- Beranda
- Stories from the Heart
Horor: Cinta Putri Khodam Mirah Delima
...
TS
ikamarutha
Horor: Cinta Putri Khodam Mirah Delima
Kisah Horor: Cinta Putri Khodam Mirah Delima (part 3)

Sebelumnya ane minta maaf karena belum paham teknis posting cerbung. Habis ini ane update sambungannya di komen, insyaallah.
Suara jeritan Bahono masih menghantui warga desa, bahkan semakin hari semakin sering terdengar.
Atas musyawarah warga desa mereka sepakat untuk mendatangkan seorang lunuwih asal Banyuwangi untuk menguak misteri hilangnya Bahono, bernama Eyang Bunito.
Pada hari dan malam yang ditentukan Eyang Bunito bersama warga mendatangi asal suara jeritan Bahono.
Akhirnya mereka mendapati sumber suara itu dari pohon beringin tua yang ada diujung makam desa.
Malam itu tepat selasa kliwon, Eyang Bunito bersiap melakukan ritual untuk berkomunikasi dengan penunggu beringin tua tersebut.
Di tengah ritual yang sangat mencekam, tiba- tiba Polo salah satu warga desa mendadak kesurupan.
Polo mengerang dan matanya melotot hingga tampak putihnya saja. Lalu tiba-tiba dia mampu melompat setinggi 5 meter ke atas pohon beringin.
Warga sontak heboh. Mereka terheran-heran.
Bersamaan dengan itu, angin kencang datang diikuti hujan deras. Suara lolongan anjing bersautan lalu ... Terdengar jelas suara cekikikan mirip kuntilanak dan bunyi kemrincing delman datang dari jauh. Suaranya semakin terdengar jelas ... Semakin dekat ...
Sebagian warga menjerit ketakutan. Mereka lari tunggang langgang.
Lampu listrik yang sengaja dialirkan ke lokasi makam tiba-tiba mati dan sejurus kemudian terdengar suara Bahono! Hanya suara tanpa rupa.
"Tolong! Tolong! Ampuuun! Cukuuup! Sakiiit!" Suara Bahono terdengar histeris memilukan seperti suara orang kesakitan akibat disiksa oleh pukulan dan cambukan yang tak dapat dibayangkan.
Eyang Bunito dan beberapa orang yang menjadi pendampingnya tampak komat-kamit membaca mantra. Mereka berusaha mengendalikan Polo yang ada diatas pohon agar mau turun.
Polo pun mendarat kebawah tepat di depan Eyang Bunito. Dia memandang Eyang Bunito dengan tatapan mengancam sambil memasang kuda-kuda seolah-olah hendak menantang duel.
Polo melompat ke sana ke mari, memperagakan jurus serupa pencak silat yang ganjil. Sesekali dia mengaum bagai singa dan menyerang Eyang Bunito. Namun sebelum dapat menyentuh tubuh Eyang Bunito, Polo selalu terpental.
Eyang Bunito bukan lawan sepadan hingga tak butuh waktu lama, Polo pun berhasil ditaklukan. Roh siluman yang memasuki tubuh Polo segera keluar.
Polo tergolek lemah tak berdaya dia kelelahan dan mulutnya megap-megap. Warga lain yang masih tinggal dan menjadi saksi peristiwa itu, segera menolong dengan memberikan air minum dan membersihkan bajunya yang kotor.
Eyang Bunito sendiri tidak bergeming. Dia masih terus merapal mantra. Kali itu ditujukan untuk membebaskan Bahono dan seperti mendapat sepakan tak kasat mata, Eyang Bunito tiba-tiba terpental jauh dari tempatnya berdiri.
(Bersambung)
Part 1
part 2

Sebelumnya ane minta maaf karena belum paham teknis posting cerbung. Habis ini ane update sambungannya di komen, insyaallah.
Suara jeritan Bahono masih menghantui warga desa, bahkan semakin hari semakin sering terdengar.
Atas musyawarah warga desa mereka sepakat untuk mendatangkan seorang lunuwih asal Banyuwangi untuk menguak misteri hilangnya Bahono, bernama Eyang Bunito.
