- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR STORY) TUMBAL PABRIK
...
TS
jurigciwidey
(HORROR STORY) TUMBAL PABRIK
Hai semua ane Jurigciwidey, ane baru kali ini aktif di kaskus, setelah 2 tahun tidak dibuka ini akun akhirnya aktif kembali.
Ane kali ini ingin bercerita kembali, setelah kemarin ane bercerita tentang suatu kisah tentang warung yang tidak pernah tutup satu kalipun
1-DITERIMA KERJA
2-MALAM PERTAMA
3-BAYANGAN
4-PERTEMUAN
5-GELAP
6-POWER PLANT
7-PERDEBATAN
8-GERBANG DEPAN
Ane kali ini ingin bercerita kembali, setelah kemarin ane bercerita tentang suatu kisah tentang warung yang tidak pernah tutup satu kalipun
(HORROR STORY) WARUNG TENGAH MALAM
dan cerita lanjutanya
(HORROR STORY) KAMPUNG SEPUH
dan cerita lanjutanya
(HORROR STORY) KAMPUNG SEPUH
Dan kali ini ane akan bekerja tentang Suatu pabrik tempatku bekerja dulu dengan aturan-aturan yang tidak tertulis yang aneh bagi ane. pabrik ini sayangnya sudah bangkrut namun ketika ane bekerja disana banyak kejadian yang menurut ane diluar nalar.


Spoiler for 0-PROLOG:
Hujan rintik-rintik disertai kabut mengguyur ciwidey kala itu, hujan yang disertai dingin yang menusuk kulitku membuatku harus memakai jacket tebal untuk menghangatkan tubuh. Aku ingat, hari ini aku harus berangkat ke kota Bandung, bertemu dengan teman-teman kerja ku dulu, ketika aku bekerja di salah satu pabrik di daerah kab Bandung.
Aku awalnya ragu untuk berangkat, karena jarak pandang di depan rumahku sangat minim, karena kabut tebal yang menutupi kampungku hari itu.
“apakah harus aku batalkan aja ya, melihat kondisi cuaca di ciwidey yang kurang baik” pikirku
aku terdiam sejenak di depan rumah, melihat kondisi cuaca yang sepertinya tidak memungkinkan untuk keluar, namun karena aku sudah lama tidak bertemu dengan teman-teman kerjaku dulu, akhirnya aku memaksakan diri untuk berangkat.
Akhirnya aku memakai motor kesayanganku untuk menembus kabut tebal di ciwidey hari itu, aku menjalankan motor ku dengan sangat hati-hati, mengingat jarak yang ditempuh dari ciwidey ke Bandung sangat jauh.
Selepas ciwidey jarak pandangku semakin jauh, kabut tebal pun pelan-pelan menghilang, aku menyusuri setiap jalan yang berliku menuju bandung dengan motorku pada hari itu.
2 jam berlalu, akhirnya aku tiba di suatu cafe di buah batu, disana aku membuka WA ku dan melihat teman-temanku sudah sampai satu persatu. Aku memarkirkan motorku dan akhirnya aku masuk di cafe itu.
Akhirnya aku bertemu dengan mereka, bertemu dengan 3 orang teman kerja ku yang dulu di suatu pabrik di Kab Bandung. kulihat perubahan dari mereka yang sangat berbeda dibandingkan ketika dulu kita bekerja bersama sebagai buruh pabrik di tempat itu.
Disana aku mengobrol dengan mereka, saling bertukar cerita tentang kehidupan kita masing-masing selepas kita resign dari pabrik itu akibat alasan yang sebenarnya tabu bagi kita semua untuk diceritakan kembali.
Disana pula aku tau tentang cerita ujang, dari temanku yang kebetulan adalah salah satu penduduk di kampung itu, yang ceritanya aku sempat ceritakan disini
“eh mang harusnya kamu bayar royalti, cerita ku malah kamu tulis jadi web novel” salah satu temanku yang bernama iman menggodaku
“lah, ga apa apa atuh, khan ceritanya lumayan bagus” kataku
“ah ntar takutnya jadi kayak cerita KKN penari, banyak orang yang datang nyari tempat itu” kata Iman sambil sesekali menyeruput minuman yang kami pesan
“moal kalem weh (engga ko santai aja), toh ceritanya aku samarkan, terus aku tambahkan bumbu-bumbu supaya menarik” jawabku
Kita terlarut dalam obrolan di hari itu, kita banyak cerita tentang hal-hal konyol ketika kita bekerja di pabrik, tak lupa kita juga saling bertukar cerita seram tentang pabrik, terutama ketika shift malam.
