- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR STORY) KAMPUNG SEPUH
...
TS
jurigciwidey
(HORROR STORY) KAMPUNG SEPUH
Sebelumnya banyak yang request untuk kelanjutan cerita di thread saya yang ini dan disarankan sebelum membaca cerita ini, baca dahulu cerita di link ini.. karena ini adalah cerita lanjutan dari thread sebelumnya
namun karena satu dan lain hal ane mempercepat ceritanya sehingga masih banyak misteri yang belum di ungkap
cerita ini mengisahkan tentang lanjutan cerita di atas

INDEX
2-Aki Karma Part 1
3-Aki Karma Part 2
4-Aki Karma Part 3
5-Aki Karma Part 4
6-AUL
7-AUL PART 2
8-AUL PART 3
9-AUL PART 4
10-Menjaga kampung
Thread ane lainya
(HORROR STORY) TUMBAL PABRIK
namun karena satu dan lain hal ane mempercepat ceritanya sehingga masih banyak misteri yang belum di ungkap
cerita ini mengisahkan tentang lanjutan cerita di atas

Spoiler for 1-TUTUPNYA WARUNG:
Pagi itu di kampung sepuh tidak seperti biasanya suara orang-orang berjalan begitu terlihat tergesa-gesa tanpa ada satu orang pun yang berbicara, hening hanya suara langkah mereka yang melangkah ke tujuan yang sama, suasana pun mendadak ramai di salah satu rumah warga, mereka sedang berduka. Karena salah satu warga mereka meninggal di hari ini. Sudah menjadi salah satu tradisi di kampung sepuh, apabila ada yang meninggal, mereka ikut membantu untuk proses pemakamanya.
Para warga sengaja menghentikan aktifitasnya hari itu untuk membantu proses pemakamanya. Terlihat pula isak tangis dari para ibu-ibu yang datang di hari itu.
Kampung sepuh sekali lagi kehilangan salah satu sosok yang menjadi panutan bagi mereka. Setelah suaminya meninggal 4 tahun yang lalu, dan anak semata wayangnya yang pergi meninggalkan kampung sepuh yang tidak pernah kembali lagi setelah anaknya mengalami beberapa kejadian di kampung sepuh ketika pulang untuk membantu ibunya selepas lulus kuliah.
Dan akhirnya sang ibumenghembuskan napas terakhir dalam kesendirian di kampung sepuh.
Banyak sekali warga kampung yang turut membantu, sebagian dari mereka membantu memandikan jenazah, dan sebagianya lagi pergi ke pemakaman umum di kampung sepuh untuk menggali makam tepat di samping makam suaminya.
Proses memandikan dan memakaikan kain kafan kepadanya tidak berlangsung lama. Dan terlihat beberapa rombongan yang saling beriringan menuju ke salah satu pemakaman umum yang ada di kampung sepuh, para warga saling bergantian mengangkat keranda mayat yang penuh dengan kalungan bunga berwarna-warnj dengan ditemani oleh warga yang seakan-akan mengantarkanya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Orang-orang tampak begitu terpukul suasana begitu duka sehingga di setiap langkah rombongan pengantar jenazah hanya terdengar suara tangis. Tentu saja begitu berat bagi semua orang melepas kepergian orang yang begitu banyak berjasa, orang yang selalu menyapa dengan riang dan selalu siap membantu kapan pun waktu nya jika warga membutuhkan, terutama setelah sangat suami meninggal dan sang anak yang lebih memilih untuk kembali ke kota, ibu selalu mengisi hari-harinya dengan menyibukan diri membantu warga sekitar.
pemakaman umum letaknya di ujung kampung yang bersebelahan dengan sungai yang melewati kampung di sebelah utara. Pemakaman itu awalnya adalah tanah kosong yang hanya rumput-rumputan saja yang tumbuh disana akhirnya dipakai oleh pemakaman oleh masyarakat kampung karena lokasinya pun tidak begitu jauh dari pemukiman warga.
