- Beranda
- Stories from the Heart
Petaka Tambang Emas Berdarah
...
TS
benbela
Petaka Tambang Emas Berdarah

Salam lekum agan sista semua.
Ane balik lagi dengan cerita baru masih dengan latar, mitos, budaya, urban legen maupun folklore Kalimantan.
Thread kali ini kayaknya lebih ancur dari cerita sebelumnya 🤣🤣🤣. Genrenya juga gak jelas. Entah horor, thriler, misteri, drama atau komedi 🤣
Semoga thread kali ini bisa menghibur gansis semua yang terdampak PKKM, terutama yang isoman moga cepat sehat.
Ane juga mohon maaf apabila dalam cerita ini ada pihak yang tersinggung. Cerita ini tidak bermaksud untuk mendeskreditkan suku, agama, kelompok atau instansi manapun. Karena semua tokoh dan pihak yang terlibat adalah murni karena plot cerita, bukan bermaksud menyinggung.
Quote:
beberapa gambar ane comot dari google sebagai ilustrasi, bukan dokumentasi pribadi.
Quote:
Update teratur tiap malam Senen dan malam Jumat pukul 19.00. wib
Quote:
Dilarang keras untuk memproduksi ulang cerita ini baik dalam bentuk tulisan, audio, visual, atau gabungan salah satu atau semua di antaranya tanpa perjanjian tertulis. Terima kasih
Quote:
Diubah oleh benbela 16-01-2022 19:25
bruno95 dan 141 lainnya memberi reputasi
138
92.3K
Kutip
2.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
benbela
#104
Quote:
Original Posted By benbela►
"Berhenti...! Sudah cukup !" Kapten Anang memberi perintah.
Suara bising mesin penyedot langsung berhenti, berganti keributan yang tak sabar ingin tahu hasil percobaan kami.
Bergegas, aku, mang Muksin, mang Mursyid, mang Soleh, melepas karpet penyaring dari papan kasbuk. Karpet penuh pasir kami cuci dalam ember, bercampur air dan deterjen.
Sedangkan yang lain sibuk merapikan peralatan tambang yang berantakan kesana kemari.
Mang Mursyid, pendulang terbaik langsung mengerjakan keahliannya.
Wajah kami berbinar, saat butir-butir emas mulai terkumpul di papan dulang, berkilauan terkena sinar matahari.
Setelah dimasak dengan raksa dan ditimbang, emas yang terkumpul 12 gram. Yap...12 gram. Hasil yang menjanjikan untuk sebuah percobaan.
"Lihat...baru 1 jam bekerja kita sudah dapat 12 gram. Apalagi kalau seminggu, bisa 1 ons. Bisa juga 1 kilo, huwaha..ha...ha...!!!"
Kapten Anang tergelak melihat hasil percobaan kami. Wajahnya sumringah penuh kebahagiaan.
Sorak sorai kegembiraan menghampiri semua orang. Rasa lelah dan khawatir hilang begitu saja. Kami lupa akan mayat yang mengapung di sungai. Kami juga lupa ada kepala buntung yang copot dari badan. Yang ada di otak kami hanyalah emas dan emas.
Butiran emas kemudian dimasukan dalam botol kaca kecil, lalu disimpan dalam peti yang hanya boleh dipegang kapten.
"Ayo...! Saatnya kita makan. Setelah itu kita bangun pondok." ucap kapten Anang.
Kami lalu melangkah menuju Lai dan Dayat yang sedang berdebat panas. Bagai anjing dan kucing, dua orang itu memang tak pernah akur.
"Ada apa lagi kalian ribut-ribut !?" Lantang kapten menghardik, membuat ciut nyali yang mendengar.
"I-ini kapten. Si Lai, mau ngebakar terasi."
"Tak enak lah lai, makan sambal tanpa terasi. Mengecil nanti lubang hidungku."
"Sudah ! Sudah ! Tak boleh ada terasi di tengah hutan !"