“eh katanya pabrik itu akhirnya bangkrut ya” kata dadi
Kami berempat yang sedang meminum minuman sontak langsung berhenti atas ucapan dadi.
“ah masa” ujang momo
“serius, kemarin sewaktu lewat ketika keluar dari tol soreang, pabrik itu terlihat sepi” kata dado meyakinkan kita berempat.
“mungkin gara-gara pandemi jadi banyak di PHK hingga akhirnya bangkrut” kataku
“atau mungkin gara-gara tumbal tahunan nya tidak terpenuhi tahun ini akibat WFH” kata iman
“hush” kata kataku
“lah benerkan, terakhir kecelakaan kerja itu tahun kemarin, ampe adiknya boss jadi korban juga” kata iman
“Indah” kataku.
“iya” iman mencoba menyakinkan semua orang disana termasuk aku.
Iman adalah orang yang paling dekat dengan indah ketika kita semua kerja di pabrik, karena mungkin mereka tinggal di kampung yang sama dan bekerja di tempat yang sama pula, sehingga dia hapal siapa indah yang tak lain adalah adik dari boss pabrik tempat kita bekerja dulu.
“Indah dulu sering bercerita tentang keanehan di pabrik, dia banyak bercerita padaku ketika masih ada, dan dia juga yang suka mewanti-wanti ketika kita semua shift malam” kata iman
“kan kalian tau sendiri banyak hal-hal aneh ketika di pabrik, kebanyakan karyawan baru juga banyak yang resign akibat itu, namun karena kita semua lebih percaya takut kehilangan uang dan pekerjaan sehingga kita bertahan dengan kondisi pabrik kayak gitu” kata iman.
Akhirnya kami pun bercerita tentang pabrik, bercerita tentang angkernya pabrik tempat kita berkerja, dan ini juga yang menginspirasiku untuk bercerita
Disana juga aku akan bercerita tentang Indah, salah satu adik bos dari pabrik tempat kita bekerja yang berakhir mengenaskan.
Aku awalnya ragu untuk berangkat, karena jarak pandang di depan rumahku sangat minim, karena kabut tebal yang menutupi kampungku hari itu.
“apakah harus aku batalkan aja ya, melihat kondisi cuaca di ciwidey yang kurang baik” pikirku
aku terdiam sejenak di depan rumah, melihat kondisi cuaca yang sepertinya tidak memungkinkan untuk keluar, namun karena aku sudah lama tidak bertemu dengan teman-teman kerjaku dulu, akhirnya aku memaksakan diri untuk berangkat.
Akhirnya aku memakai motor kesayanganku untuk menembus kabut tebal di ciwidey hari itu, aku menjalankan motor ku dengan sangat hati-hati, mengingat jarak yang ditempuh dari ciwidey ke Bandung sangat jauh.
Selepas ciwidey jarak pandangku semakin jauh, kabut tebal pun pelan-pelan menghilang, aku menyusuri setiap jalan yang berliku menuju bandung dengan motorku pada hari itu.
2 jam berlalu, akhirnya aku tiba di suatu cafe di buah batu, disana aku membuka WA ku dan melihat teman-temanku sudah sampai satu persatu. Aku memarkirkan motorku dan akhirnya aku masuk di cafe itu.
Akhirnya aku bertemu dengan mereka, bertemu dengan 3 orang teman kerja ku yang dulu di suatu pabrik di Kab Bandung. kulihat perubahan dari mereka yang sangat berbeda dibandingkan ketika dulu kita bekerja bersama sebagai buruh pabrik di tempat itu.
Disana aku mengobrol dengan mereka, saling bertukar cerita tentang kehidupan kita masing-masing selepas kita resign dari pabrik itu akibat alasan yang sebenarnya tabu bagi kita semua untuk diceritakan kembali.