Pemakaman tersebut dipakai dari jaman dulu hingga sekarang, sehingga apabila masyarakat kampung sepuh ke makam di waktu-waktu tertentu seperti ketika di hari raya, atau sebelum melaksanakan pernikahan. Mereka berjiarah kesana mengunjungi makam orangtuanya, juga ke makam kakek nenek hingga leluhurnya. Karena dari jaman dahulu semua masyarakat kampung sepuh yang meninggal pasti dimakamkan disana.
Rombongan itu berjalan menyusuri kampung melewati beberapa rumah warga sepanjang kampung sepuh. lalu kemudian rombongan itu masuk ke salah satu jalan setapak di ujung desa, jalan dengan kontur tanah yang apabila berjalan di jalan itu di malam hari akan terasa becek dan bercampur lumpur.
Jalan setapak itu nampak terjal karena menurun dan kontur tanahnya tidak rata. Di kanan kirinya tumbuh pohon liar yang dibiarkan begitu saja oleh warga kampung dan dedaunanya menghalangi sinar matahari sehingga suasananya terlihat sangat sejuk, terlihat juga beberapa daun yang berjatuhan diterpa angin dan suara-suara serangga yang ada di dahan pohon yang menemani rombongan itu berjalan.
Terlihat disana terlihat gapura yang terlihat usang, gapura pemakaman yang terbuat dari besi berwarna hitam dan plat besi berwarna putih di atasnya yang bertulisan
PEMAKAMAN UMUM KAMPUNG SEPUH
Tiang-tiang gapura itu sudah terlihat usang tiang-tiangnya sudah berkarat, dan tulisan di atasnya sudah tidak jelas terlihat karena cat yang luntur, dan warna putih di atasnya pun sudah terlihat menguning.
Rombongan itu kemudian melewati gapura, dan melihat tanah pemakaman yang membentang luas, disana terlihat banyak makam dari beberapa generasi, terlihat dari jenis makamnya dari yang memakai batu sebagai dinding makam, hingga makam yang sudah dilapisi oleh keramik di sekeliling makamnya.
Hari sudah beranjak siang tapi suasanya sungguh berbeda, hawa sejuk yang kurasa ketika rombongan berjalan tadi perlahan menghilang, digantikan oleh perasaan yang dihiasi rasa takut di sekujur tubuh. Apalagi di tengah-tengah pemakaman itu terdapat satu pohon beringin yang besar yang berdiri kokoh. Saking rindangnya ranting-rantingnya menutupi sinar matahari yang masuk menutupi makam-makam di sekitarnya sehingga tidak tersinari oleh matahari.
Rombongan itu kemudian belok ke salah satu sudut pemakaman itu. Disana terdapat salah satu makam dengan dinding batu dan pohon yang tumbuh di atas makamnya. Terlihat tulisan dengan tanggal lahir dan tanggal meninggal yang terlihat usang dan sedikit muncul lumut di ujungnya. Di sebelahnya ada makam kosong yang sudah digali, untuk tempat peristirahatan ibu yang terakhir.
***
Sore hari di kampung sepuh nampak sibuk, setelah pagi hari membantu proses pemakaman salah satu warganya. Kini para warga kampung sepuh berkumpul di salah satu rumah sesepuh kampung yaitu rumah Aki Karma, salah satu orang yang dituakan di kampung sepuh. mereka terlihat membicarakan salah satu persoalan yang belum di selesaikan, terlihat dari beberapa obrolan yang serius tentang salah satu peninggalan salah seorang warganya yang meninggal di pagi hari tadi.
“Mang Rusdi? Gimana, apakah anaknya sudah bisa di hubungi” Kata Aki karma ke pada salah satu warga yang sedang berkumpul.
“nomornya tidak aktif ki, saya juga tidak tahu sekarang dia tinggal dimana?” jawab mang rusdi dengan nada yang lesu.
Beberapa orang dari mereka terlihat kebingungan, karena anak satu-satunya tidak bisa dihubungi. Mereka ingin menghubunginya dan memberitahukanya bahwa ibunya telah meninggal di hari itu.