Merajuk, si Lai menjauh membawa piring penuh nasi dan lauk menuju pantai di pinggir sungai.
" Lai...! Jangan lupa lempar sedikit nasi buat penunggu hutan !" ucap Dayat sambil berteriak.
Si Lai hanya diam, tak peduli pekikan Dayat. Diam-diam, ia kembali membakar terasi.
*****
Siang berganti senja. Senja berganti malam. Sebuah pondok sederhana sudah berdiri di pinggir sungai. Beratap terpal, berdinding spanduk caleg gagal serta berlantai kayu bulat beralas tikar. Sebuah lampu strongking menyala terang, tergantung di tengah pondok.
Selama 10 hari kedepan, di pondok tak layak huni inilah kami bernaung. Dingin sudah pasti, nyamuk apalagi. Hujan tak perlu risau karena sekarang musim kemarau.
Dari hutan, suara burung hantu saling bersahutan, beriringan dengan suara serangga dan binatang malam.
Esok pagi, kami sudah mulai bekerja mencari butir-butir emas. 5 orang bekerja dari pagi hingga malam. 5 orang bekerja dari malam hingga pagi. Hari jumat kami libur bekerja, lalu berganti giliran.
Di luar pondok, di atas kayu, aku duduk dengan segelas kopi panas.
Di tengah pantai, mang Soleh dan si Lai tampak sibuk sendiri. Entah apa yang mereka lakukan, dua cahaya headlamp menyala terang di dalam gelap.
Aku menatap langit, penuh bintang dan bulan yang hendak purnama. Pikiranku kembali pada rumah, ibu, istri dan putri mungilku.
Akkh...! Putri mungilku !
Rinduku membara, menyala-nyala bagai api. Semakin rindu, semakin pilu.
Sedang apa kau nak ? Kenapa selalu kau ucap mama saat kubilang abah ?
Aku tersenyum mengingat polahnya. Bisa saja ia sedang membuat gaduh ibu dan neneknya.
"Mikir anak ?"
Suara Dayat membuyarkan kerinduanku. Duduk di sebelah, ia memegang rokok dan secangkir kopi panas.
"Berapa umur anakmu ?" tanya Dayat, sambil mengelap kacamatanya dengan handuk kecil yang lusuh.
"Jalan 10 bulan. Baru belajar berdiri." Jawabku tersenyum kecut. Kecut karena rindu.
"Kau tak ingin cari pengganti ?" tanyaku pada Dayat.
Tidak menjawab, Dayat menatap kosong ke arah langit. Wajahnya getir dan penuh luka.
"Anak-anakku masih kecil. Aku takut, ibu baru tak bisa menerima kehadiran mereka."
Dayat menghisap rokok, menutup perih di hati. Asap lalu keluar dari mulut dan hidungnya.
"Wanita sundal itu...," suara Dayat mulai meninggi," wanita sundal itu terlalu hina untuk kusebut namanya. Lebih hina dari yang paling hina."
Penuh luka, kata-kata Dayat terdengar sedih.
"Wanita sundal itu tega meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil, demi lelaki yang sama miskinnya denganku. Ia telantarkan anak yang baru lepas dari persusuan ibu, demi pria yang hanya juru mudi kelotok. Cuihh !"
Ucapan Dayat penuh emosi, amarah, namun getir menyayat hati.
"Jika ia kabur dengan lelaki lebih kaya dariku, lebih gagah, lebih ganteng, lebih segala-galanya, tak terlalu sakit hatiku. Tapi ini...lepas dari tangan orang miskin hanya untuk berpindah ke tangan orang miskin lain. Memalukan ! Tak punya selera ! Cuih !"
Duduk di samping, kedua tangan Dayat mengepal dan tubuhnya bergetar hebat.
Hening. Kami berdua terdiam.
"Semoga saja Yat, semoga kau dapat pengganti lebih baik. Pengganti yang bisa menyayangi anakmu bagai anak sendiri." Aku mencoba menghibur, walau tak yakin berguna.
