- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
166.2K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#608
Part 73 - Sampai Nanti
Malam hari setelah Okta merayakan pesta kelulusan, gua datang ke rumahnya untuk ikut serta memberi tagging di seragam osis miliknya.
Dilanjut dengan sesi foto antara kami berdua, sebagai kenang-kenangan.
Selang beberapa saat, Okta memposting foto tadi di Instagram. Dengan caption; "High school chapter, the end".
Ya, selain masa SMA Okta yang usai, hubungan kami berdua juga usai.
Hari ke hari berlalu, tak terasa sudah di penghujung waktu dimana Okta dan keluarga harus meninggalkan kota ini, untuk kembali ke tanah pasundan.
"Ja, aku minta tolong ke kamu ya. Abis aku ke bandung, kita udahin ini semua" kata Okta, kami saling menatap sendu
Di kamar rumahnya, gua bantu Okta dan keluarganya packing barang-barang yang hendak dikirim ke Bandung.
Setelah Okta wisuda esok pagi hari, rumah ini akan segera dikosongkan. Mungkin hanya akan dijadikan sebagai investasi properti bagi keluarga Okta.
Atau, bakal jadi tempat singgah jika suatu saat nanti keluarga Okta berkunjung ke daerah Semarang dan sekitarnya.
"Semoga kamu sama aku segera ketemu sama yang seiman" lanjutnya
"..." Gua terdiam seribu bahasa
"Kita tetep temenan kok, silaturahmi harus tetep jalan. Tapi, mungkin sebaiknya kita ngga usah kontak-kontakan dulu buat beberapa lama. Aku yakin, kita bakal susah move on kalo tetep intens komunikasi"
"Aku ngga tau harus gimana ngeresponnya" balas gua, singkat. Ngga tau apa yang harus gua katakan
Langit sudah gelap ketika gua selesai merapikan barang barang ke dalam kardus.
Tinggal menunggu truk pengangkut untuk membawa semua ini ke bandung esok hari.
"Mandi dulu gih, malem ini tidur sini aja" kata Okta
Gua segera membersihkan badan yang terasa lengket.
Ketika selesai mandi, ada sepiring nasi goreng, air putih, kopi, dan sebungkus rokok di meja kamar Okta.
Terdapat juga sebuah notes di kertas kecil, bertuliskan;
"dihabisin ya, ngga usah kemana-mana. Aku pergi dulu, bentar lagi aku balik. Tunggu aja di balkon
Dari: Okta cantik"
Gua tersenyum kecil, entah apa yang sedang disiapkan oleh cewek ini.
Segera gua menghabiskan makan malam. Sesuai instruksi Okta, gua mengambil kopi dan rokok yang disediakan, kemudian menuju balkon sembari menunggu Okta yang gua sendiri ngga tau dia kemana.
Setelah batang ke dua rokok gua menyala, Okta datang dengan senyum sumringah.
Gua mematung, memandangi Okta dari ujung rambut hingga ke kuku jari kaki.
Sambil tersenyum, Okta bertanya "aku cantik kan?"
"Banget" jawab gua, singkat.
Gua masih belum mengedipkan mata. Okta nampak semakin spesial dari biasanya.
Dengan dress santai warna coklat, dipadukan dengan knitted cardigan yang berwarna sepadan namun lebih gelap. Meskipun simple, gua dibuat terkagum.
Nampaknya Okta juga sengaja merias wajahnya.
"Ini benar-benar bakal jadi malam yang ngga terlupakan" ucap gua dalam hati.
Gua membuka tangan, okta pun menyambutnya. Kami berpelukan erat.
Tercium wangi harum dari rambut Okta, sesekali terganti dengan wangi lembut dari parfum yang disemprot ke tubuhnya.
"Kenapa kamu ngasih kesan kayak gini di malam terakhir? Kamu mau bikin aku jadi gila ya?" Tanya gua bercanda
"Aku mau ngasih kesan istimewa" jawabnya
Keesokan harinya, gua ikut menghadiri acara wisuda yang diselenggarakan oleh sekolah Okta.
Selain gua, tentu ada orang tua Okta juga.
Gua mengambil kesempatan ini untuk mengambil foto dengan Okta sebanyak mungkin. Nantinya, bakal gua jadiin kenangan. Biarlah jikalau akhirnya gua susah move on.
Sedih rasanya, sebentar lagi gua dan Okta bakal pisah. Walau sedih, sebisa mungkin gua mencoba terlihat ceria di pesta perayaan wisuda ini.
Enggan rasanya gua merusak kebahagiaan orang lain.
Dan sore hari, tibalah saatnya Okta sekeluarga meninggalkan kota Ini.
