- Beranda
- Milanisti Kaskus
Milanisti Kaskus | A. C. Milano 21/22 | Tutta La Speranza è qui
...
TS
bedulok
Milanisti Kaskus | A. C. Milano 21/22 | Tutta La Speranza è qui

Quote:


B - Log
[url=http://www.kaskus.co.id/thread/51aab46e601243774400000d/17691769176 9-brigate-rossonere-176917691769---part-4]BRIGATE ROSSONERO KASKUS[/url]
Futsal
Futsal Milanisti Kaskus

SOCCER ROOM GENERAL RULES
Read This Before Posting
Spoiler for Rules:
Spoiler for Rules:
*Peraturan dapat direvisi/dirubah sewaktu waktu

superstreetstar dan 38 lainnya memberi reputasi
37
833.2K
28.4K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Milanisti Kaskus
253Thread•2KAnggota
Tampilkan semua post
kaka10ciao
#4535
TETRALOGI MILAN?
OLEH: Magico Milan (https://www.instagram.com/magicomilanindonesia/)
Sangat mudah menggambarkan permainan Milan saat melawan Atalanta dinihari tadi. Kalimat paling pas adalah "fun to watch". Kalau diIndonesiakan kurang lebih "enak dilihat." Skor 3-2 sepertinya kurang pas dengan situasi permainan sebab Milan jauh lebih unggul dari lawannya. Ya, dua gol lawan datang lewat situasi yang sebenarnya bisa dihindari andaikata wasit lebih jeli.
Tapi itu tak masalah. Toh Milan sudah menang dan menggenggam tiga poin. Lebih surprise lagi jika melihat secara permainan, sepanjang laga Milan tampak mendominasi Atalanta. Padahal lawan terhitung tim yang sangat diperhitungkan di Italia. Mereka empat tahun berturut-turut lolos ke Liga Champions dan musim ini tampil cukup bagus di Liga Champions.
Jika ditarik mundur ke belakang, sekitar dua tahun lalu di tempat yang sama mereka bahkan meluluhlantakkan Milan 5-0. Tiga di antara pencetak gol Atalanta ketika itu bahkan masih main sekarang: Luis Muriel, Ilicic, Pasalic. Empat pemain dalam starting line up Atalanta dua tahun lalu masih bermain dalam starting line up dinihari tadi: Djimsiti, Palomino, De Roon, Malinovsky. Dari Milan, hanya ada dua pemain yang tampil dalam starting line up 2019 dan masih bermain dalam starting line up dinihari tadi: Leao dan Kessie.
Dua tahun waktu berjalan, Atalanta tetap konsisten sedangkan Milan semakin menunjukkan pertumbuhan berarti. Sejak kekalahan memalukan itu, Milan selalu menang dalam pertemuan di Gewiss, atau Atleti d'Azzurri. Musim lalu menang 2-0 dan musim ini menang 3-2.
Pertandingan dua tahun lalu sebenarnya pantas disebut sebagai titik balik kebangkitan Milan. Januari setelahnya datang trio Ibra, Simon Kjaer dan Alexis Saelemaekers. Rossoneri mengakhiri musim 2019/2020 dengan sembilan kemenangan dari 12 laga terakhirnya. Lebih istimewa lagi yaitu terjadi perubahan pola permainan Milan yang sangat fundamental.
***
Jauh mundur ke belakang, kami ingin mengajak Anda semua pada sebuah cerita menarik tentang Carlo Ancelotti, sekarang pelatih Real Madrid. Dalam sejarah Milan, dia termasuk bagian dari trilogi emas kepelatihan melengkapi Arrigo Sacchi dan Fabio Capello.
Cerita ini terjadi pada perdelapan final Piala Dunia 1994, Italia lawan Nigeria. Saat itu Carlo Ancelotti menjadi asisten pelatih Arrigo Sacchi. Pertandingan tidak berjalan menyenangkan bagi Italia. Mereka tertinggal lebih dulu menit ke-26 lewat gol Emmanuel Ammunike. Celakanya Gli Azzurri kehilangan Gianfranco Zola menit ke-76 karena kartu merah. 10 lawan 11, posisi ketinggalan 0-1.
