- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
...
TS
Rebek22
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:
Quote:
Quote:
1. A story about a farewell sentence
Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf
Kanaria.
Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.
Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.
Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.
Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.
Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.
Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.
Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.
Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.
" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.
Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.
" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.
" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.
" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "
" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "
" Terima kasih Kana "
" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "
" Baik "
" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "
" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "
" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "
" Kana "
" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.
Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.
Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.
Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.
Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.
Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.
Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.
Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.
Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.
Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.
kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.
Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.
Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.
Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.
Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.
Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.
Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah
" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.
" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "
" Haha, ya bagaimana ya.. "
" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.
" Tapi Kana dia ayahmu "
" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "
" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "
" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.
Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.
Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.
Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.
" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.
" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.
" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "
" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "
" Kenapa? "
" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "
Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.
" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "
" Terima kasih "
" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.
" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.
" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"
" Tapi "
" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "
" Terima kasih bu "
Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.
" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.
Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.
" Sampai jumpa lagi "
" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.
" Hati-hati di jalan bu "
Di sinilah semua bermula....
Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku
Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.
Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.
Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22 27-08-2021 18:58
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
14.8K
147
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rebek22
#47
16. Miracle Workers
Kanaria
Pernahkah kau berfikir mengenai bagaimana caranya agar dirimu dapat membalas segala hal yang telah orang tuamu berikan selama ini? Aku tau apa yang baru saja diri ini tanyakan merupakan sesuatu yang terbilang berat jika di bahas dan belum seharusnya juga di pikirkan oleh seorang gadis yang masih jauh dari kata dewasa.
Namun karena kondisi keluargaku yang seperti itu (yah kalian tau lah bagaimana), bagi diri ini pertanyaan tadi merupakan suatu perkara penting yang terus berputar di dalam benak ini. Bagaimanapun baru beberapa hari yang lalu aku masih tinggal bersama seorang ibu yang memainkan peran singel parent.
Melihat ibu berjuang menafkahiki seorangku diri sambil mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada diri ini jelas membuat benakku terus berfikir tentang bagaimana caranya agar bisa membalas semua yang telah wanita itu berikan.
Mengurangi sedikit bebannya serta membuai ibu dengan begitu banyak prestasi adalah cara yang aku pilih untuk membalas semua perjuangannya. Aku tau itu tidak seberapa dan belum lah layak di anggap sebagai balas budi. Karena bagaimanapun menurut buku yang pernah diri ini baca, sekalipun kita memberikan seluruh harta dan prestasi kepada seorang ibu, itu tidak akan pernah sebanding dengan setetes darah yang dirinya keluarkan ketika melahirkanku.
Namun, bukan kah sedikit itu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali? Sekarang mungkin hanya itu yang bisa diri ini berikan untuknya. Nanti secara perlahan aku akan terus meningkatkan apa yang diri ini bisa berikan kepada ibu seiring dengan bertambahnya usiaku. Aku akan belajar dengan giat sehingga Ketika dewasa nanti diri ini bisa menjadi orang sukses, lalu memanjakannya dengan kemewahan.
Sialnya takdir memutuskan untuk tidak pernah membuat niatanku itu terwujud, dia memilih untuk mencabut nyawa ibubterlebih dahulu sebelum diri ini bisa membalas semua jasanya atau setidaknya setetes darah yang dirinya keluarkan ketika melahirkanku dulu.
Di saat aku menjadi seorang Diva yang mampu membuat ribuan orang berdecak kagum. Salah satu rahasia langit itu malah memilihkan diri ini sebuah alur pahit berupa kehidupan yang terus berjalan tanpa kehadiran sosok ibu. Seseorang yang ujaran kagumnya jauh lebih berarti bagiku ketimbang ribuan orang yang ada di tribut saat aku bernyanyi tadi.
Setelah tampil tadi, Kak leo berkata jika suaraku mampu mencapai hati para penonton. Setelah ucapan itu aku mulai berfikir mungkin kah nyanyianku juga bisa mencapai langit dan di dengarkan oleh ibu? Apakah dia akan bangga dengan putrinya yang sekarang telah mampu menoreh kan prestasi berupa seni dan bukan akdemik. Apa tadi dia menyaksikan ku bernyanyi bersama para malaikat di surga sana? Semoga saja iya.
Saat ini aku tengah memandangi ayah yang tengah menyiapkan bekal yang dirinya beli untuk kami makan bersama. Ran membantu menyiapkan piring kertas sementara Akan sibuk menyeduh teh untuk kami minum nanti.
