Kaskus

Story

afryan015Avatar border
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

emoticon-UltahHallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......
ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.

Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya



Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati emoticon-Shakehand2

Oh iya jangan lupa emoticon-Toast emoticon-Rate 5 Star

Quote:



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
bebyzhaAvatar border
jiren11Avatar border
mangawal871948Avatar border
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
231.4K
2.5K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
afryan015Avatar border
TS
afryan015
#539
Kejadian setelah Pernikahan

Dan ternyata dimalam pertama itu, yang katanya orang lain senang, tidak terjadi padaku, saat aku akan tidur bersama Via, dan kita sudah berada dalam selimut yang sama, saat aku akan memeluknya, tiba tiba di tengah tengah antara Aku dan Via ada sebuah rambut yang itu aku dan Via rasakan didalam selimut karena terkena kulitku dan kulit Via

“dek ini rambutmu kok panjang banget ya” aku bertanya pada Via sambil terus merasakan rambut panjang yang beraada ditengah tengah kami.

“loh mas aku kira malah kamu bawa boneka buat aku, soalnya rambut ku ada disini” Via mengira aku akan memberikejutan sebuah boneka, dan menunjukan kalau rambutnya berada disisi yang lain.

“loh lah terus ini apa, mas nggak ada beli boneka atau apa, tapi kok ini rambut kayaknya kaku banget ya, kaya sapu ijuk” aku terus meraba rambut itu yang masih terasa aneh, dan memang rambut itu terasa panjang dan kaku, dan lama kelamaan kulit ku yang terkena rambut itu terasa gatal.

“mas ini aneh itu bukan rambut ku, kulit aku jadi gatel mas” seketika setelah Via mengatakan hal tersebut dan aku juga merasakannya, lantas aku kemudian membuka selimut yang sedang kita gunakan untuk tidur itu.

Dan setelah terbuka, ternyata ditengah tengah kami tidak ada apapun, bahkan benda apapun tidak ada, bantal guling pun tidak ada, kita saling berpandangan heran dan bingung, sebenarnya tadi apa yang kita pegang dan mengenai kulit kita, terasa begitu nyata, namun rasa gatal yang aku dan Via rasakan tak kunjung hilang, awalnya kita tidak begitu memperdulikan rasa gatal yang sedang kita rasakan, tapi rasa heran dengan yang kita rasakan tadi masih terus ada dalam benak kita.

Karena merasa kelelahan dengan acara resepsi tadi siang, kita memutuskan untuk segera mencoba tidur dan melupakan yang baru saja terjadi, detik berganti detik, menit berganti menit, rasa gatal yang aku rasakan terasa semakin menjadi, kucoba untuk terus menggaruk bagian yang gatal, berharap rasa gatal itu akan segera mereda, malah justru semakin terasa gatal, aku terus menggaruk rasa gatal yang semakin ku rasa semakin terus menyebar keseluruh tubuhku.

Aku mencoba untuk tidak sampai mengganggu Via yang mungkin lelah dan segera ingin tidur juga, maka ku garuk dengan perlahan, walau semakin lama semakin terasa perih di area aku menggaruknya dan tanpa terasa garukanku membuat kulitku lecet di beberapa bagian.

Aku memastikan kalau Via tidak merasakan gatal yang aku rasakan, ku coba untuk melihatnya, ternyata dia juga belum tertidur, dia terlihat juga masih menggaruk karena rasa gatal yang ternyata dirasakan juga olehnya saat itu, namunsepertinya rasa gatalnya tidak separah yang aku rasakan.

“mas aku kok rasanya badanku jadi gatal semua ya” Via mengeluh padaku sambil terus menggaruk tubuhnya.

“sama dek, mas juga ini, kita punya salep atau obat apa nggak sih, atau minyaktawon mungkin lah, coba lihat dikotak obat diatas meja itu” kebetulan kamar aku selalu sedia obat dan peralatan untuk medis

“aku ada salep yang ampuh kok mas, kebetulan dibawain sama ibu tadi sebelum berangkat nikahan” Via kemudian mengambil salep didalam tasnya

Via kemudian bangkit mengambil salep yang ada di dalam tasnya, kemudian segera kembali lagi ke ranjang, dan mengoleskan salep itu ditubuhnya terlebih dahulu dan kemudian baru dia oleskan salep itu disekitar tubuhku, dan ternyata saleb itu cukup manjur meredakan rasa gatel yang dirasakan, ada rasa sejuk saat salep itu dioleskan dan mungkin itu yang membuar rasa gatel ini berangsur menghilang, dan semoga esok pagi sudah tidak terasa lagi, dan setelah dioleskan kitapun bisa tidur dan beristirahat.

Singkat cerita malam pun berganti pagi, waktu sholat subuh pun tiba, saat itu rasa lelah masih menyelimutiku, hingga membuatku sedikit enggan untuk bangkit dan keluar dari selumutku, Shinta yang sepertinya terus memantau aku dari luar kamar kemudian perlahan mulai melihatku di dalam kamar, mungkin takut mengganggu ku dengan Via, dia mencoba membangunkanku dengan cara yang halus.

