- Beranda
- Stories from the Heart
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
...
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

Hallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.
Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya
Quote:
Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati

Oh iya jangan lupa
Quote:
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
233.3K
2.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
afryan015
#519
Akhir Pertempuran
Bapak tanpa sadar mengumpulkan dan merapalkan sebuah ajian dan kurasakan aura dan energi bapak meningkat begitu pesat, hingga akhirnya setelah semua energi yang bapak kumpulkan dirasa cukup, bapak hendak memberikan pukulan pamungkasnya yang seharusnya tidak dikeluarkan saat itu.
Apang yang mencoba melepaskan genggaman bapak dari goloknya, berusaha memukul dan sesekali memukul bapak dengan sebuah ajian tenaga dalam namun saat di arahkan ke bapak pukulan itu, namun bapak sama sekali tidak berefek saat diberikan serangan dari Apang yang sepertinya sudah dikerahkan semuanya, mungkin ajian dan rapalan yang dilakukan bapak tadi membuat bapak menjadi kebal terhadap tenaga dalam milik musuh yang tingkatannya hanya sedikit dibawahnya.
“haha, hanya seperti itu saja serangan dukun hebat sepertimu” dengan raut muka bapak sedikit menyeringai mengatakan itu, dan seolah itu bukanlah diri bapak.
“Kurang ajar kau, terima ini seranganku, dan segera lepaskan golok ku dari tangan kotormu” Apang bersiap memberi serangan lanjutannya.
“serang lah aku sesukamu dukun bodoh, golokmu sama sekali tidak berpihak padamu haha” dengan nada merendahkan bapak bersiap menerima serangan lagi
Mendengar ejekan dari bapakku, Apang terlihat sangat marah dengan ejekan itu, dia merasa tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan oleh bapak, sehingga membuat Apang menyerang bapak dengan membabi buta, dia arahkan pukulan bersama ajiannya secara terus menerus ke arah bapak dan tanpa memperdulikan keadaan sekitar, suara hantaman antar energi mulai terdengar dengan bertambah kalutnya Apang karena serangannya sama sekali tidak membekas pada bapak.
Dengan melihat serangan yang tidak mempan terhadapnya, bapak hanya tertawa dengan terus mengejeknya, aku sama sekali belum pernah melihat bapak sampai merendahkan lawan bertarungnya, dan pada akhrinya bapak memberi respon pada Apang yang masih terus menghujaninya dengan pukulan dan ajian miliknya.
“hey dukun bodoh, apa hanya itu saja kemampuanmu, boleh ku tunjukan bagaimana kekuatan sebenarnya golok yang kau pegang itu haha” dengan nada ejekan bapak menghina si Apang, kemudian bapak memaasang kuda kuda dan melanjutkan rapalannya tadi, hingga timbul energi yang makin bertambah luar biasanya.
“aku sama sekali tidak akan melepaskan senjataku dasar orang Jawa” dengan terus mempertahankan pusaka yang dia miliki Apang terus menyerang bapak.
“haha maka akan ku ambil paksa dari tangan tak bergunamu itu” bapak kemudian mengayunkan pukulan tepat kearah kepala si Apang, dan hal tak terduga terjadi setelah bapak melancarka pukulan itu.
Bang Damar yang menyadari bapak menggunakan jurus terlarangnya kemudian memberi perintah pada seluruh sekutu untuk segera menyebar dan menjauh sejauh mungkin dari bapak, bang Damar tidak bisa memprediksi seberapa besar serangan yang di keluarkan bapak saat itu, maka dirinya lebih memilih mundur atau menjauh beberapa puluh meter dari bapak.
