- Beranda
- Stories from the Heart
Diikuti 3 Arwah Wanita Setelah Ngevlog
...
TS
afryan015
Diikuti 3 Arwah Wanita Setelah Ngevlog

Hay Agan agan sekalian, kali ini aku ada cerita baru lagi nih namun hanya beberapa part saja, soalnya ini yang di alami oleh temanku, dan untuk cerita Sebuah Luka Dibalik Cahaya Surga terpaksa aku hentikan hehe, 
dan semoga cerita ini dapat menghibur kalian ya, nggak jauh jauh dari Ryan kok, masih ada jejaknya Ryan dan Mbah Margono dalam membantu orang, dan mungkin nantinya akan ada cerita sendiri dimana kekonyolan Ryan dan Mbah Margono mencari mustika atau pusaka jika memang banyak yang antusias
dan untuk cerita Sekamar Kos Dengan Dia 2 masih terus dilanjut tenang saja, dan akan berbarengan dengan kisah ini hanya jam tayangnya yang berbeda
dan satu lagi untuk cerita Sekamar Kos Dengan Dia 1 insyallah akan saya perbaiki dan upload ulang supaya yang belum baca bisa membaca dari awal
Jangan lupa ya baca juga
Hidup Berdampingan Dengan Mereka (kisah mula Ryan)
Sekamar Kos Dengan Dia 1
Sekamar Kos Dengan Dia 2
Sebuah Luka Dibalik Cahaya Surga
Kota Kecil Wonosobo, Mistis nanMenawan
Kisah ini berawal setelah aku mendapat kabar dari orang tua temanku yang bernama Rendra dan dia juga menceritakan detail kejadiannya padaku, sebut saja itu nama dia, Rendra ini merupakan seorang konten kreator juga, dia sering membuat konten video horor, podcast horor di sebuah chanel youtube, kadang juga dia melakukan live streaming di plat form lain seperti Bigo, dam beberapa plat form live streaming lainnya, kalau dilihat dari pengikut dan penonton dari setiap video yang dia buat, bisa dikatakan dia termasuk yang sudah lama menggeluti bidang ini
Untuk masalah live streaming, Rendra sering melakukan eksplor ke tempat tempat angker dan sudah sampai diberbagai wilayah yang terbilang cukup seram, dan biasanya dia melakukan kegiatan itu sendirian tanpa ditemani rekan, dia benar benar melakukan hal penjelajahan sendirian, tempat angker yang sudah pernah di jelajahi diantara lain adalah, Alas Purwo, Lawang Sewu, Wonderia, dan masih banyak yang lainya, dan dari eksplorasinya itu tidak jarang dalam videonya atau live streamingnya menangkap sebuah pergerakan dari makhluk alam sebelah.
Kita mulai langsung pada ceritanya, pada saat itu orang tua Rendra memberiku kabar karena khawatir dengan anaknya yang bernama Rendra, orang tuanya khawatir karena akhir akhri ini Rendra terlihat begitu aneh dibanding hari biasanya, tingkah yang di tunjukan tidak seperti Rendra yang selalu riang dan selalu merespon cepat setiap apapun yang terjadi.
Namun menurut penjelasan orang tua Rendra, sepulang dia dari eksplor terlihat seperti orang linglung, dan setiap ditanya sesuatu pasti tidak langsung di jawab melainkan seperti orang bengong terlebih dahulu, dan ketika diulang kedua kali baru Rendra bisa merespon apa yang tadi ditanyakan oleh seseorang, hal itu membuat khawatir kedua orang tua Rendra, sementara karena saat itu aku sedang ada urusan dengan Mbah Margono makanya belum bisa untuk datang ke rumah Rendra dan memastikan apa yang terjadi, dan urusanku dengan Mbah Margono ini memerlukan waktu kalau tidak salah tujuh hari baru kemudian aku bisa berkunjung ke rumah Rendra.
Menurut cerita yang aku dapat, Rendra baru pulang dari salah satu curug yang digunakan untuk acara padusan, biasanya dilakukan menjelang awal satu suro di sebuah desa, disini tidak bisa disebutkan secara detail dimana letak desa tersebut, yang jelas Rendra baru pulang dari tempat padusan itu, seperti biasa Rendra tidak ditemani satu teman pun, dia berangkat sendiri kelokasi dimana curug itu berada.
Dan sesampainya dirumah, Rendra langsung masuk berjalan dengan tatapan datar, sambil melihat kesekeliling ruangan yang dia lewati, seolah dia asing terhadap ruangan yang dia lewati ini, bapak ibunya yang melihat Rendra seperti itu, kemudian mencoba menanyai Rendra, apakah baik baik saja atau tidak.
