Ehh btw, itu anak kok udah anteng, udah sembuh..?? Padahal tadi demamnya tinggi sekali, klo anak normal sepertinya udah meninggal dengan kondisi seperti tadi. Dia normal kan..??"
Bapak: "Normal kok, semua normal. Tunda pertanyaanmu dulu, nanti aku jelasin"
Setelah Antok sedikit tenang, Nek Ijah meminta mereka semua memejamkan mata dan mengikuti semua syarat-syarat yang sudah beliau katakan sebelumnya. Jelas Antok yang masih dibalut rasa penasaran yang sangat besar tidak diam saja dan semerta-merta mengikuti arahan Nek Ijah, tetap saja dia menanyakan maksud dari Nek Ijah tersebut.
Antok: "Tunggu dulu, anak ini kok ga tutup mata..??
Nek ijah: "Tidak perlu Tok, dia sudah bisa"
Antok: "Apanya yang sudah bisa..?? Sudah bisa apa ini..?? Apa yang akan kita lakukan dan apa yang akan terjadi selanjutnya..?? Pokoknya aku ga mau aneh-aneh, aku ga mau hal-hal buruk terjadi nantinya"
Nek ijah: "Tidak ada hal buruk Tok, cuman mau kasih tau saja alam sebelah"
Antok: "NOOOOOOO..!!! JELAS NOOOO SAYA..!!! ENGGAK..!!! Pokoknya ga mau ikut-ikutan, sumpah aku takut sama hal begituan, ga maen-maen lagi dahh. Jujur takut, udah jujur nihh aku, sumpah kapok ga mau boong lagi, aku takut hal begituan. Dahlahh aku keluar aja dulu, ga mau ikutan sumpah. Hiiiiii"
Antok buru-buru keluar rumah dengan tangan memegang bahunya pertandan dia ketakutan dan ngeri.
Bapak: "Ya sudah Nek Ijah, ga apa-apa, kita saja"
Ibu: "Iya Nek Ijah, ga apa-apa, kita saja"
Nek Ijah: "Iya nak, baiklah kalau begitu. Ayo pejamkan kedua mata, kita mulai..."
Tidak lama setelah memejamkan mata, dan entah mantra apa yang dirapalkan oleh Nek Ijah, kembali mereka diminta untuk membuka mata dan diajak masuk ke dalam kamar. Namun sebelumnya Nek ijah telah mewanti-wanti (memberi tau dengan sangat) bapak dan ibu untuk tidak sedetikpun melihat ataupun mencuri-curi lirikan ke arah lemari kain kecil saat masuk ke dalam kamar, peringatan tersebut hanya ditujukan untuk bapak dan ibu, tidak untuk si adik kecil, dan hal itu benar-benar dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh bapak dan ibu.
Setelah berada di dalam kamar dan hanya berjarak 2 meter dari lemari kecil itu, mereka diharuskan berdiri membelakangi nya.
"Nenek.."
Mendengar anak kecilnya menyebut kata itu lagi, mulai meneteslah air mata bapak dan ibu.
"Berbaliklah, tidak apa-apa", kata Nek Ijah
Bapak dan ibu mulai berbalik perlahan dan mengarahkan pandangan mereka ke arah lemari kecil itu. Tampak keduanya mulai sembab manahan air mata agar tidak terjatuh, menahan tangis dengan sekuat tenaga, menguatkan bathin agar tak terluap kesedihan yang telah terkubur dengan apa yang mereka pandang saat ini.
"Mbah Mah"
Dengan suara berat, lirih, parau, dan bersamaan mereka menyebut nama itu, seketika isak tangis pecah di dalam kamar, tak terbendung lagi, kerinduan dan kenangan bersama beliau dulu seolah-olah langsung terbuka lebar dipikiran mereka berdua. Sangat jelas, gamblang, terang, kepingan-kepingan cerita lama berbaris dan menyatu dengan sempurna.
"Beliau mampir hanya ingin lihat cicitnya nak", suara Nek Ijah yang lembut menenangkan tangisan mereka.
