- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR STORY) KAMPUNG SEPUH
...
TS
jurigciwidey
(HORROR STORY) KAMPUNG SEPUH
Sebelumnya banyak yang request untuk kelanjutan cerita di thread saya yang ini dan disarankan sebelum membaca cerita ini, baca dahulu cerita di link ini.. karena ini adalah cerita lanjutan dari thread sebelumnya
namun karena satu dan lain hal ane mempercepat ceritanya sehingga masih banyak misteri yang belum di ungkap
cerita ini mengisahkan tentang lanjutan cerita di atas

INDEX
2-Aki Karma Part 1
3-Aki Karma Part 2
4-Aki Karma Part 3
5-Aki Karma Part 4
6-AUL
7-AUL PART 2
8-AUL PART 3
9-AUL PART 4
10-Menjaga kampung
Thread ane lainya
(HORROR STORY) TUMBAL PABRIK
namun karena satu dan lain hal ane mempercepat ceritanya sehingga masih banyak misteri yang belum di ungkap
cerita ini mengisahkan tentang lanjutan cerita di atas

Spoiler for 1-TUTUPNYA WARUNG:
Pagi itu di kampung sepuh tidak seperti biasanya suara orang-orang berjalan begitu terlihat tergesa-gesa tanpa ada satu orang pun yang berbicara, hening hanya suara langkah mereka yang melangkah ke tujuan yang sama, suasana pun mendadak ramai di salah satu rumah warga, mereka sedang berduka. Karena salah satu warga mereka meninggal di hari ini. Sudah menjadi salah satu tradisi di kampung sepuh, apabila ada yang meninggal, mereka ikut membantu untuk proses pemakamanya.
Para warga sengaja menghentikan aktifitasnya hari itu untuk membantu proses pemakamanya. Terlihat pula isak tangis dari para ibu-ibu yang datang di hari itu.
Kampung sepuh sekali lagi kehilangan salah satu sosok yang menjadi panutan bagi mereka. Setelah suaminya meninggal 4 tahun yang lalu, dan anak semata wayangnya yang pergi meninggalkan kampung sepuh yang tidak pernah kembali lagi setelah anaknya mengalami beberapa kejadian di kampung sepuh ketika pulang untuk membantu ibunya selepas lulus kuliah.
Dan akhirnya sang ibumenghembuskan napas terakhir dalam kesendirian di kampung sepuh.
Banyak sekali warga kampung yang turut membantu, sebagian dari mereka membantu memandikan jenazah, dan sebagianya lagi pergi ke pemakaman umum di kampung sepuh untuk menggali makam tepat di samping makam suaminya.
Proses memandikan dan memakaikan kain kafan kepadanya tidak berlangsung lama. Dan terlihat beberapa rombongan yang saling beriringan menuju ke salah satu pemakaman umum yang ada di kampung sepuh, para warga saling bergantian mengangkat keranda mayat yang penuh dengan kalungan bunga berwarna-warnj dengan ditemani oleh warga yang seakan-akan mengantarkanya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Orang-orang tampak begitu terpukul suasana begitu duka sehingga di setiap langkah rombongan pengantar jenazah hanya terdengar suara tangis. Tentu saja begitu berat bagi semua orang melepas kepergian orang yang begitu banyak berjasa, orang yang selalu menyapa dengan riang dan selalu siap membantu kapan pun waktu nya jika warga membutuhkan, terutama setelah sangat suami meninggal dan sang anak yang lebih memilih untuk kembali ke kota, ibu selalu mengisi hari-harinya dengan menyibukan diri membantu warga sekitar.
pemakaman umum letaknya di ujung kampung yang bersebelahan dengan sungai yang melewati kampung di sebelah utara. Pemakaman itu awalnya adalah tanah kosong yang hanya rumput-rumputan saja yang tumbuh disana akhirnya dipakai oleh pemakaman oleh masyarakat kampung karena lokasinya pun tidak begitu jauh dari pemukiman warga.
Pemakaman tersebut dipakai dari jaman dulu hingga sekarang, sehingga apabila masyarakat kampung sepuh ke makam di waktu-waktu tertentu seperti ketika di hari raya, atau sebelum melaksanakan pernikahan. Mereka berjiarah kesana mengunjungi makam orangtuanya, juga ke makam kakek nenek hingga leluhurnya. Karena dari jaman dahulu semua masyarakat kampung sepuh yang meninggal pasti dimakamkan disana.
Rombongan itu berjalan menyusuri kampung melewati beberapa rumah warga sepanjang kampung sepuh. lalu kemudian rombongan itu masuk ke salah satu jalan setapak di ujung desa, jalan dengan kontur tanah yang apabila berjalan di jalan itu di malam hari akan terasa becek dan bercampur lumpur.
Jalan setapak itu nampak terjal karena menurun dan kontur tanahnya tidak rata. Di kanan kirinya tumbuh pohon liar yang dibiarkan begitu saja oleh warga kampung dan dedaunanya menghalangi sinar matahari sehingga suasananya terlihat sangat sejuk, terlihat juga beberapa daun yang berjatuhan diterpa angin dan suara-suara serangga yang ada di dahan pohon yang menemani rombongan itu berjalan.
Terlihat disana terlihat gapura yang terlihat usang, gapura pemakaman yang terbuat dari besi berwarna hitam dan plat besi berwarna putih di atasnya yang bertulisan
PEMAKAMAN UMUM KAMPUNG SEPUH
Tiang-tiang gapura itu sudah terlihat usang tiang-tiangnya sudah berkarat, dan tulisan di atasnya sudah tidak jelas terlihat karena cat yang luntur, dan warna putih di atasnya pun sudah terlihat menguning.
Rombongan itu kemudian melewati gapura, dan melihat tanah pemakaman yang membentang luas, disana terlihat banyak makam dari beberapa generasi, terlihat dari jenis makamnya dari yang memakai batu sebagai dinding makam, hingga makam yang sudah dilapisi oleh keramik di sekeliling makamnya.
Hari sudah beranjak siang tapi suasanya sungguh berbeda, hawa sejuk yang kurasa ketika rombongan berjalan tadi perlahan menghilang, digantikan oleh perasaan yang dihiasi rasa takut di sekujur tubuh. Apalagi di tengah-tengah pemakaman itu terdapat satu pohon beringin yang besar yang berdiri kokoh. Saking rindangnya ranting-rantingnya menutupi sinar matahari yang masuk menutupi makam-makam di sekitarnya sehingga tidak tersinari oleh matahari.