“Ren, kamu sudah pulang, kamu tidak apa apa kan” tanya bapak Rendra memastikan
“heemm, haa” jawabn Rendra hanya semacam itu saja seperti tidak nyambung saat ditanayi
Setelah ditanya oleh bapaknya, Rendra langsung masuk kedalam kamarnya tanpa menjawab pertanyaan dari bapaknya dan langsung naik kelantai dua ke kamarnya dan langsung menutup kamar rapat rapat, dan setelah masuk kedalam kamar, sama sekali tidak keluar sedikitpun dari kamarnya, hampir seharian Rendra tidak keluar, yang membuat orang tuanya sangat khawatir, hingga akhirnya pada malam harinya diwaktu akan makan malam, ibu Rendra memanggilnya dari lantai bawah namun sama sekali tidak ada jawaban dari Rendra.
Ibunya Rendrapun mencoba untuk mengetuk kamar Rendra, namun saat akan mengetuk, Ibu Rendra mendengar Rendra sedang berbicapa pada seseorang, ibu rendra berfikir mungkin Rendra sedang bertelfonan dengan temannya, namun yang membuat aneh adalah suara lawan bicara Rendra sangat jelas, dan terdengar seolah benar benar ada di ruangan yang sama dengan Rendra, dan untuk memastikan ibu Rendra mencoba untuk mengetuknya
“Ren? Rendra? Makan dulu yuk, sudah waktunya makan malam ini” ajak Ibunya untuk makan
Awal mengetuk sama sekali tidak ada jawaban, Rendra terus asik berbicara dengan lawan bicaranya itu, ibu Rendra masih berfikir positif mungkin dia memang sedang fokus berbincang dengan temannya di telefon. Dan membiarkan Rendra untuk menyelesaikan telfonnya itu bersama temannya.
Hingga akhirnya ibu Rendra pun turun kembali untuk makan bersama bapak Rendra sembari menunggu anaknya selesai berbincang dengan temannya di Telefon, menit berganti menit hingga akhirnya rasa khawatir ibu Rendra kembali muncul, dan berfikir untuk kembali menyuruh Rendra untuk segera turun.
Ibu Rendra kemudian berjalan menuju ke lantai dua saat dalam perjalanan menuju ke lantai dua, samar samar ibu Rendra dari tangga melihat ada sesosok Wanita berjalan memasuki kamar Rendra, padahal sejak awal Rendra pulang dia tidak bersama siapa siapa bahkan setelah beberapa waktu Rendra pulang juga tidak ada temannya yang main kerumah, Ibu Rendra paham karena sejak dari tadi dia berada di depan Rumah menata Tanaman dan mengganti tanah di pot pot tanaman itu, jadi seharusnya apabila ada teman Rendra yang datang Ibu Rendra akan mengetahuinya lebih dulu.
Karena penasaran dengan siapa yang menemani Rendra di dalam kamarnya, Ibunya kemudian terus berjalan kekamar Rendra mengikuti sosok wanita tadi yang berjalan masuk kekamar Rendra, sesampainya di depan kamar Rendra, ibunya mencium wangi yang sangat segar, seperti ada bunga yang tumbuh disana, saat sedang mengamati harum wangi dari mana itu berasal, dari arah dalam kamar Rendra terdengar suara canda tawa sebegitu riang, Rendra terdengar seperti sedang bergurau dengan seorang wanita didalam sana
Ibu Rendra pun kemudian mengetuk kembali pintu kamar Rendra, dan seketika itu suara canda tawa itu berhenti terdengar dari dalam kamarnya,
“Ren, ayo makan dulu, kamu sama siapa didalam, itu temennya sekalian diajak saja makan bareng sama kita” Ibu Rendra kembali mengajak Rendra untuk makan dan sekalian menyuruh Rendra mengajak temannya itu
Rendra pun kemudian membuka kan Pintu kamarnya, dan terlihat wajah Rendra seperti tidak sehat, mata yang kelihatan sayu, disekitar matanya juga terlihat lingkaran hitam, sedangkan wajahnya terlihat sangat pucap, seperti sangat lelah dan bibirnya pucat
“Hmm, iya aku turun” dengan nada lesu Rendra menjawab ibunya
Saat Rendra membuka pintu kamar, namun hanya sedikit yang dibukanya, seolah tidak ada yang boleh tahu ada siapa didalam sana, namun ibunya sempat mengintip dari celah celah di pintu yang terbuka itu, namun sama sekali tidak mendapati siapapun yang berada diddalam kamar rendra saat itu, , terasa sangat aneh bagi ibu Rendra padahal tadi dia benar benar melihat wanita masuk kedalam kamar Rendra dan itu sangat nyata.
