- Beranda
- Stories from the Heart
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
...
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

Hallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.
Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya
Quote:
Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati

Oh iya jangan lupa
Quote:
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
232.9K
2.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
afryan015
#545
Apa yang Terjadi Pada Bapak
Mengetahui aku keluar rumah, bapak kemudian berbicara dengan suara keras dari dalam rumah, dan tepat setelah itu yang terjadi adalah sebuah suara ledakan kembali terdengar dan kali ini lebih keras dari yang pertama, anehnya walau dengan suara sekeras itu, sama sekali tidak ada warga yang keluar, dan seketika setelah bapak berteriak kearahku, nenek Lasmi langsung bergerak melesat kearahku, dan membuat sebuah prisai seperti yang terlihat di film ‘Doctor Stranger’, nenek Lasmi langsung melindungiku dari sebuah serangan gaib, yang menurut bapak itu adalah sebuah serangan santet.
Aku baru pertamakali melihat nenek Lasmi memiliki kekuatan seperti itu, setauku dia hanya makhluk atau jin penjaga saja, dan tidak sampai memiliki pertahanan yang sekuat itu, kiriman santet itu kemudian melebur menjadi butiran bunga api seperti kembang api yang biasa di nyalakan oleh anak anak.
Bapak dari dalam rumah terlihat sangat lega, karena aku tidak jadi terkena serangan ilmu hitam, yang jika kena pasti akan berdampak pada kesehatan tubuhku.
Bapak langsung menyuruhku untuk segera masuk kedalam, dan Shinta barusaja menunjukan dirinya dengan wajah khawatir, kalau sesuatu terjadi padaku, dan langsung menanyakan kondisiku.
Setelah kejadian itu, aku langsung masuk kedalam kamar untuk beristirahat karena kelelahan mengurusi karang taruna dan ikut membersihkan tanah yang akan menjadi area lapangan agustus nanti, malam masih terasa sepi setelah kejadian itu sehingga aku bisa langsung tidur tanpa gangguan, Via pun sama terlihat tidur pulas disampingku, mungkin dirinya juga lelah mengurus kebutuhan rumah tadi siang.
Singkat cerita dua bulan berlalu dan anehnya serangan gaib menjadi semakin jarang dilakukan oleh Bajra atau lebih tepatnya orang yang mengutus Bajra, batinku sih mungkin mereka akan menyerah karena selalu gagal dalam menggempur pertahanan kami, dan pasukan putih yang berjaga dirumah kami pun ditambah menjadi lebih banyak dari sebelumnya, hal itu yang membuatku kita akan semakin aman dilain itu karena ada perlindungan dari Tuhan kita Allah yang insyallah merestui usaha kami ini.
Hingga pada akhirnya aku merasa ada keanehan pada diri bapak, semakin hari kesehatannya semakin menurun, padahal sebelumnya dia biasa saja, melakukan aktifitas biasa saja, palingan hanya meminta ibuku untuk memijit punggungnya sebentar, dan kebetulan juga ibu sudah mulai membaik tangan dan kaki yang terkena stroke sudah mulai membaik dan perlahan sudah bisa digunakan dengan baik, walau tidak bisa normal maksimal seperti dulu, namun setidaknya dia sudah bisa melakukan segala aktifitasnya sendiri.
Pada hari jumat, saat aku pulang dijam istirahat saat bekerja, sekaligus untuk melaksanakan sholat jumat di masjid kampung, seperti biasa aku akan mengajak bapak untuk berangkat kemasjid bersama sama, namun saat aku sampai dirumah, ibu keluar menemuiku yang masih baru saja turun dari motorku dengan tatapan cemas, dan menyuruhku segera masuk untuk melihat kondisi bapak.