Karena suasana subuh itu sangat dingin, lebih dingin dibanding hari hari biasanya, membuat aku saat itu menutup seluruh tubuhku hingga sampai menutupi kepalaku jadi seluruh tubuh dan kepala berada di dalam selimut, Shinta mencoba membangunkan dengan mencolek colek ku dibagian area kepala dan sesekali menarik selimut ku berharap aku akan segera bangun, namun karena masih terlalu dingin aku masih tetap enggan, Shinta terus mencoba membangunkanku dengan nada genit, seolah sedang membangunkan suaminya, padahal disitu juga Via masih berada di tempat tidurnya, dan karena merasa ditarik tarik selimutnya, Via kemudan bangkit dan bangun lalu bergeas keluar kamar sambil terus menggaruk badannya yang gatal.

Sementara aku masih terus berlindung didalam selimut, dan enggan untuk merasakan dingin saat itu, Shinta yang mulai merasa sebal karena aku tak kunjung bangun, kemudian dengan paksa mengangkat selimutku sehingga seluruh selimut yang membuatku hangat terlepas dari tubuhkan, dan membuat udara dingin langsung menghujaniku yang membuat diriku merasakan hawa dingin pagi hari.

Setelah selimut terlepas dari tubuhku, Shinta malah berteriak seolah kaget dengan melihat penampakan wujudku saat itu, aku langsung terbangun dan melihat kesekeliling dengan tatapan linglung karena kaget akan teriakan Shinta, sementara dirinya malah memperhatikan tubuh ku seolah herar dengan penampakan wujudku saat itu, Shinta merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhku, hal itu sama aku juga merasakan, aku merasa rasa gatal itu kembali muncul, rasa yang semalam sempat hilang kembali muncul, dan membuatku terpaksa harus menggaruknya kembali.

“yan mukamu kenapa sih” tanya Shinta keheranan melihat wajahku sambil terus memperhatikan akarena ada yang aneh

“kenapa sih Ta, baru juga bangun, kenapa emangnya” dengan malas aku membalas embari menggaruk badan dan wajah yang mulai gatal.

“kamu mau malam ada yang gangguin ya, tapi kok dia bisa masuk ya, penjagaan padalah udah kuat, beberapa pasukan putih juga Standby terus di luar” ucap Shinta keheranan dan terus memandangi dan menelisik sebenarnya apa yang terjadi.

“aduh ini kok kelamaan gatalnya terasa syahdu banget sih Ta, aku semalam kaya nyentuh rambut panjang tapi kaku banget, tapi pas aku buka selimut ternyata nggak ada apa apa” aku menjelaskan kejadian tadi malam, dan ekspresi Shinta berubah menjadi sedikit ada rasa marah

“kamu tenang aja, aku bakal cari pelakunya, biar ku habisi dia, kamu buruan obatin itu, wajah udah jelek tambah jelek kalau banyak bentol betol seperti itu” Shinta kemudian berlalu pergi meninggalkanku yang kebingungan

Ternyata wajahku sudah banyak sekali bentol bentol, dan saat itu juga tubuhku merasa sangat gatal, tidak hanya di wajah, dan badan, rasa gatal itu merambat kebagian kaki juga, saat aku melihat diriku di cermin, ternyata hampir seluruh tubuhku terdapan bentol bentol yang sangat gatal.

Via pun kemudian kembali kedalam kamar setelah sholat subuh, dan saat melihat tubuhku penuh dengan bentol bentol, dia begitu kaget, soalnya, Via tidak sampai seperti itu, walau gatal juga, tapi tidak sampai menimbulkan bentol bentol, Via kemudian memintaku untuk berwudhu dan segera sholat, untuk setelahnya akan dioleskan lagi salep yang semalam dia oleskan padaku, untuk meredakan rasa gatel yang aku rasakan.

Saat aku keluar dan hendak mengambil air Wudhu, disana ternyat sudah ada bapak dan ibu yang duduk di ruang Tengah sambil menonton Tv, ada nenek Lasmi yang masih berkeliling memastikan keadaan aman.

Bapak kemudian menyakan apa yang terjadi padaku, aku hanya bilang gak tau dan hanya merasa gatal, dan kemudian langsung kekamar mandi untuk mengambil air wudhu, rasa gatal tetap tidak bisa disembunyikan hingga selesai berwudhu bapak menyuruhku untuk berhenti, dan bapak kemudian mencoba cek apa sebenarnya yang terjadi padaku, setelah diteliti oleh bapak, bapak kemudian langsng pergi keluar rumah entah mau kemana karena dia tidak mengatakan padaku, setelah cek langsung keluar rumah begitu saja, dan pikirku sudah selesai dicek bapak, aku kemudian melaksanakan sholat sambil terus menahan rasa gatal yang sedang aku rasakan.