Rombongan itu kemudian belok ke salah satu sudut pemakaman itu. Disana terdapat salah satu makam dengan dinding batu dan pohon yang tumbuh di atas makamnya. Terlihat tulisan dengan tanggal lahir dan tanggal meninggal yang terlihat usang dan sedikit muncul lumut di ujungnya. Di sebelahnya ada makam kosong yang sudah digali, untuk tempat peristirahatan ibu yang terakhir.
***
Sore hari di kampung sepuh nampak sibuk, setelah pagi hari membantu proses pemakaman salah satu warganya. Kini para warga kampung sepuh berkumpul di salah satu rumah sesepuh kampung yaitu rumah Aki Karma, salah satu orang yang dituakan di kampung sepuh. mereka terlihat membicarakan salah satu persoalan yang belum di selesaikan, terlihat dari beberapa obrolan yang serius tentang salah satu peninggalan salah seorang warganya yang meninggal di pagi hari tadi.
“Mang Rusdi? Gimana, apakah anaknya sudah bisa di hubungi” Kata Aki karma ke pada salah satu warga yang sedang berkumpul.
“nomornya tidak aktif ki, saya juga tidak tahu sekarang dia tinggal dimana?” jawab mang rusdi dengan nada yang lesu.
Beberapa orang dari mereka terlihat kebingungan, karena anak satu-satunya tidak bisa dihubungi. Mereka ingin menghubunginya dan memberitahukanya bahwa ibunya telah meninggal di hari itu.
Selain itu ada permasalahan lain yang perlu dibahas, yaitu tentang warung dan rumah peninggalan satu satunya yang harus segera di wariskan. yaitu warung yang harus keluarganya jaga selama beberapa generasi dan tidak pernah ditutup satu kalipun, namun kali ini tidak ada yang melanjutkan. Karena anaknya sudah hampir 3 tahun meninggalkan kampung sepuh. Dan tidak pernah kembali lagi ke kampung tersebut
Terjadi perdebatan di antara mereka, beberapa dari mereka menyarankan untuk tetap melanjutkan dengan cara bergiliran setiap malam sambil menunggu anak semata wayangnya pulang dan melanjutkan untuk menjaga warung yang telah diwariskanya turun temurun di keluarganya,dan sebagianya lagi menyarankan untuk menutupnya sambil menunggu anaknya pulang.
Aki karma adalah orang yang paling lantang untuk tetap membuka warung tersebut, dan warga bergiliran untuk berjaga di malam hari sembari menunggu anaknya pulang.
Aki karma beranggapan apabila menutupnya, mereka takut akan kejadian dahulu terulang kembali yang terjadi, sebuah kejadian yang menimpa kampung sepuh ketika 60 tahun yang lalu. Yang mengakibat para makhluk halus di gunung sepuh datang dan mengganggu kampung itu setiap malam.
Hingga akhirnya salah satu warga melakukan perjanjian dengan mereka, dan merelakan tubuhnya serta turunannya untuk melayani mereka dengan membuat warung sebagai batas agar para makhluk tidak datang menganggu warga kampung.
Sehingga para warga kampung pun bisa tidur nyenyak tanpa rasa cemas terganggu oleh para mahluk yang datang setiap malam, meskipun konsekuensinya para warga tidak boleh keluar di malam hari, karena ditakutkan mereka akan datang dan bertemu para makhluk yang datang ke warung.
Namun beberapa warga berpendapat bahwa mereka tidak sanggup apalagi harus menjaga warung itu. mereka pula beralasan bahwa perjanjian itu sudah setengah abad yang lalu, bahkan generasi saat ini banyak yang tidak percaya akan hal itu.
Kebanyakan mereka berpendapat dengan menutup warung itu, tidak akan terjadi apa-apa di kehidupan warga kampung sepuh. Mereka sempat menyinggung anak semata wayangnya yang meninggalkan kampung 3 tahun yang lalu, mereka menganggap anak itu tidak mau menjaga warung itu lagi setelah menerima kejadian yang membuat dia tidak sadarkan diri.
Bahkan dia bercerita dia bertemu dengan Indah anak kang darman di pemakaman itu dan menyuruhnya untuk meninggalkan kampung sepuh dan tidak pernah kembali hingga saat ini.
perdebatan itu berlangsung lama . Para warga saling memberikan pendapat antara satu dan lainya, akhirnya warga pun sepakat melakukan voting untuk keputusan terhadap warung itu, dan akhirnya banyak warga sepakat mengambil keputusan setuju untuk menutup warung itu. Alasanya beragam, namun kebanyakan dari mereka tidak berani apabila harus menjaga warung di malam hari apalagi kalau harus setiap malam berjaga.
Aki karma selaku yang dituakan di kampung itu merasa tidak setuju dengan hasil akhir dari pertemuan itu. Namun dia hanya bisa menerima keputusan dari para warga yang hadir di pertemuan itu.
***
Pukul 17:30 warga akhirnya menutup warung, warung yang selama ini berdiri dan tidak pernah tutup selama hampir setengah abad. Akhirnya terpaksa ditutup oleh warga, banyak memory dan kenangan dari beberapa warga dari kampung itu, karena selain tempat membeli keperluan, warung itu juga menjadi tempat berkumpul para petani di sore hari ketika pulang dari sawah. Mereka sekedar beristirahat dan memesan kopi dan bercengkrama satu sama lain dengan warga yang datang ke warung.
Pukul 18:00 para warga membubarkan diri dan kembali ke rumahnya masing-masing, mereka kembali ke keluarganya untuk makam malam di rumah masing-masing dan berisitrahat seperti biasanya, seperti tidak ada bedanya dengan malam-malam sebelumnya, namun.
Terlihat di seberang warung, beberapa mata yang menatap tajam ke arah warung yang kini sudah tutup itu. Mata yang berwarna merah yang terlihat dari sela-sela dedaunan di seberang jalan. Mereka sepertinya tidak terima dengan ditutupnya warung itu.