Nurjamah, itulah nama asli beliau, lebih dikenal dengan panggilan Mbah Mah, buyut dari anak kecil itu, nenek dari bapak. Beliau sangat baik, selalu ramah dengan semua orang, sangat tulus dan apa adanya. Sempat bersikeras untuk melihat cicitnya lahir sebelum beliau meninggal, namun keinginannya tersebut tidak terlaksana. Mbah Mah meninggal pada umur 79 tahun, tepat 1 bulan sebelum kelahiran cicitnya. Kesedihan yang teramat sangat melingkupi seluruh keluarga besar, semua merasa kecewa dan prihatin atas takdir waktu meninggalnya Mbah Mah saat itu. Mengapa takdir tidak mengabulkan 1 permohonan beliau, seluruh hidup beliau telah diabdikan hanya untuk kebaikan, bahkan tidak sepatahkatapun, sedetikpun, umpatan ataupun tingkahlaku buruk yang terlontar dari mulut atau gestur tubuh beliau.
"Mbah Mah sugeng rawuh (selamat datang)", sapa bapak kepada beliau.
Tanpa ekspresi, dia tetap hening duduk di dalam lemari, bahkan menoleh pun tidak.
"Sugeng rawuh (selamat datang) Mbah Mah", sapa ibu juga kepada beliau.
Tetap tidak expresi yang tercipta, tidak ada sahutan yang terdengar, tetap menunduk seakan malu menatap.
"Memang begitu nak, tidak apa-apa, keinginan beliau hanya untuk melihat cicitnya saja", jelas Nek Ijah kepada bapak dan ibu.
"Nenek mau kemana..??", "Kasihan nenek", "Iya", "Sendiri", "Jauh", ......
Tiba-tiba anak kecil itu bergumam sendiri seperti mengobrol, tapi entah dengan siapa. Bapak dan ibu sesaat dibuat bingung dengan kelakuan anak kecil itu, mereka berdua sadar setelah Nek Ijah memberitahu keduanya. Di lain sisi, keberadaan arwah Mbah Mah berangsur-angsur memudar dan menghilang.
"Sepertinya sampai segini saja waktu yang kalian miliki nak", tutur Nek Ijah kepada mereka berdua.
"Baiklah Nek Ijah, kami sudah ikhlas dengan apa yang terjadi, dengan apa yang berlalu, dengan apa yang telah digariskan", bijak bapak menjawab perkataan Nek Ijah.
"Da da nek...", kata anak kecil itu lagi
"Da da Mbah Mah", bapak dan ibu juga serentak mengikuti anak kecil itu, menandakan sudah waktunya menyampaikan salam perpisahan untuk yang terakhir kalinya.
"UDAH SELESAI BELOOOMMM..?? CEPETAN DONK, BANYAK NYAMUK NIIHHH..!!!", teriakan Antok terdengar dari luar rumah.
(Bersambung...)
Next...
"Hujan telah reda, angin pun tak berhembus lagi, namun Beringin itu terus bergoyang dengan sendirinya"
(Sebelumnya...)
Dengan eratnya Antok berpegangan kerah baju belakang bapak sampai leher bapak agak tercekik.
Bapak: "Lepaskan tanganmu Antok, leherku kamu cekik"
Antok: "maaf mas ga sengaja"
Bapak: "Bantu doa Tok, kita buka sekarang"
Antok: "Baik mas"
Dan mereka mulai melafadzkan surat-surat pendek yang mereka hafal sembari membuka resleting dari lemari kain tersebut secara perlahan. Saat lemari mulai terbuka, semakin bercucuran keringat dingin yang keluar dari pori-pori kepala, semakin cepat laju jantung memacu, sampai lutut kaki sudah tak tahan lagi menopang tubuh mereka. Mata mereka setengah melotot tak percaya dengan apa yang saat itu mereka lihat, mulut mereka terdiam kaku membisu dan tak sanggup berkata-kata, bersuara pun tak mampu...
----------------------------------------------------------------------------------------
"Cuma pakaian Tok", bisik bapak kepada Antok setengah tak percaya.
Saking penasarannya Antok merangsek kedepan dan langsung mengeluarkan semua pakaian yang ada didalam lemari itu, tak lupa juga aksinya memasukkan tangannya ke dalam lemari dan menggoyangkan kekiri dan ke kanan, bak seorang magician yang memberi tahu penonton bahwa tak ada benang/tali.
Bapak: "Hehhh..!!! Ngapain kamu obrak-abrik isi lemarinya..??"
