- Beranda
- Stories from the Heart
Kumpulan-Kumpulan Cerita Horror dari Reddit
...
TS
pngntrtidr
Kumpulan-Kumpulan Cerita Horror dari Reddit
Halo agan-agan semua, pada thread pertama saya kali ini saya akan membagikan kepada agan-agan semua cerita-cerita seram dari sebuah forum international yaitu Reddit. Di Reddit sendiri terdapat banyak sekali cerita-cerita seram yang menarik, hanya saja semuanya ditulis dalam bahasa inggris. Jadi disini saya menerjemahkan cerita-cerita tersebut ke dalam bahasa Indonesia sehingga kita semua orang Indonesia dapat menikmati cerita-cerita dari luar tersebut.
Selamat membaca agan-agan semua
.
Selamat membaca agan-agan semua
.Quote:
Jika Kau Melihat Pria Ini di Tepi Jalan, Jangan Pulang ke Rumah
---
Aku Baru-baru Ini Menemukan Channel Youtube Milik Teman Sekelasku dan Kurasa Sesuatu Yang Buruk Telah Terjadi Padanya
---
Aku Telah Melakukan Pekerjaan yang Sama Selama 18 Tahun dan Aku Masih Tidak Tahu Apa Yang Sebenarnya Kukerjakan
---
Aku Membeli Sebuah Lukisan Mengerikan pada Pelelangan Online. Ada Sesuatu Yang Salah dengan Lukisan Itu…
---
Aku Membeli Sebuah Ipad Yang Telah Digunakan Sebelumnya. Catatannya Menceritakan Sebuah Kisah Yang Mengerikan
---New---
Sesuatu Sedang Mengintai Para Wisatawan pada Pegunungan Salju Kanada
-------
---
Aku Baru-baru Ini Menemukan Channel Youtube Milik Teman Sekelasku dan Kurasa Sesuatu Yang Buruk Telah Terjadi Padanya
---
Aku Telah Melakukan Pekerjaan yang Sama Selama 18 Tahun dan Aku Masih Tidak Tahu Apa Yang Sebenarnya Kukerjakan
---
Aku Membeli Sebuah Lukisan Mengerikan pada Pelelangan Online. Ada Sesuatu Yang Salah dengan Lukisan Itu…
---
Aku Membeli Sebuah Ipad Yang Telah Digunakan Sebelumnya. Catatannya Menceritakan Sebuah Kisah Yang Mengerikan
---New---
Sesuatu Sedang Mengintai Para Wisatawan pada Pegunungan Salju Kanada
-------
Quote:
Original Posted By pngntrtidr►ane sekarang lagi sibuk sama hal lain gan jadi ga tau kapan bakal update cerita berikutnya. maapkan ane yah gann
Diubah oleh pngntrtidr 06-10-2021 00:19
bukhorigan dan 4 lainnya memberi reputasi
5
7K
Kutip
39
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pngntrtidr
#18
Aku Membeli Sebuah Lukisan Mengerikan pada Pelelangan Online. Ada Sesuatu Yang Salah dengan Lukisan Itu…
Quote:
Penulis: Jgrupe
Sumber Cerita
Sumber Cerita
Spoiler for Bagian 1:
Aku selalu menyukai hal-hal mengerikan. Awalnya dimulai dari buku-buku horror. Membaca Goosebumps pada sekolah dasar, setelah itu membaca karya-karya dari Stephen King, Shirley Jackson, Mark Z. Danielewski, dan yang lainnya.
Akhirnya aku mulai menulis cerita-cerita seram ku sendiri, itu karena aku ingin menciptakan sebuah cerita yang bisa kubaca sendiri sebagai pecinta hal-hal horor. Setelah sekitar satu dekade, aku menjadi sedikit sukses, dan itulah caraku membayar tagihan-tagihanku sekarang ini.
Meskipun begitu, aku tidak pernah kepikiran bahwa hidupku sendiri akan menjadi sebuah kisah menyeramkan. Betapa ironisnya itu?
Beberapa orang mendekorasi rumah mereka dengan vase penuh warna yang diisi dengan bunga, lukisan Norman Rockwell, pernak pernik, pahatan kristal lumba-lumba, dan putri peri. Sedangkan aku lebih memilih untuk memenuhi dindingku dengan gambar-gambar aneh, lukisan aneh, dan cetakan karya seni dari Francisco Goya, Anthony Christopher, Salvadore Dali – semakin aneh dan suram maka semakin bagus. Aku menyukai karya seni itu selayaknya aku menyukai novelku – mengerikan dan meresahkan.
