Kaskus

Story

annaonymusAvatar border
TS
annaonymus
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
Haiii agan dan sista kaskuseeerrr....
Thread kali ini aku mau curhat, kejadian yang sedang aku alami saat ini. 
Cerita ini berawal dari merger perusahaan tempat aku bekerja. Sebelum merger, aku ada cerita gagal menikah. Yang sebenarnya itu anugerah juga sih, soalnya rencana itu karena aku nurutin kemauan orang tuaku, dan ternyata lelaki itu brengsek. Dan aku berkata sepele, agak berharap juga sih "Yaudah sih, toh bentar lagi juga merger, makin banyak ikan di laut. Pastilah ada yang nyangkut" emoticon-Big Grin

Sampai akhirnya jadilah merger. Aku dengan timku yang baru, campuran dari tim lama dan legacy perusahaan yg ikut merger. Di hari pertama kita yah, istilah kata masa perkenalan sedivisi lah. Aku baru tau, di timku, ada cowok ganteng. Satu-satunya pemuda lah di divisiku. Aku kaget, dan terpana gitu. Saking terpananya, aku nggak berani kenalan sama dia. Aku cuma diem, ngelirik sesekali, dan dengerin cowok itu waktu memperkenalkan diri. 

Dan setelahnya, aku nyuekin dia gitu. Aku cuma wanita biasa yang normal, suka cowok ganteng, tapi aku cukup tau diri buat nggak mengharapkan dia. Karena dia ganteng banget, kalem lagi anaknya, dan dari penampilannya, kayak high class gitu. Dia nggak belagu sebenarnya, tapi aku yang tau diri. Aku takut jatuh cinta sama dia dan patah hati. Aku takut dia punya pacar, atau nggak melihat aku. Karena aku cuma perempuan biasa. Cantiknya standar, harta pas-pasan, introvert pula, nggak yang humble kayak cewek gaul gitu. Dan itu berlangsung selama hampir 4 bulan kita sekantor. Jadi kita menjaga komunikasi tetap plain dan nggak jauh-jauh dari kerjaan. Ya, sesekali dia curhat tentang kerjaannya, tapi aku berusaha nggak masukin ke hati. Ya itu tadi, aku menghindari banget buat jatuh cinta sama dia. Cause he's too good to be true.

Sampai kemudian, ada satu project, di mana aku dan cowok itu, hmm sebut aja namanya Lutfi. Hampir seharian kita kerja berdua-duaan. Jujur aja aku salah tingkah. Tapi aku tetap berusaha cool dan fokus ke pekerjaan aku. Lutfi pun kelihatan fokus sama project itu. 

Ketika akhirnya projectnya selesai, kami ngobrol. Awalnya obrolan ringan seputar kerjaan yang emang lagi hectic, soal project yang baru aja kami kerjain, ghibahin beberapa temen ehehe. Sampai akhirnya, Lutfi curhat tentang yah, betapa kerjaan bikin dia pusing dan kadang bikin dia ingin resign. Mungkin tempaan mentalnya belum matang ya, Lutfi emang baru pertama kali kerja. Belum pernah pindah-pindah perusahaan dan baru setahun dia kerja di perusahaan ini.

Aku cuma senyum aja dengerinnya. Bukannya gimana-gimana, tapi pengalaman aku emang lebih banyak daripada Lutfi. Since, aku cuma perempuan biasa aja, jadi aku harus kerja buat bantu keluargaku. Apalagi aku udah ngga punya Ayah dan aku anak pertama, yang otomatis beban tulang punggung jadi tanggung jawabku. Pahit-pahitnya kerja udah aku alami. Mulai dari atasan yang sensi dan nggak mau disalahin, kerja lembur sampai larut malam tapi nggak dibayar, harus jadi serbatahu saat nggak tahu apa-apa, dicecar nggak karuan, nangis di kamar mandi, pusing sampai mual, dipersulit saat mau resign, dan aku harus bertahan demi keluargaku. Karena kalau aku resign, ya mau makan apa sekeluarga? Kalau cuma keluhan diganggu saat weekend, atau disindir-sindir, istilah kata itu cuma level dua lah. Dan kantor tempatku bekerja saat ini, kantor yang sama dengan Lutfi, adalah kantor terbaik. Di mana hasil kerja selalu dihargai, atasan dan rekan yang support dan kompak, gangguan di weekend pun juga selalu ada solusinya sehingga aku nggak keberatan buat itu.

