- Beranda
- Stories from the Heart
Kumpulan-Kumpulan Cerita Horror dari Reddit
...
TS
pngntrtidr
Kumpulan-Kumpulan Cerita Horror dari Reddit
Halo agan-agan semua, pada thread pertama saya kali ini saya akan membagikan kepada agan-agan semua cerita-cerita seram dari sebuah forum international yaitu Reddit. Di Reddit sendiri terdapat banyak sekali cerita-cerita seram yang menarik, hanya saja semuanya ditulis dalam bahasa inggris. Jadi disini saya menerjemahkan cerita-cerita tersebut ke dalam bahasa Indonesia sehingga kita semua orang Indonesia dapat menikmati cerita-cerita dari luar tersebut.
Selamat membaca agan-agan semua
.
Selamat membaca agan-agan semua
.Quote:
Jika Kau Melihat Pria Ini di Tepi Jalan, Jangan Pulang ke Rumah
---
Aku Baru-baru Ini Menemukan Channel Youtube Milik Teman Sekelasku dan Kurasa Sesuatu Yang Buruk Telah Terjadi Padanya
---
Aku Telah Melakukan Pekerjaan yang Sama Selama 18 Tahun dan Aku Masih Tidak Tahu Apa Yang Sebenarnya Kukerjakan
---
Aku Membeli Sebuah Lukisan Mengerikan pada Pelelangan Online. Ada Sesuatu Yang Salah dengan Lukisan Itu…
---
Aku Membeli Sebuah Ipad Yang Telah Digunakan Sebelumnya. Catatannya Menceritakan Sebuah Kisah Yang Mengerikan
---New---
Sesuatu Sedang Mengintai Para Wisatawan pada Pegunungan Salju Kanada
-------
---
Aku Baru-baru Ini Menemukan Channel Youtube Milik Teman Sekelasku dan Kurasa Sesuatu Yang Buruk Telah Terjadi Padanya
---
Aku Telah Melakukan Pekerjaan yang Sama Selama 18 Tahun dan Aku Masih Tidak Tahu Apa Yang Sebenarnya Kukerjakan
---
Aku Membeli Sebuah Lukisan Mengerikan pada Pelelangan Online. Ada Sesuatu Yang Salah dengan Lukisan Itu…
---
Aku Membeli Sebuah Ipad Yang Telah Digunakan Sebelumnya. Catatannya Menceritakan Sebuah Kisah Yang Mengerikan
---New---
Sesuatu Sedang Mengintai Para Wisatawan pada Pegunungan Salju Kanada
-------
Quote:
Original Posted By pngntrtidr►ane sekarang lagi sibuk sama hal lain gan jadi ga tau kapan bakal update cerita berikutnya. maapkan ane yah gann
Diubah oleh pngntrtidr 06-10-2021 00:19
bukhorigan dan 4 lainnya memberi reputasi
5
7.1K
Kutip
39
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pngntrtidr
#14
Aku Baru-baru Ini Menemukan Channel Youtube Milik Teman Sekelasku dan Kurasa Sesuatu Yang Buruk Telah Terjadi Padanya
Quote:
Penulis: 1 month ago
Sumber Cerita
Sumber Cerita
Spoiler for Bagian 1:
Aku telah mengenal Darren seumur hidupku, tapi tidak pernah benar-benar mengenalnya.
Aku dapat menyalahkannya karena telah menjadi anak yang pendiam, tapi aku tidak begitu yakin kalau itu benar, karena aku tidak pernah cukup berbicara padanya untuk mengetahui apakah dia benar-benar sediam itu atau dia hanya tidak pernah diberi kesempatan untuk berbicara. Aku merasa bersalah atas hal itu, sekarang. Darren selalu ada dalam setiap foto sekolah dasarku. Namanya hampir selalu tertera pada lembar absen dari setiap kelas SMA yang pernah kuambil. Dia selalu ada di hidupku, namun sulit bagiku untuk memberitahumu apa yang kuketahui tentangnya.
Darren dijahati di sekolah, tapi dia tidak dibully dengan kejam seperti yang orang-orang pikirkan ketika mereka berpikir tentang “anak yang dibully”. Tentu, sesekali, anak-anak yang lebih jahat akan melontarkan beberapa ejekan dan ucapan yang berlebihan kepadanya. Tapi yang semua orang lakukan kepadanyalah yang paling kejam. Darren benar-benar diabaikan. Tidak hanya oleh anak-anak jahat yang berpura-pura tidak melihatnya, tapi oleh semuanya, terus-menerus. Dia diabaikan seakan-akan dirinya memang tidak pernah ada.