Jadi ketika temanku Markus mengirimiku sebuah pesan: “Coba cek lukisan nenek yang menyeramkan ini!” Aku tertawa dan langsung membuka linknya tanpa banyak pikir.
Aku dialihkan ke sebuah website asing dimana lukisan-lukisan lama dan baru, dijual pada pelelangan online yang selalu berlangsung. Aku belum pernah mendengar perusahaan pelelangan itu sebelumnya, tapi itu tak menghentikanku untuk merogoh kartu kreditku sesegera mungkin setelah aku melihat lukisan yang telah dibagikan kepadaku itu.
Terdapat wajah perempuan yang menghipnotis dan aneh menatap balik padaku, tampak seperti hidup namun juga surealistik. Belum lagi menyeramkan. Pupil matanya terlalu besar dan terlalu hitam. Senyumannya terbentang terlalu lebar, seperti karakter dari Dr. Seuss, tapi tanpa adanya kebaikan maupun kelucuan.
Itu adalah sebuah lukisan dari wanita tua yang kelihatannya berusia tujuh puluh atau delapan puluhan tahun. Dia mengenakaan pakaian gelap yang tampaknya adalah milik biarawati yang menurutku berusia sekitar beberapa ratus tahun. Aku menyadari bahwa itu adalah replika dari sebuah lukisan tua – karena harganya hanya lima puluh dollar – mempunyai gaya yang mirip dengan lukisan reinaisans, sapuan kuasnya tersembunyi dengan baik, wajahnya secara fotografis realistik seolah-olah digambar oleh seorang master dari dunia lama.
Wanita pada lukisan itu tengah terduduk pada sebuah kursi kayu antik dengan hiasan yang terukir pada tiang sandarannya. Matanya terlihat mengikutiku dan menatap balik padaku dengan tatapan jahat.
Kesan yang kudapatkan adalah dia adalah orang nyata yang menatap balik padaku dari dalam lukisan, seperti melihat ke arah jendela dan melihat wajah dari orang asing tak dikenal berdiri tepat di luar jendela. Aku merasa seakan-akan dirinya dapat menggapaikan tangan ke luar kanvas dan memegangku jika dia mau.
Tanpa ragu, aku meletakkan detil kredit kardku sebelum orang yang lain membelinya. Lukisan itu terlalu aneh untuk dilewatkan.
Setelah menunggu selama seminggu atau lebih, paketnya pun tiba didepan pintuku. Pada saat itu aku sudah setengah lupa dengan barang itu, karena aku sibuk dengan hal lain. Tetapi begitu aku melihat bentuk datarnya, persegi panjang terbungkus kertas parsel cokelat, aku jadi teringat dengan pembelian impulsku dan membawanya ke dalam perasaan gembira, dengan senang hati segera membukanya.
Ketika aku membukanya, hatiku serasa terjatuh dan aku merasa sakit, seperti aku bisa saja muntah.
Aku jarang merasakan penyesalan pembeli, tapi aku merasakannya ketika aku melihat kepada wajah wanita itu yang menatap balik padaku. Dia terlihat hidup. Dan dia terlihat benar-benar jahat. Aku tidak dapat menjelaskan kenapa perasaanku berkata begitu, tapi aku merasakannya.
Ide untuk menggantung benda itu di dindingku membuatku berpikiran dua kali. Hanya menyentuhnya saja rasanya seperti tanganku mencengkram segenggam belatung. Itu membuat kulitku merinding.
Setelah meletakkannya, aku tidak menginginkan hal lain selain membuangnya. Tapi aku merasa itu tidak benar jika aku langsung membuangnya ke tempat sampah. Aku bukanlah orang seperti itu, apalagi sesuatu yang berhubungan dengan seni. Aku tidak peduli seberapa mengerikannya lukisan itu, tapi seseorang diluar sana telah menginvestasikan banyak waktu dan usaha untuknya. Namun tetap saja, masih terlalu meresahkan untuk menggantungnya di dinding ruang tamu tempat dimana aku dapat melihatnya setiap saat. Lebih dari meresahkan, aku merasa seperti ada reaksi fisik padanya yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Rasa ada yang membelilit di perutku dan memancing isi perutku keluar.
Aku pergi ke dapur dan mengambil sarung tangan oven dari atas kulkas, aku mengambil lukisan itu dengan sarung tangan dan memegangnya di depanku seakan akan itu adalah benda radioaktif. Aku membawanya turun ke ruangan basemen rumahku dan menyandarkan bingkai besar itu pada dinding di atas lantai, berpikiran aku akan meninggalkan itu sementara di sana(sampai aku sudah merasa terbiasa dengannya?), memberitahu diriku, menyingkirkannya dari pandanganku, menyingkirkannya dari pikiranku.
