- Beranda
- Stories from the Heart
Kabut Di Langit Malam
...
TS
kankenkinkunkon
Kabut Di Langit Malam
Hallo Gan, Sis!
Ini pertama kalinya ane mampir ke lapak kece satu ini. Sebelumnya, apa yang mau ane bagikan disini cuma cerita karangan. Mungkin ada beberapa bagian yang terinspirasi dari kisah nyata, tapi selebihnya hanya karangan fiksi dari ane semata.
Oh iya, daripada ane dikata nabur kentang, sebelumnya ane nggak mau janjiin kalau ini bisa ane update rutin mingguan, atau dalam tempo tertentu. Ane punya tiga kesibukan, ngampus, nggawe, ngaskus. Ehehe... jadi harap maklum kalo ane nggak bisa tepat waktu update karena tiga prioritas tadi.
Dan berhubung ini juga cerita fiksi, jadi tergantung kemampuan ane buat merangkai cerita nih... tapi sekali lagi, selamat menikmati cerita sederhana ini...
Oh iya, daripada ane dikata nabur kentang, sebelumnya ane nggak mau janjiin kalau ini bisa ane update rutin mingguan, atau dalam tempo tertentu. Ane punya tiga kesibukan, ngampus, nggawe, ngaskus. Ehehe... jadi harap maklum kalo ane nggak bisa tepat waktu update karena tiga prioritas tadi.
Dan berhubung ini juga cerita fiksi, jadi tergantung kemampuan ane buat merangkai cerita nih... tapi sekali lagi, selamat menikmati cerita sederhana ini...
Quote:

Spoiler for Daftar Isi:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Prolog:
wokehhh...
Sampai disini dulu Gan, Sis...
Sekali lagi ane mau mengucapkan maaf apabila ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, ini asli fiktif. Dan... berhubung ane mengambil setting tempat di Indonesia, maka figur tentara yang ane gunakan TNI ya Gan, Sis. Tapi dalam plot sudah ane rancang agar tidak ada pihak yang dirugikan.
Dan berhubung ane suka teori dalam film atau novel, Agan Sista boleh nih berteori dimari...
Diubah oleh kankenkinkunkon 13-12-2021 15:46
c4punk1950... dan 7 lainnya memberi reputasi
8
1.9K
15
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kankenkinkunkon
#8
4. Akar Dari Rasa Benci (Part 3)
Venus Olviaris
Ibuku, koruptor? Yang benar saja!
Ini mungkin akan terdengar menjijikan, tapi keluargaku tidak semiskin itu sampai harus mengeruk hak anak keluarga miskin! Dengar, Ayahku memiliki perusahaan jasa ekspor-impor. Dan tidak jarang kami terlibat tender dengan pemerintah maupun perusahaan asing untuk keperluan muat-angkut barang jalur laut. Hey, coba bayangkan keuntungan harian yang kami dapat jika kami berhasil mengangkut seribu ton sehari? Kalikan satu bulan? Bagaimana satu tahun? Itu baru satu perusahaan. Belum lagi saham yang kami miliki diberbagai perusahaan besar. Untuk keperluan apalagi Ibuku mengkorupsi uang beasiswa?
Itu hanya sebagai analogi jika memang Ibuku terbukti bersalah. Tapi jika tidak? Atas dasar apa tuduhan itu ditujukan pada Ibuku?!
"Kamu pasti bingung ya?" Agata duduk diatas meja, dengan salah satu kaki naik keatas meja. "Kamu kebetulan kasus istimewa."
Agata merogoh sakunya, mengeluarkan sebatang rokok dan menjepitnya dibibir.
"Dewan Keuangan hanya baru menemukan bukti. Dengan dugaan sementara, yang dapat mengakses uang tersebut secara langsung hanya pejabat tinggi Dewan Keuangan. Dan dugaan terkuat terarah pada Ibumu."
"Hey, keluarga kami tidak mungkim korupsi. Kami sudah kaya, untuk apalagi uang-uang itu-"
"Lalu bagaimana dengan para koruptor yang selama ini ada?" Agata memotong ucapanku begitu saja.
"Bagaimana mereka yang awalnya mengatasnamakan rakyat, pada akhirnya mengkorupsi uang rakyat atas nama kepentingan pribadi?" Aku diam, termenung?
"Mereka sudah lebih dari cukup untuk sekadar mengenyangkan perut, membayar tagihan bulanan listrik dan air, anak-anak mereka hidup dengan nyaman. Tapi apa yang mereka lakukan? Hm?"