Semua itu aku ceritain ke Lutfi. Bukan bermaksud gimana-gimana. Aku mau kasih gambaran ke Lutfi, kalau dunia kerja emang sekeras itu. Aku mau dia bersyukur, karena kalau dia resign dan nyari lagi, belum tentu dapat yang lebih baik daripada kantor yang ini. Lutfi dengerin cerita aku antusias banget lah pokoknya. Bahkan dia masih antusias walau banyak interupsi. Dan dia nggak segan-segan buat bilang kalau dia kagum sama aku. Yang udah banyak pengalaman dan bisa lewatin semuanya. Kami bener-bener cerita heart to heart lah tentang pengalaman kerja.

Di hari itu, runtuhlah semua pertahanan aku. Bahkan sampai-sampai aku kegirangan kayak orang mabok. Hanya karena Lutfi mau terbuka dan kagum sama aku. Hahaha... jujur, aku bisa tahan godaan cowok goodlooking, tapi aku paling nggak bisa tahan dengan perhatian dan obrolan yang cocok. Tanpa bisa dicegah, aku jatuh hati sama Lutfi. 

Kemudian, atas saran adek aku, yang lebih ngerti tentang cinta daripada aku (apalah dayaku, ngga pernah pacaran wkwk... sekalinya punya hubungan, itu juga terpaksa). Dia nyaranin aku buat coba PDKT. Ngajak nonton kek, apa kek gitu kan. Tapi pas aku jalanin saran dari dia, justru aku dicuekin huhuhu... Dia bahkan (kayaknya) blokir sementara kontak aku. Dan bisa dihubungi lagi di hari kerja. Parah kan? Saking aku kesel sama itu cowok, aku ganti nama kontak dia jadi CHATBOT. Yah, namanya cewek dicuekin, pasti kesel lah yaa. Kesel plus malu. Tapi untung abis itu aku ngga ketemu dia 3 hari. During the weekend, sama WFH. Lumayan lah yaa, buat recovery muka gue ini wqwq.

Dan di hari pertama kami ketemu di kantor, si Lutfi innocently nyapa aku dengan senyum manis dan suara kalemnya. "Hai mba Anna!" lalu bersikap layaknya teman kerja. Dari situ, aku beraniin tuh nodong dia. Hahaha padahal selama naksir cowok seumur hidup, mana pernah aku berani modus, apalagi sampe nodong. Aku samperin ke meja dia.

"Parah ih mas Lutfi! Whatsapp aku nggak dibales!"

Lalu dia, dengan mengernyit heran. Entah itu beneran apa boongan, jawab. "WA yang mana?"

"Yang aku ngajak nonton."

"Aku bales kok, malah mba Anna yang nggak bales."

"Mana ada? Aku bales tauk!"

"Ih, beneran mbaa..." lalu ngambil hpnya dan kasih unjuk chat dia ke aku. "Tuh, aku kan balas, mau nonton kapan dan sama siapa aja. Trus mba nggak balas lagi."

Wah, totalitas dia playing innocent. Ya udah aku ladenin. Demi menyelamatkan harga diri kaan. Dan aku rasa cukup sudah aku nodong, kalo kebangetan dan makin parah, bisa kacau juga kerjaan kan. Secara dia satu tim sama aku. "Masa sih mas? Aku bales lagi tau abis itu."

Dan dia masih berlagak nggak tahu. Kemudian aku ngomong aja apa adanya. "Sebenarnya tuh mas, aku nggak apa-apa nonton sendirian. Tapi Mama aku nggak akan bolehin. Makanya aku cari temen. Akhirnya aku ngga jadi nonton deh itu."