Ayah meletakan ayam goreng ke piring kertasku, kemudian dia menyendokan secentong centong nasi, ketika tanganya hendak menambahkannya lagi aku memberi isyarat kepadanya agar tidak melakukan hal tersebut.
Perutku masih kenyang karena traktikaran kak Ares, sementara itu rasanya diri ini tidak mungkin menolak tawaran makan dari ayah karena bagaimanapun dia sudah mempersiapkannya untuku. Aku agak menyesal karena kalap saat makan jajadan dari kak ares tadi. Soal kenapa diri ini bisa sampai lupa jika ayah tadi pagi berpesan kalau dia akan membeli makan siang untuk kami.
" Kau yakin porsi segini cukup? " Tanya ayah.
" Yakin, aku sedang diet hehe " Ujarku dengan membumbui ucapan tadi dengan sedikit kebohongan. Akan menatapku sinis, semoga saja dia tidak membongkar penyebab aku sampai enggan makan banyak.
" Sepertinya kau membawa banyak makanan " Aka menunjuk makanan yang tadi di belikan kak Ares.
" Ah iya, kebetulan aku membeli banyak cemilan tadi " Sekali lagi aku melontarkan ke bohongan kepada ayah. Sial, betapa durhakanya diri ini? Membohongi ayah sampai dua kali.
" Bagus, kita bisa memakannya nanti. Percayalah, Ran itu makannya cukup banyak " Ujar ayah.
" Ayah, bagaimana penampilan kami tadi? " Tanya Ran sambil mulai melahap makanannya.
" Luar biasa, tarianmu dan nyanyian Kana tadi sungguh menakjubkan " Ujar ayah dengan penuh semangat.
" Haha Terima kasih ayah " Ran terlihat senang ketika ayah memujinya. Sejujurnya aku pun demikian, namun diri ini tidak tau harus bagaiaman untuk menanggapi pujian dari ayah tadi.
Aku bukan type orang yang mampu mengekspresikan rasa senang setelah di sanjung, ibu bahkan sering mengomentari hal tersebut karena dirinya mengira aku tidak senang dengan pujia tulusnya.
" Ran, aku percaya kau mampu menjadi pemain color guard yang hebat "
" Ya, sekarang itulah tujuanku, menjadi penari bendera yang hebat. Mungkin, sekarang Patra jauh lebih hebat dariku. Namun aku akan terus mengejarnya hingga mampu menyalip kemampuan si ketua section itu. Bagaimanapun kami adalah rival " Ujar Ran dengan mata yang terlihat berapi-api.
" Syukurlah, sekarang kau sudah menemukan rival yang bersedia mencabut kutukanmu itu Ran" Ujar ayah sambil mengelus-elus kepada Ran.
Entah mengapa wajah ayah seketika langsung terlihat begitu senang dan lega. Ucapan ran tadi seakan membuat pria itu bisa bernafas lega karena pahlawan yang di nantinya pada akhirnya tiba. Mungkin jutaan cara telah pria itu lakukan agar apa yang membuat putrinya menderita sirnah, namun semuanya bermuara pada ke gagalan. Sekarang diapun menemukan sesosok pahlwan yang ternyata mampu mengobati kutukan putri tercintanya.
" Ya, aku bersyukur karena malam itu takdir mempertemukanku dengan kak Leo. Berkat pertemuan tersebut ada banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam hidup ini, termasuk pertemuan ku dengan patra "
" Akupun demikian Ran... "
" Yosh, baguslah sekarang aku tidak perlu melihat wajah galau Ran lagi.. " Ujar Aka yang entah mengapa seakan tidak bisa membaca suasana saat ini. Aku secara reflek langsung menjitak kepalanya lantaran kesan dengan lisannya yang selalu saja asal.
" Hoi, apa yang kau lakukan? " Protes Aka.
" Bacalah suasana, dasar bodoh... " Ujarku dengan nada kesal.
" Haha " Ayah dan Ran entah mengapa malah tertawa ketika melihat pertengkaran kami.
" Baiklah Ran, Kana cepat habiskan makanan kalian, sebentar lagi akan ada pengumuman juara kompetisi ini " Ujar ayah.
Kamipun menurut dan mulai melahap makanan yang ada, walaupun sudah sangat kenyang aku tetap memaksakan diri untuk makan. Untungnya aku sanggup menghabiskan makanan yang di berikan ayah, ya walaupun perut ini sekarang benar-benar jadi terasa sangat penuh.