"Jangan samakan Ibuku dengan mereka!" Napasku terengah-engah, wajahku panas. Rasanya benar-benar marah sampai aku sanggup menghancurkan apa saja.
"Tidak perlu tersinggung. Kan baru dugaan. Tidak pernah dengar istilah Asas Praduga Tak Bersalah, ya?" Aku bisa mendengar Agata terkekeh.
"Yah, sekalipun Ibumu terbukti korupsi, kami akan anggap diawal bahwa dia bukan koruptor. Kami tidak ingin menekan penyelidikan dengan intimidasi berlebihan."
"Tapi... sekalipun Ibumu bukan koruptor, kami akan memperlakukannya seolah sudah terbukti sebagai koruptor. Itu kami lakukan untuk menghindari hal-hal yang mungkin bisa menghambat penyelidikan nantinya."
Aku diam.
Mimpi buruk apa ini? Aku bangun seperti biasa, dan saat pulang malah dibawa pergi kesini dengan tuduhan awal sebagai anak koruptor.
"Oh iya. Sementara jangan gunakan ponselmu untuk SMS, Whatsapp, atau telpon ya. Bukannya tidak mungkin kalau ada orang yang dengan sengaja menyadap nomormu." Agata memainkan batang rokok yang ada dimulutnya. Rokok yang sama sekali tidak ia nyalakan sejak awal.
"Nah, berhubung disini membosankan. Aku akan pergi. Untuk akses keluar masuk, biasakan pakai lift barang tunggal yang langsung menuju kesini. Jika terdesak, baru pakai lemarinya. Dan identitas orangtuamu, sejauh ini tidak ada yang tahu. Semoga beruntung ya, Venus!"
Setelah berkata begitu, Agata keluar melalui jalan yang sama saat ia masuk. Lemari.
Aku diam, menatap layar ponselku yang menyala. Aku ingin menelepon Ibuku, juga Ayahku. Berteriak pada mereka semua bahwa Ibuku tidak mengkorupsi sepeserpun uang itu. Jangankan untuk mengkorupsi. Bagiku, meliriknya saja juga aku tidak ada keinginan.
Ah, aku juga tidak membawa laptopku kesini... tunggu?
Pandanganku jatuh pada sisi lain kamar yang terbatasi dengan partisi. Partisinya sendiri memiliki lubang-lubang kecil, jadi aku bisa mengintip apa yang ada disisi lain ruangan ini. Disini, berhadapan dengan lemari ajaib yang ternyata memiliki akses pintu, ada seperangkat komputer yah, meski tidak canggih ini sudah lebih dari cukup untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Si Gila ini, siapapun dia. Diam-diam mempersiapkan segalanya dengan matang. Menyebalkan, tapi aku menyukainya.
Satu hari berlalu, dan kini aku harus berangkat ke kampus seperti biasa. Ah, tidak seperti biasa juga. Tepatnya agak berbeda jauh. Aku naik ojek online.
Yep. Ojek online.
Tidak ada yang salah sih, hanya saja agak berbeda dengan diriku yang sebenarnya. Yang biasanya mengendarai mobil pribadi kemanapun aku pergi. Tapi hari ini, aku duduk diam dibonceng oleh orang asing yang tak kukenali, dan mungkin setelah ini kami tidak akan saling bertemu kembali. Menoleh kekiri dan kekanan, memperhatikan segala macam hal yang ada dijalan yang kulalui. Pepohonan, gerombolan tukang ojek online yang saling duduk bersama, bangunan-bangunan, bahkan sampai pengemis dan anak kecil pedagang tissue pinggir jalan. Semua tidak ada yang luput dari pengamatanku. Hal yang selama ini selalu kuacuhkan.
Aku terus melamun dan menghayati setiap keheningan yang tidak biasa bagiku ini. Sesuatu, yang sudah tidak kulakukan beberapa tahun terakhir. Sampai akhirnya, motor berhenti pada sebuah gang kecil menuju pasar tradisional tidak jauh dari kampus. Gang kecil ini berada tepat dipintu masuk parkiran mobil kampusku, jadi sangat mudah untuk membuat alibi, bahwa aku memarkirkan mobil di gedung parkiran kampus. Meski sehari-hari, aku selalu parkir di parkiran khusus dosen dipelataran parkir fakultas.