Pada hari dan malam yang ditentukan Eyang Bunito bersama warga mendatangi asal suara jeritan Bahono.
Akhirnya mereka mendapati sumber suara itu dari pohon beringin tua yang ada diujung makam desa.
Malam itu tepat selasa kliwon, Eyang Bunito bersiap melakukan ritual untuk berkomunikasi dengan penunggu beringin tua tersebut.
Di tengah ritual yang sangat mencekam, tiba- tiba Polo salah satu warga desa mendadak kesurupan.
Polo mengerang dan matanya melotot hingga tampak putihnya saja. Lalu tiba-tiba dia mampu melompat setinggi 5 meter ke atas pohon beringin.
Warga sontak heboh. Mereka terheran-heran.
Bersamaan dengan itu, angin kencang datang diikuti hujan deras. Suara lolongan anjing bersautan lalu ... Terdengar jelas suara cekikikan mirip kuntilanak dan bunyi kemrincing delman datang dari jauh. Suaranya semakin terdengar jelas ... Semakin dekat ...
Sebagian warga menjerit ketakutan. Mereka lari tunggang langgang.
Lampu listrik yang sengaja dialirkan ke lokasi makam tiba-tiba mati dan sejurus kemudian terdengar suara Bahono! Hanya suara tanpa rupa.
"Tolong! Tolong! Ampuuun! Cukuuup! Sakiiit!" Suara Bahono terdengar histeris memilukan seperti suara orang kesakitan akibat disiksa oleh pukulan dan cambukan yang tak dapat dibayangkan.
Eyang Bunito dan beberapa orang yang menjadi pendampingnya tampak komat-kamit membaca mantra. Mereka berusaha mengendalikan Polo yang ada diatas pohon agar mau turun.
Polo pun mendarat kebawah tepat di depan Eyang Bunito. Dia memandang Eyang Bunito dengan tatapan mengancam sambil memasang kuda-kuda seolah-olah hendak menantang duel.
Polo melompat ke sana ke mari, memperagakan jurus serupa pencak silat yang ganjil. Sesekali dia mengaum bagai singa dan menyerang Eyang Bunito. Namun sebelum dapat menyentuh tubuh Eyang Bunito, Polo selalu terpental.
Eyang Bunito bukan lawan sepadan hingga tak butuh waktu lama, Polo pun berhasil ditaklukan. Roh siluman yang memasuki tubuh Polo segera keluar.
Polo tergolek lemah tak berdaya dia kelelahan dan mulutnya megap-megap. Warga lain yang masih tinggal dan menjadi saksi peristiwa itu, segera menolong dengan memberikan air minum dan membersihkan bajunya yang kotor.
Eyang Bunito sendiri tidak bergeming. Dia masih terus merapal mantra. Kali itu ditujukan untuk membebaskan Bahono dan seperti mendapat sepakan tak kasat mata, Eyang Bunito tiba-tiba terpental jauh dari tempatnya berdiri.
(Bersambung)
Part 1
part 2
Diubah oleh ikamarutha 05-10-2021 12:51
khuman dan 7 lainnya memberi reputasi
8
3.2K
13
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ikamarutha
#1
Cinta Putri Khodam Mirah Delima (Part 4)
Cinta Putri Khodam Merah Delima (part 4)
Eyang bunito terpental hampir lima meter ke belakang, sontak dua pengikutnya bergegas menolong.
"Guru, mohon lebih waspada! Mereka punya kekuatan yang hebat!" seru salah satu dari pengikutnya.
Eyang Bunito tidak nampak gentar. Dia hanya mengangguk sambil membersihkan bajunya yang kotor.
Dan tak lama...
Terdengar suara gemuruh. Pusaran angin mendadak datang menyerbu, berputar-putar kencang diiringi suara lengkingan dan jeritan wanita. Sebentuk gumpalan asap putih muncul dari atas, melayang perlahan, turun ke tanah.