Pukulan bapak ternyata begitu keras hingga berdampak pada sekelilingnya terutama bagi para siluman disekitarnya, sebuah hempasan perusak mulai menyebar bagaikan gelombang bom nuklir yang meledak, dan mulai menghempaskan bahkan menghancurkan setiap yang dilewatiya, para sekutu yang belum sempat berlari dan menjauh, mau tidak mau menjadi korban dari serangan bapak, tidak memperdulikan dua musuh atau bukan gelombang yang ditmbulkan terus menerjang, para pasukan Bajra yang masih berada di sekitaran bapak, langsung musnah tak berbekas sama dengan para sekutu yang belum sempat melarikan diri.
Gelombang itu juga membuat Bajra terlempar cukup jauh, Alhazam yang saat itu berada di dekat sana juga terlempar, dan melihat para sekutu yang ikut tumbang karena serangan bapak, Alhazam khawatir hal itu akan merusak hubungan kerjasama mereka dengan kerajaan kerajaan sebelah karena banyak bala bantuan yang terkena dampak, walau hanya satu dua yang binasa tapi beberapa pasukan ada yang ikut terluka akibat serangan bapak.
Untung saja dari para pemimpin kerajaan jin yang membantu menganggap maklum akan hal itu, hal itu dianggap memang pantut untuk dilakukan karena mereka menyadari sebenarnya golok yang dipegang oleh si Apang itu memiliki energi yang cukup kuat, dan akan aktif jika dipegang oleh orang yang tepat, dan kebetulan bapak tertarik untuk memilikinya, para pemimpin kerajaan lain menerima akan hal itu, di anggap bapak cukup pantas untuk memakai golok itu, dibanding si Apang.
Dengan efek yang sebegitu merusak sudah di pastikan kalau Apang tewas akibat serangan bapak itu, dan benar saja setelah semua gelombang itu selesai, tubuh Apang sudah tergeletak di tanah dengan kondisi kepala yang remuk akibat serangan yang tidak bisa di tahan, sedangkan golok yang menjadi incaran bapak sudah berada di genggamannya, mata dari gagang berbentuk garuda itu kemudian memancarkan cahaya biru lalu kemudian redup, dan di mata golok yang tajam mulai muncul sebuah aksara arab berwarna emas, nah aku baru mulai paham, golok yang selama ini dipakai bapak adalah golok itu, mungkin bapak ingin menunjukan bagaimana golok itu dia dapatkan, dan seberapa kuat kekuata golok itu sebenarnya.
Setelah golok itu berada di dalam gengaman bapak, Bang Damar kemudian mendekati bapak dan memberikan sedikit protes kenapa mengeluarkan jurus terlarang itu, harusnya itu tidak perlu di gunakan, andaipun digunakan harusnya diarahkan pada sosok Bajra.
“Amang, apa yang Amang lakukan, harusnya untuk menghabisi dia tidak perlu sampai menggunakan ilmu ini, apa saking kuatnya dia, kurasa tidak juga” dengan nada tinggi Bang Dama protes pada bapak.
“maaf Damar, entah kenapa fikiran itu tiba tiba muncul dan aku harus segera mengambil golok ini dari sidukun itu” dengan menunjukan golok yang sudah dia dapatkan ke Bang Damar
“harusnya Amang arahkan serangan itu langsung ke iblis Bajra ini, supaya cepat selesai, kalau untuk dukun rendahan itu gampang diurusnya” masih dengan nada Kesal Bang Damar protes.
“ah sudahlah maafkan Amang, sudah terjadi mau bagaimana lagi, berapa korban dari kelompok kita barusan” bapak bertanya sembari berlari menuju ke arah Alhazam untuk memastikan jumlah bala bantuan yang tumbang
“tenang saja Den, hanya ada beberapa saja yang tumbang dan beberapa terluka, tapi dari para sekutu sudah menganggap maklum dan tidak masalah” Alhazam memberi keterangan pada bapak
Bapak kemudian memandang ke arah para pemimpin kerajaan sekutu, sambil merapatkan tangannya dan menunduk tanda permintaan maaf, dan di balas balik dengan angguan oleh para pemimpin kerajaan sekutu sebagai kode permintaan maaf bapak sudah di terima dan tidak usah terlalu memikirkan, karena lawan yang sebenarnya adalah Bajra.