“kamu lagi sama siapa sih Ren, ada temanmu kan didalam” sambil melihat dan mengintip kearah dalam kamar Rendra ibunya bertanya
“tidak ada siapa siapa” dengan nada datar Rendra menjawab dan segera menutup karamnya lalu bergegas turun kebawah dengan langkah gontai memegangi gagang anak tangga.
Melihat Rendra menuruni anak tangga, ibunya kemudian mencoba memastikan didalam kamarnya kalau memang tidak ada siapa siapa, gagang pintu mulai dipegang oleh ibu Rendra dan tuas mulai diputar, padahal pintu tadi sama sekali tidak dikunci oleh Rendar, namun saat Ibu Rendra akan membuka kamar nya dirasakan sangat susah, Ibunya mencoba mendorong pintu kamar Rendra dengan sekuat tenaga namun pintu terasa begitu berat, setalah mencoba sekuat tenaga, perlahan pintu terbuka walau sangat berat, terasa pintu seperti ada yang mengganjal dari dalan, dan perlahan pintu mulai terbuka namun dalam keadaan yang gelap, aneh memang saat tadi Ibu nya mengintip dan ada Rendra disana padahal kondisi kamar lampu sudah menyalah, dan kini ibunya meraih saklar lampu di sampi pintu dan menyalakannya, sehingga kini Ibu Rendra sudah bisa melihat dalam ruang kamar Rendra, terlihat sepi tidak ada siapapun didalam sana,
Dan saat tengah memperhatikan kamar Rendra, tiba tiba, ada suara sesosok wanita namun tidak ada wujudnya dan berkata “segera pergi dari kamar ini”suara itu terdengar lirih namun jelas di telinga ibu Rendra, dan membuat nya terkejut hingga melompat kebelakang, dan bersamaan dengan itu lampu kamar kembali mati dengan sendirinya dan pintu tertutup dengan cukup keras seolah dibanting dari dalam kamar, yang membuat hampir saja mengenai kepala ibu Rendra yang masih berada di depan pintu.
Seketika ibu Rendra kemudian memanggil suaminya dengan panik dan ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi, Ayah Rendra pun kemudian menyusul istrinya naik ke depan kamar Rendra, yang ternyata sudah terduduk lemas karena kejadian tadi, Ayah Rendra mencoba tanya apayang sebenarnya baru terjadi, namun karena saking syoknya, Ibu Rendra tidak bisa berkata kata lagi.
Tak berselang lama setelah itu Rendra kembali dari makannya, sepertinya dia sudah selesai makan, dan kembali berjalan dengan gontay, dengan tatapan kosong berjalan lurus tanpa memperdulikan orang tuanya terutama ibunya yang sedang terduduk lemas, Rendra berjalan lempeng lurus membuka pintu kamarnya yang lagi lagi sudah dalam kondisi terang, padahal tadi dalam kondisi mati, Rendra masuk kemudian langsung menutup pintu dan terdengar suara pintu kamar di kunci dari dalam.
Terlihat wajah kebingungan dari kedua orang tua Rendra, mereka belum pernah melihat Rendra seperti itu, dan setelah kejadian itu Ibu Rendra di bawa turun oleh suaminya untuk beristirahat di bawah sambis sesekali menanyakan tentang kejadian apa yang baru saja di alami oleh istrinya itu. Dan setelah di ceritakan ayah Rendra tidak begitu mempercayai kejadian yang diceritakan oleh isrinya itu, karena selama mereka hidup disana belum pernah mengalami kejadian yang di luar nalar seperti itu,
Singkat cerita pada pagi harinya, saat selesai pulang dari sholat berjamaah di mushola, saat ayah Rendra sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, Ayah Rendra melihat seorang wanita berpakaian kebaya dengan rambut digelung seperti seorang putri kerajaan, wanita itu sedang berjalan hendak masuk ke pagar rumahnya, yang kebetulan juga pagar rumah Rendra sedang tertutup rapat, wanita itu kemudian berdiri mematung tepat di depan gerbang masuk Rumah Rendra, Ayah Rendra sedikit penasaran degan siapa yang ingin bertamu subuh subuh seperti ini, saat hendak Ayah Renda temui wanita itu, kebetulan tetangganya yang berada di belakangnya memanggil dan membuat Ayah Rendra menoleh ke arah belakang.
