- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
166.1K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#614
Part 74 - Ghost
Di rumah eyang, di dalam kamar gua memeluk guling sembari menatap foto-foto kebersamaan gua dengan Okta.
Bayang-bayang Okta membayang jelas di tabir waktu yang dibuat oleh pikiran gua sendiri.
Gua yang punya image ganteng, cerdas, pandai bersosialisasi, nyatanya harus terseok-seok dalam menjalani kisah-kasih.
Bagi beberapa orang, mungkin gua sudah punya keistimewaan yang lebih dari cukup buat ngegaet gadis-gadis cantik.
Ditambah, sekarang gua merupakan son's of law dari seorang pelaut dan seorang dosen. Yang duitnya lebih dari cukup buat gua membeli hati cewek-cewek mata duitan di luar sana.
Banyak juga yang secara terang-terangan naksir dan mau pedekate in gua setelah berita status lajang gua tersebar.
Tapi, gua belum bisa lepas dari bayang-bayang senyum Okta.
Apalagi gua bukanlah type orang yang gampang buat cari ganti. Ada setumpuk kriteria yang harus gua pertimbangkan untuk menjalin hubungan dengan seseorang.
Gua berbeda dengan kebanyakan remaja di luar sana yang memilih sembarang orang untuk dijadiin pasangan.
Jika remaja di luaran sana banyak yang berprinsip "...daripada jomblo", maka gua adalah kebalikannya "...lebih baik jomblo".
Maka dari itu, banyak yang bilang kalau jumlah mantan gua terlalu sedikit buat spek laki-laki kayak gua😎. 'dih, geer banget luu'
---Back to story;
Sekian hari setelah Okta pergi, hilang motivasi gua buat menjalani aktivitas.
Gua bangun tanpa ada lagi ucapan selamat pagi, tidur tanpa ucapan selamat malam dan semoga mimpi indah, serta aktivitas sepulang sekolah yang tak lagi ditemani cerewetnya Okta.
Terkadang, gua mengunjungi Dini untuk membuang rasa bosan. Wajahnya yang polos dan lucu memunculkan sekejap pelangi di hati gua yang sedang diterpa badai.
Tak jarang dan tak pernah jenuh mbak Oliv, Zahra, dan anak-anak bengkel mencoba membuat gua tersenyum.
Namun gua rasa, gua cuma butuh waktu sendiri. Emosi gua malah tak terkendali jika harus banyak berinteraksi saat suasana hati sedang tidak enak.
Beberapa kali juga mereka mencoba untuk mengenalkan beberapa cewek, dan gagal.
Gua mencak-mencak ketika mbak Oliv dan anak anak bengkel lagi-lagi memberikan kontak gua ke temannya "Kalau kalian ngga bisa bantu bawa Okta ke sini, seenggaknya ngga usah maksa gua buat cari gantinya".
Malam itu, gua bersantai di teras rumah Mamah setelah berjam-jam menggendong Dini.
Zahra menghampiri gua, berdiri di depan pintu rumah "Mas, mau dibikinin kopi? Apa teh?"
"Kopi boleh deh, sekali-kali"
Sekian kali gua memeriksa BBM, Line, sampai akun Instagram milik Okta dan gua masih masuk dalam blocking list dia.
Perkataan Okta waktu itu bukanlah gertakan semata. Dia benar-benar memutus segala bentuk komunikasi kita berdua, untuk sementara.
Yang bikin gua nambah emosi, cuma gua yang diblokir. Sedangkan Zahra, mbak Oliv dan anak-anak bengkel engga.
Beberapa kali gua menyaksikan Okta dan anak-anak bengkel melakukan video call, saling menanyakan kabar.
Tapi video call langsung diakhiri ketika gua ikut menampakkan diri di camera.
Yang gua bisa lakuin cuma memandang puluhan foto kebersamaan gua dan Okta.
Lamunan-lamunan gua berhenti setelah Zahra datang membawa kopi yang ia janjikan tadi.
Gua hendak meneguk kopi yang ia buat, Zahra langsung mencegah.
"Eh, mas Raja belum makan malem kan?"
Gua menggeleng
"Makan dulu ih, ayo makan di luar. Aku temenin" ajaknya
Gua menghela nafas panjang, ngga jadi meminum kopi panas yang melambai-lambai menggoda untuk segera diseruput.
Zahra segera berdiri, kemudian berjalan menuju motor MX gua yang terparkir di carport
Sampai akhirnya kendaraan yang gua kendarai membawa kami jauh ke daerah Tlogosari. Dimana terdapat beraneka macam pilihan makanan, dari mulai makanan ringan sampai berat semuanya ada disini, tinggal pilih.
Meskipun, ujung-ujungnya tenda warung lamongan lah yang dipilih Zahra.