Pas aku mau pergi, dia bilang. "Kalau mau mah jangan pas weekend, mending abis pulang kantor aja." Lalu aku cuma jawab iya dan balik ke mejaku. 

FYI, aku sama Lutfi itu seumuran. Tapi aku kebiasaan selama kerja semua aku panggil mas dan mbak, jadi aku panggil dia Mas Lutfi. Dan dia kebawa manggil aku Mbak Anna emoticon-Big Grin. Dan insiden whatsapp itu. Di balasan terakhir, whatsapp aku ke Lutfi ceklis, tapi fotonya masih ada. Waktu itu aku pikir error. Tapi kemudian aku dikasih tau temenku, kalau ternyata whatsapp bisa diblokir tapi fotonya masih keliatan. Entah gimana caranya. 

Setelah kejadian itu, aku memutuskan buat berhenti PDKT. Juga supaya kita bisa tetep profesional dan nggak terlalu bawa perasaan pribadi sih. Lalu di situ, aku jadi ingat pesan Ayah dulu. Aku paling nggak bisa PDKT dan punya pacar, sama kayak Ayah. Jadi, aku lebih baik cari teman. Kalaupun aku naksir orang, ya berteman aja. Kalau cocok, lanjut deh serius. Hmm kadang aku berharap Ayah masih ada dan aku bisa curhat. Tapi sekarang, cuma nasehat itu yang bisa aku pegang. Sambil aku berdoa sama Allah buat dikasih kesabaran dan keikhlasan buat nerima bagaimanapun sikap dia ke aku.

Dan Lutfi adalah satu-satunya lelaki yang aku naksir, yang bikin aku mau belajar. Mau belajar menanggalkan sifat-sifat childish. Mau belajar untuk kalem dan tenang. Mau belajar untuk rajin sholat, karena sebelumnya aku malaaasss banget sholat, beda sama Lutfi yang sangat-sangat rajin dan selalu ambil wudhu tiap adzan. Mau belajar buat memperbaikin penampilan dan caraku berjalan. Mau belajar bersyukur. Dan mau belajar ta'aruf dari pertemanan. Intinya, aku tergerak buat jadi lebih baik. 

Saat itu, aku emang pada akhirnya berniat melupakan aku jatuh hati sama Lutfi. Tapi itu belum selesai. Cerita ini masih akan berlanjut. Dan mungkin akan terus menerus berlanjut. Karena selama jalan ceritanya, akan ada banyak pertanyaan. Lutfi itu ramah, baik, sholeh, dan terbuka tapi misterius di saat bersamaan. Makanya di kontaknya aku namain CHATBOT. Karena ramahnya dia lempeng sekali kayak chatbot wkwk.
symoel08Avatar border
ruhul007bluesAvatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
9.4K
46
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
annaonymusAvatar border
TS
annaonymus
#16
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor Part 13
Hallo agan dan sista!
Ane lanjut lagi yaa threadnya, cause now I finally have something to tell wkwk..
Ane kira, dengan pindah gedung lalu Ane dan Lutfi duduk sebelahan bakal banyak cerita. Ternyata tydack emoticon-Frown

Can't blame sih, emang gara-gara kelamaan PPKM, dan emang porsi WFH divisi aku cuma sedikit. Dan mungkin aja karena sekarang ongkos Lutfi PP ke kantor lebih mahal dua kali lipat. Kangen? Hmm gimana ya? Ane bingung uga hehehe... Nggak kangen kayak yang ngebet gitu, biasa aja, cuma pengen ketemu tapi ya kalo nggak ketemu ya udah aja. Aneh ya, belom pernah ane jatuh cinta seslow ini wkwk... Apa ane kebawa ya gara2 gebetan ane orangnya slow, santai kayak di pantai wkwk... ya udahlah, mungkin ane akhirnya udah dewasa dan nggak childish lagi kalo lagi nggak ketemu dia. Yah, walaupun kalo dia nongol ane akan kegirangan kayak fangirl wkwkwk....

Okelah, ane lanjut yaa...