" Kana.. " Ujar ayah setelah aku berhasil menghabiskan makanan darinya.
" Ada apa? " Tanyaku.
" Penampilanmu luar biasa "
Ayah mengulangi sanjungan yang tadi dia lontarkan kepadaku, mungkinkah dirinya merasa jika aku tidak senang jika di puji olehnya? Sial bagaimana aku harus menanggapi sanjungan ayah? Aku senang dia memujiku, aku juga senang karena dirinya bangga atas apa yang diri ini perbuat, namun diri ini sulit untuk mengekspresikannya.
Ibu mungkin sudah biasa melihat reaksi datarku ketika di puji, namun lain halnya dengan ayah. Bagaimanapun kami baru saling mengenal, ya agak aneh memang mengingat kami ini adalah seorang ayah dan putrinya, namun mau bagaimana lagi? Keegoisan lu lah yang membuat semua ini terjadi.
Sekarang bagaimanakah aku harus menyikapi sanjungan ayah, diri ini jelas tidak bisa bersikap senang secara natural dan jika di paksa mungkin pria itu malah akan menganggapku tidak senang dan hanya berpura-pura di depannya.
" Sepertinya kakaku bukan type orang yang mudah mengekspresikan rasa senang ketika di sanjung " Bak cahaya di tengah badai, ucapan Aka berhasil menolong diri ini yang tengah kebingungan.
" Ah, begitu kah? " Tanya ayah.
" Hehe begitulah, aku bukan tidak senang. Sejujurnya aku merasa sangat senang, karena sekarang bisa menunjukan prestasi walau tidak segemilang Ran kepadamu. Namun ya beginilah diriku, selalu kesulitan untuk bereaksi ketika di sanjung, maafkan akau ayah "
" Haha kau tidak perlu meminta maaf kana, tidak ada yang salah di sini "
" Baiklah, kalau begitu terimakasih ayah "
" Sama-sama Kana "
" Haha begini lebih baik kan? Kau harus belajar mengungkapkan sesuatu kak! " Ujar Aka
" Terima kasih karena telah membantuku mengungkapkannya pada ayah Aka "
" Sama-sama, nah dengan begini kau berhutang padaku dia kali " Aka mengedipkan mata kepadaku.
" Baiklah aku paham.. " Ujarku yang langsung memahami maksudnya. Yah dia memang membantuku dua kali, menutup fakta jika aku lupa ayah datang dan malah jalan dengan kak Ares, lalu prihal mengungkapkan tadi.
Aku akan membelikan sesuatu untuknya nanti. Walau agak menyebalkan Aka memang orang yang bisa di andalkan, dia bisa menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri, ya walaupun terkadang caranya memang sangat menjengkelkan.
" Sepertinya kalian harus kembali, sepuluh menit lagi sudah waktunya pengumuman juara-juara " Ayah mengingatkan kami jika sebentar lagi sudah waktunya pengumuman juara.
" Baiklah kalau begitu kami pamit dulu " Ujarku sambil mulai berdiri, di ikuti Ran yang masih terlihat mengunyah makananya.
" Semoga kalian juara... " Ayah mengacungkan jempol ke arah kami.
" Sayangnya kami tidak akan juara yah.. " Ujarku yang langsung membuat ayah terlihat kaget.
" Tak apa kami tidak menjadi juara, namun ayah perlu ingat kalau spartan sudah berhasil menang di hatimu dan para penonton " Ran menambahkan ucapanku dengan mengulangi quotes dari kak Leo..
" Haha aku yakin kalian mendapat kata-kata itu dari orang yang bernama Leo itu " Ujar Aka sambil tertawa. Dia bisa langsung sadar mengenai asal quotes tadi, jelas saja mereka satu tipe, Sama-sama punya cara tersendiri dalam menyikapi sesuatu.
" Baiklah kami pamit dulu "
Ran dan akupun melangkah menuju ruang tunggu peserta, setibanya di sana hampir semua anggota spartan sudah berkumpul. Jajaran pelatih dan bu Maharani terlihat tengah berdiskusi akan sesuatu, entah apa yang mereka perbincangkan namun yang jelas pembahasan mereka nampak serius karena raut wajah ke empat nya mengatakan hal itu.
" Mengapa mereka nampak serius sekali? " Bisikan Ran.
" Entah lah, mungkin ada masalah " Jawabku seadanya.