“Pak apakah nanti bisa kerumah sebentar, sekitar jam delapan lah, kita bicarakan masalah yang kemarin” tetangga itu mengajak janjian bertemu pagi ini
“insyallah bisa pak, tenang saja sepertinya semua sudah siap kok persiapannya” Ayah Rendra mengiyakan ajakan tetengganya itu
“baik lah kalo gitu sih, saya permisi dulu pak, Assalamu’alaikum” tetangga itu lalu berpamitan meninggalkan ayah Rendra
“iya pak Wa’alaikum Salam”
Setelah itu ayah Rendra kembali melihat ke arah rumahnya lagi, namun sosok wanita berbaju kebaya itu sudah tidak terlihat lagi berdiri di depan pagar rumahnya, Ayah Rendra jadi semakin penasaran siapa sebenarnya wanita tadi yang berada di depan rumahnya memakai kebaya.
Kejadian itu terus berlanjut, siang harinya setelah ayah Rendra baru pulang dari tempat tetangganya itu kembali dia melihat wanita berpakaian kebaya dengan gelung itu berada di depan pagar, karena penasarannya Ayah Rendra kemudian bergegas, setelah sampai disana, ayah Rendra kemudian mencium aroma wangi dari wanita yang berada di depannya itu, posisinya saat itu adalah, si wanita berpakaian kebaya ini membelakangi ayah Rendra, aroma wangi itu adalah wangi bunga kanthil, dan setelah diperhatikan ternyata pakaian yang dikenakan adalah pakaian pernikahan dengan adat jawa, karena merasa sedikit aneh dengan penampilan wanita itu kemudian ayah Rendra menanyakan ada perlu apakah wanita itu depan rumahnya. (siapa yang tidak aneh melihat wanita berpakaian pengantin jawa berdiri dirumahnya sendirian)
“siang mbak, mbak ada keperluan apa ya di depan rumah saya” Ayah Rendra mulai menanyakan maksud dari wanita itu berada di depan rumahnya, namun wanita itu sama sekali tidak menjawab atau bersuara sedikitpun untuk menjawab rasa penasaran Ayah Rendra,
Kebetulan juga sosok wanita itu berdiri tepat di pintu masuk sehingga menghalangi jalan masuk Ayah Rendra untuk memasuki rumahnya,
“permisi mbak, saya mau masuk rumah, jika mbaknya tidak ada urusan atau keperluan kerumah saya, boleh minggir dulu mbak saya mau masuk rumah” Ayah Renda meminta permisi untuk memasuki rumahnya sendiri
“saya…… mau masuk…… saya …….. mau ketemu Rendra…” dengan nada dingin dan datar wanita itu berbicara lirih
“oh temannya Rendra, silahkan masuk saja, mari saya bukakan pintunya” wanita itu kemudian sedikit menyingkir memberi ruang Ayah Rendra untuk membuka pintu pagarnya, namun wanita itu masih tetap membelakangi Ayah Rendra sehingga belum bisa dilihat wajahnya oleh Ayah Rendra.
“dia……. Harus…… pergi…… Rendraa… Milikku saja……” setelah ayah Rendra membuka pintu kemudian masuk wanita itu berkata demikian dengan nada yang masih datar saja.
“siapa mbak yang harus pergi, mbak pacarnya anak saya ya” Ayah Rendra mencoba menyelidiki siapa yang sebenarnya dimaksud sambil terus berjalan dan membuka pintu rumahnya, namun wanita itu masih terus berdiam diri didepan pagar rumahnya,
“wanita….. dia….. wanitaaa. Jahaaaattt…….” Dengan nada sedikit lebih tinggi wanita itu berkata sambil menolehke arah Ayah Rendra
Begitu wanita itu menoleh ke arah Ayah Rendra, Ayah Rendra malah ketakutan hingga pingsan, ternyata wanita berpakaian kebaya jawa seperti pakaian pengantin jawa itu saat menoleh sama sekali tidak memiliki wajah, hanya ada hiasan makeup layaknya pengantin jawa namun tanpa adanya mulut, hidung dan mata
Dan karena syok melihat rupa yang tidak wajar itu, membuat Ayah Rendra langsung tergeletak pingsan di depan rumahnya,
Diubah oleh afryan015 23-11-2021 11:59
itkgid dan 55 lainnya memberi reputasi
56
17.7K
258
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
afryan015
#16
Bab 3
Hari berikutnya pun masih sama, setelah Ayah Rendra dan Novi pacar Rendra diganggu oleh dua sosok wanita yang berbeda, Ibu Rendra kemudian mencoba untuk memanggilkan seorang kyai atau ustadz yang paham akan hal seperti itu, soalnya sudah dua kali gangguan berupa wujud wanita itu terjadi sejak Rendra pulang dari ngevlog nya,
Sebenarnya Ibu Rendra sudah mencoba untuk menelfonku beberapa kali, terlihat ada notifikasi panggilan tak terjawab sebayak dua kali, pertama di pagi hari, dan yang kedua di siang hari, maklum saja, seperti yang aku jelaskan di awal trit, kalau pada saat itu aku sedang ada urusan bersama Mbah Margono, dan pada akhirnya ibu Rendra memutuskan untuk memanggil kyai atau ustadz tadi, dan rencana orang yang di panggil itu akan datang pada sore hari ba’da Ashar.