Melihat sepasang kekasih yang sedang makan bermesraan di sana, hati gua yang sedang sensitif langsung teringat akan Okta.
"Bungkus aja lah dek, aku lagi males di tempat rame" pinta gua, supaya kami berdua juga tak terjebak lama di tempat itu
"Yaaah.." terlihat jelas kekecewaan Zahra
Dia langsung berdiri dari bangku hijau yang kami duduki, berjalan gontai ke arah di penjual. Meralat pesanan kami agar dibungkus aja
"Kepikiran mbak Okta terus ya?" Tanya Zahra sekembalinya dari si penjual
Gua hanya diam, sembari memainkan rokok di sela sela jari.
"Minjem HP dek" setelah acara makan-makan, akhirnya gua bisa menikmati kopi yang sudah berubah jadi agar-agar.
Gua meminjam HP Zahra, mengirimkan pesan singkat ke Okta
"Ta, udahan dong. Kita ulang semuanya, aku bakal gila kalo kayak gini terus"
Beberapa menit berselang, terdengar suara notifikasi dari HP Zahra. Ia langsung menyerahkan HP nya ke gua lagi setelah memeriksa dari siapa notifikasi tersebut muncul.
Okta membalas pesan gua tadi "udah lah ja, kita sama-sama cari yang lain. Masa depan kita abu-abu kalau dilanjut.
Emang kamu mau dibaptis? Engga kan?. Sama ja, aku juga ngga mau jadi mualaf. Kita ngga bisa maksa satu sama lain buat ngikutin ego.
Kamu pasti cepet dapet ganti yang jauh lebih baik dari aku"
"Tapi kamu ngga ada gantinya, Gracia Okta cuma ada satu" balas gua
Okta tak lagi melanjutkan percakapan antara kami berdua.
Gua berpamitan "Udah lah dek, aku pulang dulu"
Setelah itu masuk ke dalam, berpamitan ke Mamah. Walaupun, Mamah belum mau mengucap sepatah kata pun ke gua. Tapi yaudahlah, tujuan gua ke sini buat Dini.
Zahra mengantar gua sampai ke depan gerbang.
Ia berpesan "besok berangkat bareng ya mas, udah lama ngga berangkat sekolah bareng"
Gua mengangkat jempol tangan kanan, mengisyaratkan kata 'OK'
"Berangkat pagi, sarapan sekalian di sini" lanjutnya
Bayang-bayang Okta membayang jelas di tabir waktu yang dibuat oleh pikiran gua sendiri.
Gua yang punya image ganteng, cerdas, pandai bersosialisasi, nyatanya harus terseok-seok dalam menjalani kisah-kasih.
Bagi beberapa orang, mungkin gua sudah punya keistimewaan yang lebih dari cukup buat ngegaet gadis-gadis cantik.
Ditambah, sekarang gua merupakan son's of law dari seorang pelaut dan seorang dosen. Yang duitnya lebih dari cukup buat gua membeli hati cewek-cewek mata duitan di luar sana.
Banyak juga yang secara terang-terangan naksir dan mau pedekate in gua setelah berita status lajang gua tersebar.
Tapi, gua belum bisa lepas dari bayang-bayang senyum Okta.
Apalagi gua bukanlah type orang yang gampang buat cari ganti. Ada setumpuk kriteria yang harus gua pertimbangkan untuk menjalin hubungan dengan seseorang.
Gua berbeda dengan kebanyakan remaja di luar sana yang memilih sembarang orang untuk dijadiin pasangan.
Jika remaja di luaran sana banyak yang berprinsip "...daripada jomblo", maka gua adalah kebalikannya "...lebih baik jomblo".
Maka dari itu, banyak yang bilang kalau jumlah mantan gua terlalu sedikit buat spek laki-laki kayak gua😎. 'dih, geer banget luu'
---Back to story;
Sekian hari setelah Okta pergi, hilang motivasi gua buat menjalani aktivitas.
Gua bangun tanpa ada lagi ucapan selamat pagi, tidur tanpa ucapan selamat malam dan semoga mimpi indah, serta aktivitas sepulang sekolah yang tak lagi ditemani cerewetnya Okta.
Terkadang, gua mengunjungi Dini untuk membuang rasa bosan. Wajahnya yang polos dan lucu memunculkan sekejap pelangi di hati gua yang sedang diterpa badai.
Tak jarang dan tak pernah jenuh mbak Oliv, Zahra, dan anak-anak bengkel mencoba membuat gua tersenyum.
Namun gua rasa, gua cuma butuh waktu sendiri. Emosi gua malah tak terkendali jika harus banyak berinteraksi saat suasana hati sedang tidak enak.