Para warga sengaja menghentikan aktifitasnya hari itu untuk membantu proses pemakamanya. Terlihat pula isak tangis dari para ibu-ibu yang datang di hari itu.
Kampung sepuh sekali lagi kehilangan salah satu sosok yang menjadi panutan bagi mereka. Setelah suaminya meninggal 4 tahun yang lalu, dan anak semata wayangnya yang pergi meninggalkan kampung sepuh yang tidak pernah kembali lagi setelah anaknya mengalami beberapa kejadian di kampung sepuh ketika pulang untuk membantu ibunya selepas lulus kuliah.
Dan akhirnya sang ibumenghembuskan napas terakhir dalam kesendirian di kampung sepuh.
Banyak sekali warga kampung yang turut membantu, sebagian dari mereka membantu memandikan jenazah, dan sebagianya lagi pergi ke pemakaman umum di kampung sepuh untuk menggali makam tepat di samping makam suaminya.
Proses memandikan dan memakaikan kain kafan kepadanya tidak berlangsung lama. Dan terlihat beberapa rombongan yang saling beriringan menuju ke salah satu pemakaman umum yang ada di kampung sepuh, para warga saling bergantian mengangkat keranda mayat yang penuh dengan kalungan bunga berwarna-warnj dengan ditemani oleh warga yang seakan-akan mengantarkanya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Orang-orang tampak begitu terpukul suasana begitu duka sehingga di setiap langkah rombongan pengantar jenazah hanya terdengar suara tangis. Tentu saja begitu berat bagi semua orang melepas kepergian orang yang begitu banyak berjasa, orang yang selalu menyapa dengan riang dan selalu siap membantu kapan pun waktu nya jika warga membutuhkan, terutama setelah sangat suami meninggal dan sang anak yang lebih memilih untuk kembali ke kota, ibu selalu mengisi hari-harinya dengan menyibukan diri membantu warga sekitar.
pemakaman umum letaknya di ujung kampung yang bersebelahan dengan sungai yang melewati kampung di sebelah utara. Pemakaman itu awalnya adalah tanah kosong yang hanya rumput-rumputan saja yang tumbuh disana akhirnya dipakai oleh pemakaman oleh masyarakat kampung karena lokasinya pun tidak begitu jauh dari pemukiman warga.
Pemakaman tersebut dipakai dari jaman dulu hingga sekarang, sehingga apabila masyarakat kampung sepuh ke makam di waktu-waktu tertentu seperti ketika di hari raya, atau sebelum melaksanakan pernikahan. Mereka berjiarah kesana mengunjungi makam orangtuanya, juga ke makam kakek nenek hingga leluhurnya. Karena dari jaman dahulu semua masyarakat kampung sepuh yang meninggal pasti dimakamkan disana.
Rombongan itu berjalan menyusuri kampung melewati beberapa rumah warga sepanjang kampung sepuh. lalu kemudian rombongan itu masuk ke salah satu jalan setapak di ujung desa, jalan dengan kontur tanah yang apabila berjalan di jalan itu di malam hari akan terasa becek dan bercampur lumpur.
Jalan setapak itu nampak terjal karena menurun dan kontur tanahnya tidak rata. Di kanan kirinya tumbuh pohon liar yang dibiarkan begitu saja oleh warga kampung dan dedaunanya menghalangi sinar matahari sehingga suasananya terlihat sangat sejuk, terlihat juga beberapa daun yang berjatuhan diterpa angin dan suara-suara serangga yang ada di dahan pohon yang menemani rombongan itu berjalan.
Terlihat disana terlihat gapura yang terlihat usang, gapura pemakaman yang terbuat dari besi berwarna hitam dan plat besi berwarna putih di atasnya yang bertulisan
PEMAKAMAN UMUM KAMPUNG SEPUH
Tiang-tiang gapura itu sudah terlihat usang tiang-tiangnya sudah berkarat, dan tulisan di atasnya sudah tidak jelas terlihat karena cat yang luntur, dan warna putih di atasnya pun sudah terlihat menguning.
Rombongan itu kemudian melewati gapura, dan melihat tanah pemakaman yang membentang luas, disana terlihat banyak makam dari beberapa generasi, terlihat dari jenis makamnya dari yang memakai batu sebagai dinding makam, hingga makam yang sudah dilapisi oleh keramik di sekeliling makamnya.
Hari sudah beranjak siang tapi suasanya sungguh berbeda, hawa sejuk yang kurasa ketika rombongan berjalan tadi perlahan menghilang, digantikan oleh perasaan yang dihiasi rasa takut di sekujur tubuh. Apalagi di tengah-tengah pemakaman itu terdapat satu pohon beringin yang besar yang berdiri kokoh. Saking rindangnya ranting-rantingnya menutupi sinar matahari yang masuk menutupi makam-makam di sekitarnya sehingga tidak tersinari oleh matahari.
Rombongan itu kemudian belok ke salah satu sudut pemakaman itu. Disana terdapat salah satu makam dengan dinding batu dan pohon yang tumbuh di atas makamnya. Terlihat tulisan dengan tanggal lahir dan tanggal meninggal yang terlihat usang dan sedikit muncul lumut di ujungnya. Di sebelahnya ada makam kosong yang sudah digali, untuk tempat peristirahatan ibu yang terakhir.
***
Sore hari di kampung sepuh nampak sibuk, setelah pagi hari membantu proses pemakaman salah satu warganya. Kini para warga kampung sepuh berkumpul di salah satu rumah sesepuh kampung yaitu rumah Aki Karma, salah satu orang yang dituakan di kampung sepuh. mereka terlihat membicarakan salah satu persoalan yang belum di selesaikan, terlihat dari beberapa obrolan yang serius tentang salah satu peninggalan salah seorang warganya yang meninggal di pagi hari tadi.
“Mang Rusdi? Gimana, apakah anaknya sudah bisa di hubungi” Kata Aki karma ke pada salah satu warga yang sedang berkumpul.
“nomornya tidak aktif ki, saya juga tidak tahu sekarang dia tinggal dimana?” jawab mang rusdi dengan nada yang lesu.
Beberapa orang dari mereka terlihat kebingungan, karena anak satu-satunya tidak bisa dihubungi. Mereka ingin menghubunginya dan memberitahukanya bahwa ibunya telah meninggal di hari itu.