Dayat menoleh, tersenyum kecut.
"Beginilah hidup Mid. Banyak hal terjadi di luar kendali kita. Tak seorang pun ingin rumah tanganya berantakan. Tapi, kadang takdir berkata lain."
Kembali diam, lalu Dayat kembali bersuara.
"Kau tahu Mid, apa yang membuatku sakit ? Saat aku pulang, anak-anak tak mengenal abahnya. Si sulung tak mau dicium, si bungsu menangis. Perih rasanya. Nasib mempermainkan kita seperti ini. Berhari-hari di hutan, demi duit yang tak seberapa. Tapi apa mau dikata, sekeras apapun takdir tak bisa dilawan. Kadang, kita harus berdamai dengan isi dompet yang pas-pasan."
Aku tersenyum mendengar ucapan Dayat yang terakhir. Setidaknya aku tidak sendiri dalam kemiskinan.
"Bila punya uang banyak, kau mau apa?" tanyaku.
Seperti berpikir, Dayat menghisap rokok yang sisa separo di jarinya.
"Aku ingin menetap di kampung. Tidak lagi ke hutan seperti ini. Kursus barbar sop, jadi tukang cukur. Ha..ha..ha..."
Aku dan Dayat tertawa karena tahu khayalan kami takkan jadi nyata.
"Terus Mid, aku mau ke Jakarta. Mau berfoto di Monas."
"Kenapa harus Monas ?"
"Kita ini orang Indonesia. Paling tidak, sekali seumur hidup kita harus pernah ke Ibukota. Ke Monas ! Ha...ha..ha..!"
Aku dan Dayat kembali tertawa. Tertawa orang miskin. Bagi orang miskin, bisa ke Monas pun sudah membuat bahagia.
"Kalau kau Mid, bila punya uang berlimpah, apa yang kau lakukan ?"
"Aku akan membeli truck. Bisa untuk ngangkut sembako dari Banjarmasin ke tempat kita. Bisa juga untuk ngangkut pasir, atau tanah, atau sapi, atau pupuk. Bisa juga disewakan untuk perusahaan tambang yang berpuluh biji di kampung kita ini."
Aku dan Dayat kembali terkekeh, menertawakan khayalan masing-masing.
Dayat lalu beranjak dari tempat duduk, mengambil parang di pondok, kemudian kembali lagi. Sepotong kayu sepanjang 5cm ia keluarkan dari dompet. Berwarna putih mirip kayu siwak. Kayu itu ia potong jadi dua, ia serahkan sepotong untukku.
"Ini kayu kareh jewu. Untuk perlindungan dari hal jahat. Simpan di dompet. Di hutan ini banyak perampok, hantu, kuyang, macan, hewan buas dan hewan jadi-jadian." ucap Dayat.
Sebenarnya aku tidak terlalu percaya pada kekuatan jimat, basal, penyang dan sebagainya. Apalagi hanya sepotong kayu. Tapi karena merasa tak enak, kusimpan saja kayu kareh jewu itu di dompet.
"Hei lai...sini ! Sesama orang susah jangan kebanyakan curhat, nanti semakin susah !"
Teriakan si Lai mengagetkan kami. Berdiri di samping api unggun, di atas pantai, Lai memberi kode dengan tangan untuk mendekat.
Petikan kecapi mang Soleh terdengar membahana di tengah belantara. Mulutnya komat-kamit menyanyikan lagu karungutdengan merdu. Lagu khas Dayak.
Sumringah, aku dan Dayat langsung berlari menyusul Lai yang sedang menari mengelilingi api bagai orang indian.
Suasana semakin meriah, saat yang lain ikut bergabung. Hanya kapten yang tetap di pondok, istirahat katanya.
Hutan yang tadinya sepi, berubah riuh dengan ulah kami. Sorak sorai penuh tawa menggema ke seluruh penjuru hutan. Menelusup ke celah pepohonan dan batu-batu sungai.