Sore hari pun tiba, setelah Ashar seorang Ustadz sebut saja namanya pak Mahfud, sore hari itu pak Mahfud sedang dalam perjalanan menuju rumah Rendra, sebelumnya dia hanya diberi alamat saja untuk menuju kerumah Rendra, sebetulnya pak Mahfud juga sudah berangkat tepat waktu supaya nanti tidak kemalaman, namun entah kenapa dia terasa susah untuk menemukan tempat atau rumah yang dituju itu, padahal dia juga sudah bertanya kepada beberapa orang di sekitaran desa dimana Rendra tinggal, namun menurut pak Mahfud semua menunjukan ketempat yang salah setiap warga yang menunjuk pasti ketempat yang sama dimana itu adalah lahan kosong yang ditumbuhi ilalang yang sudah meninggi.
Menurut penuturannya itulah yang dialaminya namun memang menurutnya saat berada di lahan kosong itu dia merasa seperti ada sebuah tabir yang menyelimuti seolah menyembunyikan sesuatu, dan karena menyadari hal itu saat mencoba mencari untuk kesekian kali, dirinya membaca sebuah doa dan pada akhirnya benar saja, dia ditunjukan oleh warga lain ketempat yang sama dan berkat doa itu baru dia menemui rumah yang tadinya memang adalah lahan kosong.
Pak Mahfud sedikit terkesan padasosok yang berhasil mengelabuinya, dan sepertinya sosok ini bukan sosok sembarangan, tapi yang jelas sosok ini bukan lah jin tingkat tinggi menurutnya, setelah selesai terkesan dengan keusilan jin itu, dirinya kemudian mencoba mengamati rumah Rendra ini, menurut penglihatannya Rumah Rendra ini sudah diselimuti aura yang kelam, aura sedih, benci, dan rumah Rendra terlihat begitu gelap dari luar rumah, dan sudah dipastikan dalamnya pasti akan lebih buruk.
“asslamu’alaikum,…” Pak Mahfud mengetuk pintu sambil mengucap salam
“wa’alaikum salam….” Terdengar suara tergesa gesa menjawab salam Pak Mahfud dan segera membukakan pintu.
Dan ternyata yang membuka adalah Novi, paca Rendra, dia ternyata masih berada disana, dan tidak kapok walau sudah pernah diganggu oleh makhluk itu, Novi kemudian segera mempersilahkan Pak Mahfud untuk segera masuk, ternyata didalam keadaannya sedang tidak karuan, ayah Rendra yang sudah mulai berangsung membaik sedang mencoba memegangi Rendra yang sedang merancau kata kata yang tidak jelas sambil mencoba melepaskan tangan bapaknya dan hendak keluar dari jendela dikamarnya, padahal itu adalah lantai dua
Ayah Rendra terlihat kualahan menangani anaknya yang seperti itu, tenaganya terasa begitu kuat katanya, entah karena dia belum begitu fit atau memang kekuatan yang dimiliki Rendra bertambah lebih kuat.
Dan saat Pak Mahfud berjalan memasuki rumah Rendra, di lantai satu dia melihat sesosok wanita yang menakuti ayah Rendra yaitu wanita berkebaya pengantin, dan saat masuk melewati ruang tengah, dirinya melihat wanita berbaju kuning dan berjelana jeans, sesosok wanita yang menakuti Novi malam itu, namun saat itu hanya Pak Mahfud saja yang melihatnya, mereka berdua sedang berdiam diri di ruang berbeda namun sama sama menatap ke atas, di mana Rendra berada.