Selain itu ada permasalahan lain yang perlu dibahas, yaitu tentang warung dan rumah peninggalan satu satunya yang harus segera di wariskan. yaitu warung yang harus keluarganya jaga selama beberapa generasi dan tidak pernah ditutup satu kalipun, namun kali ini tidak ada yang melanjutkan. Karena anaknya sudah hampir 3 tahun meninggalkan kampung sepuh. Dan tidak pernah kembali lagi ke kampung tersebut
Terjadi perdebatan di antara mereka, beberapa dari mereka menyarankan untuk tetap melanjutkan dengan cara bergiliran setiap malam sambil menunggu anak semata wayangnya pulang dan melanjutkan untuk menjaga warung yang telah diwariskanya turun temurun di keluarganya,dan sebagianya lagi menyarankan untuk menutupnya sambil menunggu anaknya pulang.
Aki karma adalah orang yang paling lantang untuk tetap membuka warung tersebut, dan warga bergiliran untuk berjaga di malam hari sembari menunggu anaknya pulang.
Aki karma beranggapan apabila menutupnya, mereka takut akan kejadian dahulu terulang kembali yang terjadi, sebuah kejadian yang menimpa kampung sepuh ketika 60 tahun yang lalu. Yang mengakibat para makhluk halus di gunung sepuh datang dan mengganggu kampung itu setiap malam.
Hingga akhirnya salah satu warga melakukan perjanjian dengan mereka, dan merelakan tubuhnya serta turunannya untuk melayani mereka dengan membuat warung sebagai batas agar para makhluk tidak datang menganggu warga kampung.
Sehingga para warga kampung pun bisa tidur nyenyak tanpa rasa cemas terganggu oleh para mahluk yang datang setiap malam, meskipun konsekuensinya para warga tidak boleh keluar di malam hari, karena ditakutkan mereka akan datang dan bertemu para makhluk yang datang ke warung.
Namun beberapa warga berpendapat bahwa mereka tidak sanggup apalagi harus menjaga warung itu. mereka pula beralasan bahwa perjanjian itu sudah setengah abad yang lalu, bahkan generasi saat ini banyak yang tidak percaya akan hal itu.
Kebanyakan mereka berpendapat dengan menutup warung itu, tidak akan terjadi apa-apa di kehidupan warga kampung sepuh. Mereka sempat menyinggung anak semata wayangnya yang meninggalkan kampung 3 tahun yang lalu, mereka menganggap anak itu tidak mau menjaga warung itu lagi setelah menerima kejadian yang membuat dia tidak sadarkan diri.
Bahkan dia bercerita dia bertemu dengan Indah anak kang darman di pemakaman itu dan menyuruhnya untuk meninggalkan kampung sepuh dan tidak pernah kembali hingga saat ini.
perdebatan itu berlangsung lama . Para warga saling memberikan pendapat antara satu dan lainya, akhirnya warga pun sepakat melakukan voting untuk keputusan terhadap warung itu, dan akhirnya banyak warga sepakat mengambil keputusan setuju untuk menutup warung itu. Alasanya beragam, namun kebanyakan dari mereka tidak berani apabila harus menjaga warung di malam hari apalagi kalau harus setiap malam berjaga.
Aki karma selaku yang dituakan di kampung itu merasa tidak setuju dengan hasil akhir dari pertemuan itu. Namun dia hanya bisa menerima keputusan dari para warga yang hadir di pertemuan itu.
***
Pukul 17:30 warga akhirnya menutup warung, warung yang selama ini berdiri dan tidak pernah tutup selama hampir setengah abad. Akhirnya terpaksa ditutup oleh warga, banyak memory dan kenangan dari beberapa warga dari kampung itu, karena selain tempat membeli keperluan, warung itu juga menjadi tempat berkumpul para petani di sore hari ketika pulang dari sawah. Mereka sekedar beristirahat dan memesan kopi dan bercengkrama satu sama lain dengan warga yang datang ke warung.
Pukul 18:00 para warga membubarkan diri dan kembali ke rumahnya masing-masing, mereka kembali ke keluarganya untuk makam malam di rumah masing-masing dan berisitrahat seperti biasanya, seperti tidak ada bedanya dengan malam-malam sebelumnya, namun.
Terlihat di seberang warung, beberapa mata yang menatap tajam ke arah warung yang kini sudah tutup itu. Mata yang berwarna merah yang terlihat dari sela-sela dedaunan di seberang jalan. Mereka sepertinya tidak terima dengan ditutupnya warung itu.