Aku turun dan membayar ongkos sesuai dengan aplikasi, dan memasuki pintu pejalan kaki gedung parkiran mobil. Parkiran disini tidak pernah terisi penuh, karena kebanyakan mahasiswa memilih menggunakan motor untuk menghindari ganasnya kemacetan Ibukota. Hal yang sebaliknya kulakukan. Habis, setiap sore aku harus membantu Ayahku mengurus ekpedisi kami, dan sepulang kuliah aku harus bergegas menuju kantor kami dengan barang bawaan yang lumayan banyak, dan jarak yang cukup jauh dan melelahkan jika harus ditempuh menggunakan motor.
Aneh, ada perasaan tegang begitu memasuki area kampus. Padahal baru gedung parkiran saja.
Apa, anak-anak lain sudah tahu kasus korupsi ini?
Bagaimana kalau mereka mengenal Bu Belinda?
Apa uang terjadi kalau mereka tahu kalau aku adalah anaknya?
Haish...
Hanya memikirkan hal itu saja sudah membuat kepalaku berdenyut.
Aku berjalan menyusuri parkiran, hendak menuju pintu keluar pejalan kaki yang langsung berhadapan dengan gedung Fakultas Psikologi. Gedung yang sangat kentara dengan warnanya yang memiliki sentuhan warna merah dan oranye. Disanalah temanku, Rita berkuliah. Letak kampus yang berbentuk melingkar membuat kami dengan mudah membaur dan bergaul dengan mahasiswa dari fakultas lain. Oh, untuk menyebrang disini kita juga harus menekan tombol untuk pejalan kaki. Maklum, parkiran mobil dekat dengan gerbang utama kampus. Jadi, banyak kendaraan yang berjalan dengan kecepatan mengerikan. Dan tentu akan berbahaya bagi yang ingin menyebrang. Saat lampu untuk pejalan kaki baru berubah hijau, sebuah motor melaju dengan cepat dan nyaris menyerempetku.
"Adnan?" Bisikku saat mengetahui bahwa yang barusan lewat adalah Adnan. Samar, kulihat matanya sembab memerah. Ada apa ya?
Tanpa menghiraukan hal yang barusan kulihat, aku melanjutkan perjalananku, lampu hijau penyeberang jalan sebentar lagi habis. Jadi, daripada aku mati konyol hanya karena berhenti di tengah jalan bagai orang bodoh, lebih baik kita lanjutkan pikiran liar ini ditepi jalan saja.
Oh iya, ngomong-ngomong soal Adnan, aku jadi ingat tentang berkasnya yang gagal kuserahkan kemarin. Dia marah tidak ya? Habisnya kan, bukan salahku berkas itu ditolak. Lagipula, bisa-bisanya petugas itu tidak mengenaliku! Bikin keki saja!
Aku berjalan memasuki kawasan Fakultas Psikologi. Dibandingkan gedung fakultas lain, Fakultas Psikologi adalah yang terluas. Memiliki empat taman, sebuah danau kecil, dua kolam ikan yang dipenuhi dengan ikan koi, juga jajaran tanaman bonsai berbagai jenis. Bangunan gedungnya juga hanya terdiri dari satu lantai, dan pada lantai kedua, hanya ada area kosong yang sewaktu-waktu digunakan untuk acara tertentu, mirip aula serba guna. Bedanya, ini ada di atap, dan terbuka.
Dari Fakultas Psikologi jika berjalan lurus, maka akan langsung memasuki area utama kampus. Kita biasa menyebutnya Center. Ya, karna posisinya tepat ditengah, maka kami biasa menyebutnya sebagai Center. Center sendiri terdiri dari banyak fasilitas utama, seperti perpustakaan universitas, gedung administrasi, akademik, gedung rektorat, aula serba guna, gedung kuliah universitas, bahkan sebuah kantin yang mirip restoran. Yep, segala sesuatu yang bersifat high-class berkumpul di Center. Berhadapan dengan Fakultas Psikologi, dan dipisahkan oleh Center, ada Fakultas Ekonomi yang bersebelahan dengan Fakultas Teknik.
Ah, temanku Dwi dia berasal dari Fakultas Ekonomi. Sedangkan aku dan Adnan berasal dari Fakultas Teknik, namun kami berasal dari jurusan yang berbeda. Selain itu, di sisi Selatan kampus, tepat diantara Fakultas Ekonomi dan Psikologi yang saling berhadapan, terdapat Fakultas Kedokteran. Anehnya, alih-alih didominasi warna hijau yang sesuai dengan bidang kesehatan. Seluruh bangunan disini kebanyakan dihiasi warna hitam dari batu alam yang digunakan. Agak mengerikan sepertinya jika kita ikut kelas malam digedung seperti ini.