Malam itu kami bernyanyi dan menari manasai, melupakan terkutuknya kemiskinan walau sejenak. Bagai berpesta, kami sudah lupa kasbon yang menumpuk di warung Haji Rasyid. Lupa cicilan yang belum dibayar. Lupa segala pahit getir kehidupan.
Bersahut-sahutan dengan burung hantu dan serangga malam, suara mang Soleh terdengar merdu. Saking merdunya, suaranya bahkan terdengar mirip seperti suara Elvy Sukaesih, penyanyi dangdut idola ibu.
Mengeliling api, menari manasai, kaki kami terus bergerak mengikuti irama kecapi mang Soleh. Melangkah teratur ke kiri dan ke kanan.
Persis di depan, gerakan kaki mas Sugang sungguh kacau balau. Tak teratur dan tak berirama. Beberapa kali kakinya menyentuh lututku, membuat hampir jatuh. Belum lagi rambut gondrongnya yang bau dan acak-acakan.
Kesal, aku pun berniat membeset kaki mas Sugang.
Deg !
Niatku urung terlaksana. Jantungku berdetak lebih kencang dan bulu kuduk merinding.
Kaki di depanku melayang, tidak menapak tanah. Langkahku terhenti, seiring bau busuk yang mulai menyengat.
Duukk !
Kepalaku terantuk kepala Dayat yang ada di belakang. Dayat hendak memaki, namun juga langsung terdiam. Tubuhnya gemetar tak karuan, saat menyadari di depan kami ada sosok perempuan berbaju putih dan berambut panjang ikut menari. Rupanya, suara Elvy Sukaesih tadi adalah suara perempuan ini.
"Astaghfirullahul azzim !!!" Dayat menjerit histeris.
Perempuan itu menoleh, tersenyum lebar hingga ke telinga dengan bentuk wajah hancur berantakan. Tawanya melengking menciutkan nyali.
"Kih...kih...kih..."
"Hiii..!!!"
Kami terlonjak kaget. Tubuh kami menggigil dicekam ketakutan.
"Ka-ka-kaaambbeee ...!!!"
"Haantuu...!!!"
Semua yang di pantai berhamburan menyelamatkan diri. Terpontang panting, kami berlari sangat kencang menuju pondok.
"Setan alas...! Biyangane setan alas !"
"Tuullanng...! Opuung...! Ada setan !"
"Hannntuuu puujuutt !"
"Buukaan...! Hantu saandaahh !"
Saat ini, hantu lebih menakutkan daripada kemiskinan.
...bersambung...
Bab 6 : Kilau Emas
"Berhenti...! Sudah cukup !" Kapten Anang memberi perintah.
Suara bising mesin penyedot langsung berhenti, berganti keributan yang tak sabar ingin tahu hasil percobaan kami.
Bergegas, aku, mang Muksin, mang Mursyid, mang Soleh, melepas karpet penyaring dari papan kasbuk. Karpet penuh pasir kami cuci dalam ember, bercampur air dan deterjen.
Sedangkan yang lain sibuk merapikan peralatan tambang yang berantakan kesana kemari.
Mang Mursyid, pendulang terbaik langsung mengerjakan keahliannya.
Wajah kami berbinar, saat butir-butir emas mulai terkumpul di papan dulang, berkilauan terkena sinar matahari.
Setelah dimasak dengan raksa dan ditimbang, emas yang terkumpul 12 gram. Yap...12 gram. Hasil yang menjanjikan untuk sebuah percobaan.
"Lihat...baru 1 jam bekerja kita sudah dapat 12 gram. Apalagi kalau seminggu, bisa 1 ons. Bisa juga 1 kilo, huwaha..ha...ha...!!!"
Kapten Anang tergelak melihat hasil percobaan kami. Wajahnya sumringah penuh kebahagiaan.