Disana pula aku tau tentang cerita ujang, dari temanku yang kebetulan adalah salah satu penduduk di kampung itu, yang ceritanya aku sempat ceritakan disini
“eh mang harusnya kamu bayar royalti, cerita ku malah kamu tulis jadi web novel” salah satu temanku yang bernama iman menggodaku
“lah, ga apa apa atuh, khan ceritanya lumayan bagus” kataku
“ah ntar takutnya jadi kayak cerita KKN penari, banyak orang yang datang nyari tempat itu” kata Iman sambil sesekali menyeruput minuman yang kami pesan
“moal kalem weh (engga ko santai aja), toh ceritanya aku samarkan, terus aku tambahkan bumbu-bumbu supaya menarik” jawabku
Kita terlarut dalam obrolan di hari itu, kita banyak cerita tentang hal-hal konyol ketika kita bekerja di pabrik, tak lupa kita juga saling bertukar cerita seram tentang pabrik, terutama ketika shift malam.
“eh katanya pabrik itu akhirnya bangkrut ya” kata dadi
Kami berempat yang sedang meminum minuman sontak langsung berhenti atas ucapan dadi.
“ah masa” ujang momo
“serius, kemarin sewaktu lewat ketika keluar dari tol soreang, pabrik itu terlihat sepi” kata dado meyakinkan kita berempat.
“mungkin gara-gara pandemi jadi banyak di PHK hingga akhirnya bangkrut” kataku
“atau mungkin gara-gara tumbal tahunan nya tidak terpenuhi tahun ini akibat WFH” kata iman
“hush” kata kataku
“lah benerkan, terakhir kecelakaan kerja itu tahun kemarin, ampe adiknya boss jadi korban juga” kata iman
“Indah” kataku.
“iya” iman mencoba menyakinkan semua orang disana termasuk aku.
Iman adalah orang yang paling dekat dengan indah ketika kita semua kerja di pabrik, karena mungkin mereka tinggal di kampung yang sama dan bekerja di tempat yang sama pula, sehingga dia hapal siapa indah yang tak lain adalah adik dari boss pabrik tempat kita bekerja dulu.
“Indah dulu sering bercerita tentang keanehan di pabrik, dia banyak bercerita padaku ketika masih ada, dan dia juga yang suka mewanti-wanti ketika kita semua shift malam” kata iman
“kan kalian tau sendiri banyak hal-hal aneh ketika di pabrik, kebanyakan karyawan baru juga banyak yang resign akibat itu, namun karena kita semua lebih percaya takut kehilangan uang dan pekerjaan sehingga kita bertahan dengan kondisi pabrik kayak gitu” kata iman.
Akhirnya kami pun bercerita tentang pabrik, bercerita tentang angkernya pabrik tempat kita berkerja, dan ini juga yang menginspirasiku untuk bercerita
Disana juga aku akan bercerita tentang Indah, salah satu adik bos dari pabrik tempat kita bekerja yang berakhir mengenaskan.
1-DITERIMA KERJA
2-MALAM PERTAMA
3-BAYANGAN
4-PERTEMUAN
5-GELAP
6-POWER PLANT
7-PERDEBATAN
8-GERBANG DEPAN
Diubah oleh jurigciwidey 22-10-2021 15:15
elvinrk dan 66 lainnya memberi reputasi
63
40.5K
Kutip
274
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#26
banyak yang bertanya apakah itu adalah indah yang di kampung sepuh, saya jawab iya... karena ini masih ada hubunganya dengan cerita sebelah
“Dadi”
Seseorang di sebelah ku berdiri dan masuk ke suatu ruangan, aku duduk di kursi yang panjang bersama 2 orang lainya di dalam satu ruangan 3x3 meter, menunggu untuk dipanggil ke ruangan HRD. Sedangkan 1 orang lagi kembali keluar dari ruangan itu dan duduk kembali di tempat duduk yang di sediakan.
“Gimana interviewnya” kataku mencoba mengorek informasi kepada orang di sebelahku yang baru keluar dari ruangan itu
“disuruh nunggu lagi, jadi belum tau keterima atau engga” jawabnya dengan cemas
Tak berapa lama, orang yang masuk ke ruangan itu keluar dan kembali duduk kembali di ruang tunggu.