Selain itu ada permasalahan lain yang perlu dibahas, yaitu tentang warung dan rumah peninggalan satu satunya yang harus segera di wariskan. yaitu warung yang harus keluarganya jaga selama beberapa generasi dan tidak pernah ditutup satu kalipun, namun kali ini tidak ada yang melanjutkan. Karena anaknya sudah hampir 3 tahun meninggalkan kampung sepuh. Dan tidak pernah kembali lagi ke kampung tersebut
Terjadi perdebatan di antara mereka, beberapa dari mereka menyarankan untuk tetap melanjutkan dengan cara bergiliran setiap malam sambil menunggu anak semata wayangnya pulang dan melanjutkan untuk menjaga warung yang telah diwariskanya turun temurun di keluarganya,dan sebagianya lagi menyarankan untuk menutupnya sambil menunggu anaknya pulang.
Aki karma adalah orang yang paling lantang untuk tetap membuka warung tersebut, dan warga bergiliran untuk berjaga di malam hari sembari menunggu anaknya pulang.
Aki karma beranggapan apabila menutupnya, mereka takut akan kejadian dahulu terulang kembali yang terjadi, sebuah kejadian yang menimpa kampung sepuh ketika 60 tahun yang lalu. Yang mengakibat para makhluk halus di gunung sepuh datang dan mengganggu kampung itu setiap malam.
Hingga akhirnya salah satu warga melakukan perjanjian dengan mereka, dan merelakan tubuhnya serta turunannya untuk melayani mereka dengan membuat warung sebagai batas agar para makhluk tidak datang menganggu warga kampung.
Sehingga para warga kampung pun bisa tidur nyenyak tanpa rasa cemas terganggu oleh para mahluk yang datang setiap malam, meskipun konsekuensinya para warga tidak boleh keluar di malam hari, karena ditakutkan mereka akan datang dan bertemu para makhluk yang datang ke warung.
Namun beberapa warga berpendapat bahwa mereka tidak sanggup apalagi harus menjaga warung itu. mereka pula beralasan bahwa perjanjian itu sudah setengah abad yang lalu, bahkan generasi saat ini banyak yang tidak percaya akan hal itu.
Kebanyakan mereka berpendapat dengan menutup warung itu, tidak akan terjadi apa-apa di kehidupan warga kampung sepuh. Mereka sempat menyinggung anak semata wayangnya yang meninggalkan kampung 3 tahun yang lalu, mereka menganggap anak itu tidak mau menjaga warung itu lagi setelah menerima kejadian yang membuat dia tidak sadarkan diri.
Bahkan dia bercerita dia bertemu dengan Indah anak kang darman di pemakaman itu dan menyuruhnya untuk meninggalkan kampung sepuh dan tidak pernah kembali hingga saat ini.
perdebatan itu berlangsung lama . Para warga saling memberikan pendapat antara satu dan lainya, akhirnya warga pun sepakat melakukan voting untuk keputusan terhadap warung itu, dan akhirnya banyak warga sepakat mengambil keputusan setuju untuk menutup warung itu. Alasanya beragam, namun kebanyakan dari mereka tidak berani apabila harus menjaga warung di malam hari apalagi kalau harus setiap malam berjaga.
Aki karma selaku yang dituakan di kampung itu merasa tidak setuju dengan hasil akhir dari pertemuan itu. Namun dia hanya bisa menerima keputusan dari para warga yang hadir di pertemuan itu.
***
Pukul 17:30 warga akhirnya menutup warung, warung yang selama ini berdiri dan tidak pernah tutup selama hampir setengah abad. Akhirnya terpaksa ditutup oleh warga, banyak memory dan kenangan dari beberapa warga dari kampung itu, karena selain tempat membeli keperluan, warung itu juga menjadi tempat berkumpul para petani di sore hari ketika pulang dari sawah. Mereka sekedar beristirahat dan memesan kopi dan bercengkrama satu sama lain dengan warga yang datang ke warung.
Pukul 18:00 para warga membubarkan diri dan kembali ke rumahnya masing-masing, mereka kembali ke keluarganya untuk makam malam di rumah masing-masing dan berisitrahat seperti biasanya, seperti tidak ada bedanya dengan malam-malam sebelumnya, namun.
Terlihat di seberang warung, beberapa mata yang menatap tajam ke arah warung yang kini sudah tutup itu. Mata yang berwarna merah yang terlihat dari sela-sela dedaunan di seberang jalan. Mereka sepertinya tidak terima dengan ditutupnya warung itu.
INDEX
2-Aki Karma Part 1
3-Aki Karma Part 2
4-Aki Karma Part 3
5-Aki Karma Part 4
6-AUL
7-AUL PART 2
8-AUL PART 3
9-AUL PART 4
10-Menjaga kampung
Thread ane lainya
(HORROR STORY) TUMBAL PABRIK
Diubah oleh jurigciwidey 23-10-2021 11:40
edam dan 96 lainnya memberi reputasi
89
57.8K
Kutip
348
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#63
Akhirnya HT lagi ahahaha
maaf menunggu karena kesibukan kerja dan persiapan buat test CPNS 2 minggu lagi jadi otak terbagi antara belajar kerja ama nulis
untuk thread sebelah belum bisa ke update, masih belum konek buat nulisnya hehe
“Tok, tok, tok”
Dalang memukul kotak yang ada di sebelahnya sebanyak tiga kali, menandakan bahwa pertunjukan wayang akan dimulai. Tak lama para pemain gamelan memaikan musiknya, musik yang beriringan dan saling melengkapi satu sama lain. Terdengar juga riuh penonton yang sedang menonton pagelaran di malam itu mereka menonton pagelaran wayang itu dengan sangat antusias, karena sudah lama mereka tidak melihat pagelaran wayang.
Sindenpun mulai menyanyi, menyanyi lagu-lagu sunda dengan nada tinggi. Nyanyian itu menggema ke setiap sudut, membuat para penonton terpana oleh nyanyian sinden itu.
Pertunjukan wayang itu berlangsung meriah, para penonton yang hadir pun datang dari segala arah mereka sengaja datang untuk melihat pertunjukan. Sang dalang mengangkat wayang yang dia mainkan peran wayang dengan gagahnya, kali ini yang di atas panggung adalah sesosok Buta berwarna hitam dan sesosok raksasa dengan pakaian la
yaknya dewa. Sang dalang sangat pandai mengubah suaranya menjadi dua sosok itu.