Sorak sorai kegembiraan menghampiri semua orang. Rasa lelah dan khawatir hilang begitu saja. Kami lupa akan mayat yang mengapung di sungai. Kami juga lupa ada kepala buntung yang copot dari badan. Yang ada di otak kami hanyalah emas dan emas.
Butiran emas kemudian dimasukan dalam botol kaca kecil, lalu disimpan dalam peti yang hanya boleh dipegang kapten.
"Ayo...! Saatnya kita makan. Setelah itu kita bangun pondok." ucap kapten Anang.
Kami lalu melangkah menuju Lai dan Dayat yang sedang berdebat panas. Bagai anjing dan kucing, dua orang itu memang tak pernah akur.
"Ada apa lagi kalian ribut-ribut !?" Lantang kapten menghardik, membuat ciut nyali yang mendengar.
"I-ini kapten. Si Lai, mau ngebakar terasi."
"Tak enak lah lai, makan sambal tanpa terasi. Mengecil nanti lubang hidungku."
"Sudah ! Sudah ! Tak boleh ada terasi di tengah hutan !"
Merajuk, si Lai menjauh membawa piring penuh nasi dan lauk menuju pantai di pinggir sungai.
" Lai...! Jangan lupa lempar sedikit nasi buat penunggu hutan !" ucap Dayat sambil berteriak.
Si Lai hanya diam, tak peduli pekikan Dayat. Diam-diam, ia kembali membakar terasi.
*****
Siang berganti senja. Senja berganti malam. Sebuah pondok sederhana sudah berdiri di pinggir sungai. Beratap terpal, berdinding spanduk caleg gagal serta berlantai kayu bulat beralas tikar. Sebuah lampu strongking menyala terang, tergantung di tengah pondok.
Selama 10 hari kedepan, di pondok tak layak huni inilah kami bernaung. Dingin sudah pasti, nyamuk apalagi. Hujan tak perlu risau karena sekarang musim kemarau.
Dari hutan, suara burung hantu saling bersahutan, beriringan dengan suara serangga dan binatang malam.
Esok pagi, kami sudah mulai bekerja mencari butir-butir emas. 5 orang bekerja dari pagi hingga malam. 5 orang bekerja dari malam hingga pagi. Hari jumat kami libur bekerja, lalu berganti giliran.
Di luar pondok, di atas kayu, aku duduk dengan segelas kopi panas.
Di tengah pantai, mang Soleh dan si Lai tampak sibuk sendiri. Entah apa yang mereka lakukan, dua cahaya headlamp menyala terang di dalam gelap.
Aku menatap langit, penuh bintang dan bulan yang hendak purnama. Pikiranku kembali pada rumah, ibu, istri dan putri mungilku.
Akkh...! Putri mungilku !
Rinduku membara, menyala-nyala bagai api. Semakin rindu, semakin pilu.
Sedang apa kau nak ? Kenapa selalu kau ucap mama saat kubilang abah ?
Aku tersenyum mengingat polahnya. Bisa saja ia sedang membuat gaduh ibu dan neneknya.
"Mikir anak ?"
Suara Dayat membuyarkan kerinduanku. Duduk di sebelah, ia memegang rokok dan secangkir kopi panas.
"Berapa umur anakmu ?" tanya Dayat, sambil mengelap kacamatanya dengan handuk kecil yang lusuh.
"Jalan 10 bulan. Baru belajar berdiri." Jawabku tersenyum kecut. Kecut karena rindu.
"Kau tak ingin cari pengganti ?" tanyaku pada Dayat.
Tidak menjawab, Dayat menatap kosong ke arah langit. Wajahnya getir dan penuh luka.
"Anak-anakku masih kecil. Aku takut, ibu baru tak bisa menerima kehadiran mereka."
Dayat menghisap rokok, menutup perih di hati. Asap lalu keluar dari mulut dan hidungnya.
"Wanita sundal itu...," suara Dayat mulai meninggi," wanita sundal itu terlalu hina untuk kusebut namanya. Lebih hina dari yang paling hina."