“Dikdik”
Akhirnya sebuah suara memanggilku dari ruangan itu, aku kemudian berdiri dan melangkah ke ruangan itu, ruangan itu Nampak lebih kecil dari ruang tunggu. Hanya ada 1 meja dan dua kursi, serta ada lemari kecil tempat menyimpan berkas di sudut ruangan, serta jam dinding tua dengan logo perusahaan yang menggantung di dinding.
“silahkan duduk pak” ucap salah seorang wanita yang mempersilahkanku duduk
“perkenalkan nama saya Indah, saya adalah HRD disini, ini adalah interview terakhir yang bisa memutuskan bapak bisa bergabung disini atau tidak” kata wanita yang didepanku itu.
Wanita itu kemudian bertanya, tentang latar belakangku, motivasiku bekerja, hingga keahlianku. Akupun dengan sigap menjawab semua pertanyaan yang dia lontarkan dengan penuh antusias, berharap jawaban yang ku utarakan bisa membuatku diterima oleh perusahaan ini.
“Hmm. Menarik Pak, namun apabila diterima apakah bapak sanggup untuk kerja di shift malam?” Tanya nya kepadaku
“sanggup bu” jawabku dengan tegas
Wanita itu kemudian menulis beberapa catatan dalam cv yang ku berikan kepadanya, kemudian dia memintaku untuk menunggu kembali diruang tunggu. Dia berkata keputusanya akan keluar setelah dia menyelesaikan interview dengan kandidat yang lain.
Akupun menangguk dan kembali keluar ke ruang tunggu bersama yang lainya.
“Deni Momo”
Aku melihat seseorang setelahku yang masih menunggu berdiri, dia berjalan ke ruangan yang sebelumnya sudah ku masuki. Aku kemudian menunggu kembali di ruangan itu dengan 2 orang lainya.
Tak lama kami semua dipanggil untuk kembali masuk ke ruangan itu.
“selamat, kalian lulus dan bisa mulai bekerja besok hari” ucap wanita itu.
Perasaan senang muncul pada diriku, akhirnya aku bisa bekerja dan mendapatkan gaji setelah beberapa bulan aku menganggur selepas aku lulus sekolah. Kulihat pula 3 orang lainya tersenyum dengan senangnya, mereka tak kuasa menahan rasa senang dalam dirinya karena sudah diterima bekerja.
“kalian akan bekerja besok, namun sebelum kalian bekerja, aku akan mengajak kalian berkeliling, supaya kalian tahu jobdesk kalian dan tempat kalian bekerja” kata wanita itu sambil merapikan berkas interview dan menyimpanya dalam lemari kecil di ruangan itu.
****
Tempatku bekerja adalah sebuah pabrik, pabrik kecil di pinggiran kota bandung, pabrik yang memproduksi kain untuk import. Awalnya aku ragu melamar ke pabrik ini, karena letaknya sangat terpencil, tidak seperti pabrik kebanyakan yang letaknya di suatu area dan berjejer satu sama lain. Pabrik ini letaknya di selatan kota bandung, dan letaknya ada di pinggir jalan kampung dan di apit oleh sawah yang luas di kedua sisinya. Dibelakang pabrik itu juga terdapat hutan bamboo yang luas membentang hingga ke atas bukit.
Pabrik ini cukup besar, ada total 2 gedung utama di kiri dan kanan, untuk gedung sebelah kiri itu digunakan untuk ruangan produksi, dan di sebelah kanan digunakan untuk gudang sedangkan ada lantai dua di gedung sebelah kanan. Tempatnya dipakai untuk ruangan staff kantor, ruang meeting dan ruang owner. Ruangan-ruangan itu juga terdapat kaca-kaca besar yang mengarah ke gudang atau mengarah ke gedung sebelah kiri. Sehingga para staff dan owner bisa langsung melihat aktifitas di pabrik dari atas.
Di belakang pabrik itu terdapat taman dan mushola kecil untuk beribadah, tak lupa ada berbagai pepohonan yang ada di sisi taman tersebut dan di ujungnya terdapat pohon pisang yang masih berbentuk tunas sebanyak tiga buah. Biasanya taman itu dipakai untuk para karyawan beristirahat dan makan, karena disana juga terpadat bangku-bangku kecil tempat para karyawan duduk ketika istirahat tiba.