Ancelotti bercerita, selama turnamen itu, Sacchi menginginkan data teknis untuk setiap pertandingan. Itu baru pertama kalinya dilakukan Sacchi. Lalu terjadilah momen ini seperti dikisahkan Ancelotti. "Saya memiliki orang-orang dengan laptop yang duduk bersama saya sepanjang waktu, mengatakan hal-hal seperti 'segini jumlah operan untuk Baggio' atau 'begini data gerakan Demetrio Albertini tanpa bola' – bla, bla, bla, sepanjang waktu," kata Ancelotti.
"Saat itu kami tertinggal satu gol dan saya harus menghentikan ocehan itu untuk berteriak, 'Tutup laptopmu dan konsentrasi pada apa yang terjadi di depan kita! Jika kita kalah melawan Nigeria, kita tidak akan diizinkan pulang lagi – mereka (fans) akan membunuh kita.’ Pada akhirnya kami mencetak gol di menit-menit akhir dan kemudian menang 2-1 di perpanjangan waktu."
"Setelah pertandingan, Sacchi meminta untuk melihat statistik dan saya berkata, 'Tentu saja, tetapi kami tidak memiliki keseluruhan pertandingan - saya lebih khawatir kami tersisih daripada statistik. Dia berkata kepada saya, 'Tidak, tidak, tidak - saya perlu sembilan puluh menit, ditambah waktu tambahan, tentu.' Jadi saya naik ke kamar dengan sebuah video, membuat analisis sisa pertandingan dan Sacchi senang."
"Tapi jangan bilang statistik memenangkan pertandingan itu untuk kami – kunci untuk memenangkan permainan adalah mengesampingkan gangguan dan berkonsentrasi pada situasi di lapangan," masih kata Ancelotti.
Cerita di atas penting untuk menggambarkan bahwa era modern sepakbola tidak bisa mengesampingkan data. Tetapi, sepakbola juga tidak bisa menyingkirkan insting yang terbentuk dari pengalaman.
Pepatah mengatakan, tidak semua yang dihitung akan bernilai dan tidak semua yang bernilai bisa dihitung. Demikian pula data dalam strategi permainan.
Mau tahu hal paling penting yang diajarkan Sacchi dan Ancelotti tentang data? Bukanlah jumlah umpan, jenis umpan atau penguasaan bola, tetapi data tentang fisik pemain!
"Data teknis hanya sekitar satu atau dua menit saat pemain menguasai bola. Saya ingin data fisik tentang apa yang dia lakukan selama delapan puluh delapan atau delapan puluh sembilan menit lainnya. Saya membutuhkan itu untuk alasan taktik. Seberapa cepat pemain dapat kembali ke posisi bertahan pada waktu tertentu dalam permainan? Jika saya mengetahui hal ini, maka saya dapat mengetahui seberapa jauh saya dapat berkomitmen kepada para pemain dan masih memberi mereka kesempatan untuk kembali ke posisinya," kata Ancelotti.
"Jika kita mengingat Arrigo Sacchi, mentor manajerial saya, dan melihat sistem yang dia mainkan, jelas bahwa dia akan terbantu oleh data fisik yang menunjukkan jumlah pekerjaan yang dilakukan para pemain untuk berada kembali dalam posisi mereka yang benar dalam sistem permainan. Jika Anda bermain dengan intensitas tinggi, seperti tim Juergen Klopp di Dortmund dan sekarang Liverpool, ini juga akan sangat penting. Di sini, pertanyaannya bukan, 'Apakah sistemnya benar,' melainkan, 'Apakah ini berkelanjutan selama satu atau dua, atau tiga musim?' Akankah para pemain dapat mempertahankan energi yang dikeluarkan dari tubuh mereka?" ujar Ancelotti dalam biografinya Quiet Leadership: Winning Hearts, Minds and Matches.
***
Kami melihat Stefano Pioli adalah jenis pelatih dan tipikal orang yang tidak melulu data. Data dan analisis komputer memang penting, tetapi alat analisis yang paling penting adalah mata dan otak.