Penuh luka, kata-kata Dayat terdengar sedih.
"Wanita sundal itu tega meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil, demi lelaki yang sama miskinnya denganku. Ia telantarkan anak yang baru lepas dari persusuan ibu, demi pria yang hanya juru mudi kelotok. Cuihh !"
Ucapan Dayat penuh emosi, amarah, namun getir menyayat hati.
"Jika ia kabur dengan lelaki lebih kaya dariku, lebih gagah, lebih ganteng, lebih segala-galanya, tak terlalu sakit hatiku. Tapi ini...lepas dari tangan orang miskin hanya untuk berpindah ke tangan orang miskin lain. Memalukan ! Tak punya selera ! Cuih !"
Duduk di samping, kedua tangan Dayat mengepal dan tubuhnya bergetar hebat.
Hening. Kami berdua terdiam.
"Semoga saja Yat, semoga kau dapat pengganti lebih baik. Pengganti yang bisa menyayangi anakmu bagai anak sendiri." Aku mencoba menghibur, walau tak yakin berguna.
Dayat menoleh, tersenyum kecut.
"Beginilah hidup Mid. Banyak hal terjadi di luar kendali kita. Tak seorang pun ingin rumah tanganya berantakan. Tapi, kadang takdir berkata lain."
Kembali diam, lalu Dayat kembali bersuara.
"Kau tahu Mid, apa yang membuatku sakit ? Saat aku pulang, anak-anak tak mengenal abahnya. Si sulung tak mau dicium, si bungsu menangis. Perih rasanya. Nasib mempermainkan kita seperti ini. Berhari-hari di hutan, demi duit yang tak seberapa. Tapi apa mau dikata, sekeras apapun takdir tak bisa dilawan. Kadang, kita harus berdamai dengan isi dompet yang pas-pasan."
Aku tersenyum mendengar ucapan Dayat yang terakhir. Setidaknya aku tidak sendiri dalam kemiskinan.
"Bila punya uang banyak, kau mau apa?" tanyaku.
Seperti berpikir, Dayat menghisap rokok yang sisa separo di jarinya.
"Aku ingin menetap di kampung. Tidak lagi ke hutan seperti ini. Kursus barbar sop, jadi tukang cukur. Ha..ha..ha..."
Aku dan Dayat tertawa karena tahu khayalan kami takkan jadi nyata.
"Terus Mid, aku mau ke Jakarta. Mau berfoto di Monas."
"Kenapa harus Monas ?"
"Kita ini orang Indonesia. Paling tidak, sekali seumur hidup kita harus pernah ke Ibukota. Ke Monas ! Ha...ha..ha..!"
Aku dan Dayat kembali tertawa. Tertawa orang miskin. Bagi orang miskin, bisa ke Monas pun sudah membuat bahagia.
"Kalau kau Mid, bila punya uang berlimpah, apa yang kau lakukan ?"
"Aku akan membeli truck. Bisa untuk ngangkut sembako dari Banjarmasin ke tempat kita. Bisa juga untuk ngangkut pasir, atau tanah, atau sapi, atau pupuk. Bisa juga disewakan untuk perusahaan tambang yang berpuluh biji di kampung kita ini."
Aku dan Dayat kembali terkekeh, menertawakan khayalan masing-masing.
Dayat lalu beranjak dari tempat duduk, mengambil parang di pondok, kemudian kembali lagi. Sepotong kayu sepanjang 5cm ia keluarkan dari dompet. Berwarna putih mirip kayu siwak. Kayu itu ia potong jadi dua, ia serahkan sepotong untukku.
"Ini kayu kareh jewu. Untuk perlindungan dari hal jahat. Simpan di dompet. Di hutan ini banyak perampok, hantu, kuyang, macan, hewan buas dan hewan jadi-jadian." ucap Dayat.