Oh iya dimana Bajra setelah terlempar, ternyata dia sedang diserang oleh para pasukan milik Barzam, beberapa pasukan Barzam menyerang dari segala arah, membuat Bajra mendapat serangan dari depan belakang dan kanan kiri, namun pasukan dari Bajra juga tidak tinggal diam, mereka membantu pemimpinnya yang sedang di kroyok , hingga akhirnya Bajra membantai beberapa pasukan milik Barzam.
Singkat cerita semua bertarung habis habisan disana, seluruh pasukan bertarung dengan sengit melawan pasukan milik Bajra, kalau dilihat dari pertempuran ini terlihat hasilnya seimbang setiap lawan tumbang pasti ada juga dari pasukan kita yang ikut tumbang, pertahanan di masing masing kubu juga terlihat sama sama kuat.
Hingga pada akhirnya, bapak dan bang Damar sama sama mengeluarkan jurus pamungkas mereka, pasukan Bajra berkurang lebih banyak dibanding dengan yang tadi, suara gemuruh semangat dari pasukan kita mulai terdengar kembali melihat pasukan Bajra semakin kwalahan menghadapi pasukan kita.
Bajra terlihat sedikit panik dengan apa yang terjadi, dimana tadi dia begitu meremehkan bapak dan Bang Damar, tapi kini malah terlihat begitu tertekan dengan jumlah pasukannya yang terus merosot turun, melihat pasukannya terus terbunuh, Bajra kemudian meningkatkan penyerangannya dengan terus mencabik cabik setiap musuh yang berada didepannya, badannya yang besar dan kekar begitu susah untuk di tembuh untuk di lukai, beberapa gelombang energi yang dia keluarkan juga membuat suasana menjadi lebih buruk, tak kalah merusak dari milik bapak tadi.
Beberpa kali pasukan bang Damar dan pasukan putih milik bapak menyerang Bajra, namun sama sekali tidak bisa membuat sedikitpun luka pada tubuh keras itu, dan terpaksa bapak kemudian mencoba ajian bersama dengan golok itu.
“Damar, coba suruh semua pasukan untuk menghindar jika saat aku ayunkan golok ini kemudian memancarkan energi seperti tada, untuk meminimalisir jumlah tumbang dari kelompok kita” bapak berencana mengeluarkan ajian yang tadi namun lewat perantara golok ini, yang dimaksud untuk mengarahkan arah serangan agar tidak menyebar seperti tadi.
“siap Amang, tapi apakah tenaga Amang masih cukup untuk melancarkan serangan seperti itu lagi” tanya bang Damar sembari berlari memberi arahan pada para pasukan
“aku ini masih muda Damar jangan terlalu meremeh kan ku kamu ini” sedikit tersenyum bapak membala perkataan bang Damar
“haha baiklah Amang, semua sudah tahu apa yang harus mereka lakukan supaya tidak terkena seranganmu, dan aku akan membantu menyerang Bajra, mudah mudahan bisa kita selesaikan dengan cepat, besok aku harus tetap bekerja” ucap bang Damar bersemangat
Setelah semua siap bapak kembali merapalkan ajiannya, dan mulai terlihat lagi kumpulan energi seperti tadi dan kekuatan yang sama seperti tadi hanya saja kali ini kumpulan energi itu benar benar berpusat ke bagian mata golok itu, warna emas dari aksara arab itu samar samar kulihat mulai bersinar terang yang semakin lama semakin terang.
Para pusakan yang dibawa bang Damar dan Bapak sudah bergerak sesuai instruksi, dan kalau dilihat dari sisi Bajra pasukan yang di bawa bapak dan bang Damar seolah melarikan diri dari pertempuran atau mundur, hal itu membuat para pasukan Bajra dan Bajra itu sendiri menjadi besar kepala, mereka melontarkan kata kata sombong mereka.