Gua dan Mbak Oliv mengantar Okta sekeluarga ke stasiun.
Setidaknya, sekitar setengah tahun lalu gua dan Okta ke stasiun ini untuk berangkat ke Bandung.
Kali ini kami ke sini lagi, tapi hanya Okta yang pergi, gua tetap tinggal.
Di ruang tunggu, gua merangkul Okta erat.
Sampai di sini, kesedihan gua bener-bener ngga terbendung.
"Ta, aku ngga kuat ta. Kita cuma LDR an aja ya?" gua memohon agar Okta berubah pikiran. Dan kami tetap berhubungan sebagi sepasang kekasih.
"Ngga ja, ngga bisa. Kita ngga mungkin kayak gini terus. Dari awal memang kita ngga bisa jadi satu. Kitanya aja yang bandel" balas Okta.
"Raja kalau mau sedih ngga papa, tapi jangan larut-larut. Raja pasti cepet kok dapet ganti yang jauh lebih baik dari Okta" Mamahnya Okta mencoba menenangkan
Gua protes "Ngga Tante, ngga ada yang kayak Okta"
Kemudian, terdengar suara pengumuman bahwa kereta yang akan membawa Okta sekeluarga ke bandung segera tiba.
Mereka segera ke petugas untuk check in.
"Sini aku peluk buat yang terakhir" kata Okta sebelum masuk ke area peron.
Kami berpelukan "ngga usah lama-lama ya sedihnya" lanjutnya
Setelah berpelukan, Okta mengeluarkan sebuah Kotak "Diterima ya.. kenangan dari aku. Kalau kamu ngga suka, disimpen aja ngga apa apa"
"Semoga suatu nanti kita bisa ketemu lagi. Dengan pribadi yang jauh lebih baik tentunya. See u on top" lanjutnya
Sekejap kemudian bayangan Okta hilang ditelan ramainya pengunjung stasiun
Perpisahan begitu sulit bagiku.
Jalani hari-hari tanpa kabarmu.
Kehilangan genggaman, serta penyemangat yang menguatkan.
Kehilangan orang baik, yang membuatku jatuh cinta berulang kali saat menatap matamu.
Mbak Oliv merangkul gua "yok pulang dek. Malu ah nangis di sini, diliatin banyak orang tuh"
Gua melihat sekeliling, tak sadar drama antara gua dan Okta menarik perhatian orang-orang disekitar.
Tanpa pikir panjang, gua dan mbak Oliv segera pergi menuju parkiran dengan rasa malu karena menjadi pusat perhatian.
Mbak oliv menawarkan agar dia saja yang duduk di kursi kemudi mobil, gua mengiyakan. Lagian, gua lagi ngga bisa konsen
"Mau langsung pulang apa kemana dulu?" Tanya mbak Oliv ketika perjalanan pulang.
Gua menatap kosong ke arah kiri jalan "langsung pulang aja, males" jawab gua
Sesampainya di rumah, gua langsung menuju kamar. Membuka kotak pemberian dari Okta.
Ternyata berisi sebuah dompet kulit yang bermerk sama dengan merk salah satu jam tangan mewah.
Melalui berbagai petimbangan, dengan besar hati gua memakai dompet pemberian Okta. Dengan begitu juga, dompet lama gua yang telah melegenda terapksa dimuseumkan.
Tak lama, mbak Oliv datang ke kamar gua.
Melihat dompet baru di meja kamar gua, dia langsung menebak "dari Okta?". Gua mengangguk
"Bagus deh, akhirnya mau ganti dompet. Kalo ngga gini pasti kamu tetep pake dompet gembel yang lama" lanjutnya
"Mbak, kenapa kisahku ngga pernah semulus orang-orang?. Yang diselingkuhin, ditinggal perkara duit, ditinggal nikah, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, cinta beda agama. Kenapa mbak?" Tanya gua, menelusuri apakah gua punya dosa besar ke orang-orang sampai jalan gua ngga pernah lurus.
"Kamu cuma belum ketemu orangnya aja dek. Lagian, semua pasangan-pasanganmu itu kan kamu sendiri yang milih. Meskipun, tetep Tuhan yang menentukan"
"..."
"Aku pun ngga bisa bantu banyak. Tapi, kalo ada yang bisa aku lakuin biar kamu ngerasa agak baikan, ngomong aja. Atau kamu mau aku kenalin ke temenku, banyak kok yang super cakep" kata mbak Oliv
Gua menyepelekan "Fisik itu cuma first impression mbak. Sehabis putus sama Bunga, aku ngga mau lagi jatuh hati cuma gara-gara fisik. Lagian, ngga bakal ada yang kayak Okta"
Dilanjut dengan sesi foto antara kami berdua, sebagai kenang-kenangan.
Selang beberapa saat, Okta memposting foto tadi di Instagram. Dengan caption; "High school chapter, the end".
Ya, selain masa SMA Okta yang usai, hubungan kami berdua juga usai.
Hari ke hari berlalu, tak terasa sudah di penghujung waktu dimana Okta dan keluarga harus meninggalkan kota ini, untuk kembali ke tanah pasundan.
"Ja, aku minta tolong ke kamu ya. Abis aku ke bandung, kita udahin ini semua" kata Okta, kami saling menatap sendu
Di kamar rumahnya, gua bantu Okta dan keluarganya packing barang-barang yang hendak dikirim ke Bandung.
Setelah Okta wisuda esok pagi hari, rumah ini akan segera dikosongkan. Mungkin hanya akan dijadikan sebagai investasi properti bagi keluarga Okta.
Atau, bakal jadi tempat singgah jika suatu saat nanti keluarga Okta berkunjung ke daerah Semarang dan sekitarnya.
"Semoga kamu sama aku segera ketemu sama yang seiman" lanjutnya
"..." Gua terdiam seribu bahasa
"Kita tetep temenan kok, silaturahmi harus tetep jalan. Tapi, mungkin sebaiknya kita ngga usah kontak-kontakan dulu buat beberapa lama. Aku yakin, kita bakal susah move on kalo tetep intens komunikasi"
"Aku ngga tau harus gimana ngeresponnya" balas gua, singkat. Ngga tau apa yang harus gua katakan
Langit sudah gelap ketika gua selesai merapikan barang barang ke dalam kardus.
Tinggal menunggu truk pengangkut untuk membawa semua ini ke bandung esok hari.
"Mandi dulu gih, malem ini tidur sini aja" kata Okta
Gua segera membersihkan badan yang terasa lengket.
Ketika selesai mandi, ada sepiring nasi goreng, air putih, kopi, dan sebungkus rokok di meja kamar Okta.
Terdapat juga sebuah notes di kertas kecil, bertuliskan;
"dihabisin ya, ngga usah kemana-mana. Aku pergi dulu, bentar lagi aku balik. Tunggu aja di balkon
Dari: Okta cantik"
Gua tersenyum kecil, entah apa yang sedang disiapkan oleh cewek ini.
Segera gua menghabiskan makan malam. Sesuai instruksi Okta, gua mengambil kopi dan rokok yang disediakan, kemudian menuju balkon sembari menunggu Okta yang gua sendiri ngga tau dia kemana.
Setelah batang ke dua rokok gua menyala, Okta datang dengan senyum sumringah.
Gua mematung, memandangi Okta dari ujung rambut hingga ke kuku jari kaki.
Sambil tersenyum, Okta bertanya "aku cantik kan?"
"Banget" jawab gua, singkat.
Gua masih belum mengedipkan mata. Okta nampak semakin spesial dari biasanya.
Dengan dress santai warna coklat, dipadukan dengan knitted cardigan yang berwarna sepadan namun lebih gelap. Meskipun simple, gua dibuat terkagum.
Nampaknya Okta juga sengaja merias wajahnya.
"Ini benar-benar bakal jadi malam yang ngga terlupakan" ucap gua dalam hati.
Gua membuka tangan, okta pun menyambutnya. Kami berpelukan erat.
Tercium wangi harum dari rambut Okta, sesekali terganti dengan wangi lembut dari parfum yang disemprot ke tubuhnya.
"Kenapa kamu ngasih kesan kayak gini di malam terakhir? Kamu mau bikin aku jadi gila ya?" Tanya gua bercanda
"Aku mau ngasih kesan istimewa" jawabnya
Quote:
Keesokan harinya, gua ikut menghadiri acara wisuda yang diselenggarakan oleh sekolah Okta.
Selain gua, tentu ada orang tua Okta juga.
Gua mengambil kesempatan ini untuk mengambil foto dengan Okta sebanyak mungkin. Nantinya, bakal gua jadiin kenangan. Biarlah jikalau akhirnya gua susah move on.
Quote:
Sedih rasanya, sebentar lagi gua dan Okta bakal pisah. Walau sedih, sebisa mungkin gua mencoba terlihat ceria di pesta perayaan wisuda ini.
Enggan rasanya gua merusak kebahagiaan orang lain.
Dan sore hari, tibalah saatnya Okta sekeluarga meninggalkan kota Ini.
Gua dan Mbak Oliv mengantar Okta sekeluarga ke stasiun.
Setidaknya, sekitar setengah tahun lalu gua dan Okta ke stasiun ini untuk berangkat ke Bandung.
Kali ini kami ke sini lagi, tapi hanya Okta yang pergi, gua tetap tinggal.
Di ruang tunggu, gua merangkul Okta erat.
Sampai di sini, kesedihan gua bener-bener ngga terbendung.
"Ta, aku ngga kuat ta. Kita cuma LDR an aja ya?" gua memohon agar Okta berubah pikiran. Dan kami tetap berhubungan sebagi sepasang kekasih.
"Ngga ja, ngga bisa. Kita ngga mungkin kayak gini terus. Dari awal memang kita ngga bisa jadi satu. Kitanya aja yang bandel" balas Okta.
"Raja kalau mau sedih ngga papa, tapi jangan larut-larut. Raja pasti cepet kok dapet ganti yang jauh lebih baik dari Okta" Mamahnya Okta mencoba menenangkan
Gua protes "Ngga Tante, ngga ada yang kayak Okta"
Kemudian, terdengar suara pengumuman bahwa kereta yang akan membawa Okta sekeluarga ke bandung segera tiba.
Mereka segera ke petugas untuk check in.
"Sini aku peluk buat yang terakhir" kata Okta sebelum masuk ke area peron.
Kami berpelukan "ngga usah lama-lama ya sedihnya" lanjutnya
Setelah berpelukan, Okta mengeluarkan sebuah Kotak "Diterima ya.. kenangan dari aku. Kalau kamu ngga suka, disimpen aja ngga apa apa"
"Semoga suatu nanti kita bisa ketemu lagi. Dengan pribadi yang jauh lebih baik tentunya. See u on top" lanjutnya
Sekejap kemudian bayangan Okta hilang ditelan ramainya pengunjung stasiun
Perpisahan begitu sulit bagiku.
Jalani hari-hari tanpa kabarmu.
Kehilangan genggaman, serta penyemangat yang menguatkan.
Kehilangan orang baik, yang membuatku jatuh cinta berulang kali saat menatap matamu.
Mbak Oliv merangkul gua "yok pulang dek. Malu ah nangis di sini, diliatin banyak orang tuh"
Gua melihat sekeliling, tak sadar drama antara gua dan Okta menarik perhatian orang-orang disekitar.
Tanpa pikir panjang, gua dan mbak Oliv segera pergi menuju parkiran dengan rasa malu karena menjadi pusat perhatian.
Quote:
Mbak oliv menawarkan agar dia saja yang duduk di kursi kemudi mobil, gua mengiyakan. Lagian, gua lagi ngga bisa konsen
"Mau langsung pulang apa kemana dulu?" Tanya mbak Oliv ketika perjalanan pulang.
Gua menatap kosong ke arah kiri jalan "langsung pulang aja, males" jawab gua
Sesampainya di rumah, gua langsung menuju kamar. Membuka kotak pemberian dari Okta.
Ternyata berisi sebuah dompet kulit yang bermerk sama dengan merk salah satu jam tangan mewah.
Melalui berbagai petimbangan, dengan besar hati gua memakai dompet pemberian Okta. Dengan begitu juga, dompet lama gua yang telah melegenda terapksa dimuseumkan.
Tak lama, mbak Oliv datang ke kamar gua.
Melihat dompet baru di meja kamar gua, dia langsung menebak "dari Okta?". Gua mengangguk
"Bagus deh, akhirnya mau ganti dompet. Kalo ngga gini pasti kamu tetep pake dompet gembel yang lama" lanjutnya
"Mbak, kenapa kisahku ngga pernah semulus orang-orang?. Yang diselingkuhin, ditinggal perkara duit, ditinggal nikah, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, cinta beda agama. Kenapa mbak?" Tanya gua, menelusuri apakah gua punya dosa besar ke orang-orang sampai jalan gua ngga pernah lurus.
"Kamu cuma belum ketemu orangnya aja dek. Lagian, semua pasangan-pasanganmu itu kan kamu sendiri yang milih. Meskipun, tetep Tuhan yang menentukan"
"..."
"Aku pun ngga bisa bantu banyak. Tapi, kalo ada yang bisa aku lakuin biar kamu ngerasa agak baikan, ngomong aja. Atau kamu mau aku kenalin ke temenku, banyak kok yang super cakep" kata mbak Oliv
Gua menyepelekan "Fisik itu cuma first impression mbak. Sehabis putus sama Bunga, aku ngga mau lagi jatuh hati cuma gara-gara fisik. Lagian, ngga bakal ada yang kayak Okta"
Quote:
Diubah oleh congyang.jus 21-09-2021 23:55
japraha47 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tutup