Antok: "Siapa tau ada ular"
Bapak: "Ular-ular gigimu estafet..!! Masih aja ngebet ke ular"
Antok: "Ya siapa tau bos, kan ngeri klo tiba-tiba lompat ke kita"
Bapak: "Haduhhh... Disini ga ada ular. Jadi berantakan kan karna ulahmu"
Antok: "Tinggal setrika lagi aja juga beres bos"
Bapak: "Heleehh... Mulutmu gampangan, tapi syukurlah bukan seperti yang kita kira"
Antok: "Emang ngira nya apaan mas..??"
Bapak: "Nenek-nenek tadi bego..!!"
Antok: "Oh iya, hehehe... Aku sihh ga takut yang begituan, pikiranku takut ular aja sihh"
Bapak: "Jangan sombong, hati-hati mulutmu jaga... Udahlahh, beresin lagi baju-bajunya"
Antok: "Aku mas..??"
Bapak: "Iya lahh, kan kamu yang berantakin. Udah ya, aku mau liat anak dan istriku dulu"
Antok: "Jangan gitu lah mas, aku ikut"
Bapak: "Ogah..!! Ga ada apa-apa juga, katamu ga takut yang begituan. Beresin pokoknya"
Antok: "Serius mas, jangan becanda gitu lahh..??"
Bapak: "Beresin, titik."
Dan beranjak pergilah si bapak menuju istri juga anaknya yang masih demam.
"Bener-bener nihh ditinggal sendirian, mana malem ini sepi banget, dingin, jomblo, kamar serem, @$&^@%#*&^Y@!%%&*&*#&&.....", gumam Antok sambil kesel sendiri.
"Dia masih ada disana"
Seketika itu juga Antok langsung loncat dan lari mendengar suara yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
DUGG GDEBUGH..
Antok yang saking takutnya berlari sambil menutup matanya tak sengaja tersandung meja dan jatuh tersungkur.
"AMPUUNNN... AMPUUNNN... SAYA BELUM MAU MATI... AMPUUNNN...", teriak Antok sambil nangis.
"Aduuhh... kenapa kamu lari sambil merem Tok", meski parau dan lemah, suara nenek Parijah terdengar sangat lembut.
Nenek Parijah (kita panggil aja Nek Ijah ya, biar akrab, okesipp) adalah tetangga sebelah rumah yang sudah seperti saudara sendiri di keluarga ini, Nek Ijah ini sangat kenal erat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia sebelah (alam gaib, alam astral, alam arwah, alam samar, alam kabri, alam baka, alam malakut, alam kelanggengan, alam akhirat, alam mbah dukun, pokoknya semua tentang alam dia ngerti lahh...).
Oke lanjut...
Saat antok masih teriak-teriak sambil nangis, si bapak menghampirinya.
Bapak: "Hey bangun, ngapain kamu nangis dan teriak-teriak..??"
Antok: "AMPUUNNN... SUMPAH AMPUUNN...", masih takut membuka matanya.
Bapak: "Hey bangun, cengeng, ini aku"
Antok: "BENERAN GAK NIH..?? NTAR POCONG MALES AHH", tetap teriak dan nangis tidak mau membuka matanya.
Nek Ijah: "Sudah Tok ga apa-apa, ayo bangun, ini Nek ijah"
Antok: "AWAS NTAR KALO SETAN, AKU PINGSAN NIHH", dengan nada mengancam.
Ibu: "Ga apa-apa Tok, ini kita kok"
Antok: "Nahh klo ini aku tau, asli suara mbak nihh"
Bapak: "Sentimen... Emangnya suaraku kayak apa..??"
Antok: "Gendruwo"
Bapak: "Dasar kau..."
Nek ijah dan ibu pun tertawa mendengan perdebatan kecil bapak dan Antok. Tak berselang lama Antok pun membuka matanya dan duduk sambil memegangi lututnya yang tersandung meja tadi. Lukanya mulai bengkak dan lebam, wajah Antok meringis menahan rasa sakit. Nek Ijah pun mendekati dan mengulang kembali pertanyaannya...
Nek Ijah: "Kenapa kamu lari Tok..??"