Tidak ada cara untuk menyingkirkannya dari pikiranku. Aku tetap melihat wajah perempuan itu setiap kali aku berkedip. Mata hitam berkacanya dan senyumnya yang terlalu lebar. Aku tidak bisa tidur malam itu, berpikir mengenainya yang berada di bawah basemenku.
Aku merasa seperti aku hampir dapat mendengarnya bergerak di bawah sana. Deritan lembut langkah kakinya melangkah pelan melintasi papan lantai. Tapi itu tidak mungkin, ujarku pada diriku. Hal tersebut tidaklah mungkin.
Tetap saja, aku tidak bisa tidur. Bahkan sedetik pun tidak.
Malam selanjutnya aku pergi ke basemen untuk melakukan laundry (setelah seharian mengumpulkan keberanian untuk pergi ke bawah sana) dan aku pun berjalan melewati lukisan itu. Mata hitam tegas wanita itu terlihat mengikutiku saat aku melewatinya. Seluruh tubuhnya diselimuti bayangan, detil muram wajahnya nyaris tidak terlihat dalam lukisannya yang berpencahayaan rendah.
Saat itu tengah malam dan aku tinggal sendirian, jadi aku merasa lebih dari sedikit ketakutan ketika aku mendengar sesuatu terjatuh dengan keras ketika aku membelakanginya, menyebabkan seluruh bulu kudukku merinding. Aku menjatuhkan keranjang laundriku dan berpaling kebelakang untuk melihatnya.
Dia menatapku dari tempatnya di dalam lukisan. Dia tidak bergerak, dan matanya masih tetap terlihat seperti mengikutiku, gerakan samar yang nyaris tidak terlihat dengan mata telanjang. Disana juga ada, sesuatu yang lain.
Sebuah kotak terjatuh dan menumpahkan isinya ke kursi di samping lukisan itu. Sedangkan aku masih tidak beranjak mendekat sama sekali untuk menyentuhnya.
Senyuman wanitanya terlihat seakan-akan lebih lebar – gigi berantakan terlihat dari bawah bibirnya yang merah merona(apakah sebelumnya memang terlihat seperti itu?). Tapi mungkin itu hanya imajinasiku. Aku memutuskan untuk tak melihat lebih dekat. Aku membayangkan dirinya tiba-tiba memanjat keluar dari lukisan saat aku mendekat untuk melihatnya, merangkak keluar dari bingkai seperti gadis dari “The Ring,’ dan melaju mengejarku dengan kedua tangan dan kakinya.
Membuang jauh pemikiran tersebut dari pikiranku, aku mengambil kembali keranjangku dan berbalik dengan sawan. Aku dengan cepat meletakkan pakaianku ke mesin cuci dan menyalakannya, kemudian berjalan melewatinya lagi menuju ke arah tangga.
Aku tidak salah lihat. Senyumannya terbentang lebih lebar, dan dibawahnya aku melihat sederet panjang gigi – kotor, berantakan, dan sama sekali tak mirip punya manusia. Aku sangat yakin kalau itu tak terlihat begitu sebelumnya. Apakah aku berkhayal karena kurang tidur?
Aku menggosok mataku dan berkedip, memerhatikan lukisan tersebut lagi/
Tidak ada gigi. Padahal aku baru saja merasa sangat yakin beberapa detik sebelumnya.
Tidak mampu untuk melihatnya beberapa saat lagi, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Jantungku berdetak cepat sekali dan tanganku bergetar saat aku menggapai dan membalikkan lukisannya sehingga itu menghadap ke arah dinding. Senyumannya terlihat menyempit sedikit, matanya mengikuti tanganku, alisnya berkerut saat dia melihatku meraih keatasnya untuk memegang bagian atas bingkai.
Kulitku merinding lagi ketika aku menyentuhnya. Aku melawan keinginan untuk muntah dan memutarnya dengan cepat seolah-olah itu akan membakarku jika aku memegangnya terlalu lama.
Walaupun dia menghadap dinding, aku masih tidak merasa baikan, lebih tidak tenang, seakan-akan aku membelakangi seorang musuh yang mematikan.
Lagi malam itu, aku mendengar seseorang bergerak kesana kemari di basemen. Berjalan dari satu ruang ke ruang lainnya.
Aku senang dia tidak naik ke atas tangga. Tapi aku mempunyai feeling kalau dia akan naik, nanti.
Sepanjang malam itu aku terbangun, mendengarkan jejak kakinya. Seringkali aku mendengarnya, seringkali aku terdengar kikikan tawa, membingungkan dan meresahkan.
