- Beranda
- Stories from the Heart
Kumpulan-Kumpulan Cerita Horror dari Reddit
...
TS
pngntrtidr
Kumpulan-Kumpulan Cerita Horror dari Reddit
Halo agan-agan semua, pada thread pertama saya kali ini saya akan membagikan kepada agan-agan semua cerita-cerita seram dari sebuah forum international yaitu Reddit. Di Reddit sendiri terdapat banyak sekali cerita-cerita seram yang menarik, hanya saja semuanya ditulis dalam bahasa inggris. Jadi disini saya menerjemahkan cerita-cerita tersebut ke dalam bahasa Indonesia sehingga kita semua orang Indonesia dapat menikmati cerita-cerita dari luar tersebut.
Selamat membaca agan-agan semua
.
Selamat membaca agan-agan semua
.Quote:
Jika Kau Melihat Pria Ini di Tepi Jalan, Jangan Pulang ke Rumah
---
Aku Baru-baru Ini Menemukan Channel Youtube Milik Teman Sekelasku dan Kurasa Sesuatu Yang Buruk Telah Terjadi Padanya
---
Aku Telah Melakukan Pekerjaan yang Sama Selama 18 Tahun dan Aku Masih Tidak Tahu Apa Yang Sebenarnya Kukerjakan
---
Aku Membeli Sebuah Lukisan Mengerikan pada Pelelangan Online. Ada Sesuatu Yang Salah dengan Lukisan Itu…
---
Aku Membeli Sebuah Ipad Yang Telah Digunakan Sebelumnya. Catatannya Menceritakan Sebuah Kisah Yang Mengerikan
---New---
Sesuatu Sedang Mengintai Para Wisatawan pada Pegunungan Salju Kanada
-------
---
Aku Baru-baru Ini Menemukan Channel Youtube Milik Teman Sekelasku dan Kurasa Sesuatu Yang Buruk Telah Terjadi Padanya
---
Aku Telah Melakukan Pekerjaan yang Sama Selama 18 Tahun dan Aku Masih Tidak Tahu Apa Yang Sebenarnya Kukerjakan
---
Aku Membeli Sebuah Lukisan Mengerikan pada Pelelangan Online. Ada Sesuatu Yang Salah dengan Lukisan Itu…
---
Aku Membeli Sebuah Ipad Yang Telah Digunakan Sebelumnya. Catatannya Menceritakan Sebuah Kisah Yang Mengerikan
---New---
Sesuatu Sedang Mengintai Para Wisatawan pada Pegunungan Salju Kanada
-------
Quote:
Original Posted By pngntrtidr►ane sekarang lagi sibuk sama hal lain gan jadi ga tau kapan bakal update cerita berikutnya. maapkan ane yah gann
Diubah oleh pngntrtidr 06-10-2021 00:19
bukhorigan dan 4 lainnya memberi reputasi
5
7.1K
Kutip
39
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•0Anggota
Tampilkan semua post
TS
pngntrtidr
#19
Quote:
Spoiler for Bagian 2:
Orang tua itu tidak mengangkat telepon keesokan harinya dan kukira mungkin dia memerlukan sedikit lebih banyak waktu dengan lukisannya. Tapi dalam hatiku sudah tahu bahwa pasti sudah ada kejadian.
Aku akhirnya tertidur setelah empat hari tidak tidur – aku tidak lagi mendengar suara langkah kaki berderit di papan lantai di bawahku. Dan aku ingin satu malam yang damai lagi sebelum mendengar kebenarannya dari pria yang kutinggali foto itu. Egois, aku tahu. Pada waktu itu, aku takut untuk kembali ke sana. Memangnya siapa yang tahu apa yang akan kutemukan?
Seletah beristirahat satu malam lagi, aku menghubungi si tua dan sekali lagi tak menerima jawaban apapun, tak ada panggilan balik.
Khawatir dengan orang tua itu, aku masuk ke dalam mobil dan mulai mengemudi sebagai aktivitas paling pertamaku di pagi hari – aku tidak sarapan, merasa aku akan muntah jika aku melakukannya. Meskipun perutku kurang terisi makanan, terasa seperti ada bata yang terduduk didalamnya sepanjang perjalanan ke sana.
Aku hanya berharap dia baik-baik saja.
Ketika aku sampai pada studio orang itu, aku mendapati pintu depannya tidak terkunci.