Tapi ada yang aneh dari pertunjukan wayang itu, meskipun pertunjukan wayang itu sangat meriah. Tapi terlihat dalang dan para pemain gamelan serta sinden terlihat kelelahan, seperti mereka sudah mengadakan pertunjukan disana tanpa henti. Terlihat dari keringat mereka yang bercucuran ke tanah, serta pakaian dan rambut mereka yang lusuh, dan mata mereka yang bertahan menahan ngantuk yang sangat menyiksa.
Terlihat di tengah-tengah para pemain gamelan Aki karma membantu mereka untuk tetap bermain dan mencoba membantu agar pertunjukan itu tidak terhenti di tengah jalan. Wajah Aki karma juga terlihat sangat lusuh, dengan kelopak mata yang sudah menghitam karena sudah lama tidak tidur. Aki karma tetap membantu pertunjukan wayang itu agar tetap, berjalan.
“BRAK”
Salah satu pemain gamelan terlihat tidak kuat lagi sehingga tubuhnya ambruk ke tanah, terlihat dari tubuhnya yang sudah kuat lagi bermain gamelan di pertunjukan itu. Sontak pertunjukan wayang mendadak berhenti, dalang serta pemain gamelan lainya terlihat mendekati pemain gamelan yang pingsan itu. Terlihat Aki karma juga berdiri dari duduknya dan mendekati pemain itu.
Para pemain saling bahu-membahu membawa orang itu ke tempat yang aga luas, salah seorang meletakan badanya di atas tikar tersebut. ternyata orang itu tidak sendiri, terlihat sudah ada tiga orang yang berbaring disana. Wajah dari mereka terlihat sangat panik, muncul raut muka ketakutan dari wajah mereka. Terlihat pula mereka seperti pasrah dengan keadaan yang terjadi.
Tak jauh dari mereka, terlihat ada sesuatu yang mendekat. Sesuatu yang terlihat besar, terlihat pohon-pohon yang ada di tempat itu sejajar dengan tingginya.
“DUG, DUG, DUG”
Suara dari hentaman kakinya melangkah mendekati mereka.
“ULAH EUREUN NABEUH !!!!!! (JANGAN BERHENTI DARI PERTUNJUKAN)”
Suara itu menggema ke seluruh tempat, para penonton wayang yang tadinya riuhpun mendadak diam. Mereka seperti takut dengan suara itu.
Sontak Aki karma serta rombonganya melihat arah dari suara itu. Terlihat salah satu sosok yang tinggi besar berwarna hijau menghampiri mereka. Dengan badan yang begitu besar, dengan kalung kepala manusia di lehernya, mukanya terlihat menyeramkan, dengan gigi besar yang menonjol ke atas. Mahluk itu seperti sangat marah karena pertunjukan wayangnya berhenti.
Aki karma dan rombonganya terlihat ketakutan, raut-raut mukanya terlihat jelas, seperti sudah putus asa akan keadaan yang menimpa rombongan itu.
Merekapun kembali ke tempatnya masing-masing, dengan tubuh yang seperti tidak ada tenaga lagi dan raut muka yang terlihat sangat kecapean, mereka melanjutkan kembali pertunjukan itu, dan Aki karma pun membantu mereka dengan mengisi kekosongan pada pemain gamelan.
Penonton menjadi riuh kembali karena pertunjukan wayang itu berlanjut. Para penonton itu menonton dengan santai di atas pohon dan duduk di tanah, mereka tertawa dan saling bercengkrama satu sama lain dengan wujud yang sama menyeramkanya dengan raksasa tadi.
“Paaaaaaaaakkk, tulungan paaakkkkk”
Ketika pertunjukan berlangsung terdengar samar-samar suara minta tolong, suara terakhir dari tiga orang pingsan akibat dari kecapean. Terlihat tangannya bergerak perlahan menunjuk kepada temannya yang sedang memainkan gamelan dan wayang.
Dengan suara yang tersisa dia kembali meminta tolong.
“Paaaaaaak, tulungan paaaaakkkk, saya sudah tidak kuat, mereka mengambil nyawa kita satu-persatu”
Suara yang samar-samar dengan tenaga yang tersisa dari orang itu. Berharap ada seseorang yang akan membantu mereka keluar dari situasi yang terjadi sekarang. Setelah itu terlihat mata dari orang itu terlihat menangis, perlahan-lahan dia menutup matanya dan terbujur kaku disana , mati akibat kelelahan.
Bapak tiba di gerbang gunung Sepuh tempat adanya dua pohon beringin yang ada di sisi jalan, terlihat dia berjalan perlahan menelusuri jalan itu di dalam kegelapan malam menuju hutan gunung sepuh.
Tak ada gangguan sedikitpun ketika Bapak berjalan masuk ke dalam hutan, mereka seperti sengaja menjauhi Bapak dan tidak ingin mengganggunya. Mereka hanya memantau Bapak dari kejauhan, tidak ada sedikitpun niat mereka untuk mengganggunya dengan suara yang menyeramkan atau tiba-tiba muncul di hadapanya.
Langkah Bapak terlihat sangat cepat melewati jalan setapak sepanjang hutan, seperti terbiasa dengan jalur hutan gunung sepuh. Hingga tak lama Bapak berjalan, Bapak sudah sampai di lapangan di dalam hutan.
Dia melihat sekeliling lapangan, dan tak lama dia mendekati salah satu sudut di lapangan itu. Terlihat ada jalan kecil yang baru dibuat ke arah puncak gunung Sepuh, terlihat dari ranting-ranting pohon yang di patahkan dan pohon-pohon yang di tebas oleh golok sehingga membentuk menjadi sebuah jalan menuju puncak gunung.
Bapak pun masuk menulusi jalan setapak yang baru dibuat itu. Jalan itu dibuat sengaja untuk menembus lebatnya hutan gunung sepuh. Bapak berjalan setapak demi setapak menuju atas gunung dengan menelusuri jalan itu.