Esok paginya aku meminta temanku datang. Aku perlu orang lain untuk melihatnya. Untuk membuatku merasa tidak sendirian, kurasa. Aku berharap kehadiran orang lain akan membuat hal-hal menjadi lebih baik. Tapi ternyata aku salah.
Temanku Brent datang dan aku segera membawanya turun ke basemen. Dia melihat lukisannya sekali (yang mana sekarang secara misterius terbalik, menghadap keatas) kemudian berjalan keluar ruangan, berkata, “TIDAK!”.
Dia menaiki tangga dan keluar dari pintu depan rumah, membuatku sangat takjub. Aku mengikutinya dan berdiri bersamanya di tangga depan. Brent berada di luar sana dengan telapak tangannya di letakkan di lutut, membungkuk dan tampak terengah-engah.
Kemudian aku menyadari bahwa dia bukan hanya kehabisan nafas, tapi benar-benar ketakutan.
“Dari mana kau mendapatkan bb-b-benda itu?” tanyanya, ucapannya cepat dan tergagap-gagap. “K-k-kau tak boleh menyimpannya. Kau tak boleh! Itu jahat! Terkutuk! Dia melihat tepat ke arahku! Bagaimana c-ca-c-caranya kau tidur dengan benda itu di rumahmu?”
Brent sudah tak pernah lagi tergagap sejak sekolah dasar, kecuali pada waktu-waktu dimana dia benar-benar merasa stress. Dia telah berkonsultasi dengan ahli bahasa selama bertahun-tahun dan dan akhirnya sembuh dari gangguan bicaranya. Hal itu hanya terjadi ketika dia benar-benar gundah.
“Aku masih belum. Aku tidak tidur sedikitpun semenjak aku mendapat benda itu.”
“SINGKIRKAN BENDA ITU.”
Aku berkata kepadanya aku akan, dengan seluruh niatku membuangnya ke tempat sampah atau membakarnya setelah dia pergi. Namun untuk beberapa alasan aku tidak dapat melakukannya.
Aku memutuskan untuk melakukan sesuatu padanya terlebih dahulu. Aku harus mencari beberapa jawaban.
Pada hari berikutnya, setelah malam tanpa tidur lainnya, aku membawa lukisan itu ke mobilku. Kami melakukan perjalanan bersama.
Aku telah membungkusnya dengan selimut dan lukisan itu tertutup sehingga tidak ada yang bisa melihatnya. Lebih tepatnya karena aku tidak mau melihatnya. Terlebih saat aku sedang mengemudi.
Ada pakar seni yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari rumahku. Aku mencarinya secara online dan menemukan bahwa dia adalah seorang yang ahli dengan segala hal yang berbau menyeramkan dan meresahkan. Memerlukan beberapa saat untuk menemukan seseorang dengan reputasi sepertinya.
Ketika aku sedang mengemudi, aku sesekali melihat balik pada lukisan itu. Dari bawah selimut, aku berani bersumpah bahwa aku melihat sedikit pergerakan. Lengkungan dan riak dari helaian itu terus menarik perhatianku dan mendsitraksiku dari jalan di depan.
Mungkin itu disebabkan oleh angin, tapi itu bukan. Aku yakin sekali.
“Kau telah mendapati dirimu sebuah benda antik, nampak dari kelihatannya.” Kata pria itu, mulai menarik selimut untuk memperlihatkan sebuah bingkai berlapis emas itu.
Aku menyadari bahwa aku sedang menahan napasku, menutup mataku, menunggu tanggapannya ketika dia melihat perempuan mengerikan yang berada dalam lukisan tersebut. Tapi pada saat dia tersentak kaget, aku menyadari bahwa itu bukanlah reaksi ketakutan, namun dari kekaguman.
“Luar biasa..”
Membuka mata, aku melihat apa yang sedang dia lihati. Wajah perempuan itu tidaklah sama – aku memastikan dan penasaran apakah dia telah menggantikan lukisannya ketika aku sedang tidak memerhatikan. Tapi tidak, bingkainya masih sama, wanita didalam lukisan tersebut juga masih sama. Hanya saja ekspresinya telah berubah.
Bukannya tampil dengan senyum mengerikan, dia sekarang memasang ekspresi lemah lembut di wajahnya – seringai pasif dan lemah lembut yang tidak biasa kulihat padanya.