Sebenarnya aku tidak terlalu percaya pada kekuatan jimat, basal, penyang dan sebagainya. Apalagi hanya sepotong kayu. Tapi karena merasa tak enak, kusimpan saja kayu kareh jewu itu di dompet.
"Hei lai...sini ! Sesama orang susah jangan kebanyakan curhat, nanti semakin susah !"
Teriakan si Lai mengagetkan kami. Berdiri di samping api unggun, di atas pantai, Lai memberi kode dengan tangan untuk mendekat.
Petikan kecapi mang Soleh terdengar membahana di tengah belantara. Mulutnya komat-kamit menyanyikan lagu karungutdengan merdu. Lagu khas Dayak.
Sumringah, aku dan Dayat langsung berlari menyusul Lai yang sedang menari mengelilingi api bagai orang indian.
Suasana semakin meriah, saat yang lain ikut bergabung. Hanya kapten yang tetap di pondok, istirahat katanya.
Hutan yang tadinya sepi, berubah riuh dengan ulah kami. Sorak sorai penuh tawa menggema ke seluruh penjuru hutan. Menelusup ke celah pepohonan dan batu-batu sungai.
Malam itu kami bernyanyi dan menari manasai, melupakan terkutuknya kemiskinan walau sejenak. Bagai berpesta, kami sudah lupa kasbon yang menumpuk di warung Haji Rasyid. Lupa cicilan yang belum dibayar. Lupa segala pahit getir kehidupan.
Bersahut-sahutan dengan burung hantu dan serangga malam, suara mang Soleh terdengar merdu. Saking merdunya, suaranya bahkan terdengar mirip seperti suara Elvy Sukaesih, penyanyi dangdut idola ibu.
Mengeliling api, menari manasai, kaki kami terus bergerak mengikuti irama kecapi mang Soleh. Melangkah teratur ke kiri dan ke kanan.
Persis di depan, gerakan kaki mas Sugang sungguh kacau balau. Tak teratur dan tak berirama. Beberapa kali kakinya menyentuh lututku, membuat hampir jatuh. Belum lagi rambut gondrongnya yang bau dan acak-acakan.
Kesal, aku pun berniat membeset kaki mas Sugang.
Deg !
Niatku urung terlaksana. Jantungku berdetak lebih kencang dan bulu kuduk merinding.
Kaki di depanku melayang, tidak menapak tanah. Langkahku terhenti, seiring bau busuk yang mulai menyengat.
Duukk !
Kepalaku terantuk kepala Dayat yang ada di belakang. Dayat hendak memaki, namun juga langsung terdiam. Tubuhnya gemetar tak karuan, saat menyadari di depan kami ada sosok perempuan berbaju putih dan berambut panjang ikut menari. Rupanya, suara Elvy Sukaesih tadi adalah suara perempuan ini.
"Astaghfirullahul azzim !!!" Dayat menjerit histeris.
Perempuan itu menoleh, tersenyum lebar hingga ke telinga dengan bentuk wajah hancur berantakan. Tawanya melengking menciutkan nyali.
"Kih...kih...kih..."
"Hiii..!!!"
Kami terlonjak kaget. Tubuh kami menggigil dicekam ketakutan.
"Ka-ka-kaaambbeee ...!!!"
"Haantuu...!!!"
Semua yang di pantai berhamburan menyelamatkan diri. Terpontang panting, kami berlari sangat kencang menuju pondok.
"Setan alas...! Biyangane setan alas !"
"Tuullanng...! Opuung...! Ada setan !"
"Hannntuuu puujuutt !"
"Buukaan...! Hantu saandaahh !"
Saat ini, hantu lebih menakutkan daripada kemiskinan.
...bersambung...
Sampai jumpa malam Jumat. Moga gak bosen dengan thread ane yang agak kacau. 😁
Jangan lupa sakrep, komeng dan syer ewer-ewer 😁
Diubah oleh benbela 29-08-2021 20:26
bruno95 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
Kutip
Balas
Tutup