***

Sebetulnya sebelum cerita yang akan aku tulis ini, ada satu pertemuan lagi antara aku dan Lutfi. Menyenangkan juga pertemuan itu, cukup bikin baper. Yah, tapi emang sih, setiap pertemuan aku dan Lutfi selalu menyenangkan dan bikin baper. Lihat dia aja udah bahagia banget, berasa lihat matahari pagi yang cerahnya menghangatkan (uuuu emoticon-Big Grin). Terus kita ngobrol dan semakin banyak kenal dia, semakin banyak kesamaan kita. Mulai dari selera musik, kelakuan kita kalo di kendaraan umum (yang bagi kita, itu me time paling berharga sambil menghayati dan dengerin musik wkwk), dan yah cerita style kita kalo lagi panik. Aku dan Lutfi, sama-sama panikan. Tapi bedanya, aku kalo panik gempar dunia. Pasti grabag-grubug heboh sendiri, sedangkan Lutfi, biar kata dia bilang panik or so, tapi masih kelihatan tenang. Bahkan ngga keliatan panik-paniknya. Ya karena dia kalo panik liat sikon dulu sih, intinya dia bisa kontrol diri lah.

Lalu hari Jumat kemarin, aku dibuat baper berpangkat-pangkat. Awalnya sih aku agak ngedown, karena dia duduknya menjauh, nggak di mejanya. Mungkin alasannya karena mejanya berantakan. Tapi walau gitu tetap aja aku jadi ngedown. Duuh... dasar ya, baru gitu aja baper, udah mikir yang enggak-enggak wkwk. Selama kerja juga kita nggak banyak ngobrol kayak biasanya. Dia juga nggak nyetel musik. Karena ya itu, duduknya jauh-jauhan. Paling sesekali nanya kerjaan, atau diledekin. Selebihnya, aku cuma bisa curi-curi pandang aja.

Hari itu, kerjaan lagi sangat hectic. Aku bahkan sampai burnout. Yah sebenarnya aku tipe yang cukup tanggung dari burnout kerjaan. Tapi yang bikin aku quickly burnout, ya gara-gara Lutfi yang pendiam dan duduknya jauhan yang bikin gue overthinking. Ditambah lagi, ada agenda dadakan dari Pak Ridwan dan Pak Tama.

Jadi, kami diajak ikut semacam meeting perkenalan dengan vendor. Tadinya sih rencananya siang, tapi geser ke sore. Aku dan Lutfi disuruh ikut. Sebenarnya aku agak malas ikut karena load pekerjaanku hari ini sedang sangat banyak dan diperparah dengan burnout dan overthinking. Aku takut tidak bisa kontrol wajah saat bertemu orang-orang vendor nanti.

Sore itu, akhirnya aku, Lutfi, Pak Tama, dan Pak Ridwan berangkat ke lokasi meeting menggunakan mobil Pak Ridwan. Lutfi yang menyetir. Pak Tama duduk di depan bersama Lutfi, sedangkan aku di belakang bersama Pak Ridwan. Sepanjang jalan, Pak Tama dan Pak Ridwan sibuk sekali membahas project-project kantor yang sedang on going. Mereka tampak sama hecticnya sepertiku. Hanya bedanya, aku tampak menganggur karena pekerjaanku harus dikerjakan di kantor dan tidak bisa disambi jalan. Pun dengan Lutfi yang sedang menyetir.

Oh iya, sebetulnya Lutfi juga tidak ingin ikut acara itu. Ia ingin pulang agak cepat karena katanya ada urusan keluarga. Tapi karena terlanjur diminta Pak Ridwan menyetir, mau tidak mau Lutfi jadi terbawa ikut acara meeting perkenalan vendor. Sedangkan barang-barangnya ditinggal di kantor (namanya juga nggak sengaja ikut emoticon-Big Grin).

“Sekarang naik kereta harus bawa surat vaksin ya ternyata. Surat keterangan yang biasa udah nggak berlaku lagi,” aku membuka obrolan. Kebetulan Pak Tama juga pengguna moda transportasi KRL sepertiku.

“Oh iya emang? Sejak kapan?”