“Chiaroscuro yang luar biasa. Itu adalah teknik yang melibatkan penggunaan yang kuat antara bayangan dan kegelapan dengan sedikit cahaya, berjaga-jaga anda tidak terbiasa mendengarnya. Tapi sapuan kuasnya, ya ampun! Sama sekali tak terlihat,” ujarnya, memegang sebuah kaca pembesar untuk memeriksanya dengan teliti. “Itu terlihat seakan-akan dirinya hidup! Seseorang bersusah payah membuat ini. Kau tahu asal lukisan ini?”
“As-apa?” Aku seharusnya mengerti apa maksudnya – mengerti sebenarnya, hanya saja aku terlalu lelah untuk mengingat apa maksudnya pada saat itu. Aku sekarang sudah melewati sekitar empat hari tanpa tidur dan benar-benar lelah.
“Tahu mengenai asal-usulnya, atau usianya?”
“Tidak, maaf. Aku mendapatkannya secara online dari situs ini,’ kataku, mengeluarkan ponselku dan mencoba menunjukkan padanya. Tapi websitenya sudah tidak ada lagi. “Aneh, mungkin sekarang sedang gangguan. Saya akan mengirimkan URLnya pada anda.”
Dia berpikir mengenainya beberapa menit, memeriksa lukisan itu dengan berbagai alat dan lensa pembesar.
“Ah, ini dia!” katanya bersemangat.
“Apa itu?” tanyaku.
“Sialan, aku hanya bisa melihat setengah dari tanda tangannya – Aku perlu memisahkannya dari bingkainya. Bolehkah anda meninggalkan lukisan ini kepada saya sampai besok?”
Aku setuju, tidak yakin bagaimana cara menjelaskan kedaannya kepadanya selain berkata, “Berhati-hatilah dengan benda itu.”
Menatap kembali, kuharap aku melakukannya. Kuharap aku setidaknya mencoba melakukannya.
Sialan, pria yang malang.
Akhirnya aku mulai menulis cerita-cerita seram ku sendiri, itu karena aku ingin menciptakan sebuah cerita yang bisa kubaca sendiri sebagai pecinta hal-hal horor. Setelah sekitar satu dekade, aku menjadi sedikit sukses, dan itulah caraku membayar tagihan-tagihanku sekarang ini.
Meskipun begitu, aku tidak pernah kepikiran bahwa hidupku sendiri akan menjadi sebuah kisah menyeramkan. Betapa ironisnya itu?
Beberapa orang mendekorasi rumah mereka dengan vase penuh warna yang diisi dengan bunga, lukisan Norman Rockwell, pernak pernik, pahatan kristal lumba-lumba, dan putri peri. Sedangkan aku lebih memilih untuk memenuhi dindingku dengan gambar-gambar aneh, lukisan aneh, dan cetakan karya seni dari Francisco Goya, Anthony Christopher, Salvadore Dali – semakin aneh dan suram maka semakin bagus. Aku menyukai karya seni itu selayaknya aku menyukai novelku – mengerikan dan meresahkan.
Jadi ketika temanku Markus mengirimiku sebuah pesan: “Coba cek lukisan nenek yang menyeramkan ini!” Aku tertawa dan langsung membuka linknya tanpa banyak pikir.
Aku dialihkan ke sebuah website asing dimana lukisan-lukisan lama dan baru, dijual pada pelelangan online yang selalu berlangsung. Aku belum pernah mendengar perusahaan pelelangan itu sebelumnya, tapi itu tak menghentikanku untuk merogoh kartu kreditku sesegera mungkin setelah aku melihat lukisan yang telah dibagikan kepadaku itu.
Terdapat wajah perempuan yang menghipnotis dan aneh menatap balik padaku, tampak seperti hidup namun juga surealistik. Belum lagi menyeramkan. Pupil matanya terlalu besar dan terlalu hitam. Senyumannya terbentang terlalu lebar, seperti karakter dari Dr. Seuss, tapi tanpa adanya kebaikan maupun kelucuan.
Itu adalah sebuah lukisan dari wanita tua yang kelihatannya berusia tujuh puluh atau delapan puluhan tahun. Dia mengenakaan pakaian gelap yang tampaknya adalah milik biarawati yang menurutku berusia sekitar beberapa ratus tahun. Aku menyadari bahwa itu adalah replika dari sebuah lukisan tua – karena harganya hanya lima puluh dollar – mempunyai gaya yang mirip dengan lukisan reinaisans, sapuan kuasnya tersembunyi dengan baik, wajahnya secara fotografis realistik seolah-olah digambar oleh seorang master dari dunia lama.
Wanita pada lukisan itu tengah terduduk pada sebuah kursi kayu antik dengan hiasan yang terukir pada tiang sandarannya. Matanya terlihat mengikutiku dan menatap balik padaku dengan tatapan jahat.