Aku pun segera masuk kedalam rumah, terlihat bapak barusaja selesai mandi dan sedang mengenakan baju kemeja berwarna putih, dan berniat untuk berangkat sholat bersama denganku, namun aku melarang bapak untuk pergi ke masjid, bukan karena apa, tapi kondisi bapak saat itu tidak memungkinkan, bapak pada saat itu, menggigil begitu hebat seolah merasakan dingin yang teramat sangat, kulihat tangannya bergetar hebat, namun tekatnya untuk melaksanakan sholat jumat sangat besar, ya maklum karena sudah dua kali dia tidak menjalankan Sholat jumat karena tidak enak badan, dan aku tidak menyangka, kalau hari jumat ini, sakitnya semakin parah.
Setelah ku bujuk untuk tidak sholat jumat dulu, karena orang yang sakit bisa menunda sholat jumat dan menggantinya dengan sholat dzhuhur dirumah, untung bapak mau dan tidak memaksa, dan aku juga mengatakan akan membawanya ke rumah sakit setelah selesai sholat jumat, untuk segera mendapatkan penanganan medis.
Akupun berangkat kemasjid terlebih dahulu, untuk menjalankan Sholat jumat yang sudah akan dimulai, aku meninggalkan bapak dirumah, dan selama aku sholat jumat, Via terus menemani bapak bersama ibu, dan bapak sempat mengatakan untuk tidak usah dibawa kerumah sakit karena pasti akan dirawat inap, dan kebetulan memang saat itu kami masih kekurangan keuangan, dan mengingat rawat inap akan memerlukan dana yang cukup banyak, maka yang namanya orang tua pasti tidak mau merepotkan anaknya, namun sepulang aku dari masjid aku langsung meminta bantuan pada tetanggaku untuk membawa bapak kerumah sakit PKU Muhammadiyah yang saat itu terkenal yang terlengkap dan pelayanan terbaik di kotaku, bapak sama sekali tidak mengetahui kalau aku langsung membawa tetangga untuku mengantar kita ke rumah sakit.
Namun bapak masih terus menolak ajakanku untuk berobat kerumah sakit, dia takut akan biaya yang nantinya akan meledak.
“sudah lah yan, bapak dirumah aja, dipanggilkan tukang pijit urut juga nanti sembuhkok, nggak usah sampai kerumah sakit, nanti banyak biaya” sambil tertidur bapak mengatakan dengan suara lemas.
“nggak pak, bapak harus kerumah sakit, sudah Ryan panggilin orang buat bapak kerumahsakit, sudah ayo pak Ryan bantu buat bangun:” aku membantu bapak untuk banguun dari tidurnya, dan kurasakan badan bapak panas, sepertinya dia juga demam, dan saat kupegang punggungnya bapak sedikit berteriak karena menahan sakit yang mungkin dirasakan.
Tunggu kenapa bisa sakit, padahal tidak ku tekan juga, hanya aku pegang, bagaimana bisa terasa sakit, apakah bapak cidera di area punggung, aku rasa juga tidak karena selama beberapa hari ini bapak juga berada dirumah tidak kemana mana, entah kalaui melakukan astral pojection, atau rogoh sukma bersama mbah Margono, nah itu nantinya akan aku tanyakan pada mbah Margono.
“kenapa pak, punggungnya sakit pak?” tanyaku sambil memeriksa punggung bapak, dan kubuka sedikit bajunya, tidak ada tanda memar atau luka apapun disana
“iya yan, sudah tidak apa apa, tidak usah ke rumah sakit ya, bapak nggak papa kok” ucap tetap enggan untuk berobat kerumah sakit
“bapak pasti takut biayanyakan, sudah tenang aja, Ryan sudah besar dan sudah berpenghasilan, bapak pokoknya kerumahsakit dan fokus sehatin tubuh bapak, nggak usah mikir uang darimana, itu urusan Ryan” ucapku menguatkan bapak, akhirnya mau tidak mau bapak menurut untuk berobat ke rumah sakit.