“Berlaku mulai besok Sabtu, Pak. Tapi celakanya aku nggak print sertifikat aku, nggak aku screenshot juga. Selama ini aku cuma ngandelin link yang di SMS itu. Mana sekarang linknya nggak bisa dipakai. Gimana ya itu?” kataku setengah curhat.

“Wah repot juga ya,” dan Pak Tama melanjutkan ceritanya tentang beruntungnya dia sudah punya kartu vaksin. Sedangkan aku masih pusing memikirkan bagaimana kalau mau naik KRL ke kantor untuk minggu depan dan seterusnya kalau aku tidak punya sertifikat vaksin.

Lutfi berhenti di lampu merah. Sepanjang perjalanan, cowok itu sama sekali tidak bersuara. Pendiam seperti biasanya. Kukira dia terlalu fokus menyetir dan tidak ikut mendengar percakapan kami. Sampai tiba-tiba dia memberiku saran.

“Coba pakai link ini aja, mba,” Lutfi menyebutkan sebuah link yang aku lupa namanya.

“Hah, apa Mas?” tanyaku. Link itu cukup panjang dan spellingnya cukup ribet (menurutku).

Lutfi mengulangi lagi. Tapi karena aku masih saja tidak bisa membuka, akhirnya Lutfi meminjamkan ponselnya padaku. Dan karena aku masih tidak bisa download atau melihat sertifikan menggunakan link yang diberikan Lutfi, bahkan sampai kami bertukar ponsel, akhirnya ya aku pasrah saja. Tapi FYI, untunglah pada akhirnya aku tetap bisa naik KRL dengan lancar tanpa sertifikat vaksin, karena ternyata aku masih bisa menggunakan moda transportasi andalan itu dengan bukti vaksin dari aplikasi Pedulilindungi.

Karena waktu itu kami melakukan perjalanan pada tanggal ganjil sedangkan mobil Pak Ridwan berplat genap, akhirnya terpaksa kami memutar arah melewati rute tanpa ganjil-genap. Sepertinya itu membuat Pak Tama cukup terkesan karena beberapa kali ia memuji pengetahuan Lutfi akan seluk-beluk jalanan kota Jakarta dan kepiawaiannya menyetir. Ya, memang benar. Mobil terasa nyaman saat Lutfi menyetir (bukan karena aku naksir dia semata yaa). Kecepatannya stabil, mulus, tidak ada ugal-ugalan atau rem mendadak.Tenang sekali seperti orangnya.

“Wiih.. Lutfi tahu banget jalanan Jakarta. Jago nyetir juga ya,” puji Pak Tama randomly karena memang pak Tama baik dan hobi banget memuji sampai yang dipuji kadang merasa sungkan. “Kayaknya jago juga nyetir hati wanita.”

Seisi mobil pun tertawa, termasuk aku dan Lutfi.

“Aku kirain Ana bakal nanya, jago juga nggak mas nyetir perasaan aku?”

Lagi-lagi tawa seisi mobil pecah. Dan aku sungguh-sungguh salah tingkah sampai refleks menunduk menyembunyikan wajah di sandaran jok depanku (kebetulan banget depanku Lutfi yang sedang menyetir). Sumpah, nggak kayak biasa-biasanya, mukaku langsung terasa panas. Kalau aja nggak ketutup masker, pasti udah merah itu. Entah kenapa, padahal biasanya kalau aku dan Lutfi lagi diledek, aku nggak pernah sesalting itu sampai muka merah. Sedangkan Lutfi ya biasa, cuma ketawa cool. Aku bahkan sampa harus kipas-kipas muka supaya bisa tenang dan berhenti tertawa antara lucu dan salting.

Well, di kemudian hari, aku baru sadar. Kira-kira cukup aman nggak ya aku menyembunyikan wajah? Gimana kalau Lutfi melihat wajah dan tawa saltingku dari spion luar?? Biasanya kalo dari spion luar itu kelihatan nggak sih muka orang yang duduk tepat di belakangnya? Kalau sampai kelihatan, waah… celaka dua belas!

