Kaskus

Story

congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.

Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
sargopipAvatar border
efti108Avatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
166.1K
793
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
#620
Part 75
Siang itu kota Semarang diguyur hujan deras. Sampai diwaktu gua pulang sekolah, hujan masih menyisakan gerimis dengan rintik air yang lumayan besar.

Biasanya hujan dengan intensitas seperti ini bakal menenggelamkan jalan-jalan di bagian utara semarang.

Gua, Zahra nongkrong dulu di warung deket parkiran (gua parkir motor di luar sekolahan).

Ada juga Kribo, Bagas, dan Akbar yang ikut menunggu gerimis ini reda. Setidaknya sampai rintik air menjadi lebih kecil.

Gua memberikan sweater hitam milik gua ke Zahra "nih pake, biar ngga masuk angin"

Ia nampak matching menggunakan sweater itu. Ditambah rambutnya yang dikuncir cepol, auranya benar-benar berbeda.

Belakangan ini Zahra seringkali tampil dengan outfit kekinian. Bukan berarti outfit Zahra yang dulu jadul, bukan.

Melainkan lebih ke beda kiblat. Jika sebelumnya dia lebih sering berpenampilan seperti cewek polos rumahan, belakangan ini outfitnya lebih ke arah cewek yang doyan nongkrong.

Dulu, Zahra yang sekolah menggunakan sepatu pantofel, kini menggantinya dengan sneaker pabrikan converse dengan series chuck taylor. ",Lagi pedekatean ama siapa nih cewek?" tanya gua dalam hati

Bisa dibilang, stylenya 11/12 lah sama Mbak Oliv. Atau, bisa jadi ini pengaruh dari dia. Karena akhir-akhir ini Zahra dan Mbak Oliv sering pergi berdua.

"Cakep banget adek lu ja" sepertinya kribo juga menyadari perbedaan Zahra kali ini

"Kan gua abangnya"

"Apa hubungannya? Lagian juga lu abang ketemu gede"

"Lu ngga belajar psikologi ya? Aura seseorang bakal mempengaruhi orang-orang disekitar--"

"Omongan lu ketinggian" Akbar memotong omongan gua, dilanjutkan dengan tawa kami berlima

"Tapi percuma si, cantik doang ngga ada doi" gua mengejek Zahra

"Halah halah, kek kisah cinta lu mulus aja" gantian gua yang diejek oleh kribo

"Napa lu yang ngga terima dah" balas gua

"...eh ujannya dah reda ra, yok pulang" gua mencoba menghindari roastingan roastingan selanjutnya, sekaligus meninggalkan para bocah yang suka ngedumel "halah-halah"

Kami melintasi jalan yang banyak genangan, bukan kenangan. Langit belum benar-benar berwarna biru, masih sedikit gelap ditutupi awan-awan tebal.

"Mau nyari makan sekalian ngga, Ta?"

"Aku masakin aja ya? Mau ngga?" Tanya Zahra. "Eh bentar, kok 'Ta' sih?" Lanjutnya bertanya

Gua mengelak, mencoba menutupi salah ucap tadi "Kamu salah denger kali. Mau dong, dimasakin"

"Mampir deh ke minimarket (beli bahan masakan)"

Tak perlu bertanya-tanya lagi 'mau dimasakin apa?', Zahra sudah tau betul apa kesukaan gua.

Zahra ini bukan hanya sekedar jago masak, tapi dia juga jago dalam memilih menu makanan.

Misalnya, apa sih menu yang bikin nafsu makan di pagi hari, di siang hari, malam hari?. Saking jagonya, gua bisa makan banyak saat sahur.

Padahal, umumnya nafsu makan ngga bakalan tinggi saat kesadaran belum pulih karena mengantuk.

Tapi, itu bukan jadi masalah buat Zahra. Semua bisa diatasin.

Ntar yang jadi suaminya pasti betah di rumah😜

Mungkin ada satu yang jadi tanda tanya buat gua. Yaitu Zahra bisa masak menu tradisional maupun menu modern.

Padahal dia tumbuh di pedesaan. Jangankan mau makan menu mewah, penduduk di sana aja punya kompor gas malah jarang dipake.

Gua bolak-balik ke dapur buat nengokin masakannya Zahra. Hampir sejam setelah kami tiba di rumah, makanan juga belum siap.

Kalo bukan karena enaknya masakan Zahra, ogah gua nunggu lama gini, mending beli.

"Ngapain sih mondar-mandir kayak truk proyek"

"Laper ra, astaga"

"Tahan dikit napa, kek anak kecil aja"

"Ya jangan diomelin juga dong"

Gua berlalu, duduk di teras belakang yang kebetulan letaknya ada di balik dapur.

Sekejap kemudian, Zahra menghampiri gua dengan membawa sendok "gitu doang nangis, katanya jagoan. Nih cicipin" kuah sup di sendok tadi langsung disuapkan ke mulut gua

"Hih, nanas!"

