Kaskus

Story

congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.

Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
sargopipAvatar border
efti108Avatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
165.8K
793
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
congyang.jusAvatar border
TS
congyang.jus
#598
Part 71
"Ja, mandi gih. Ayo jalan-jalan" ucapnya merengek.

"Malem mingguan di rumah aja, aku lagi males kemana-mana" balas gua.

Okta kecewa "Halaaah.."

Setelah gua pikir-pikir, daripada menambah daftar orang yang ngambek ke gua, mending gua iyakan ajakan Okta.

"Yaudah-yaudah, tapi ke angkringan depan aja ya"

Okta kembali ceria "yeaaay"

"Abdi bade ibak nya, tong haliwu" ucap gua, menirukan gaya bahasa okta.

Setelah selesai mandi, gua suruh Okta ganti pakaian. Outfitnya sedikit terlalu fancy buat nongkrong di angkringan.

Gua pinjemin kaos sama celana jeans slim fit punya gua. Untungnya celananya masih cocok meskipun ngga jadi slim fit kalo dipakai Okta🤣

Okta bertanya "Aku pinjem hoodie kamu juga, boleh?". Gua mengangguk.

Dalam hati, gua berucap "udah berapa banyak kaos sama jaket gua yang udah lu ambil alih ta?😭"

*****


"Mas, tolong bakarin ya" pinta gua ke mas-mas angkringan, sambil menyerahkan beberapa tusuk sate telor puyuh.

"Itu sate apa ja?" Okta menunjuk salah satu tumpukan sate

"Itu kulit ayam, kamu mau?"

"Mauu deh, dibakar juga bisa?"

"Bisa dong, apasih yang engga. Kalo yang jualan ngga mau bakarin, biar aku berantakin dagangannya" ucap gua bercanda, dibalas dengan senyuman si pedagang yang kenal baik sama gua.

"Mie lu masih kan mas?" Tanya gua, dia mengangguk. "Mau deh satu, pake telor" lanjut gua

"Aku juga mau, pake telor juga. Hehe" pinta Okta. "Tapi kamu jangan bilang-bilang Mamah kalo aku makan mie instan ya?" Ucap Okta memohon ke gua.

"Aku bilangin lah" goda gua

"Iih Raja, tong kitu atuh". Mulai, kalo lagi ngerayu, bahasa sundanya keluar, biar gua luluh.

"Iya, iya. Ngga aku bilangin"

Bagi gua, ada perasaan gemas kalo Okta lagi ngomong pakai bahasa sunda.

Dan biasanya, sundanya Okta keluar kalo lagi ngerayu gua, atau pas lagi manja. Beeuh, damagenya double.

Kami berdua duduk di tikar yang disediakan, di selasar toko elektronik yang sudah tutup, menghadap ke jalan raya yang ramai lalu lalang muda-mudi memadu asmara.

"Kamu sama Mamah gimana ja? Udah baikan?" Tanya Okta

"Ngga tau lah, udah ada Dini. Ngga mungkin mikirin aku lagi"

"Mungkin mamah masih kecewa. Biar aja mamah agak tenang, nanti aku bantu kamu minta maaf ke Mamah" ucapnya, mencoba menenangkan gua.

Udah berhari-hari sejak gua kirim pesan ke Mamah hari itu, sama sekali ngga ada balasan.

Di sekolah, Zahra pun bilang kalau Mamah sepertinya masih enggan memaafkan gua.

Kata Zahra, Mamah selalu mengalihkan topik ketika Zahra membicarakan gua.

Sampai akhirnya, Papah pun tau perihal Mamah yang marah ke gua.

Di telepon, papah ngomel-ngomel ke gua. Bukan ngomel yang beneran sih, nasihatin tepatnya.

Papah meminta gua pulang ke rumah, dan membiarkan Mamah luluh dengan sendirinya.

Tapi gua ngga bisa kalo terus-terusan didiemin. Apalagi Papah sendiri yang bilang, kalau Mamah bisa saja puasa ngomong dengan seseorang dengan waktu yang lama

Papah cerita, kalau Mamah dan almarhum Tama saling diam-diaman selama hampir setahun perkara Tama yang ketahuan minum miras. Sampai akhirnya Tama meninggal, Mamah ngga sempet berbicara sepatah kata pun.

Quote:


Begitu kira-kira omelan Papah di telepon. Ingin rasanya bilang kalau kejadian hari itu tujuannya bukan duit, tapi daripada makin panjang omelannya, gua pilih dengerin aja omongan Papah.

Kembali ke Gua dan Okta.

"Kalo kamu jadi aku, kira-kira apa yang bakal kamu lakuin ta?" Tanya gua ke Okta

Dia berpikir sejenak, mengarahkan pandangannya ke atas. "Aku bingung juga sih, soalnya aku ngga pernah didiemin gitu kalo bikin masalah. Paling-paling diceramahin berjam-jam di kamar. Tapi, mungkin aku bakal sering-sering ngajak omong. Lama kelamaan pasti omongan kamu bakalan dibales juga"

"..."

"Kalau mamah udah mau bales omongan kamu, baru deh minta maaf"

Gua memandang kosong ke depan, menyusun rencana di kepala.

Quote:
delet3
japraha47
mirzazmee
mirzazmee dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.