- Beranda
- Stories from the Heart
Sakti Wirajati
...
TS
c4punk1950...
Sakti Wirajati

Kisah ini hanya fantasy, setara dengan genre wuxia semoga bisa menghibur pembaca semuanya. Kritik dan saran, untuk tulisan ini sangat berharga untuk TS semoga terhibur.
Zaman dahulu ada banyak tanah tak dikenal, dan juga orang-orang yang tak dikenal.
Elang dan semut mempunyai dunia yang berbeda. Dimata elang semut hanyalah titik hitam, tapi tentu ada sesuatu yang istimewa ketika semut berjuang untuk bertahan hidup.
Dengan demikian dunia tentu sudah tak sama lagi, ada legenda tentang cahaya dan kegelapan yang tersiar dimana nantinya kegelapan akan menyeliputi bumi. Manusia pun akan punah, disinilah kisah ini bermula.
Prolog
"Uhuk... uhuk" batuk yang mendera akibat dingin yang tak kunjung hilang memberikan rasa sakit yang tersisa.
Seperti biasa hari-hariku bekerja mengantar para bangsawan untuk melintas di pedalaman alas roban, setelah pulang dari mengantar pejabat daerah yang perlu pengawalan kami istirahat sejenak dan duduk dibawah pohon beringin putih yang sudah tua umurnya.
"Sakti, mari kita pulang" ucap salah seorang prajurit kabupaten Batang.
"Sebentar, aku minum dulu sedikit tuak ini untuk menyegarkan tubuhku"
Setelah minuman itu masuk ke dalam tubuh, akupun bangun sambil membersihkan pakaian yang sedikit kotor terkena tanah.
Kuda hitam gagah segera kunaiki, kami prajurit yang berjumlah 5 orang untuk pengawalan segera menuju kabupaten Batang tempat tinggal kami para prajurit bayaran.
Hutan hujan yang kelam memberikan suasana yang mencekam, setiap perjalanan memang penuh dengan ancaman. Namun sebagai prajurit bayaran hal itu sudah biasa dilalui.
Tiba-tiba di depan ada beberapa orang terluka, tergeletak di bawah.
"Berhenti" ujar salah seorang pemimpin kami di depan sambil mengepal tangan.
Kami pun berhenti dan segera memeriksa mereka. Terasa ada yang janggal, salah seorang dari kami teriak "awas jebakan".
Lalu tiba-tiba hujaman anak panah memburu kami, dengan sigap aku langsung meloncat ke arah mereka di atas pepohonan. Dengan 2 pedang kembar yang kumiliki kuhabisi mereka satu persatu.
"Trang....buk.. clok" dentingan dan hantaman dari pukulan yang kulontarkan saling bersahutan.
Nampak 4 prajurit pasukan Batang telah kehilangan nyawa, tinggal aku seorang yang terus melawan dengan jurus-jurus yang kupelajari sedari kecil.
Tinggal seorang kawanan perompak yang tersisa, ia berlari ingin menyelamatkan diri. Tapi langkahnya kutahan, dengan ilmu meringankan tubuh aku sudah berada di depannya.
"Ampun bro....ampun... " tangannya bergetar ketika diriku sudah mendekatinya.
"Dari kelompok mana kalian?" Tanyaku.
"Pasukan pencuri kuda, tuan pendekar pedang kembar" jawabnya dengan rasa takut.
"Kau tahu julukanku?"
"Siapa yang tidak tahu julukan tuan di alas ini, aku mohon jangan dibunuh tuan, belum nikah masih jomblo"
"Berisik... " segahku, lalu
"Hehhh...srettt.... " tanpa ampun menghunuskan pedang ke area lehernya hingga jomblo itupun mati dengan bersimbah darah.
Segera aku kembali ke tempat dimana awal kami di serang, 4 orang temanku sudah terbujur kaku. Segera ku kubur mereka dengan layak, sembari berdoa semoga Gusti Nu Agung memberikan tempat yang layak disisinya.
Aku melihat ke langit-langit yang mulai gelap, suara burung gagak bersahutan menandakan perjalanan pulang ke Batang kali ini tidak mudah.
"Sepertinya akan banyak kejutan di depan" sembari kembali menunggangi si hitam menelusuri hutan yang gelap gulita.
Tiba-tiba, terdengar teriakan menggema di hutan itu membuat bulu kuduk merinding bila mendengar suara itu.
"Sakti Wirajati... "
Lalu suara yang memanggil namaku pun menghilang dan berganti dengan nyanyian para hewan penunggu hutan.
Aku tersenyum dan kembali meneruskan perjalanan, tanpa rasa takut apalagi ciut mendengar namaku dipanggil.
#Bersambung
Diubah oleh c4punk1950... 06-09-2021 18:48
User telah dihapus dan 49 lainnya memberi reputasi
46
16.1K
107
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
c4punk1950...
#47
Part 10
Saat itu syaman Ronggolawe memeriksa diriku, aura hangat terasa disekujur tubuh.
"Nampaknya kekuatanmu untuk menjadi syaman tidak ada, untuk apa kamu masuk akademi di Ibukota?" ucap Ronggolawe.
Setidaknya dengan masuk akademi, ilmu yang kupelajari bisa lebih bermanfaat.