Dari sekian banyak fakultas yang ada, Fakultas Kedokteran adalah fakultas dengan gedung terbanyak. Berbeda dengan Fakultas Psikologi yang hanya terdiri dari sebuah gedung besar yang hanya terdiri dari satu lantai dan beberapa bangunan penunjang yang juga terdiri atas satu lantai, Fakultas Kedokteran memiliki banyak gedung yang tinggi menjulang. Mungkin terdapat sepuluh lantai untuk masing-masing gedung. Dan persis ditengah jajaran gedung tersebut, ada sebuah pendopo kayu yang nampak lapuk diantara jajaran gedung modern. Disampingnya, sebuah bangunan kecil, nampaknya seperti ruangan instalasi listrik, terlihat jelas dari simbol tegangan tinggi dan peringatan lainnya.
Dan dipendopo itulah, aku pertama kali bertemu dengannya.
Seorang pemuda kurus, berkulit pucat, dengan sorot mata tajam. Awalnya, aku mengira dia adalah hantu. Coba saja, pukul delapan pagi, saat kampus masih sepi, kalian dipertemukan dengan sosok manusia dengan kilit sepucay itu, pasti hanya ada dua kemungkinan yang timbul dipikiran kalian. Kalau bukan mayat, ya setan. Tapi jika ditelisik lagi, dia seperti keturunan kaukasia. Rambutnya juga hitam legam, dengan kantung mata kelam dibawah matanya.
Sesaat, aku terhanyut. Ada perasaan untuk menghampirinya, dan bertanya tentang sesuatu. Tapi, karena rasa takutku yang begitu besar, aku memilih menjauh dari sana. Berlari menuju Fakultas Ekonomi. Dan bersumpah untuk tidak berhenti kalau melihat sesuatu yang aneh seperti barusan!
Someone Else
Semalam aku kembali pulang larut malam. Seperti biasanya, kuliah, praktikum, skills lab, membantu dosen, urusan BEM, pulang tengah malam, bangun sangat pagi, dan ulangi seperti itu terus. Agak melelahkan, tapi mau diapakan, memang ini yang aku inginkan. Alih-alih mengejar beasiswa di Kedokteran Universitas Indonesia, aku malah mendapat beasiswa di Universitas Surya Nusantara. Padahal aku sama sekali tidak pernah mendaftar disini.
"Itu rekomendasi atasan Ayah. Beliau tahu kamu pintar, sayang katanya kalau tidak dilanjutkan pendidikanmu."
Kata Ayahku dengan wajah welas asih saat menyodorkan amplop coklat berisi surat penerimaan mahasiswa baru Universitas Surya Nusantara. Melihat usahanya yang sedemikian keras, aku tidak mungkin menolak. Apalagi, aku hanya anak tunggal beliau. Menyenangkan hatinya, adalah salah satu alasanku berada disini. Sampai berita tak mengenakkan itu kuterima.
Kabar, bahwa aku bukanlah anak kandung mereka.
Kesal, marah, dan tidak percaya. Itu yang kurasakan sekarang. Keluarga yang merawatku sejak kecil ternyata bukan keluargaku yang sebenarnya. Tapi, sulit bagiku membenci mereka karena telah menutupi kebenaran ini belasan tahun lamanya. Terlebih lagi, mereka juga mengetahui dengan jelas siapa orangtua kandungku.
Fakta mengerikan lainnya adalah, setelah tinggal dan tumbuh oleh orangtua yang merupakan anggota tentara, dimana mereka mendedikasikan hidup mereka untuk negara. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuaku, adalah kelompok mafia mengerikan, yang berdiri sebagai lawan bagi pemerintah dan segenap masyarakat Indonesia.
"Hah..." aku menghela napas, melamuni kenyataan hidupku yang berubah dalam sekejap.
Dan karena alasan itulah, aku sudah sampai dikampus dari pukul enam pagi. Aku enggan berlama-lama dirumah setelah mengetahui kenyataan bahwa aku selama ini tidak tinggal bersama keluarga asliku. Perasaan nyaman dan saling percaya yang awalnya ada, kini hanya menyisakan perasaan canggung dan enggan untuk saling bertemu.