Mungkin itu karena Darren terlihat jelas berasal dari keluarga yang miskin. Atau karena rambut berminyak dan jerawat yang menumpuk pada permukaan wajahnya. Apapun alasannya, Darren tetaplah orang yang dikucilkan di sekolah, pengucilannya dari kami pun akhirnya berkembang menjadi sebuah tradisi daripada hal lainnya. Semua orang tahu untuk tak berbicara kepada Darren dan, bahkan, dirinya pun belajar untuk tidak berbicara kepada kami. Dia tidak pernah diajak berbicara pada saat jam istirahat sekolah dasar; tidak pernah didekati saat sedang makan siang sekolah menengah; Tak pernah disapa ketika melewati lorong SMA kami. Darren tidaklah ada.
Tren ini sudah berlangsung dari sejak pertama aku mengenalnya- bahkan para guru pun seakan turut serta dengan hal ini. Dia tidak pernah dipanggil untuk menjawab pertanyaan atau berpresentasi di depan kelas. Darren tidak pernah mendapati namanya dipanggil pada saat tugas kelompok membaca. Terkadang aku akan melewati hari-hariku tanpa melihatnya sama sekali padahal absennya selalu hadir. Kurasa pikiranku telah terlatih selama bertahun-tahun untuk memandang Darren tidak lebih dari yang lain- sederhananya ruang kosong. Yang diperlukan hanyalah “pembelajaran jarak jauh” yang disebabkan oleh pandemi untukku menghilangkan semua pemikiran tentangnya.
Hanyalah keberuntungan belaka aku dapat menemukan channel Youtube milik Darren. Sekolahku sedikit terlambat untuk hal-hal seperti pembelajaran jarak jauh, tapi semua kelasku sekarang sudah online dan jumlah waktu yang kuhabiskan untuk menonton Youtube pun meningkat pesat. Orang tuaku tidak bisa membedakan yang mana suara video Youtube dengan yang mana suara kelas onlineku, hal itu membuatku mengembangkan sebuah kebiasaan dimana aku menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari berpindah-pindah tontonan dari video yang direkomendasikan ke pencarian acak, semua itu terjadi sementara orang tuaku berseri-seri bangga dengan ketekunanku. Kuakui aku sedikit merasa bersalah atas hal itu. Namun itu tak cukup untuk menghentikanku.
Tontonan yang kusukai baru-baru ini adalah wawancara. Tontonannya itu terasa seperti cara yang informatif (dan tidak buang-buang waktu) untuk menghibur diriku sendiri. Semuanya dimulai dengan wawancara dari pemeran dari film yang kusukai sebelum aku memperluas pencarianku mencari berbagai orang-orang terkenal yang tidak akan pernah ku”temui.” Rasanya menyenangkan mengetik sebuah nama, menambah kata “interview”, dan menggulir hasil pencarian, mencari video yang tak jelas ataupun yang menarik. Aktor, ilmuan, pengemuka teori konspirasi, pembunuh berantai, veteran perang- aku suka semuanya.
Beberapa bulan yang lalu aku akhirnya sempat menonton “Black Swan,” dan sedang mencari wawancara dari Darren Aronofsky. Pada saat aku sedang menggulir melalui wawancara umum Hollywood dan penjelasan dari plot “Mother!,” aku melihat ada sebuah channel yang bernama “Dialog Bersama Darren.” Aku mengklik tanpa pikir panjang.
Video yang kubuka berjudul “Dialog Bersama Darren Ep.2 – Mooky.” Videonya pun dimulai dan, setelah beberapa saat tertegun, aku menyadari kalau wajah kurus yang memenuhi layar dan menatap kembali padaku adalah milik Darren. Sosoknya diterangi hanya oleh cahaya redup dari layar komputernya dan dia bahkan lebih kurus dari yang kuingat, rambut keritingnya sudah tumbuh sampai pada bahunya dan mata gelapnya terlihat sayu juga berair. Kamera yang digunakan olehnya jelas ada kamera berspesifikasi rendah, tapi meskipun penerangan dan kualitas videonya buruk, aku sangat yakin kalau itu adalah Darren.