Indah selaku HRD pun menjelaskan jobdesk kepadaku dan kepada 3 orang lainya sewaktu berkeliling. Jobdesknya sebenarnya sederhana. Hanya memastikan mesin berjalan sebagaimana mestinya, jangan sampai ada mesin yang mati, karena mesin-mesin itu akan bekerja selama 24 jam penuh sehingga perlu di awasi oleh kami ber empat.
Indah juga menjelaskan beberapa peraturan-peraturan yang ada di pabrik ini, dan wajib hukumnya untuk mematuhi segala peraturan di pabrik ini. Terutama bagi kami, para karyawan baru yang tidak tahu tentang aturan-aturan yang ada, sehingga kita bisa taat dan bekerja tanpa adanya masalah.
Indah pun mulai mendekati sebuah tulisan yang menempel di dinding pabrik, di dalamnya terdapat beberapa peraturan yang harus di penuhi oleh seluruh karyawan kantor tanpa terkecuali. Isinya adalah:
1-MENJAGA KEBERISHAN DI LINGKUNGAN PABRIK
2-DIWAJIBKAN UNTUK ABSEN TEPAT WAKTU
3-APABILA ADA KARYAWAN YANG HENDAK LEMBUR, MAKA HARUS MELAPORKANYA KE RUANGAN STAFF DI LANTAI 2
4-KARYAWAN WAJIB MENINGGALKAN GUDANG PALING TELAT PUKUL 17:00 DAN MENUTUP PINTU GUDANG
5-DILARANG MENGINJAKAN KAKI DI TAMAN, DAN JANGAN MERUSAK POHON PISANG YANG ADA DI TAMAN
6-CLEANING SERVICE HARUS SEGERA MEMBERSIHKAN RUANGAN STAFF SESAAT SETELAH JAM PULANG PUKUL 17:00 DAN HARUS SEGERA MENYELESAIKAN SEBELUM JAM 18:00
7-UTAMAKAN KESELAMATAN KERJA, TERUTAMA DI BAGIAN PRODUKSI
8-PINTU WC DI BAGIAN PRODUKSI TIDAK BOLEH DITUTUP RAPAT
9-BAGI SUPIR EXPEDISI YANG DATANG KE PABRIK KETIKA MALAM, DISARANKAN UNTUK TIDUR DI MUSHOLA
10-SEMUA KARYAWAN DILARANG KE RUANGAN KECIL DI GUDANG TANPA SEPENGETAHUIN OWNER
Aku membaca secara seksama perturan-peraturan itu, namun ada beberapa yang janggal, sehingga akupun bertanya kepada Indah.
“Bu mohon maaf mau Tanya, untuk peraturan nomor 10 apakah kita tidak boleh masuk ke ruangan itu” aku bertanya kepada indah sambil menunjuk ke suatu ruangan kecil yang ada di ujung gudang. Ruangan tersebut hanya ada lubang ventilasi kecil yang terlihat di atas pintu, dan pintunyapun tertutup rapat.
Indah hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban dari pertanyaanku itu. dia hanya bilang bahwa peraturan ini harus di patuhi oleh semua karyawan yang bekerja disini.
Indah pun kembali mengajak kita ber 4 untuk kembali ke ruangan HRD, untuk mempersiapkan berkas dan menandatangani kontrak kerja. Ketika indah berjalan, aku masih terdiam dan memandang kepada ruangan itu. dan tiba-tiba.
Ada sepasang mata yang mengintip di sela-sela ventilasi ruangan itu, mata itu menatap ke arahku. Akupun kaget dan kemudian berbalik, menyusul mereka yang sedang berjalan ke ruangan HRD.
“itu apa ya” pikirku
Spoiler for 1-HARI PERTAMA KERJA:
“Dadi”
Seseorang di sebelah ku berdiri dan masuk ke suatu ruangan, aku duduk di kursi yang panjang bersama 2 orang lainya di dalam satu ruangan 3x3 meter, menunggu untuk dipanggil ke ruangan HRD. Sedangkan 1 orang lagi kembali keluar dari ruangan itu dan duduk kembali di tempat duduk yang di sediakan.