Dari gumpalan asap putih misterius itu, keluarlah sesosok makhluk berwujud wanita menyeramkan dengan gigi taring dan mata juling. Awalnya hanya satu, namun seakan tak ada habisnya, asap putih itu terus memuntahkan keluar berbagai makhluk dengan aneka rupa wajah menyeramkan yang tak mampu dibayangkan sebelumnya oleh manusia. Jumlah mereka terus bertambah, mungkin puluhan, menyesaki areal perkuburan.
Semua warga yang menyaksikan peristiwa tersebut memilih menjauh dan hanya berani melihat dari jarak 100 meter. Wajah-wajah mereka pucat dan tegang.
"Hi hi hi hi ... hai cecunguk! Jangan coba-coba merebut Bahono dari tanganku. Hi hi hi ... Dia bakal menjadi abdiku dan kukimpoikan dengan putriku. Hi hi hi ...." Siluman wanita yang tampaknya menjadi pemimpin rombongan ghaib itu berkata demikian dan langsung menghilang.
Bersama hilangnya para siluman itu, sebuah kilat menyambar salah satu pohon di makam dan membakarnya. Hujan lebat turun tumpah ruah dari langit malam seakaan memaksa pergi semua warga yang berada disana.
Eyang bunito dan kedua orang pengikutnya pun mengakhiri ritual yang berat itu.
Keesokan harinya bada Dhuhur, Eyang Bunito berpamitan kepada warga dan berjanji akan kembali untuk melawan siluman itu, seraya berpesan untuk menyiapkan segala ube rampe yang dibutuhkan untuk ritual selanjutnya.
Warga desa akhirnya hanya bisa pasrah, mengingat kegigihan Eyang Bunito yang sudah maksimal membantunya, meski belum berhasil.
Malam selanjutnya masih terdengar lengkingan suara ghaib dan jeritan Bahono yang memilukan. Hal ini berlangsung setiap jam 12 malam ke atas.
Suatu sore warga desa kedatangan seorang tukang cilok keliling yang baru pertama kali berjualan di desa itu.
Tukang cilok itu terkesan sangat sederhana, tak ada yang istimewa. Namun, tiba-tiba saja, tanpa ditanya, dia berkata kepada pembelinya saat itu, "Sebaiknya Pak, pohon beringin yang ada di kuburan itu di tebang saja, bikin serem desa."
Sumardi yang baru membeli ciloknya mendengkus."Tahu apa kamu soal lelembut, heh? Orang sakti saja kalah melawan siluman, apalagi kamu? Enggak usah sok tau, lah!"
"Ya, namanya juga usaha. Siapa tahu, ada hikmah setelah pohon beringin itu ditumbangkan," balas Tukang Cilok.
Lain Sumardi, lain pula Sodikin yang nampaknya lebih bijaksana menanggapi Tukang Cilok.
"Kalau kamu memang mau membantu kami, berani enggak nanti malam tidur dibawah pohon beringin itu sendirian?" tantang Sodikin.
"Baiklah Bapak-bapak sekalian, nama saya Somplak. Saya asli Magelang dan sementara ini saya tinggal menumpang di tempat juragan cilok. Nanti malam akan saya coba dekati pohon beringin itu."
Kata-kata Somplak si tukang cilok menyebar ke telinga warga lain. Sekitar pukul 8 malam warga desa berkumpul di perkuburan membuktikan sampai di mana nyali Somplak.
Dan alangkah kaget mereka semua manakala Somplak datang mengenakan jubah ala wali. Dia keluar dari dalam mobil Innova yang cukup mewah untuk ukuran orang-orang kampung. Somplak bahkan dikawal oleh 7 orang yang terlihat sangat patuh kepadanya.
(Bersambung)
Eyang bunito terpental hampir lima meter ke belakang, sontak dua pengikutnya bergegas menolong.
"Guru, mohon lebih waspada! Mereka punya kekuatan yang hebat!" seru salah satu dari pengikutnya.
Eyang Bunito tidak nampak gentar. Dia hanya mengangguk sambil membersihkan bajunya yang kotor.
Dan tak lama...