Kak Ares melirik ke arahku dan hal itu entah mengapa membuat semua orang yang sedang berdiskusi langsung ikut menoleh ke padaku. Sial, apa aku membuat kesalahan? Perasaanku jelas langsung merasa tidak enak.
" Kana, kemarilah " Ujar kak Leo. Akupun menurut dan langsung menghampiri jajaran pelatih yang sepertinya akan langsung menyuguhkan lu dengan pembahas serius.
" Ada apa? " Tanyaku.
" Kau akan jadi defile saat acara penobatan juara nanti " Ujar kak Leo.
" Defile? " Tanyaku bingung.
" Yah singkatnya perwakilan saat penobatan juara " Kak Ares menjelaskan maksud dari defile.
" Oh begitu, baik lah aku siap. Apa hanya ini yg kalian diskusikan dari tadi? Nampaknya wajah kak Leo dan yang lainnya nampak begitu tegang? "
" Haha seperti itu kah tampang kami dari tadi? " Tanya kak Ares.
" Ya bagiku memang begitu " Jawabku jujur.
" Kami hanya berdiskusi mengenai bagaimana spartan kedepannya nanti. Seandainya kau ingin tau lebih detail, maka tunggulah sampai acara ini selesai " Jelas kak Leo.
" Oh begitu, aku kira ada masalah "
" Tenang saja, acara ini berhasil kita lalui dengan baik. Walaupun nantinya kita tidak akan menang "
" Baik lah kalau begitu, apa yang harus di lakukan defile? "
" Pegang lah ini " Ujar kak Ares sambil menyerahkan sebuah tongkat yang di ujungnya terdapat sehelai bendera berukuran cukup besar kepadaku.
Aku memperhatikan lambang yang tertera di bendera berwarna putih itu, sebuah ornamen indah berbentuk mawarbbiru terlukis tepat di tengah bendera itu. Kak mira pernah menjelaskan jika Mawar biru adalah kami, para pembuat ke ajaiban. Sebab dalam bahasa bunga mawar biru memang lah memiliki arti keajaiban.

" Mungkinkah ini lambang dari spartan? " Tanyaku.
" Kau benar, inilah lambang kita " Jawab kak Leo dengan nada riang.
" Para pembuat keajaiban " Ujar kak Ares.
" Luar biasa " Aku masih belum bisa berhenti berdecak kagum atas bendera ini.
" Baiklah anak-anak gunung saatnya berkumpul " Kak Leo meminta kami semua berkumpul. Kami pun menurut dan langsung melangkah mendekati jajaran pelatih yang siap memberikan pengumuman.
" Patra, Lusi, Juna kemarilah " Kak Ares nampak memanggil semua section leader. Orang-orang yang tadi di panggil pun segera menghampiri kak Leo. Aku dan para section leader di minta oleh kak Leo untuk berbaris, setelah itu Kak Ares langsung mengumumkan jika kami berempat akan jadi defile saat penobatan juara nanti.
" Patra ambil bendera yang ada di tangan Kanan lalu kibarkan secara perlahan " Kak Mira memberi perintah kepada patra dan gadis itupun langsung menurut. Dia meraih bendera yang ada di tanganku, lalu segera mengayunkannya sehingga bendera itu berkibar dan menunjukan lambang dari Spartan.
" Inilah lambang dari spartan " Ujar Kak Leo yang di barengi dengan decak kagum dari lisan para anggota. " Mawar biru, bunga yang melambangkan kalian. Para pembuat keajaiban "
" Kalian berempat lah yang akan menjadi defile, bawalah bendera ini dengan bangga dan tunjukan kepada orang-orang tentang siapa sebenarnya kita " Ujar Kak Ares.
" Siap " Ujar kami berempat dengan penuh semangat.
" Kana, kenakan lah kostum ini " Kak Mira melempar kostum marine kepadaku. Aku langsung meraihnya lalu melirik ke samping. Aku baru sadar jika hanya diri ini lah yang sudah mengenakan pakaian biasa. Aku segera mengenakan kostum itu, ukurannya sangat pas, mungkinkah kak Mira sudah mempersiapkan ini untukku?.
" Baiklah kalian berempat sudah siap, sekarang majulah ke lapangan " Ujar Kak Ares.
" Siap " Ujar kami berempat sambil melangkah meninggalkan ruang tunggu peserta.
" Ingatlah, kibarkan bendera itu setelah penobatan walaupun kalian tau jika spartan tidak akan jadi juara " Teriak kak Leo.