"Walau bakat bela dirimu diatas rata-rata, tapi sayang untuk menjadi syaman dirimu tetap tak akan bisa"
"Setidaknya aku ingin menjadi lebih kuat, dan bisa menjadi pegawai istana di kemudian hari" ia hanya tersenyum mendengar perkataanku.
"Nanti kalau kamu sudah tiba di Ibukota, aku akan mengajarimu ilmu pedang tapi untuk menjadi syaman rasanya tak mungkin"
"Benarkah itu guru!" Aku menghormat.
"Pastikan dirimu tetap hidup, karena rintangan perjalanan belum berakhir"
"Tenang guru, saya sudah perintahkan seseorang untuk minta bantuan mengirim pasukan dari Majapahit. Jadi saat ini kita tetap disini dan tidak akan kemana-mana menunggu bantuan datang"
"Ternyata kamu pintar strategi perang juga, itu memang ide yang bagus. Karena saat ini banyak pasukan terluka dan mati mental mereka pun hancur"
"Iya guru, kalau tetap dipaksakan juga nyawa sang putri taruhannya. Akan cukup berbahaya"
Ronggolawe tersenyum, lalu ia seperti menepuk pundakku ada hawa hangat disana. Lalu perlahan ada energi besar dalam tubuhku, tapi tidak keluar dan yang ada malah pundakku sakit dan pegal.
"Unik, baru kali ini ada seseorang yang diberikan aliran cakra malah ditelan mungkin itu salah satu kelebihanmu. Kalau saja titik cakramu terbuka bukan tak mungkin kamu bisa setara Dewa"
"Apa yang guru maksud?"
"Sudahlah, lupakan lebih baik kita kembali ke pasukan dan istirahat"
"Iya, guru" aku memberi hormat.
Ronggolawe kembali ke pasukannya sedangkan aku menatap langit, apa yang salah dalam diriku sebagai pendekar kekuatanku hanyalah ditingkat prajurit yang jago memainkan pedang namun tak ada sama sekali tenaga dalam yang membuat gerakanku punya kekuatan lebih.
Aku terus merenung, tapi tak ada jawaban yang diterima. Kakiku pun melangkah menuju tenda istirahat, semoga saja di ibukota aku bisa belajar mengendalikan tenaga dalam kalau tidak bisa juga yang terpenting aku bisa membalas dendam kematian kedua orang tuaku.
#Bersambung
Saat itu syaman Ronggolawe memeriksa diriku, aura hangat terasa disekujur tubuh.
"Nampaknya kekuatanmu untuk menjadi syaman tidak ada, untuk apa kamu masuk akademi di Ibukota?" ucap Ronggolawe.
Setidaknya dengan masuk akademi, ilmu yang kupelajari bisa lebih bermanfaat.
"Walau bakat bela dirimu diatas rata-rata, tapi sayang untuk menjadi syaman dirimu tetap tak akan bisa"
"Setidaknya aku ingin menjadi lebih kuat, dan bisa menjadi pegawai istana di kemudian hari" ia hanya tersenyum mendengar perkataanku.
"Nanti kalau kamu sudah tiba di Ibukota, aku akan mengajarimu ilmu pedang tapi untuk menjadi syaman rasanya tak mungkin"
"Benarkah itu guru!" Aku menghormat.
"Pastikan dirimu tetap hidup, karena rintangan perjalanan belum berakhir"
"Tenang guru, saya sudah perintahkan seseorang untuk minta bantuan mengirim pasukan dari Majapahit. Jadi saat ini kita tetap disini dan tidak akan kemana-mana menunggu bantuan datang"
"Ternyata kamu pintar strategi perang juga, itu memang ide yang bagus. Karena saat ini banyak pasukan terluka dan mati mental mereka pun hancur"
"Iya guru, kalau tetap dipaksakan juga nyawa sang putri taruhannya. Akan cukup berbahaya"
Ronggolawe tersenyum, lalu ia seperti menepuk pundakku ada hawa hangat disana. Lalu perlahan ada energi besar dalam tubuhku, tapi tidak keluar dan yang ada malah pundakku sakit dan pegal.
"Unik, baru kali ini ada seseorang yang diberikan aliran cakra malah ditelan mungkin itu salah satu kelebihanmu. Kalau saja titik cakramu terbuka bukan tak mungkin kamu bisa setara Dewa"
"Apa yang guru maksud?"
"Sudahlah, lupakan lebih baik kita kembali ke pasukan dan istirahat"
"Iya, guru" aku memberi hormat.
Ronggolawe kembali ke pasukannya sedangkan aku menatap langit, apa yang salah dalam diriku sebagai pendekar kekuatanku hanyalah ditingkat prajurit yang jago memainkan pedang namun tak ada sama sekali tenaga dalam yang membuat gerakanku punya kekuatan lebih.
Aku terus merenung, tapi tak ada jawaban yang diterima. Kakiku pun melangkah menuju tenda istirahat, semoga saja di ibukota aku bisa belajar mengendalikan tenaga dalam kalau tidak bisa juga yang terpenting aku bisa membalas dendam kematian kedua orang tuaku.
#Bersambung
ciptoroso dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Tutup