Samar samar dirinya mendengar wanita berpakaian pengantin jawa itu berkata, “dia makhluk jahat, dia berbahaya” pak Mahfud mendengar itu dengan suara yang cukup lirih, sedangkan sosok wanita berbaju kuning itu terlihat begitu marah, seolah ingin menyerang sesuatu diatas namun dia tidak memiliki keberanian untuk menyerang.
Setelah itu Novi mengaantar Pak Mahfud langsuk ke kamar Rendra, posisi Rendra kini hanya tinggal sedikit lagi melompat karena dia sudah mulai memanjat jedela kamarnya, ayahnya terlihat sangat kualahan, Novi dan Pak Mahfud melihat hal itu kemudian bergegas berlari berusaha menolong ayah Rendra yang kerepotan, dan saat itu juga Pak Mahfud meminta air putih pada ibunya Rendra, dan meminta untuk sesegera mungkin dibawa kemari.
“aku mau pergi….”
“tunggu aku, jangan pergi…”
“janjinya kita mau menikah ….”
Rendra sambil memberontak mengatakan hal tersebut, tiga orang mencoba menghentikan Rendra untuk melompat masih kualahan, entah apa yang sebetulnya terjadi, tak berselanng lama, ibu Rendra kembali dengan membawa air putih yang diminta tadi dan kemudian diserahkan langsng kepada pak Mahfud.
Pak Mahfud kemudian melepaskan pegangannya dari Rendra yang sedang memberontak dan berusaha melompat, kemudian dibajakanlah sebuah doa diair yang ada digelas itu, lalu kemudian diambil secukupnya dan diusapkan kepada muka Rendra, dan efeknya adalah tiba tiba Rendra menjadi sedikit lemas, dan kondisi mulai bisa di kuasai, Rendra ditarik mundur dan menjauh dari Jendela, sisa air yang di usapkan tadi kemudian diminumkan pada Rendra yang mulai lemas, setelah berhasil diminum oleh Rendra, tubuh Rendra kemudian terasa berat, ternyata dia tertidur lemas setelah meminum air itu.
Kemudian Pak Mahfud mengangkat tubuh Rendra dibantu oleh Ayah Rendra ke atas kasur, dan setelah dipindahkan ke atas kasur, pak Mahfud kemudian meminta diambilkan lagi air putih, lalu ia duduk bersilah disebelah kasur Rendra dan merpakan doa doa dengan mata terpejam, Sedangkan Novi dan kedua orang tua Rendra diharuskan menunggu diluar walau pintu kamar tetap terbuka.
Ibu Rendra kemudian masuk sambil membawa air yang diminta pak Mahfud tadi, Pak Mahfud hanya memberikode pada ibu Rendra untuk menaruk air itu di sebelahnya dan kemudian kembali merapalkan doa doa lagi.
Setelah beberapa menit pak Mahfud merapalkan doa, tiba tiba Rendra memberi respon, tiba tiba matanya terbelalak, melotot, pak Mahfud masih terus membacakan doa doa, mata melotot Rendra kemudian melihat kesekelilingnya, wajahnya begitu terlihat menakutkan, Novi yang sedari tadi melihat dari luar pintu kamar Rendra, sangat terkejut dengan ekspresi muka Rendra yang sangat menakutkan dengan mata yang melotot itu, Novi kemudian memberi tahu Orang Tua Rendra dengan gerak gerik yang begitu menakutkan.
Ibu Rendra begitu kaget melihat ekspresi Rendra dan tidak tega anaknya jadi seperti itu setelah pulang kemarin, sedangkan ayah Rendra segera memberitahu pak Mahfud kalau matanya Rendra melotot seperti itu.
Belum sampai pak Mahfud memberi respon, tiba tiba Rendra bangkit dari tidurnya dengan cara yang kurang tidak wajar untuk sebagian orang,Rendra bangkit dari tidurnya dengan cara sepertiorang kayang lalu baru berdiri, setelah itu matanya yang melotot, melihat kesekitar sambil memperhatikan orang disana satu persatu, hingga akhirnya dilihatnya lah pak Mahfud, dengan mata yang melotot yang sudah menakutkan ditambah dia sudah melihat pak Mahfud eksrepsinya bertambah menyeramkan karena ada raut muka kebencian saat melihat pak Mahfu.
Tangan Rendra kemudian diarahkan ke tangan pak Mahfud dan berencana mencekiknya, namun saat tangan Rendra mengenai kulit leher pak Mahfud, Rendra malah justru terpental hingga jatuh ke lantai, suara erangan seorang wanita terdengar dari mulit Rendra, semua orang disana kaget mendengar suara yang keluar dari mulut Rendra, bagaimana tidak, suara wanita sangat jelas terdengar.