Data tetap dibutuhkan tetapi peran pelatih adalah menerjemahkannya ke dalam sebuah insight permainan dan kemudian menjadi orang yang tepat untuk menyampaikannya kepada pemain di lapangan. Pada komposisi tim Milan saat ini, analis data termasuk sebagai sosok penting. Sebagai bukti, Pioli menempatkan anaknya Gianmarco Pioli pada posisi head of data analyst.
Tetapi, jika melihat aksi Pioli di lapangan tampak sekali dia orang yang benar-benar memperhatikan naluriah permainan. Fokusnya jarang lari dari lapangan. Selalu berteriak bahkan mengarahkan pemain-pemain untuk menutup gerak atau mencari ruang. Dia juga tak segan untuk mencari solusi di bangku cadangan dari tim kepelatihannya.
Satu titik kemiripan Pioli dengan Sacchi dan Ancelotti adalah keinginannya yang kuat dalam menciptakan fisik tim yang kuat. Model Pioli adalah Bayern Muenchen.
“Saya mulai mengikuti Bayern dari dekat sejak Januari (2020) dan seterusnya,” kata Pioli kepada The Athletic. Januari adalah beberapa hari setelah kekalahan memalukan Milan dari Atalanta 0-5.
“Saya memberi tahu asisten saya bahwa mereka adalah tim yang memainkan sepakbola terbaik di Eropa saat ini. Mereka memainkan gaya yang sangat intens dan agresif. Semua tim pada level tinggi akhir-akhir ini mencoba menekan lawan mereka pada garis lapangan tinggi dan menawarkan kepada para penggemar sepak bola menyerang dengan pemain yang cepat dan berbakat. Itulah arah yang kami tuju,” ujar Pioli. Kata kuncinya adalah fisik kuat dalam permainan agresif dengan intensitas tinggi. Dan kini, perlahan namun pasti, Pioli mendekati arah yang dia sasar.
Begitulah jalannya. Yang ingin kami ceritakan, bahwa keberadaan Milan sekarang ini sebenarnya bukanlah barang yang baru. Taktik ini sudah menjadi bagian yang terwarisi dari sejarah Milan. Bisa jadi Pioli sedang membuka sebuah lembaran baru yang kosong untuk diisinya dengan sejarah baru Milan yang lebih gilang gemilang.
Bisa jadi, Pioli adalah aktor penting Tetralogi Milan, menggenapkan Trilogi Sacchi, Capello, dan Ancelotti. Untuk menuju ke sana, hanya bisa dijawab dengan trofi. Siapa tahu!
Baru tahu anak nya pioli jd asisten sebagai analisis data .
OLEH: Magico Milan (https://www.instagram.com/magicomilanindonesia/)
Sangat mudah menggambarkan permainan Milan saat melawan Atalanta dinihari tadi. Kalimat paling pas adalah "fun to watch". Kalau diIndonesiakan kurang lebih "enak dilihat." Skor 3-2 sepertinya kurang pas dengan situasi permainan sebab Milan jauh lebih unggul dari lawannya. Ya, dua gol lawan datang lewat situasi yang sebenarnya bisa dihindari andaikata wasit lebih jeli.
Tapi itu tak masalah. Toh Milan sudah menang dan menggenggam tiga poin. Lebih surprise lagi jika melihat secara permainan, sepanjang laga Milan tampak mendominasi Atalanta. Padahal lawan terhitung tim yang sangat diperhitungkan di Italia. Mereka empat tahun berturut-turut lolos ke Liga Champions dan musim ini tampil cukup bagus di Liga Champions.
Jika ditarik mundur ke belakang, sekitar dua tahun lalu di tempat yang sama mereka bahkan meluluhlantakkan Milan 5-0. Tiga di antara pencetak gol Atalanta ketika itu bahkan masih main sekarang: Luis Muriel, Ilicic, Pasalic. Empat pemain dalam starting line up Atalanta dua tahun lalu masih bermain dalam starting line up dinihari tadi: Djimsiti, Palomino, De Roon, Malinovsky. Dari Milan, hanya ada dua pemain yang tampil dalam starting line up 2019 dan masih bermain dalam starting line up dinihari tadi: Leao dan Kessie.