Darren terlihat tampil di kamar tidur yang gelap dan berantakan. Aku hanya dapat melihat tempat tidur tanpa selimut yang belum dirapikan di belakangnya dan beberapa kotak pizza dan sarapan microwave berserakan pada lantai dan rak-raknya. Darren sedang terduduk di atas sebuah kursi kantor di sisi kiri layar, sedangkan di sisi kanan layar terdapat sebuah kursi kosong. Kedua kursi tersebut dihadapkan ke arah kamera dan diterangi hanya oleh satu-satunya penerangan yang berada di ruangan itu, yakni, layar komputer Darren. Kursi kosong tersebut adalah salah satu kursi yang dibentuk dari besi dan plastik yang biasanya dapat kau temukan di sekolahan, aku penasaran apakah dia telah mencurinya. Setelah menyesuaikan lagi kameranya secara singkat, Darren kembali duduk di kursinya agar dirinya sejajar dengan yang satunya, bergeser sedikit ke samping, dan mulai terbata-bata mengenalkan dirinya dengan gaya pembawa acara yang terlihat gugup. Ketika dia berbicara, baru tersadar olehku bahwa sampai saat itu, aku tidak pernah tahu seperti apa suara Darren.
“Uh- hai, selamat datang kembali pada Dialog Bersama Darren. Hari ini aku berkesempatan untuk mewawancarai Mooky lagi, yang mungkin kalian kenal dari episode pertama kami. Aku tidak punya waktu jadi, uh, tanpa berlama-lama, mari kita langsung ke topik pembahasan. Sebelum kita mulai, bolehkah kau memperkenalkan secara singkat dirimu lagi, Mooky?”
Aku melirik kebawah pada informasi video itu. Channelnya memiliki nol subscriber. Video ini hanya memiliki satu view tanpa ada yang menyukai ataupun berkomentar. Ternyata aku adalah orang pertama yang telah menontonnya. Aku melirik balik pada videonya dan menyeringai bingung. Darren terlihat mengangguk pada sesuatu dan sedang menatap pada kursi kosong itu, seakan-akan dengan sopan mempersilahkan seseorang berbicara. Setelah beberapa saat, dia melihat balik ke arah kamera.
“Yah, kurasa aku setuju dengan hal itu. Jadi beritahu aku, Mooky- jika kau bukan hanya sekedar teman khayalan, apa, uh, hal lain yang ingin kau lakukan?”
Lagi, dia menatap ke arah kursi dan mengangguk dalam kesunyian. Tapi dari komentar terakhirnya, semuanya pun menjadi jelas. Sepertinya Darren sedang membuat channel komedi. Hasil dari kebosanan dan mungkin harapan untuk mendapat perhatian setidaknya sekali saja, meski itu oleh orang asing dari internet. Atau mungkin ini hanyalah caranya untuk melewati kelesuan yang sama yang dirasakan oleh sebagian besar orang selama lockdown.
Pada saat dia menanyai “tamu”nya mengenani aspirasi untuk kedepannya, aku mengklik keluar videonya menuju ke beranda channelnya. Channelnya hanya terdapat tiga video yang diupload sejauh ini. “Dialog Bersama Darren – Mooky,” “Dialog Bersama Darren – Mooky Pt. II,” dan “Dialog Bersama Darren – The Watcher,” semua videonya berdurasi mulai dari empat sampai enam menit. Tidak ada dari videonya yang memiliki lebih dari satu like dan juga komentar apapun. Karena penasaran, aku pun mengklik salah satu videonya yang berjudul “Sang Pengawas”.
Videonya dimulai dengan cara yang sama seperti yang sebelumnya- perkenalan yang singkat dan canggung di dalam ruangannya yang gelap dan berantakan, penggeseran kursinya menjauhi dan mendekati sisi layar, lalu kemudian percakapan satu arah kepada ruang kosong di atas kursi yang lainnya. Darren, seperti host berkualitas lainnya, langsung terjun pada pertanyaan.
“Jadi, uh- kurasa kita langsung saja mulai dari yang paling jelas. Kenapa anda mengawasi orang-orang?”
Dia mulai mengangguk sendiri di dalam ruangan hening gelap yang hanya diterangi oleh layar komputernya. Dia terlihat lebih tegang daripada dirinya yang berada pada video Mooky; sosoknya terlihat lebih kaku dan posturnya mendongak keatas, seperti orang yang mencoba melihat ke jurang dari atas tebing tanpa terjatuh. Setelah beberapa saat, dia berbicara lagi.
“Yah, tentu, tapi, uh… bagaimana caramu menentukan orang yang mana?”
Hening, sementara Darren masih mengangguk.
“Dan apa yang terjadi-uh, kau tahu, jika mereka terbangun?”