Langkah Bapak terhenti ketika dia melihat salah satu daun yang menjadi merah, terlihat jalan setapak dibawahnya juga ada bercak merah. Bapak pun mendekati daun itu dan ketika dilihat, itu adalah darah hewan yang sudah mengering. Darah itu ada di jalan setapak dan berbelok berbelok menuju ke salah satu semak-semak yang terlihat lebat. Terlihat dari semak-semak itu terdapat bercak darah pada daunya.
Bapak sengaja memasuki semak-semak yang terlihat lebat itu untuk mengetahui kenapa ada darah yang mengarah kesana. Dengan perlahan-lahan dia berjalan di lebatnya semak-semak hutan dan berakhir di salah satu lapangan kecil dengan ilalang di ujung tebing.
Bapak seakan tidak percaya yang dia lihat di lapangan itu. Terlihat disana banyak barang-barang yang berserakan di lantai, barang-barang yang nantinya akan digunakan untuk ritual. Lalu banyak darah hewan seperti darah ayam dan darah kambing dimana-mana.
Di tengah-tengah lapangan itu terdapat wayang yang menancap di gedebong pisang, wayang itu tidak tegap berdiri, seperti menancap seadanya. Lalu terlihat beberapa orang yang tergeletak disamping gamelan.
Bapak langsung berlari menghampiri mereka sesaat setelah melihat kondisi dari lapangan itu. Bapak menghampiri mereka yang tergeletak tidak sadarkan diri dan mencoba mengecek detak jantungnya. Namun sepertinya Bapak terlambat, detak jantung para pemain gamelan itu sudah tidak ada.
Bapak duduk disana, dan melihat sekeliling lapangan itu. Bapak seakan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. namun tak lama ada sayup-sayup suara yang muncul.
“Paaak”
Bapak pun langsung berbalik dan terlihat salah seorang dari mereka perlahan-lahan menggerakan tanganya seperti meminta tolong. Bapak langsung reflek mendekati orang itu, dan ternyata orang itu adalah Aki karma yang terlihat sangat kelelahan. Dengan wajah yang kelelahan dan tenaga yang tersisa, Aki karma meminta tolong kepada Bapak. Dan ternyata Aki karma adalah satu-satunya orang masih hidup di rombongan itu.
Gunung sepuh kembali memakan korban, dan biasanya sudah menjadi tradisi apabila ada korban di gunung Sepuh, wajib hukumnya untuk di makamkan disana. Sehingga pada pagi ini terlihat warga kampung Sepuh ramai berkumpul di warung Bapak. Meskipun gunung Sepuh terlihat angker tapi ketika kejadian yang mengakibatkan ada korban meninggal, biasanya para mahluk di gunung Sepuh mendadak menghilang dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Sehingga para warga yang menguburkan korban itu tidak akan diganggu oleh para mahluk di gunung sepuh.
Terlihat Aki karma duduk di warung, kondisi badannya sudah baikan, karena Bapak membantunya turun dan mengobati lukanya serta membantu memulihkan lagi badanya.
Dia bercerita bahwa ketika sedang di gunung Sepuh, para mahluk itu tidak senang atas apa yang dilakukan oleh Aki karma, karena dia membuka jalan dengan menebas pepohonan dan memotong ranting, sehingga mereka marah. Para mahluk itu pun akhirnya menjebak mereka dengan membawa kambing yang dibawa rombongan oleh salah satu mahluk dan menghilang di semak-semak.
Akhirnya rombongan Aki karma pun mengejar mahluk itu dengan mengikuti jejak darah dari kambing itu. Dan ketika mereka mengejar akhirnya mereka sampai ke lapangan dekat jurang , dan mereka di hadapkan dengan puluhan mahluk yang mengelilingi mereka. Mereka terlihat marah dengan apa yang dilakukanya, akibat memotong dan menebas pohon untuk membuka jalan di gunung Sepuh.
Rombongan Aki karma dihadapkan dengan perjanjian akibat perbuatanya, sebagai syarat supaya mereka bisa keluar dari gunung Sepuh dan para mahluk gunung akan mengabulkan permintaan mereka, dengan pilihan :
- Mengorbankan setengah dari mereka untuk para mahluk gunung.
Atau
- Melakukan pertunjukan wayang sampai mahluk itu merasa puas
Dengan terpaksa Aki karma mengambil pilihan yang kedua, karena dia tidak mau mengorbankan temanya untuk menjadi makanan para mahluk gunung, sehingga dimulaikan pertunjukan yang tanpa henti itu. Hingga akhirnya meskipun memilih pilihan satu atau dua semuanya berakhir sama. Dan menyisakan Aki Karma sendirian.
Dengan intruksi Bapak akhirnya para warga berangkat ke gunung Sepuh untuk menguburkan mereka yang telah menjadi korban di gunung Sepuh. Sepanjang jalan Aki karma terlihat murung dan terlihat meneteskan air mata ketika melihat temannya di kubur satu persatu. Terlihat wayang dan gamelan milik rombongan wayang laneuh disimpan di sebelah makam mereka. Menandakan makam itu adalah tempat para group wayang laneuh melakukan pertunjukan terakhirnya.
Dan setelah pemakaman itu selesai Aki karma berterima kasih kepada Bapak dan para warga kampung, serta memohon izin untuk membangun rumah dan menetap kampung Sepuh.
Aki karma mengenang kenangan itu. kenangan terakhir dari teman-temanya yang sudah meninggalkannya lebih dulu di gunung sepuh... kemudian sesuatu membangunkan aki karma dari lamunanya.
"DUGGGGG, DUGGGGGG"
terdengar suara keras dari arah pintu, suara seseorang yang sedang menggedor rumahnya dalam keadaan panik.
maaf menunggu karena kesibukan kerja dan persiapan buat test CPNS 2 minggu lagi jadi otak terbagi antara belajar kerja ama nulis
untuk thread sebelah belum bisa ke update, masih belum konek buat nulisnya hehe
Spoiler for 5-Aki Karma Part 4:
“Tok, tok, tok”
Dalang memukul kotak yang ada di sebelahnya sebanyak tiga kali, menandakan bahwa pertunjukan wayang akan dimulai. Tak lama para pemain gamelan memaikan musiknya, musik yang beriringan dan saling melengkapi satu sama lain. Terdengar juga riuh penonton yang sedang menonton pagelaran di malam itu mereka menonton pagelaran wayang itu dengan sangat antusias, karena sudah lama mereka tidak melihat pagelaran wayang.
