- Beranda
- Stories from the Heart
REUNI
...
TS
papahmuda099
REUNI

Prolog
Quote:
Daftar isi :
Quote:
Tamat
*
Diubah oleh papahmuda099 17-10-2021 22:28
slametgudel dan 75 lainnya memberi reputasi
70
51.2K
889
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
papahmuda099
#242
Sang Penguasa
Sebelumnya di reuni...
Aku terkejut saat melihat sudah ada seseorang yang duduk di aula itu.
"Rasa-rasanya kayak kenal," kataku dalam hati sambil terus memicingkan mata untuk melihat wajah dari orang itu lebih jelas.
Dan aku langsung terkejut saat melihat sosok itu.
"Pak ustadz!"
*
"Nak Indra,"sahut pak ustadz sambil bangkit dari duduknya.
Beliau kemudian berjalan menghampiri kami. Aku lalu menyalaminya. Dan tak lupa ku kenalkan juga kepada bapak.
Kedua orang sakti itu lalu saling bertegur sapa sambil saling berjabat tangan dengan agak lama.

Aku lalu memecah keheningan itu dengan bertanya bagaimana pak ustadz bisa ada di istana ini.
Pak ustadz menjelaskan secara singkat, bahwa setelah gagal menemukan petunjuk dimana keberadaan Yusuf. Pak ustadz lalu mencari ku bersama dengan anaknya. Aku ditemukan pak ustadz didalam kamar dengan hanya raganya saja. Sedangkan sukma ku sudah tak ada.
"Saya lalu menggunakan ilmu teropong guna menemukan jejak keberadaan Sukma, nak Indra. Dan, hasilnya, saya tahu kalau nak Indra sedang bersama orang tua nak Indra, dan berniat mencari keberadaan Yusuf. Kemudian, saya meminta kepada pak Rahmat dan Yahya agar menjaga tubuh saya dan nak Indra. Lalu, saya langsung berangkat menyusul nak Indra dan juga bapak. Tapi sayang, saat saya datang, keadaan sudah genting. Jadi saya memutuskan untuk mendarat di di tempat sang penguasa," kata pak ustadz.
"Oh jadi cahaya putih yang membelah langit itu ternyata pak ustad?" Tanyaku takjub.
Ustaz mengangguk sambil tersenyum. Tanpa ada raut kesombongan di wajahnya.
"Lalu, pak ustadz?" Tanyaku lagi, sedangkan bapak hanya berdiri di sampingku sambil mendengarkan.
"Lalu saya mencoba bernegosiasi dan mengajak sang penguasa untuk melakukan pembicaraan terlebih dahulu. Karena semuanya pasti ada sebab dan musababnya. Lagian, kalau peperangan tadi dilanjutkan. Akan merugikan kedua belah pihak. Bahkan bisa jadi sang penguasa beserta para anak buahnya akan hancur karena kedatangan seseorang yang sangat sakti dari masa lalu," kata pak ustadz lagi.
"Siapa pak ustadz?" Tanyaku mengejar.
Pak ustadz hanya menggeleng. Beliau malah menganggukkan kepalanya kearah bapak. Seolah ingin memberitahukan kepadaku, bahwa jawaban tentang orang itu ada pada bapak.
Melihat isyarat itu, akupun tak bertanya lagi.
Disaat aku ingin bertanya kepada bapak, tiba-tiba saja terdengar suara gong yang sangat keras.
"Duanggggg!"
Kami bertiga terkejut dengan suara itu.
Setelah suara gema dari gong tadi hilang, sebuah suara entah dari mana tiba-tiba berucap dengan lantang dan keras.
"Para tamu undangan! Diharapkan kembali duduk di kursi yang tersedia. Sang penguasa, Ratu Mandalawangi (nama saya samarkan) akan segera memasuki aula pertemuan!"
Pak ustadz lalu mengajak kami berdua untuk duduk dikursi yang ada di aula besar itu. Kami duduk berdampingan. Pak ustadz, bapak, lalu aku duduk dipaling ujung.
Kemudian...
"Brak...brak...brak...!"
Suara sesuatu yang seperti langkah kaki orang banyak tampak terdengar di belakang yang kursi yang paling besar itu.
Tak lama kemudian munculah sepasukan prajurit berpakaian lengkap dari arah belakang kursi besar itu. Jumlahnya sekitar 30-an. Dan lagi-lagi pasukan itu berjenis siluman dengan badan manusia dengan kepala binatang. Tubuh mereka masing-masing sekitar 3 meter.
Ke-30 prajurit siluman itu kemudian berbaris dengan cara berdiri mengelilingi aula. Mata mereka semua menyorot dengan tajam memandangi kami bertiga.
"Pap...," Aku menyenggol tangan bapak.
"Iya Nang. Tenang aja," kata bapak menenangkanku sambil tersenyum. Tapi dari sorot matanya, bapak seperti memperhatikan keadaan dengan seksama. Mungkin bapak sedang lihat apakah ada celah ataupun kelemahan kan dari tempat ini. Sehingga bila sewaktu-waktu ternyata negosiasi dan pembicaraan ini gagal, lalu terpaksa terjadi bentrokan, langkah apa yang harus kami perbuat.
Saat jantungku masih berdebar and melihat pemandangan ini, tiba-tiba saja hidungku mencium aroma yang sangat wangi. Sebuah buah aroma yang belum pernah aku hirup selama ini. Bahkan sangking kuatnya aroma ini, aku hampir tidak bisa mengendalikan diriku.
Beruntung, bapak dengan sigap menyalurkan energi miliknya kepadaku. Hawa hangat segera menjalar disetiap inchi tubuhku. Membuatku kembali bisa menenangkan diri.
Tapi, ketenangan ku tak berlangsung lama. Karena sesuatu yang luar biasa tiba-tiba saja muncul dihadapan kami.
Ya, seorang perempuan dengan kecantikan dan kemolekan tubuh yang mendekati nilai sempurna bagi manusia, keluar dari balik kursi besar itu.
Jantungku serasa berhenti berdetak saat mataku melihat perempuan cantik itu. Dan makin tak bisa berkedip saat aku melihat, tubuh si perempuan yang nyaris tanpa busana itu. Padahal ia mengenakan kain yang menutupi seluruh tubuhnya. Kenapa bisa begitu? Itu karena kain yang ia kenakan tembus pandang. Hanya dibagian-bagian tertentu yang tidak tembus pandang.