Kali ini keheningannya berlangsung lebih lama dan terdapat lebih banyak anggukan, tapi ntah kenapa aku merasa ada aliran dingin yang menembus melaluiku pada saat wajah Darren terlihat ketakutan. Menurutku konsep teman khayalannya itu lucu dan konyol, tapi ntah kenapa yang satu ini membuatku merinding. Dan dari perasaan khawatir yang terpancar dari sorot matanya, Darren telah melakukan kerja bagus untuk berpura-pura terlihat ketakutan. Setelah beberapa saat mengangguk pada ketiadaan dan menunggu, Darren akhirnya berbicara sekali lagi, masih dengan imitasi gelagapannya terhadap pembawa acara televisi.
“Yah.. uh, itu hal yang baik untuk diketahui, kurasa. Untuk penonton kami dirumah, seperti yang baru saja dikatakan, selalunya lebih baik untuk kalian, membiarkan mata kalian tetap tertutup.”
Untuk sesaat layarnya tiba-tiba menjadi statis dan videonya pun terfokus kembali. Mungkin ini hanyalah imajinasiku tapi pada saat itu aku berani bersumpah kalau kursi kosongnya baru saja bergerak. Tidak banyak- mungkin hanya seinci atau lebih kebelakang, tapi saat aku memincingkan mataku, kursi itu benar-benar telihat sedikit lebih jauh dari kursi Darren. Itu, atau mungkin percobaannya untuk membuat video yang mengerikan telah berhasil mengejutkanku. Merasa terhibur, aku langsung mengklik kembali pada beranda channelnya dan memencet simbol lonceng agar aku dapat mendapat notifikasi baru darinya.

Dua hari kemudian aku mendapat notifikasi pertamaku yang berisikan “Dialog Bersama Darren telah mengunggah sebuah video baru” berjudul “Dialog Bersama Darren – Juniper Smith.” Aku menunggu sampai sore dan mengeluarkan ponselku di atas ranjang untuk menontonnya sebelum tidur. Videonya kurang lebih sama seperti sebelumnya. Aku mendapati diskusi satu arah Darren sangat menarik saat aku mencoba untuk mencari tahu percakapan apa yang sedang dibayangkan olehnya.
“Terima kasih untuk, uh, telah datang hari ini Nyonya Smith! saya harap saya boleh mengatakan ini tapi, uh, gaun yang anda kenakan hari ini terlihat fantastis. Jadi, saya akan langsung ke pertanyaan, Saya uh- Saya tidak bermaksud kasar, tapi saya yakin sebagian besar orang pasti akan penasaran- kenapa nyonya bisa meninggal?” Darren mengatakan hal itu dengan sopan dan berhati-hati, seakan-akan dia sedang bertanya kepada orang yang sedang sakit keras seberapa lama lagi waktu mereka yang tersisa.
Hening.. bersama anggukan sopan dari Darren.
“Saya turut bersedih. Apakah ada yang mengetahui kejadian sebenarnya?”
Darren terlihat tersedak pada jawaban dari kesunyian.
“Itu, ah, yah- itu sangat menyedihkan. Maafkan saya,” ujarnya dengan suara serak yang emosional. “Jadi, apa yang terjadi setelahnya?”
Pertanyaan itu diikuti oleh kesunyian yang berlangsung cukup lama yakni sekitar tiga menit-an selagi Darren mengangguk pada ruang kosong di sampingnya. Aku menghabiskan waktuku untuk mempelajari kursi kosong itu, mencoba untuk menemukan setidaknya sedikit saja tanda-tanda kejadian supranatural. Tapi aku tidak menemukan apapun selain gumaman “uh-huh” atau “ooh” dari Darren yang dengan respek menunjukkan kepada tamu khayalannya bahwa mereka masih mendapatkan perhatian darinya. Aku hampir saja menekankan hidungku pada layar ponsel untuk memerhatikan bayangan-bayangan yang berada pada kamar Darren ketika dirinya tiba-tiba memulai kata-kata yang membuatku takjub.
“Wah- itu hal yang bagus! Uh, serius. Membantu gadis kecil seperti itu? Itu bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi setelah apa yang terjadi pada anda. Tapi anda tetap melakukannya, dan itu benar-benar menakjubkan!”
Aku tersenyum, bertanya-tanya bagimana caranya bisa menciptakan cerita seperti itu dan apakah terdapat dokumen Word dalam komputernya yang berisikan tentang skrip-skrip dari interviewnya selama ini. Aku ingin membacanya, jika benar-benar ada.