Aku memasuki lobi dan mendapati bagian dalamnya gelap dan kosong. Dia tidak keluar untuk menyapaku kali ini, dan rasa takut yang kurasakan terus bertumbuh dan membongkah di dalam diriku.
Dengan langkah pelan dan berhati-hati, aku berjalan melewati lobi menuju ke tempat dimana studionya berada. Itu adalah tempat terakhir sebelum aku berpisah dengannya dan aku berharap ketika aku membuka pintu aku akan mendapatinya sedang berdiri di sana, mengerjakan sesuatu. Aku tidak lagi peduli pada lukisan itu – sejujurnya aku berharap dia menghancurkan lukisan itu tanpa sepengetahuanku, sehingga aku tidak perlu melakukannya sendiri.
Dua malam menenangkan itu telah menjadikan pikiranku lebih jernih dan tidurnya telah memberiku perspektif dan wawasan terhadap situasinya. Benda itu harus dimusnahkan – tapi itu memiliki kekuatan yang mencegahku melakukannya – aku telah ditipu untuk menggantungnya dan menunjukkannya kepada lebih banyak orang.
Mendorong pintu bertuliskan, “Studio,’ aku masuk ke dalam ruangan gelap berikutnya.
“Halo,’ aku memanggil kedalam ruangan yang gelap pekat.
Suara gemericik lembut merespons. Kedengarannya bergelembung dan basah.
Aku menggapai sekitaran dinding untuk menghidupkan lampu, tapi tak menemukan apapun. Ruangannya masih terlelap kegelapan. Dan kemudian aku mendengar kikikan tawa familiar yang kudengar dari basemenku. DIA.
Jantungku sekarang berdegup kencang, aku menelan ludah mengalir melalui tenggorokanku. Menggapai ponselku, aku mengeluarkannya dan dengan tangan yang gemetaran mencoba untuk membuka aplikasi flashlight.
Tanganku bergemetar hebat sekali sampai aku menjatuhkan ponselku. Aku membungkuk untuk mengambilnya dan mendengar suara gerakan di dalam kegelapan. Terdengar semakin mendekat. Terdengar suara lain juga, tetesan lembut, suara tetesan seperti atap bocor, hanya terdengar dari beberapa tempat berbeda.
Mengambil ponsel dari atas lantai, aku berhasil membukanya ketika aku merasakan sesosok sesuatu melewatiku dari balik kegelapan. Udara di sekitarku tiba-tiba terasa dingin seperti dinginnya malam musim dingin dan aku mendapati diriku semakin menggigil dan bergemetar sampai akhirnya aku mampu menyalakan lampu flashku.
Cahaya pun hadir, menyinari ruangan dengan cahaya putihnya yang terang.
Chiaroscuro.
Semacam pameran seni yang tak masuk akal telah dibuat di studio, tidak oleh ahli seni yang kujumpai dua hari sebelumnya. Tidak, dia bukanlah yang membuat kengerian ini, tapi dia pasti adalah bagian darinya.
Seluruh ruangan dipenuhi dengan isi perutnya, digantung ke atas dan bawah melintasi ruangan seperti pita pesta. Dia berada di tengah semua itu. Anggota tubuhnya juga telah terpisah dari badannya, tapi tidak terlihat dimanapun.
Itu adalah saat dimana aku melihat bagian yang paling mengerikan. Dia ntah bagaimana masih hidup. Mulutnya membuka dan menutup seperti ikan yang berada di dalam air, sebagian kulitnya telah hilang dari wajahnya, memperlihatkan tulang putih mencolok di bawahnya, ligamen dan urat daging.
“KHAAOOH?” keluar dari mulutnya dan aku menyadari bahwa lidahnya juga telah hilang, dan darah mengucur keluar, menyebabkan dia sesekali terbatuk dan tersedak.
Dinding telah dilukis dengan darahnya, yang berada dimana-mana. Berbagai simbol yang tak kuketahui berada di setiap inci ruangan, langit-langit, lantai, dinding. Simbol-simbol itu terlihat kuno – arti dari simbolnya tak kuketahui.
Pada saat aku sedang melihat sekeliling, aku teringat dengan suara yang pernah kudengar pada saat berada di pintu. Aku berbalik dan melihatnya sedang berdiri di sana di balik kegelapan. Wanita dari dalam lukisan. Dia mengenakan jubah gelap dan seringainya lebih lebar daripada biasannya, besar dan terbuka dengan tawa tak bersuara. Darah teroles di sekitaran mulutnya. Di tangannya, dia memegang lukisannya sendiri, hanya saja dia sudah tidak berada didalamnya. Latar belakangnya hitam dan kosong, sekarang kehilangan subjeknya.