Para warga sengaja menghentikan aktifitasnya hari itu untuk membantu proses pemakamanya. Terlihat pula isak tangis dari para ibu-ibu yang datang di hari itu.
Kampung sepuh sekali lagi kehilangan salah satu sosok yang menjadi panutan bagi mereka. Setelah suaminya meninggal 4 tahun yang lalu, dan anak semata wayangnya yang pergi meninggalkan kampung sepuh yang tidak pernah kembali lagi setelah anaknya mengalami beberapa kejadian di kampung sepuh ketika pulang untuk membantu ibunya selepas lulus kuliah.
Dan akhirnya sang ibumenghembuskan napas terakhir dalam kesendirian di kampung sepuh.
Banyak sekali warga kampung yang turut membantu, sebagian dari mereka membantu memandikan jenazah, dan sebagianya lagi pergi ke pemakaman umum di kampung sepuh untuk menggali makam tepat di samping makam suaminya.
Proses memandikan dan memakaikan kain kafan kepadanya tidak berlangsung lama. Dan terlihat beberapa rombongan yang saling beriringan menuju ke salah satu pemakaman umum yang ada di kampung sepuh, para warga saling bergantian mengangkat keranda mayat yang penuh dengan kalungan bunga berwarna-warnj dengan ditemani oleh warga yang seakan-akan mengantarkanya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Orang-orang tampak begitu terpukul suasana begitu duka sehingga di setiap langkah rombongan pengantar jenazah hanya terdengar suara tangis. Tentu saja begitu berat bagi semua orang melepas kepergian orang yang begitu banyak berjasa, orang yang selalu menyapa dengan riang dan selalu siap membantu kapan pun waktu nya jika warga membutuhkan, terutama setelah sangat suami meninggal dan sang anak yang lebih memilih untuk kembali ke kota, ibu selalu mengisi hari-harinya dengan menyibukan diri membantu warga sekitar.
pemakaman umum letaknya di ujung kampung yang bersebelahan dengan sungai yang melewati kampung di sebelah utara. Pemakaman itu awalnya adalah tanah kosong yang hanya rumput-rumputan saja yang tumbuh disana akhirnya dipakai oleh pemakaman oleh masyarakat kampung karena lokasinya pun tidak begitu jauh dari pemukiman warga.
Pemakaman tersebut dipakai dari jaman dulu hingga sekarang, sehingga apabila masyarakat kampung sepuh ke makam di waktu-waktu tertentu seperti ketika di hari raya, atau sebelum melaksanakan pernikahan. Mereka berjiarah kesana mengunjungi makam orangtuanya, juga ke makam kakek nenek hingga leluhurnya. Karena dari jaman dahulu semua masyarakat kampung sepuh yang meninggal pasti dimakamkan disana.
Rombongan itu berjalan menyusuri kampung melewati beberapa rumah warga sepanjang kampung sepuh. lalu kemudian rombongan itu masuk ke salah satu jalan setapak di ujung desa, jalan dengan kontur tanah yang apabila berjalan di jalan itu di malam hari akan terasa becek dan bercampur lumpur.
Jalan setapak itu nampak terjal karena menurun dan kontur tanahnya tidak rata. Di kanan kirinya tumbuh pohon liar yang dibiarkan begitu saja oleh warga kampung dan dedaunanya menghalangi sinar matahari sehingga suasananya terlihat sangat sejuk, terlihat juga beberapa daun yang berjatuhan diterpa angin dan suara-suara serangga yang ada di dahan pohon yang menemani rombongan itu berjalan.
Terlihat disana terlihat gapura yang terlihat usang, gapura pemakaman yang terbuat dari besi berwarna hitam dan plat besi berwarna putih di atasnya yang bertulisan
PEMAKAMAN UMUM KAMPUNG SEPUH
Tiang-tiang gapura itu sudah terlihat usang tiang-tiangnya sudah berkarat, dan tulisan di atasnya sudah tidak jelas terlihat karena cat yang luntur, dan warna putih di atasnya pun sudah terlihat menguning.
Rombongan itu kemudian melewati gapura, dan melihat tanah pemakaman yang membentang luas, disana terlihat banyak makam dari beberapa generasi, terlihat dari jenis makamnya dari yang memakai batu sebagai dinding makam, hingga makam yang sudah dilapisi oleh keramik di sekeliling makamnya.