Beberapa kali juga mereka mencoba untuk mengenalkan beberapa cewek, dan gagal.
Gua mencak-mencak ketika mbak Oliv dan anak anak bengkel lagi-lagi memberikan kontak gua ke temannya "Kalau kalian ngga bisa bantu bawa Okta ke sini, seenggaknya ngga usah maksa gua buat cari gantinya".
Malam itu, gua bersantai di teras rumah Mamah setelah berjam-jam menggendong Dini.
Zahra menghampiri gua, berdiri di depan pintu rumah "Mas, mau dibikinin kopi? Apa teh?"
"Kopi boleh deh, sekali-kali"
Sekian kali gua memeriksa BBM, Line, sampai akun Instagram milik Okta dan gua masih masuk dalam blocking list dia.
Perkataan Okta waktu itu bukanlah gertakan semata. Dia benar-benar memutus segala bentuk komunikasi kita berdua, untuk sementara.
Yang bikin gua nambah emosi, cuma gua yang diblokir. Sedangkan Zahra, mbak Oliv dan anak-anak bengkel engga.
Beberapa kali gua menyaksikan Okta dan anak-anak bengkel melakukan video call, saling menanyakan kabar.
Tapi video call langsung diakhiri ketika gua ikut menampakkan diri di camera.
Yang gua bisa lakuin cuma memandang puluhan foto kebersamaan gua dan Okta.
Lamunan-lamunan gua berhenti setelah Zahra datang membawa kopi yang ia janjikan tadi.
Gua hendak meneguk kopi yang ia buat, Zahra langsung mencegah.
"Eh, mas Raja belum makan malem kan?"
Gua menggeleng
"Makan dulu ih, ayo makan di luar. Aku temenin" ajaknya
Gua menghela nafas panjang, ngga jadi meminum kopi panas yang melambai-lambai menggoda untuk segera diseruput.
Zahra segera berdiri, kemudian berjalan menuju motor MX gua yang terparkir di carport
Sampai akhirnya kendaraan yang gua kendarai membawa kami jauh ke daerah Tlogosari. Dimana terdapat beraneka macam pilihan makanan, dari mulai makanan ringan sampai berat semuanya ada disini, tinggal pilih.
Meskipun, ujung-ujungnya tenda warung lamongan lah yang dipilih Zahra.
Melihat sepasang kekasih yang sedang makan bermesraan di sana, hati gua yang sedang sensitif langsung teringat akan Okta.
"Bungkus aja lah dek, aku lagi males di tempat rame" pinta gua, supaya kami berdua juga tak terjebak lama di tempat itu
"Yaaah.." terlihat jelas kekecewaan Zahra
Dia langsung berdiri dari bangku hijau yang kami duduki, berjalan gontai ke arah di penjual. Meralat pesanan kami agar dibungkus aja
"Kepikiran mbak Okta terus ya?" Tanya Zahra sekembalinya dari si penjual
Gua hanya diam, sembari memainkan rokok di sela sela jari.
Quote:
"Minjem HP dek" setelah acara makan-makan, akhirnya gua bisa menikmati kopi yang sudah berubah jadi agar-agar.
Gua meminjam HP Zahra, mengirimkan pesan singkat ke Okta
"Ta, udahan dong. Kita ulang semuanya, aku bakal gila kalo kayak gini terus"
Beberapa menit berselang, terdengar suara notifikasi dari HP Zahra. Ia langsung menyerahkan HP nya ke gua lagi setelah memeriksa dari siapa notifikasi tersebut muncul.
Okta membalas pesan gua tadi "udah lah ja, kita sama-sama cari yang lain. Masa depan kita abu-abu kalau dilanjut.
Emang kamu mau dibaptis? Engga kan?. Sama ja, aku juga ngga mau jadi mualaf. Kita ngga bisa maksa satu sama lain buat ngikutin ego.
Kamu pasti cepet dapet ganti yang jauh lebih baik dari aku"
"Tapi kamu ngga ada gantinya, Gracia Okta cuma ada satu" balas gua
Okta tak lagi melanjutkan percakapan antara kami berdua.
Quote:
Gua berpamitan "Udah lah dek, aku pulang dulu"
Setelah itu masuk ke dalam, berpamitan ke Mamah. Walaupun, Mamah belum mau mengucap sepatah kata pun ke gua. Tapi yaudahlah, tujuan gua ke sini buat Dini.
Zahra mengantar gua sampai ke depan gerbang.
Ia berpesan "besok berangkat bareng ya mas, udah lama ngga berangkat sekolah bareng"
Gua mengangkat jempol tangan kanan, mengisyaratkan kata 'OK'
"Berangkat pagi, sarapan sekalian di sini" lanjutnya
Quote:
japraha47 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tutup