Tiba-tiba tersadar apa yang terjadi, aku menyadari matanya yang menawan menatap lekat padaku. Dia datang ke arahku. Sudah berapa lama aku berdiri disana, melamun? Satu-satunya hal yang menyadarkanku adalah jeritan gemericik dari seniman itu, terdengar putus asa dan ketakutan.
Dia memegang bingkai lukisan itu didepan seakan-akan ingin memasukkanku ke dalamnya.
Jantungku berdegup lebih kencang, aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kupikirkan. Aku menyorotkan senterku tepat ke arah matanya, berharap itu adalah kelemahannya. Mahkluk yang lahir dari bayang-bayang kegelapan – Kupikir mungkin cahaya akan dapat menghentikannya.
Berhasil! Begitu cahaya mengenai matanya, dia mengangkat tangannya untuk melindungi wajahnya, menutupinya dengan bingkai foto. Tapi tangannya terus terbekar dan mendses seperti vampir yang berada di bawah sinar matahari.
Tapi, dia tetap berjalan ke arahku. Ketakutan, aku mundur, tersandung kursi dan terjatuh ke lantai. Ponsel jatuh dari tanganku dan terpental, ke arah orang tua itu. Wajahnya tersinari, menatapku.
“AQHLARNAH” teriaknya, kesulitan berbicara tanpa sebuah lidah, ditengah-tengah kematian karena kehilangan banyak darah.
Dia melihat ke arah dinding dan aku dapat melihat sebuah saklar lampu disana. Sambil berjuang untuk berdiri, aku melihatnya hampir berada di atasku dan mendengarnya merapalkan pelan semacam doa ataupun mantra. Aku merunduk tepat saat dia menghujamkan bingkai itu tepat pada posisi dimana tadinya kepalaku berada.
Aku yakin jika aku tidak menghindar, aku pasti sudah berada di dalam lukisan itu sekarang, seperti dirinya sebelumnya.
Dengan penerangan redup aku mampu menemukan saklar lampu di sekitaran dinding dengan tanganku dan menjetikkannya, menyinari sekeliling ruangan dengan cahaya putih buatan.
Wanita dari lukisan itu berteriak, kulitnya mendidih dan mengepul dalam cahaya dari lampu neon. Bisul dan lepuh Cumiar dan pecah di atas kulitnya, nanah dan darah mengalir deras.
Menutupi wajahnya dengan jubah, dia berlari ke arah pintu dan melarikan diri tepat ketika dia akan terbakar, dilihat dari kejadiannya.
Aku berharap dia terus pergi, tapi dia tidak. Langkah kakinya terhenti di luar pintu.
Dia masih berada di lobi. Menungguku di dalam kegelapan. Menunggu matahari tenggelam. Menungguku untuk mencoba melarikan diri. Aku bisa mendengarnya mondar-mandir sambil menungguku keluar – subjek selanjutnya untuk lukisannya.
Orang tua itu sekarang telah meninggal, dia berhenti bernafas beberapa menit yang lalu. Hanya tertinggal aku sendiri – dengan isi perutnya berserakan di sekitar ruangan dan digantung seperti jaring laba-laba disekitarku. Suara tetesannya mulai melambat karena darahnya perlahan mulai membeku.
Dan symbol darah di dinding mulai bergerak, bergeser, dan berubah pada saat satu-satunya lampu neon yang berada di ruangan mulai berkedip dan tiba-tiba mati.
Seharusnya kubakar saja lukisan sialan itu.
Aku akhirnya tertidur setelah empat hari tidak tidur – aku tidak lagi mendengar suara langkah kaki berderit di papan lantai di bawahku. Dan aku ingin satu malam yang damai lagi sebelum mendengar kebenarannya dari pria yang kutinggali foto itu. Egois, aku tahu. Pada waktu itu, aku takut untuk kembali ke sana. Memangnya siapa yang tahu apa yang akan kutemukan?
Seletah beristirahat satu malam lagi, aku menghubungi si tua dan sekali lagi tak menerima jawaban apapun, tak ada panggilan balik.