Sindenpun mulai menyanyi, menyanyi lagu-lagu sunda dengan nada tinggi. Nyanyian itu menggema ke setiap sudut, membuat para penonton terpana oleh nyanyian sinden itu.
Pertunjukan wayang itu berlangsung meriah, para penonton yang hadir pun datang dari segala arah mereka sengaja datang untuk melihat pertunjukan. Sang dalang mengangkat wayang yang dia mainkan peran wayang dengan gagahnya, kali ini yang di atas panggung adalah sesosok Buta berwarna hitam dan sesosok raksasa dengan pakaian la
yaknya dewa. Sang dalang sangat pandai mengubah suaranya menjadi dua sosok itu.
Tapi ada yang aneh dari pertunjukan wayang itu, meskipun pertunjukan wayang itu sangat meriah. Tapi terlihat dalang dan para pemain gamelan serta sinden terlihat kelelahan, seperti mereka sudah mengadakan pertunjukan disana tanpa henti. Terlihat dari keringat mereka yang bercucuran ke tanah, serta pakaian dan rambut mereka yang lusuh, dan mata mereka yang bertahan menahan ngantuk yang sangat menyiksa.
Terlihat di tengah-tengah para pemain gamelan Aki karma membantu mereka untuk tetap bermain dan mencoba membantu agar pertunjukan itu tidak terhenti di tengah jalan. Wajah Aki karma juga terlihat sangat lusuh, dengan kelopak mata yang sudah menghitam karena sudah lama tidak tidur. Aki karma tetap membantu pertunjukan wayang itu agar tetap, berjalan.
“BRAK”
Salah satu pemain gamelan terlihat tidak kuat lagi sehingga tubuhnya ambruk ke tanah, terlihat dari tubuhnya yang sudah kuat lagi bermain gamelan di pertunjukan itu. Sontak pertunjukan wayang mendadak berhenti, dalang serta pemain gamelan lainya terlihat mendekati pemain gamelan yang pingsan itu. Terlihat Aki karma juga berdiri dari duduknya dan mendekati pemain itu.
Para pemain saling bahu-membahu membawa orang itu ke tempat yang aga luas, salah seorang meletakan badanya di atas tikar tersebut. ternyata orang itu tidak sendiri, terlihat sudah ada tiga orang yang berbaring disana. Wajah dari mereka terlihat sangat panik, muncul raut muka ketakutan dari wajah mereka. Terlihat pula mereka seperti pasrah dengan keadaan yang terjadi.
Tak jauh dari mereka, terlihat ada sesuatu yang mendekat. Sesuatu yang terlihat besar, terlihat pohon-pohon yang ada di tempat itu sejajar dengan tingginya.
“DUG, DUG, DUG”
Suara dari hentaman kakinya melangkah mendekati mereka.
“ULAH EUREUN NABEUH !!!!!! (JANGAN BERHENTI DARI PERTUNJUKAN)”
Suara itu menggema ke seluruh tempat, para penonton wayang yang tadinya riuhpun mendadak diam. Mereka seperti takut dengan suara itu.
Sontak Aki karma serta rombonganya melihat arah dari suara itu. Terlihat salah satu sosok yang tinggi besar berwarna hijau menghampiri mereka. Dengan badan yang begitu besar, dengan kalung kepala manusia di lehernya, mukanya terlihat menyeramkan, dengan gigi besar yang menonjol ke atas. Mahluk itu seperti sangat marah karena pertunjukan wayangnya berhenti.
Aki karma dan rombonganya terlihat ketakutan, raut-raut mukanya terlihat jelas, seperti sudah putus asa akan keadaan yang menimpa rombongan itu.
Merekapun kembali ke tempatnya masing-masing, dengan tubuh yang seperti tidak ada tenaga lagi dan raut muka yang terlihat sangat kecapean, mereka melanjutkan kembali pertunjukan itu, dan Aki karma pun membantu mereka dengan mengisi kekosongan pada pemain gamelan.
Penonton menjadi riuh kembali karena pertunjukan wayang itu berlanjut. Para penonton itu menonton dengan santai di atas pohon dan duduk di tanah, mereka tertawa dan saling bercengkrama satu sama lain dengan wujud yang sama menyeramkanya dengan raksasa tadi.
“Paaaaaaaaakkk, tulungan paaakkkkk”
Ketika pertunjukan berlangsung terdengar samar-samar suara minta tolong, suara terakhir dari tiga orang pingsan akibat dari kecapean. Terlihat tangannya bergerak perlahan menunjuk kepada temannya yang sedang memainkan gamelan dan wayang.
Dengan suara yang tersisa dia kembali meminta tolong.
“Paaaaaaak, tulungan paaaaakkkk, saya sudah tidak kuat, mereka mengambil nyawa kita satu-persatu”
Suara yang samar-samar dengan tenaga yang tersisa dari orang itu. Berharap ada seseorang yang akan membantu mereka keluar dari situasi yang terjadi sekarang. Setelah itu terlihat mata dari orang itu terlihat menangis, perlahan-lahan dia menutup matanya dan terbujur kaku disana , mati akibat kelelahan.
Bapak tiba di gerbang gunung Sepuh tempat adanya dua pohon beringin yang ada di sisi jalan, terlihat dia berjalan perlahan menelusuri jalan itu di dalam kegelapan malam menuju hutan gunung sepuh.
Tak ada gangguan sedikitpun ketika Bapak berjalan masuk ke dalam hutan, mereka seperti sengaja menjauhi Bapak dan tidak ingin mengganggunya. Mereka hanya memantau Bapak dari kejauhan, tidak ada sedikitpun niat mereka untuk mengganggunya dengan suara yang menyeramkan atau tiba-tiba muncul di hadapanya.
Langkah Bapak terlihat sangat cepat melewati jalan setapak sepanjang hutan, seperti terbiasa dengan jalur hutan gunung sepuh. Hingga tak lama Bapak berjalan, Bapak sudah sampai di lapangan di dalam hutan.
Dia melihat sekeliling lapangan, dan tak lama dia mendekati salah satu sudut di lapangan itu. Terlihat ada jalan kecil yang baru dibuat ke arah puncak gunung Sepuh, terlihat dari ranting-ranting pohon yang di patahkan dan pohon-pohon yang di tebas oleh golok sehingga membentuk menjadi sebuah jalan menuju puncak gunung.