Mau tak mau, aku juga jadi memikirkan. Apakah aku aib bagi Ayahku? Apakah Ayahku tidak malu mengasuh anak dari musuh pemerintah saat itu?
Apakah, aku masih pantas memanggilnya Ayah? Meski ia bukanlah Ayah kandungku?
Tanganku terkepal. Kesal dengan kenyataan yang baru kuketahui belakangan ini. Mataku terpejam, andai jika aku terbangun dan semuanya menjadi mimpi belaka... aku membuka mata dan menghadapi rasa sesal. Iya, aku menyesal telah berharap bahwa ini hanya mimpi belaka. Lalu pandanganku berhadapan dengan bocah aneh yang diam mematung ditengah Center. Pandangannya terarah padaku, rambutnya yang coklat bercampur oranye menutupi matanya, hanya mulut setengah menganga yang bisa kulihat, maklum mataku minus dan tidak bisa melihat wajah orang dengan jelas.
Tapi yang kentara dimataku hanyalah saat bocah itu mengangakan mulutnya sebelum akhirnya ia lari terbirit-birit kearah berlawanan.
Ini mungkin akan terdengar menjijikan, tapi keluargaku tidak semiskin itu sampai harus mengeruk hak anak keluarga miskin! Dengar, Ayahku memiliki perusahaan jasa ekspor-impor. Dan tidak jarang kami terlibat tender dengan pemerintah maupun perusahaan asing untuk keperluan muat-angkut barang jalur laut. Hey, coba bayangkan keuntungan harian yang kami dapat jika kami berhasil mengangkut seribu ton sehari? Kalikan satu bulan? Bagaimana satu tahun? Itu baru satu perusahaan. Belum lagi saham yang kami miliki diberbagai perusahaan besar. Untuk keperluan apalagi Ibuku mengkorupsi uang beasiswa?
Itu hanya sebagai analogi jika memang Ibuku terbukti bersalah. Tapi jika tidak? Atas dasar apa tuduhan itu ditujukan pada Ibuku?!
"Kamu pasti bingung ya?" Agata duduk diatas meja, dengan salah satu kaki naik keatas meja. "Kamu kebetulan kasus istimewa."
Agata merogoh sakunya, mengeluarkan sebatang rokok dan menjepitnya dibibir.
"Dewan Keuangan hanya baru menemukan bukti. Dengan dugaan sementara, yang dapat mengakses uang tersebut secara langsung hanya pejabat tinggi Dewan Keuangan. Dan dugaan terkuat terarah pada Ibumu."
"Hey, keluarga kami tidak mungkim korupsi. Kami sudah kaya, untuk apalagi uang-uang itu-"
"Lalu bagaimana dengan para koruptor yang selama ini ada?" Agata memotong ucapanku begitu saja.
"Bagaimana mereka yang awalnya mengatasnamakan rakyat, pada akhirnya mengkorupsi uang rakyat atas nama kepentingan pribadi?" Aku diam, termenung?
"Mereka sudah lebih dari cukup untuk sekadar mengenyangkan perut, membayar tagihan bulanan listrik dan air, anak-anak mereka hidup dengan nyaman. Tapi apa yang mereka lakukan? Hm?"
"Jangan samakan Ibuku dengan mereka!" Napasku terengah-engah, wajahku panas. Rasanya benar-benar marah sampai aku sanggup menghancurkan apa saja.
"Tidak perlu tersinggung. Kan baru dugaan. Tidak pernah dengar istilah Asas Praduga Tak Bersalah, ya?" Aku bisa mendengar Agata terkekeh.
"Yah, sekalipun Ibumu terbukti korupsi, kami akan anggap diawal bahwa dia bukan koruptor. Kami tidak ingin menekan penyelidikan dengan intimidasi berlebihan."
"Tapi... sekalipun Ibumu bukan koruptor, kami akan memperlakukannya seolah sudah terbukti sebagai koruptor. Itu kami lakukan untuk menghindari hal-hal yang mungkin bisa menghambat penyelidikan nantinya."
Aku diam.
Mimpi buruk apa ini? Aku bangun seperti biasa, dan saat pulang malah dibawa pergi kesini dengan tuduhan awal sebagai anak koruptor.