Bapak kemudian kutuntun kedepan berasama Via, karena bapak juga sudah mulai susah untuk berjalan karena lemas, ibu masuk kedalam kamar mempersiapkan segala berkas dan perlengkapan yang hendak dibawa kerumah sakit, sepanjang jalan menuju keluar rumah aku melihat Shinta, nenek Lasmi, Adiwilaga, dan salah satu pasukan Putih memandang cemas bapak yang sedang aku tuntun bersama Via, melihat ekspresi mereka aku mulai berfikir pasti ada yang aneh dan mereka tidak mengatakan sesuatu yang pernah terjadi.
Tapi aku akan menanyai mereka nanti, yang terpenting bapak harus dibawa kerumah sakit terlebih dahulu, setelah semua perlengkapan siap dan dimasukan kedalam mobil kitapun langsung berangkat ke rumah sakit, sesampainya disana kita langsung menuju ke UGD supaya mendapatkan penanganan yang cepat, namun karena kondisi bapak yang terlihat fit, dan tidak ada luka luar dan cenderung bapak menyembunyikan rasa sakitnya, makan dari pihak rumah sakit, begitu santai dalam menangani bapak, walaupun langsung diperiksa namun pemeriksaan dilakukan dalam posisi duduk, padahal aku tau bapak menahan rasa sakit yang luar biasa, hingga keringat dingin berukuran sebiji jagung keluar dari pori pori kulitnya, namun bagaimana lagi, hingga akhirnya bapak dipersilahkan berbaring di bilik didalam ruangan UGD, sembari aku mengurus persyaratan diruang administrasi, diagnosa dokter saat itu bapak terkena radang infeksi saluran kencing dan tetap harus rawat inap.
Setelah aku mendaftar di bagian administrasi ternyata bangsal yang aku inginkan sudah penuh, bahkan bangsal dikelas lain juga sama sama penuh, hanya ada satu kamar VVIP yang masih kosong, namun harga cukup mahal untuk saat itu.
Aku mencoba berdiskusi dengan ibuku, dan bilang tidak apa apa, yang penting satu ruangan untuk satu orang, jangan yang berbarengan dengan orang lain, bukan karena apa apa, tapi kata ibu, orang yang sakit akan cepat sembuh kalau dirawat secara intensif dalam ruangan yang berbeda dengan orang lain.
Aku pun kembali ke bagian adminsitrasi untuk menyetujui, namun setelah sampai dibagian Resepsionis, mereka mengatakan kalau kamar tadi malah sudah terisi oleh pasien yang baru pindah dari bangsal kelas dua, aku sempat memprotes karena harusnya kamar yang sudah ditawarkan jangan diberikan pada orang lain dulu sampai kami memberikan jawaban pasti kalau memang tidak mau, kemudian dari pihak rumah sakit mereka menyarankan untuk dirujuk ke rumahsakit lain saja, yaitu di rumah sakit islam, nah karena masalah ini, aku jadi perlu berdiskusi lagi dengan ibu, aku berbicara pada ibu di depan bapak, dan bapak yang mengetahui itu terlihat begitu marah, mungkin rasa sakitnya sudah tidak bisa dia tahan.
Karena bingung terpaksa aku menyetujui kalau bapak dirujuk ke rumah sakit islam, dan segera minta dibawakan kesana menggunakan mobil yang tadi disupir oleh tetanggaku, dari pihak rumah sakit sudah memesankan kamar di rumah sakit yang sedang kita tuju.
Sesampainya disana, kita kembali masuk ke UGD terlebih dahulu, untuk memastikan penyakit yang diderita bapak, disana pelayanan lebih baik karena bapak langsung ditangani dengan cepat, pemeriksaan awal dilakukan dengan detail, dan kembali bapak diperiksa sembari ibu ditanyai oleh dokter yang memeriksa.