" Siap " Ujar kami di barengi dengan tepuk tangan dari anggota tim lain.
Baiklah dunia, bersiaplah untuk melihat sekelompok anak yang akan mampu menciptakan sebuah keajaiban. Kami tidak akan menjadi juara, namun spartan telah berhasil menang di hati para penonton. Juara atau tidak kami akan mengibarkan bendera ini, memampangkan ornamen mawar biru yang ada di dalamnya agar semua orang tau, kami lah para pembuat keajaib
Pernahkah kau berfikir mengenai bagaimana caranya agar dirimu dapat membalas segala hal yang telah orang tuamu berikan selama ini? Aku tau apa yang baru saja diri ini tanyakan merupakan sesuatu yang terbilang berat jika di bahas dan belum seharusnya juga di pikirkan oleh seorang gadis yang masih jauh dari kata dewasa.
Namun karena kondisi keluargaku yang seperti itu (yah kalian tau lah bagaimana), bagi diri ini pertanyaan tadi merupakan suatu perkara penting yang terus berputar di dalam benak ini. Bagaimanapun baru beberapa hari yang lalu aku masih tinggal bersama seorang ibu yang memainkan peran singel parent.
Melihat ibu berjuang menafkahiki seorangku diri sambil mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada diri ini jelas membuat benakku terus berfikir tentang bagaimana caranya agar bisa membalas semua yang telah wanita itu berikan.
Mengurangi sedikit bebannya serta membuai ibu dengan begitu banyak prestasi adalah cara yang aku pilih untuk membalas semua perjuangannya. Aku tau itu tidak seberapa dan belum lah layak di anggap sebagai balas budi. Karena bagaimanapun menurut buku yang pernah diri ini baca, sekalipun kita memberikan seluruh harta dan prestasi kepada seorang ibu, itu tidak akan pernah sebanding dengan setetes darah yang dirinya keluarkan ketika melahirkanku.
Namun, bukan kah sedikit itu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali? Sekarang mungkin hanya itu yang bisa diri ini berikan untuknya. Nanti secara perlahan aku akan terus meningkatkan apa yang diri ini bisa berikan kepada ibu seiring dengan bertambahnya usiaku. Aku akan belajar dengan giat sehingga Ketika dewasa nanti diri ini bisa menjadi orang sukses, lalu memanjakannya dengan kemewahan.
Sialnya takdir memutuskan untuk tidak pernah membuat niatanku itu terwujud, dia memilih untuk mencabut nyawa ibubterlebih dahulu sebelum diri ini bisa membalas semua jasanya atau setidaknya setetes darah yang dirinya keluarkan ketika melahirkanku dulu.
Di saat aku menjadi seorang Diva yang mampu membuat ribuan orang berdecak kagum. Salah satu rahasia langit itu malah memilihkan diri ini sebuah alur pahit berupa kehidupan yang terus berjalan tanpa kehadiran sosok ibu. Seseorang yang ujaran kagumnya jauh lebih berarti bagiku ketimbang ribuan orang yang ada di tribut saat aku bernyanyi tadi.
Setelah tampil tadi, Kak leo berkata jika suaraku mampu mencapai hati para penonton. Setelah ucapan itu aku mulai berfikir mungkin kah nyanyianku juga bisa mencapai langit dan di dengarkan oleh ibu? Apakah dia akan bangga dengan putrinya yang sekarang telah mampu menoreh kan prestasi berupa seni dan bukan akdemik. Apa tadi dia menyaksikan ku bernyanyi bersama para malaikat di surga sana? Semoga saja iya.
Saat ini aku tengah memandangi ayah yang tengah menyiapkan bekal yang dirinya beli untuk kami makan bersama. Ran membantu menyiapkan piring kertas sementara Akan sibuk menyeduh teh untuk kami minum nanti.
Ayah meletakan ayam goreng ke piring kertasku, kemudian dia menyendokan secentong centong nasi, ketika tanganya hendak menambahkannya lagi aku memberi isyarat kepadanya agar tidak melakukan hal tersebut.
Perutku masih kenyang karena traktikaran kak Ares, sementara itu rasanya diri ini tidak mungkin menolak tawaran makan dari ayah karena bagaimanapun dia sudah mempersiapkannya untuku. Aku agak menyesal karena kalap saat makan jajadan dari kak ares tadi. Soal kenapa diri ini bisa sampai lupa jika ayah tadi pagi berpesan kalau dia akan membeli makan siang untuk kami.