Dua tahun waktu berjalan, Atalanta tetap konsisten sedangkan Milan semakin menunjukkan pertumbuhan berarti. Sejak kekalahan memalukan itu, Milan selalu menang dalam pertemuan di Gewiss, atau Atleti d'Azzurri. Musim lalu menang 2-0 dan musim ini menang 3-2.
Pertandingan dua tahun lalu sebenarnya pantas disebut sebagai titik balik kebangkitan Milan. Januari setelahnya datang trio Ibra, Simon Kjaer dan Alexis Saelemaekers. Rossoneri mengakhiri musim 2019/2020 dengan sembilan kemenangan dari 12 laga terakhirnya. Lebih istimewa lagi yaitu terjadi perubahan pola permainan Milan yang sangat fundamental.
***
Jauh mundur ke belakang, kami ingin mengajak Anda semua pada sebuah cerita menarik tentang Carlo Ancelotti, sekarang pelatih Real Madrid. Dalam sejarah Milan, dia termasuk bagian dari trilogi emas kepelatihan melengkapi Arrigo Sacchi dan Fabio Capello.
Cerita ini terjadi pada perdelapan final Piala Dunia 1994, Italia lawan Nigeria. Saat itu Carlo Ancelotti menjadi asisten pelatih Arrigo Sacchi. Pertandingan tidak berjalan menyenangkan bagi Italia. Mereka tertinggal lebih dulu menit ke-26 lewat gol Emmanuel Ammunike. Celakanya Gli Azzurri kehilangan Gianfranco Zola menit ke-76 karena kartu merah. 10 lawan 11, posisi ketinggalan 0-1.
Ancelotti bercerita, selama turnamen itu, Sacchi menginginkan data teknis untuk setiap pertandingan. Itu baru pertama kalinya dilakukan Sacchi. Lalu terjadilah momen ini seperti dikisahkan Ancelotti. "Saya memiliki orang-orang dengan laptop yang duduk bersama saya sepanjang waktu, mengatakan hal-hal seperti 'segini jumlah operan untuk Baggio' atau 'begini data gerakan Demetrio Albertini tanpa bola' – bla, bla, bla, sepanjang waktu," kata Ancelotti.
"Saat itu kami tertinggal satu gol dan saya harus menghentikan ocehan itu untuk berteriak, 'Tutup laptopmu dan konsentrasi pada apa yang terjadi di depan kita! Jika kita kalah melawan Nigeria, kita tidak akan diizinkan pulang lagi – mereka (fans) akan membunuh kita.’ Pada akhirnya kami mencetak gol di menit-menit akhir dan kemudian menang 2-1 di perpanjangan waktu."
"Setelah pertandingan, Sacchi meminta untuk melihat statistik dan saya berkata, 'Tentu saja, tetapi kami tidak memiliki keseluruhan pertandingan - saya lebih khawatir kami tersisih daripada statistik. Dia berkata kepada saya, 'Tidak, tidak, tidak - saya perlu sembilan puluh menit, ditambah waktu tambahan, tentu.' Jadi saya naik ke kamar dengan sebuah video, membuat analisis sisa pertandingan dan Sacchi senang."
"Tapi jangan bilang statistik memenangkan pertandingan itu untuk kami – kunci untuk memenangkan permainan adalah mengesampingkan gangguan dan berkonsentrasi pada situasi di lapangan," masih kata Ancelotti.
Cerita di atas penting untuk menggambarkan bahwa era modern sepakbola tidak bisa mengesampingkan data. Tetapi, sepakbola juga tidak bisa menyingkirkan insting yang terbentuk dari pengalaman.
Pepatah mengatakan, tidak semua yang dihitung akan bernilai dan tidak semua yang bernilai bisa dihitung. Demikian pula data dalam strategi permainan.
Mau tahu hal paling penting yang diajarkan Sacchi dan Ancelotti tentang data? Bukanlah jumlah umpan, jenis umpan atau penguasaan bola, tetapi data tentang fisik pemain!