Setelah terlempar kelantai kemudian Rendra kembali bangkit dengan cara sama seperti tadi saat dia bangkit dari kasurnya, mata melotot dan wajah geram terlihat jelas dari ekspresi Rendra. Tangannya kemudian diangkat hingga setinggi pundak dan seperti memperagakan sebuah tarian jawa gerakannya sangat lembut dan lemes seperti seorang penari, Rendra bergerak maju mundur sambil terus menari, gerakan tangannya semakin cepat.
Pak Mahfud kemudian mebuka matanya dan mengambil air yang tadi sudah disiapkan, kemudian meniupnya beberapa kali dan mengambil sedikit air itu kemudian dia cipratkan ke arah Rendra, saat terkena air itu Rendra tampak berjalan mundur sambil menari dan tangannya semakin cepat melakukan gerakan tari itu.
Melihat Rendra bergerak mundur, pak Mahfud kemudian bangkit dari posisi duduknya dan kemudian terus menyipratkan air itu kearah Rendra, Rendra mengeluarkan gelagak kesakitan, dengan ekspresi yang perlihatkan olehnya, kepalanya bergerak kenana kekiri dengan kaku, dan tanpa aba aba Rendra malah melomnpat kearah Pak Mahfud, dan tentu membuat pak mahfud kaget hingga menumpahkan air yang tadi sudah dibacakan doa itu.
Rendra kemudian meraih tangan pak Mahfud lalu kemudian menabrakan tubuh pak Mahfud ke arah tembok, hingga pak Mahfud membentur tembok, setelah menarik tangan pak Mahfud terlihat Rendra merasa kesakitan, Pak Mahfud pun segera bangkit dan langsung memegangi Rendra dan hendak mengeluarkan sosok yang berada di tubuh Rendra yang jelas sosok ini bukan lah sosok yang di temui Pak Mahfud di lantai bawah.
“pak tolong bantu saya, tolong pegangi Rendra pak, saya akan mencoba mengeluarkan makhluk dari dalam tubuh Rendra” ucap pak Mahfud sambil terus memegangi tubuh Rendra yang terus bergerak mencoba melepaskan diri.
“iya pak, ini sebenarnya anak saya kenapa pak” tanya bapak Rendra dengan panik
“ini anak bapak sepertinya ketempelan atau diikuti makluk alam sebelah waktu dia pergi, soalnya sepertinya dia bukan berasal dari sini” pak Mahfud perlaham melepas genggamannya dari tubuh Rendra sambil menjelaskan yang sedang terjadi.
“ya sudah pak bagaimana baiknya dan mengobati anak saya ini, saya serahkan sama bapak saja” ucap ayah Rendra penuh harapan
Pak mahfud kemudian memegangi kepala Rendra sambil terus membacakan sebuah doa doa, tubuh Rendra semakin gelonjatan tidak karuan, ayah Rendra pun terlihat begitu kualahan karena kekuatan yang di keluarkan Rendra begitu kuat, Ayah Rendra kemudian meminta Novi yang sedang kebingungan harus melakukan apa, Ayah Rendra meminta Novi untuk memanggil suapapun tetangga yang berada disekitaran rumah untuk membantu memegangi Rendra.
Novi langsung meresponn perintah dari ayah Rendra tersebut, dia langsung berlari turun dan keluar rumah mencari pertolongan pada siapapun yang ada disekitar sana, pak Mahfud meminta ibunya Rendra untuk mengambilkan botol yang masih ada tutupnya untuk nantinya makhluk tersebut di pindahkan kedalam botol lalu dibuang, dan ibunya Rendra pun segera merespon dan berlari kedapur untuk mencari botol yang dimaksud.
Dan saat Novi dan ibunya Rendra sedang mencari kan yang dibutuhkan saat itu, Pak Mahfud dan ayahnya Rendra begitu kualahan, kepala Rendra terus dipegangi oleh pak Mahfud, semakin lama semakin keloncotan tidak karuan, beberapa kali Ayahnya Rendra hampir saja melepaskan pegangannya yang membuat celah bagi tubuh Rendra untuk melepaskan diri, dan pegangan pak Mahfud pun sesekali terlepas dari kepala Rendra.