“Gimana interviewnya” kataku mencoba mengorek informasi kepada orang di sebelahku yang baru keluar dari ruangan itu
“disuruh nunggu lagi, jadi belum tau keterima atau engga” jawabnya dengan cemas
Tak berapa lama, orang yang masuk ke ruangan itu keluar dan kembali duduk kembali di ruang tunggu.
“Dikdik”
Akhirnya sebuah suara memanggilku dari ruangan itu, aku kemudian berdiri dan melangkah ke ruangan itu, ruangan itu Nampak lebih kecil dari ruang tunggu. Hanya ada 1 meja dan dua kursi, serta ada lemari kecil tempat menyimpan berkas di sudut ruangan, serta jam dinding tua dengan logo perusahaan yang menggantung di dinding.
“silahkan duduk pak” ucap salah seorang wanita yang mempersilahkanku duduk
“perkenalkan nama saya Indah, saya adalah HRD disini, ini adalah interview terakhir yang bisa memutuskan bapak bisa bergabung disini atau tidak” kata wanita yang didepanku itu.
Wanita itu kemudian bertanya, tentang latar belakangku, motivasiku bekerja, hingga keahlianku. Akupun dengan sigap menjawab semua pertanyaan yang dia lontarkan dengan penuh antusias, berharap jawaban yang ku utarakan bisa membuatku diterima oleh perusahaan ini.
“Hmm. Menarik Pak, namun apabila diterima apakah bapak sanggup untuk kerja di shift malam?” Tanya nya kepadaku
“sanggup bu” jawabku dengan tegas
Wanita itu kemudian menulis beberapa catatan dalam cv yang ku berikan kepadanya, kemudian dia memintaku untuk menunggu kembali diruang tunggu. Dia berkata keputusanya akan keluar setelah dia menyelesaikan interview dengan kandidat yang lain.
Akupun menangguk dan kembali keluar ke ruang tunggu bersama yang lainya.
“Deni Momo”
Aku melihat seseorang setelahku yang masih menunggu berdiri, dia berjalan ke ruangan yang sebelumnya sudah ku masuki. Aku kemudian menunggu kembali di ruangan itu dengan 2 orang lainya.
Tak lama kami semua dipanggil untuk kembali masuk ke ruangan itu.
“selamat, kalian lulus dan bisa mulai bekerja besok hari” ucap wanita itu.
Perasaan senang muncul pada diriku, akhirnya aku bisa bekerja dan mendapatkan gaji setelah beberapa bulan aku menganggur selepas aku lulus sekolah. Kulihat pula 3 orang lainya tersenyum dengan senangnya, mereka tak kuasa menahan rasa senang dalam dirinya karena sudah diterima bekerja.
“kalian akan bekerja besok, namun sebelum kalian bekerja, aku akan mengajak kalian berkeliling, supaya kalian tahu jobdesk kalian dan tempat kalian bekerja” kata wanita itu sambil merapikan berkas interview dan menyimpanya dalam lemari kecil di ruangan itu.
****
Tempatku bekerja adalah sebuah pabrik, pabrik kecil di pinggiran kota bandung, pabrik yang memproduksi kain untuk import. Awalnya aku ragu melamar ke pabrik ini, karena letaknya sangat terpencil, tidak seperti pabrik kebanyakan yang letaknya di suatu area dan berjejer satu sama lain. Pabrik ini letaknya di selatan kota bandung, dan letaknya ada di pinggir jalan kampung dan di apit oleh sawah yang luas di kedua sisinya. Dibelakang pabrik itu juga terdapat hutan bamboo yang luas membentang hingga ke atas bukit.
Pabrik ini cukup besar, ada total 2 gedung utama di kiri dan kanan, untuk gedung sebelah kiri itu digunakan untuk ruangan produksi, dan di sebelah kanan digunakan untuk gudang sedangkan ada lantai dua di gedung sebelah kanan. Tempatnya dipakai untuk ruangan staff kantor, ruang meeting dan ruang owner. Ruangan-ruangan itu juga terdapat kaca-kaca besar yang mengarah ke gudang atau mengarah ke gedung sebelah kiri. Sehingga para staff dan owner bisa langsung melihat aktifitas di pabrik dari atas.
