- Beranda
- Stories from the Heart
REUNI
...
TS
papahmuda099
REUNI

Prolog
Quote:
Daftar isi :
Quote:
Tamat
*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.2K
889
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
papahmuda099
#261
Teror Di Gua
Aku membuka mata saat aku merasa ada sesuatu yang menyipratkan air ke mukaku.
Hal pertama yang aku lihat adalah seseorang, atau sesosok tubuh yang terlihat seperti manusia, sedang duduk jongkok disampingku. Perlahan tapi pasti, aku mulai dengan jelas melihat siapa sosok itu.
"Anj***!" Teriakku saat aku melihatnya dengan jelas.
Ternyata sosok itu adalah siluman berwajah seperti bebek. Dan, yang kukira air menetes tadi ternyata adalah air liurnya. Yang jatuh tepat di wajahku.

Aku mundur dengan posisi masih setengah berbaring. Tapi sial, kepalaku membentur dinding yang ada dibelakangku.
Aku tak bisa bergerak mundur lagi. Sedangkan siluman itu berdiri diam didepan ku sambil terus memperhatikan tingkahku. Sesekali lidahnya menjulur keluar seperti seekor ular.
"Hehehe...," Terdengar seperti suara tertawa serak dari siluman itu.
Aku ingin berpaling, tapi ada sesuatu yang mencegahku untuk melakukannya. Itu sebuah suara yang tiba-tiba saja terdengar dikepalaku.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu, anak muda," kata suara itu.
Aku melirik kekanan dan kekiri. Mencari siapa pemilik suara itu. Namun, ditempat ini, hanya ada aku dan siluman berwajah bebek itu.
Dan, dengan pengalaman yang kualami selama ini. Bisa ku simpulkan, bahwa pemilik dari suara itu adalah siluman yang ada di depanku ini.
Setelah mengumpulkan keberanian, aku memaksakan diri untuk berkomunikasi dengannya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanyaku.
Mulut bebeknya hanya diam. Tak ada gerakan apapun. Cuma sesekali lidahnya yang basah dan panjang itu menjulur keluar masuk. Tapi kemudian, kembali ada suara yang terdengar dikepalaku.
"Sebelumnya aku minta maaf apabila aku telah menakuti dirimu. Dan juga maaf kalau aku secara tidak sengaja telah menyerap inti dari sukmamu. Sehingga menyebabkan kamu tidak sadarkan diri. Sekali lagi aku minta maaf," katanya.
"Oh, jadi itu penyebabnya kenapa aku bisa pingsan dengan mudahnya,"
Siluman itu mengangguk.
Setelah mengetahui bahwa siluman itu ternyata tidak berbahaya (untuk saat ini), aku mulai berani. Aku lalu duduk dengan bersandar di dinding.
"Lalu, hal apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Tanyaku sambil memandangi siluman itu.
"Mungkin hal yang tidak begitu penting bagimu, tapi ini penting bagiku. Sebagai cara agar aku bisa tetap waras di dalam segala keanehan digua hukuman ini. Oh ya sebelumnya perkenalkan namaku adalah Cipto. Aku adalah seorang manusia. Dulunya."
Lalu terjadilah percakapan diantara kami. Pak Cipto, menceritakan asal-usulnya dan bagaimana dia akhirnya berakhir menjadi penghuni, dari gua hukuman milik Ratu Mandalawangi.
Dan setelah mengobrol cukup lama, aku akhirnya tahu kenapa Pak Cipto menjadi seperti ini. Semuanya berawal dari rasa putus asa yang melanda pak Cipto akan kemiskinan dan hinaaan yang ia dan keluarganya terima.
(Kisah pak Cipto ini akan saya tulis setelah cerita Reuni ini selesai)
*
Setelah pak Cipto, alias siluman bermuka bebek itu selesai bercerita. Aku lalu meminta bantuannya, untuk menemukan keberadaan Sukma Yusuf.
Tapi sayang, pak Cipto tidak bisa melakukannya. Karena ia sudah di "pantek"agar hanya bisa berada disekitar pintu masuk gua.
"Aku minta maaf," katanya.
Sejujurnya aku sedikit kecewa. Tapi ya mau bagaimana lagi. Tak mungkin aku memaksakan kehendakku. Apalagi aku sendiri tidak memiliki kuasa apapun disini.
Akupun akhirnya tidak bisa memaksanya lagi. Kami lalu berpisah. Aku berjalan dengan petunjuk yang pak Cipto berikan. Jalan mana yang harus aku ambil, untuk menuju bagian gua, tempat khusus untuk menghukum berada.
Masih terngiang-ngiang di kepalaku bagaimana pesan dari pak Cipto, agar kita para manusia jangan sampai mau meminta bantuan kepada para makhluk halus. Apalagi dengan perjanjian yang memberikan tumbal.
"Kebahagiaan yang didapat hanya sesaat dan semu," begitu kata pak Cipto kepadaku.
Aku terus menyusuri gua yang semakin lama, terasa jalanannya itu semakin menurun. Suasana juga semakin seram. Aku mulai mendengar berbagai macam suara-suara aneh yang seolah-olah berputar-putar di sekitarku.
Mulai dari suara seperti jeritan minta tolong, suara menangis, suara tertawa, sampai suara seperti geraman hewan terdengar meskipun sayup-sayup.
Keadaan ini membuat bulu-bulu halus di tubuhku berdiri semua. Membuatku sungguh tidak nyaman dengan suasana ini.
Tiba-tiba...
"Aaaahhhhh....!"
Sebuah suara yang Cumiakkan telinga terdengar. Saking kagetnya mendengar suara jeritan itu, akupun latah.
"Kont**!"
"Wushhh...,"