"Data teknis hanya sekitar satu atau dua menit saat pemain menguasai bola. Saya ingin data fisik tentang apa yang dia lakukan selama delapan puluh delapan atau delapan puluh sembilan menit lainnya. Saya membutuhkan itu untuk alasan taktik. Seberapa cepat pemain dapat kembali ke posisi bertahan pada waktu tertentu dalam permainan? Jika saya mengetahui hal ini, maka saya dapat mengetahui seberapa jauh saya dapat berkomitmen kepada para pemain dan masih memberi mereka kesempatan untuk kembali ke posisinya," kata Ancelotti.
"Jika kita mengingat Arrigo Sacchi, mentor manajerial saya, dan melihat sistem yang dia mainkan, jelas bahwa dia akan terbantu oleh data fisik yang menunjukkan jumlah pekerjaan yang dilakukan para pemain untuk berada kembali dalam posisi mereka yang benar dalam sistem permainan. Jika Anda bermain dengan intensitas tinggi, seperti tim Juergen Klopp di Dortmund dan sekarang Liverpool, ini juga akan sangat penting. Di sini, pertanyaannya bukan, 'Apakah sistemnya benar,' melainkan, 'Apakah ini berkelanjutan selama satu atau dua, atau tiga musim?' Akankah para pemain dapat mempertahankan energi yang dikeluarkan dari tubuh mereka?" ujar Ancelotti dalam biografinya Quiet Leadership: Winning Hearts, Minds and Matches.
***
Kami melihat Stefano Pioli adalah jenis pelatih dan tipikal orang yang tidak melulu data. Data dan analisis komputer memang penting, tetapi alat analisis yang paling penting adalah mata dan otak.
Data tetap dibutuhkan tetapi peran pelatih adalah menerjemahkannya ke dalam sebuah insight permainan dan kemudian menjadi orang yang tepat untuk menyampaikannya kepada pemain di lapangan. Pada komposisi tim Milan saat ini, analis data termasuk sebagai sosok penting. Sebagai bukti, Pioli menempatkan anaknya Gianmarco Pioli pada posisi head of data analyst.
Tetapi, jika melihat aksi Pioli di lapangan tampak sekali dia orang yang benar-benar memperhatikan naluriah permainan. Fokusnya jarang lari dari lapangan. Selalu berteriak bahkan mengarahkan pemain-pemain untuk menutup gerak atau mencari ruang. Dia juga tak segan untuk mencari solusi di bangku cadangan dari tim kepelatihannya.
Satu titik kemiripan Pioli dengan Sacchi dan Ancelotti adalah keinginannya yang kuat dalam menciptakan fisik tim yang kuat. Model Pioli adalah Bayern Muenchen.
“Saya mulai mengikuti Bayern dari dekat sejak Januari (2020) dan seterusnya,” kata Pioli kepada The Athletic. Januari adalah beberapa hari setelah kekalahan memalukan Milan dari Atalanta 0-5.
“Saya memberi tahu asisten saya bahwa mereka adalah tim yang memainkan sepakbola terbaik di Eropa saat ini. Mereka memainkan gaya yang sangat intens dan agresif. Semua tim pada level tinggi akhir-akhir ini mencoba menekan lawan mereka pada garis lapangan tinggi dan menawarkan kepada para penggemar sepak bola menyerang dengan pemain yang cepat dan berbakat. Itulah arah yang kami tuju,” ujar Pioli. Kata kuncinya adalah fisik kuat dalam permainan agresif dengan intensitas tinggi. Dan kini, perlahan namun pasti, Pioli mendekati arah yang dia sasar.
Begitulah jalannya. Yang ingin kami ceritakan, bahwa keberadaan Milan sekarang ini sebenarnya bukanlah barang yang baru. Taktik ini sudah menjadi bagian yang terwarisi dari sejarah Milan. Bisa jadi Pioli sedang membuka sebuah lembaran baru yang kosong untuk diisinya dengan sejarah baru Milan yang lebih gilang gemilang.
Bisa jadi, Pioli adalah aktor penting Tetralogi Milan, menggenapkan Trilogi Sacchi, Capello, dan Ancelotti. Untuk menuju ke sana, hanya bisa dijawab dengan trofi. Siapa tahu!
Baru tahu anak nya pioli jd asisten sebagai analisis data .
chefnco7 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Tutup