Antok: "Nek Ijah sihh... Udah suasananya serem, ga ada permisi langsung maen suara aja. Kan kaget, udah gitu setengah mati lagi kagetnya"
Nek Ijah: "Hehehe... Iya maaf ya, Nek Ijah tadi cuma kasih tau aja biar kamu ga sembarangan lagi"
Tidak ada yang bisa emosi setelah lihat wajah Nek Ijah, perawakannya yang kalem, selalu tersenyum imut, tutur katanya lemah lembut, meskipun sudah terlihat keriput, tapi semua orang tetap salut. (Ahaayy)
Antok: "Ehh tunggu Nek, tadi yang bilang 'Dia masih disana' itu Nek Ijah..??"
Mendengar pertanyaan itu Nek Ijah hanya melemparkan senyuman.
Antok: "Jangan nyeremin gutu ahh Nek, becandanya gelap nihh Nek Ijah"
Bapak yang melihat Antok ketakutan puas tertawa cekikikan.
Ibu: "Iya Tok, tadi setelah mas kasih kode, saya langsung pergi ke rumah Nek Ijah untuk minta bantuan. Ternyata Nek Ijah sudah mengerti dan langsung menjelaskan semuanya. Pun saat mas nyusul kesana juga sudah dijelaskan semua. Intinya kami sudah tenang, Nek Ijah yang akan bantu selanjutnya"
Antok: "Maksudnya gimana..?? dijelaskan semua, kenapa aku ga dijelaskan juga..??"
Bapak: "Nanti saya jelaskan, dan kamu juga nanti tau kok. Untuk sementara biarkan Nek Ijah yang melanjutkan"
Antok: "Kok jadi maen rahasia-rahasia an gini sihh..?? Ehh btw, itu anak kok udah anteng, udah sembuh..?? Padahal tadi demamnya tinggi sekali, klo anak normal sepertinya udah meninggal dengan kondisi seperti tadi. Dia normal kan..??"
Bapak: "Normal kok, semua normal. Tunda pertanyaanmu dulu, nanti aku jelasin"
Setelah Antok sedikit tenang, Nek Ijah meminta mereka semua memejamkan mata dan mengikuti semua syarat-syarat yang sudah beliau katakan sebelumnya. Jelas Antok yang masih dibalut rasa penasaran yang sangat besar tidak diam saja dan semerta-merta mengikuti arahan Nek Ijah, tetap saja dia menanyakan maksud dari Nek Ijah tersebut.
Antok: "Tunggu dulu, anak ini kok ga tutup mata..??
Nek ijah: "Tidak perlu Tok, dia sudah bisa"
Antok: "Apanya yang sudah bisa..?? Sudah bisa apa ini..?? Apa yang akan kita lakukan dan apa yang akan terjadi selanjutnya..?? Pokoknya aku ga mau aneh-aneh, aku ga mau hal-hal buruk terjadi nantinya"
Nek ijah: "Tidak ada hal buruk Tok, cuman mau kasih tau saja alam sebelah"
Antok: "NOOOOOOO..!!! JELAS NOOOO SAYA..!!! ENGGAK..!!! Pokoknya ga mau ikut-ikutan, sumpah aku takut sama hal begituan, ga maen-maen lagi dahh. Jujur takut, udah jujur nihh aku, sumpah kapok ga mau boong lagi, aku takut hal begituan. Dahlahh aku keluar aja dulu, ga mau ikutan sumpah. Hiiiiii"
Antok buru-buru keluar rumah dengan tangan memegang bahunya pertandan dia ketakutan dan ngeri.
Bapak: "Ya sudah Nek Ijah, ga apa-apa, kita saja"
Ibu: "Iya Nek Ijah, ga apa-apa, kita saja"
Nek Ijah: "Iya nak, baiklah kalau begitu. Ayo pejamkan kedua mata, kita mulai..."
Tidak lama setelah memejamkan mata, dan entah mantra apa yang dirapalkan oleh Nek Ijah, kembali mereka diminta untuk membuka mata dan diajak masuk ke dalam kamar. Namun sebelumnya Nek ijah telah mewanti-wanti (memberi tau dengan sangat) bapak dan ibu untuk tidak sedetikpun melihat ataupun mencuri-curi lirikan ke arah lemari kain kecil saat masuk ke dalam kamar, peringatan tersebut hanya ditujukan untuk bapak dan ibu, tidak untuk si adik kecil, dan hal itu benar-benar dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh bapak dan ibu.