" Kau yakin porsi segini cukup? " Tanya ayah.
" Yakin, aku sedang diet hehe " Ujarku dengan membumbui ucapan tadi dengan sedikit kebohongan. Akan menatapku sinis, semoga saja dia tidak membongkar penyebab aku sampai enggan makan banyak.
" Sepertinya kau membawa banyak makanan " Aka menunjuk makanan yang tadi di belikan kak Ares.
" Ah iya, kebetulan aku membeli banyak cemilan tadi " Sekali lagi aku melontarkan ke bohongan kepada ayah. Sial, betapa durhakanya diri ini? Membohongi ayah sampai dua kali.
" Bagus, kita bisa memakannya nanti. Percayalah, Ran itu makannya cukup banyak " Ujar ayah.
" Ayah, bagaimana penampilan kami tadi? " Tanya Ran sambil mulai melahap makanannya.
" Luar biasa, tarianmu dan nyanyian Kana tadi sungguh menakjubkan " Ujar ayah dengan penuh semangat.
" Haha Terima kasih ayah " Ran terlihat senang ketika ayah memujinya. Sejujurnya aku pun demikian, namun diri ini tidak tau harus bagaiaman untuk menanggapi pujian dari ayah tadi.
Aku bukan type orang yang mampu mengekspresikan rasa senang setelah di sanjung, ibu bahkan sering mengomentari hal tersebut karena dirinya mengira aku tidak senang dengan pujia tulusnya.
" Ran, aku percaya kau mampu menjadi pemain color guard yang hebat "
" Ya, sekarang itulah tujuanku, menjadi penari bendera yang hebat. Mungkin, sekarang Patra jauh lebih hebat dariku. Namun aku akan terus mengejarnya hingga mampu menyalip kemampuan si ketua section itu. Bagaimanapun kami adalah rival " Ujar Ran dengan mata yang terlihat berapi-api.
" Syukurlah, sekarang kau sudah menemukan rival yang bersedia mencabut kutukanmu itu Ran" Ujar ayah sambil mengelus-elus kepada Ran.
Entah mengapa wajah ayah seketika langsung terlihat begitu senang dan lega. Ucapan ran tadi seakan membuat pria itu bisa bernafas lega karena pahlawan yang di nantinya pada akhirnya tiba. Mungkin jutaan cara telah pria itu lakukan agar apa yang membuat putrinya menderita sirnah, namun semuanya bermuara pada ke gagalan. Sekarang diapun menemukan sesosok pahlwan yang ternyata mampu mengobati kutukan putri tercintanya.
" Ya, aku bersyukur karena malam itu takdir mempertemukanku dengan kak Leo. Berkat pertemuan tersebut ada banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam hidup ini, termasuk pertemuan ku dengan patra "
" Akupun demikian Ran... "
" Yosh, baguslah sekarang aku tidak perlu melihat wajah galau Ran lagi.. " Ujar Aka yang entah mengapa seakan tidak bisa membaca suasana saat ini. Aku secara reflek langsung menjitak kepalanya lantaran kesan dengan lisannya yang selalu saja asal.
" Hoi, apa yang kau lakukan? " Protes Aka.
" Bacalah suasana, dasar bodoh... " Ujarku dengan nada kesal.
" Haha " Ayah dan Ran entah mengapa malah tertawa ketika melihat pertengkaran kami.
" Baiklah Ran, Kana cepat habiskan makanan kalian, sebentar lagi akan ada pengumuman juara kompetisi ini " Ujar ayah.
Kamipun menurut dan mulai melahap makanan yang ada, walaupun sudah sangat kenyang aku tetap memaksakan diri untuk makan. Untungnya aku sanggup menghabiskan makanan yang di berikan ayah, ya walaupun perut ini sekarang benar-benar jadi terasa sangat penuh.
" Kana.. " Ujar ayah setelah aku berhasil menghabiskan makanan darinya.
" Ada apa? " Tanyaku.
" Penampilanmu luar biasa "
Ayah mengulangi sanjungan yang tadi dia lontarkan kepadaku, mungkinkah dirinya merasa jika aku tidak senang jika di puji olehnya? Sial bagaimana aku harus menanggapi sanjungan ayah? Aku senang dia memujiku, aku juga senang karena dirinya bangga atas apa yang diri ini perbuat, namun diri ini sulit untuk mengekspresikannya.