Hari sudah beranjak siang tapi suasanya sungguh berbeda, hawa sejuk yang kurasa ketika rombongan berjalan tadi perlahan menghilang, digantikan oleh perasaan yang dihiasi rasa takut di sekujur tubuh. Apalagi di tengah-tengah pemakaman itu terdapat satu pohon beringin yang besar yang berdiri kokoh. Saking rindangnya ranting-rantingnya menutupi sinar matahari yang masuk menutupi makam-makam di sekitarnya sehingga tidak tersinari oleh matahari.
Rombongan itu kemudian belok ke salah satu sudut pemakaman itu. Disana terdapat salah satu makam dengan dinding batu dan pohon yang tumbuh di atas makamnya. Terlihat tulisan dengan tanggal lahir dan tanggal meninggal yang terlihat usang dan sedikit muncul lumut di ujungnya. Di sebelahnya ada makam kosong yang sudah digali, untuk tempat peristirahatan ibu yang terakhir.
***
Sore hari di kampung sepuh nampak sibuk, setelah pagi hari membantu proses pemakaman salah satu warganya. Kini para warga kampung sepuh berkumpul di salah satu rumah sesepuh kampung yaitu rumah Aki Karma, salah satu orang yang dituakan di kampung sepuh. mereka terlihat membicarakan salah satu persoalan yang belum di selesaikan, terlihat dari beberapa obrolan yang serius tentang salah satu peninggalan salah seorang warganya yang meninggal di pagi hari tadi.
“Mang Rusdi? Gimana, apakah anaknya sudah bisa di hubungi” Kata Aki karma ke pada salah satu warga yang sedang berkumpul.
“nomornya tidak aktif ki, saya juga tidak tahu sekarang dia tinggal dimana?” jawab mang rusdi dengan nada yang lesu.
Beberapa orang dari mereka terlihat kebingungan, karena anak satu-satunya tidak bisa dihubungi. Mereka ingin menghubunginya dan memberitahukanya bahwa ibunya telah meninggal di hari itu.
Selain itu ada permasalahan lain yang perlu dibahas, yaitu tentang warung dan rumah peninggalan satu satunya yang harus segera di wariskan. yaitu warung yang harus keluarganya jaga selama beberapa generasi dan tidak pernah ditutup satu kalipun, namun kali ini tidak ada yang melanjutkan. Karena anaknya sudah hampir 3 tahun meninggalkan kampung sepuh. Dan tidak pernah kembali lagi ke kampung tersebut
Terjadi perdebatan di antara mereka, beberapa dari mereka menyarankan untuk tetap melanjutkan dengan cara bergiliran setiap malam sambil menunggu anak semata wayangnya pulang dan melanjutkan untuk menjaga warung yang telah diwariskanya turun temurun di keluarganya,dan sebagianya lagi menyarankan untuk menutupnya sambil menunggu anaknya pulang.
Aki karma adalah orang yang paling lantang untuk tetap membuka warung tersebut, dan warga bergiliran untuk berjaga di malam hari sembari menunggu anaknya pulang.
Aki karma beranggapan apabila menutupnya, mereka takut akan kejadian dahulu terulang kembali yang terjadi, sebuah kejadian yang menimpa kampung sepuh ketika 60 tahun yang lalu. Yang mengakibat para makhluk halus di gunung sepuh datang dan mengganggu kampung itu setiap malam.
Hingga akhirnya salah satu warga melakukan perjanjian dengan mereka, dan merelakan tubuhnya serta turunannya untuk melayani mereka dengan membuat warung sebagai batas agar para makhluk tidak datang menganggu warga kampung.
Sehingga para warga kampung pun bisa tidur nyenyak tanpa rasa cemas terganggu oleh para mahluk yang datang setiap malam, meskipun konsekuensinya para warga tidak boleh keluar di malam hari, karena ditakutkan mereka akan datang dan bertemu para makhluk yang datang ke warung.
Namun beberapa warga berpendapat bahwa mereka tidak sanggup apalagi harus menjaga warung itu. mereka pula beralasan bahwa perjanjian itu sudah setengah abad yang lalu, bahkan generasi saat ini banyak yang tidak percaya akan hal itu.