sumber mbah google
Blank!
Otakku mendadak buntu. Tak bisa berfikir lagi demi melihat keindahannya.
Disaat aku terbius oleh kecantikan si perempuan, sebuah hawa panas tiba-tiba masuk dan seperti menghentakkan tubuhku dari mimpi.
"Akh...,"Desisku tertahan sambil memegang tanganku yang dicengkeram bapak.
Meskipun aku berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang keras. Tetapi suasana yang hening itu tetap membuat suaraku terdengar menggema di aula itu.
Dan, hal itu rupanya menarik perhatian dari si perempuan yang saat itu tengah berjalan kearah kursi besar ditengah aula dengan didampingi oleh beberapa perempuan yang tak kalah moleknya. Para perempuan itu semuanya mengenakan pakaian ketat yang sangat menonjolkan aurat mereka. Dan, mereka semua mengenakan sebuah cadar yang menutupi wajahnya. Cadar mereka berbeda-beda. Menurutku, mereka semua adalah para dayangnya.
Perempuan itu lalu duduk dengan anggunnya. Dikiri dan kanannya, bersimpuh para dayang sambil menundukkan kepalanya.
Aku melihat sebuah senyuman yang bisa membuat syahwatku naik, muncul dari bibirnya. Lalu, sebuah suara yang sangat indah keluar dari mulutnya.
"Ada apa cah bagus?"
Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuatku gelagapan. Aku hanya bisa duduk dengan sedikit gelisah. Merasa tak nyaman akan pertanyaan yang sebenarnya sederhana itu.
Aku akhirnya hanya bisa menggelengkan kepalaku sambil menundukkan kepala. Tak sanggup rasanya mata ini melihat tatapan matanya yang sangat menggoda.
Tatapan mata perempuan cantik itu seolah-olah berkata kepadaku, "Sayang...ayo ke kamar,"

Skip...
Kita lewatkan saja kebodohanku yang terpesona akan keindahan alam gaib.