Khawatir dengan orang tua itu, aku masuk ke dalam mobil dan mulai mengemudi sebagai aktivitas paling pertamaku di pagi hari – aku tidak sarapan, merasa aku akan muntah jika aku melakukannya. Meskipun perutku kurang terisi makanan, terasa seperti ada bata yang terduduk didalamnya sepanjang perjalanan ke sana.
Aku hanya berharap dia baik-baik saja.
Ketika aku sampai pada studio orang itu, aku mendapati pintu depannya tidak terkunci.
Aku memasuki lobi dan mendapati bagian dalamnya gelap dan kosong. Dia tidak keluar untuk menyapaku kali ini, dan rasa takut yang kurasakan terus bertumbuh dan membongkah di dalam diriku.
Dengan langkah pelan dan berhati-hati, aku berjalan melewati lobi menuju ke tempat dimana studionya berada. Itu adalah tempat terakhir sebelum aku berpisah dengannya dan aku berharap ketika aku membuka pintu aku akan mendapatinya sedang berdiri di sana, mengerjakan sesuatu. Aku tidak lagi peduli pada lukisan itu – sejujurnya aku berharap dia menghancurkan lukisan itu tanpa sepengetahuanku, sehingga aku tidak perlu melakukannya sendiri.
Dua malam menenangkan itu telah menjadikan pikiranku lebih jernih dan tidurnya telah memberiku perspektif dan wawasan terhadap situasinya. Benda itu harus dimusnahkan – tapi itu memiliki kekuatan yang mencegahku melakukannya – aku telah ditipu untuk menggantungnya dan menunjukkannya kepada lebih banyak orang.
Mendorong pintu bertuliskan, “Studio,’ aku masuk ke dalam ruangan gelap berikutnya.
“Halo,’ aku memanggil kedalam ruangan yang gelap pekat.
Suara gemericik lembut merespons. Kedengarannya bergelembung dan basah.
Aku menggapai sekitaran dinding untuk menghidupkan lampu, tapi tak menemukan apapun. Ruangannya masih terlelap kegelapan. Dan kemudian aku mendengar kikikan tawa familiar yang kudengar dari basemenku. DIA.
Jantungku sekarang berdegup kencang, aku menelan ludah mengalir melalui tenggorokanku. Menggapai ponselku, aku mengeluarkannya dan dengan tangan yang gemetaran mencoba untuk membuka aplikasi flashlight.
Tanganku bergemetar hebat sekali sampai aku menjatuhkan ponselku. Aku membungkuk untuk mengambilnya dan mendengar suara gerakan di dalam kegelapan. Terdengar semakin mendekat. Terdengar suara lain juga, tetesan lembut, suara tetesan seperti atap bocor, hanya terdengar dari beberapa tempat berbeda.
Mengambil ponsel dari atas lantai, aku berhasil membukanya ketika aku merasakan sesosok sesuatu melewatiku dari balik kegelapan. Udara di sekitarku tiba-tiba terasa dingin seperti dinginnya malam musim dingin dan aku mendapati diriku semakin menggigil dan bergemetar sampai akhirnya aku mampu menyalakan lampu flashku.
Cahaya pun hadir, menyinari ruangan dengan cahaya putihnya yang terang.
Chiaroscuro.
Semacam pameran seni yang tak masuk akal telah dibuat di studio, tidak oleh ahli seni yang kujumpai dua hari sebelumnya. Tidak, dia bukanlah yang membuat kengerian ini, tapi dia pasti adalah bagian darinya.
Seluruh ruangan dipenuhi dengan isi perutnya, digantung ke atas dan bawah melintasi ruangan seperti pita pesta. Dia berada di tengah semua itu. Anggota tubuhnya juga telah terpisah dari badannya, tapi tidak terlihat dimanapun.
Itu adalah saat dimana aku melihat bagian yang paling mengerikan. Dia ntah bagaimana masih hidup. Mulutnya membuka dan menutup seperti ikan yang berada di dalam air, sebagian kulitnya telah hilang dari wajahnya, memperlihatkan tulang putih mencolok di bawahnya, ligamen dan urat daging.
“KHAAOOH?” keluar dari mulutnya dan aku menyadari bahwa lidahnya juga telah hilang, dan darah mengucur keluar, menyebabkan dia sesekali terbatuk dan tersedak.