Sesampainya di sana, ternyata udah ada beberapa orang yang datang dan kumpul di meja makan. Kami pun memilih tempat duduk. Awalnya, aku duduk agak jauh dari Lutfi. Sebenarnya aku berharap Lutfi duduk dekat aku, tapi dia malah duduknya jauh. Terus entah gimana aku lupa banget, akhirnya kami duduk sebelahan. Kayaknya Pak Tama deh yang minta. Soalnya mau ada yang datang lagi apa gimana gitu. Sumpah senang banget aku. Yah, walau Lutfi cuek kayak biasanya, tapi ya senang aja duduk dekat dia.

Acara meeting perkenalan vendor yang tadinya aku pikir bakal membosankan dan ‘sulit’ karena aku udah burnout duluan, ternyata cukup menyenangkan. Ternyata aku yang biasanya kaku kayak kanebo, bisa juga membaur sama mereka. Dan orang-orang vendor itu cukup ramah, ya kebetulan juga sih aku udah kenal sama salah satunya karena emang kami udah beberapa kali komunikasi.
Sepanjang acara itu aku sama Lutfi nggak terlalu banyak ngobrol. Karena yah rame-rame kan, dan acaranya memang ketemu vendor. Jadi bahasannya seputaran kantor masing-masing, olahraga (karena kebetulan di sekitar aku banyakan bapack-bapack), ngomongin novel aku (cieh!) dan seterusnya. Paling aku sama Lutfi ya sesekali dicengin, malah kayaknya orang yang kebetulan duduk di depan aku ngerekam aku dan Lutfi yang, meski nggak satu meja, tapi duduknya sebelahan. Hmm aku penasaran banget itu rekamannya kayak apa wkwk… Si perekam cuma bilang “malu-malu nih” gitu. Ya, aku sih jelas malu-malu, tapi entah gimana Lutfi. Mau minta juga tengsin. Ya, mungkin aku berani-berani aja sih ya kalo dia orang internal kantor. Masalahnya, yang rekam itu si vendor :’)

Oke skip, kita makan-makan, ngobrol, sholat maghrib, ngobrol lagi sampai agak kemaleman, lalu pulang. Nah, perjalanan pulang ini yang seru.

Sama seperti sebelumnya, kami pulang bareng pak Ridwan. Lumayan kan dapet tebengan sampai stasiun terdekat. Soalnya restorannya lumayan jauh dari stasiun. Lutfi diminta tolong nyetir lagi, tapiiiiii…. Kalo tadinya yang di depan Pak Tama, atau biasanya pak Ridwan selaku yang punya mobil, kali ini aku yang disuruh di depan. Waduuh… seneng-seneng deg-degaaan wkwkwk… Berasa kayak Tuan dan Nyonya emoticon-Big Grin (Hmm, maaf ya lebai).

Mulai lah perjalanan, seperti biasa, Lutfi bawa mobil dengan stabil banget seolah udah terlatih banget. Sepanjang jalan, Lutfi dieeeeemmmm aja. Sedangkan di belakang, Pak Tama dan Pak Ridwan ngobrol di belakang. Yah, bahas-bahas soal kerjaan gitu. Sementara di depan, aku cuma yah lihat-lihat jalan aja.

BTW restorannya di daerah Senayan. Dan karena aku anaknya jarang jalan, jadi aku ya kurang tau jalan gitu. Lutfi baru mulai bersuara saat aku nanya-nanya jalan dan tempat yang kita lewatin. Yah, karena dia lebih tau daripada aku, jadi dia ya tau semua yang aku tanyain. Dan gayanya di jawab tuh yah, ramah dan lembut macam tour guide. Eh, bukan deng, lebih mirip kayak ngajak bocah jalan dan nunjukkin pasar malam gitu wkwk…

Terus kita lewat daerah Permata Hijau. Aku nanya lagi. “Permata Hijau tuh dekat TB Simatupang nggak sih, Mas?”

“Masih jauh TB Simatupang mah. Ini nih jalan mau ke kampus aku.”