Tak lama kemudian, terjadilah percakapan antara perempuan cantik yang ternyata adalah sang Ratu Mandalawangi alias sang penguasa, dengan bapak dan pak ustadz.
Inti dari percakapan itu adalah, sang ratu mempertanyakan mengapa bapak memusnahkan kerajaan milik siluman ular buntung.
Bapak lalu menjelaskan kenapa ia terpaksa harus menghancurkan kerajaan itu. Hal ini karena bapak takut, apabila ada manusia yang akan memanfaatkan kekuatan siluman ular buntung yang sakti itu. Yang bisa membunuh manusia secara mudah. Awalnya, bapak sudah menawarkan jalan damai, tapi siluman itu mengajak perang. Maka apa boleh buat, terjadilah pertempuran di antara mereka. Yang menyebabkan kehancuran dan kekalahan sang ular buntung.
"Lalu, darimana kamu bisa tahu tentang keberadaan siluman ular buntung itu?" Tanya sang ratu penguasaan.
Bapak menghela nafas panjang. Sebelum menjawab, bapak melirik ke arahku dulu.
"Aku bisa tahu, karena saat itu aku datang ke sini untuk menyelamatkan anakku dari gangguan gaib. Dan setelah ku teliti, gangguan yang dialami oleh anakku dan teman-temannya adalah disebabkan oleh siluman ular buntung itu. Jadi aku memutuskan untuk memberinya pelajaran agar tidak mengganggu lagi. Tapi karena terbawa oleh suasana, maka terjadilah peperangan itu."
"Hahaha...," Sang penguasa tertawa renyah. Sangat merdu sekali. Saat perempuan cantik itu tertawa, aku bisa melihat deretan giginya yang putih dan sempurna. Rasanya ingin kumasukkan sesuatu ke dalam mulut indahnya itu

"Kamu jangan munafik manusia. Perbuatan siluman ular buntung itu, terjadi akibat tindakan ceroboh dari para manusia itu sendiri. Yang tidak memiliki sopan santun ataupun unggah ungguh kepada alam dan sekitarnya. Apakah mereka tidak sadar kalau hidup mereka itu saling berdampingan dengan kami, para makhluk halus, yang sama-sama makhluk Tuhan," katanya sedikit menyindir.
Bapak hanya bisa diam. Karena memang apa yang dikatakan oleh sang penguasa itu benar adanya. Aku sendiri pun tak membantah.
"Tapi, apa yang dilakukan oleh Yusuf temanku itu tak seberapa kurang ajar kan? Hanya karena dia menendang sesajen di rumah itu, kami semua harus mengalami hal yang luar biasa menakutkan," kataku keceplosan.
Dan lagi-lagi sang penguasa, Ratu Mandalawangi, tertawa.
"Apa yang kalian manusia lihat sepele, belum tentu sama sepelenya didunia kami. Semua di dunia ini ada sebab dan musababnya. Begitu juga dengan sesajen itu. Sesajen yang temanmu tendang dengan sengaja. Sesajen itu adalah tanda, bahwa manusia yang tinggal di situ menghargai kami. Jadi, apa yang akan kalian lakukan bila ada orang asing yang tiba-tiba saja merusak benda pemberian temannya? Tentu kalian para manusia juga akan marah bukan?" Tanya sang penguasa sambil tersenyum sinis.
Dan lagi-lagi suasana menjadi hening. Karena di dalam hati kecil kami membenarkan perkataannya.
"Ratu," pak ustaz yang sedari tadi diam mulai berkata.
Ratu Mandalawangi menoleh ke arahnya.
"Seperti yang saya katakan sewaktu di luar istana tadi. Sebaiknya, kekerasan harus dihindari. Bukan, bukan karena saya merendahkan kemampuan Ratu. Melainkan ini demi kebaikan bersama saja," kata pak ustadz sembari tersenyum.
Ratu Mandalawangi mendengus. Matanya lalu melirik kearah bapak dengan tatapan mata yang tajam. Seolah menyelidiki dengan seksama, siapakah bapak sebenarnya. Lirikan itu lalu berpindah kepadaku. Tapi hanya sebentar, kemudian ke bapak lagi.
"Apakah benar bahwa kamu, adalah keturunan dari Jabang bayi?" Tanya Ratu Mandalawangi tiba-tiba.
Bapak yang entah kenapa, tiba-tiba saja tersenyum. Seolah bapak sudah menduga, bahwa pertanyaan itu, cepat atau lambat akan digunakan.
"Betul," ucap bapak tegas.
"Aku perlu bukti. Karena benar atau tidaknya hal ini, akan mempengaruhi keputusanku,"
Lalu sang Ratu menyuruh salah satu dayangnya yang menggunakan cadar berwarna merah, agar maju kearah bapak. Ditangannya tergenggam sebuah mangkok kecil dan sebilah pisau.
Bapak mengambil kedua benda itu tanpa ragu. Dengan sigap, bapak lalu menyerahkannya kepadaku.
"Iris sedikit jarimu, Nang. Lalu teteskan diatas mangkok ini," kata bapak pelan.
"Ebuset! Kirain mau pake darah bapak sendiri," gerutu ku.
"Hehehe...bapak takut darah, Nang," kata bapak tertawa kecil.
"Takut darah si sok-sokan ngajakin perang," kesalku.
Bapak hanya tertawa