Ibu mungkin sudah biasa melihat reaksi datarku ketika di puji, namun lain halnya dengan ayah. Bagaimanapun kami baru saling mengenal, ya agak aneh memang mengingat kami ini adalah seorang ayah dan putrinya, namun mau bagaimana lagi? Keegoisan lu lah yang membuat semua ini terjadi.
Sekarang bagaimanakah aku harus menyikapi sanjungan ayah, diri ini jelas tidak bisa bersikap senang secara natural dan jika di paksa mungkin pria itu malah akan menganggapku tidak senang dan hanya berpura-pura di depannya.
" Sepertinya kakaku bukan type orang yang mudah mengekspresikan rasa senang ketika di sanjung " Bak cahaya di tengah badai, ucapan Aka berhasil menolong diri ini yang tengah kebingungan.
" Ah, begitu kah? " Tanya ayah.
" Hehe begitulah, aku bukan tidak senang. Sejujurnya aku merasa sangat senang, karena sekarang bisa menunjukan prestasi walau tidak segemilang Ran kepadamu. Namun ya beginilah diriku, selalu kesulitan untuk bereaksi ketika di sanjung, maafkan akau ayah "
" Haha kau tidak perlu meminta maaf kana, tidak ada yang salah di sini "
" Baiklah, kalau begitu terimakasih ayah "
" Sama-sama Kana "
" Haha begini lebih baik kan? Kau harus belajar mengungkapkan sesuatu kak! " Ujar Aka
" Terima kasih karena telah membantuku mengungkapkannya pada ayah Aka "
" Sama-sama, nah dengan begini kau berhutang padaku dia kali " Aka mengedipkan mata kepadaku.
" Baiklah aku paham.. " Ujarku yang langsung memahami maksudnya. Yah dia memang membantuku dua kali, menutup fakta jika aku lupa ayah datang dan malah jalan dengan kak Ares, lalu prihal mengungkapkan tadi.
Aku akan membelikan sesuatu untuknya nanti. Walau agak menyebalkan Aka memang orang yang bisa di andalkan, dia bisa menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri, ya walaupun terkadang caranya memang sangat menjengkelkan.
" Sepertinya kalian harus kembali, sepuluh menit lagi sudah waktunya pengumuman juara-juara " Ayah mengingatkan kami jika sebentar lagi sudah waktunya pengumuman juara.
" Baiklah kalau begitu kami pamit dulu " Ujarku sambil mulai berdiri, di ikuti Ran yang masih terlihat mengunyah makananya.
" Semoga kalian juara... " Ayah mengacungkan jempol ke arah kami.
" Sayangnya kami tidak akan juara yah.. " Ujarku yang langsung membuat ayah terlihat kaget.
" Tak apa kami tidak menjadi juara, namun ayah perlu ingat kalau spartan sudah berhasil menang di hatimu dan para penonton " Ran menambahkan ucapanku dengan mengulangi quotes dari kak Leo..
" Haha aku yakin kalian mendapat kata-kata itu dari orang yang bernama Leo itu " Ujar Aka sambil tertawa. Dia bisa langsung sadar mengenai asal quotes tadi, jelas saja mereka satu tipe, Sama-sama punya cara tersendiri dalam menyikapi sesuatu.
" Baiklah kami pamit dulu "
Ran dan akupun melangkah menuju ruang tunggu peserta, setibanya di sana hampir semua anggota spartan sudah berkumpul. Jajaran pelatih dan bu Maharani terlihat tengah berdiskusi akan sesuatu, entah apa yang mereka perbincangkan namun yang jelas pembahasan mereka nampak serius karena raut wajah ke empat nya mengatakan hal itu.
" Mengapa mereka nampak serius sekali? " Bisikan Ran.
" Entah lah, mungkin ada masalah " Jawabku seadanya.
Kak Ares melirik ke arahku dan hal itu entah mengapa membuat semua orang yang sedang berdiskusi langsung ikut menoleh ke padaku. Sial, apa aku membuat kesalahan? Perasaanku jelas langsung merasa tidak enak.
" Kana, kemarilah " Ujar kak Leo. Akupun menurut dan langsung menghampiri jajaran pelatih yang sepertinya akan langsung menyuguhkan lu dengan pembahas serius.
" Ada apa? " Tanyaku.
" Kau akan jadi defile saat acara penobatan juara nanti " Ujar kak Leo.
" Defile? " Tanyaku bingung.
" Yah singkatnya perwakilan saat penobatan juara " Kak Ares menjelaskan maksud dari defile.