Deg! Aku tahu kampus Lutfi. Dan dia satu kampus sama cinta pertamaku. Cinta pertama yang bikin aku susah move on sampai 10 tahun lamanya. Mereka masuk bareng, dan lulus bareng. Entah apa yang merasuki aku, aku cerita ke dia tentang cinta pertamaku itu. Tentang asal muasal aku mulai suka nulis gara-gara cinta pertamaku itu.

“Dulu waktu SMP aku pernah suka sama teman sekelasku. Sampai lamaaa banget aku tuh susah move on. Sampai jadi novel. Dia satu kampus sama mas Lutfi. Satu jurusan malah. Paling Mas Lutfi kenal dia.” Saat cerita begitu, emosiku menggelegak. Entah kenapa. Padahal aku udah move on. Aku udah berhasil menjalani hampir tiga tahun tanpa mikirin dia yang keterlaluan gitu. Tapi yah, mungkin karena namanya juga cinta pertama, lama lagi nggak bisa move on. Jadi masih kayak emosional aja rasanya pas ngomongin dia.

“Jurusan manajemen juga? Namanya siapa mbak?” tanya Lutfi sambil terus menyetir.

“Iya, jurusan manajemen.”

“Masuknya bareng?”

“Iya, bareng. Dia teman sekelasku, Mas. Lulusnya juga bareng kok. Soalnya dia ambil double degree,” ceritaku.

Sebenarnya Lutfi bertanya lagi siapa namanya, barangkali dia kenal. Tapi emosionalku udah sampai ubun-ubun kayaknya, aku beneran nggak kuasa nyebutin nama dia. Alih-alih jawab pertanyaan Lutfi, malah aku alihin cerita soal salah satu pembacaku.

“Jadi ada salah satu pembacaku, yang dia tuh sampai kebaperan banget. Awalnya dia nanya-nanya biasa gitu kan, cerita yang aku tulis itu inspirasinya dari mana, pengalaman pribadi kah? Ya aku jawab aja, sebagian pengalaman, sebagian lagi ngayal. Terus dia nanya David itu beneran ada apa enggak.” FYI, sebut aja nama tokoh di novelku itu David. Hmm soalnya kalau aku nyebutin nama tokoh di novelku itu, pasti kalian bakal langsung tau siapa Anna wkwk. “Ya aku jawab ada, dia kuliah di *****. Beneran dicari dong. Ya jelas dia nggak akan nemu, orang aku nggak nulis nama aslinya di novel. Ya kali pakai nama asli, bisa-bisa aku dituntut!”

Aku langsung inhale-exhale setelah cerita, soalnya dadaku beneran sampai sesak saking emosionalnya. Aku juga heran kenapa aku masih emosional aja, padahal jelas-jelas aku cintanya sama Lutfi. Aku bahkan udah nggak berharap ketemu dia lagi. Dan selama aku cerita itu, entah perasaan aku aja apa beneran, tapi rasanya Lutfi kayak agak ngebut gitu bawa mobilnya. Emang sih jalan raya udah agak sepi. Tapi dia agak kasar gitu nyetirnya. Belok-belok aja aku sampai kebawa-bawa. Beberapa kali aku ikut mobil yang disetirin Lutfi, nggak pernah dia nyetir sekasar itu. Aku langsung nyesel udah buka cerita tentang cinta pertamaku ke dia. Walau belum pasti dia itu ngebut kayak gitu karena jalanan sepi apa karena kesel. Ya, kalau ternyata yang kejadian kemungkinan kedua, senang aku hahaha.

Sesampainya di rumah, aku update instastory. Salah satu foto hasil jepretan di restoran tadi, yang tempatnya emang instagramable banget, aku pilih yang paling bagus. Aku upload, dan aku mention orang-orangnya, termasuk Lutfi. Itu kalau nggak salah udah setengah sebelas malam. Setelah upload, aku langsung tidur. Yah, nggak ngarep lah Lutfi bakal langsung lihat. Biasanya, kalau aku upload instastory di atas jam sembilan, dia bakal lihat besokannya.