"Oh iya. Sementara jangan gunakan ponselmu untuk SMS, Whatsapp, atau telpon ya. Bukannya tidak mungkin kalau ada orang yang dengan sengaja menyadap nomormu." Agata memainkan batang rokok yang ada dimulutnya. Rokok yang sama sekali tidak ia nyalakan sejak awal.
"Nah, berhubung disini membosankan. Aku akan pergi. Untuk akses keluar masuk, biasakan pakai lift barang tunggal yang langsung menuju kesini. Jika terdesak, baru pakai lemarinya. Dan identitas orangtuamu, sejauh ini tidak ada yang tahu. Semoga beruntung ya, Venus!"
Setelah berkata begitu, Agata keluar melalui jalan yang sama saat ia masuk. Lemari.
Aku diam, menatap layar ponselku yang menyala. Aku ingin menelepon Ibuku, juga Ayahku. Berteriak pada mereka semua bahwa Ibuku tidak mengkorupsi sepeserpun uang itu. Jangankan untuk mengkorupsi. Bagiku, meliriknya saja juga aku tidak ada keinginan.
Ah, aku juga tidak membawa laptopku kesini... tunggu?
Pandanganku jatuh pada sisi lain kamar yang terbatasi dengan partisi. Partisinya sendiri memiliki lubang-lubang kecil, jadi aku bisa mengintip apa yang ada disisi lain ruangan ini. Disini, berhadapan dengan lemari ajaib yang ternyata memiliki akses pintu, ada seperangkat komputer yah, meski tidak canggih ini sudah lebih dari cukup untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Si Gila ini, siapapun dia. Diam-diam mempersiapkan segalanya dengan matang. Menyebalkan, tapi aku menyukainya.
-----
Satu hari berlalu, dan kini aku harus berangkat ke kampus seperti biasa. Ah, tidak seperti biasa juga. Tepatnya agak berbeda jauh. Aku naik ojek online.
Yep. Ojek online.
Tidak ada yang salah sih, hanya saja agak berbeda dengan diriku yang sebenarnya. Yang biasanya mengendarai mobil pribadi kemanapun aku pergi. Tapi hari ini, aku duduk diam dibonceng oleh orang asing yang tak kukenali, dan mungkin setelah ini kami tidak akan saling bertemu kembali. Menoleh kekiri dan kekanan, memperhatikan segala macam hal yang ada dijalan yang kulalui. Pepohonan, gerombolan tukang ojek online yang saling duduk bersama, bangunan-bangunan, bahkan sampai pengemis dan anak kecil pedagang tissue pinggir jalan. Semua tidak ada yang luput dari pengamatanku. Hal yang selama ini selalu kuacuhkan.
Aku terus melamun dan menghayati setiap keheningan yang tidak biasa bagiku ini. Sesuatu, yang sudah tidak kulakukan beberapa tahun terakhir. Sampai akhirnya, motor berhenti pada sebuah gang kecil menuju pasar tradisional tidak jauh dari kampus. Gang kecil ini berada tepat dipintu masuk parkiran mobil kampusku, jadi sangat mudah untuk membuat alibi, bahwa aku memarkirkan mobil di gedung parkiran kampus. Meski sehari-hari, aku selalu parkir di parkiran khusus dosen dipelataran parkir fakultas.
Aku turun dan membayar ongkos sesuai dengan aplikasi, dan memasuki pintu pejalan kaki gedung parkiran mobil. Parkiran disini tidak pernah terisi penuh, karena kebanyakan mahasiswa memilih menggunakan motor untuk menghindari ganasnya kemacetan Ibukota. Hal yang sebaliknya kulakukan. Habis, setiap sore aku harus membantu Ayahku mengurus ekpedisi kami, dan sepulang kuliah aku harus bergegas menuju kantor kami dengan barang bawaan yang lumayan banyak, dan jarak yang cukup jauh dan melelahkan jika harus ditempuh menggunakan motor.
Aneh, ada perasaan tegang begitu memasuki area kampus. Padahal baru gedung parkiran saja.
Apa, anak-anak lain sudah tahu kasus korupsi ini?
Bagaimana kalau mereka mengenal Bu Belinda?
Apa uang terjadi kalau mereka tahu kalau aku adalah anaknya?
Haish...
Hanya memikirkan hal itu saja sudah membuat kepalaku berdenyut.