Terdengar suara gemuruh. Pusaran angin mendadak datang menyerbu, berputar-putar kencang diiringi suara lengkingan dan jeritan wanita. Sebentuk gumpalan asap putih muncul dari atas, melayang perlahan, turun ke tanah.
Dari gumpalan asap putih misterius itu, keluarlah sesosok makhluk berwujud wanita menyeramkan dengan gigi taring dan mata juling. Awalnya hanya satu, namun seakan tak ada habisnya, asap putih itu terus memuntahkan keluar berbagai makhluk dengan aneka rupa wajah menyeramkan yang tak mampu dibayangkan sebelumnya oleh manusia. Jumlah mereka terus bertambah, mungkin puluhan, menyesaki areal perkuburan.
Semua warga yang menyaksikan peristiwa tersebut memilih menjauh dan hanya berani melihat dari jarak 100 meter. Wajah-wajah mereka pucat dan tegang.
"Hi hi hi hi ... hai cecunguk! Jangan coba-coba merebut Bahono dari tanganku. Hi hi hi ... Dia bakal menjadi abdiku dan kukimpoikan dengan putriku. Hi hi hi ...." Siluman wanita yang tampaknya menjadi pemimpin rombongan ghaib itu berkata demikian dan langsung menghilang.
Bersama hilangnya para siluman itu, sebuah kilat menyambar salah satu pohon di makam dan membakarnya. Hujan lebat turun tumpah ruah dari langit malam seakaan memaksa pergi semua warga yang berada disana.
Eyang bunito dan kedua orang pengikutnya pun mengakhiri ritual yang berat itu.
Keesokan harinya bada Dhuhur, Eyang Bunito berpamitan kepada warga dan berjanji akan kembali untuk melawan siluman itu, seraya berpesan untuk menyiapkan segala ube rampe yang dibutuhkan untuk ritual selanjutnya.
Warga desa akhirnya hanya bisa pasrah, mengingat kegigihan Eyang Bunito yang sudah maksimal membantunya, meski belum berhasil.
Malam selanjutnya masih terdengar lengkingan suara ghaib dan jeritan Bahono yang memilukan. Hal ini berlangsung setiap jam 12 malam ke atas.
Suatu sore warga desa kedatangan seorang tukang cilok keliling yang baru pertama kali berjualan di desa itu.
Tukang cilok itu terkesan sangat sederhana, tak ada yang istimewa. Namun, tiba-tiba saja, tanpa ditanya, dia berkata kepada pembelinya saat itu, "Sebaiknya Pak, pohon beringin yang ada di kuburan itu di tebang saja, bikin serem desa."
Sumardi yang baru membeli ciloknya mendengkus."Tahu apa kamu soal lelembut, heh? Orang sakti saja kalah melawan siluman, apalagi kamu? Enggak usah sok tau, lah!"
"Ya, namanya juga usaha. Siapa tahu, ada hikmah setelah pohon beringin itu ditumbangkan," balas Tukang Cilok.
Lain Sumardi, lain pula Sodikin yang nampaknya lebih bijaksana menanggapi Tukang Cilok.
"Kalau kamu memang mau membantu kami, berani enggak nanti malam tidur dibawah pohon beringin itu sendirian?" tantang Sodikin.
"Baiklah Bapak-bapak sekalian, nama saya Somplak. Saya asli Magelang dan sementara ini saya tinggal menumpang di tempat juragan cilok. Nanti malam akan saya coba dekati pohon beringin itu."
Kata-kata Somplak si tukang cilok menyebar ke telinga warga lain. Sekitar pukul 8 malam warga desa berkumpul di perkuburan membuktikan sampai di mana nyali Somplak.
Dan alangkah kaget mereka semua manakala Somplak datang mengenakan jubah ala wali. Dia keluar dari dalam mobil Innova yang cukup mewah untuk ukuran orang-orang kampung. Somplak bahkan dikawal oleh 7 orang yang terlihat sangat patuh kepadanya.
(Bersambung)
Diubah oleh ikamarutha 05-10-2021 12:04
ariefdias dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup