- Beranda
- Stories from the Heart
Jurnal Terlarang Aryo
...
TS
dimasaria39
Jurnal Terlarang Aryo

Gambar dicomot dari google.com dan diedit sedemikian rupa.
Quote:
Quote:
Quote:
Selamat pagi, siang, sore, ataupun malam untuk para agan dan aganwati sekalian serta para mimin ataupun momod yang bertugas.
Cerita ini berisi suatu informasi yang bisa dikatakan sangat teramat jarang diketahui dan mungkin seharusnya 'Terlarang' untuk disebar kepada khalayak umum.
Apakah ini benar-benar nyata? Ataukah hanya sebuah karangan belaka? Semua saya kembalikan kepada agan dan sista sekalian. Meskipun agan atau sista berkata ini hanyalah karangan belaka, tetaplah ingat bahwa ‘mereka’ yang tak terlihat dengan mata manusia normal itu ada.
Harap mematuhi peraturan yang berlaku di forum KasKus, Heart to Heart, Stories from the Heart, dan tentunya Indonesia tercinta.
Ini merupakan kisah nyata dari pengalaman pribadi dan telah dimodifikasi sedemikian rupa.

Secara garis besar, kejadian yang tertulis setidaknya memiliki kesesuaian 70-90% dengan pengalaman penulis.
Cerita, nama tokoh, bisnis, karakter, kejadian ataupun insiden merupakan hasil dari pengalaman nyata atau realita penulis, dan informasi yang dimiliki oleh sang penulis. Persamaan cerita, karakter ataupun kejadian adalah murni ketidaksengajaan.
Intinya, ini adalah karya semi-fiksi. Hanya untuk hiburan semata. Jika ada yang tersinggung dengan cerita ini, saya mohon maaf.
Jika ada kesalahan penulisan atau hal-hal lain yang tidak sesuai dengan fakta atau kenyataan di lapangan, saya mohon maaf.
POV Mira atau karakter lain selain Dimas Aryo (Saya sendiri) merupakan 99% Fiksi, kecuali ada keterangan. Jangan pernah dipercaya. Kejadian sesungguhnya seringkali belum diketahui hingga saat ini.
Silahkan dinikmati sembari meminum segelas kopi atau apapun itu.
Mohon kebijaksanaannya untuk dapat membedakan mana bagian yang 99% fiksi, semi-fiksi, ataupun realita.
Update jika sempat untuk menulis lanjutannya.
Bukan, ini bukan horor.
Tetapi supranatural dan slice of life.
-------
Quote:
-------
Spoiler for Index:
New Chapter(19-10-2022)
Chapter XXXVII
Spoiler for Mira pas lagi diam. Mirip gini lah.:
Spoiler for Dave kalau tanpa baju. Mirip gini lah.:
Diubah oleh dimasaria39 19-10-2022 20:53
arieaduh dan 76 lainnya memberi reputasi
73
72.8K
3.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dimasaria39
#33
Maaf, kemarin tidak bisa update cerita karena ada orang yang minta bantuan. Baru kelar tadi siang.
Sedikit disclaimer.
POV Mira atau karakter lain selain Dimas Aryo (Saya sendiri) hanyalah imajinasi penulis belaka. Jangan pernah dipercaya. Kejadian sesungguhnya seringkali belum diketahui hingga saat ini.
Silahkan dinikmati sembari meminum segelas kopi atau apapun itu.
Chapter VI
Hari ini adalah hari minggu malam, tujuh hari telah berlalu setelah aku menjadi murid dari sesosok mahluk yang bernama Mira. Entah apa yang akan dia ajarkan kepadaku. Lebih tepatnya, entah lelucon ga jelas apalagi yang akan dia ucapkan padaku. Semoga dia bisa berhenti.
Di tujuh hari pertama, dia hanya menyuruhku untuk meditasi selama 30 menit setiap malamnya dengan fokus di titik-titik yang berbeda setiap harinya. Tujuannya untuk memadatkan setiap chakra mayor yang ada di tubuh manusia yang entah apa efeknya, dia hanya menjawab “Nanti juga tau.” setiap kali aku bertanya.
Saat ini pukul sepuluh malam. Aku telah menyelesaikan tugasku sebagai seorang pelajar, yakni belajar dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru-guruku di sekolah.
Aku meregangkan otot-ototku yang kaku karena duduk terlalu lama di kursi sembari melihat-lihat sekeliling, mencari keberadaan Mira yang dari tadi hilang entah kemana. Dia cuma bilang kalau dia sedang mempersiapkan sesuatu untuk keperluan belajarku.
Entah kenapa aku menantikan kedatangannya. Mungkin karena dia berhasil memantik rasa keingintahuanku yang tinggi akan hal-hal baru meskipun sebelumnya aku sama sekali tak tertarik dengan dunia ghaib.
Aku pun menyalakan komputerku dan mulai memainkan game yang belum sempat aku tamatkan sebelumnya.
Sekitar pukul dua belas malam, dia pun muncul menembus tembok dari luar rumah menuju ke dalam kamarku sambil membawa sebuah guling lusuh yang aku tak tahu darimana asalnya.
“Yo!” Kata dia sembari menaruh guling lusuh yang dia bawa tadi ke atas lantai dan menginjaknya.
“Hari ini kita belajar tentang ini!” Ucapnya sembari menunjuk guling tadi.
“Itu pocong, kan? Jadi malam ini belajarnya tentang pocong?”
“No. Kamu malam ini harus bisa mengalahkannya!” Ujarnya sambil menendang sang pocong ke arahku.
Pocong tersebut berguling-guling hingga berhenti tepat dibawahku. Menunjukkan wajahnya yang penuh dengan darah kepadaku. Tatapannya yang penuh kebencian diarahkan kepadaku.
“Aku harus ngalahin ini? Kalau dia terbang gimana?”
“Tenang. Dia ga akan bisa keluar dari kamar ini kok!”
“Okeeey... Cara ngalahinnya gimana?”
“Gampang! Pukulin aja!”
Aku kebingungan mendengar jawabannya. Selama ini, meskipun aku selalu melihat mereka yang berkeliaran di luar sana, aku sama sekali belum pernah bisa menyentuh mereka. Aku selalu menembus mereka ketika aku mencoba untuk melewati mereka saat mereka menutupi jalanku.
“Gimana mukulnya? Selama ini aku ga pernah bisa nyentuh mereka loh.”
“Huhuhu... Aria pikir seminggu kemarin itu untuk apa?”
“Bukan Aria, tapi Aryo.”
“Salah satunya untuk mukulin mereka!”
“Kemampuan aktif pertama dari biji yang udah dilatih! Tinggal diniatin, Aria bisa mukul mereka kapanpun!”
Aku terkejut mendengar penjelasannya. Selama ini aku tak pernah bisa untuk menyentuh mereka, apalagi menyerang mereka. Dengan kemampuan ini, aku bisa lebih tenang untuk kedepannya jika ada makhluk ghaib yang akan menyerangku!
“Serius?”
“Ciyus deh.”
Setelah mendengar konfirmasi darinya, aku langsung meniatkan diri untuk dapat menyentuh mereka. Tak ada hal yang aku rasakan ataupun sebuah perubahan yang terlihat ketika aku meniatkan diri. Tiba-tiba, aku terpikirkan sesuatu. Aku ingin memukul Mira.
Dengan cepat aku pun lari ke arah Mira dan berniat memukulnya. Dia yang melihatku menerjang ke arahnya hanya tertawa kecil dan maju mendekatiku.
Alih-alih terkena pukulanku, dia dapat menghindari pukulanku dengan mudah, lalu menendang kakiku dengan cukup keras. Aku pun terjerembab mengenai lantai yang sebelumnya kupijak tadi.
“Ck ck ck. Masih terlalu cepat bagimu untuk bisa memukulku, wahai kisanak!” Ucap Mira dengan nada mengejek.
“Yang diserang tuh pocongnya! Bukan aku!” Lanjutnya.
“Cih.” Decakku.
Seranganku gagal. Aku lupa kalau dia lebih kuat dariku. Mungkin lain kali akan ku coba lagi kalau ada kesempatan.
Aku pun berdiri dan menatap si pocong yang kini telah berdiri juga lalu mendekatinya. Saat jarak kami sudah berkurang, dia memelototiku dengan kedua matanya yang berdarah itu sembari mendesis.
“E-e-e-e-e-ehh!!!”
Aku yang melihatnya pun kaget dan mundur beberapa langkah. Si pocong pun melaju berniat untuk menyerangku. Melihat hal ini, Mira dengan cepat meluncur maju dan memiting si pocong dari belakang.
“Ga boleh, ga boleh. Kamu ga boleh nyerang ya.”
Si pocong pun menggeliat, berusaha melepaskan diri dari kuncian yang dilakukan oleh Mira sembari mendesis dengan kencang sembari menyebarkan air yang berasal dari mulutnya. Liur bercampur darah yang keluar dari mulut pocong pun berceceran di lantai dan mengeluarkan bau busuk. Bau yang sangat-sangat busuk.
Aku yang mencium bau busuk tersebut pun langsung bergegas keluar dari kamar, menutupnya dari luar dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di lantai bawah.
“HOEEEEEEKKKK!!! HOEEEEEEKKKK!!!” Aku mengeluarkan semua isi perutku di kamar mandi.
‘Pocong bangke! Bau bangkai!’ Batinku mengumpat.
Setelah puas aku muntah-muntah, aku pergi ke ruang keluarga, mengambil selembar masker medis yang ada di dalam lemari di bawah televisi lalu menggunakannya, pergi keluar rumah, dan mengambil sebuah senjata pamungkas.
Aku pun bergegas kembali ke dalam kamarku dan menutup pintunya rapat-rapat, berharap anggota keluargaku yang sepertinya sedang tertidur dengan lelap tidak mencium bau mengerikan ini.
Di dalam kamar, aku melihat si pocong masih menggeliat, berusaha melepaskan diri dari kuncian yang dilakukan oleh Mira yang entah sejak kapan memasang jepit kayu di hidungnya.
“Lama amat! Ngapain aja?!” Ujarnya kesal.
“Mempersiapkan diri.”
“Itu apa yang kamu bawa??” Kata dia sambil menunjuk ke arah tangan kananku.
“Ini? Apa kamu enggak bisa lihat? Ini itu namanya sandal. Kayaknya matamu punya masalah berat deh. Coba besok cek ke dokter mata, kali aja ada indikasi buta!” Ujarku membalas ucapan yang dia katakan padaku tempo hari.
“Aku tau kalau itu sandal! Pukulin langsung pakai tangan kan bisa! Mataku juga normal! 20/10 malah!” Balas dia.
“Aku ga mau mengotori tanganku.”
“Hilih. Sok bersih!”
Aku yang mendengarnya menjadi sedikit terpelatuk.
“Lihat tuh wajahnya! Banyak darah! Liurnya bau bangkai juga!”
“Iya, iya, dasar cerewet! Pukulin aja langsung!”
“Haaaaahh...” Aku menghela nafas panjang.
Tanpa basa-basi lagi, aku segera menampari wajah si pocong menggunakan sandal yang ku bawa berkali-kali tanpa henti. Menampar dari kanan, dari kiri, dari depan, bahkan dari atas kepalanya sekalipun. Aku tak mempedulikan suara desisan dan pelototan si pocong. Yang ku pikirkan sekarang hanyalah segera menyelesaikan kasus ‘pembullyan’ malam ini.
Setelah sekitar 10 menit aku berhenti menamparinya, aku sudah kelelahan. Dalam penglihatanku, darah dan air mata (liur) telah berceceran mengotori hampir semua sudut kamarku, si pocong juga sudah tak mendesis ataupun melotot lagi. Sepertinya dia sudah menyerah.
“Aku sudah capek. Apa cukup?”
“Yaaa bisa dibilang dia udah kalah sih.” Ujar Mira sembari melepas kunciannya dan menginjak sekali si pocong yang telah terjatuh dengan kuat yang mengakibatkan pocong tersebut hilang.
“Itu tadi... mati?”
“Iya. Kenapa?
“Enggak ada apa-apa.”
Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan kepadanya. Tapi aku sudah terlalu capek untuk memproses informasi baru.
“Hari ini udah cukup. Kita lanjutin besok aja. Sekarang bersih-bersih dulu.”
“Aku udah capek. Ga kuat untuk bersih-bersih.”
“Yaudah, istirahat sana, besok juga masuk sekolah kan? Biar aku yang beresin.”
Setelah dia berkata seperti itu, dia pun merapal sebuah mantra yang tak ku ketahui bahasanya sembari menjentikkan jarinya beberapa kali. Darah dan air liur yang memenuhi ruangan dan pakaianku pun perlahan-lahan menghilang. Aku tak tau dengan bau busuknya, tapi sepertinya juga ikut menghilang. Aku terkesima melihat keajaiban ini. Inikah yang disebut sebagai sihir?
Setelah Mira membersihkan kamar ini, aku pun duduk di sisi kasurku dan berniat menanyakan hal yang sempat mengganggu pikiranku selama beberapa saat. Hal yang sempat membuat Mira marah minggu lalu.
“Mira, aku mau tanya, kenapa dulu kamu marah pas ku sebut jin?”
Mendengar itu, Mira langsung mendengus dan menjawab dengan ketus
“Aria marah ga kalau disebut anjing?” Ku lihat, raut wajanya menunjukkan sedikit ketidaksenangan saat dia mengatakannya.
“Pasti marah lah.”
“Juga, namaku Aryo, bukan Aria.” Lanjutku.
“Ya sama! Aku juga pasti marah!”
“Maksudku, kenapa kok marah gitu? Alasannya apa? Kan jin itu makhluk ghaib, sama kayak kamu.”
“Aria sendiri kenapa marah kalau disebut anjing? Padahal sama-sama makhluk hidup sama mamalia kayak Aria.” Jawabnya ketus.
Karena terlalu capek, aku masih belum mengerti maksud dari ucapannya.
“Bisa jelasin enggak alasan kenapa kamu bisa marah?”
“Aria tau yang namanya ras kan? Aku ga mau disamain sama ras mereka.”
“Kenapa kok enggak mau disamakan?”
“Soalnya mereka itu... AAAAHHH!!! Udah ah! Mau ku jelasin kayak apapun Aria ga akan paham!” Ujarnya kesal.
“Kalau enggak dijelasin, aku juga enggak akan paham.” Balasku.
Aku tak melanjutkan pertanyaanku. Percuma juga aku menanyakannya kalau dia sendiri tidak mau memberitahuku alasannya. Mungkin besok aku bisa mengetahui alasannya setelah menganalisa jawabannya tadi, aku terlalu capek untuk berpikir berat sekarang.
Aku pun menuju kasur dan segera tidur.
Sedikit disclaimer.
POV Mira atau karakter lain selain Dimas Aryo (Saya sendiri) hanyalah imajinasi penulis belaka. Jangan pernah dipercaya. Kejadian sesungguhnya seringkali belum diketahui hingga saat ini.
Silahkan dinikmati sembari meminum segelas kopi atau apapun itu.
Chapter VI
Hari ini adalah hari minggu malam, tujuh hari telah berlalu setelah aku menjadi murid dari sesosok mahluk yang bernama Mira. Entah apa yang akan dia ajarkan kepadaku. Lebih tepatnya, entah lelucon ga jelas apalagi yang akan dia ucapkan padaku. Semoga dia bisa berhenti.
Di tujuh hari pertama, dia hanya menyuruhku untuk meditasi selama 30 menit setiap malamnya dengan fokus di titik-titik yang berbeda setiap harinya. Tujuannya untuk memadatkan setiap chakra mayor yang ada di tubuh manusia yang entah apa efeknya, dia hanya menjawab “Nanti juga tau.” setiap kali aku bertanya.
Saat ini pukul sepuluh malam. Aku telah menyelesaikan tugasku sebagai seorang pelajar, yakni belajar dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru-guruku di sekolah.
Aku meregangkan otot-ototku yang kaku karena duduk terlalu lama di kursi sembari melihat-lihat sekeliling, mencari keberadaan Mira yang dari tadi hilang entah kemana. Dia cuma bilang kalau dia sedang mempersiapkan sesuatu untuk keperluan belajarku.
Entah kenapa aku menantikan kedatangannya. Mungkin karena dia berhasil memantik rasa keingintahuanku yang tinggi akan hal-hal baru meskipun sebelumnya aku sama sekali tak tertarik dengan dunia ghaib.
Aku pun menyalakan komputerku dan mulai memainkan game yang belum sempat aku tamatkan sebelumnya.
Sekitar pukul dua belas malam, dia pun muncul menembus tembok dari luar rumah menuju ke dalam kamarku sambil membawa sebuah guling lusuh yang aku tak tahu darimana asalnya.
“Yo!” Kata dia sembari menaruh guling lusuh yang dia bawa tadi ke atas lantai dan menginjaknya.
“Hari ini kita belajar tentang ini!” Ucapnya sembari menunjuk guling tadi.
“Itu pocong, kan? Jadi malam ini belajarnya tentang pocong?”
“No. Kamu malam ini harus bisa mengalahkannya!” Ujarnya sambil menendang sang pocong ke arahku.
Pocong tersebut berguling-guling hingga berhenti tepat dibawahku. Menunjukkan wajahnya yang penuh dengan darah kepadaku. Tatapannya yang penuh kebencian diarahkan kepadaku.
“Aku harus ngalahin ini? Kalau dia terbang gimana?”
“Tenang. Dia ga akan bisa keluar dari kamar ini kok!”
“Okeeey... Cara ngalahinnya gimana?”
“Gampang! Pukulin aja!”
Aku kebingungan mendengar jawabannya. Selama ini, meskipun aku selalu melihat mereka yang berkeliaran di luar sana, aku sama sekali belum pernah bisa menyentuh mereka. Aku selalu menembus mereka ketika aku mencoba untuk melewati mereka saat mereka menutupi jalanku.
“Gimana mukulnya? Selama ini aku ga pernah bisa nyentuh mereka loh.”
“Huhuhu... Aria pikir seminggu kemarin itu untuk apa?”
“Bukan Aria, tapi Aryo.”
“Salah satunya untuk mukulin mereka!”
“Kemampuan aktif pertama dari biji yang udah dilatih! Tinggal diniatin, Aria bisa mukul mereka kapanpun!”
Aku terkejut mendengar penjelasannya. Selama ini aku tak pernah bisa untuk menyentuh mereka, apalagi menyerang mereka. Dengan kemampuan ini, aku bisa lebih tenang untuk kedepannya jika ada makhluk ghaib yang akan menyerangku!
“Serius?”
“Ciyus deh.”
Setelah mendengar konfirmasi darinya, aku langsung meniatkan diri untuk dapat menyentuh mereka. Tak ada hal yang aku rasakan ataupun sebuah perubahan yang terlihat ketika aku meniatkan diri. Tiba-tiba, aku terpikirkan sesuatu. Aku ingin memukul Mira.
Dengan cepat aku pun lari ke arah Mira dan berniat memukulnya. Dia yang melihatku menerjang ke arahnya hanya tertawa kecil dan maju mendekatiku.
Alih-alih terkena pukulanku, dia dapat menghindari pukulanku dengan mudah, lalu menendang kakiku dengan cukup keras. Aku pun terjerembab mengenai lantai yang sebelumnya kupijak tadi.
“Ck ck ck. Masih terlalu cepat bagimu untuk bisa memukulku, wahai kisanak!” Ucap Mira dengan nada mengejek.
“Yang diserang tuh pocongnya! Bukan aku!” Lanjutnya.
“Cih.” Decakku.
Seranganku gagal. Aku lupa kalau dia lebih kuat dariku. Mungkin lain kali akan ku coba lagi kalau ada kesempatan.
Aku pun berdiri dan menatap si pocong yang kini telah berdiri juga lalu mendekatinya. Saat jarak kami sudah berkurang, dia memelototiku dengan kedua matanya yang berdarah itu sembari mendesis.
“E-e-e-e-e-ehh!!!”
Aku yang melihatnya pun kaget dan mundur beberapa langkah. Si pocong pun melaju berniat untuk menyerangku. Melihat hal ini, Mira dengan cepat meluncur maju dan memiting si pocong dari belakang.
“Ga boleh, ga boleh. Kamu ga boleh nyerang ya.”
Si pocong pun menggeliat, berusaha melepaskan diri dari kuncian yang dilakukan oleh Mira sembari mendesis dengan kencang sembari menyebarkan air yang berasal dari mulutnya. Liur bercampur darah yang keluar dari mulut pocong pun berceceran di lantai dan mengeluarkan bau busuk. Bau yang sangat-sangat busuk.
Aku yang mencium bau busuk tersebut pun langsung bergegas keluar dari kamar, menutupnya dari luar dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di lantai bawah.
“HOEEEEEEKKKK!!! HOEEEEEEKKKK!!!” Aku mengeluarkan semua isi perutku di kamar mandi.
‘Pocong bangke! Bau bangkai!’ Batinku mengumpat.
Setelah puas aku muntah-muntah, aku pergi ke ruang keluarga, mengambil selembar masker medis yang ada di dalam lemari di bawah televisi lalu menggunakannya, pergi keluar rumah, dan mengambil sebuah senjata pamungkas.
Aku pun bergegas kembali ke dalam kamarku dan menutup pintunya rapat-rapat, berharap anggota keluargaku yang sepertinya sedang tertidur dengan lelap tidak mencium bau mengerikan ini.
Di dalam kamar, aku melihat si pocong masih menggeliat, berusaha melepaskan diri dari kuncian yang dilakukan oleh Mira yang entah sejak kapan memasang jepit kayu di hidungnya.
“Lama amat! Ngapain aja?!” Ujarnya kesal.
“Mempersiapkan diri.”
“Itu apa yang kamu bawa??” Kata dia sambil menunjuk ke arah tangan kananku.
“Ini? Apa kamu enggak bisa lihat? Ini itu namanya sandal. Kayaknya matamu punya masalah berat deh. Coba besok cek ke dokter mata, kali aja ada indikasi buta!” Ujarku membalas ucapan yang dia katakan padaku tempo hari.
“Aku tau kalau itu sandal! Pukulin langsung pakai tangan kan bisa! Mataku juga normal! 20/10 malah!” Balas dia.
“Aku ga mau mengotori tanganku.”
“Hilih. Sok bersih!”
Aku yang mendengarnya menjadi sedikit terpelatuk.
“Lihat tuh wajahnya! Banyak darah! Liurnya bau bangkai juga!”
“Iya, iya, dasar cerewet! Pukulin aja langsung!”
“Haaaaahh...” Aku menghela nafas panjang.
Tanpa basa-basi lagi, aku segera menampari wajah si pocong menggunakan sandal yang ku bawa berkali-kali tanpa henti. Menampar dari kanan, dari kiri, dari depan, bahkan dari atas kepalanya sekalipun. Aku tak mempedulikan suara desisan dan pelototan si pocong. Yang ku pikirkan sekarang hanyalah segera menyelesaikan kasus ‘pembullyan’ malam ini.
Setelah sekitar 10 menit aku berhenti menamparinya, aku sudah kelelahan. Dalam penglihatanku, darah dan air mata (liur) telah berceceran mengotori hampir semua sudut kamarku, si pocong juga sudah tak mendesis ataupun melotot lagi. Sepertinya dia sudah menyerah.
“Aku sudah capek. Apa cukup?”
“Yaaa bisa dibilang dia udah kalah sih.” Ujar Mira sembari melepas kunciannya dan menginjak sekali si pocong yang telah terjatuh dengan kuat yang mengakibatkan pocong tersebut hilang.
“Itu tadi... mati?”
“Iya. Kenapa?
“Enggak ada apa-apa.”
Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan kepadanya. Tapi aku sudah terlalu capek untuk memproses informasi baru.
“Hari ini udah cukup. Kita lanjutin besok aja. Sekarang bersih-bersih dulu.”
“Aku udah capek. Ga kuat untuk bersih-bersih.”
“Yaudah, istirahat sana, besok juga masuk sekolah kan? Biar aku yang beresin.”
Setelah dia berkata seperti itu, dia pun merapal sebuah mantra yang tak ku ketahui bahasanya sembari menjentikkan jarinya beberapa kali. Darah dan air liur yang memenuhi ruangan dan pakaianku pun perlahan-lahan menghilang. Aku tak tau dengan bau busuknya, tapi sepertinya juga ikut menghilang. Aku terkesima melihat keajaiban ini. Inikah yang disebut sebagai sihir?
Setelah Mira membersihkan kamar ini, aku pun duduk di sisi kasurku dan berniat menanyakan hal yang sempat mengganggu pikiranku selama beberapa saat. Hal yang sempat membuat Mira marah minggu lalu.
“Mira, aku mau tanya, kenapa dulu kamu marah pas ku sebut jin?”
Mendengar itu, Mira langsung mendengus dan menjawab dengan ketus
“Aria marah ga kalau disebut anjing?” Ku lihat, raut wajanya menunjukkan sedikit ketidaksenangan saat dia mengatakannya.
“Pasti marah lah.”
“Juga, namaku Aryo, bukan Aria.” Lanjutku.
“Ya sama! Aku juga pasti marah!”
“Maksudku, kenapa kok marah gitu? Alasannya apa? Kan jin itu makhluk ghaib, sama kayak kamu.”
“Aria sendiri kenapa marah kalau disebut anjing? Padahal sama-sama makhluk hidup sama mamalia kayak Aria.” Jawabnya ketus.
Karena terlalu capek, aku masih belum mengerti maksud dari ucapannya.
“Bisa jelasin enggak alasan kenapa kamu bisa marah?”
“Aria tau yang namanya ras kan? Aku ga mau disamain sama ras mereka.”
“Kenapa kok enggak mau disamakan?”
“Soalnya mereka itu... AAAAHHH!!! Udah ah! Mau ku jelasin kayak apapun Aria ga akan paham!” Ujarnya kesal.
“Kalau enggak dijelasin, aku juga enggak akan paham.” Balasku.
Aku tak melanjutkan pertanyaanku. Percuma juga aku menanyakannya kalau dia sendiri tidak mau memberitahuku alasannya. Mungkin besok aku bisa mengetahui alasannya setelah menganalisa jawabannya tadi, aku terlalu capek untuk berpikir berat sekarang.
Aku pun menuju kasur dan segera tidur.
Diubah oleh dimasaria39 01-10-2021 23:48
hendra024 dan 37 lainnya memberi reputasi
38
Tutup