Setelah dirasa aman dan cukup, bapak kemudian mengibaskan golok itu sama persis dengan saat di pertempuran menyelamatkan anggi, sebuah cahaya keluar dari golok itu dan mulai melesat maju menerobos para pasukan Bajra yang seketika tumbangsetelah dilewati cahaya itu.
Bang Damar yang melihat kesempatan karena banyak pasukan Bajra yang tumbang, langsung melesat kedepan dan menyerang Bajra, bang Damar lari tepat di belakang cahaya yang melesat itu sehingga dia bisa terhindar dari serangan pasukan Bajra, cahaya itu berhasil membuat Bajra bertekuk lutut karena mendapat luka di bagian pahanya, dan seketika itu juga bang Damar melompat ke arah kepala Bajra dan sesegera mungkin memberi serangan pukulan dengan energi yang tak kalah kuat dengan energi milik bapak,
Akibat serrangan yang di lancarkan oleh bang Damar, salah satu tanduk dari ketiga tanduk emas milik Bajra patah dan membuat Bajra begitu kesakitan hingga jatuh terjungkal kebelakang, melihat hal itu para pasukan putih milik bapak dan sekutu sekutu lainnya mulai menyerang ke istana milik Bajra karena mengetahui disana masti pertahannanya sedang lemah dan berencana menghancurkan istana itu supaya tidak ada lagi orang yang bisa meminta tolong pada Bajra..
Melihat Bajra yang terjungkal kebelakang dan begitu kesakitan bang Damar ingin segera menghabisi Bajra ini, namun seperti kebiasaannya bapak, bapak selalu memberi kesempatan kedua untuk makhluk seperti dia, dengan maksud kita sebagai sesama makhluk tidak boleh saling menghabisi hanya karena tidak suka pada makhluk lain, bang Damar sempat protes pada bapak, karenalebih baik makhluk seperti ini di binasakan sampai ke akar akarnya.
“beruntung kamu, aku tidak membunuhmu” teriak bang Damar pada Bajra saat Bajra menahan rasa sakit yang mungkin tidak tertahan oleh nya
“ARRRGGGG……. Tanduk ku, sialan kalian para manusia, beraninya” masih dengan nada kesal dan penuh amarah terus memaki.
‘hey hey kamu masih untung aku beri kesempatan untuk hidup, atau mau ku habisi sekalian saja” ucap bapak menawarkan.
“coba saja kalau kau bisa” Bajra masih terus menantang
“baiklah, kamu coba rasakan ini dulu” bapak kemudian memberi sedikit rapalan kemudian menyayat leher Bajra dengan golok yang dipakainya tadi, dan seketika Bajra mengelonjat kesakitan, memohonampun supaya di maafkan.
“ampun tuan ampuunn, ampuni saya” sambil menahan rasa sakit Bajra memohon
“sudah sana kau pergi dan ingat tidak usah ikuti perinta orang lagi, dan tidak usah menawarkan bantuan pada orang, atau kau akan berhadapan lagi dengan kami” ucap bapak menyuruhnya pergi.
Setelah itu dengan rasa sakit, dan Bajra memerintahkan pasukannya untuk mundur, sedangkan bapak juga menyuruh pasukan kita untuk menyudahi serangan, beberapa pasukan yang menyerang istana Bajra juga di tarik mundur, menyisakan beberapa bekas pertempuran di istana Bajra.
Bang Damar kemudain mengambil potongan tandung yang tertinggal karena terpotong oleh serangan tadi, telrihat bang Damar sangat puas mendapatkan potongan tanduk milik Bajra entah nanti nya akan dia gunakan untuk apa. Dan setelah visual pertempuran itu selesai, tiba tiba semua kembali seperti semula aku berada yaitu dikamarku.
itkgid dan 44 lainnya memberi reputasi
45
Tutup