Kebanyakan mereka berpendapat dengan menutup warung itu, tidak akan terjadi apa-apa di kehidupan warga kampung sepuh. Mereka sempat menyinggung anak semata wayangnya yang meninggalkan kampung 3 tahun yang lalu, mereka menganggap anak itu tidak mau menjaga warung itu lagi setelah menerima kejadian yang membuat dia tidak sadarkan diri.
Bahkan dia bercerita dia bertemu dengan Indah anak kang darman di pemakaman itu dan menyuruhnya untuk meninggalkan kampung sepuh dan tidak pernah kembali hingga saat ini.
perdebatan itu berlangsung lama . Para warga saling memberikan pendapat antara satu dan lainya, akhirnya warga pun sepakat melakukan voting untuk keputusan terhadap warung itu, dan akhirnya banyak warga sepakat mengambil keputusan setuju untuk menutup warung itu. Alasanya beragam, namun kebanyakan dari mereka tidak berani apabila harus menjaga warung di malam hari apalagi kalau harus setiap malam berjaga.
Aki karma selaku yang dituakan di kampung itu merasa tidak setuju dengan hasil akhir dari pertemuan itu. Namun dia hanya bisa menerima keputusan dari para warga yang hadir di pertemuan itu.
***
Pukul 17:30 warga akhirnya menutup warung, warung yang selama ini berdiri dan tidak pernah tutup selama hampir setengah abad. Akhirnya terpaksa ditutup oleh warga, banyak memory dan kenangan dari beberapa warga dari kampung itu, karena selain tempat membeli keperluan, warung itu juga menjadi tempat berkumpul para petani di sore hari ketika pulang dari sawah. Mereka sekedar beristirahat dan memesan kopi dan bercengkrama satu sama lain dengan warga yang datang ke warung.
Pukul 18:00 para warga membubarkan diri dan kembali ke rumahnya masing-masing, mereka kembali ke keluarganya untuk makam malam di rumah masing-masing dan berisitrahat seperti biasanya, seperti tidak ada bedanya dengan malam-malam sebelumnya, namun.
Terlihat di seberang warung, beberapa mata yang menatap tajam ke arah warung yang kini sudah tutup itu. Mata yang berwarna merah yang terlihat dari sela-sela dedaunan di seberang jalan. Mereka sepertinya tidak terima dengan ditutupnya warung itu.
INDEX
2-Aki Karma Part 1
3-Aki Karma Part 2
4-Aki Karma Part 3
5-Aki Karma Part 4
6-AUL
7-AUL PART 2
8-AUL PART 3
9-AUL PART 4
10-Menjaga kampung
Thread ane lainya
(HORROR STORY) TUMBAL PABRIK
Diubah oleh jurigciwidey 23-10-2021 11:40
edam dan 96 lainnya memberi reputasi
89
58.3K
Kutip
348
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#42
Spoiler for 2-Aki Karma Part 2:
Rombongan itu berjalan menyusuri jalan di kampung sepuh dengan barang bawaan yang banyak sebagai bahan ritual sesuai dengan apa yang dikatakan oleh teman aki karma, salah satunya adalah domba hidup. Beberapa ayam cemani berwarna hitam, serta tak lupa satu set lengkap perlengkapan wayang karena sebagai persyaratan ritual. Mereka berjalan diterangi senter sebagai penerangan perjalanan mereka.
Mereka berjalan beriringan dengan posisi Aki karma di depan dan anggota groupnya di belakangnya, Aki karma sudah diberitahu oleh sahabatnya itu untuk rute dan jarak yang ditempuh dari kampung menuju tempat pelaksaan ritual di atas gunung. Tak lupa sahabatnya juga memberi tahu mantra-mantra khusus untuk memanggil para mahluk gunung dan melakukan perjanjian denganya.
Hingga akhirnya mereka sampai di ujung jalan kampung, disana terlihat dua pohon beringin rindang di kiri kanan jalan dan jalan setapak kecil di tengahnya. Pohon beringin itu menjulang tinggi di kiri dan kanan jalan, menutupi jalan setapak di tengahnya. Sehingga warga kampung sepuh menyebutnya gerbang, yang menyiratkan sebagai gerbang masuk menuju gunung sepuh.