Dinding telah dilukis dengan darahnya, yang berada dimana-mana. Berbagai simbol yang tak kuketahui berada di setiap inci ruangan, langit-langit, lantai, dinding. Simbol-simbol itu terlihat kuno – arti dari simbolnya tak kuketahui.
Pada saat aku sedang melihat sekeliling, aku teringat dengan suara yang pernah kudengar pada saat berada di pintu. Aku berbalik dan melihatnya sedang berdiri di sana di balik kegelapan. Wanita dari dalam lukisan. Dia mengenakan jubah gelap dan seringainya lebih lebar daripada biasannya, besar dan terbuka dengan tawa tak bersuara. Darah teroles di sekitaran mulutnya. Di tangannya, dia memegang lukisannya sendiri, hanya saja dia sudah tidak berada didalamnya. Latar belakangnya hitam dan kosong, sekarang kehilangan subjeknya.
Tiba-tiba tersadar apa yang terjadi, aku menyadari matanya yang menawan menatap lekat padaku. Dia datang ke arahku. Sudah berapa lama aku berdiri disana, melamun? Satu-satunya hal yang menyadarkanku adalah jeritan gemericik dari seniman itu, terdengar putus asa dan ketakutan.
Dia memegang bingkai lukisan itu didepan seakan-akan ingin memasukkanku ke dalamnya.
Jantungku berdegup lebih kencang, aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kupikirkan. Aku menyorotkan senterku tepat ke arah matanya, berharap itu adalah kelemahannya. Mahkluk yang lahir dari bayang-bayang kegelapan – Kupikir mungkin cahaya akan dapat menghentikannya.
Berhasil! Begitu cahaya mengenai matanya, dia mengangkat tangannya untuk melindungi wajahnya, menutupinya dengan bingkai foto. Tapi tangannya terus terbekar dan mendses seperti vampir yang berada di bawah sinar matahari.
Tapi, dia tetap berjalan ke arahku. Ketakutan, aku mundur, tersandung kursi dan terjatuh ke lantai. Ponsel jatuh dari tanganku dan terpental, ke arah orang tua itu. Wajahnya tersinari, menatapku.
“AQHLARNAH” teriaknya, kesulitan berbicara tanpa sebuah lidah, ditengah-tengah kematian karena kehilangan banyak darah.
Dia melihat ke arah dinding dan aku dapat melihat sebuah saklar lampu disana. Sambil berjuang untuk berdiri, aku melihatnya hampir berada di atasku dan mendengarnya merapalkan pelan semacam doa ataupun mantra. Aku merunduk tepat saat dia menghujamkan bingkai itu tepat pada posisi dimana tadinya kepalaku berada.
Aku yakin jika aku tidak menghindar, aku pasti sudah berada di dalam lukisan itu sekarang, seperti dirinya sebelumnya.
Dengan penerangan redup aku mampu menemukan saklar lampu di sekitaran dinding dengan tanganku dan menjetikkannya, menyinari sekeliling ruangan dengan cahaya putih buatan.
Wanita dari lukisan itu berteriak, kulitnya mendidih dan mengepul dalam cahaya dari lampu neon. Bisul dan lepuh Cumiar dan pecah di atas kulitnya, nanah dan darah mengalir deras.
Menutupi wajahnya dengan jubah, dia berlari ke arah pintu dan melarikan diri tepat ketika dia akan terbakar, dilihat dari kejadiannya.
Aku berharap dia terus pergi, tapi dia tidak. Langkah kakinya terhenti di luar pintu.
Dia masih berada di lobi. Menungguku di dalam kegelapan. Menunggu matahari tenggelam. Menungguku untuk mencoba melarikan diri. Aku bisa mendengarnya mondar-mandir sambil menungguku keluar – subjek selanjutnya untuk lukisannya.
Orang tua itu sekarang telah meninggal, dia berhenti bernafas beberapa menit yang lalu. Hanya tertinggal aku sendiri – dengan isi perutnya berserakan di sekitar ruangan dan digantung seperti jaring laba-laba disekitarku. Suara tetesannya mulai melambat karena darahnya perlahan mulai membeku.
Dan symbol darah di dinding mulai bergerak, bergeser, dan berubah pada saat satu-satunya lampu neon yang berada di ruangan mulai berkedip dan tiba-tiba mati.
Seharusnya kubakar saja lukisan sialan itu.
Diubah oleh pngntrtidr 28-09-2021 01:48
nightstory770 memberi reputasi
1
Kutip
Balas