Anehnya, Ratu Mandalawangi seolah tidak mempermasalahkan hal itu. Ia hanya membiarkannya saja.
Setelah selesai, bapak menyerahkan kembali mangkok yang berisi tetesan darah ku kepada dayang tadi.
Sang dayang lalu kembali berjalan mundur ke arah sang ratu. Ia lalu menyerahkan mangkok itu padanya.
Mangkok diambil, darah milikku yang ada disana tiba-tiba saja dijilatnya. Lalu, Ratu Mandalawangi tampak memejamkan kedua matanya. Seolah meresapi darahku.
Hening.
Tak lama kemudian, Ratu Mandalawangi kembali membuka matanya. Tatapan matanya yang indah menyorot dengan tajam kepadaku.
Ratu Mandalawangi lalu tampak membisikkan sesuatu kepada dayangnya yang memakai cadar berwarna hijau. Sepertinya apa yang dikatakan oleh sang Ratu lumayan panjang, karena cukup lama ia berbisik.
Tak lama, Ratu Mandalawangi berdiri dari duduknya. Dengan tanpa berkata apa-apa, Ratu cantik ini pergi, masuk kembali kedalam istananya. Meninggalkan kami bertiga. Para dayangnya juga ikut masuk mengiringinya, kecuali dua orang dayang. Satu bercadar hijau, dan satu lagi bercadar biru.
Setelah sang Ratu masuk dan menghilang. Para prajurit yang mengelilingi kami juga ikut masuk.
Kini, di aula besar itu hanya tersisa kami bertiga plus 2 orang dayang. Dayang yang menggunakan cadar kain hijau mendekat ke arah kami. Ia lalu berkata.
"Sang penguasa, Ratu Mandalawangi sudah memaafkan perbuatan kalian yang telah menghancurkan kerajaan sekutunya. Akan tetapi, untuk membebaskan teman dari anak muda ini," katanya sambil menunjuk ke arahku, "Sang Ratu tidak akan membantu, tapi dia boleh melakukannya sendiri. Hanya sendiri dan tidak boleh dibantu oleh siapapun. Itulah persyaratan yang diberikan oleh sang Ratu apabila kalian ingin membebaskan manusia itu. Itulah syarat yang diberikan oleh sang ratu, untuk anak keturunan jabang bayi."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku cepat.
"Kamu nanti akan diantarkan oleh temanku untuk menuju tempat dimana temanmu kami tahan atas perbuatannya," jawab perempuan bercadar hijau itu sambil menunjuk temannya yang bercadar biru.
"Dan bagaimana dengan kami?" Tanya bapak.
"Anda berdua akan kami siapkan tempat untuk menunggu. Dan saya yang akan mengantarkan Anda berdua," jawabnya.
Sadar bahwa tak ada lagi yang bisa kami perbuat. Bapak akhirnya menyetujui persyaratan itu. Tapi, sebelum kami berpisah, bapak mengajakku berbicara berdua terlebih dahulu. Kami lalu sedikit menjauh dari mereka. Bapak kemudian menyerahkan dua buah benda dan langsung diselipkan ke dalam bajuku.
"Gunakan kedua benda ini dengan baik, Nang. Kamu sudah pernah melihat bapak pakai dua benda ini. Jadi kamu pasti bisa," ucapnya cepat sambil menepuk-nepuk pundakku.
Lalu kami berdua pun kembali ke tempat. Setelah diberi beberapa wejangan oleh pak ustadz. Akhirnya, akupun berjalan mengikuti perempuan bercadar biru. Sedangkan bapak dan pak ustadz, berjalan mengikuti perempuan bercadar hijau. Kami berjalan dengan tujuan yang berbeda.
***
sulkhan1981 dan 30 lainnya memberi reputasi
31