" Oh begitu, baik lah aku siap. Apa hanya ini yg kalian diskusikan dari tadi? Nampaknya wajah kak Leo dan yang lainnya nampak begitu tegang? "
" Haha seperti itu kah tampang kami dari tadi? " Tanya kak Ares.
" Ya bagiku memang begitu " Jawabku jujur.
" Kami hanya berdiskusi mengenai bagaimana spartan kedepannya nanti. Seandainya kau ingin tau lebih detail, maka tunggulah sampai acara ini selesai " Jelas kak Leo.
" Oh begitu, aku kira ada masalah "
" Tenang saja, acara ini berhasil kita lalui dengan baik. Walaupun nantinya kita tidak akan menang "
" Baik lah kalau begitu, apa yang harus di lakukan defile? "
" Pegang lah ini " Ujar kak Ares sambil menyerahkan sebuah tongkat yang di ujungnya terdapat sehelai bendera berukuran cukup besar kepadaku.
Aku memperhatikan lambang yang tertera di bendera berwarna putih itu, sebuah ornamen indah berbentuk mawarbbiru terlukis tepat di tengah bendera itu. Kak mira pernah menjelaskan jika Mawar biru adalah kami, para pembuat ke ajaiban. Sebab dalam bahasa bunga mawar biru memang lah memiliki arti keajaiban.

" Mungkinkah ini lambang dari spartan? " Tanyaku.
" Kau benar, inilah lambang kita " Jawab kak Leo dengan nada riang.
" Para pembuat keajaiban " Ujar kak Ares.
" Luar biasa " Aku masih belum bisa berhenti berdecak kagum atas bendera ini.
" Baiklah anak-anak gunung saatnya berkumpul " Kak Leo meminta kami semua berkumpul. Kami pun menurut dan langsung melangkah mendekati jajaran pelatih yang siap memberikan pengumuman.
" Patra, Lusi, Juna kemarilah " Kak Ares nampak memanggil semua section leader. Orang-orang yang tadi di panggil pun segera menghampiri kak Leo. Aku dan para section leader di minta oleh kak Leo untuk berbaris, setelah itu Kak Ares langsung mengumumkan jika kami berempat akan jadi defile saat penobatan juara nanti.
" Patra ambil bendera yang ada di tangan Kanan lalu kibarkan secara perlahan " Kak Mira memberi perintah kepada patra dan gadis itupun langsung menurut. Dia meraih bendera yang ada di tanganku, lalu segera mengayunkannya sehingga bendera itu berkibar dan menunjukan lambang dari Spartan.
" Inilah lambang dari spartan " Ujar Kak Leo yang di barengi dengan decak kagum dari lisan para anggota. " Mawar biru, bunga yang melambangkan kalian. Para pembuat keajaiban "
" Kalian berempat lah yang akan menjadi defile, bawalah bendera ini dengan bangga dan tunjukan kepada orang-orang tentang siapa sebenarnya kita " Ujar Kak Ares.
" Siap " Ujar kami berempat dengan penuh semangat.
" Kana, kenakan lah kostum ini " Kak Mira melempar kostum marine kepadaku. Aku langsung meraihnya lalu melirik ke samping. Aku baru sadar jika hanya diri ini lah yang sudah mengenakan pakaian biasa. Aku segera mengenakan kostum itu, ukurannya sangat pas, mungkinkah kak Mira sudah mempersiapkan ini untukku?.
" Baiklah kalian berempat sudah siap, sekarang majulah ke lapangan " Ujar Kak Ares.
" Siap " Ujar kami berempat sambil melangkah meninggalkan ruang tunggu peserta.
" Ingatlah, kibarkan bendera itu setelah penobatan walaupun kalian tau jika spartan tidak akan jadi juara " Teriak kak Leo.
" Siap " Ujar kami di barengi dengan tepuk tangan dari anggota tim lain.
Baiklah dunia, bersiaplah untuk melihat sekelompok anak yang akan mampu menciptakan sebuah keajaiban. Kami tidak akan menjadi juara, namun spartan telah berhasil menang di hati para penonton. Juara atau tidak kami akan mengibarkan bendera ini, memampangkan ornamen mawar biru yang ada di dalamnya agar semua orang tau, kami lah para pembuat keajaib
Diubah oleh Rebek22 11-10-2021 17:36
pangerankodo353 dan jiyanq memberi reputasi
2
Tutup