“Oke, yah.. uh- ya. Tepat sekali. Baiklah, terima kasih telah hadir dan terima kasih sekali lagi sudah mau berbagi pengalaman anda dengan kami, uh, Nyonya Smith. Saya rasa sudah waktunya untuk mengakhiri acara hari ini, saya berharap yang terbaik untuk anda dan tolong jagalah diri anda baik-baik.”
Dan dengan itu, Darren tersenyum ramah pada kursi kosong di sampingnya, berbalik dan menyenderkan kursinya pada komputernya, dan ketika tangannya keluar dari layar, videonya pun berakhir. Tampilan “video selanjutnya” dari Youtube pun muncul dengan video “Mooky” yang belum pernah kutonton, akan diputar pada beberapa detik berikutnya.
Tapi aku lebih memilih untuk mengeluarkan aplikasinya, berbaring di atas tempat tidur, dan memikirkan tentang wawancara yang baru saja kutonton. Aku telah memutuskan bahwa ketika sekolah sudah mulai beroperasi kembali, aku akan memberanikan diri untuk berbicara kepada Darren. Aku tidak mengerti kenapa aku tidak pernah berbicara padanya, selain karena tidak ada yang pernah melakukannya. Aku akan menyapanya dengan “hai.” Lalu bertanya bagaimana kabarnya selama pandemi berlangsung. Untuk melihat bagaimana keadaannya. Kurasa aku tidak akan menyinggung tentang channel Youtubenya, aku bermaksud untuk menjadi teman bicaranya. Seseorang yang benar-benar merespon ketika ditanyai.
Merasa puas dengan resolusiku, akupun membalikkan badanku dan tidur.
Aku dapat menyalahkannya karena telah menjadi anak yang pendiam, tapi aku tidak begitu yakin kalau itu benar, karena aku tidak pernah cukup berbicara padanya untuk mengetahui apakah dia benar-benar sediam itu atau dia hanya tidak pernah diberi kesempatan untuk berbicara. Aku merasa bersalah atas hal itu, sekarang. Darren selalu ada dalam setiap foto sekolah dasarku. Namanya hampir selalu tertera pada lembar absen dari setiap kelas SMA yang pernah kuambil. Dia selalu ada di hidupku, namun sulit bagiku untuk memberitahumu apa yang kuketahui tentangnya.
Darren dijahati di sekolah, tapi dia tidak dibully dengan kejam seperti yang orang-orang pikirkan ketika mereka berpikir tentang “anak yang dibully”. Tentu, sesekali, anak-anak yang lebih jahat akan melontarkan beberapa ejekan dan ucapan yang berlebihan kepadanya. Tapi yang semua orang lakukan kepadanyalah yang paling kejam. Darren benar-benar diabaikan. Tidak hanya oleh anak-anak jahat yang berpura-pura tidak melihatnya, tapi oleh semuanya, terus-menerus. Dia diabaikan seakan-akan dirinya memang tidak pernah ada.
Mungkin itu karena Darren terlihat jelas berasal dari keluarga yang miskin. Atau karena rambut berminyak dan jerawat yang menumpuk pada permukaan wajahnya. Apapun alasannya, Darren tetaplah orang yang dikucilkan di sekolah, pengucilannya dari kami pun akhirnya berkembang menjadi sebuah tradisi daripada hal lainnya. Semua orang tahu untuk tak berbicara kepada Darren dan, bahkan, dirinya pun belajar untuk tidak berbicara kepada kami. Dia tidak pernah diajak berbicara pada saat jam istirahat sekolah dasar; tidak pernah didekati saat sedang makan siang sekolah menengah; Tak pernah disapa ketika melewati lorong SMA kami. Darren tidaklah ada.
Tren ini sudah berlangsung dari sejak pertama aku mengenalnya- bahkan para guru pun seakan turut serta dengan hal ini. Dia tidak pernah dipanggil untuk menjawab pertanyaan atau berpresentasi di depan kelas. Darren tidak pernah mendapati namanya dipanggil pada saat tugas kelompok membaca. Terkadang aku akan melewati hari-hariku tanpa melihatnya sama sekali padahal absennya selalu hadir. Kurasa pikiranku telah terlatih selama bertahun-tahun untuk memandang Darren tidak lebih dari yang lain- sederhananya ruang kosong. Yang diperlukan hanyalah “pembelajaran jarak jauh” yang disebabkan oleh pandemi untukku menghilangkan semua pemikiran tentangnya.