Entah kenapa rasa gatel ini semakin di garuk semakin gatal malah rasanya, singkatnya setelah sholat dan dan kemudian di oleskan salep oleh Via, pada sekitaran jam sepuluh pagi, mbah Margono datang kerumah, sambil membawa beberapa lembar daun sirih dan minyak, sepertinya tadi pagi bapak pergi kerumah mbah Margono untuk meminta obat, dan pasti ini bukanlah gatal biasa karena mbah Margono yang turun tangan, sedangkan bapak terus menunjukan muka serius.

“waduh waduh, mas manten kenapa ini, baru malam pertama malah udah begini aja, pasti gak menikmati tadi malam” mbah Margono datang sambil menanyakan keadaanku dan sedikit bercanda.

“gak tau ini mbah, pas mau tidur gatel bangen rasanya” jelasku pada mbah Margono.

“sini deket mbah, tak kasih obatnya mudah mudahan sih bisa sembuh, kalo ngga ya, nanti tidnaggal kuliti aja, pisau dirumah mbah aman masih tajemkok hehe” dengan bercanda mbah Margono bercanda sambil mengoleskan daun sirih dan minyak yang sudah ditumbuk barusan ke area kulitku yang terasa gatal.

“wah gila aja mbah masa iya malah di kulitin, terus nanti aku langsung otot gitu aja, kaya orang orangan peraga dilab biologi aja mbah”

“haha bercanda, nih sisanya dikasih ke istrimu, dia pasti gatal juga kan walau nggak separah kamu, apa biar mbah sekalian yang ngolesin hehe” masih aja bercanda dia

“enak aja, sini mbah biar aku aja, belum juga di apa apain malah mbah mau duluan” jawabku membalas candaan mbah Margono

Efek yang kurasakan setelah tubuhku diolesi oleh ramuan yang dibuat oleh mbah Margono itu adalah, panas terasa sperti sedang terbakar, dan kata Mbah Margono itu harus ditahan karena ada kekuatan negatif yang semalam berhasil menembus kemari, sempat Heran juga mbah Margono kenapa bisa padahal penjagaan sudah ketat, belum lagi rajah disetiap sisi rumah, atau benteng disetiap sisi rumah kok masih bisa kena, atau mungkin terbawa saat aku berada diluar pagar gaib rumah. Entahlah, mbah Margono dan bapak saja tidak tahu apalagi aku.

Dan benar saja setelah beberapa jam dioleskan ramuan yang dibuat oleh mbah Margono, rasa panas terbakar itu berangsur hilang dan menjadi biasa, hal sama juga dirasakan pada rasa gatel yang perlahan mulai hilang, dan benar tidak kemali lagi rasa gatal itu, dan benjolan pada tubuhku juga menghilang permanen tidak datang lagi, manjur juga ramuan yang dibuat mbah Margono.

Beberapa hari terus berlalu, Via semakin hari semakin akrab dengan keluargaku, bahkan bapak juga sudah mulai akrab dengan Via yang kadang malah bekerja sama dalam membuat proyek desain, yah namanya orang seni bertemu orang yang bisa seni pasti bisa berbaur dengan cepat, bahkan bapak lebih bergantung pada Via dibandingkan aku untuk hal pembuatan desain, hehe ya maklum aku memang tidak memiliki bakat seni sama sekali, dan bakat bapak tidak menurun padaku, tapi meurun pada kakaku Bono yang berada di jogja kalau kalian masih mengingat nama itu.

Dan suatu hari yang namanya orang sudah beristri atau berkeluarga, mau tidak mau harus lebih akrab dengan tetangga dan harus lebih sering terjun ke masyarakat kampung untuk mendekatkan diri kita pada mereka, tau sendiri lah kalau tetangga tidak semua akan menyukai kita dan tak sedikit juga yang akan menjelekan kita walau kita sudah melakukan yang terbaik untuk saling berbaur.

Pada hari itu aku diberitanggung jawab untuk mengurus tanah kosong bersama karang taruna untuk membersihkah rumbut dan ilalang yang tumbuh disana untuk nanti dijadikan lapangan kampung karena akan diadakan lomba agustusan, ya walau masih ada waktu dua bulan untuk menuju ke lomba agustusan.

Aku pun berangkat bersama para karang taruna untuk bersih bersih lahan kosong itu, ternyata tanah itu sangat dikenal sebagai tanah kosong yang angker, banyak kejadian tidak masuk akal di tanah itu menurut tetanggaku, seperti orang menangis, suara benda dilempar, kadang juga ada seseorang yang mengobrol namun tidak ada wujudnya sama sekali, hal itu terjadi walau disiang hari.

Hingga saat aku dan karang taruna memberishkan area itu, hal mistis pun terjadi, saat kita membersihkan rumput disana dan kebetulan disana ada pohon mangga yang cukup rimbun tiba tiba salah seoarang anggota karang taruna mendapati ………
sampeuk
bebyzha
itkgid
itkgid dan 41 lainnya memberi reputasi
42
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.