Sekelebat bayangan putih tiba-tiba saja keluar dari balik dinding gua dan masuk kedinding sebelahnya.
Jarak antara aku berdiri dengan bayangan putih itu hanya sekitar 2 meter saja. Sangat cepat sampai aku tidak tahu sosok apa itu. Yang pasti kain yang ia kenakan berwarna putih dengan bau amis yang menyengat.
Meskipun hanya sekejap bayangan putih itu melewati ku, tapi bau yang ia tinggalkan sekolah tertinggal di tempat aku berdiri. Bau amis itu sangat pengap. Membuatku susah sekali bernafas. Megap-megap aku mencari udara segar untuk bisa kuhirup. Hingga akhirnya akupun memilih untuk menjatuhkan diri kelantai gua. Dengan posisi yang lebih rendah, aku berhasil menghirup udara segar lagi. Setelah kurasa cukup, aku lalu langsung berlari meninggalkan tempat pengap itu.
"Hah...hah...hah...," Aku berlari sampai terengah-engah sambil tangan kiriku berpegangan pada dinding gua.
"Gila, padahal kalau dipikir-pikir. Aku ini berwujud sukma ataupun roh. Tapi kok bisa capek kayak gini ya? Aneh....aneh," kataku pelan sambil berusaha mengatur nafasku yang memburu.
"Itulah alam gaib,"
"Deg!"
Tiba-tiba saja sebuah suara menimpali perkataan yang diucapkan barusan. Dan, suara itu berasal dari sisi sebelah kiriku.
Refleks aku menoleh.
"Mamaaaa....!"
Aku berteriak sangat keras ketika ternyata telapak tanganku yang tadinya menyentuh dinding gua, kini sedang memegang sebuah wajah yang sangat hitam, dengan mata berwarna merah darah!

"Wuahahahaha...!"
Wajah hitam legam itu tertawa terbahak-bahak mendengar teriakanku.
Aku sontak berniat untuk menarik tanganku yang saat ini sedang menempel di wajahnya.
"Lho...," Aku kaget.
Karena ternyata, aku tidak bisa untuk menarik ataupun menggerakkan tanganku. Tanganku seperti menempel lekat diwajah yang hanya memiliki mata berwarna merah darah itu.

Eh, tapi tunggu dulu.
Wajah hitam itu ternyata memiliki sebuah garis yang memanjang yang di sekitar area yang seharusnya ada mulutnya.
Dan garis itu sedikit demi sedikit mulai terbuka. Garis itu mulai membentuk seperti sebuah mulut yang sangat panjang. Sampai-sampai, wajahnya itu hampir terbagi menjadi dua bagian.
Dari garis itu, kemudian keluar sebuah lidah berwarna hitam dan basah. Baunya... sangat menjijikkan sekali. Seperti bau sampah yang sudah busuk.
"Huek...,"
Aku muntah tanpa ada sesuatu yang keluar.
Lidah itu mulai melilit tangan kiriku dengan perlahan. Gerakannya, seperti ular yang siap untuk membelit mangsanya.
Aku hanya bisa melotot memandangi lidahnya yang kini mulai membelit tanganku sampai pergelangan tangan, tanpa bisa aku menggerakkan tanganku sama sekali.
"Sedulur papat, Nang,"
Entah kenapa, aku mendadak seperti mendengar suara bapak yang berbisik di telingaku.
Maka dengan terburu-buru, aku lalu merapatkan doa untuk menggunakan ilmu sedulur papat.
"Wushhh...,"
Disekitarku tiba-tiba muncul tiga sosok kembaranku. Dan salah satu dari kembaranku itu, memegang dan melepaskan lilitan lidah itu dari tanganku. Tak sampai disitu saja, sosok kembaranku itu menarik lidah makhluk berwajah hitam itu sampai memanjang sekitar 3 meter.
Dan, kembali salah satu kembaranku yang lainnya. Dengan cepat merogoh kantong bajuku. Di mana bapak menyelipkan dua buah benda sebelum kami berpisah di istana Sang penguasa tadi.
"Sreet...,"
Ternyata salah satu dari dua buah benda itu adalah sebuah keris kecil panjang kurang lebih 5 cm.
Keris kecil itu langsung ditarik dari warangkanha dan dengan cepat, digunakan untuk memotong lidah muka hitam.
"Crass..,"
Lidah itu langsung terpotong dengan mudahnya. Dan dari potongan itu, keluar darah kental berwarna hitam dengan bau yang "na'uzubillah."
"Aaaaaahhhh...!"
Sosok dengan wajah hitam itu langsung berteriak kesakitan. Dan "blup", wajahnya masuk ke dalam dinding gua. Sedangkan potongan lidah yang masih dipegang oleh salah satu kembaranku, dilemparkannya ke lantai. Aku sangat jijik saat melihat potongan lidah itu bergerak-gerak menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Kita pergi,"
Salah satu osok kembaranku yang sedari tadi hanya diam itu berbicara dengan suara, yang sama persis denganku.
Akupun seolah tersadar dengan misiku berada didalam gua ini. Maka, akupun kembali bergerak masuk lebih jauh kedalam gua hukuman ini, dengan didampingi oleh ketiga sosok kembaranku.
***
key.99 dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Tutup
.