Hanyalah keberuntungan belaka aku dapat menemukan channel Youtube milik Darren. Sekolahku sedikit terlambat untuk hal-hal seperti pembelajaran jarak jauh, tapi semua kelasku sekarang sudah online dan jumlah waktu yang kuhabiskan untuk menonton Youtube pun meningkat pesat. Orang tuaku tidak bisa membedakan yang mana suara video Youtube dengan yang mana suara kelas onlineku, hal itu membuatku mengembangkan sebuah kebiasaan dimana aku menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari berpindah-pindah tontonan dari video yang direkomendasikan ke pencarian acak, semua itu terjadi sementara orang tuaku berseri-seri bangga dengan ketekunanku. Kuakui aku sedikit merasa bersalah atas hal itu. Namun itu tak cukup untuk menghentikanku.
Tontonan yang kusukai baru-baru ini adalah wawancara. Tontonannya itu terasa seperti cara yang informatif (dan tidak buang-buang waktu) untuk menghibur diriku sendiri. Semuanya dimulai dengan wawancara dari pemeran dari film yang kusukai sebelum aku memperluas pencarianku mencari berbagai orang-orang terkenal yang tidak akan pernah ku”temui.” Rasanya menyenangkan mengetik sebuah nama, menambah kata “interview”, dan menggulir hasil pencarian, mencari video yang tak jelas ataupun yang menarik. Aktor, ilmuan, pengemuka teori konspirasi, pembunuh berantai, veteran perang- aku suka semuanya.
Beberapa bulan yang lalu aku akhirnya sempat menonton “Black Swan,” dan sedang mencari wawancara dari Darren Aronofsky. Pada saat aku sedang menggulir melalui wawancara umum Hollywood dan penjelasan dari plot “Mother!,” aku melihat ada sebuah channel yang bernama “Dialog Bersama Darren.” Aku mengklik tanpa pikir panjang.
Video yang kubuka berjudul “Dialog Bersama Darren Ep.2 – Mooky.” Videonya pun dimulai dan, setelah beberapa saat tertegun, aku menyadari kalau wajah kurus yang memenuhi layar dan menatap kembali padaku adalah milik Darren. Sosoknya diterangi hanya oleh cahaya redup dari layar komputernya dan dia bahkan lebih kurus dari yang kuingat, rambut keritingnya sudah tumbuh sampai pada bahunya dan mata gelapnya terlihat sayu juga berair. Kamera yang digunakan olehnya jelas ada kamera berspesifikasi rendah, tapi meskipun penerangan dan kualitas videonya buruk, aku sangat yakin kalau itu adalah Darren.
Darren terlihat tampil di kamar tidur yang gelap dan berantakan. Aku hanya dapat melihat tempat tidur tanpa selimut yang belum dirapikan di belakangnya dan beberapa kotak pizza dan sarapan microwave berserakan pada lantai dan rak-raknya. Darren sedang terduduk di atas sebuah kursi kantor di sisi kiri layar, sedangkan di sisi kanan layar terdapat sebuah kursi kosong. Kedua kursi tersebut dihadapkan ke arah kamera dan diterangi hanya oleh satu-satunya penerangan yang berada di ruangan itu, yakni, layar komputer Darren. Kursi kosong tersebut adalah salah satu kursi yang dibentuk dari besi dan plastik yang biasanya dapat kau temukan di sekolahan, aku penasaran apakah dia telah mencurinya. Setelah menyesuaikan lagi kameranya secara singkat, Darren kembali duduk di kursinya agar dirinya sejajar dengan yang satunya, bergeser sedikit ke samping, dan mulai terbata-bata mengenalkan dirinya dengan gaya pembawa acara yang terlihat gugup. Ketika dia berbicara, baru tersadar olehku bahwa sampai saat itu, aku tidak pernah tahu seperti apa suara Darren.
“Uh- hai, selamat datang kembali pada Dialog Bersama Darren. Hari ini aku berkesempatan untuk mewawancarai Mooky lagi, yang mungkin kalian kenal dari episode pertama kami. Aku tidak punya waktu jadi, uh, tanpa berlama-lama, mari kita langsung ke topik pembahasan. Sebelum kita mulai, bolehkah kau memperkenalkan secara singkat dirimu lagi, Mooky?”
Aku melirik kebawah pada informasi video itu. Channelnya memiliki nol subscriber. Video ini hanya memiliki satu view tanpa ada yang menyukai ataupun berkomentar. Ternyata aku adalah orang pertama yang telah menontonnya. Aku melirik balik pada videonya dan menyeringai bingung. Darren terlihat mengangguk pada sesuatu dan sedang menatap pada kursi kosong itu, seakan-akan dengan sopan mempersilahkan seseorang berbicara. Setelah beberapa saat, dia melihat balik ke arah kamera.