Di belakang pabrik itu terdapat taman dan mushola kecil untuk beribadah, tak lupa ada berbagai pepohonan yang ada di sisi taman tersebut dan di ujungnya terdapat pohon pisang yang masih berbentuk tunas sebanyak tiga buah. Biasanya taman itu dipakai untuk para karyawan beristirahat dan makan, karena disana juga terpadat bangku-bangku kecil tempat para karyawan duduk ketika istirahat tiba.
Indah selaku HRD pun menjelaskan jobdesk kepadaku dan kepada 3 orang lainya sewaktu berkeliling. Jobdesknya sebenarnya sederhana. Hanya memastikan mesin berjalan sebagaimana mestinya, jangan sampai ada mesin yang mati, karena mesin-mesin itu akan bekerja selama 24 jam penuh sehingga perlu di awasi oleh kami ber empat.
Indah juga menjelaskan beberapa peraturan-peraturan yang ada di pabrik ini, dan wajib hukumnya untuk mematuhi segala peraturan di pabrik ini. Terutama bagi kami, para karyawan baru yang tidak tahu tentang aturan-aturan yang ada, sehingga kita bisa taat dan bekerja tanpa adanya masalah.
Indah pun mulai mendekati sebuah tulisan yang menempel di dinding pabrik, di dalamnya terdapat beberapa peraturan yang harus di penuhi oleh seluruh karyawan kantor tanpa terkecuali. Isinya adalah:
1-MENJAGA KEBERISHAN DI LINGKUNGAN PABRIK
2-DIWAJIBKAN UNTUK ABSEN TEPAT WAKTU
3-APABILA ADA KARYAWAN YANG HENDAK LEMBUR, MAKA HARUS MELAPORKANYA KE RUANGAN STAFF DI LANTAI 2
4-KARYAWAN WAJIB MENINGGALKAN GUDANG PALING TELAT PUKUL 17:00 DAN MENUTUP PINTU GUDANG
5-DILARANG MENGINJAKAN KAKI DI TAMAN, DAN JANGAN MERUSAK POHON PISANG YANG ADA DI TAMAN
6-CLEANING SERVICE HARUS SEGERA MEMBERSIHKAN RUANGAN STAFF SESAAT SETELAH JAM PULANG PUKUL 17:00 DAN HARUS SEGERA MENYELESAIKAN SEBELUM JAM 18:00
7-UTAMAKAN KESELAMATAN KERJA, TERUTAMA DI BAGIAN PRODUKSI
8-PINTU WC DI BAGIAN PRODUKSI TIDAK BOLEH DITUTUP RAPAT
9-BAGI SUPIR EXPEDISI YANG DATANG KE PABRIK KETIKA MALAM, DISARANKAN UNTUK TIDUR DI MUSHOLA
10-SEMUA KARYAWAN DILARANG KE RUANGAN KECIL DI GUDANG TANPA SEPENGETAHUIN OWNER
Aku membaca secara seksama perturan-peraturan itu, namun ada beberapa yang janggal, sehingga akupun bertanya kepada Indah.
“Bu mohon maaf mau Tanya, untuk peraturan nomor 10 apakah kita tidak boleh masuk ke ruangan itu” aku bertanya kepada indah sambil menunjuk ke suatu ruangan kecil yang ada di ujung gudang. Ruangan tersebut hanya ada lubang ventilasi kecil yang terlihat di atas pintu, dan pintunyapun tertutup rapat.
Indah hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban dari pertanyaanku itu. dia hanya bilang bahwa peraturan ini harus di patuhi oleh semua karyawan yang bekerja disini.
Indah pun kembali mengajak kita ber 4 untuk kembali ke ruangan HRD, untuk mempersiapkan berkas dan menandatangani kontrak kerja. Ketika indah berjalan, aku masih terdiam dan memandang kepada ruangan itu. dan tiba-tiba.
Ada sepasang mata yang mengintip di sela-sela ventilasi ruangan itu, mata itu menatap ke arahku. Akupun kaget dan kemudian berbalik, menyusul mereka yang sedang berjalan ke ruangan HRD.
“itu apa ya” pikirku
Diubah oleh jurigciwidey 01-09-2021 14:27
itkgid dan 32 lainnya memberi reputasi
33
Kutip
Balas
Tutup