Tapiiii… saat subuh-subuh aku bangun dan lihat notif, ada pemberitahuan “Lutfi menyukai sebutan atas dirinya di cerita anda”. Biasanya, notif yang indah-indah begini cuma mimpi, ya aku pikir itu cuma mimpi kan namanya juga baru bangun. Ternyata beneran itu, dan dia lihat instastory aku tengah malam. Sumpah tumben banget wkwk… dilike lagi. Dah tuh, pagi buta aku mengawali hari dengan kebaperan maksimal. Padahal mana pernah Lutfi ngelike kalau aku mention dia. Paling cuma dilihat aja.

Nggak sampai di situ, coba ya bagi yang paham banget Instagram, boleh komen kasih pencerahan hehe…

Jadi agak siangan, aku buka Instagram lagi. Biasa lah yaa.. selingan di jam kerja biar nggak pusyeng. Iseng-iseng aku buka pesan dari Lutfi kan, ya masih nggak percaya gitu dia ngelike wkwk (ya Allah… maaf ya hamba baper cuma gara-gara hal yang barangkali sepele huhuhu). Dia aktif sekitar sebelas menit yang lalu, dan sebelas menit yang lalu pula, dia kayak liat mentionan aku lagi di direct messagenya. Jadi di bagian kanan bawah gambar instastory itu, ada tulisan dilihat 11 menit yang lalu. Apa coba itu? Berarti bener dia buka lagi kan yak? Dah, the end, baper yang udah sangat, jadi makin berpangkat-pangkat.

***

Tapiiii... saat kita ketemu lagi di kantor, Lutfi tiba-tiba jadi aneh. Lutfi pendiam, memang orangnya begitu, aku tahu dan itu nggak masalah. Tapi diamnya Lutfi hari itu aneh. Dia duduk di mejanya pakai jaket. Dia juga kayak orang meriang gitu, pegang-pegang kepala terus. Dia juga nggak ngomong sama sekali pagi itu. Aku juga mau negur duluan jadi sungkan. Selama beberapa saat, aku cuma perhatiin dia aja sambil kerja. Terus aku beraniin buat nanya.

"Mas Lutfi!" panggilku.

Mas Lutfi noleh.

"Kenapa?" tanyaku.

"Ngantuk," jawabnya singkat sambil senyum tipis.

"Ooh... ngopi laa," jawabku sok nggak acuh (yang malah jadi keliatan aneh) sambil lanjut ketak-ketik di laptop.

Lutfi nggak jawab aku, dia langsung panggil OB dan minta dibikinin kopi. Jujur aja aku agak worry kan, takutnya dia meriang beneran. Tapi ya entahlah, soalnya siangnya dia lepas jaket dan yah, biasa lagi. Tapi cueknya itu beneran luar biasa. Dia sama sekali nggak negur aku duluan (oke, itu aku masih maklum), bahkan saat aku nanya kerjaan atau ngajak ngobrol soal kerjaan nyamperin ke mejanya dia kelihatan kayak keganggu gitu. Biasanya, sesibuk apapun kerjaan dia, kalau aku ajak ngobrol, dia pasti bakal put all of his attention to me. Kalau lagi pakai headset dia lepas headsetnya, kalau lagi ngadep laptop, dia muter kursinya buat ngadep aku, dan dia fokus ngobrol lihat ke aku. Tapi ini enggak. Dia bahkan nggak lihat aku sama sekali.

Benar-benar Lutfi aneh. Setelahnya, aku malah jadi kepikiran dan merasa kemarin-kemarin aku kok bodoh banget cerita ke dia soal cinta pertamaku. Tapi aku juga bingung dia begitu gara-gara ceritaku atau emang dia ada sesuatu yang ada dipikirin. Soalnya timingnya pas banget. Dan dia ke aku aneh banget.

Wallahu'alam. Aku juga takut terlalu GR. Dan selama sisa hari itu, aku akhirnya jadi nggak bisa fokus kerja karena overthinking.

***

You know what, gansis, aku pikir hari itu adalah the end. Ane udah sangat-sangat putus asa dan berusaha buat buang jauh-jauh rasa GR ane. Emang benar kata Pak Tama, Lutfi itu ahli banget nyetir perasaan ane :')
ni12345
ni12345 memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.