“Yah, kurasa aku setuju dengan hal itu. Jadi beritahu aku, Mooky- jika kau bukan hanya sekedar teman khayalan, apa, uh, hal lain yang ingin kau lakukan?”
Lagi, dia menatap ke arah kursi dan mengangguk dalam kesunyian. Tapi dari komentar terakhirnya, semuanya pun menjadi jelas. Sepertinya Darren sedang membuat channel komedi. Hasil dari kebosanan dan mungkin harapan untuk mendapat perhatian setidaknya sekali saja, meski itu oleh orang asing dari internet. Atau mungkin ini hanyalah caranya untuk melewati kelesuan yang sama yang dirasakan oleh sebagian besar orang selama lockdown.
Pada saat dia menanyai “tamu”nya mengenani aspirasi untuk kedepannya, aku mengklik keluar videonya menuju ke beranda channelnya. Channelnya hanya terdapat tiga video yang diupload sejauh ini. “Dialog Bersama Darren – Mooky,” “Dialog Bersama Darren – Mooky Pt. II,” dan “Dialog Bersama Darren – The Watcher,” semua videonya berdurasi mulai dari empat sampai enam menit. Tidak ada dari videonya yang memiliki lebih dari satu like dan juga komentar apapun. Karena penasaran, aku pun mengklik salah satu videonya yang berjudul “Sang Pengawas”.
Videonya dimulai dengan cara yang sama seperti yang sebelumnya- perkenalan yang singkat dan canggung di dalam ruangannya yang gelap dan berantakan, penggeseran kursinya menjauhi dan mendekati sisi layar, lalu kemudian percakapan satu arah kepada ruang kosong di atas kursi yang lainnya. Darren, seperti host berkualitas lainnya, langsung terjun pada pertanyaan.
“Jadi, uh- kurasa kita langsung saja mulai dari yang paling jelas. Kenapa anda mengawasi orang-orang?”
Dia mulai mengangguk sendiri di dalam ruangan hening gelap yang hanya diterangi oleh layar komputernya. Dia terlihat lebih tegang daripada dirinya yang berada pada video Mooky; sosoknya terlihat lebih kaku dan posturnya mendongak keatas, seperti orang yang mencoba melihat ke jurang dari atas tebing tanpa terjatuh. Setelah beberapa saat, dia berbicara lagi.
“Yah, tentu, tapi, uh… bagaimana caramu menentukan orang yang mana?”
Hening, sementara Darren masih mengangguk.
“Dan apa yang terjadi-uh, kau tahu, jika mereka terbangun?”
Kali ini keheningannya berlangsung lebih lama dan terdapat lebih banyak anggukan, tapi ntah kenapa aku merasa ada aliran dingin yang menembus melaluiku pada saat wajah Darren terlihat ketakutan. Menurutku konsep teman khayalannya itu lucu dan konyol, tapi ntah kenapa yang satu ini membuatku merinding. Dan dari perasaan khawatir yang terpancar dari sorot matanya, Darren telah melakukan kerja bagus untuk berpura-pura terlihat ketakutan. Setelah beberapa saat mengangguk pada ketiadaan dan menunggu, Darren akhirnya berbicara sekali lagi, masih dengan imitasi gelagapannya terhadap pembawa acara televisi.
“Yah.. uh, itu hal yang baik untuk diketahui, kurasa. Untuk penonton kami dirumah, seperti yang baru saja dikatakan, selalunya lebih baik untuk kalian, membiarkan mata kalian tetap tertutup.”
Untuk sesaat layarnya tiba-tiba menjadi statis dan videonya pun terfokus kembali. Mungkin ini hanyalah imajinasiku tapi pada saat itu aku berani bersumpah kalau kursi kosongnya baru saja bergerak. Tidak banyak- mungkin hanya seinci atau lebih kebelakang, tapi saat aku memincingkan mataku, kursi itu benar-benar telihat sedikit lebih jauh dari kursi Darren. Itu, atau mungkin percobaannya untuk membuat video yang mengerikan telah berhasil mengejutkanku. Merasa terhibur, aku langsung mengklik kembali pada beranda channelnya dan memencet simbol lonceng agar aku dapat mendapat notifikasi baru darinya.