Kesan yang kudapatkan adalah dia adalah orang nyata yang menatap balik padaku dari dalam lukisan, seperti melihat ke arah jendela dan melihat wajah dari orang asing tak dikenal berdiri tepat di luar jendela. Aku merasa seakan-akan dirinya dapat menggapaikan tangan ke luar kanvas dan memegangku jika dia mau.
Tanpa ragu, aku meletakkan detil kredit kardku sebelum orang yang lain membelinya. Lukisan itu terlalu aneh untuk dilewatkan.
Setelah menunggu selama seminggu atau lebih, paketnya pun tiba didepan pintuku. Pada saat itu aku sudah setengah lupa dengan barang itu, karena aku sibuk dengan hal lain. Tetapi begitu aku melihat bentuk datarnya, persegi panjang terbungkus kertas parsel cokelat, aku jadi teringat dengan pembelian impulsku dan membawanya ke dalam perasaan gembira, dengan senang hati segera membukanya.
Ketika aku membukanya, hatiku serasa terjatuh dan aku merasa sakit, seperti aku bisa saja muntah.
Aku jarang merasakan penyesalan pembeli, tapi aku merasakannya ketika aku melihat kepada wajah wanita itu yang menatap balik padaku. Dia terlihat hidup. Dan dia terlihat benar-benar jahat. Aku tidak dapat menjelaskan kenapa perasaanku berkata begitu, tapi aku merasakannya.
Ide untuk menggantung benda itu di dindingku membuatku berpikiran dua kali. Hanya menyentuhnya saja rasanya seperti tanganku mencengkram segenggam belatung. Itu membuat kulitku merinding.
Setelah meletakkannya, aku tidak menginginkan hal lain selain membuangnya. Tapi aku merasa itu tidak benar jika aku langsung membuangnya ke tempat sampah. Aku bukanlah orang seperti itu, apalagi sesuatu yang berhubungan dengan seni. Aku tidak peduli seberapa mengerikannya lukisan itu, tapi seseorang diluar sana telah menginvestasikan banyak waktu dan usaha untuknya. Namun tetap saja, masih terlalu meresahkan untuk menggantungnya di dinding ruang tamu tempat dimana aku dapat melihatnya setiap saat. Lebih dari meresahkan, aku merasa seperti ada reaksi fisik padanya yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Rasa ada yang membelilit di perutku dan memancing isi perutku keluar.
Aku pergi ke dapur dan mengambil sarung tangan oven dari atas kulkas, aku mengambil lukisan itu dengan sarung tangan dan memegangnya di depanku seakan akan itu adalah benda radioaktif. Aku membawanya turun ke ruangan basemen rumahku dan menyandarkan bingkai besar itu pada dinding di atas lantai, berpikiran aku akan meninggalkan itu sementara di sana(sampai aku sudah merasa terbiasa dengannya?), memberitahu diriku, menyingkirkannya dari pandanganku, menyingkirkannya dari pikiranku.
Tidak ada cara untuk menyingkirkannya dari pikiranku. Aku tetap melihat wajah perempuan itu setiap kali aku berkedip. Mata hitam berkacanya dan senyumnya yang terlalu lebar. Aku tidak bisa tidur malam itu, berpikir mengenainya yang berada di bawah basemenku.
Aku merasa seperti aku hampir dapat mendengarnya bergerak di bawah sana. Deritan lembut langkah kakinya melangkah pelan melintasi papan lantai. Tapi itu tidak mungkin, ujarku pada diriku. Hal tersebut tidaklah mungkin.
Tetap saja, aku tidak bisa tidur. Bahkan sedetik pun tidak.
Malam selanjutnya aku pergi ke basemen untuk melakukan laundry (setelah seharian mengumpulkan keberanian untuk pergi ke bawah sana) dan aku pun berjalan melewati lukisan itu. Mata hitam tegas wanita itu terlihat mengikutiku saat aku melewatinya. Seluruh tubuhnya diselimuti bayangan, detil muram wajahnya nyaris tidak terlihat dalam lukisannya yang berpencahayaan rendah.
Saat itu tengah malam dan aku tinggal sendirian, jadi aku merasa lebih dari sedikit ketakutan ketika aku mendengar sesuatu terjatuh dengan keras ketika aku membelakanginya, menyebabkan seluruh bulu kudukku merinding. Aku menjatuhkan keranjang laundriku dan berpaling kebelakang untuk melihatnya.
Dia menatapku dari tempatnya di dalam lukisan. Dia tidak bergerak, dan matanya masih tetap terlihat seperti mengikutiku, gerakan samar yang nyaris tidak terlihat dengan mata telanjang. Disana juga ada, sesuatu yang lain.