Tanpa keraguan sedikitpun Aki karma dan rombonganya masuk ke dalam hutan itu. Meskipun sebelumnya beberapa dari rombongan tersebut tidak berani untuk masuk, sehingga terjadi perdebatan kecil di antara rombongan itu. Meskipun akhirnya Aki Karma menyakinkan mereka sehingga mereka mau untuk masuk ke dalam hutan.
Akhirnya rombongan itu memasuki gerbang. Sebelumnya Aki Karma diberitahu oleh sahabatnya bahwa salah satu syarat ritual adalah dengan bertahan dari gangguan mahluk-mahluk di sepanjang jalan menuju tempat ritual. Dan benar saja ketika rombongan itu masuk, terdengar sayup-sayup suara tertawa di atas pohon beringin di kedua sisinya. Suara yang seperti menyambut mereka.
“Hihihihihihihi”
“Hihihihihihihi”
“Aya jelema euy (ada manusia nih)”
Beberapa orang dari rombongan itu kaget dan melihat di sekeliling. Salah satu dari mereka mencoba mengarahkan senternya ke atas pohon beringin itu. Tapi dengan sigap Aki karma menahannya dengan memegang tanganya.
“Jalan aja terus, jangan sekali-kali menyenter ke arah lain selain ke jalan” jawab Aki karma dengan nada yang sedikit meninggi.
Orang itu mengangguk dan kembali mengarahkan senternya ke arah jalan. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka hingga masuk ke dalam hutan. Semakin dalam mereka masuk hawa yang mereka rasakan semakin menakutkan, seperti banyak mata yang mengawasi mereka di antara banyak pepohonan hutan. Mereka seakan-akan mengikuti rombongan itu sepanjang jalan.
Tak lama mereka berjalan, mereka berhenti si suatu lapangan di dalam hutan. Mereka beristirahat sejenak, karena selanjutnya perjalanan mereka tidaklah mudah. Mereka harus melewati jalanan menanjak hingga ke puncak gunung sepuh.
Rombongan itupun duduk dan kemudian membuka bekal yang dibawanya dari kota. Juga membuka beberapa bungkus rokok selagi mereka beristirahat. Aki karma duduk dan menyender di sebuah pohon. Sambil merokok dia melihat sekeliling lapangan itu dengan seksama. dia mengarahkan senternya ke seluruh lapangan itu, anehnya jalan setapak yang di laluinya berakhir di lapangan ini. Tidak ada jalan setapak lagi yang menanjak menuju puncak gunung sepuh.
Ketika sedang beristirahat terdengar sayup-sayup suara di antara mereka yang sedang beristirahat, Suara seseorang yang meminta rokok kepada Aki karma suara itu terdengar dengan suara yang cempreng dan tidak jelas. Dan suara itu persis di belakang pohon tempat Aki Karma beristirahat.
Awalnya Aki karma kaget. Tapi sebelumnya dia diberitahu oleh sahabatnya bahwa apabila sudah sampai di tanah lapang di dalam hutan, dan tiba-tiba ada ada sesosok mahluk yang datang dan meminta Sesuatu. Maka dia berpesan untuk memberikanya itu tanpa sekalipun melihat ke arahnya. Karena mahluk itu akan hilang sendiri ketika dia sudah dapat apa yang dia minta.
"Kaaang minta rokok"
Mahluk itu berbicara dengan nada cempreng. meminta rokok kepada Aki karma yang sedang beristirahat dibawah pohon. Kemudian Aki karma mengambil rokok yang baru dengan tangan yang gemetar, dia mencoba mengikuti saran sahabatnya itu.
Hanya saja ketika Aki karma sedang menyalakan rokok. Suara itu juga terdengar oleh orang-orang yang sedang beristirahat. Mereka menganggap bahwa yang meminta rokok itu adalah Aki Karma, maka merekapun mengarahkan senternya ke Aki Karma.