"Perasaan ngga beli nanas deh. Gimana udah pas?"

Gua mengangkat dua jempol, sembari mengibas-ibaskan tangan ke mulut yang baru aja mengalami luka bakar.

"Perasaan nih anak pas pertama ketemu ngga nekat gini dah" ucap gua dalam hati

Gua setengah tertidur ketika Zahra memanggil dari ruang makan.

Di ruang makan, Zahra menyiapkan makanan-makanan tadi.

Menu sederhana, namun menggugah selera. Sayur sop, dengan lauk ayam tepung. Tak lupa dan tak tertinggal sambalnya.

Ada yang berbeda dengan Zahra, riasan wajah nampak sengaja ia buat. Rambutnya juga seperti sehabis disisir.

"Menor amat, mau kemana?" Tanya gua

Raut wajahnya langsung berubah "eh, ketebelan ya?"

"Engga sih, beda aja. Biasanya ngga sampe dandan kalo di rumah"

"Lagi pengen dandan heheh"

Kami hanya makan siang berdua, katanya Mamah sudah makan sebelumnya, saat kami belum tiba di rumah.

"Mending tuh dandannya ntar malem" ucap gua, ditengah-tengah kegiatan makan

"Kayak mau ngajakin main aja"

"Lha mau ngga nih?"

"Mauuuu!"

Waktu berlalu, malam itu Gua mengajak Zahra pergi ke salah satu cafe di dekat tugu muda.

Cafe ini berada di selasar pasar tradisional. Jadi menggunakan sistem shift, cafe hanya beroperasi ketika malam hari.

Gua memilih tempat di dekat kasir, agar tidak langsung berada di depan sound system, jadi masih bisa enak ngobrol tanpa harus teriak-teriak.

"Aku seneng banget" Zahra tak henti-hentinya tersenyum ke gua

"Jarang-jarang diajak jalan-jalan sama mas Raja" lanjutnya

Gua menjadi merasa bersalah, karena hampir dua tahun Zahra di Semarang, jarang gua ajak jalan-jalan begini.

"Kamu nya ngga pernah ngajakin sih"

"Ish, mas Raja mana pernah punya waktu. Biasanya kalo ngga main sama anak bengkel, ya pacaran"

"Emang gitu ya? Hehe maaf"

Zahra terlihat begitu cantik malam itu.

Dengan celana tartan berwarna coklat, baju kaos hitam, serta jaket jeans yang berwarna senada dengan celananya.

Outfit Zahra yang akhir-akhir ini selalu stylish semakin membuat gua penasaran, gua pun memberanikan bertanya siapa yang lagi dekat dengan Zahra?

Dia menjawab sekenanya "ada deh hihi"

"Ah ngeselin"

Zahra menyeruput es kopinya, tertawa sebentar, lalu menjelaskan ke gua "ngga deket sih, cuma lagi caper aja ke orangnya haha. Aku juga ngga tau dia suka sama aku juga apa engga"

"Itu bukan jawaban ra, astaga. Pertanyaannya Siapa orangnya?"

"Rahasia, ntar aja kalo udah jadi. Biar mas Raja tau sendiri"

"Iya kalo jadi, kalo engga?"

"Kalo engga jadi ya berarti mas Raja ngga bakal tau haha"

"Kamu kebanyakan bareng mbak Oliv kayaknya, jadi ngeselin"

Dia cuma ketawa-ketawa mendengar reaksi gua yang dibuat kesal.

"Kalo mas Raja gimana? Ada yang lagi deket ngga?" Zahra kemudian bertanya tentang siapa yang lagi gua pedekate in

"Ngga ada, belum ada yang masuk kriteria" jawab gua, setengah bercanda

"Emang kriteria mas Raja yang kayak gimana?"

"Ngga ada kriteria khusus sih. Tapi yang jelas, aku ngga bisa kalo sama yang maunya selalu di perlakuin layaknya ratu..."

"..."

"... Aku ngga bisa memperlakukan dia layaknya ratu. Aku cuma bisa memperlakuin pasanganku nanti layaknya kakak, mamah, adek. Dimana aku bisa hormat, sayang, dan manja di satu sosok. Aku butuh rumah buat tempat aku pulang. Bukan tempat yang bakal ngerubah aku jadi orang yang berbeda"

Tiba-tiba, teringat bahwa gua sedang dengan Zahra. Dimana gua ngga bisa bawa dia keluar sampai tengah malam seperti cewek-cewek lainnya yang biasa gua ajak jalan.

"Udah jam segini, yuk pulang. Sebelum Tante mu makin ngambek ke aku" Gua beranjak dari kursi, berjalan menuju kasir

"kalo aku masuk kriteriamu ngga?" Zahra bertanya sambil cengengesan, berlari kecil menyusul gua
delet3
japraha47
mirzazmee
mirzazmee dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.