Sebuah kotak terjatuh dan menumpahkan isinya ke kursi di samping lukisan itu. Sedangkan aku masih tidak beranjak mendekat sama sekali untuk menyentuhnya.
Senyuman wanitanya terlihat seakan-akan lebih lebar – gigi berantakan terlihat dari bawah bibirnya yang merah merona(apakah sebelumnya memang terlihat seperti itu?). Tapi mungkin itu hanya imajinasiku. Aku memutuskan untuk tak melihat lebih dekat. Aku membayangkan dirinya tiba-tiba memanjat keluar dari lukisan saat aku mendekat untuk melihatnya, merangkak keluar dari bingkai seperti gadis dari “The Ring,’ dan melaju mengejarku dengan kedua tangan dan kakinya.
Membuang jauh pemikiran tersebut dari pikiranku, aku mengambil kembali keranjangku dan berbalik dengan sawan. Aku dengan cepat meletakkan pakaianku ke mesin cuci dan menyalakannya, kemudian berjalan melewatinya lagi menuju ke arah tangga.
Aku tidak salah lihat. Senyumannya terbentang lebih lebar, dan dibawahnya aku melihat sederet panjang gigi – kotor, berantakan, dan sama sekali tak mirip punya manusia. Aku sangat yakin kalau itu tak terlihat begitu sebelumnya. Apakah aku berkhayal karena kurang tidur?
Aku menggosok mataku dan berkedip, memerhatikan lukisan tersebut lagi/
Tidak ada gigi. Padahal aku baru saja merasa sangat yakin beberapa detik sebelumnya.
Tidak mampu untuk melihatnya beberapa saat lagi, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Jantungku berdetak cepat sekali dan tanganku bergetar saat aku menggapai dan membalikkan lukisannya sehingga itu menghadap ke arah dinding. Senyumannya terlihat menyempit sedikit, matanya mengikuti tanganku, alisnya berkerut saat dia melihatku meraih keatasnya untuk memegang bagian atas bingkai.
Kulitku merinding lagi ketika aku menyentuhnya. Aku melawan keinginan untuk muntah dan memutarnya dengan cepat seolah-olah itu akan membakarku jika aku memegangnya terlalu lama.
Walaupun dia menghadap dinding, aku masih tidak merasa baikan, lebih tidak tenang, seakan-akan aku membelakangi seorang musuh yang mematikan.
Lagi malam itu, aku mendengar seseorang bergerak kesana kemari di basemen. Berjalan dari satu ruang ke ruang lainnya.
Aku senang dia tidak naik ke atas tangga. Tapi aku mempunyai feeling kalau dia akan naik, nanti.
Sepanjang malam itu aku terbangun, mendengarkan jejak kakinya. Seringkali aku mendengarnya, seringkali aku terdengar kikikan tawa, membingungkan dan meresahkan.
Esok paginya aku meminta temanku datang. Aku perlu orang lain untuk melihatnya. Untuk membuatku merasa tidak sendirian, kurasa. Aku berharap kehadiran orang lain akan membuat hal-hal menjadi lebih baik. Tapi ternyata aku salah.
Temanku Brent datang dan aku segera membawanya turun ke basemen. Dia melihat lukisannya sekali (yang mana sekarang secara misterius terbalik, menghadap keatas) kemudian berjalan keluar ruangan, berkata, “TIDAK!”.
Dia menaiki tangga dan keluar dari pintu depan rumah, membuatku sangat takjub. Aku mengikutinya dan berdiri bersamanya di tangga depan. Brent berada di luar sana dengan telapak tangannya di letakkan di lutut, membungkuk dan tampak terengah-engah.
Kemudian aku menyadari bahwa dia bukan hanya kehabisan nafas, tapi benar-benar ketakutan.
“Dari mana kau mendapatkan bb-b-benda itu?” tanyanya, ucapannya cepat dan tergagap-gagap. “K-k-kau tak boleh menyimpannya. Kau tak boleh! Itu jahat! Terkutuk! Dia melihat tepat ke arahku! Bagaimana c-ca-c-caranya kau tidur dengan benda itu di rumahmu?”
Brent sudah tak pernah lagi tergagap sejak sekolah dasar, kecuali pada waktu-waktu dimana dia benar-benar merasa stress. Dia telah berkonsultasi dengan ahli bahasa selama bertahun-tahun dan dan akhirnya sembuh dari gangguan bicaranya. Hal itu hanya terjadi ketika dia benar-benar gundah.
“Aku masih belum. Aku tidak tidur sedikitpun semenjak aku mendapat benda itu.”