Namun alangkah terkejutnya mereka ketika mereka melihat salah satu sosok yang ada di belakang Aki Karma. Salah satu sosok yang tinggi di belakang pohon memakai pakaian serba hitam dengan topi caping. Kuku-kukunya terlihat tajam terlihat sedang memegang pohon, dan yang lebih mengejutkanya lagi wajah dari mahluk itu rata.
Mahluk itu tidak mempunyai wajah hanya lubang kecil di bagian mulut yang terlihat di wajahnya. Sontak seluruh rombongan itu kaget, bahkan dari merekapun ada yang berteriak ketakutan.
Namun mahluk itu tiba-tiba pergi meninggalkan mereka ketika di rombongan itu ada yang berteriak.
Bukanya mencoba menakut-nakuti rombongan itu tapi mahluk itu malah seperti kaget dengan teriakan dari salah satu mereka. sehingga mahluk itu mendadak menghilang, menghilang kedalam gelapnya hutan gunung sepuh.
Aki karma juga kaget dengan teriakan itu. Dia lalu berdiri kemudian mendekati rombonganya yang sedang ketakutan. Kali ini Aki karma datang dengan sedikit marah, dia menghampiri rombonganya dan bilang.
“Sudah kubilang jangan sekali-kali menyenter ke arah lain selain ke jalan!!” Aki karma mulai emosi akibat kejadian tadi.
Tiba-tiba Aki karma marah, namun beberapa dari rombongan itu mencoba menenangkan Aki karma yang sedang emosi itu. Dan mereka bertanya kenapa dia begitu marah, Apa gara-gara seseorang dari mereka berteriak ketakutan ketika bertemu dengan salah satu mahluk yang bermuka rata seperti tadi.
Aki karma pun menjelaskan bahwa sahabatnya berpesan ketika sampai di tanah lapang biasanya ada mahluk yang meminta sesuatu. Mahluk tersebut bernama aden-aden, salah satu mahluk penghuni gunung yang biasanya suka meminta sesuatu kepada orang-orang yang datang ke gunung sepuh. Mahluk itu sebenarnya tidak mengganggu, mereka tidak akan menampakan diri secara langsung dengan niat mengganggu ataupun menakut-nakuti kita.
Aki Karma pun melanjutkan ceritanya. Bahwa salah satu mahluk yang akan membantu membukakan jalan untuk kita ke tempat ritual adalah aden-aden itu. Dengan syarat apa yang aden-aden mau harus di turuti, biasanya mereka meminta salah satu bahan yang dibawa seperti rokok, ayam, dupa ataupun perlengkapan yang dipakai oleh mereka yang datang ke gunung sepuh
Setelah aden-aden menerima barang yang dia mau, biasanya aden-aden akan menghilang dan kemudian akan muncul jalan setapak menuju puncak gunung di salah satu ujung lapangan ini.
Tetapi, apabila mahluk itu pergi tanpa membawa barang yang dia minta. Maka jalan menuju puncak gunung tidak akan terbuka. Jadi mau tidak mau kita harus mencari sendiri jalan tersebut sebelum pagi tiba.
Rombongan itu mengangguk. Dan mereka meminta maaf kepada Aki karma karena membuat aden-aden itu pergi, sehingga mau tidak mau mereka harus mencari jalan sendiri ke dalam hutan.
Maka merekapun berunding tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya, setelah perdebatan panjang didalam rombongan itu. Maka diputuskanlah untuk tetap melanjutkan perjalanan mereka ke tempat ritual di atas gunung dengan membuka jalan dengan menebas pepohonan hutan.
Akhirnya Mereka pun kembali berkemas dan kembali berjalan ke ujung lapangan. Mereka mencoba membuka jalan ke atas gunung dengan menebas ranting-ranting pohon di sekitar mereka dan perlahan-lahan menaiki gunung sepuh dengan peralatan seadanya.
Namun sepertinya keputusan yang Aki karma pilih adalah keputusan yang salah. Karena terlihat dari gelapnya hutan gunung sepuh terdapat banyak mata berwarna merah, mata tersebut menyala di antara pepohonan memandangi rombongan Aki karma. Seakan mereka tidak senang atas keputusan mereka membuka jalan dengan menebas pohon-pohon ke puncak gunung sepuh.
itkgid dan 44 lainnya memberi reputasi
45
Kutip
Balas
Tutup