Aku berjalan menyusuri parkiran, hendak menuju pintu keluar pejalan kaki yang langsung berhadapan dengan gedung Fakultas Psikologi. Gedung yang sangat kentara dengan warnanya yang memiliki sentuhan warna merah dan oranye. Disanalah temanku, Rita berkuliah. Letak kampus yang berbentuk melingkar membuat kami dengan mudah membaur dan bergaul dengan mahasiswa dari fakultas lain. Oh, untuk menyebrang disini kita juga harus menekan tombol untuk pejalan kaki. Maklum, parkiran mobil dekat dengan gerbang utama kampus. Jadi, banyak kendaraan yang berjalan dengan kecepatan mengerikan. Dan tentu akan berbahaya bagi yang ingin menyebrang. Saat lampu untuk pejalan kaki baru berubah hijau, sebuah motor melaju dengan cepat dan nyaris menyerempetku.
"Adnan?" Bisikku saat mengetahui bahwa yang barusan lewat adalah Adnan. Samar, kulihat matanya sembab memerah. Ada apa ya?
Tanpa menghiraukan hal yang barusan kulihat, aku melanjutkan perjalananku, lampu hijau penyeberang jalan sebentar lagi habis. Jadi, daripada aku mati konyol hanya karena berhenti di tengah jalan bagai orang bodoh, lebih baik kita lanjutkan pikiran liar ini ditepi jalan saja.
Oh iya, ngomong-ngomong soal Adnan, aku jadi ingat tentang berkasnya yang gagal kuserahkan kemarin. Dia marah tidak ya? Habisnya kan, bukan salahku berkas itu ditolak. Lagipula, bisa-bisanya petugas itu tidak mengenaliku! Bikin keki saja!
Aku berjalan memasuki kawasan Fakultas Psikologi. Dibandingkan gedung fakultas lain, Fakultas Psikologi adalah yang terluas. Memiliki empat taman, sebuah danau kecil, dua kolam ikan yang dipenuhi dengan ikan koi, juga jajaran tanaman bonsai berbagai jenis. Bangunan gedungnya juga hanya terdiri dari satu lantai, dan pada lantai kedua, hanya ada area kosong yang sewaktu-waktu digunakan untuk acara tertentu, mirip aula serba guna. Bedanya, ini ada di atap, dan terbuka.
Dari Fakultas Psikologi jika berjalan lurus, maka akan langsung memasuki area utama kampus. Kita biasa menyebutnya Center. Ya, karna posisinya tepat ditengah, maka kami biasa menyebutnya sebagai Center. Center sendiri terdiri dari banyak fasilitas utama, seperti perpustakaan universitas, gedung administrasi, akademik, gedung rektorat, aula serba guna, gedung kuliah universitas, bahkan sebuah kantin yang mirip restoran. Yep, segala sesuatu yang bersifat high-class berkumpul di Center. Berhadapan dengan Fakultas Psikologi, dan dipisahkan oleh Center, ada Fakultas Ekonomi yang bersebelahan dengan Fakultas Teknik.
Ah, temanku Dwi dia berasal dari Fakultas Ekonomi. Sedangkan aku dan Adnan berasal dari Fakultas Teknik, namun kami berasal dari jurusan yang berbeda. Selain itu, di sisi Selatan kampus, tepat diantara Fakultas Ekonomi dan Psikologi yang saling berhadapan, terdapat Fakultas Kedokteran. Anehnya, alih-alih didominasi warna hijau yang sesuai dengan bidang kesehatan. Seluruh bangunan disini kebanyakan dihiasi warna hitam dari batu alam yang digunakan. Agak mengerikan sepertinya jika kita ikut kelas malam digedung seperti ini.
Dari sekian banyak fakultas yang ada, Fakultas Kedokteran adalah fakultas dengan gedung terbanyak. Berbeda dengan Fakultas Psikologi yang hanya terdiri dari sebuah gedung besar yang hanya terdiri dari satu lantai dan beberapa bangunan penunjang yang juga terdiri atas satu lantai, Fakultas Kedokteran memiliki banyak gedung yang tinggi menjulang. Mungkin terdapat sepuluh lantai untuk masing-masing gedung. Dan persis ditengah jajaran gedung tersebut, ada sebuah pendopo kayu yang nampak lapuk diantara jajaran gedung modern. Disampingnya, sebuah bangunan kecil, nampaknya seperti ruangan instalasi listrik, terlihat jelas dari simbol tegangan tinggi dan peringatan lainnya.
Dan dipendopo itulah, aku pertama kali bertemu dengannya.