“SINGKIRKAN BENDA ITU.”
Aku berkata kepadanya aku akan, dengan seluruh niatku membuangnya ke tempat sampah atau membakarnya setelah dia pergi. Namun untuk beberapa alasan aku tidak dapat melakukannya.
Aku memutuskan untuk melakukan sesuatu padanya terlebih dahulu. Aku harus mencari beberapa jawaban.
Pada hari berikutnya, setelah malam tanpa tidur lainnya, aku membawa lukisan itu ke mobilku. Kami melakukan perjalanan bersama.
Aku telah membungkusnya dengan selimut dan lukisan itu tertutup sehingga tidak ada yang bisa melihatnya. Lebih tepatnya karena aku tidak mau melihatnya. Terlebih saat aku sedang mengemudi.
Ada pakar seni yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari rumahku. Aku mencarinya secara online dan menemukan bahwa dia adalah seorang yang ahli dengan segala hal yang berbau menyeramkan dan meresahkan. Memerlukan beberapa saat untuk menemukan seseorang dengan reputasi sepertinya.
Ketika aku sedang mengemudi, aku sesekali melihat balik pada lukisan itu. Dari bawah selimut, aku berani bersumpah bahwa aku melihat sedikit pergerakan. Lengkungan dan riak dari helaian itu terus menarik perhatianku dan mendsitraksiku dari jalan di depan.
Mungkin itu disebabkan oleh angin, tapi itu bukan. Aku yakin sekali.
“Kau telah mendapati dirimu sebuah benda antik, nampak dari kelihatannya.” Kata pria itu, mulai menarik selimut untuk memperlihatkan sebuah bingkai berlapis emas itu.
Aku menyadari bahwa aku sedang menahan napasku, menutup mataku, menunggu tanggapannya ketika dia melihat perempuan mengerikan yang berada dalam lukisan tersebut. Tapi pada saat dia tersentak kaget, aku menyadari bahwa itu bukanlah reaksi ketakutan, namun dari kekaguman.
“Luar biasa..”
Membuka mata, aku melihat apa yang sedang dia lihati. Wajah perempuan itu tidaklah sama – aku memastikan dan penasaran apakah dia telah menggantikan lukisannya ketika aku sedang tidak memerhatikan. Tapi tidak, bingkainya masih sama, wanita didalam lukisan tersebut juga masih sama. Hanya saja ekspresinya telah berubah.
Bukannya tampil dengan senyum mengerikan, dia sekarang memasang ekspresi lemah lembut di wajahnya – seringai pasif dan lemah lembut yang tidak biasa kulihat padanya.
“Chiaroscuro yang luar biasa. Itu adalah teknik yang melibatkan penggunaan yang kuat antara bayangan dan kegelapan dengan sedikit cahaya, berjaga-jaga anda tidak terbiasa mendengarnya. Tapi sapuan kuasnya, ya ampun! Sama sekali tak terlihat,” ujarnya, memegang sebuah kaca pembesar untuk memeriksanya dengan teliti. “Itu terlihat seakan-akan dirinya hidup! Seseorang bersusah payah membuat ini. Kau tahu asal lukisan ini?”
“As-apa?” Aku seharusnya mengerti apa maksudnya – mengerti sebenarnya, hanya saja aku terlalu lelah untuk mengingat apa maksudnya pada saat itu. Aku sekarang sudah melewati sekitar empat hari tanpa tidur dan benar-benar lelah.
“Tahu mengenai asal-usulnya, atau usianya?”
“Tidak, maaf. Aku mendapatkannya secara online dari situs ini,’ kataku, mengeluarkan ponselku dan mencoba menunjukkan padanya. Tapi websitenya sudah tidak ada lagi. “Aneh, mungkin sekarang sedang gangguan. Saya akan mengirimkan URLnya pada anda.”
Dia berpikir mengenainya beberapa menit, memeriksa lukisan itu dengan berbagai alat dan lensa pembesar.
“Ah, ini dia!” katanya bersemangat.
“Apa itu?” tanyaku.
“Sialan, aku hanya bisa melihat setengah dari tanda tangannya – Aku perlu memisahkannya dari bingkainya. Bolehkah anda meninggalkan lukisan ini kepada saya sampai besok?”
Aku setuju, tidak yakin bagaimana cara menjelaskan kedaannya kepadanya selain berkata, “Berhati-hatilah dengan benda itu.”
Menatap kembali, kuharap aku melakukannya. Kuharap aku setidaknya mencoba melakukannya.
Sialan, pria yang malang.
Quote:
Diubah oleh pngntrtidr 28-09-2021 01:45
0
Kutip
Balas