“Paannaaaa, dasar goblookkk” suara wanita keluar dari mulut Rendra sambil memaki
“kalau tidak mau kepanasan keluar lah tinggalkan anak ini sendiri” ucap pak Mahfud memaksa makhluk ditubuh Rendra keluar
“gak mau, saya suka sama anak ini, Arrgghhh lepas, panas dasar baik” ucap makhluk itu terus memaki
“aku nggak akan berhenti, sebelum kamu keluar dan meninggalkan dia, kalian itu beda alam” bujuk pak Mahfud terus
“karena beda alam itu aku akan membawanya ke alamku, cepat lepaskan. Panasss” dengan mata melotot dan memberontak semakin kuat makhluk itu melawan
“aku tak akan membiarkan kamu membawanya, bahkan kalau perlu kamu saya binasakan”
Tak lama ibu Rendra kembali sambil membaw botol aqua 2 literan dan segera memberikannya pada pak Mahfud, pak Mahfud memberi instruksi pada ibu Rendra untuk meletakan botol itu di lantai, dan segera membantu Ayahnya Rendra untuk terus memegangi Rendra yang memberontak semakin keras.
Pak Mahfud kemudian mencoba menarik sosok yang berada didalam tubuh Rendra, dia memperagakan beberapa gerakan seperti gerakan silat, dia seolah mencoba menarik sesuatu dari kepala Rendra, saat itu Rendra terus memberontak tanpa henti dan cenderung semakin kuat, botol yang berada di lantai tidak sengaja tertendang oleh kaki Rendra saat itu, dan terus mendorong hingga sampai kedekat jedela tadi yang masih terbuka dan belum sempat ditutup tadi.
Pak Mahfud mengentikan sedikit gerakannya sembari membetulkan posisi botol supaya nanti mudah dalam memasukan makhluk itu, dan setelah itu kembali pak Mahfud mencoba mengeluarkan makhluk itu lagi, tak disangka perlawana dari makhluk itu semakin kuat, beberapa pukulan dilayangkan untuk menyerang pak Mahfud, dan kebetulan tenaga orang tua Rendra melemah, Ayah Rendra yang memang belum terlalu fit, dan ibu Rendra yang sudah kelelahan mengurus rumah sedari pagi,
Novi yang diminta mencari bantuan belum juga kembali, hingga akhirnya pegangan orang tua Rendra punterlepas, dan Rendra bisa dengan leluasa menyerang siapapun yang berada didepannya, dengan kekuatan yang cukup besar, Rendra memukul Wajah pak Mahfud sehingga dia terdorong ke jendela yang masih terbuka itu, karena saking kuatnya, tubuh pak Mahfud hampirsaja sampai jatuh keluar untung masih bisa berpegangan pada jendela itu, namun naas pukulan kedua Rendra berhasil menghajar telak kepala pak Mahfud hingga akhirnya dia terlempar keluar dari lantai dua hingga turun kebawah, dan pada saat itu, kebetulan juga warga yang dimintai tolong mulai berdatangan, beberapa orang sudah berada di kamar Rendra dan yang baru datang segera menolong pak Mahfud yang terjatuh dari lantai dua, dimana saat itu pak Mahfud masih selamat dan mengalami patah tulang di bagian bahu dan terpaksa tidak bisa melanjutkan proses penarikan makhluk tersebut, dan harus dilaarikan ke rumah sakit
Warga yang berada di kamar Rendra kemudian langsung memegangi Rendra yang saat itu mulai menyerang warga yang sudah berdatangan, kebetulan warga yang datang juga cukup banya, berontakan dari Rendra bisa di tahan, dan sekarang mereka tinggal bingung haru bagaimana cara menenangkan Rendra.
Salah seorang warga yang berprofesi sebagai dokter memberi saran untuk mencoba membius tubuh Rendra, dan itu disetujui oleh orang tua Rendra dan juga para warga, warga yang berprofesi sebagai dokter itu pun kemudian pulang kerumah nya untuk mengambil obat bius didalam rumahnya lalu kemudian kembali.
Sekembalinya dokter itu lalu dengan hati hati mereka menyuntukan obat bius kedalam tubuh Rendra, dan ternyata berhasil membuat Rendra perlahan melemah dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Dan setelah itu Rendra dipindahkan kekasurnya lagi dan dengan terpaksa tangan dan kakinya diikat ke sudut sudut ranjang, supaya saat dia sadar dia tidak mengamuk lagi.
Dan sejak saat itu setiap Rendra mengamuk orang tua rendra selalu memberikan obat bius supaya dia tidak melukai siapapun
sampeuk dan 30 lainnya memberi reputasi
31
Tutup