Bapak pun masuk menulusi jalan setapak yang baru dibuat itu. Jalan itu dibuat sengaja untuk menembus lebatnya hutan gunung sepuh. Bapak berjalan setapak demi setapak menuju atas gunung dengan menelusuri jalan itu.
Langkah Bapak terhenti ketika dia melihat salah satu daun yang menjadi merah, terlihat jalan setapak dibawahnya juga ada bercak merah. Bapak pun mendekati daun itu dan ketika dilihat, itu adalah darah hewan yang sudah mengering. Darah itu ada di jalan setapak dan berbelok berbelok menuju ke salah satu semak-semak yang terlihat lebat. Terlihat dari semak-semak itu terdapat bercak darah pada daunya.
Bapak sengaja memasuki semak-semak yang terlihat lebat itu untuk mengetahui kenapa ada darah yang mengarah kesana. Dengan perlahan-lahan dia berjalan di lebatnya semak-semak hutan dan berakhir di salah satu lapangan kecil dengan ilalang di ujung tebing.
Bapak seakan tidak percaya yang dia lihat di lapangan itu. Terlihat disana banyak barang-barang yang berserakan di lantai, barang-barang yang nantinya akan digunakan untuk ritual. Lalu banyak darah hewan seperti darah ayam dan darah kambing dimana-mana.
Di tengah-tengah lapangan itu terdapat wayang yang menancap di gedebong pisang, wayang itu tidak tegap berdiri, seperti menancap seadanya. Lalu terlihat beberapa orang yang tergeletak disamping gamelan.
Bapak langsung berlari menghampiri mereka sesaat setelah melihat kondisi dari lapangan itu. Bapak menghampiri mereka yang tergeletak tidak sadarkan diri dan mencoba mengecek detak jantungnya. Namun sepertinya Bapak terlambat, detak jantung para pemain gamelan itu sudah tidak ada.
Bapak duduk disana, dan melihat sekeliling lapangan itu. Bapak seakan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. namun tak lama ada sayup-sayup suara yang muncul.
“Paaak”
Bapak pun langsung berbalik dan terlihat salah seorang dari mereka perlahan-lahan menggerakan tanganya seperti meminta tolong. Bapak langsung reflek mendekati orang itu, dan ternyata orang itu adalah Aki karma yang terlihat sangat kelelahan. Dengan wajah yang kelelahan dan tenaga yang tersisa, Aki karma meminta tolong kepada Bapak. Dan ternyata Aki karma adalah satu-satunya orang masih hidup di rombongan itu.
Gunung sepuh kembali memakan korban, dan biasanya sudah menjadi tradisi apabila ada korban di gunung Sepuh, wajib hukumnya untuk di makamkan disana. Sehingga pada pagi ini terlihat warga kampung Sepuh ramai berkumpul di warung Bapak. Meskipun gunung Sepuh terlihat angker tapi ketika kejadian yang mengakibatkan ada korban meninggal, biasanya para mahluk di gunung Sepuh mendadak menghilang dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Sehingga para warga yang menguburkan korban itu tidak akan diganggu oleh para mahluk di gunung sepuh.
Terlihat Aki karma duduk di warung, kondisi badannya sudah baikan, karena Bapak membantunya turun dan mengobati lukanya serta membantu memulihkan lagi badanya.
Dia bercerita bahwa ketika sedang di gunung Sepuh, para mahluk itu tidak senang atas apa yang dilakukan oleh Aki karma, karena dia membuka jalan dengan menebas pepohonan dan memotong ranting, sehingga mereka marah. Para mahluk itu pun akhirnya menjebak mereka dengan membawa kambing yang dibawa rombongan oleh salah satu mahluk dan menghilang di semak-semak.
Akhirnya rombongan Aki karma pun mengejar mahluk itu dengan mengikuti jejak darah dari kambing itu. Dan ketika mereka mengejar akhirnya mereka sampai ke lapangan dekat jurang , dan mereka di hadapkan dengan puluhan mahluk yang mengelilingi mereka. Mereka terlihat marah dengan apa yang dilakukanya, akibat memotong dan menebas pohon untuk membuka jalan di gunung Sepuh.
Rombongan Aki karma dihadapkan dengan perjanjian akibat perbuatanya, sebagai syarat supaya mereka bisa keluar dari gunung Sepuh dan para mahluk gunung akan mengabulkan permintaan mereka, dengan pilihan :
- Mengorbankan setengah dari mereka untuk para mahluk gunung.
Atau
- Melakukan pertunjukan wayang sampai mahluk itu merasa puas
Dengan terpaksa Aki karma mengambil pilihan yang kedua, karena dia tidak mau mengorbankan temanya untuk menjadi makanan para mahluk gunung, sehingga dimulaikan pertunjukan yang tanpa henti itu. Hingga akhirnya meskipun memilih pilihan satu atau dua semuanya berakhir sama. Dan menyisakan Aki Karma sendirian.
Dengan intruksi Bapak akhirnya para warga berangkat ke gunung Sepuh untuk menguburkan mereka yang telah menjadi korban di gunung Sepuh. Sepanjang jalan Aki karma terlihat murung dan terlihat meneteskan air mata ketika melihat temannya di kubur satu persatu. Terlihat wayang dan gamelan milik rombongan wayang laneuh disimpan di sebelah makam mereka. Menandakan makam itu adalah tempat para group wayang laneuh melakukan pertunjukan terakhirnya.
Dan setelah pemakaman itu selesai Aki karma berterima kasih kepada Bapak dan para warga kampung, serta memohon izin untuk membangun rumah dan menetap kampung Sepuh.
Aki karma mengenang kenangan itu. kenangan terakhir dari teman-temanya yang sudah meninggalkannya lebih dulu di gunung sepuh... kemudian sesuatu membangunkan aki karma dari lamunanya.
"DUGGGGG, DUGGGGGG"
terdengar suara keras dari arah pintu, suara seseorang yang sedang menggedor rumahnya dalam keadaan panik.
Diubah oleh jurigciwidey 09-09-2021 08:57
itkgid dan 37 lainnya memberi reputasi
38
Kutip
Balas