ilustrasi layar berkedip statis
Dua hari kemudian aku mendapat notifikasi pertamaku yang berisikan “Dialog Bersama Darren telah mengunggah sebuah video baru” berjudul “Dialog Bersama Darren – Juniper Smith.” Aku menunggu sampai sore dan mengeluarkan ponselku di atas ranjang untuk menontonnya sebelum tidur. Videonya kurang lebih sama seperti sebelumnya. Aku mendapati diskusi satu arah Darren sangat menarik saat aku mencoba untuk mencari tahu percakapan apa yang sedang dibayangkan olehnya.
“Terima kasih untuk, uh, telah datang hari ini Nyonya Smith! saya harap saya boleh mengatakan ini tapi, uh, gaun yang anda kenakan hari ini terlihat fantastis. Jadi, saya akan langsung ke pertanyaan, Saya uh- Saya tidak bermaksud kasar, tapi saya yakin sebagian besar orang pasti akan penasaran- kenapa nyonya bisa meninggal?” Darren mengatakan hal itu dengan sopan dan berhati-hati, seakan-akan dia sedang bertanya kepada orang yang sedang sakit keras seberapa lama lagi waktu mereka yang tersisa.
Hening.. bersama anggukan sopan dari Darren.
“Saya turut bersedih. Apakah ada yang mengetahui kejadian sebenarnya?”
Darren terlihat tersedak pada jawaban dari kesunyian.
“Itu, ah, yah- itu sangat menyedihkan. Maafkan saya,” ujarnya dengan suara serak yang emosional. “Jadi, apa yang terjadi setelahnya?”
Pertanyaan itu diikuti oleh kesunyian yang berlangsung cukup lama yakni sekitar tiga menit-an selagi Darren mengangguk pada ruang kosong di sampingnya. Aku menghabiskan waktuku untuk mempelajari kursi kosong itu, mencoba untuk menemukan setidaknya sedikit saja tanda-tanda kejadian supranatural. Tapi aku tidak menemukan apapun selain gumaman “uh-huh” atau “ooh” dari Darren yang dengan respek menunjukkan kepada tamu khayalannya bahwa mereka masih mendapatkan perhatian darinya. Aku hampir saja menekankan hidungku pada layar ponsel untuk memerhatikan bayangan-bayangan yang berada pada kamar Darren ketika dirinya tiba-tiba memulai kata-kata yang membuatku takjub.
“Wah- itu hal yang bagus! Uh, serius. Membantu gadis kecil seperti itu? Itu bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi setelah apa yang terjadi pada anda. Tapi anda tetap melakukannya, dan itu benar-benar menakjubkan!”
Aku tersenyum, bertanya-tanya bagimana caranya bisa menciptakan cerita seperti itu dan apakah terdapat dokumen Word dalam komputernya yang berisikan tentang skrip-skrip dari interviewnya selama ini. Aku ingin membacanya, jika benar-benar ada.
“Oke, yah.. uh- ya. Tepat sekali. Baiklah, terima kasih telah hadir dan terima kasih sekali lagi sudah mau berbagi pengalaman anda dengan kami, uh, Nyonya Smith. Saya rasa sudah waktunya untuk mengakhiri acara hari ini, saya berharap yang terbaik untuk anda dan tolong jagalah diri anda baik-baik.”
Dan dengan itu, Darren tersenyum ramah pada kursi kosong di sampingnya, berbalik dan menyenderkan kursinya pada komputernya, dan ketika tangannya keluar dari layar, videonya pun berakhir. Tampilan “video selanjutnya” dari Youtube pun muncul dengan video “Mooky” yang belum pernah kutonton, akan diputar pada beberapa detik berikutnya.
Tapi aku lebih memilih untuk mengeluarkan aplikasinya, berbaring di atas tempat tidur, dan memikirkan tentang wawancara yang baru saja kutonton. Aku telah memutuskan bahwa ketika sekolah sudah mulai beroperasi kembali, aku akan memberanikan diri untuk berbicara kepada Darren. Aku tidak mengerti kenapa aku tidak pernah berbicara padanya, selain karena tidak ada yang pernah melakukannya. Aku akan menyapanya dengan “hai.” Lalu bertanya bagaimana kabarnya selama pandemi berlangsung. Untuk melihat bagaimana keadaannya. Kurasa aku tidak akan menyinggung tentang channel Youtubenya, aku bermaksud untuk menjadi teman bicaranya. Seseorang yang benar-benar merespon ketika ditanyai.
Merasa puas dengan resolusiku, akupun membalikkan badanku dan tidur.
Quote:
Diubah oleh pngntrtidr 19-09-2021 20:49
0
Kutip
Balas
Tutup