“ini suaminya sakit apa bu” tanya dokter sambil memeriksa bapak
“katanya sih infeksi saluran kencing dok” ibu menjawab berdasarkan keterangan dari rumah sakit awal
“lah dari mana ibu tau kalo infeksi saluran kencing” dokter disana seolah meragukan keterangan ibu
“ya dari dokter yang memeriksa tadi dok”
“wah kalo ini sih ginjalnya bu yang kena, ada kemungkinan batu ginjal, atau radang pada ginjal, ini harus inap” terang dokter tersebut sembari menekan punggung bapak dan saat ditekan bapak kemali berteriak kesakitan.
Setalah mendapat penjelasan dari dokter aku segera memesan kamar untuk istirahat bapak, aku memilih kamar kelas 1 yang hanya berisi satu orang pasien dan satu tempat istirahat untuk yang menjga pasien. Ternyata walaupun sudah dipesnkan dari rumasakit yang tadi kita awal datang disini kita tetap harus mendaftar ulang.
Setelah mendapat kamar, bapak pun langsng dibawa kamar yang sudah dipesankan tadi, terlihat bapak sudah tidak begitu merasakan kesakitan, dan sudah tenang saat dibawa kekamar, dia terlelap diranjang kemungkinan karena lelah merasakan sakit yang dia tahan sejak tadi.
Sesampainya di kamar perawatan bapak, ibu kemudian duduk disamping bapak yang sedang terlelap, aku kemudian berpamitan untuk kembali pulang dan mengambil beberapa pakaian atau peralatan yang tadi belum sempat dibawa, Via yang berada disana aku suruh untuk menemani ibu merawat bapak selama aku pulang sebentar, dan untuk cemilan, Via disuruh ibu untuk membeli makanan ringan di depan Rumah sakit.
Akupun pulang bersama tetanggaku tadi, sekalian berterimakasih dan memberikan amplop berisi uang sebagai tanda terimakasih karena sudah menolongku atau lebih tepatnya menolong bapak.
Sesampainya didalam rumah, aku masih melihat Shinta, nenek Lasmi, Adiwilaga dan pasukan putih memandangku dengan rasa cemas, seolah ingin mengatakan sesuatu namun ada sesuatu juga yang mengganjal atau memaksamereka untuk tidak berkata apapun padaku, pasti ada yang disembunyikan.
Aku masuk kekamar bapak dan ibu untuk mengambil pakaian ganti bapak untuk nanti dibawa kerumahsakit, Shinta datang mendekat kepadaku dengan muka yang masih cemas, dia menedekat lalu kemudian memegang pundaku seolah ingin mengatakan sesuatu.
“sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku” aku bertanya sambil terus mencari pakaian bapak yang akan aku bawa kerumah sakit.
“bagaimana keadaan nya sekarang” Shinta menanyakan kondisi bapak
“sekarang sudah dirawat, kemungkinan ada penyakit diginjalnya, dan nanti malam akan diperiksa lebih lanjut oleh dokter” jawabku menerangkan kondisi bapak
“sebenranya apa yang terjadi kenapa kalian seolah menyembunyikan sesuatu” aku bertanya pada mereka tanpa melihat wajah mereka sama sekali
“mmm…. Sebenarnya kami tidak boleh memberitahu anda Den” ucap nenek Lasmi pelan
“siapa yang tidak memperbolehkan” tanyaku penasaran, kali ini aku menatap mereka satu persatu
“bapak Den Ryan yang tidak boleh memberitahu, takutnya den Ryan akan marah” ucap Adiwilaga menambahkan
“cepat beritahau apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku tidak boleh tahu, biar nanti aku yang bicara pada bapak kalau kalian sudah memberitahuku karena aku paksa, cepat beritahu” dengan nada sedikit kesal akuberkata
“sebenarnya bapak mu , beberpa hari yang lalu tepatnya di malam hari, dia ……..” ucap Shinta seolah enggan memberitahuku
itkgid dan 47 lainnya memberi reputasi
48
Tutup