Setelah berada di dalam kamar dan hanya berjarak 2 meter dari lemari kecil itu, mereka diharuskan berdiri membelakangi nya.
"Nenek.."
Mendengar anak kecilnya menyebut kata itu lagi, mulai meneteslah air mata bapak dan ibu.
"Berbaliklah, tidak apa-apa", kata Nek Ijah
Bapak dan ibu mulai berbalik perlahan dan mengarahkan pandangan mereka ke arah lemari kecil itu. Tampak keduanya mulai sembab manahan air mata agar tidak terjatuh, menahan tangis dengan sekuat tenaga, menguatkan bathin agar tak terluap kesedihan yang telah terkubur dengan apa yang mereka pandang saat ini.
"Mbah Mah"
Dengan suara berat, lirih, parau, dan bersamaan mereka menyebut nama itu, seketika isak tangis pecah di dalam kamar, tak terbendung lagi, kerinduan dan kenangan bersama beliau dulu seolah-olah langsung terbuka lebar dipikiran mereka berdua. Sangat jelas, gamblang, terang, kepingan-kepingan cerita lama berbaris dan menyatu dengan sempurna.
"Beliau mampir hanya ingin lihat cicitnya nak", suara Nek Ijah yang lembut menenangkan tangisan mereka.
Nurjamah, itulah nama asli beliau, lebih dikenal dengan panggilan Mbah Mah, buyut dari anak kecil itu, nenek dari bapak. Beliau sangat baik, selalu ramah dengan semua orang, sangat tulus dan apa adanya. Sempat bersikeras untuk melihat cicitnya lahir sebelum beliau meninggal, namun keinginannya tersebut tidak terlaksana. Mbah Mah meninggal pada umur 79 tahun, tepat 1 bulan sebelum kelahiran cicitnya. Kesedihan yang teramat sangat melingkupi seluruh keluarga besar, semua merasa kecewa dan prihatin atas takdir waktu meninggalnya Mbah Mah saat itu. Mengapa takdir tidak mengabulkan 1 permohonan beliau, seluruh hidup beliau telah diabdikan hanya untuk kebaikan, bahkan tidak sepatahkatapun, sedetikpun, umpatan ataupun tingkahlaku buruk yang terlontar dari mulut atau gestur tubuh beliau.
"Mbah Mah sugeng rawuh (selamat datang)", sapa bapak kepada beliau.
Tanpa ekspresi, dia tetap hening duduk di dalam lemari, bahkan menoleh pun tidak.
"Sugeng rawuh (selamat datang) Mbah Mah", sapa ibu juga kepada beliau.
Tetap tidak expresi yang tercipta, tidak ada sahutan yang terdengar, tetap menunduk seakan malu menatap.
"Memang begitu nak, tidak apa-apa, keinginan beliau hanya untuk melihat cicitnya saja", jelas Nek Ijah kepada bapak dan ibu.
"Nenek mau kemana..??", "Kasihan nenek", "Iya", "Sendiri", "Jauh", ......
Tiba-tiba anak kecil itu bergumam sendiri seperti mengobrol, tapi entah dengan siapa. Bapak dan ibu sesaat dibuat bingung dengan kelakuan anak kecil itu, mereka berdua sadar setelah Nek Ijah memberitahu keduanya. Di lain sisi, keberadaan arwah Mbah Mah berangsur-angsur memudar dan menghilang.
"Sepertinya sampai segini saja waktu yang kalian miliki nak", tutur Nek Ijah kepada mereka berdua.
"Baiklah Nek Ijah, kami sudah ikhlas dengan apa yang terjadi, dengan apa yang berlalu, dengan apa yang telah digariskan", bijak bapak menjawab perkataan Nek Ijah.
"Da da nek...", kata anak kecil itu lagi
"Da da Mbah Mah", bapak dan ibu juga serentak mengikuti anak kecil itu, menandakan sudah waktunya menyampaikan salam perpisahan untuk yang terakhir kalinya.
"UDAH SELESAI BELOOOMMM..?? CEPETAN DONK, BANYAK NYAMUK NIIHHH..!!!", teriakan Antok terdengar dari luar rumah.
(Bersambung...)
Next...
"Hujan telah reda, angin pun tak berhembus lagi, namun Beringin itu terus bergoyang dengan sendirinya"
SupermanBalap dan 4 lainnya memberi reputasi
5