Seorang pemuda kurus, berkulit pucat, dengan sorot mata tajam. Awalnya, aku mengira dia adalah hantu. Coba saja, pukul delapan pagi, saat kampus masih sepi, kalian dipertemukan dengan sosok manusia dengan kilit sepucay itu, pasti hanya ada dua kemungkinan yang timbul dipikiran kalian. Kalau bukan mayat, ya setan. Tapi jika ditelisik lagi, dia seperti keturunan kaukasia. Rambutnya juga hitam legam, dengan kantung mata kelam dibawah matanya.
Sesaat, aku terhanyut. Ada perasaan untuk menghampirinya, dan bertanya tentang sesuatu. Tapi, karena rasa takutku yang begitu besar, aku memilih menjauh dari sana. Berlari menuju Fakultas Ekonomi. Dan bersumpah untuk tidak berhenti kalau melihat sesuatu yang aneh seperti barusan!
-----
Someone Else
Semalam aku kembali pulang larut malam. Seperti biasanya, kuliah, praktikum, skills lab, membantu dosen, urusan BEM, pulang tengah malam, bangun sangat pagi, dan ulangi seperti itu terus. Agak melelahkan, tapi mau diapakan, memang ini yang aku inginkan. Alih-alih mengejar beasiswa di Kedokteran Universitas Indonesia, aku malah mendapat beasiswa di Universitas Surya Nusantara. Padahal aku sama sekali tidak pernah mendaftar disini.
"Itu rekomendasi atasan Ayah. Beliau tahu kamu pintar, sayang katanya kalau tidak dilanjutkan pendidikanmu."
Kata Ayahku dengan wajah welas asih saat menyodorkan amplop coklat berisi surat penerimaan mahasiswa baru Universitas Surya Nusantara. Melihat usahanya yang sedemikian keras, aku tidak mungkin menolak. Apalagi, aku hanya anak tunggal beliau. Menyenangkan hatinya, adalah salah satu alasanku berada disini. Sampai berita tak mengenakkan itu kuterima.
Kabar, bahwa aku bukanlah anak kandung mereka.
Kesal, marah, dan tidak percaya. Itu yang kurasakan sekarang. Keluarga yang merawatku sejak kecil ternyata bukan keluargaku yang sebenarnya. Tapi, sulit bagiku membenci mereka karena telah menutupi kebenaran ini belasan tahun lamanya. Terlebih lagi, mereka juga mengetahui dengan jelas siapa orangtua kandungku.
Fakta mengerikan lainnya adalah, setelah tinggal dan tumbuh oleh orangtua yang merupakan anggota tentara, dimana mereka mendedikasikan hidup mereka untuk negara. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuaku, adalah kelompok mafia mengerikan, yang berdiri sebagai lawan bagi pemerintah dan segenap masyarakat Indonesia.
"Hah..." aku menghela napas, melamuni kenyataan hidupku yang berubah dalam sekejap.
Dan karena alasan itulah, aku sudah sampai dikampus dari pukul enam pagi. Aku enggan berlama-lama dirumah setelah mengetahui kenyataan bahwa aku selama ini tidak tinggal bersama keluarga asliku. Perasaan nyaman dan saling percaya yang awalnya ada, kini hanya menyisakan perasaan canggung dan enggan untuk saling bertemu.
Mau tak mau, aku juga jadi memikirkan. Apakah aku aib bagi Ayahku? Apakah Ayahku tidak malu mengasuh anak dari musuh pemerintah saat itu?
Apakah, aku masih pantas memanggilnya Ayah? Meski ia bukanlah Ayah kandungku?
Tanganku terkepal. Kesal dengan kenyataan yang baru kuketahui belakangan ini. Mataku terpejam, andai jika aku terbangun dan semuanya menjadi mimpi belaka... aku membuka mata dan menghadapi rasa sesal. Iya, aku menyesal telah berharap bahwa ini hanya mimpi belaka. Lalu pandanganku berhadapan dengan bocah aneh yang diam mematung ditengah Center. Pandangannya terarah padaku, rambutnya yang coklat bercampur oranye menutupi matanya, hanya mulut setengah menganga yang bisa kulihat, maklum mataku minus dan tidak bisa melihat wajah orang dengan jelas.
Tapi yang kentara dimataku hanyalah saat bocah itu mengangakan mulutnya sebelum akhirnya ia lari terbirit-birit kearah berlawanan.
Quote:
Diubah oleh kankenkinkunkon 24-09-2021 22:39
0